• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUMAN MAT

Dalam dokumen Majalah Kiblat Pebruari 2015 (Halaman 41-54)

UNTUK PARA PENGHINA NABI n

41 Shafar-Rabiul Akhir 1436 h kiblat

P

e n g h i n a a n t e r h a d a p Islam memiliki k o n s e k u e n s i

berat bagi pelakunya. Dienul Islam adalah agama mulia, bersumber dari Rabb Yang Mahakuasa, maka tidak layak seseorang dengan mudah merendahkannya. Islam itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi darinya. Masih panas di telinga umat Islam, penghinaan yang mengarah kepada Nabi terakhir umat Islam. Nabi Muhammad n digambarkan dengan rupa

yang tidak layak, bertolak belakang dengan pribadi asli beliau. Hal ini tentunya salah satu dari sekian tindak pelecehan terhadap Islam dan umatnya.

Sifat ini sebenarnya memang sudah menjadi karakter orang-orang musyrik. Sejak dahulu, tidak

rela jika agama yang dibawa Muhammad n merusak keyakinan nenek moyang mereka. Oleh karenanya, segala hal mereka lakukan demi menghalangi dakwah beliau. Baik dengan cara kasar, ataupun lembut.

Maka dari itu untuk menjaga eksistensi Islam dengan Nabinya,

Allah ta’ala berulang kali menegaskan status hukum bagi para penghina Islam, termasuk elemen-elemen syar’i di dalamnya. Mereka

adalah orang-orang kair

dan orang-orang yang tidak mensucikan Allah dan Rasul-Nya dengan “mempermainkannya”.

Allah l berirman, “Dan jika mereka melanggar sumpah (perjanjian)nya sesudah mereka mengikat perjanjian, dan mereka mencerca agama kalian,

43 Shafar-Rabiul Akhir 1436 h kiblat

maka perangilah gembong-gembong kekairan itu, karena

sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak

dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti” (At-

Taubah : 12)

Dalam tafsirnya II/352, Ibnu Katsir mengatakan, “Dari ayat ini diambil dasar hujjah untuk membunuh orang yang mencerca Rasul n, atau orang yang mencerca agama Islam atau mencelanya.”

Diceritakan bahwa ada seorang lelaki berkata dalam majelis Ali, “Tiadalah Ka`ab bin Asyraf dibunuh kecuali dengan cara khianat.” Mendengar ucapan ini, Ali ra memerintahkan supaya lelaki tadi dipenggal kepalanya. Ka`ab bin Asyraf 3 H/625 M adalah seorang penyair jahiliah dari kabilah Tha`i. Ibunya adalah keturunan Yahudi bani Nadhir. Dia menghasut kaum musyrikin Quraisy untuk memerangi kaum muslimin setelah kekalahan mereka dalam perang Badar.

Imam Al-Qurthubi mengatakan dalam kitab Al Jâmi` Al

Ahkâm VIII/84: “Ulama-ulama kita mengatakan bahwa

lelaki ini dibunuh, meski ia tidak menisbatkan tuduhan khianat tadi pada diri nabi n. Sebab, perkataan seperti itu adalah perkataan kufur.”

Dalam irman-Nya yang lain, Allah ta’ala juga menegaskan

bahwa hal ini bukan perkara sepele. Walaupun hanya bersenda gurau, ketentuan hukumnya tegas. Ini dikarenakan menyangkut sebuah tindakan yang menyangkut kehormatan Allah dan Rasul-Nya.

ِهِتاَياَءَو ِهَللاِبَأ ْلُق ُبَعْلَنَو ُضو ُخَن اَنُك اَ َنِإ َنُلوُقَيَل ْمُهَتْلَأ َس ْ ِئَلَو

َنوُئِزْهَت ْسَت ْمُتْنُك ِهِلو ُسَرَو

“Dan jika kalian tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), niscaya mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersendau

gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah

dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, kalian

berolok-olok?” (At-Taubah : 65)

Terkait dengan ayat ini, ada sebuah riwayat dari beberapa

sahabat di antaranya: Ibnu Umar, Muhammad bin Ka`ab,

“ U l a m a - u l a m a

k i t a m e n g a t a k a n

b a h w a l e l a k i

i n i d i b u n u h ,

m e s k i i a t i d a k

m e n i s b a t k a n

t u d u h a n k h i a n a t

t a d i p a d a d i r i

n a b i n. S e b a b ,

p e r k a t a a n

s e p e r t i i t u

a d a l a h p e r k a t a a n

k u f u r . ”

.

Yazid bin Aslam dan Qatadah bahwasanya

ada seorang lelaki munaik berkata dalam

perang Tabuk, “Aku tiada melihat orang- orang seperti para penghafal Qur`an kita, mereka adalah orang-orang yang paling banyak makan perutnya, paling dusta lisannya dan paling pengecut saat berperang.” Yang ia maksudkan dengan perkataannya adalah Rasul Saw. dan para sahabatnya penghafal Qur`an.

Ucapan lelaki munaik tadi disergah

dengan keras oleh Auf bin Malik. “Kamu

dusta, kamu ini pasti seorang munaik. Aku

benar-benar akan memberitahu Rasulullah Saw,” katanya. Lalu `Auf datang menemui Rasulullah Saw. untuk memberitahukan kepadanya. Ternyata Al-Qur`an telah mendahuluinya.

Kemudian lelaki tadi datang menemui Rasulullah n., sedang beliau telah berangkat dan menaiki untanya. Ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami hanya bermain- main dan berseloroh untuk mengusir kesenggangan saat menempuh perjalanan yang panjang dan memayahkan!”

Ibnu `Umar mengatakan, “Seakan-akan aku melihat lelaki itu berpegangan pada tali pengikat pelana unta Rasulullah Saw., sementara batu mengenai dan membuat berdarah kedua kakinya, dan ia berkata, “Kami cuma berseloroh dan bersendau- gurau saja.” Lalu Rasulullah n mengatakan padanya, “Apakah dengan ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya, kalian berolok-olok?” Beliau mengucapkan perkataan itu tanpa memalingkan wajahnya kepadanya, dan tidak pula menambah ucapan lain atasnya. Imam Al Qurthubi lebih mendetailkan lagi

dalam dalam tafsirnya, ia berkata, “Konon,

.

mereka ada tiga orang. Dua orang berolok- olok, sedangkan yang satunya cuma tertawa. Yang dimaafkan adalah yang cuma tertawa dan tidak bicara apapun. Khalifah bin Khayyath mengatakan dalam Tarikhnya, “Nama orang itu adalah Mukhasyin bin Hamir. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah seorang muslim yang bertindak melampaui batas. Dia mendengar perkataan orang-orang

munaik yang memperolok-olok Nabi dan

para sahabatnya, sementara dia tertawa mendengar perkataan mereka dan tidak memungkirinya. Dan adalah dia berdoa (setelah itu), “Ya Allah, sesungguhnya aku mendengar satu ayat, dan aku merasa cukup dengannya, ayat yang membuat kulit bergidik dan hati berdebar-debar karenanya. Ya Allah jadikanlah wafatku, mati terbunuh di jalan-Mu, dan jangan

45 Shafar-Rabiul Akhir 1436 h kiblat

ada seorang yang nanti berkata aku yang memandikan, aku yang mengafani, aku yang mengubur” . Akhirnya dia mati terbunuh dalam perang Yamamah. Seluruh kaum muslimin yang terbunuh pada saat itu ditemukan jenazahnya, kecuali jenazah Mukhasyin bin Hamir.

Ibnu Taimiyah berkata menafsirkan ayat

di atas, yakni pada juz VII hal: 272, “Nash

ini menerangkan bahwa memperolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya adalah

kekairan. Maka penghinaan yang disertai niat adalah lebih utama disebut kekairan.

Ayat ini telah menunjukkan bahwa setiap orang yang mencela Rasulullah n. dengan

sungguhan atau berkelakar, adalah kair.”

Ibnul Arabi mengatakan dalam kitab Al Ihkâm II/976, “Perkataan kufur yang mereka ucapkan, niatannya tidak lepas dari dua hal, serius atau sendau gurau. Pun demikian, perkataan itu bagaimanapun juga adalah kufur. Karena bersendau gurau dengan

kekairan adalah kufur, tak ada perselisihan

pendapat di dalamnya. Karena, tahqiq (penelitian) adalah saudara kebenaran dan ilmu, sedangkan sendau gurau adalah saudara kebatilan dan kebodohan.”

Abu Bakar Al Jashshash mengatakan di dalam kitabnya “Ahkâmul Qur`an” IV/348, “Di dalam nash tersebut terdapat dalil petunjuk bahwa orang yang bermain- main dan yang serius di dalam melahirkan perkataan kufur tanpa paksaan adalah

sama. Oleh karena orang-orang munaik

di dalam ayat tadi mengatakan bahwa apa yang mereka katakan adalah dengan niatan bersendau-gurau, kemudian Allah

memberitahukan bahwa kekairan mereka

adalah karena sebab sendau gurauan itu.”

Ulama Berbicara tentang Orang yang Menghina Nabi

Berkaitan dengan penghinaan terhadap Rasulullah n, maka para ulama juga tegas dalam menghukuminya. Nabi n adalah seorang yang mulia, mereka mengambil dasar hukum dari perkataan yang bersumber dari beliau. Sikap mereka tegas, bahwa orang yang menghina Rasulullah berhak mendapat hukuman setimpal, yaitu wajib untuk dibunuh.

Hanbal berkata, “Aku mendengar Abu Abdullah –yakni Imam Ahmad bin Hanbal— berkata, “Barangsiapa mencaci Nabi n dan melecehkannya –baik dia seorang muslim

ataupun orang kair—maka dia wajib

dibunuh. Dan saya berpandangan bahwa dia langsung dibunuh dan tidak perlu diminta untuk bertaubat lebih dahulu.” Hanbal juga mengatakan, “Aku mendengar

Abu Abdullah berkata, “Setiap orang (kair

dzimmi) yang melanggar perjanjian dan membuat perkara baru di dalam Islam, maka orang seperti ini menurutku wajib dibunuh. Karena bukan untuk melakukan hal itu mereka diberi perjanjian dan jaminan perlindungan.”

Dalam sebuah riwayat, Imam Ahmad ditanya, apakah hukuman tersebut telah disebutkan di dalam hadit-hadits, maka dia menjawab, “Ya benar, salah satu di antara haditsnya adalah, hadits orang buta yang membunuh seorang wanita, dan dia berkata, “Aku mendengar dia mencaci Nabi n.”

Dan hadits Hushain, bahwasanya Ibnu `Umar berkata, “Barangsiapa mencaci Nabi n, maka dia harus dibunuh.”

Demikian pula halnya dengan `Umar bin `Abdul `Aziz, dia pernah berkata, “Dia dibunuh. Karena, orang yang mencaci Nabi n telah murtad dari Islam, karena seorang muslim tidak akan mencaci Nabi n.”

Al Kasymiri berkata di dalam kitabnya “Ikfârul Mulhidîn” hal 64, “Para ahli ilmu pada umumnya telah bersepakat, siapa yang menghina Nabi n adalah wajib dibunuh. Ath-Thabari juga mengisahkan riwayat yang senada dengannya –yakni pendapat yang serupa bahwa orang tersebut telah murtad—dari Abu Hanifah dan para sahabatnya terhadap orang yang merendahkan Nabi n atau berlepas diri darinya atau mendustakannya.

Dan dalam kitab Asy Syifâ tulisan Qadhi `Iyadh disebutkan, “Tidak ada khilaf bahwa orang yang mencaci Allah Ta`ala

di antara orang-orang Islam adalah kair

dan halal darahnya. Demikian pula dengan orang yang menisbatkan kebohongan dengan sengaja kepada Nabi kita Saw. terhadap risalah yang sampai kepadanya dan apa yang dia khabarkan, atau ragu terhadap kejujurannya, atau menghinanya, atau mengatakan “Sesungguhnya ia belum menyampaikan (risalah)”, atau merendahkannya, atau merendahkan salah seorang di antara Nabi, atau menghinanya

atau menyakitinya, atau membunuhnya

atau memeranginya, maka dia kair

berdasarkan kesepakatan umat.

Dalam kitab Al-Muhalla tulisan Ibnu Hazm, setelah menyampaikan dalil-dalil

yang menyatakan kairnya orang yang

mencaci, maka beliau mengatakan, “Maka benarlah menurut dalil-dalil yang telah saya sampaikan bahwa setiap orang yang mencaci Allah Ta`ala atau memperolok- olok-Nya, atau mencaci seorang malaikat di antara para malaikat atau memperolok- oloknya, atau mencaci seorang Nabi di antara para Nabi atau memperolok-oloknya, atau mencaci satu ayat di antara ayat-ayat Allah Ta`ala atau memperolok-oloknya, sedangkan syari`at keseluruhannya dan Al-Qur`an adalah termasuk di antara ayat- ayat Allah; maka dengan perbuatannya

itu dia menjadi kair murtad, dan berlaku

atasnya hukum seorang murtad. Pendapat kami adalah seperti ini.”

Di tempat yang lain, Ibnu Hazm mengatakan, “Maka benarlah berdasarkan dalil-dalil ini bahwa setiap orang yang menyakiti Rasulullah n, maka dia kair murtad, harus di bunuh. Dan petunjuk itu hanya datang dari sisi Allah Ta`ala.”

Syaikh Sulaiman bin Abdullah Ali Syaikh rahimahullah mengatakan, “Para ulama

47 Shafar-Rabiul Akhir 1436 h kiblat

telah bersepakat atas kekairan orang yang melakukan

sesuatu daripada itu. Jadi barangsiapa memperolok- olok Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, atau agama-Nya, maka

dia kair menurut ijma` meski hanya bercanda dan tidak

bermaksud memperolok-olok sungguhan.”

Selain itu, fatwa-fatwa dari Lajnah Daimah menjelaskan bahwa menghina agama Islam adalah kemurtadan yang besar dari Islam, jika orang yang menghina adalah orang yang mengaku Islam.

Taubatnya Penghina Nabi

Para ulama sepakat jika seorang penghina Nabi bertobat dengan tobat nasuha dan menyesali perbuatannya, maka tobatnya akan bermanfaat baginya pada hari kiamat, sehingga Allah mengampuni dosanya. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang status tobatnya di dunia dan keputusan hukuman bunuh baginya.

Imam Malik dan Ahmad berpendapat bahwa tobatnya tidak diterima, dia harus dibunuh meskipun bertobat.

Dalilnya adalah:

Diriwayatkan dari Abu Dawud dari Sa’d bin Abi Waqqash ia berkata, “Tatkala terjadi penaklukan Mekkah, Rasulullah memberikan keamanan kepada semua orang kecuali empat orang laki-laki dan dua orang wanita dan beliau menyebutkan nama mereka serta Ibnu Abu Sarh. Kemudian Sa’d menyebutkan hadits tersebut, ia berkata; Adapun Ibnu Abu Sarh, ia bersembunyi di rumah Utsman bin Affan, kemudian tatkala Rasulullah menyeru untuk berbaiat, Utsman membawanya ke hadapan Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Nabi Allah, baiatlah Abdullah’. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan melihat kepadanya tiga kali, setiap melakukan tersebut beliau enggan untuk membaiatnya. Kemudian setelah tiga kali beliau membaiatnya lalu beliau menghadap kepada para sahabatnya dan berkata, ‘Bukankah di antara kalian ada orang berakal yang mendatangi orang ini di mana ia melihatku. Aku menahan diri dari membaiatnya, lalu ia membunuhnya?’ Mereka berkata, ‘Kami tak mengetahui wahai Rasulullah, apa yang ada di dalam hatimu. Bukankah Engkau telah

Akan tetapi saat ini pemaafan dari beliau sudah tidak bisa. Maka tersisalah hukuman bunuh bagi penghina tersebut karena melanggar hak Allah dan rasul-Nya serta hak kaum muslimin yang belum menggugurkan hukumannya. Oleh karena itu, dia wajib dibunuh.”

memberi isyarat kepada kami dengan matamu?’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya tak selayaknya seorang Nabi memiliki mata khianat’.” (HR. Abu Daud No.2334 dan dishahihkan oleh Albani)

Dalil ini menerangkan bahwa orang yang murtad karena menghina tidak diterima tobatnya, bahkan wajib dibunuh meskipun dia datang dalam keadaan bertobat.

Disebutkan bahwa Abdullah bin Sa’d adalah salah satu penulis wahyu, kemudian dia murtad dan mengklaim bahwa dia telah menambah sesuatu dalam penulisan wahyu sesuai dengan keinginannya. Ini adalah dusta dan mengada-ngada terhadap Nabi n dan termasuk bentuk penghinaan kepada Nabi n. Kemudian dia masuk Islam dan memperbaiki keislamannya. Semoga Allah meridhainya. (As-Sharim, 115)

Pendapat yang benar adalah para ulama menyebutkan bahwa orang yang menghina Nabi n telah melanggar dua hak, yaitu hak Allah dan hak manusia. Kaitannya dengan hak Allah karena dia telah menghina utusan-Nya, kitab dan agama-Nya. Sementara kaitannya dengan hak manusia adalah dia telah melakukan perbuatan keji terhadap Nabi n lewat penghinaannya. Sehingga hukuman yang berkaitan dengan

pelanggaran hak Allah dan hak manusia tidak bisa dihilangkan dengan tobat.

Sebagaimana hukuman terhadap para penyamun, jika dia telah melakukan pembunuhan maka wajib untuk dibunuh dan disalib. Kemudian jika dia bertobat sebelum ditangkap maka pelanggaran hak Allah –yang menyebabkan dia harus dibunuh dan disalib—menjadi batal. Namun hak yang berkaitan dengan manusia tidak batal, yaitu hukuman qishas. Demikian juga dalam hukuman ini, jika penghina atau pencela tersebut bertobat maka hak Allah telah gugur darinya, namun hak Rasulullah n belum gugur dengan tobatnya.

Kemudian jika ada yang berkata, “Apakah tidak mungkin kita memaafkannya, karena Nabi n ketika hidupnya telah memberi maaf dan tidak membunuh terhadap sekian banyak orang yang mencelanya? Iya, terkadang Nabi n memilih untuk memaafkan orang yang mencelanya dan tidak jarang juga beliau perintahkan untuk dibunuh karena dipandang lebih mendatangkan maslahat. Akan tetapi saat ini pemaafan dari beliau sudah tidak bisa. Maka tersisalah hukuman bunuh bagi penghina tersebut karena melanggar

49 Shafar-Rabiul Akhir 1436 h kiblat

hak Allah dan rasul-Nya serta hak kaum muslimin yang belum menggugurkan hukumannya. Oleh karena itu, dia wajib dibunuh.” (As-Sharimul Maslul, 2/438)

Menghina Nabi n adalah bagian dari perbuatan haram yang paling besar,

pelakunya kair dan murtad dari Islam

sesuai dengan ijma’ para ulama. Baik karena sungguh-sungguh maupun hanya sekedar main-main saja. Hukuman bagi pelakunya adalah dibunuh meskipun dia telah menyatakan tobat, baik muslim

maupun kair. Kemudian jika memang dia

melakukan tobat nasuha dan menyesali perbuatannya tersebut, maka tobatnya akan bermanfaat baginya di hari kiamat, sehingga Allah mengampuni dosanya. Syaikh Ibnu Taimiyah memiliki karangan yang cukup bagus dalam menerangkan permasalahan ini yaitu kitab “As-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimi Rasul”. Bagi seorang muslim diharapkan untuk membacanya, tak terkecuali pada zaman ini ketika banyaknya fenomena istihza’ terhadap Nabi n yang

dimunculkan oleh orang-orang munaik dan orang-orang kair.

Abu Bakar Ash Shiddiq R.A pernah

mengatakan: “Sesungguhnya had para

Nabi (yakni hukuman yang berlaku atas diri

orang yang mencaci dan menghina) para Nabi tidaklah serupa dengan had-had hukuman biasa, dari sisi qishash dan balasannya di dunia dan akhirat, dan dari sisi pemberian maaf; jika ada kemungkinan menggugurkan sebagian had hukuman karena adanya pemberian maaf dari orang-orang yang berhak atas qishash terhadap orang-orang yang berhak diqishash, maka sesungguhnya tak ada kemungkinan menggugurkan had para Nabi, oleh karena tak seorang pun sesudah wafat mereka yang diberi hak untuk memberi maaf atas hak yang hanya khusus menjadi milik mereka.”

Terakhir, perkataan Syaikh Abdullah Al Munajjid ini hendaknya menjadi perhatian. Beliau mengatakan, “Ini terjadi manakala kaum muslimin merasa acuh tak acuh terhadap fenomena tersebut, lemahnya semangat untuk membela agama dan Nabi mereka, dan tidak ada penerapan hukum syariat Islam terhadap mereka yang melakukan perbuatan kufur.” [Basyir]

53 Shafar-Rabiul Akhir 1436 h kiblat

SIAPA SEHARUSNYA

EKSEKUTOR

CHARLIE HEBDO

diskriminasi oleh orang-orang kair.

Selain itu, mereka juga berpemahaman bahwa aksi tersebut harusnya dilakukan oleh pihak berwenang (pemerintah), bukan inisiatif pribadi. Sehingga hal tersebut tidak menimbulkan kerusakan lebih besar.

Ketua umum Majelis Dakwa Nusantara (Madina), Ustadz Abu Harits, LC, menjelaskan bahwa itu merupakan subhat yang dicetuskan untuk melemahkan salah satu Syariat Islam, Amar Makruf Nahi Mungkar. Beliau menilai bahwa aksi penyerangan di Paris merupakan salah satu bentuk Nahi Mungkar.

Terkait dengan subhat-subhat di atas, Ustadz lulusan LIPIA Jakarta ini menegaskan bahwa aksi itu justru membawa kemaslahatan lebih besar. Kemaslahatan itu berupa, orang-orang

kair tidak berani lagi menghina umat

Islam dan simbolnya.

“Ini merupakan kemaslahatan lebih besar, yaitu kehinaan umat Islam hilang dan Islam kembali muncul dengan mulia,” tegas ustad yang juga menjabat

S

ebagian umat Islam

mengecam penyerangan di kantor majalah penghina Nabi Muhammad, Charlie Hebdo. Mereka menganggap bahwa aksi itu menimbulkan kerugian lebih besar bagi umat Islam.

Mereka berdalih bahwa aksi itu dilarang

berdasarkan kaidah iqih yang berbunyi

“Menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan”. Menurut mereka, aksi dua pemuda di kantor majalah yang berulang kali memuat karikatur Nabi Muhammad itu menimbulkan kerusakan lebih besar dibanding kemaslahatan.

Buktinya, menurut mereka, umat Islam

di negara-negara kair (seperti di

negara Barat –red) saat ini hidup dalam ancaman. Mereka semakin ditekan dan

sebagai Sekjen di Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) kepada kiblat.net pada Jumat (16/01), di bilangan Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.

Aksi tersebut juga mengobati luka hati umat Islam yang sekian lama disakiti oleh majalah tersebut. Meski aksi protes berulang kali digelar, tapi majalah satire tersebut tetap memuat kartun Nabi Muhammad.

Jika dikatakan umat Islam hari ini terpojok, lanjutnya, sejak duku umat Islam sudah dipojokkan dan diskriminasi oleh orang-

orang Kair. Jadi, umat Islam diperlakukan

seperti itu tidak hanya karena insiden penyerangan di Paris.

“Tanpa penyerangan Paris, umat Islam pun sudah didiskriditkan. Oleh karena itu, hendaklah mereka tetap bersabar dalam menjalan Syariat Islam,” tandasnya.

Apakah aksi Amar Makruf Nahi Mungkar sebesar ini harus dilakukan oleh pihak berwenang atau pemerintah? Abu Haris menjelaskan bahwa syarat itu tidaklah mutlak. Ada sebagian yang harus dilakukan oleh pihak berwenang, namun jika itu dilakukan inisiatif sendiri tidak dilarang.

Beliau mengemukakan, hal itu sebagaimana yang dilakukan oleh seorang

yang membunuh budak perempuannya di zaman Nabi karena terus menghina Rasul. Rasulullah pun membenarkan hal itu dan tidak menghukumi qishas (balasan) bagi tuan budak tersebut.

Sementara dalil melakukan Nahi Mungkar atas perintah Rasulullah n, sebagaimana yang terjadi pada peristiwa yang dikenal dengan Uraniyin. Pada peristiwa tersebut, Rasulullah memerintah para sahabat menangkap orang-orang yang mengkhianati dan mencuri serta membunuh tukang gembala unta Nabi Muhammad.

“Masih banyak contoh-contoh lainnya di zaman Nabi Muhammad dibolehkannya melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar atas inisiatif pribadi, yang tidak cukup waktu disebutkan satu persatu,” jelasnya. Akan tetapi, beliau memperingatkan, dibolehkan melakukan Nahi Mungkar atas inisiatif pribadi dengan syarat kemungkaran tersebut adalah kemungkaran yang jelas, yang disebutkan oleh Al-Qur’an dan As- Sunnah. Selain itu, tidak ada seorang pun mencoba untuk mengubah atau mencegah kemungkaran tersebut.[Hunef]

Ini merupakan kemaslahatan lebih

Dalam dokumen Majalah Kiblat Pebruari 2015 (Halaman 41-54)

Dokumen terkait