UNDANGAN
B. Benang Merah Validitas Norma Hukum Dengan Partisipasi Masyarakat
Merujuk dari berbagai pemahaman mengenai konsep partisipasi masyarakat yang diberikan, di dalam buku ini yang menjadi titik pijak ialah pemahaman yang dikemukakan oleh Pusat Studi Hukum dan Kebijakan bahwa partisipasi sebagai keikutsertaan masyarakat, baik secara individual maupun kelompok secara aktif dalam penentuan kebijakan publik atau peraturan.
Di abad ke-20 ini, partisipasi masyarakat menjadi aktor penting di dalam proses pengambilan keputusan di dalam penyelenggaraan negara, baik itu dalam bentuk tindakan nyata ataupun tindakan hukum dalam bentuk instrument peraturan perundang-undangan. Dengan demikian,
71Soetandyo Wignjosoebroto (3), Pergeseran Paradigma Dalam Kajian-Kajian Sosial dan Hukum, (Malang: Setara Press, 2013),hlm. 70.
partisipasi masyarakat sekaligus menjadi poin penting dalam puzzle dot to dot dengan perwujudan kedaulatan rakyat.72
Pentingnya partisipasi masyarakat di dalam proses penyelenggaraan negara terutama dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, menyebabkan kekagetan di dalam prosesnya. Di dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, diakomodasi mengenai partisipasi masyarakat melalui Pasal 96. Di dalam pasal itu dijamin hak masyarakat untuk memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Ruang yang disediakan untuk itu ialah:
1. rapat dengar pendapat umum;
2. kunjungan kerja;
3. sosialisasi; dan/atau
4. seminar, lokakarya, dan/atau diskusi.
Mendukung agar partisipasi masyarakat dapat dilakukan, Pasal 96 ini juga mengatur bahwa Rancangan Peraturan Perundang-undangan harus dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Oleh karena itu, secara ideal partisipasi masyarakat di dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan dilakukan dalam tahap perencanaan, penyusunan dan pembahasan. Hal ini dimaksudkan agar, peraturan perundang-undangan yang dibentuk bersifat responsif dan mampu mengakomodasi kebutuhan hukum masyarakat.
Sejurus dengan hal tersebut, proses pembentukan peraturan perundang-undangan jika sudah selesai dalam tahapannya, dilakukan validasi sehingga peraturan perundang-undangan memiliki validitas.
Validitas menjadi landasan yang membedakan hukum positif dengan hukum alam.73 Ketika norma hukum valid, maka norma hukum itu harus dipatuhi, karena norma hukum itu telah dibentuk melalui cara tertentu oleh orang tertentu yang telah diberikan kewenangan.74
72Bob Sugeng Hadiwinata, “Civil Society: Pembangun dan Sekaligus Perusak Demokrasi,” Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 9, Nomor 1, Juli 2005, hlm. 2.
73Khudzaifah Dimyati, Paradigma Rasional Dalam Ilmu Hukum: Basis Epistemologis Pure Theory of Law Hans Kelsen, (Yogyakarta: Genta Publishing, 2014), hlm. 76.
74Ibid., hlm. 77.
Validitas sesungguhnya merupakan eksistensi dari suatu norma hukum secara spesifik yang menunjukkan bahwa norma hukum itu memiliki kekuatan hukum mengikat, dan layak untuk disebut sebagai sebuah norma.75 Kekuatan mengikat dari suatu norma hukum yang menunjukkan validitasnya, itu berasal dari norma dasar yang membentuk otoritas atau kewenangan pembentukan hukum.76
Berdasarkan deskripsi tersebut, harus mampu dibedakan antara validitas dengan keberlakuan. Keberlakuan merupakan suatu hal bagi validitas, karena norma dinyatakan valid apabila menjadi bagian dari sistem norma yang berlaku secara keseluruhan.77 Selain itu, validitas suatu norma itu berlaku pada ruang dan waktu tertentu. Oleh karena itu, validitas sangat identik dengan hukum positif di dalam suatu sistem hukum negara tertentu. Bahkan, validitas juga dapat dikaitkan dengan hukum internasional, karena terkadang sistem hukum nasional negara mengadopsi hukum internasional. Artinya, hukum internasional itu menentukan eksistensi dari hukum nasional negara.78
Menyandarkan pada pemahaman bahwa norma hukum itu memiliki validitas karena dibentuk oleh orang tertentu yang memiliki kewenangan, dan melalui cara tertentu, perlulah dicatatkan cara atau proses di dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang di dalamnya memuat norma hukum. Ini penting, karena cara atau proses itulah yang membuat norma hukum di dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia memiliki validitas.
Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan telah menentukan bahwa proses pembentukan peraturan perundang-undangan mencakup tahapan perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan. Dengan demikian, validitas norma hukum peraturan perundang-undangan di Indonesia ditentukan oleh tahapan pembentukan peraturan perundang-undangan tersebut.
75Jimly Asshiddiqie dan M. Ali Safa’at, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, (Jakarta:
Konstitusi Press, 2012), 32-33.
76Ibid.
77Jimly Asshiddiqie dan M. Ali Safa’at, Ibid., hlm. 40.
78Hans Kelsen, General Theory of Law and State, diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, (Bandung: Nusa Media, 2013), hlm. 535.
Mencari benang merah antara validitas norma hukum dalam peraturan perundang-undangan dengan partisipasi masyarakat ialah bahwa ketika validitas itu dinyatakan sesuatu yang eksis di dalam suatu sistem hukum. Eksistensi itu dibuktikan dengan adanya response dari masyarakat, ketika aturan itu akan diangkat menjadi suatu norma hukum. Nantinya, masyarakat ini akan bertindak bukan karena sekadar sebuah kejadian dalam realitas, melainkan karena berdasarkan sebuah norma hukum yang sudah ditetapkan oleh orang dengan otoritas tertentu dan itu sudah disetujui di dalam sebuah proses atau mekanisme untuk membentuk hukum itu menjadi sebuah norma.79
Dengan demikian, validitas suatu norma hukum sesungguhnya dapat dilakukan dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Melalui partisipasi masyarakat dapat diketahui mengenai eksistensi dari suatu aturan di dalam sistem hukum suatu negara. Melalui partisipasi masyarakat pula, dapat diindikatori bahwa suatu realitas dapat diangkat menjadi suatu norma hukum dan masuk sebagai hukum positif di salam sistem hukum.
Selain itu, partisipasi masyarakat dapat menjadi pintu masuk bagi dipatuhinya suatu norma hukum yang telah memiliki validitas. Jadi, norma hukum yang valid tidak hanya sekedar berlaku di dalam suatu sistem hukum, melainkan dipatuhi oleh semua person yang menjadi cakupan validitas norma hukum tersebut. Bayangkan, jika person-person di dalam suatu negara hanya sekedar dianggap mengetahui, karena norma hukum tersebut telah diundangkan melalui Lembaran Negara, maka norma hukum yang valid itu hanya berhenti sebagai sebuah dokumen negara tanpa memiliki kekuatan untuk dipatuhi dan diikuti. Dalam keadaan demikian pun, norma hukum hanya akan eksis secara formalitas di dalam sebuah sistem hukum positif suatu negara, tanpa terimplementasi dan membawa manfaat bagi person-person atau masyarakat yang menjalankan kejadian atau peristiwa di dalam realita kehidupannya.
79Khudzaifah Dimyati, Op.Cit., hlm. 78.