D
alam buku Fikih Kebinekaan, M. Amin Abdullah menuliskan berikut:Fitur kemenyeluruhan (ةنلكلا : al-kulliyyah, wholeness). Elemen fitur ini ingin membenahi kelemahan ushul fikih klasik yang sering menggunakan pendekatan reduksionis dan atomistik. Pendekatan atom-istik terlihat dari sikap mengandalkan hanya pada satu nas untuk me-nyelesaikan kasus-kasus yang dihadapinya tanpa memandang nas-nas lain yang terkait. Solusi yang diterapkan adalah menerapkan prinsip holisme melalui operasionalisasi “tafsir tematik” yang tidak lagi terbatas pada ayat-ayat hukum, melainkan juga melibatkan ayat-ayat al -Quran termasuk ayat-ayat yang terkandung di dalamnya pedoman ke-hidupan sosial dan budaya, sebagai pertimbangan dalam pemutusan hukum Islam secara komprehensif.1
Benarkah demikian?
Mari sejenak kita lihat pemikiran ulama Islam klasik dalam mengkaji al-Quran (dan Sunnah nabi). Dalam pembacaan teks al-Quran dan sun-nah, setidaknya ada dua model:
Pertama, adalah bacaan tahlili, yaitu mengkaji teks al-Quran, dari awal surat al-Fatihah hingga surat an-Nas. Mereka mentafsirkannya dari ka-ta perkaka-ta, makna leksikal, makna retorik, hingga kemudian diter-angkan secara keseluruhan sesuai dengan kerangka berfikirnya masing-masing. Ada yang lebih menitik beratkan pada sisi balaghah dengan membawa ideologi Muktazilah seperti tafsir Zamahsyari. Ada yang model tafsir leksikal dengan nuansa Ahlus Sunnah seperti tafsir an-Nasafi. Ada yang tafsir bir riwâyah dan hukum seperti tafsir Thabari.
Ada yang bil ma’tsûr seperti tafsir Ibnu Katsîr. Ada yang kental dengan nuansa ilmu kalam seperti tafsir Mafâtihul Ghâib karya ar-Razi dan lain sebagainya. Pada prinsipnya, model penafsirannya dari ayat per-ayat. Kadang ditulis juga terkait munasabah, asbabun nuzul dan
ket-1 Amin Abdullah, log. cit. hal. 62-63
erkaitan dengan ayat lainnya.
Tafsir model ini memang tidak tematis. Sedari awal tujuan para mufas-sir ingin mengeksplorasi al-Quran secara komprehensif dari awal ayat hingga akhir ayat. Ia berusaha menguak kandungan kitab suci dengan berbagai sisi sesuai kemampuan dan latar belakangnya masing-masing.
Kedua, tafsir tematik. Model ini tidak menafsirkan ayat al-Quran dari surat al-Fatihah hingga an-Nas. Ia lebih kepada kajian atas suatu perso-alan umat yang membutuhkan solusi alternatif. Temanya bervariasi bergantung kepada persoalan yang diangkat, baik politik, ekonomi, so-sial dan lain sebagainya.
Dalam ranah hukum, kita bisa melihat berbagai buku ensiklopedi fikih Islam. Dalam hal ini ada dua model, pertama yang ditulis dari awal per-soalan hingga akhir. Umumnya bemula dari bab thaharah, lalu ibadah baik shalat, puasa, zakat, atau haji, lalu muamalah, baik nikah, perniag-aan, wesel, temuan, jaminan, pegadaian, pertanian, peternakan, dan lain sebagainya. Lalu menuju bab hukum pidana, baik dari dakwaan, saksi, bukti, hingga hukuman. Semua ditulis secara rapi, terperinci dan sangat tematis. Contohnya adalah buku ar-Risâlah karya Imam Syafii, al-Mughni karya Ibnu Qudamah, Ihyâ` ‘Ulûmuddîn karya Imam Ghazali, al-Iqnâ` karya Abu Suja, al-Majmû’ karya Imam Nawawi, dan lain se-bagainya.
Ada bentuk kedua, yaitu kumpulan fatwa. Buku ini sesungguhnya merupakan jawaban dari pertanyaan yang berkembang di masanya, lalu jawaban tadi ditulis dan dibukukan. Meski pertanyaannya bervariasi dan memakan waktu lama, namun dalam pembukuannya ditulis secara sistematis. Contohnya adalah Fatâwa Imam Subki, Majmû’ Fatâwa Ibnu Taimiyah, dan lain sebagainya.
Selain hukum, ada juga ilmu kalam yang penulisannya juga sangat sistematis. Contoh al-Ibkâr fi Ushûliddîn karya Imam Amidi, al-Iqtishâd fil I’tiqâd karya Imam Ghazali, al-Mugni karya Qadhi Abdul Jabbar yang berpaham Muktazilah dan lain sebagainya. Umumnya
ba-hasan bermula dari ketuhanan, lalu sifat Tuhan, lalu para nabi dan tera-khir terkait Hari Atera-khir dan imamah.
Ada juga buku-buku yang lebih spesifik, contoh buku politik Islam karya Imam al-Mawardi. Buku ini kajian yang sangat bagus terkait dengan sistem politik, baik dari makna politik, urgensi politik, pemili-han pemimpin, pemilipemili-han menteri, hak dan kewajiban pemimpin, hak dan kewajiban rakyat, pendapatan negara dan lain sebagainya. Selain buku ini, ada juga Siyâsah Syar’iyyah karya Ibnu Taimiyah, Thuruqul Hukmiyah karya Ibnul Qayim, dan lain sebagainya.
Ada juga kitab al-Kharrâj karya Abu Yusuf. Buku ini spesifik ber-bicara masalah pendapatan negara serta sistem distribusi keuangan negara. Buku ini dijadikan sebagai panduan tata negara pada masa kha-lifah Harun ar-Rasyid. Buku-buku itu merupakan interpretasi para ula-ma dalam meula-mahami al-Quran dan sunnah yang dirumuskan dalam pemikiran politik Islam klasik.
Untuk ekonomi Islam ada kitab al-Amwâl dan Ahkâmus Sûq. Al-Amwâl ditulis oleh Abi Ubaid al-Qasim bin Salam. Buku ini spesifik pada keu-angan negara, pendapatan Negara, dan juga distribusi keukeu-angan. Juga ada kitab lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu Ahkâmus Sûq. Buku ini spesifik masalah pengaturan pasar, pengawasan pasar, sejauh mana keterlibatan pemerintah dalam mengatur pasar dan lain sebagainya.
Buku ini ditulis oleh Abu Zakarya al-Kannani al-Andalusi (828 H/901 M).
Mengapa buku-buku tematis itu saya anggap sebagai pembacaan teks al-Quran dan hadis secara tematis? Jawabnya adalah bahwa buku-buku tersebut ditulis berdasarkan pada kebutuhan umat sesuai dengan tema yang dibutuhkan dari hasil interpretasi mereka atas pembacaan al-Quran dan sunnah nabi. Dalam buku-buku itu, baik dari ilmu kalam, fikih, fatawa, politik, ekonomi Islam dan lain sebagainya, selalu men-jadikan al-Quran dan sunnah nabi sebagai pijakan dalam berfikir.
Jadi buku-buku itu tidak datang dari ruang kosong. Buku-buku itu juga bukan berasal dari akal murni mereka. Buku-buku yang sangat sistema-tis itu merupakan pembacaan para ulama klasik terhadap nas al-Quran dan as-Sunnah. Jika demikian, masihkah kita menuduh bahwa ulama klasik tidak sistematis dalam menulis buku? Lalu dari mana M. Amin Abdullah mendapatkan kesimpulan berikut, “Solusi yang diterapkan adalah menerapkan prinsip holisme melalui operasionalisasi “tafsir te-matik?”.