UNDANGAN
1. Negara Hukum Indonesia Merupakan Negara Hukum yang Demokratis
Sejak berdirinya, Indonesia telah menyatakan sebagai “negara yang berdasar atas hukum.” Meskipun hanya tertuang dalam Penjelasan, namun, pernyataan itu memiliki konsekuensi dalam kehidupan bernegara Republik Indonesia. Pernyataan itu berimplikasi bahwa penyelenggaraan negara dilakukan berdasarkan atas hukum, dan penyelenggara negara harus tunduk pada hukum. Artinya, tidak ada lagi kesewenang-wenangan dalam penyelenggaraan negara.
Sadar bahwa pernyataan itu memiliki kontribusi dalam penyelenggaraan bernegara, sehingga ketika terjadi perubahan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pernyataan itu diejawantahkan dalam Batang Tubuh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, tepatnya di Pasal 1 ayat (3).
Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut menyatakan bahwa “Negara Indonesia adalah negara hukum.” Dengan dituangkan dalam Batang Tubuh, pernyataan itu memiliki kekuatan yang lebih mengikat dibandingkan ketika masih tertuang dalam Penjelasan. Dengan demikian, itu menjadi aturan pokok dalam penyelenggaraan negara dan dasar bagi pembentukan Undang-Undang yang menjadi alas bagi tindakan pemerintah dalam penyelenggaraan negara.
Berdasarkan itu, pernyataan bahwa “Negara Indonesia adalah negara hukum” adalah pernyataan yang tidak selesai di atas kertas, melainkan harus selalu terimplementasikan dalam segala tindakan penyelenggaraan negara, baik itu tindakan nyata18 maupun tindakan hukum.19 Oleh Soetandyo Wignjosoebroto, diuraikan bahwa negara hukum memberikan isyarat kepada suatu organisasi pemerintahan untuk disusun atas dasar kesiapannya dalam menundukkan diri pada
18Tindakan nyata adalah tindakan-tindakan yang tidak ada relevansinya dengan hukum, sehingga tidak menimbulkan akibat hukum. Versteden dalam H.R.
Ridwan, Hukum Administrasi Negara, Edisi Revisi, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014), hlm. 109.
19Tindakan hukum adalah tindakan yang menimbulkan akibat-akibat hukum tertentu, atau dengan kata lain dapat menimbulkan hak dan kewajiban. Ibid., hlm.
110.
ketentuan-ketentuan hukum dan tidak secara vulgar mendasarkan diri pada kekuasaan politik.20
Isyarat lainnya ialah, bahwa ketentuan hukum itu merupakan hukum yang dibentuk tidak hanya memenuhi syarat formal, melainkan juga secara material, yaitu dapat dipertahankan di hadapan aras cita hukum, dalam hal ini ialah cita hukum Pancasila. Dengan demikian, hukum di Indonesia yang menjadi alas dari segala tindakan negara, harus dibentuk sesuai dengan cita hukum Pancasila, termasuk harus adil.21
Berdasarkan isyarat tersebut, ciri Negara Hukum di Indonesia ialah bahwa kekuasaan dijalankan berdasarkan hukum yang berlaku.
Hukum yang berlaku itu dibentuk berdasarkan cita hukum Pancasila yang berisi keadilan. Di bawah hukum yang berdasarkan Pancasila inilah, roda pemerintahan dijalankan untuk mengatur dan mengarahkan masyarakat Indonesia mencapai tujuan-tujuannya, terutama mengenai kesejahteraan. Hukum yang dibentuk di bawah bendera Pancasila, artinya harus mampu menjadi hukum yang adil dan menjamin hak-hak masyarakat Indonesia untuk mencapai kesejahteraan.
Sejurus dengan hal itu, negara hukum yang dinyatakan dalam Batang Tubuh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menurut Satjipto Rahardjo merupakan kerangka bagi bangsa Indonesia untuk menegaskan identitasnya.22 Menjadi rumah yang membahagiakan rakyatnya, oleh karena itu, bangunannya harus terus diisi oleh tindakan yang tidak sekedar tunduk pada hukum tetapi juga pada kemauan untuk menentukan politik yang akan dituangkan dalam hukum. Artinya, politik hukum sangat menentukan isi dari bangunan Negara Hukum Indonesia.
Berdasarkan uraian tersebut, penegasan identitas sebagai negara hukum menjadi penting, karena akan menentukan politik hukum dari Negara Indonesia. Penegasan itu menjadi sikap Indonesia yang sudah terjerembab dalam “jaring istilah” yang mendikhotomikan
20Myrna A. Safitri, Ed. Hukum yang Lahir dari Bumi Kultural Rakyat: Soetandyo Wignjosoebroto, Tentang Hukum, Sejarah dan Keindonesiaan, (Jakarta: Epistema Institute-Huma, 2015), hlm. 161. Dapat dibandingkan dengan Lutisone Salevo, Rule of Law, Legitimate Governance and Development In The Pacific, (The Australian University Press:
Asia Pacific Press, 2005), hlm. 3.
21Franz Magnis-Suseno, Op. Cit., hlm. 376.
22Satjipto Rahardjo (2), Op. Cit., hlm. 13-14.
negara hukum menjadi rechtsstaats dan rule of law. Memang tidak dapat disalahkan, karena semula sekali, pernyataan negara hukum di dalam Penjelasan Batang Tubuh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia sebelum perubahan, dipadankan dengan istilah rechtsstaats sebagai antinomi dari machtsstaats.23 Meskipun setelah perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, konsep rechtsstaats tersebut ingin dinetralkan menjadi negara hukum yang khas Indonesia, sebagai negara dengan konsep yang prismatik tanpa mensitir rechtsstaats.24
Di Indonesia, Negara Hukum Indonesia, seharusnya dikonsepkan tidak untuk rechtsstaats dan rule of law, melainkan negara hukum yang khas Indonesia, negara hukum yang membahagiakan rakyatnya atau apabila menurut Mahfud MD, negara hukum yang prismatik, seperti yang telah dinyatakan di awal.
Konsep prismatik menurut Mahfud MD ialah konsep yang dipinjam dari Fred W. Riggs, bahwa konsep itu ialah konsep “yang mengambil segi-segi baik dari dua konsep yang bertentangan yang disatukan sebagai konsep tersendiri sehingga dapat selalu diaktualkan dengan kenyataan masyarakat Indonesia dan setiap perkembangannya.”25
Riggs sendiri menghasilkan prismatik itu sebagai pilihan kombinatif atau jalan tengah atas nilai sosial yang paguyuban dan nilai sosial patembayan. Nilai sosial prismatik ialah nilai yang meletakkan dua kelompok sosial tersebut sebagai landasan untuk membangun hukum.
Inilah yang disebut dengan konteks hukum prismatik,26 dan bila dalam konteks Indonesia disebut dengan sistem hukum yang berbasis pada Pancasila, sebagai jalan tengah bagi keragaman masyarakat Indonesia.
23Dalam Penjelasan mengenai “Sistem Pemerintahan Negara” dikatakan bahwa
“Indonesia ialah Negara yang Berdasar atas Hukum (Rechtsstaats).” Kemudian dijelaskan bahwa, “Negara Indonesia berdasar atas hukum (Rechtsstaats), tidak berdasarkan kekuasaan belaka (Machsstaats).”
24Mahfud MD (3), “Negara Hukum Indonesia Kemana Akan Melangkah”, Ceramah Kunci Konferensi Negara Hukum dalam Prosiding Konferensi dan Dialog Negara Hukum, Jakarta, 9-10 Oktober 2012, hlm. 66
25Mahfud MD (4), Perdebatan Hukum Tata Negara Pascaamendemen Konstitusi, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010), hlm. 6.
26Fred W. Riggs dalam Retno Saraswati, “Rekonseptualisasi Hak Konstitusional Calon Perseorangan Menuju Pemerintahan Daerah yang Efektif”, Disertasi pada Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 2011, hlm.
48-49.
Indonesia menurut Mahfud MD bukanlah negara agama atau sekuler, bukan juga negara individualis atau kolektivis, melainkan negara kebangsaan yang religius yang melindungi dan memfasilitasi semua rakyatnya agar hak asasinya terpenuhi.27 Indonesia mengakui manusia sebagai individu yang memiliki hak dan kebebasan. Oleh karena itu, pengelolaan nilai kepentingan dan nilai sosial yang mengarah pada keseimbangan antara kepentingan perseorangan dan kepentingan bersama serta antara nilai sosial paguyuban dan patembayan harus dilakukan.
Dalam tugasnya, Negara Hukum Indonesia yang khas Pancasila, yang prismatik harus bersaing dengan tiga konsep negara hukum lain di dunia, dan itu sangat menonjol, yaitu konsep negara hukum barat (rechtsstaats dan rule of law), konsep negara hukum socialist-komunis (socialist legality), dan konsep negara hukum Islam (nomokrasi Islam).28
Konsep negara hukum barat (rechtsstaats dan rule of law) itulah yang sangat “melanda” kekonsepan Negara Hukum Indonesia. Konsep itu sangat menawarkan perlindungan terhadap HAM, sehingga memberikan kemungkinan kepada individu untuk menikmati HAM sebagaimana mestinya dengan terlebih dahulu mementingkan kepentingan individu dibandingkan kepentingan bersama. Konsep ini, sangat berbeda dengan konsep negara hukum sosialis-komunis yang sangat mendasarkan pada nilai-nilai sosial paguyuban, yang mengenyampingkan hak-hak individu guna kepentingan sosial-komunal. Lalu, hampir sama dengan konsep negara hukum barat, yaitu konsep negara hukum Islam atau Nomokrasi Islam, karena memberikan kebebasan kepada individu, namun dengan tetap mendasarkan pada syariah yang berlaku dengan memandang aspek hablumminallah dan hablumminnannas.29 Di tengah-tengah serangan konsep itu, konsep Negara Hukum Indonesia harus berusaha menjadi negara hukum bagi masyarakat Indonesia dengan cara mengabsorpsi nilai-nilai yang baik di antara konsep-konsep itu.
Usaha itu harus terus diupayakan, karena mengusahakan Negara Hukum Indonesia, artinya serupa dengan mengupayakan Pancasila
27Ibid.
28Arief Hidayat, Op. Cit., hlm. 58.
29Ibid., hlm. 58-59.
sebagai norma dasar negara (Grundnorm) yang menjadi sumber bagi seluruh bangunan norma di Indonesia, sekaligus sebagai cita hukum negara Indonesia sebagai kerangka keyakinan yang bersifat normatif dan konstitutif. Dengan demikian, Negara Hukum Indonesia ialah negara yang pengelolaannya tunduk pada hukum yang dikerangkai oleh nilai-nilai Pancasila, yang mengarahkan pada tujuan yang hendak dicapai oleh bangsa Indonesia, yaitu “melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”
Selain itu, mengusahakan Negara Hukum Indonesia juga mengusahakan untuk menjadikan Pancasila sebagai Staatsfundamentalnorm, kaidah fundamental negara yang menjadi dasar dan pangkal bagi seluruh hukum positif di Indonesia, sebagai basis dan pembuatan hukum nasional. Oleh karena itu, Negara Hukum Indonesia harus terus diupayakan dan diwujudkan agar masyarakat Indonesia hidup dalam karakternya sendiri dan tunduk pada hukum yang berisi nilai-nilai yang khas Indonesia sehingga arah yang ingin diwujudkan tepat sesuai dengan tujuan berbangsa dan bernegara Indonesia, seperti gotong-royong, sebagaimana yang dikatakan Soekarno.30
Gotong-royong tersebut tercermin dalam semua sila di Pancasila yang menjadi landasan untuk menyelenggarakan segala kehidupan negara secara benar, adil dan baik. Penyelenggaraan negara yang demikian ialah untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Dikarenakan untuk kepentingan rakyat, seharusnya di dalam penyelenggaraan negara digunakan musyawarah dengan rakyat untuk mencapai kata mufakat.
Inilah yang dipesankan melalui “kerakyatan” yang disebut sebagai demokrasi.31 Jadi, di dalam Negara Hukum Indonesia juga terdapat refleksi dari nilai demokratis.
Merelasi dengan pembentukan hukum sebagai salah satu variabel dalam penelitian ini, secara serta-merta tidak dapat ditinggalkan mengenai kedaulatan negara dan kedaulatan rakyat yang berdiri
30Bernard L. Tanya, dkk., Pancasila Bingkai Hukum Indonesia, (Yogyakarta: Genta Publishing, 2015), hlm. 4.
31Dapat dilihat di Ibid., hlm. 8.
berdasarkan legitimasi demokratis.32 Legitimasi ini berpangkal dari teori kontrak sosial yang dikemukakan oleh Rosseau33 dan Locke.34
Ide kekuasaan yang berada pada pemerintah tercipta dari adanya Pactum Subjectiones (penyerahan kekuasaan) yang telah diserahkan kepada pemerintah oleh individu-individu yang telah bersepakat untuk membentuk negara (Pactum Uniones) dan negara itu harus dijalankan melalui roda pemerintahan. Pemerintah yang telah dipercaya itu kemudian diberikan kewenangan untuk mengatur kehidupan bersama.
Artinya, pemerintah yang terpilih telah menerima kepercayaan dari rakyat untuk melakukan tugas pengaturan atas nama semua pihak yang memberikan kepercayaan dan kekuasaan kepadanya, termasuk membuat Undang-Undang. Jadi sesungguhnya, pemerintahan yang dilakukan itu ialah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Inilah yang dinamakan dengan konsep demokrasi.
Demokrasi secara definitif diartikan sebagai “sebuah bentuk pemerintahan”, yang apabila merujuk pada tradisi klasik, pemerintahan itu dilakukan oleh banyak orang. Bentuk pemerintahan itu dikontraskan dengan bentuk pemerintahan yang dilakukan oleh 1 (satu) orang atau beberapa orang. Sedangkan Abraham Lincoln menyebutkan bahwa demokrasi merupakan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.35 Sederhananya, demokrasi merupakan gabungan dari kata demos dan kratos yang berasal dari Yunani. Demos berarti rakyat, dan kratos
32Franz-Magnis Suseno, Op. Cit., hlm. 368-369.
33Rosseau dalam Discourse on the Origin and Foundations of Inequality menyatakan bahwa pemerintah itu tidak boleh sewenang-wenang, jahat dan melewati batas dari pemerintah itu. Untuk itulah diperlukan hukum yang ditempatkan dalam kekuasaan tertinggi yang harus ditaati oleh pemerintah agar kesewenang-wenangan itu tidak melembaga. Diane Ravitch dan Abigail Thernstrom, Demokrasi: Klasik dan Modern: Tulisan Tokoh-Tokoh Pemikir Ulung Sepanjang Masa, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005), hlm. 108.
34Menurut Locke, manusia dilahirkan dengan hak atas kebebasan sempurna dan hak untuk menikmati secara tak terbatas semua hak-hak bersama dengan setiap orang lain, termasuk untuk menentukan dan menghukum pelanggaran-pelanggaran. Oleh karena itu, diperlukanlah masyarakat politik yang dapat berdiri, bertahan, dan mempunyai wewenang untuk menjaga harta benda. Dengan demikian, setiap orang menyerahkan kekuasaan kodratinya ke tangan masyarakat politik tersebut untuk meminta perlindungan. Ibid., hlm. 72-73.
35Ryaas Rasyid dalam Retno Saraswati, “Rekonseptualisasi Hak Konstitusional Calon Perseorangan Menuju Pemerintaha Daerah Yang Efektif,” Disertasi Pada Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 2011, hlm. 70.
yang berarti kekuasaan, sehingga jika diartikan, demokrasi merupakan rakyat berkuasa atau “government are rule by the people.”36
David Beetham dan Kevin Boyle memiliki 2 (dua) pengertian tentang demokrasi. Pertama, demokrasi diartikan sebagai perwujudan keinginan secara keseluruhan anggota dan semua anggota memiliki hak yang sama. Kedua, demokrasi merupakan indikator tentang penerapan prinsip kendali rakyat dan kesetaraan politis serta partisipasi rakyat dalam pengambilan atau pembuatan keputusan.37
Joseph Schumpeter juga dapat disitir atas pernyataannya dalam mendefinisikan demokrasi. Demokrasi dalam pemahamannya Joseph Schumpeter adalah persiapan dalam membuat satu keputusan politik yang ditentukan oleh voting suara rakyat.38 Demokrasi juga dapat dilihat dari pemahaman yang diberikan oleh Juan dan Alfred, yaitu sebagai
“persaingan terbuka untuk mendapatkan hak menguasai pemerintahan.”
Dengan demikian, demokrasi menuntut untuk diselenggarakannya pemilu yang bebas dan kompetitif, yang hasilnya dapat menentukan orang-orang yang memerintah.39
Namun, karena pemahaman tersebut, demokrasi pun kadang hanya sekedar dipandang sebagai pemerintahan dari rakyat yang terpilih melalui persaingan pemilu yang bebas, adil dan dilaksanakan pada periode tertentu secara teratur. Tetapi, pemerintahan yang tercipta melalui sistem demokrasi, memberikan kemungkinan terbaik bagi akuntabilitas, responsif terhadap tuntutan masyarakat, mendorong perdamaian, mudah diprediksi dan menciptakan tata pemerintahan yang baik. Mendukung hal itu, secara tegas, Robert Dahl menyatakan bahwa demokrasi memberikan “jaminan kebebasan yang tak tertandingi oleh sistem politik manapun.”40
Sebagai sistem yang memberikan jaminan kebebasan terbaik, demokrasi memiliki perkembangan yang stabil sebagai sistem
36Ardyantha Sivadabert Purba, “Potret Pandangan Akademisi di Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM (JSP) Mengenai Permasalahan Demokrasi di Indonesia”, Jurnal Politik Muda, Vol. 4 No. 1, Januari-Maret 2015, 1-12, hlm. 5-6.
37Muslim Mufti dan Didah Durrotun Naafisah, Teori-Teori Demokrasi, (Bandung:
Pustaka Setia, 2013), hlm. 22.
38Ibid., hlm. 22-23.
39Ibid., hlm. 25-26.
40Larry Diamond, Developing Democracy: Toward Consolidation, (Yogyakarta: IRE Press, 2003), hlm. 2-3.
pemerintahan di seluruh dunia. Data menunjukkan bahwa jumlah keseluruhan negara demokrasi di seluruh dunia relatif stabil sejak tahun 1997. Pada tahun 2007, menurut World Forum on Democracy, terdapat 123 (seratus dua puluh tiga) negara demokrasi di dunia dengan mencakup 58,2 penduduk dunia, dan Indonesia termasuk negara demokrasi yang baru muncul setelah tahun 1997.41
Secara teori berdasarkan pemilahan tentang demokrasi dan pendekatan terhadap demokrasi itu, dapat dirumuskan 4 (empat) model demokrasi, yaitu pendulum democracy, voter democrarcy, participatory democracy dan concensus democracy. Dari keempat model demokrasi tersebut, model yang paling umum dan dapat dijumpai di banyak negara ialah model concensus democracy. Model concencus democracy ini pada dasarnya merupakan demokrasi yang bersifat tidak langsung dan integratif. Perwakilan kelompok-kelompok dan unsur-unsur masyarakat merupakan pengambil keputusan yang utama. Sedangkan model lain, seperti pendulum democracy menunjuk pada model demokrasi ketika kekuatan politik berayun-ayun diantara dua partai politik atau diantara para pendukung-pendukungnya. Lalu model voter democracy ialah model ketika pengambilan keputusan langsung secara agregatif tanpa perantara, seperti dalam referendum. Participatory democracy
41Indonesia setelah memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 dan memiliki Undang-Undang Dasar Pada 18 Agustus 1945, melalui norma-norma yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar telah mengindikasikan sebagai negara yang demokratis. Menunjuk ketentuan Pasal 2 UUD 1945 sebelum amendemen yang menyatakan bahwa kedaulatan di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), maka Indonesia sesungguhnya telah mengakui bahwa kepentingan rakyat yang harus dijadikan sumber dalam pengambilan keputusan politik meskipun pada saat itu dilakukan hanya oleh 1 (satu) lembaga. Selain sebagai negara yang demokratis, Indonesia pun mengikrarkan diri sebagai negara nomokrasi. Nomokrasi secara definitif diartikan sebagai kedaulatan hukum. Artinya, norma dijadikan faktor penentu dalam pnyelenggaraan negara. Demokrasi dengan nomokrasi dalam pelaksanaannya harus bergandengan tangan, karena demokrasi merupakan cara yang paling aman dalam menentukan atau mengontrol kekuasaan agar sesuai dan tetap menjunjung tinggi hukum dan keadilan. Hal ini dikarenakan dalam konsep negara hukum, hukum negara harus dijalankan dengan baik sesuai dengan harapan masyarakat terhadap hukum yaitu adil. Arief Hidayat, Bernegara Itu Tidak Mudah (Dalam Perspektif Politik dan Hukum), Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Ilmu Hukum, FH Undip, Semarang, 4 Februari 2010, hlm. 30. Martha Pigome, “Implementasi Prinsip Demokrasi dan Nomokrasi Dalam Struktur Ketatanegaraan RI Pasca Amendemen UUD 1945”, Jurnal Dinamika Hukum Vol. 11 No. 2 Mei 2011, hlm. 336-337.
adalah model yang mengkombinasikan pengaturan langsung melalui pengambilan keputusan secara integratif. Di dalam model ini kelompok minoritas tidak pernah dikesampingkan oleh kelompok mayoritas.
Merujuk pada model demokrasi di atas, Indonesia termasuk dalam model concencus democracy. Namun, sebelum sampai pada model ideal concencus democracy, negara yang konon baru demokrasi pada tahun 1997, Indonesia pun mengalami gelombang demokratisasi sebagaimana dimaksud oleh Samuel P. Huntington. Menurut Samuel P. Huntington melalui pendekatan analisis secara historis, gelombang demokratisasi terjadi ketika sekelompok transisi dari rezim-rezim non-demokratis ke rezim-rezim demokratis yang terjadi pada kurun waktu tertentu dan jumlahnya secara signifikan lebih banyak daripada transisi yang menuju arah sebaliknya. Huntington membagi gelombang demokratisasi ini menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu:
1. Gelombang panjang demokratisasi pertama, yang berakar pada Revolusi Perancis;
2. Gelombang demokratisasi kedua, yang berakar pada pendudukan oleh tentara Sekutu pada masa Perang Dunia II dan sesudahnya yang ditandai dengan rezim otoritarian;
3. Gelombang demokratisasi ketiga yang dimulai dengan “meninggalnya Jenderal Fanco di Spanyol yang mengakhiri rezim otoriter/militer di Eropa Tengah pada tahun 1975. Ketika Raja Juan Carlos dengan bantuan PM Adolfo Suarez memperoleh persetujuan parlemen dan rakyat untuk menyusun konstitusi baru yang demokratis.”42 Dalam konteks Indonesia, gelombang demokratisasi pertama dialami ketika Indonesia baru mengalami kemerdekaan dan memasuki rezim pemerintahan Soekarno-Hatta atau Orde Lama. Masa ini, Indonesia sempat menundukkan diri pada demokrasi liberal, namun penerapannya terbentur pada sistem politik yang terbangun yaitu parlementer yang membuat gagal untuk mewujudkan stabilitas pemerintahan dan mereduksi keaslian Indonesia.
42Rendy R. Wrihatnolo dan Riant Nugroho D, Demokrasi Bagi Negara-Negara Berkembang, http://www.bappenas.go.id...3_ _2248_ _0.pdf, diunduh pada tanggal 28 September 2016. Dapat dilihat pada Samuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia, (Jakarta: Qalam, 2012), 73-95.
Demokrasi liberal di Indonesia pun gagal, ketika kelas menengah yang sengaja dibangun oleh negara untuk mencapai tujuan politik negara sangat sulit untuk menghadirkan diri sebagai kelas yang terpisah dari kelas penguasa politik. Akhirnya, kelas menengah itu tetap membutuhkan perlindungan negara untuk tetap mampu mempertahankan posisinya, tetapi tidak mampu memainkan perannya untuk dapat membawa peluang kekuatan ke arah demokasi di Indonesia.43 Praktik demokrasi ini juga gagal karena disebabkan oleh dominannya politik aliran, landasan sosial ekonomi rakyat yang masih rendah dan tidak mempunyai anggota konstituante dalam bersidang untuk menetapkan dasar negara sehingga keadaan menjadi berlarut-larut.44
Soekarno akhirnya, mempersepsikan bahwa demokrasi yang dikehendaki oleh Konstitusi ialah Demokrasi Terpimpin. Keadaan itu mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
Dengan adanya dekrit tersebut, demokrasi parlementer atau demokrasi liberal di Indonesia berakhir, dan digantikan dengan demokrasi terpimpin.
Pada masa demokrasi terpimpin ini, Soekarno menjadi totaliter, bahkan dapat dikatakan bahwa tidak ada satu pun kekuatan politik yang berani melakukan oposisi secara terbuka. Demokrasi semacam ini justru membuat Soekarno tersingkir dari percaturan politik nasional, sehingga rezim kekuasaan pun berganti. Orde Baru ialah orde pengganti Soekarno. Soeharto muncul sebagai pemimpin yang berhasil menafsirkan Pancasila sebagai konsep ideologi yang dapat mempersatukan seluruh bangsa Indonesia. Namun, tafsir itu tidak melakukan reposisi Pancasila sebagai ideologi bersifat tunggal, melainkan hanya untuk memudahkan penyingkiran ideologi dari komunisme dari Indonesia.
Orde Baru kemudian menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang tidak dapat diganggu gugat, gagasan yang paripurna, sehingga harus diamalkan secara murni dan sebagai ultimate goal dari kehidupan bangsa.
Selain itu, Orde Baru juga mewajibkan seluruh elemen masyarakat untuk menggunakan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan sosial politik kemasyarakatan, sehingga timbul pula konsep demokrasi Pancasila. Monopoli tentang Pancasila membuat Orde Baru melakukan
43Cornelis Lay, Presiden, Civil Society, dan HAM, (Jakarta: Pensil-324, 2004), hlm. 52-53.
44Nn, Partisipasi Masyarakat Dalam Proses Pembentukan Rancangan Peraturan Daerah, MIH201698.pdf. hlm. 12.
operasi kekuasaan bersifat otoriter dan hegemoni. Hal seperti itu yang akhirnya membuat rezim Orde Baru jatuh melalui gerakan reformasi dan demokratisasi.45
Gerakan yang disebut “reformasi”46 telah membuat Indonesia masuk ke dalam negara yang demokrasinya masih dalam tahap transisi. Dalam masa transisi ditandai oleh instabilitas politik. Demi kestabilitasan politik, harus dilakukan reduksi terhadap aspirasi rakyat dan membelenggu dinamika politik serta proses politik yang memungkinkan elite atau pemimpin politik berkepentingan untuk berinisiatif melakukan transformasi dan menetapkan pilihan kebijakan secara konsisten mendukung demokratisasi.47 Tetapi, transisi demokrasi saat ini tidak dirasakan, karena Indonesia terlalu euforia dengan kebebasan, multipartai yang kompetitif, terbukanya ruang publik dan bangkitnya desentralisasi. Demokrasi yang transisi pun tersingkir dengan demokrasi yang liberal, meskipun kadarnya jauh di bawah demokrasi liberal pada tahun 1950-an.
Liberalisasi demokrasi tersebut tercermin dari liberalisasi sistem politik yang dijamin melalui pembentukan partai politik baru dan kebebasan pers, pemilihan umum yang bebas, mengurangi kekuatan militer di lembaga legislatif dan menyingkirkan kontrol negara atas organisasi sosial.48
45As’ad Said Ali, Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2009), hlm. 17-56.
46Dalam bukunya Mahfud M.D. dituliskan bahwa reformasi merupakan suatu cara yang membuat pemerintahan Orde Baru jatuh pada bulan Mei 1998.
Reformasi pada masa itu menjadi agenda pembicaraan yang hangat dan seperti sebuah jalan keluar yang sangat didambakan agar dapat cepat keluar dari himpitan krisis ekonomi pada saat itu. Reformasi diartikan dengan berbagai macam, seperti
“kembali ke bentuk awal”, “meluruskan sesuatu yang bengkok”, atau “menuju ke bentuk yang lebih baik”, bahkan adapula yang mengartikannya dengan “perubahan dalam waktu cepat dan radikal.” Apapun pengertiannya, reformasi pastinya telah menyasar aspek hukum di Indonesia, karena diyakini bahwa hukum merupakan sarana untuk menyelesaikan krisis. Oleh karena itu, hukum-hukum diubah mengikuti arus perubahan politik. Mahfud MD., (1), Op.cit., hlm. 103. Dapat dilihat pula di Satya Ariananto, Hak Asasi Manusia Dalam Transisi Politik Di Indonesia, (Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2003), hlm. 253-254.
47Rendy R. Wrihatnolo, dkk., Op. Cit., hlm. 3.
48Bob S. Hadiwinata dan Christoph Schuck, Memetakan Jalan Indonesia Menuju Demokrasi, Kerangka Teoretik, dalam Ed. Bob S. Hadiwinata dan Christoph Schuck, Demokrasi Di Indonesia, Teori dan Praktik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), hlm. 6-7.