• Tidak ada hasil yang ditemukan

Maslahat ada lah upaya

Dalam dokumen Majalah Kiblat Pebruari 2015 (Halaman 60-64)

penjagaan

terhadap tu-

juan-tujuan

syariat, dan

tujuan-tujuan

syariat terh-

adap manusia

itu ada lima:

menjaga ag-

ama, jiwa,

akal, keturun-

an dan harta.

61 Shafar-Rabiul Akhir 1436 h kiblat

di sini adalah upaya penjagaan terhadap tujuan-tujuan syariat, dan tujuan-tujuan

syariat terhadap manusia itu ada lima:

menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Maka segala upaya untuk menjaga kelima hal ini maka itulah maslahat dan segala sesuatu yang mendatangkan bahaya kepada 5 hal ini maka itulah yang disebut mudarat (bahaya)”. (Al Mustasfa 2/481-482).

Poin dari deinisi yang disampaikan oleh

Imam Ghazali adalah maslahat yang dimaksud bukanlah maslahat dalam arti mendatangkan manfaat dan menolak bahaya apa pun tanpa batasan. Akan tetapi yang dimaksud maslahat dalam istilah syariat adalah maslahat yang diakui oleh syariat. Yaitu berupa penjagaan terhadap lima perkara yang telah disebutkan sebelumnya. Syariat Islam adalah syariat yang memperhatikan kemaslahan bagi umatnya. Oleh karena itu semua perilaku syar’i tidak lepas dari yang namanya maslahat atau menolak mafsadat. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah

dalam kitab Miftahu Daris Sa’adah berkata :

جرخت ل اهتدجو هدابع نب اهعضو يتلا هنيد عئار تلمأت اذإو

نإو ،ناكمإا بسحب ةحجارلا وأ ةصلاخلا حلاصما ليصحت نع

دسافما ليطعتو ،اهاندأ تاف نإو اهلجأو اهمهأ مدق تمحازت

لطع تمحازت نإو ،ناكمإا بسحب ةحجارلا وأ ةصلاخلا

اهاندأ لاتحاب ًاداسف اهمظعأ

“Jika kamu memperhatikan syariat- syariat agama yang Allah turunkan bagi hamba- hamba-Nya, maka kamu akan mendapati bahwa hal tersebut tidak terlepas dari mendatangkan maslahat murni atau yang lebih kuat semaksimal mungkin. Jika satu maslahat bertentangan dengan maslahat lainnya maka didahulukan yang lebih penting dan lebih besar, meskipun dengan mengeliminasi maslahat lainnya yang tingkat urgensinya lebih rendah, dan juga dengan menolak mafsadat secara utuh atau sebagian besarnya sebisa mungkin dan apabila antara menolak satu mafsadat dengan menolak mafsadat lainnya bertentangan maka dieliminasi mafsadat yang lebih besar walaupun menimbulkan mafsadat yang lebih kecil.” (Miftah Dari As-Sa'adah, II/222)

Ibnul Qayyim mengisyaratkan bahwa syariat Islam tidak lepas dari mendatangkan maslahat ataupun menolak mafsadat. Maka setiap hal yang disyariatkan oleh agama apapun hal itu, maka itu jelas ada maslahatnya untuk menolak sebuah mafsadat. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah kapan sesuatu itu bisa disebut maslahat?

Di dalam kitab Nadzariyatul Maslahah i Fiqhil

Islami (8) disebutkan bahwa penghukuman akal saja atas sesuatu perkara merujuk kepada tujuan-tujuan syariat tidaklah cukup untuk menjadikan sesuatu hal itu maslahat secara syar’i.

Jadi tidak cukup mengandalkan akal saja dalam menentukan sesuatu itu maslahat atau bukan. Karena bisa saja menurut akal sesuatu itu maslahat yang sesuai dengan maqashid syari’ah, akan tetapi ada dalil lain yang secara eksplisit menjelaskan posisi syar’i dalam masalah tersebut yang bertentangan dengan maslahat yang disangkakan oleh akal manusia. Contohnya, secara akal jika seseorang terancam harta dan nyawanya, dan nyawanya tidak bisa selamat melainkan dengan mengorbankan hartanya maka

sesuai maqashid syariat seharusnya dia mengorbankan hartanya demi keselamatan jiwanya. Karena menurut maqashid syariat keselamatan jiwa lebih utama daripada keselamatan harta. Secara akal dan tinjauan maqashid syariat hal ini sudah benar.

Akan tetapi bila dilihat dari kacamata syariat, hal ini belum tentu benar. Karena ada hadits dari Abu Hurairah RA , beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah n dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika seseorang ingin merampas harta saya?’ Rasul menjawab, ‘Janganlah engkau memberikannya.’ Lelaki tadi berkata, ‘Lantas bagaimana bila ia berusaha membunuhku?’ Rasul menjawab, ‘Bunuhlah dia.’ Lelaki berkata, ‘Bagaimana bila ia membunuhku?’ Rasul menjawab, ‘Engkau mati syahid.’ Lelaki berkata, ‘Bagaimana kalau saya membunuhnya?’ Rasul menjawab, “Ia di neraka.” (HR Muslim).

Dalam hadits di atas secara tegas rasul mengatakan bahwa hendaklah seseorang melawan jika ada orang yang ingin merampas hartanya, walaupun mengakibatkan akan kehilangan nyawanya. Di sini jelas sekali terlihat perbedaan kajian maslahat di atas dengan makna hadits. Titik tekannya di sini adalah bahwa sesuatu itu disebut maslahat jika oleh syariat dinyatakan sebagai maslahat dan sebaliknya, sesuatu itu mafsadat jika oleh syariat disebut mafsadat.

Di antara contoh yang menurut akal manusia adalah maslahat, sementara tidak diakui oleh syariat adalah kaffarat berhubungan suami istri pada siang bulan Ramadhan bagi seorang raja yang kaya raya. Kita mengetahui bahwa kaffaratnya adalah membebaskan budak, bila tidak mampu membeli budak maka berpuasa selama dua bulan penuh.

63 Shafar-Rabiul Akhir 1436 h kiblat

Kalau menurut akal kita sebaiknya raja yang kaya raya tadi diperintahkan untuk berpuasa selama dua bulan, agar mampu memberikan efek jera bagi sang raja. Karena dihukum dengan membebaskan budak sama sekali tidak akan memberikan efek jera kepada sang raja, karena dia memiliki banyak budak dan harta berlimpah. Akan tetapi para ulama tidak memperbolehkan hal ini, karena dalil dari hadits menunjukkan kaffarat bagi seorang yang berhubungan suami istri pada siang hari bulan Ramadhan adalah membebaskan budak. Walaupun sekilas terlihat tidak memberikan efek jera bagi sang raja, akan tetapi inilah maslahat yang diatur oleh syariat.

Contoh lain adalah sebelum Islam akal manusia menganggap bahwa khamr memiliki maslahat sehingga mereka menghalalkannya. Akan tetapi syariat Islam melarang meminum khamr walaupun syariat Islam sendiri mengakui adanya sedikit manfaat dalam khamr, akan tetapi kerusakan yang ditimbulkan lebih besar.

Contoh lainnya, secara akal manusia mungkin menikah dengan satu istri saja memiliki maslahat demi keutuhan keluarga dan rumah

tangga, akan tetapi syariat memperbolehkan seorang laki-laki untuk menikah lebih dari satu, karena syariat melihat maslahat yang terkandung dalam poligami.

Contoh-contoh di atas memberikan kita pemahaman bahwa tidak selamanya maslahat yang disangkakan oleh akal manusia sejalan dengan maslahat syariat. Dikarenakan akal manusia terbatas dan cenderung terkotori oleh hawa nafsu.

Charlie Hebdo dalam timbangan maslahat Sebagian kaum muslimin mempertanyakan kajian maslahat dan mudarat aksi penyerangan Charlie Hebdo. Dengan beralasan bahwa aksi itu memberi mudarat terhadap umat Islam, terutama umat Islam di Eropa. Mereka beralasan bahwa gerak dakwah akan mendapat tekanan lebih besar dibanding sebelumnya. Umat Islam akan semakin dicurigai, orang-orang akan lari dari dakwah Islam. Islam mengajarkan terorisme dan berbagai macam kekhawatiran lainnya. Merujuk sejarah, apa yang dialami oleh Charlie Hebdo mirip dengan apa yang dialami oleh Ka’ab Al Asyraf. Ka’ab bin Al Asyrof adalah seorang Yahudi yang

gemar menghina Nabi n. Kemudian beliau menawarkan kepada para sahabatnya untuk membunuh Ka’ab bin Al Asyraf. Maka majulah Muhammad bin Maslamah. Ia mengatur siasat untuk membunuh Ka’ab bin Al Asyraf. Hingga akhirnya Ka’ab tewas di tangan Muhammad bin Maslamah. Kejadian ini apple to apple dengan kejadian Charlie Hebdo dan jelas hukuman bagi para penghina Rasulullah n adalah hukuman mati. Bisa kita katakan bahwa membunuh orang yang menghina Nabi Muhammad n adalah suatu maslahat. Karena bersandar pada dalil kepada hadits shahih.

Jika ada yang mengatakan bahwa eksekusi Ka’ab bin Al-Asyraf itu dilakukan saat Islam kuat, sementara hari ini Islam dalam keadaan lemah. Sehingga yang harusnya kita lakukan adalah menahan diri karena itu lebih mendatangkan maslahat. Maka perlu diketahui sebenarnya yang membuat Islam itu lemah adalah sikap kita terhadap musuh yang cenderung takut dan pengecut. Padahal Islam saat ini menjadi agama terbesar di dunia dengan persentase 22.43% dari tujuh miliar manusia di dunia. Banyak, akan tetapi laksana buih, karena terjangkiti penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Seandainya separuh umat Islam di dunia memiliki keberanian melawan musuh-musuh Islam niscaya kejayaan Islam akan kembali tegak. Sebenarnya kelemahan bukanlah alasan, sebenarnya kita kuat akan tetapi kita terlanjur pengecut, sehingga begitu takut terhadap musuh.

Jika dibandingkan dengan keadaan nabi dahulu seharusnya kita lebih kuat. Karena saat itu Islam baru menguasai kota Madinah, sementara hari ini Islam sudah menjajak ke

setiap pelosok negeri.

Adapun yang berkaitan dengan mudarat yang ditimbulkan yang berupa penghalangan terhadap dakwah, intimidasi terhadap umat Islam yang minoritas di Eropa, semakin sulitnya dakwah di Eropa dan lain-lain. Hal ini tidak bisa kita pungkiri, akan tetapi agaknya

kita perlu merenungkan ayat:

ديمحلا زيزعلا هللاب اونمؤي نأ لإ مهنم اومقن امو

“Dan tidaklah mereka memusuhi mereka melainkan karena keimanan mereka kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha

Terpuji.” (Al-Buruj : 8).

Ayat ini bercerita tentang kisah Ashhabul

Kita masih ingat

Dalam dokumen Majalah Kiblat Pebruari 2015 (Halaman 60-64)

Dokumen terkait