PERUBAHAN BELANJA NEGARA 4.1 Pendahuluan
PROGRAM KOMPENSASI PERUBAHAN BESARAN SUBSIDI BBM 2012 Perkembangan harga minyak mentah dunia yang sangat jauh di atas asumsinya dalam APBN
4. PERLUASAN PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH)
4.3 Perubahan Transfer ke Daerah
Kebijakan Anggaran Transfer ke Daerah pada tahun 2012 tetap diarahkan untuk mendukung program/kegiatan prioritas nasional dan pelaksanaan desentralisasi fiskal guna menunjang penyelenggaraan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab, serta dengan mengoptimalkan kualitas belanja daerah yang lebih fokus pada pelayanan publik.
Dalam APBN-P tahun 2012, anggaran Transfer ke Daerah diperkirakan mencapai Rp478.775,9 miliar, yang berarti meningkat sebesar Rp8.366,5 miliar atau 1,8 persen dari pagunya dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp470.409,5 miliar. Peningkatan Transfer ke Daerah dalam APBN-P tahun 2012 tersebut disebabkan adanya peningkatan Dana Perimbangan, sementara Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian tidak mengalami perubahan.
Dalam APBN-P tahun 2012, alokasi Dana Perimbangan diperkirakan mencapai Rp408,4 triliun, yang berarti menunjukkan peningkatan sebesar Rp8,4 triliun atau 2,1 persen apabila dibandingkan dengan pagunya dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp400,0 triliun. Peningkatan Dana Perimbangan dalam APBN-P tahun 2012 tersebut bersumber dari adanya perubahan alokasi DBH sebagai akibat dari adanya perubahan penerimaan yang dibagihasilkan, kecuali penerimaan PBB. karena penerimaan PBB sektor perdesaan dan perkotaan mulai dialihkan pengelolaannya ke daerah. Selain itu, kenaikan anggaran tersebut juga berkaitan dengan pemenuhan kewajiban kurang bayar DBH tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu, alokasi anggaran DAU dan DAK tidak mengalami perubahan, yaitu tetap sesuai dengan alokasi yang telah ditetapkan dalam APBN-nya.
Dalam APBN-P 2012, alokasi DBH meningkat sebesar Rp8,4 triliun dari Rp100,1 triliun dalam APBN tahun 2012 menjadi Rp108,4 triliun, dengan rincian perubahan tersebut adalah sebagai berikut:
1. DBH Pajak Penghasilan mengalami kenaikan sebesar Rp2,7 triliun yang merupakan kurang bayar dalam tahun anggaran 2008 sampai dengan 2010;
2.DBH Pajak Bumi dan Bangunan mengalami penurunan sebesar Rp5,8 triliun yang mencakup:
a.Penurunan sebesar Rp5,9 triliun yang diakibatkan oleh penurunan target penerimaannya, dan
b.Peningkatan sebesar Rp49,0 miliar yang merupakan kurang bayar dalam tahun anggaran 2009 sampai dengan 2011;
3. DBH Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan mengalami kenaikan sebesar Rp238,8 miliar yang merupakan kurang bayar dalam tahun anggaran 2010;
4. DBH Cukai Hasil Tembakau mengalami kenaikan sebesar Rp205,1 miliar yang mencakup: a.Peningkatan sebesar Rp156,3 miliar yang diakibatkan oleh kenaikan target
penerimaannya; dan
b.Peningkatan sebesar Rp48,7 miliar yang merupakan kurang bayar dalam tahun anggaran 2010;
mencakup:
a.Peningkatan sebesar Rp5,3 triliun yang diakibatkan oleh kenaikan target PNBP SDA Minyak Bumi;
b.Peningkatan sebesar Rp0,3 triliun yang diakibatkan oleh peningkatan target PNBP SDA Gas Bumi; dan
c.Peningkatan sebesar Rp3,8 triliun yang merupakan kurang bayar DBH SDA Migas dalam tahun anggaran 2011;
6. DBH SDA Pertambangan Umum mengalami kenaikan sebesar Rp1,4 triliun, yang terdiri atas kenaikan iuran tetap Rp435,1 miliar, royalti Rp221,0 miliar, dan kurang bayar dalam tahun anggaran 2011 Rp700,0 miliar;
7. DBH SDA Kehutanan mengalami kenaikan sebesar Rp162,9 miliar yang mencakup: a. Peningkatan sebesar Rp138,4 miliar yang diakibatkan oleh kenaikan target PNBP SDA
kehutanan dari Provisi Sumber Daya Hutan sebesar Rp80,0 miliar; Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Rp20,4 miliar, dan Dana Reboisasi Rp38,0 miliar, serta
b. Peningkatan sebesar Rp24,5 miliar yang merupakan kurang bayar DBH SDA Kehutanan dalam tahun anggaran 2010 sampai dengan 2011;
8. DBH SDA Perikanan mengalami kenaikan sebesar Rp6,5 miliar yang merupakan kurang bayar dalam tahun anggaran 2011;
9. DBH SDA Pertambangan Panas Bumi mengalami kenaikan sebesar Rp117,2 miliar, yang terdiri atas kenaikan alokasi DBH SDA Pertambangan Panas Bumi Rp92,6 miliar dan kurang bayar dalam tahun anggaran 2010 sebesar Rp24,6 miliar.
I. DANA PERIMBANGAN 399.985,6 408.352,0 8.366,4 2,1 A. DANA BAGI HASIL 100.055,2 108.421,6 8.366,4 8,4 1. Pajak 54.371,6 51.675,7 (2.695,9) (5,0)
a. Pajak Penghasilan 18.962,2 21.641,3 2.679,1 14,1
i. Pasal 21 17.839,0 17.839,0 -
-ii. Pasal 25/29 orang pribadi 1.123,2 1.123,2 -
-iii. Kurang Bayar DBH PPh TA 2008-2010 - 2.679,1 2.679,1 -b. PBB 33.968,6 28.149,8 (5.818,8) (17,1)
i DBH PBB 33.968,6 28.100,8 (5.867,8) (17,3)
ii. Kurang Bayar PBB TA 2009-2011 - 49,0 49,0 -c. BPHTB - 238,8 238,8
-i. Kurang bayar DBH BPHTB TA 2010 - 238,8 238,8 -d. Cukai Hasil Tembakau 1.440,8 1.645,9 205,1 14,2
i. CHT 1.440,8 1.597,2 156,3 10,9
ii. Kurang Bayar DBH CHT TA 2010 - 48,7 48,7 -2. Sumber Daya Alam 45.683,6 56.745,9 11.062,3 24,2 a. Migas 32.276,1 41.695,8 9.419,7 29,2
i. Minyak Bumi 18.058,9 23.381,3 5.322,5 29,5
ii. Gas Bumi 14.217,3 14.476,5 259,2 1,8
iii. Kurang Bayar Migas TA 2011 - 3.838,0 3.838,0 -b. Pertambangan Umum 11.563,2 12.919,3 1.356,1 11,7
i. Iuran Tetap 127,1 562,2 435,1 342,3
ii. Royalti 11.436,0 11.657,1 221,0 1,9
iii. Kurang Bayar DBH Pertambangan Umum TA 2011 - 700,0 700,0 -c. Kehutanan 1.537,8 1.700,7 162,9 10,6
i. Provisi Sumber Daya Hutan 963,9 1.043,9 80,0 8,3
ii. Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan 10,0 30,5 20,4 203,5
iii. Dana Reboisasi 563,9 601,8 38,0 6,7
iv. Kurang Bayar DBH Kehutanan TA 2010-2011 - 24,5 24,5 -d. Perikanan 120,0 126,5 6,5 5,4
i DBH Perikanan 120,0 120,0 -
-ii Kurang Bayar DBH Perikanan TA 2011 - 6,5 6,5 -e. Pertambangan Panas Bumi (PPB) 186,4 303,6 117,2 62,8
i. DBH PPB 186,4 279,0 92,6 49,7
ii. - 24,6 24,6
-B. DANA ALOKASI UMUM 273.814,4 273.814,4 - -C. DANA ALOKASI KHUSUS 26.115,9 26.115,9 - -II. DANA OTONOMI KHUSUS DAN PENYESUAIAN 70.423,9 70.423,9 - -A. DANA OTONOMI KHUSUS 11.952,6 11.952,6 - -1. Dana Otsus 10.952,6 10.952,6 - -a. Dana Otsus Papua dan Papua Barat 5.476,3 5.476,3 - -b. Dana Otsus Aceh 5.476,3 5.476,3 - -2. Dana tambahan Otsus Infrastruktur Papua & Papua Barat 1.000,0 1.000,0 - -a. Papua 571,4 571,4 - -b. Papua Barat 428,6 428,6 - -B. DANA PENYESUAIAN 58.471,3 58.471,3 - -1. Tunjangan Profesi Guru 30.559,8 30.559,8 - -2. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 23.594,8 23.594,8 - -3. Dana Tambahan Penghasilan Guru PNSD 2.898,9 2.898,9 - -4. Dana Insentif Daerah 1.387,8 1.387,8 - -5. Dana Proyek pemerintah Daerah dan Desentralisasi (P2D2) 30,0 30,0 -
-J U M L A H 470.409,5 478.775,8 8.366,4 1,8
Sumber : Kementerian Keuangan
TRANSFER KE DAERAH, 2012 (miliar rupiah) APBN APBN-P Kurang Bayar DBH PPB TA 2010 Nominal Perubahan % TABEL IV.5
BAB IV
PERUBAHAN BELANJA NEGARA
4.1 Pendahuluan
Pelaksanaan kebijakan dan alokasi anggaran belanja negara dalam APBN tahun 2012 dilakukan dengan mengacu pada arah kebijakan dan prioritas pembangunan dalam RKP 2012, pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro tahun 2012, serta kesepakatan Pemerintah dan DPR-RI dalam seluruh pembahasan APBN 2012. Namun, sejalan dengan perkembangan kondisi ekonomi, baik nasional maupun dunia, khususnya kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, maka diperlukan berbagai langkah, respon, dan antisipasi terhadap berbagai kondisi tersebut. Langkah-langkah antisipasi tersebut utamanya berupa rencana pemberian stimulus fiskal, dan pemberian kompensasi terkait dengan perubahan besaran subsidi, serta diperlukannya berbagai program prioritas baru untuk kemajuan bangsa. Berbagai hal tersebut berdampak pada diperlukannya perubahan terhadap kebutuhan anggaran belanja negara. Sehubungan dengan hal dimaksud, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang APBN menyediakan peluang untuk mengakomodasi berbagai dampak perubahan tersebut melalui mekanisme perubahan APBN.
Perubahan terhadap anggaran belanja negara tahun 2012 tersebut dilakukan dengan mengacu pada ketentuan pasal 42 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN Tahun Anggaran 2012, yang mengamanatkan bahwa penyesuaian APBN Tahun Anggaran 2012 dengan perkembangan dan/atau perubahan keadaan dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah dalam rangka penyusunan perkiraan perubahan atas APBN Tahun Anggaran 2012. Perubahan tersebut dimungkinkan apabila terjadi: (a) perkiraan perkembangan ekonomi makro yang tidak sesuai dengan asumsi yang digunakan dalam APBN Tahun Anggaran 2012; (b) perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal; (c) keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antarunit organisasi, antarprogram, dan/atau antarjenis belanja; dan (d) keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih (SAL) tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan anggaran tahun anggaran berjalan. Selanjutnya, dalam rangka penyusunan RUU tentang perubahan atas UU APBN tahun 2012, pada pasal 42 ayat (3) disampaikan bahwa Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012 berdasarkan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat sebelum Tahun Anggaran 2012 berakhir.
Perkembangan dan/atau perubahan keadaan yang mendorong perlunya dilakukan perubahan terhadap APBN 2012 adalah sebagai berikut. Pertama, sejak ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN Tahun Anggaran 2012, telah terjadi perkembangan dan perubahan berbagai indikator ekonomi makro secara signifikan, yang menyebabkan asumsi yang dipakai sebagai basis perhitungan APBN tidak sesuai lagi dengan kondisi riil saat ini dan perkiraan ke depan. Indikator ekonomi makro yang mengalami perubahan dan berpengaruh signifikan terhadap belanja negara antara lain adalah: (1) tingkat
suku bunga SPN 3 bulan yang semula diasumsikan sebesar 6,0 persen, diperkirakan turun menjadi sebesar 5,0 persen yang berdampak pada perhitungan beban pembayaran bunga utang; (2) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan mengalami depresiasi, dari semula Rp8.800,0 per USD dalam APBN tahun 2012 menjadi sebesar Rp9.000,0 per USD yang terutama berdampak pada kebutuhan subsidi BBM dan listrik; dan (3) ICP yang semula diasumsikan sebesar USD90,0 per barel, diperkirakan akan mencapai USD105,0 per barel yang berdampak sangat signifikan pada besarnya subsidi energi dan dana bagi hasil SDA migas. Perubahan asumsi ekonomi makro tersebut diperkirakan akan berdampak pada berbagai besaran belanja negara tahun 2012, terutama kenaikan beban subsidi BBM dan subsidi listrik, serta kenaikan belanja untuk dana bagi hasil minyak bumi bagi daerah penghasil pada pos transfer ke daerah sebagai dampak dari kenaikan ICP. Selanjutnya, kondisi tersebut juga akan berpengaruh pada besaran anggaran pendidikan.
Kedua, adanya perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2012, sebagai dampak dari
perkembangan kondisi ekonomi dan sosial serta upaya percepatan pencapaian target-target pembangunan. Pokok-pokok perubahan kebijakan tersebut antara lain meliputi: (1) meningkatnya defisit anggaran dari 1,53 persen terhadap PDB dalam APBN tahun 2012 menjadi 2,23 persen terhadap PDB; (2) rencana pelaksanaan program kompensasi perubahan besaran subsidi, seperti pelaksanaan bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM), subsidi transportasi umum, bantuan pembangunan infrastruktur perdesaan (BPIP), dan program keluarga harapan (PKH) untuk meningkatkan unit cost PKH; (3) rencana penggunaan SAL untuk mendanai peningkatan pembangunan infrastruktur, dan (4) program kegiatan prioritas lainnya yang belum tertampung dalam APBN tahun 2012, dan rencana pemotongan belanja tanpa harus mengganggu pencapaian output dan outcome dalam rangka mengendalikan defisit APBN.
Dalam rangka mengamankan pelaksanaan APBN tahun anggaran 2012, maka penyesuaian atas berbagai sasaran APBN, termasuk belanja negara menjadi penting untuk dilakukan. Melalui proses penyesuaian tersebut, anggaran belanja negara diharapkan menjadi lebih realistis dan mampu mendukung pencapaian sasaran-sasaran pembangunan ekonomi tahun 2012 dan jangka menengah, khususnya dalam rangka mendukung kegiatan ekonomi nasional guna memacu dan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan, menciptakan dan memperluas lapangan kerja, meningkatkan kualitas pelayanan pada masyarakat dan mengurangi kemiskinan, serta menjamin terlaksananya prioritas pembangunan nasional yang ditetapkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2012. Sebagai dampak dari berbagai perkembangan dan perubahan tersebut, volume anggaran belanja negara dalam APBN-P Tahun 2012 direncanakan sebesar Rp1.548.310,4 miliar (18,1 persen terhadap PDB). Jumlah tersebut, menunjukkan peningkatan Rp112.903,7 miliar atau 7,9 persen dari pagu anggaran belanja negara yang ditetapkan dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp1.435.406,7 miliar. Dari jumlah total alokasi anggaran belanja negara tersebut, sebagian besar (69,1 persen) dialokasikan untuk belanja pemerintah pusat, sedangkan 31,0 persen lainnya dialokasikan untuk transfer ke daerah. Tingginya proporsi belanja pemerintah pusat tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan belanja subsidi yang secara keseluruhan mencapai 22,9 persen dari belanja pemerintah pusat.
Selanjutnya, ringkasan alokasi anggaran belanja negara dalam APBN dan APBN-P tahun 2012 disajikan dalam Tabel IV.1.