ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS
G. Belum Stabilnya Tingkat Pengangguran Terbuka
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) selama tahun 2009-2011 mengalami tren menurun yang sangat signifikan, yaitu dari sebesar 6,19% pada tahun 2009, kemudian menurun menjadi 5,27% pada tahun 2010, dan menurun menjadi 4,24% pada tahun 2011. Namun pada tahun 2012
IV - 6 RPJMD Kabupaten Jombang Tahun 2014-2018
terjadi peningkatan jumlah pengangguran yang signifikan, sehingga mengakibatkan peningkatan TPT menjadi sebesar 6,69%.
Jika dilihat bahwa jumlah pengangguran terbesar pada tahun 2012 didominasi oleh penduduk golongan umur 15-19 tahun (sebesar 9.984 orang atau 24,78%) dan golongan umur 20-24 tahun (sebesar 12.520 orang atau 31,07%), maka peningkatan TPT pada tahun 2012 ini diduga disebabkan oleh anak-anak usia sekolah SMA dan lulusan SMA yang tidak sekolah lagi dan mencari pekerjaan.
Trend TPT yang fluktuatif menunjukkan bahwa kondisi ketenagakerjaan di Kabupaten Jombang masih belum stabil. Ketidakstabilan TPT disebabkan diantaranya oleh ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan lapangan pekerjaan serta belum adanya intervensi yang nyata oleh pemerintah terhadap pasar kerja dan investor di Kabupaten Jombang untuk bisa lebih membuka peluang dan kesempatan bekerja ataupun berusaha.
4.2 ISU-ISU STRATEGIS
Untuk mewujudkan perencanaan pembangunan yang berkualitas dan mampu mengakomodir dinamika yang berkembang, analisa SWOT dapat menjadi dasar guna menghasilkan isu-isu strategis Kabupaten Jombang. Jika melihat pemahaman di atas, diperlukan analisa terhadap lingkungan eksternal dan lingkungan internal. Langkah ini perlu mendapat perhatian sebagai pertimbangan untuk mempertajam arah kebijakan pembangunan ke depan. Berikut analisa lingkungan eksternal dan lingkungan internal di Kabupaten Jombang:
1. Internal a) Kekuatan
1) Tingginya Produksi Pertanian
Berdasarkan data RTRW Kabupaten Jombang Tahun 2009-2029, penggunaan lahan terbesar adalah untuk kegiatan budidaya pertanian dengan kisaran mencapai 43,21% dari luas wilayah Kabupaten Jombang. Berdasarkan data luas lahan sawah yang ada serta jenis pengairannya, teridentifikasi bahwa 92,04% sawah berpengairan teknis, 2,70% sawah ½ teknis, 4,08% sawah tadah hujan, 1,19% sawah non teknis. Dengan kondisi tersebut, potensi produksi dan produktivitas sektor pertanian Kabupaten Jombang cukup tinggi.
IV - 7 RPJMD Kabupaten Jombang Tahun 2014-2018
2) Posisi Strategis dan Pembangunan Jalan tol Kertosono-Mojokerto Transportasi merupakan salah satu kebutuhan yang penting dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Selain untuk mempersingkat waktu tempuh dan memindahkan suatu objek, transportasi juga berfungsi untuk melancarkan hubungan antara satu lokasi dengan lokasi yang lain dan kebutuhan akan sarana dan prasarana transportasi di Indonesia dilihat dari tahun ke tahun mengalami fase perkembangan dan peningkatan. Untuk mendukung peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana dalam akses transportasi tersebut, jalan raya merupakan salah satu hal yang selalu beriringan dengan kemajuan teknologi dan pemikiran manusia yang menggunakannya, karenanya jalan merupakan fasilitas penting bagi manusia supaya dapat mencapai suatu tujuan daerah yang ingin dicapai.
Proyek Pembangunan Jalan Tol Kertosono - Mojokerto memberi dampak positif terhadap pengembangan Kabupaten Jombang, khususnya terhadap perkembangan ekonomi Kabupaten Jombang. Dengan posisi strategis di wilayah transit jalur Surabaya-Solo, Kabupaten Jombang memiliki fungsi penghubung yang sangat besar pengaruhnya.Dengan kelebihan tersebut tentunya menjadi sebuah kelebihan tersendiri bagi Kabupaten Jombang untuk dapat lebih maju dan lebih berdaya saing daripada daerah sekitar.
b) Kelemahan
1) Tidak terkendalinya Inflasi
Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang secara umum. Laju inflasi yang tidak terkendali dapat memicu penurunan daya beli masyarakat, terutama oleh masyarakat miskin yang tidak memiliki tabungan. Selain itu, tingginya laju inflasi juga memberikan dampak semakin melebarnya tingkat distribusi pendapatan di masyarakat. Inflasi yang tinggi juga berpotensi menghambat investasi produktif. Hal ini karena tingginya tingkat ketidakpastian (mendorong investasi jangka pendek) dan tingginya bunga. Dan secara makro, dalam jangka panjang inflasi yang tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi terhambat.
Laju inflasi harus dikendalikan agar tercipta kondisi perekonomian yang stabil dan mendorong pertumbuhan ekonomi, laju inflasi dalam kurum waktu 2009-2013 secara terperinci adalah sebesar 5,21% pada tahun 2009, sebesar 5,83% pada tahun 2010, sebesar 6,15% pada tahun
IV - 8 RPJMD Kabupaten Jombang Tahun 2014-2018
2011, sebesar 5,92% pada tahun 2012 (angka sementara) dan sebesar 7, 31% pada tahun 2013 (angka sangat sementara).
2. Eksternal a) Peluang
1) Jaminan Kesehatan Nasional
Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN), dirancang untuk memberikan landasan mewujudkan amanat UUD 1945. Didalamnya, terkandung semangat untuk mengakui jaminan sosial sebagai hak seluruh warga negara, untuk memperoleh " rasa aman" sosial, sejak lahir hingga meninggal dunia, sebagaimana prinsip sistem jaminan sosial yang dikenal.Bahkan awal tahun 2014 Pemerintah meluncurkan Jaminan Kesehatan bagi seluruh warga Negara melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Program jaminan kesehatan nasional (JKN) sebagai implementasi dari amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) merupakan implementasi nyata keinginan pemerintah pusat untuk mewujudkan jaminan kesehatan bagi setiap warganya.
Dengan adanya jaminan sosial dan jaminan kesehatan tentunya memberikan motivasi bagi warga Negara untuk mampu meningkatkan kualitas pembangunan manusia dan berperan aktif dalam pembangunan daerah.Jaminan tersebut memberikan keamanan untuk meningkatkan kualitas SDM serta derajat kesehatan masyarakat.
2) Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan IPTEK mampu membantu manusia dalam beraktifitas. Terutama yang berhubungan dengan kegiatan perindustrian dan telekomunikasi. Namun, dampak dari perkembangan IPTEK juga berdampak ke berbagai hal seperti kegiatan pertanian, yang dulunya membajak sawah dengan menggunakan alat tradisional, kini sudah menggunakan peralatan mesin.sehingga aktifitas penanaman dapat lebih cepat di laksanakan tanpa memakan waktu yang lama dan tidak pula terlalu membutuhkan tenaga yang banyak.
b) Ancaman
1) Terbukanya Persaingan Ekonomi Global
Era Global saat ini sungguh syarat dengan berbagai persaingan yang begitu ketat dari berbagai bidang didalamnya.Persaingan itu tidak lepas dari semua unsur kebutuhan ummat manusia yang selalu berkembang setiap detiknya.Disini sangatlah jelas harus adanya upaya
IV - 9 RPJMD Kabupaten Jombang Tahun 2014-2018
reformasi untuk sebuah perubahan yang dapat menjawab semua tantangan perkembangan era global, terlebih bagi Indonesia wajib untuk melakukannya.
Era Globalisasi ini sungguh memiliki banyak tantangan yang harus siap dan sigap dilakukan oleh segenap umat manusia untuk bisa berbenah diri dalam peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia) didalamnya, termasuk pula ada upaya meningkatan kualitas dan kuantitas ekonomi.Ekonomi abad ke-21, yang ditandai dengan globalisasi ekonomi, merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha.Hal ini menjadi sebuah ancaman tersendiri bagi perekonomian dalam negeri khususnya perekonomian lokal. Jika tidak siap dan tidak mampu bersaing dapat di pastikan kedepan perekonomian lokal akan lumpuh dan di kuasai oleh asing.
2) Pengaruh perubahan iklim terhadap sektor Pertanian
Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam menyediakan bahan pangan dan menyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Perubahan iklim memberikan dampak pada kenaikan suhu dan perubahan curah hujan sehingga membawa dampak negatif bagi sektor pertanian. Output sektor pertanian turun seiring dengan adanya dampak perubahan iklim. Selain itu, pengaruh kenaikan harga output pertanian di luar negeri sebagai dampak dari adanya perubahan iklim di luar negeri, juga memberi dampak pada sektor pertanian di Indonesia.
Diperkirakan produktivitas pertanian di daerah tropis akan mengalami penurunan bila terjadi kenaikan suhu rata-rata global antara 1-20 C sehingga meningkatkan risiko bencana kelaparan. Meningkatnya frekuensi kekeringan dan banjir diperkirakan akan memberikan dampak negatif pada produksi lokal, terutama pada sektor penyediaan pangan di daerah subtropis dan tropis. Terjadinya perubahan musim di mana musim kemarau menjadi lebih panjang sehingga menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran hutan. Terjadinya pergeseran musim dan perubahan pola hujan, akibatnya Indonesia harus mengimpor beras.
IV - 10 RPJMD Kabupaten Jombang Tahun 2014-2018
Berdasarkan permasalahan pembangunan dan analisa SWOT tersebut maka selanjutnya disajikan Isu-isu strategis yang berpengaruh terhadap perencanaan pembangunan Kabupaten Jombang.