BAB III HASIL PENELITIAN
C. Interaksi Sosial dan Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial antara Masyarakat
2. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
Berdasarkan dari uraian diatas mengenai proses interaksi atau hubungan diantara kedua kelompok masyarakat tersebut dapat dipahami bahwa pada awalnya proses interaksi sosial yang terjadi diantara mereka tidak begitu berjalan mulus. Dalam perkembangan yang ada mengenai proses interaksi antara kedua kelompok masyarakat tersebut sekarang ini mulai menjadi kondisi yang adaptif yaitu sikap saling memahami, sikap saling pengertian dan sikap saling menghormati satu sama lain. Kondisi yang seperti ini dapat terjadi karena mereka menyadari akan peran mereka masing- masing.
Masyarakat di sepanjang Jl. Sawojajar II Kelurahan Krobokan ini terdiri dari berbagai individu-individu yang memiliki persamaan dan perbedaan. Dari satu kondisi yang berbeda dan sisi yang lain memiliki kesamaan, hal inilah yang seringkali menciptakan interaksi sosial yang bersifat positif dan negatif. Kejadian yang demikian tersebut karena masing- masing individu yang saling berinteraksi menyadari akan persamaan- persamaan dan perbedaan-perbedaan yang pada akhirnya akan menyebabkan munculnya kekerabatan dan kebersamaan. Hal ini yang diungkapakan oleh Bapak Paryadi (security PJTKI) berikut ini :
“Yang namanya orang hidup itu semua tidak bisa sama antara yang satu dengan yang lain. Antara yang satu dengan yang lain itu kan memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Adanya kepentingan yang berbeda-beda inilah yang terkadang dapat menyebabkan suatu persaingan atau konflik antara individu yang satu dengan yang lainnya. Akan tetapi biasanya konflik tersebut tidak sampai membuat rusuh.”
75
Hal senada juga dikatakan Bapak Roni (tokoh masyarakat) berikut ini :
“Ketentraman dan ketenangan seakan-akan sudah menjadi tujuan untuk hidup warga sehingga sedapat mungkin hal itu dapat diwujudkan dengan melalui sikap toleransi, maka hal tersebut dapat terwujud”
Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, antara individu dengan kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu (misal : saling bertegur sapa, berjabat tangan, saling bercakap- cakap), maka secara tidak sadar proses interaksi sosial dimulai pada saat itu. Walaupun individu-individu tersebut tidak saling bertegur sapa, tidak berbicara atau tidak saling menukar tanda-tanda interaksi sosial, maka interaksi sosial pun telah terjadi. Oleh karena itu, masing-masing individu sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan terjadinya perubahan- perubahan dalam perasaan orang yang bersangkutan sehingga dapat menimbulkan kesan di dalam pikiran seseorang yang kemudian dapat menemukan tindakan apa yang akan dilakukannya.
Interaksi sosial menjadi kunci utama dari semua kehidupan sosial. Oleh karena itu, tanpa interaksi sosial maka tidak akan tercipta suatu kehidupan bersama. Dengan bertemunya orang-perorangan secara badaniah belakang tidak akan menghasilkan suatu pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup semacam itu akan terjadi apabila orang- perorangan atau kelompok-kelompok manusia mau melakukan kerjasama,
76
saling berbicara dan seterusnya. Untuk mencapai suatu tujuan bersama, mereka mengadakan persaingan, perselisihan bahkan pertikaian. Interaksi sosial menjadi salah satu faktor utama dalam kehidupan sosial yang merupakan syarat terjadinya aktivitas. Seperti halnya keadaan masyarakat yang ada di sepanjang Jl. Sawojajar II kelurahan Krobokan dalam menjalankan interaksi sosial dengan para calon TKI.
Interaksi sosial yang dijalankan oleh anggota masyarakat (masyarakat sekitar dengan para penghuni asrama putri PJTKI) tersebut diartikan sebagai suatu hubungan dalam sistem sosial yang melibatkan antara dua orang atau lebih individu, dimana tingkah laku individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki tingkah laku individu yang lain atau sebaliknya. Dengan sistem sosial tersebut akan mengarahkan pada penciptaan pranata sosial yang mencakup cara-cara bertingkah laku dan bertindak baik yang telah ditentukan maupun yang tidak ditentukan didalam menjalankan interaksi sosial, yang kemudian dia menjadi bagian dari kelompok masyarakat.
a. Kerjasama
Kerjasama merupakan proses interaksi sosial yang paling pokok. Kerjasama yang dilakukan di kampung ini dapat berjalan karena adanya rasa saling membutuhkan sama lain dalam interaksi sosial antara masyarakat sekitar dengan para penghuni asrama putri PJTKI yang bermukim di wilayah Jl. Sawojajar II Kelurahan Krobokan, membuat interaksi diantara kedua kelompok masyarakat ini mengarah pada suatu
77
kerjasama. Kerjasama disini adalah usaha yang dilakukan bersama antara orang-perorangan maupun antar kelompok manusia demi tercapainya suatu tujuan. Yang mana tujuan tersebut adalah untuk menciptakan masyarakat yang nyaman, tenang dan masyarakat yang harmonis dapat tercapai. Dimana dengan terciptanya masyarakat yang harmonis merupakan dambaan setiap individu. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Bapak Paryadi (security PJTKI) berikut ini :
“Biasanya dalam bentuk kerjasama dalam hal menciptakan masyarakat tentram dan nyaman, masyarakat yang utuh ini serta masyarakat yang harmonis karena inikan keinginan semua warga kampung sini. Bagaimana caranya supaya ketentraman dan kenyamanan itu dapat terwujud di kampung ini.”
Lain halnya yang diungkapkan oleh Bapak Rony (tokoh masyarakat) berikut ini :
“Kalau sudah saling kenal sih, sudah dianggap seperti saudara sendiri, maka diibaratkan kalau salah satu merasa sakit, maka yang lainnya pun merasakannya. Atau sebaliknya kalau tidak saling kenal, ya sikapnya masa bodoh dan nggak mau tahu.”
Selain itu, tujuan dari diadakannya kerjasama diantara kedua kelompok masyarakat tersebut karena untuk memperoleh keuntungan yang didapatkan oleh kedua belah pihak. Dimana keuntungan yang diperoleh oleh para calon TKI yaitu mereka dapat menyelesaikan proses pelatihan selama di PJTKI dengan baik dan lancar dengan bantuan adanya sarana dan prasarana yang disediakan oleh masyarakat setempat.
Kerjasama yang dilakukan diantara kedua kelompok masyarakat ini biasanya berupa kerjasama dalam hal pembiayaan, kerjasama dalam hal commit to user
78
jasa dan kerjasama dalam hal sosial dan kemasyarakatan. Ternyata kerjasama yang dilakukan oleh kedua kelompok masyarakat tersebut sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Dengan adanya kerjasama tersebut, maka proses interaksi sosial diantara kedua kelompok masyarakat tersebut dapat berlangsung dengan baik, ternyata dapat memberikan nilai tambah pada perkembangan daerah pemukiman mereka.
Kondisi ini dapat dilihat dimana setelah terjadinya proses interaksi dan lancar dalam melakukan komunikasi maupun kontak sosial juga dapat mempengaruhi perkembangan pemukiman mereka. Dimana masyarakat setempat yang pada mulanya merupakan masyarakat terbuka, kini dengan adanya para calon TKI sikap masyarakat setempat bisa lebih toleran. Hal ini tentunya bisa dengan mudah dapat menerima pemikiran- pemikiran baru yang mana selanjutnya dapat digunakan untuk pengembangan wilayah tempat tinggal mereka. Keuntungan lain yang diperoleh dari adanya kerjasama diantara kedua kelompok masyarakat tersebut yaitu dapat meningkatkan kualitas dalam berinteraksi sosial. Suatu kerjasama dapat berjalan baik apabila mereka lancar dalam berkomunikasi. Kerjasama yang terjalin antara masyarakat setempat sekitar dengan para calon TKI di Kelurahan Krobokan ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1). Kerjasama dalam kegiatan Ekonomi
Kerjasama dalam kegiatan ekonomi yang terjalin antara masyarakat sekitar dengan para calon TKI biasanya berupa kerjasama
79
yang terjadi karena adanya hubungan interdependensi antara kedua kelompok masyarakat tersebut dalam hal penyedian sarana dan prasrana.
Kerjasama Ekonomi dalam penyediaan keperluan sehari-hari atau di sektor perdagangan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari para calon TKI (misal warung makan, counter hp, wartel, warnet, dll). Kesempatan kerja dalam sektor perdagangan dan pemenuhan kebutuhan yang dimaksudkan dalam sektor perdagangan yaitu terbukanya kesempatan berusaha bagi masyarakat setempat untuk mendirikan warung makan, warung kelontong, counter hp, wartel/warnet yang berguna bagi para calon TKI untuk menunjang kebutuhan mereka sehari-hari.
Dengan mendirikan warung-warung tersebut yaitu supaya para calon TKI yang bermukim di wilayah ini bisa lebih mudah untuk memenuhi kebuthan sehari-hari mereka. Namun, dalam perkembanganya faktor ekonomi turut membantu masyarakat sekitar dalam pengembangan usaha mereka. Pada mulanya warung-warung tersebut didirikan hanya seadanya saja dan sangat sederhana. Tetapi dengan berjalannya waktu, warung-warung yang dulunya sederhana kini menjadi lebih bagus. Selain itu karena usaha yang dirintis oleh masyarakat pendatang pun mulai berkembang dengan pesat dan dapat memperoleh keuntungan yang relatif besar. Yang mana keuntungan- keuntungan tersebut dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan
80
sehari-hari dan untuk memperbesar usaha mereka. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Siti (calon TKI) berikut ini :
“Dengan adanya warung makan dan toko-toko penyedia kebutuhan sehari-hari yang ada di kampung ini banyak membantu kita-kita selama tinggal di asrama ini. Selain itu buat penduduk sekitar sini kan juga lumayan banget bisa dapat penghasilan tambahan.”
2). Kerjasama dalam kegiatan Sosial
Kerjasama dalam kegiatan sosial yang terjalin antara masyarakat sekitar dengan para calon TKI secara jelas nampak pada waktu ada kegiatan kebersihan di kampung ini atau kerja bakti. Mereka secara spontan ikut membantu ibu-ibu yang sedang melakukan kerja bakti pada sore hari tanpa diberi perintah atau pemberitahuan. Kondisi seperti inilah yang sangat membantu dalam proses interaksi sosial terutama dalam kegiatan sosial. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Ibu Lestari :
“Kalau pas ada kegiatan kebersihan di wilayah kampung ini, biasanya beberapa dari anak-anak calon TKI ikut membantu secara otomatis, walaupun tidak semua ikut membantu. Tapi sikap mereka patut ditiru.”
Hal diatas seperti yang dikatakan oleh Ema (calon TKI) berikut ini :
“Ikut bantu-bantu aja bila ada kegiatan kerja bakti, walaupun tidak disuruh oleh warga sekitar, Daripada tidak ada kegiatan yang kita lakukan.”
81 b. Persaingan
Persaingan adalah suatu perjuangan dari pihak-pihak untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Persaingan juga dapat diartikan sebagai suatu proses sosial, dimana individu/kelompok manusia yang bersaing, untuk mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu dapat menjadi pusat perhatian umum. Suatu ciri persaingan adalah perjuangan menyingkirkan pihak lawan itu dilakukan secara damai. Persaingan mempunyai dua tipe umum, yaitu persaingan yang bersifat pribadi dan persaingan yang bersifat tidak pribadi. Persaingan dapat terjadi dalam segala bidang kehidupan, misalnya bidang ekonomi dan perdagangan, kedudukan, kekuasaan, percintaan, dan sebagainya.
Dalam masyarakat di Jl. Sawojajar II Kelurahan Krobokan, persaingan yang tidak serta merta terlihat dengan jelas bagaimanakah manifestasi dari persaingan tersebut. Kompetisi yang terjadi di dalam masyarakat wilayah ini tidak berbentuk kompetisi yang riil atau nyata. Namun, hanya berbentuk kompetisi semu yang hanya muncul pada saat tertentu dan bukanlah hal yang mendominasi dalam kehidupan masyarakat.
Simbol status merupakan sesuatu yang sangat dihargai dalam setiap bentuk masyarakat. Hal ini terjadi karena simbol status ini biasanya sangat sulit untuk diperoleh sehingga memiliki nilai lebih dalam masyarakat. Simbol status ini bisa menjadi pemicu timbulnya persaingan
82
dalam masyarakat, karena setiap individu dalam masyarakat saling berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Pendidikan juga merupakan salah satu simbol status, karena bagi mereka yang mengenyam pendidikan tinggi akan mendapatkan status tinggi pula dalam masyarakat sehingga pendidikan seakan-akan menjadi komoditi penting agar status seseorang bisa meningkat di mata masyarakat. Namun, tidak semua orang bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi, yang akan berakibat pada pendidikan yang sangat dihargai dalam masyarakat.
Akan tetapi persaingan dengan jenis diatas jarang sekali berlaku di dalam masyarakat di Kelurahan Krobokan. Hal ini karena sebagian besar penduduk yang tinggal di Jl. Sawojajar II Kelurahan Krobokan sudah memiliki pendidikan yang cukup dan mempunyai ketrampilan dan keahlian. Maka persaingan tersebut jarang sekali berlaku di Kelurahan Krobokan karena masyarakat ini berprofesi sebagai pedagang.
Namun, persaingan yang ada di dalam lingkungan warga kampung di Kelurahan Krobokan, terutama mereka yang tinggal di sekitar asrama putri PJTKI PT. Graha Indra Wahana Perkasa ini biasanya berupa persaingan yang berbentuk persaingan ekonomi. Persaingan ekonomi ini biasanya ditimbulkan oleh terbatasnya persedian barang bila di bandingkan dengan jumlah konsumen yang ada. Persaingan ekonomi adalah salah satu cara memilih produsen-produsen yang baik. Bagi sebagian masyarakat hal yang demikian ini dianggap sangat menguntungkan karena produsen yang baik inilah yang memenangkan suatu persaingan dengan cara
83
memproduksi barang atau jasa yang lebih baik pula dan dengan harga yang lebih murah.
Akan tetapi persaingan ini tidak terlihat secara jelas bagaimakah bentuk persaingan tersebut atau dengan kata lain persaingan ini berupa persaingan semu. Dimana persaingan ini sebenarnya ada dalam masyarakat di Jl. Sawojajar II Keluraha Krobokan (terutama yang berada di dekat asrama putri PJTKI), namun warga kampung yang bersangkutan tidak mau mengakui keberadaan persaingan tersebut. Hal senada juga diungkapkan oleh Ibu Lestari (pemilik counter HP) berikut ini :
“Kayaknya dalam berhubungan sosial dengan mereka baik-baik saja dan ngga ada persaingan sama sekali.”
Hal ini sama seperti yang dikatakan oleh Susi (calon TKI) berikut ini :
“Tidak pernah, karena saya sudah menganggap masyarakat yang ada di sini sebagai keluarga sendiri yang harus saya sayangi dan saya jaga perasaanya.”
Hal seperti diatas juga ditambahkan oleh salah satu masyarakat sekitar yaitu Ibu Yayuk berikut ini :
“sepengetahuan saya di kampung ini tidak ada persaingan, karena masing-masing individu sudah sadar sepenuhnya bahwa lebih baik menjaga kerukunan dan kebersamaan dengan sesama warga kampung. Ibaratnya kalau ada tetangga yang mendapatkan kebahagian sebagai tetangga yang baik ya kami turut senang dan bersyukur tanpa rasa iri maupun dengki.”
Berdasarkan pengamatan pengamatan yang telah dilakukan terdapat persaingan antar masyarakat setempat. Misalnya saja persaingan commit to user
84
dalam menyediakan sarana dan prasarana, dan hal ini biasanya ditandai dengan tingkat harga yang bervariasi dan tergantung fasilitas-fasilitas yang disediakan. Persaingan yang terjadi dalam bidang ekonomi ini tidak selalu menimbulkan suatu berakibat negatif saja tetapi juga dapat menimbulkan sesuatu yang berakibat negatif saja tetapi juga berakibat positif. Akibat negatif dari persaingan seperti timbulnya suatu kecemburuan ekonomi yang akan menimbulkan sikap dan keinginan untuk selalu meraih tingkat ekonomi yang lebih tinggi dan hal tersebut dapat dilakukan dengan cara bekerja keras dan lebih membentuk relasi ekonomi.
Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ibu Joko (masyarakat sekitar ) berikut ini :
“Biasanya persaingan dalam hal menentukan tarif atau harga suatu barang yang ditawarkan. Perbedaan harga tersebut didasarkan pada kualitas dan kuantitas barang tersebut’”
Dengan adanya kelengkapan fasilitas yang disediakan oleh masyarakat setempat akan menjadi sebuah kepuasan tersendiri bagi setiap para calon TKI. Hanya demi mencapai suatu kepuasan tersebut, mereka rela bersaingan dengan individu-individu yang lain sehingga mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Persaingan ini bisa sebagai jalan, dimana keinginan, kepentingan yang pada suatu masa menjadi pusat perhatian dapat tersalurkan dengan baik bagi mereka yang saling bersaing. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Bapak Wuryanto (pemilik warung makan) berikut ini :
85
persaingan, semua berjalan apa adanya. Tetapi kalu hubungan antara para calon TKI biasanya ada sedikit persaingan dan biasanya disebabkan adanya rasa ketidak puasan”
Hal diatas senada yang dikatakan oleh Siti (calon TKI) berikut ini :
“Tidak pernah, kalau dengan para calon TKI disini kemungkinan ada persaingan. Misalnya persaingan dalam ketrampilan yang mereka peroleh selama pelatihan di asrama, mereka berusaha menjadi yang terbaik.”
Lain halnya yang diungkapkan oleh Arum (calon TKI ) berikut ini :
“Ya. Tapi persaingan sesama penghuni asrama putri dalam hal ketrampilan atau pengetahuan yang didapat. Mereka saling berlomba-lomba menampilkan yang terbaik.”
Hasil dari persaingan seperti diatas akan bersifat assosiatif dan positif. Persaingan yang dilakukan dengan jujur akan mengembangkan rasa sosial dalam diri individu. Dengan mengetahui sifat-sifat, cara kerja, dan perilaku orang yang menjadi lawan bersaing, maka akan menumbuhkan sikap saling menghargai lawan. Oleh karena itu, persaingan dapat memperkuat pandangan, pengertian, serta pengetahuan dan juga perassn simpati seseorang.
c. Pertentangan (Konflik)
Pertentangan merupakan proses dimana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuan dengan jalan menentang pihak lain atau lawan disertai dengan ancaman atau kekerasan yang dapat menimbulkan
86
dampak positif maupun negatif. Perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam individu atau kelompok dapat menjadi bibit konflik. Perasaan memegang peranan yang sangat penting dalam mempertajam konflik menjadi sedimikian rupa.
Perbedaan perasaan atau pandang akan melahirkan pertentangan, kadangkala dalam hubungan sosial yang terjadi diantara masyarakat, bisa terjadi perasaan tidak suka dengan orang lain, keadaan seperti ini terjadi karena rasa iri yang diarasakan seseorang terhadap yang lain yang menimbulkan rasa tidak suka karena rasa ini tersimpan dalam waktu yang lama dan orang tersebut tidak bisa menahannya. Yang terjadi dalam masyarakat sekitar dengan adanya para calon TKI pertentangan semacam ini muncul karena adanya rasa tidak suka antara masyarakat setempat terhadap para calon TKI di wilayah mereka. Rasa tidak simpati ini sebenarnya muncul dari perorangan yang mencoba membangun kekuatan untuk bersatu. Hal ini sperti yang diungkapkan oleh salah satu tokoh masyarakat yaitu bapak Bambang DH (ketua RT 02 RW X) berikut ini :
“Kalau pun saya ada masalah atau pertengkaran dengan para calon TKI, ya urusan di selesaikan antara saya dengan calon TKI tersebut. Sehingga tidak sampai mencari teman untuk membantu menyelasaikan masalah tersebut dan nati takutnya masalah tersebut malah menjadi semakin besar dan mungkin tidak dapat terselesaikan.”
Pertentangan (konflik) yang terjadi dan berkembang diantara kedua kelompok tersebut (masyarakat sekitar dengan para calon TKI) disini biasanya mengarah pada suatu konflik laten yaitu suatu konflik yang
87
dilakukan tidak terang-terangan atau secara tersembunyi. Hal ini yang dikemukakan oleh bapak Rony (tokoh masyarakat) berikut ini :
“Ya, saya pernah mengalami konflik dengan para calon TKI yang ada di PJTKI tersebut. Mereka pada biasanya melakukan aktivitas sampe tengah malam, dan mereka tidak sadar bahwa suara mereka atau kegaduhan yang mereka lakukan terdengar sampai di tempat saya, sehingga hal tersebut sangat menggangu keluarga saya. Tapi konflik ini tidak sampai meluas ke warga lain, karena masalah ini saya selesaikan secara pribadi dengan pihak PJTKI.”
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kalaupun terjadi suatu konflik yang melibatkan antar individu, hal tersebut tidak akan meluas yang mana akan mengacu pada suatu konflik terbuka serta tidak akan menyebabkan konflik yang melibatkan warga masyarakat secara massal.
Perbedaan lain yang menjadi sebab musabab terjadinya suatu konflik adalah adanya perbedaan kepentingan, yang mana perbedaan kepentingan antar individu atau kelompok merupakan sumber lain daripada munculnya konflik. Namun, sampai saat ini perbedaan kepentingan tersebut tidak pernah terjadi saat ini di wilayah Jl. Sawojajar II Kelurahan Krobokan. Hal demikian dapat terjadi karena adanya sikap masyarakat yang toleransi, sehingga tidak memungkinkan benih-benih pertikaian (konflik) tidak berkembang. Antara masyarakat sekitar dengan para calon TKI yang mungkin memiliki perbedaan kepentingan juga tidak menyulut adanya suatu konflik. Hal ini juga seperti yang diungkapkan oleh Ibu Tohir (masyarakat sekitar) berikut ini :
“Tidak pernah. Karena kalau ada para calon TKI yang menjengkelkan ya saya biarkan saja, nanti kan bosan sendiri, commit to user
88
kalau tidak begitu ya ditinggal pergi saja nanti kan merasa sendiri.”
Lain halnya yang diungkapkan oleh Novi (calon TKI) berikut ini : “Sebagian masyarakatnya ada yang nggak mutu mas, sukanya bilang tentang kejengkelan orang lain, khan itu bikin kesal.”
Dalam kelompok-kelompok dimana para warganya mengadakan interaksi sosial dalam frekuensi yang tinggi, kemungkinan besar terjadinya suatu konflik dapat ditekan. Memang benih-benih pertentangan (konflik) tersebut kadang-kadang ada di dalam setiap masyarakat. Akan tetapi sudah menjadi anggapan umum bahwa dalam memelihara hubungan yang baik, sebaiknya benih-benih pertentangan (konflik) tersebut tidak dibiarkan berkembang di dalam lingkungan masyarakat. Apabila sampai benih-benih pertentangan tersebut dibiarkan berkembang, maka akan menyebabkan munculnya suatu konflik dan kemungkinan besar dapat menyebabkan perpecahan.
d. Akomodasi
Dalam setiap kehidupan interaksi sosial manusia terdapat apa yang disebut akomodasi. Akomodasi adalah istilah yang mempunyai arti majemuk, yaitu suatu keadaan tertentu dan untuk menunjuk pada suatu proses yang sedang berkembang. Akomodasi yang menunjukkan pada suatu keadaan berarti adanya suatu keseimbangan dalam interaksi antara orang-perorangan atau kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma- norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat.
89
Sedangkan sebagai suatu proses akomodasi menunjukkan pada usaha- usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk mencapai suatu kestabilan.
Dengan pengertian tersebut dimaksudkan sebagai suatu proses dimana orang-perorangan atau kelompok manusia yang mula-mula saling