• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.1 Pendahuluan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012, pendapatan negara dan hibah ditetapkan sebesar Rp1.311.386,7 miliar atau 16,2 persen terhadap PDB, sementara belanja negara ditetapkan sebesar Rp1.435.406,7 miliar atau 17,7 persen terhadap PDB, sehingga terdapat defisit APBN sebesar Rp124.020,0 miliar atau 1,53 persen terhadap PDB. Defisit anggaran tersebut akan dipenuhi melalui sumber pembiayaan nonutang sebesar negatif Rp9.544,4 miliar dan pembiayaan utang secara neto sebesar Rp133.564,5 miliar. Penentuan jenis dan besaran pembiayaan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan potensi masing-masing sumber dengan memperhitungkan tingkat risiko dan biaya yang akan ditanggung oleh Pemerintah.

APBN 2012 disusun berdasarkan asumsi atas kondisi perekonomian yang terjadi sampai dengan triwulan ketiga tahun 2011 dan proyeksi perubahan yang akan terjadi hingga akhir tahun 2011. Namun, ketika pelaksanaan APBN 2012 baru saja dimulai, terjadi perubahan secara sangat signifikan dari beberapa indikator ekonomi makro seperti ICP, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dan lifting. Selain itu, pada tahun anggaran 2011, Pemerintah memiliki saldo anggaran lebih (SAL), yang antara lain berasal dari sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA) tahun 2011, yang dapat digunakan terutama untuk membiayai pembangunan infrastruktur Indonesia bagian timur serta infrastruktur pendukung domestic connectivity dan koridor ekonomi.

Berdasarkan kondisi tersebut, dan sejalan dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012, Pemerintah mengajukan APBN-P 2012 yang di dalamnya mencakup perubahan besaran asumsi dasar ekonomi makro, pendapatan negara dan hibah, belanja negara, dan pembiayaan anggaran. Dalam APBN-P 2012, asumsi pertumbuhan ekonomi disesuaikan dari 6,7 persen menjadi 6,5 persen, inflasi menjadi 7,0 persen, tingkat suku bunga SPN 3 bulan menjadi 5,0 persen, nilai tukar rupiah melemah dari Rp8.800 per USD menjadi Rp9.000 per USD, harga minyak menjadi USD105,0 per barel, dan lifting minyak mentah menjadi 930,0 ribu barel per hari.

Dengan perubahan asumsi makro, serta melihat arah kecenderungan penerimaan perpajakan dan PNBP ke depan, anggaran pendapatan negara dan hibah dalam APBN-P 2012 diperkirakan mencapai sebesar Rp1.358.205,0 miliar. Jumlah tersebut berarti mengalami peningkatan sebesar Rp46.818,3 miliar, atau 3,6 persen apabila dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam APBN 2012. Sementara itu, anggaran belanja negara diperkirakan mencapai sebesar Rp1.548.310,4 miliar. Jumlah tersebut berarti mengalami peningkatan sebesar Rp112.903,7 miliar atau 7,9 persen apabila dibandingkan dengan pagu anggaran yang ditetapkan dalam APBN 2012. Perubahan pendapatan negara dan hibah serta belanja negara tersebut pada akhirnya juga mengakibatkan perubahan pada besaran defisit anggaran, yaitu dari Rp124.020,0 miliar (1,53 persen terhadap PDB) menjadi sebesar Rp190.105,3 miliar (2,23 persen terhadap PDB).

5.2 Defisit dan Pembiayaan Anggaran

Peningkatan besaran defisit anggaran dari Rp124.020,0 miliar (1,53 persen terhadap PDB) menjadi sebesar Rp190.105,3 miliar (2,23 persen terhadap PDB) tersebut, memberikan implikasi pada peningkatan kebutuhan pembiayaan, yang harus dipenuhi dengan mengoptimalkan berbagai sumber pembiayaan yang tersedia. Peningkatan pembiayaan anggaran dalam APBN-P 2012 sebesar Rp66.085,3 miliar (53,3 persen) tersebut diperkirakan akan dibiayai dari sumber pembiayaan nonutang sebesar Rp43.487,6 miliar, dan sumber pembiayaan utang sebesar Rp22.597,7 miliar. Dengan demikian, komposisi pembiayaan anggaran mengalami perubahan. Apabila dalam APBN 2012 pembiayaan nonutang adalah negatif Rp9.544,4 miliar dan pembiayaan utang sebesar Rp133.564,5 miliar maka dalam APBN-P 2012 pembiayaan nonutang adalah

Rp33.943,1 miliar dan pembiayaan utang sebesar Rp156.162,2 miliar. Pembiayaan nonutang tersebut bersumber dari: (1) perbankan dalam negeri Rp60.561,6 miliar; dan (2) nonperbankan dalam negeri sebesar negatif Rp26.618,5 miliar. Sedangkan pembiayaan utang terdiri dari: (1) pembiayaan luar negeri (neto) sebesar negatif Rp4.425,7 miliar; (2) Surat Berharga Negara (neto) sebesar Rp159.596,7 miliar; serta (3) Pinjaman Dalam Negeri (neto) sebesar Rp991,2 miliar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik V.1.

5.2.1 Pembiayaan Nonutang

Dalam APBN-P 2012, pembiayaan nonutang direncanakan berasal dari perbankan dalam negeri dan nonperbankan dalam negeri. Sumber pembiayaan nonutang yang bersumber dari perbankan dalam negeri berasal dari penerimaan cicilan pengembalian penerusan pinjaman, dan Saldo Anggaran Lebih (SAL), sedangkan sumber pembiayaan nonutang yang berasal dari nonperbankan dalam negeri bersumber dari hasil pengelolaan aset. Sementara itu, di dalam komponen pembiayaan nonperbankan dalam negeri APBN-P 2012 di samping penerimaan pembiayaan juga terdapat beberapa komponen pengeluaran pembiayaan, yaitu investasi Pemerintah, penyertaan modal negara (PMN), dana bergulir, dana pengembangan pendidikan nasional, dan kewajiban penjaminan. Pengeluaran pembiayaan tersebut dialokasikan untuk mendukung kebijakan Pemerintah dalam bidang tertentu, antara lain pengembangan infrastruktur, pengembangan perumahan rakyat, pemberdayaan Koperasi, usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (KUMKM), penjaminan program kredit usaha rakyat, dan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Pembiayaan nonutang dalam APBN-P 2012 diperkirakan mencapai Rp33.943,1 miliar, naik sebesar Rp43.487,6 miliar jika dibandingkan dengan targetnya dalam APBN 2012 sebesar negatif Rp9.544,4 miliar. Kenaikan tersebut diperlukan untuk membiayai kenaikan defisit yang diperkirakan mencapai Rp66.085,3 miliar. Rincian pembiayaan nonutang pada APBN-P 2012 dapat dilihat pada

Tabel V.1. (1,53) (2,23) (2,50) (2,00) (1,50) (1,00) (0,50) -(250,0) (200,0) (150,0) (100,0) (50,0) -50,0 100,0 150,0 200,0 250,0 APBN 2012 APBN-P 2012 GRAFIK V.1

DEFISIT DAN PEMBIAYAAN ANGGARAN APBN 2012 DAN APBN-P 2012

Defisit APBN Nonutang (Neto)

SBN (Neto) Pinjaman Luar Negeri (Neto) Pinjaman Dalam Negeri % Defisit Thd PDB

Triliun Rupiah % thd PDB

5.2.1.1 Perbankan Dalam Negeri

Pembiayaan nonutang yang bersumber dari perbankan dalam negeri dalam APBN-P 2012 diperkirakan mencapai Rp60.561,6 miliar. Jumlah ini naik sebesar Rp51.614,6 miliar jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar Rp8.947,0 miliar. Komponen utama pembiayaan nonutang yang berasal dari perbankan dalam negeri adalah berasal dari saldo kas rekening Pemerintah atau SAL yang merupakan akumulasi dari Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) tahun-tahun sebelumnya. Penggunaan dana SAL dalam APBN-P 2012 diperkirakan mencapai sebesar Rp56.173,7 miliar, lebih tinggi Rp51.116,9 miliar jika dibandingkan dengan penggunaan SAL yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar Rp5.056,8 miliar.

Selain dari SAL, sumber pembiayaan nonutang yang berasal dari perbankan dalam negeri dalam APBN-P 2012 juga berasal dari penerimaan cicilan pengembalian penerusan pinjaman sebesar Rp4.387,9 miliar, naik Rp497,7 miliar bila dibanding dengan targetnya dalam APBN 2012 sebesar Rp3.890,2 miliar. Kenaikan tersebut terutama disebabkan adanya penyesuaian kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dari Rp8.800 menjadi Rp9.000.

5.2.1.2 Nonperbankan Dalam Negeri

Pembiayaan nonutang yang berasal dari sumber-sumber nonperbankan dalam negeri dalam APBN-P 2012 diperkirakan mencapai negatif Rp26.618,5 miliar. Jumlah ini terdiri dari: (1) penerimaan pembiayaan sebesar Rp280,0 miliar yang berasal dari hasil pengelolaan aset; serta (2) pengeluaran pembiayaan sebesar Rp26.898,5 miliar yang terdiri dari dana investasi Pemerintah dan PMN Rp19.265,1 miliar, Dana Pengembangan Pendidikan Nasional Rp7.000,0 miliar, dan kewajiban penjaminan Rp633,3 miliar. Jumlah pembiayaan nonutang yang berasal dari nonperbankan dalam negeri tersebut berarti mengalami perubahan sebesar

I. Perbankan Dalam Negeri 8.947,0 60.561,6 51.614,6

1. Penerimaan Cicilan Pengembalian Penerusan Pinjaman 3.890,2 4.387,9 497,7 2. Saldo Anggaran Lebih 5.056,8 56.173,7 51.116,9

II. Non Perbankan Dalam Negeri (18.491,5) (26.618,5) (8.127,0)

1. Hasil Pengelolaan Aset 280,0 280,0 -2. Dana Investasi Pemerintah dan PMN (17.138,1) (19.265,1) (2.127,0)

a. Investasi Pemerintah (3.299,6) (3.299,6) -b. Penyertaan Modal Negara (6.852,8) (8.922,1) (2.069,3) c. Dana Bergulir (6.985,8) (7.043,4) (57,7) 3. Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (1.000,0) (7.000,0) (6.000,0) 4. Kewajiban Penjaminan (633,3) (633,3)

-Jumlah (9.544,4) 33.943,1 43.487,6

Su m ber : Kem en t er ia n Keu a n g a n

TABEL V.1

PEMBIAYAAN NON UTANG APBN 2012 DAN APBN-P 2012 (miliar rupiah)

negatif Rp8.127,0 miliar apabila dibandingkan dengan alokasi dalam APBN 2012 sebesar negatif Rp18.491,5 miliar, yang terutama disebabkan oleh naiknya kebutuhan pengeluaran pembiayaan berupa dana investasi Pemerintah dan PMN sebesar Rp2.127,0 miliar, serta Dana Pengembangan Pendidikan Nasional sebesar Rp6.000,0 miliar. Sedangkan target penerimaan pembiayaan dari hasil pengelolaan aset sebesar Rp280,0 miliar dan alokasi pengeluaran pembiayaan untuk kewajiban penjaminan sebesar Rp633,3 miliar, tidak mengalami perubahan dari yang ditetapkan dalam APBN 2012. Adapun penjelasan tentang dana investasi Pemerintah dan PMN, serta dana pengembangan pendidikan nasional dapat disampaikan sebagai berikut.

5.2.1.2.1 Dana Investasi Pemerintah dan Penyertaan Modal Negara

(PMN)

Di dalam pembiayaan anggaran, dana investasi Pemerintah dan PMN bukanlah merupakan sumber penerimaan pembiayaan anggaran yang bisa dipergunakan untuk menutup defisit anggaran, namun merupakan pengeluaran pembiayaan yang menjadi faktor pengurang dari pembiayaan. Dana investasi Pemerintah merupakan investasi yang dilakukan oleh Pemerintah untuk memperoleh manfaat ekonomis, sosial, dan manfaat lainnya dalam jangka panjang. Sementara itu, pengeluaran pembiayaan dalam bentuk PMN dialokasikan untuk mendukung kebijakan Pemerintah dalam sektor tertentu sekaligus diharapkan dapat menambah kekayaan bersih Pemerintah di masa sekarang dan yang akan datang.

Dalam APBN-P 2012, dana investasi Pemerintah dan PMN diperkirakan sebesar Rp19.265,1 miliar. Jumlah tersebut meningkat Rp2.127,0 miliar (12,4 persen) jika dibandingkan dengan yang direncanakan dalam APBN 2012 sebesar Rp17.138,1 miliar. Peningkatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya

alokasi dana PMN serta dana bergulir. Sedangkan alokasi untuk investasi Pemerintah sebesar Rp3.299,6 miliar, dalam APBN-P 2012 tidak mengalami perubahan.

Rincian dana investasi

Pemerintah, PMN, dan dana bergulir pada APBN 2012 dan APBN-P 2012 dapat dilihat dalam

Grafik V.2. Sedangkan

penjelasan tentang PMN dan dana bergulir dapat disampaikan sebagai berikut.

A. Penyertaan Modal Negara (PMN)

Dalam APBN-P 2012, alokasi PMN direncanakan sebesar Rp8.922,1 miliar. Jumlah ini berarti mengalami peningkatan sebesar Rp2.069,3 miliar (30,2 persen) apabila dibandingkan dengan alokasinya dalam APBN 2012 sebesar Rp6.852,8 miliar. Peningkatan alokasi PMN tersebut berasal dari PMN kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), PMN kepada Organisasi/

3,3 3,3 6,9 8,9 7,0 7,0 -1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 8,0 9,0 10,0 APBN 2012 APBN-P 2012 tr il iu n R u p ia h GRAFIK V.2

DANA INVESTASI PEMERINTAH, PMN, DAN DANA BERGULIR APBN 2012 DAN APBN-P 2012

Investasi Pemerintah Penyertaan Modal Negara Dana Bergulir

Lembaga Keuangan Internasional, dan PMN lainnya yaitu kepada Asean Infrastructure

Fund (AIF).

A.1. Penyertaan Modal Negara kepada BUMN

PMN kepada BUMN dalam APBN-P 2012 diperkirakan sebesar Rp8.000,2 miliar, yang berarti meningkat Rp2.000,0 miliar apabila dibandingkan dengan alokasinya dalam APBN 2012. Peningkatan PMN tersebut berasal dari adanya PMN kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) sebesar Rp2.000,0 miliar. Sedangkan alokasi PMN kepada PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII), PT Askrindo dan Perum Jamkrindo, Perusahaan Penerbit SBSN Indonesia IV dan V, PT Dirgantara Indonesia, dan BUMN Strategis, tidak mengalami perubahan, atau masih sama dengan alokasinya dalam APBN 2012. Rincian alokasi PMN kepada BUMN dalam tahun 2012 tersebut dapat dilihat pada Grafik V.3. Sedangkan penjelasan tentang PT SMI dapat disampaikan sebagai berikut.