• Tidak ada hasil yang ditemukan

beliau, juga Abu Rafi’ Abdullah bin

Dalam dokumen Majalah Kiblat Pebruari 2015 (Halaman 56-60)

Abi Al-Huqaiq yang

divonis mati karena

melecehkan beliau.”

hina beliau. Sebut saja misalnya, Abhalah bin Ka’ab ibnu ‘Auf Al-Aswad Al-Ansi dari Yaman, Ka’ab bin Asyraf tokoh Yahudi yang sering menghina beliau, juga Abu

Rai’ Abdullah bin Abi Al-Huqaiq yang

divonis mati karena melecehkan beliau. Lebih dari itu, Rasulullah juga memberi apresiasi terhadap beberapa sahabatnya yang berhasil membunuh langsung para penghujat tanpa seizin beliau.

Islam memang tidak identik dengan kekerasan, namun bukan berarti Islam hanya identik dengan lemah lebut dan diam ketika dilecehkan. Islam juga tidak berkutat dengan kewajiban jihad saja, ataupun tampil dengan senyum dan toleransi semata. Ada saatnya bersikap lemah lembut dan tegas. Sebagaimana contoh Rasululllah n saat memutuskan hukuman terhadap tujuh ratus orang bani Quraidhoh dengan hukuman pan- cung lantaran pengkhianatan mereka saat Perang Ahzab.

57 Shafar-Rabiul Akhir 1436 h kiblat

Rahmatan Lil Alamin adalah Tegaknya Syariat

Istilah rahmatan lil ‘alamin sebenarnya

merujuk kepada irman Allah ta’ala yang

mensifati tujuan diutusnya Nabi Muham- mad n. Yaitu sebagai rahmatan lil ‘alamin

(Rahmat bagi seluruh alam). Allah ta’ala

berirman:

َنِمَلاَعْلِل ًةَم ْحَر َلِإ َكاَنْل َسْرَأ اَمَو

“Dan kami tidak mengutus kamu (Mu- hammad) melainkan untuk rahmat bagi

semesta alam.” (Al-Anbiya’: 107)

Sifat rahmatan lil ‘alamin yang dinisbat- kan kepada pengutusan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak lain karena syariat yang beliau bawa menjadi penyelamat manusia, di dunia maupun di akhirat. hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh para mufassir ketika menjelaskan ayat di atas.

Dalam tafsir Fathul Qodir, Imam As-Syau- kani menafsirkan bahwa, “Tidaklah Kami mengutus engkau wahai Muhammad

dengan membawa syariat dan hukum ke- cuali menjadi rahmat bagi seluruh manu- sia.” (Fathul Qodir, 3/509)

Keterangan serupa juga diungkapkan oleh Imam Al-Baidhawi dalam tafsirnya, beliau berkata, “Karena tidaklah dia (Mu- hammad) diutus dengannya (syari’at) me- lainkan sebagai sebab kebahagiaan dan kebaikan mereka di dunia dan akhirat.” (Tafsir Al-Baidhowi, 4/62)

Lebih jelas lagi Imam Ibnu Katsir men- erangkan, “Allah ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menjadikan Muhammad n sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maksudnya adalah Dia mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmat untuk semua orang. Barang siapa menerima rahmat ini dan bersyukur atas kenikmatan ini, dia akan bahagia di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang menolak dan meng- ingkarinya maka dia akan rugi di dunia dan akhirat.”(Tafsir Ibnu Katsir, 5/338) Penafsiran di atas memberikan gamba- ran bahwa diutusnya Nabi Muhammad n dengan seluruh syariat yang dibawanya menjadi rahmat bagi seluruh alam. Na- mun dengan hadirnya rahmat ini, manusia menyikapinya dengan dua sikap. Pertama, mereka yang menerima dan mensyukuri rahmat tersebut sehingga bahagia di du- nia dan akhirat. Kedua, mereka yang me- nolak dan mengingkari syariat tersebut sehingga akan rugi di dunia dan akhirat.

Namun demikian, rahmat di sini bukan be- rarti hanya dirasakan oleh kaum muslimin saja, tetapi juga merata bagi seluruh umat manusia. Selain menjadikan kehidupan yang lebih teratur sesuai dengan petunjuk Sang Pencipta, hadirnya Rasulullah juga memberi rahmat bagi mereka yang tidak mau beriman, yaitu dengan di tundanya azab dari Allah ‘azza wa jalla. Kesimpulan ini sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Abbas di dalam tafsirnya. Beliau ber-

kata:

ي ةمحرلا هل بتك رخآا مويلاو هللاب نمآ نم

يوع هلوسرو هللاب نمؤي م نمو , ةرخآاو ايندلا

فذقلاو فسخلا نم ممأا باصأ ام

“Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka akan memperoleh rahmat Allah dengan sempurna di dunia dan akhi- rat. Sedangkan orang yang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka akan diselamatkan dari azab yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu ketika ma- sih di dunia seperti ditenggelamkan atau

diterpa gelombang besar.” (lihat: Tafsir At-

Thabari, 18/552)

Oleh karena itu, ketika sebagian sahabat mengusulkan kepada beliau, agar mendo- akan keburukan bagi orang-orang musy- rik, Nabi n menjawab:

ةَم ْحَر ُتْثِعُب اَ َنِإَو ،اًناَعَل ْثَعْبُأ ْمَل ِنِإ

“Aku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pem-

bawa rahmat.” (HR. Muslim)

Keterangan lebih lanjut disebutkan oleh Qadhi ‘Iyadh dalam kitab Asy-Syifa, beliau menjelaskan bahwa rahmat bagi orang beriman adalah hidayah dan bagi orang

munaik adalah keamanan untuk tidak

diperangi, sementara rahmat bagi orang

kair adalah dengan ditundanya adzab. (Lihat: Asy Syifa 1/91)

Sehingga dalam kitab Shafwatut Tafasir, Ash-Shabuni ketika menerangkan ayat di atas beliau berkata, “Maksud ayat ‘Ti- daklah Kami mengutusmu (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk’ semakna dengan sabda beliau, “Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah).”

Jadi sangat salah dan sangat tidak logis jika istilah rahmatan lil alamin hanya ditafsirkan pada hal-hal yang lembut saja. Lebih fatal lagi jika istilah tersebut dijadikan sebagai dalil untuk saling mengasihi sesama orang

kair atau melarang untuk melakukan aksi

pembalasan terhadap penindasan orang-

orang kair. Islam bukanlah ajaran yang

hanya mengajarkan senyum dan sedekah, namun Islam juga menganjurkan umatnya untuk beramar ma’ruf nahi mungkar dan menegakkan jihad terhadap mereka yang tidak mau tunduk kepada syariat. Setiap perkara, ditempatkan Islam sesuai den- gan tempatnya. Wallahu a’lam bishawab!

59 Shafar-Rabiul Akhir 1436 h kiblat

MASLAHAT

MUDARAT

CHARLIE HEBDO

EKSEKUSI

P

enyerangan terhadap kantor majalah penghina rasul Charlie hebdo membuat semua mata tertuju ke Perancis. Berbagai kecaman datang dari Negara barat. Akan tetapi pujian demi pujian dari elemen umat Islam pun mengalir untuk aksi heroik tersebut. Seakan aksi tersebut mewakili kemarahan umat Islam yang nabi mereka dilecehkan dan dihina. Bahkan Presiden liga Katolik Amerika Bill Donahue mengecam “intoleransi” yang diusung oleh Charlie Hebdo dan mengatakan bahwa umat Islam berhak marah.

Namun, sebagian muslim menyayangkan hal ini, bahkan lebih parah salah seorang lulusan Al Azhar Kairo yang berada di Manchester dalam tulisannya mengajak umat Islam untuk mengutuk hal tersebut. Ia beralasan bahwa aksi ini akan berdampak negatif pada umat muslim Eropa, padahal selama ini umat muslim Eropa dan para dai di sana sudah “berhasil” mencitrakan Islam yang toleran dan diterima di kalangan bangsa Eropa.

Itu hanya salah satu contoh. Bila kita ingin melihat lebih dalam, pihak-pihak dari kalangan muslim yang menolak dan mengutuk aksi penyerangan terhadap Charlie Hebdo melihat sisi maslahat bagi keberlangsungan dakwah di Eropa. Maka untuk melihat tinjauan maslahat dalam masalah ini ada baiknya kita pahami dulu maslahat itu sendiri.

Maslahat dalam bahasa Arab berasal dari kata shalah (حاص). Dalam kamus Al-Muhith kata shalah diartikan sebagai lawan kata fasad (kerusakan). Sementara dalam kamus Al-Munjid disebutkan bahwa shalah adalah segala sesuatu yang tidak ada kerusakan di dalamnya. Maslahat adalah segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan.

Secara Istilah Imam Ghazali dalam Al-Mustashfa menyebutkan bahwa “Maslahat adalah upaya untuk mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, akan tetapi yang kami maksud bukan itu,karena sesungguhnya mendatangkan manfaat dan menolak bahaya adalah orientasi setiap makhluk (manusia) dan kemaslahatan makhluk terdapat pada tercapainya tujuan dan orientasi mereka. Akan tetapi yang kami maksud dengan maslahat

Maslahat ada-

Dalam dokumen Majalah Kiblat Pebruari 2015 (Halaman 56-60)

Dokumen terkait