BAB III HASIL PENELITIAN
C. Interaksi Sosial dan Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial antara Masyarakat
1. Tahap Interaksi Sosial
Proses interaksi yang terjadi diantara kedua kelompok masyarakat ini terjadi dimulai semenjak diresmikannya Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) PT. Graha Indra Wahana Perkasa pada tahun 2002 di Jl. Sawojajar II Kelurahan Krobokan. Hal ini membuat wilayah disekitar PJTKI menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mendirikan ruko maupun warung- warung, yang mana bangunan tersebut digunakan sebagai penunjang kebutuhan para calon TKI selama mereka tinggal di asrama guna menjalankan pelatihan sebelum di kirim ke luar negeri.
Proses interaksi sosial tersebut diawali dengan adanya perbedaan adat-istiadat, budaya, dan norma-norma dianta kedua kelompok masyarakat tersebut. Yang mana pada tahap selanjutnya karena adanya perbedaan- perbedaan tersebut diantara kedua kelompok masyarakat tersebut berusaha
60
untuk mencari jalan keluar dan berkompromi. Dengan berhasilnya melakukan kompromi yang dilakukanya tersebut dapat menyebabkan situasi yang adaptif, dimana antara masyarakat sekitar dengan para calon TKI mulai dapat beradaptasi satu sama lain. Hal ini seperti yang diakatakan oleh Susi (calon TKI) berikut ini :
“Prosesnya ya dimulai dari cara beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan masyarakat setempat.”
Proses interaksi yang terjadi antara masyarakat setempat dengan para calon TKI melalui berbagai tahap yaitu sebagai berikut :
a. Tahap Pertama (Kondisi Awal terjadinya proses interaksi)
Pada awalnya proses interaksi sosial antara masyarakat sekitar dengan para penghuni PJTKI khususnya para calon TKI tidak begitu mulus, sehingga dapat menyebabkan suatu konflik dan perbedaan yang dapat merusak kondisi adaptif yang mulai terbangun diantara kedua kelompok masyarakat tersebut. Biasanya perbedaan-perbedaan tersebut timbul karena adanya perbedaan adat-istiadat, budaya, norma sosial, status sosial, status ekonomi dan tingkat pendidikan serta timbulnya suatu kesenjangan sosial antara masyarakat sekitar dengan para penghuni PJTKI. Kesenjangan sosial semakin diperparah dengan adanya sikap para calon TKI yang kurang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dan kebiasaan-kebiasaan dari masyarakat sekitar. Sikap masa bodoh dari para calon TKI yang kurang dapat memahami keadaan dan kebiasaan- kebiasaan masyarakat sekitar terkadang dapat menimbulkan konflik dan perbedaan pendapat antara kedua kelompok tersebut. Meskipun konflik commit to user
61
tersebut tidak sampai menimbulkan suatu konflik yang bersifat terbuka, namun kondisi yang tidak kondusif seperti inilah sangat menggangu proses interaksi sosial antara masyarakat sekitar dengan para calon TKI. Seperti yang diungkapan oleh Bapak Bambang DH ( Ketua RT 02 RW X)
“Beberapa dari para calon TKI yang ada disini kadang mereka kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Mungkin mereka merasa lebih pintar atau sok cuek sehingga mereka dapat berbuat sesuka hatinya di lingkungan tersebut. Sikap seperti inilah yang dapat menimbulkan suatu masalah di dalam kampung ini. Cara penyelasaiannya ya dengan memberikan pengarahan atau pengertian kepada para calon TKI tersebut mengenai kondisi dan keadaan masyarakat kampung ini. Jadi lambat laun para calon TKI dapat menyesuaikan diri dengan kondisi dan keadaan yang sekarang ini.”
Proses adaptasi yang dilakukan oleh kedua kelompok masyarakat ini sangat memerlukan waktu yang tidak begitu sebentar. Interaksi antara masyarakat sekitar dengan para calon TKI ini dapat saling memahami, saling pengertian dan saling mengisi satu sama lain dapat terjadi setelah mengalami proses suatu adaptasi sekitar 1 hingga 3 bulan. Proses adaptasi ini memerlukan waktu yang relatif lama , karena mengingat para calon TKI sudah terbiasa melakukan interaksi dan berhubungan dengan masyarakat setempat.
Ketidaklancaran berkomunikasi dalam berinteraksi sosial disebabkan karena adanya perbedaan status sosial, ekonomi, dan budaya sehingga dapat menimbulkan suatu kesenjangan. Perbedaan status sosial, ekonomi, dan budaya tersebut secara langsung maupun tidak langsung dapat menciptakan jurang pemisah dan dapat menimbulkan sikap kurang percaya diri (minder atau grogi) pada para calon TKI maupun masyarakat commit to user
62 sekitar di wilayah tersebut.
Proses interaksi sosial ini tidak hanya dengan melalui satu arah saja , tetapi dengan melalui dua arah yaitu dari masyarakat sekitar dengan para calon TKI. Disatu pihak banyak yang melihat bahwa para calon TKI merupakan kelompok orang yang kurang berpendidikan, karena hanya mampu bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan masyarakat sekitar jarang atau enggan atau bercakap- cakap dengan para calon TKI, begitupun juga sebaliknya, para calon TKI merasa minder bila harus berbicara dengan masyarakat sekitar.
Masyarakat sekitar merasa bahwa mereka tidak setara dalam hal edukasi, status sosial ekonomi dan pengalaman pribadi dengan para calon TKI. Sehingga tidak sedikit dari para calon TKI merasa minder dan sungkan untuk bergaul akrab dengan masyarakat sekitar. Kesenjangan dalam hal pendidikan/edukasi bisa dilihat dari jarangnya para calon TKI yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya falsafah hidup orang jaman dulu yang menitik beratkan pada keuntungan yang ditimbulkan karena kepemilikan material bukan karena keuntungan kepemilikan pengetahuan. Kesenjangan lain yang jelas terlihat adalah kesenjangan dalam kehidupan ekonomi. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya masyarakat sekitar yang mempunyai kendaraan pribadi atau handphone yang canggih sedangkan pada para calon TKI biasanya mereka dari golongan orang yang tidak mampu dan berasal dari desa.
Berbagai kesenjangan sosial ekonomi, dan kesenjangan edukasi, commit to user
63
tentunyalah potensial dalam menganggu kelancaran proses interaksi pada kedua kelompok masyarakat tersebut. Namun, kondisi seperti diatas tidak sampai menimbulkan suatu konflik yang serius. Diluar dari hal-hal yang demikian itu, proses interaksi sosial yang terjadi diantara masyarakat sekitar dengan para calon TKI berjalan dengan baik-baik saja. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Bapak Wuryanto ( Pemilik Warung Makan)
“Sudah hampir 5 tahun lebih saya membuka warung makan di tempat ini, dan hampir 5 tahun lebih pula saya berinteraksi dengan mereka. Hubungan sosial dengan para calon TKI yang ada di sini saya rasa baik-baik saja. Keberadaan mereka sangat memberikan pengaruh yang baik buat kita, meskipun banyak perbedaan.”
Hal senada juga diungkapkan oleh Ibu Lestari (pemilik counter HP) berikut ini :
“Hubungan saya maupun keluarga saya dengan para calon TKI yang ada di sini baik-baik saja, layaknya seorang teman akrab.”
Karena berbagai hal yang tidak terlepas dari adanya keuntungan dan kerugian yang diperoleh kedua belah pihak, maka proses interaksi sosial yang terjadi pun akan mengalami berbagai proses dan tahapan dalam hal adaptasi serta sosialisasi nilai-nilai dan norma-norma moral.
Pada awalnya adaptasi dan sosialisai nilai-nilai dan norma-norma tersebut agak sulit dipahami oleh para calon TKI, tetapi seiring berjalannya waktu maka proses tersebut dapat berjalan dengan baik, malah sekarang ini dapat mencapai tahap yang lebih baik yaitu bisa saling memahami dan tidak canggung lagi dalam berkomunikasi dengan masyarakat sekitar dan
64
tidak sedikit dari para calon TKI yang dapat mengikuti nilai-nilai dan norma-norma moral dari masyarakat sekitar. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Siti (Calon TKI) sebagai berikut :
“Semakin lama kita bergaul dengan masyarakat yang ada disini, maka lama kelamaan kita dapat mengerti norma-norma dan nilai- nilai moral yang ada, serta budaya mereka. Bahkan kita mulai terbiasa dengan budaya mereka.”
Lain halnya yang dikatakan oleh Dewi (Calon TKI) berikut ini :
“Menurut saya pribadi sih kehidupan antar warga di kampung sini lumayan baik. Karena ada sebagian warga masyarakat yang baik yaitu sikap toleransinya yang tinggi dan ada juga yang kurang baik karena kurangnya kesadaran dari masing-masing individu.”
Hal seperti diatas senada yang dikemukankan oleh salah satu tokoh masyarakat yaitu Bapak Roni sebagai berikut :
“Kurang baik, karena banyak para calon TKI yang tidak mau berhubungan dengan masyarakat sekitar, dan kadang melanggar peraturan-peraturan yang ada di kampung ini.”
Demikian proses interaksi yang terjalin antara masyarakat sekitar dengan para calon TKI, dari kondisi yang kurang adaptif sejalan dengan beriringnya waktu maka kondisi yang kurang adaptif tersebut dapat berkembang menjadi kondisi yang adaptif, yaitu suatu kondisi yang saling memahami, saling bertoleransi dan selanjutnya dapat tercipta interaksi atau hubungan yang baik diantara kedua kelompok masyarakat tersebut.
b. Tahap Kedua (Kondisi terakhir atau hingga saat ini)
Sejalan dengan beriringnya waktu, maka proses interaksi sosial antara masyarakat sekitar dengan para penghuni PJTKI (para calon TKI commit to user
65
maupun para staf/pegawai yang ada PJTKI) dapat berubah menjadi kondisi yang saling memahami, dan saling berempati satu sama lain. Dengan demikian, proses interaksi sosial yang terjadi diantara kedua kelompok masyarakat tersebut lambat laun akan mencapai suatu kondisi adaptif dan saling mengisi satu sama lain. Hal ini dapat dilihat pada toleransi dan sikap memaklumi tindakan dan aktivitas yang dilakukan oleh kedua kelompok (masyarakat sekitar dan para calon TKI).
Sikap toleransi yang biasa masyarakat sekitar gunakan yaitu dengan cara tidak terlalu menuntut para calon TKI untuk dapat beriteraksi secara aktif dengan masyarakat sekitar. Menurut masyarakat sekitar, para calon TKI yang kurang aktif dalam berinteraksi dapat ditolerir sebab mereka hanya tinggal untuk sementara waktu di daerah sini dan keterbatasan waktu mereka dalam menyelesaikan proses pelatihan sebelum dikirim ke luar negeri. Kondisi yang seperti inilah yang menyebabkan masyarakat sekitar tidak terlalu menuntut mereka untuk bergaul atau saling mengenal dengan masyarakat sekitar dan bahkan untuk mengikuti segala kegiatan yang ada di kampung tersebut. Kalau pun terjadi percakapan atau obrolan itupun hanya berada pada di jalan saat berpapasan atau pada saat membeli makanan atau pulsa.
Tindakan-tindakan seperti diatas itu dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk membantu para calon TKI untuk dapat berkonsentrasi atau terhindar dari permasalahan selama menjalani proses pelatihan di PJTKI. Dengan diberikannya kemudahan dan kelonggaran yang diberikan kepada
66
para calon TKI ini membuat mereka tanggap atau respon kepada masyarakat sekitar. Dengan adanya sikap saling hormat-menghormati itulah dapat berkembang menjadi sikap saling memahami satu sama lain. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Ibu Yayuk (masyarakat sekitar) sebagai berikut :
“Para calon TKI yang tidak mau kumpul atau mengobrol dengan masyarakat sini menurut saya sih ngga ada masalah, karena kan mereka di sini mempunyai waktu yang terbatas dan mempunyai banyak tugas/pelatihan yang banyak. Jadi mana mungkin untuk ngobrol yang tidak penting, kalaupun ada kesempatan untuk mengobrol itupun hanya obrolan biasa.”
Hal diatas juga ditambahkan oleh Ketua RT 02 RW X yaitu Bapak Bambang DH, sebagai berikut :
“Sebagai ketua RT dikampung ini, saya tidak tega untuk memberikan tugas atau menyuruh mereka untuk ambil bagian dalam segala kegiatan yang ada disini. Karena mengingat para calon TKI yang ada di PJTKI ini merupakan orang-orang yang menjalani pelatihan untuk memperoleh pekerjaan yang ada di luar negeri, jadi rasanya saya secara pribadi tidak mewajibkan mereka untuk ikut ambil bagian di kampung ini. Namun jika ada para calon TKI yang mau ikut serta dalam kegiatan-kegiatan kami, pasti kami perbolehkan dengan senang hati.”
Dengan adanya sikap saling memahami, saling menghormati dan saling mengerti satu sama lain sangatlah membantu dalam proses berlangsungnya hubungan atau interaksi yang terjadi diantara kedua kelompok masyarakat tersebut. Kegiatan sosialisasi nilai-nilai dan norma- norma dari masyarakat tetap dilakukan oleh masing-masing ketua RT dan RW serta pemuka masyarakat lainnya yang ada di wilayah tersebut.
67
Kondisi seperti itulah yang diharapkan oleh semua masyarakat supaya para calon TKI yang bermukim di wilayah ini dapat mengembangkan dan memupuk sikap saling menghormati, saling memahami, saling pengertian satu sama lain. Sikap masyarakat setempat yang toleran tersebut sangatlah membantu dan menguntungkan bagi mereka. Hal ini yang dikemukan oleh Susi (calon TKI) sebagai berikut :
“Asalkan kita tidak sombong sama mereka dan mau bersikap ramah kepada mereka, saya rasa tidak ada masalah. Malah mereka disini sangat membantu dan menguntungkan bagi kita (misal : ketika kita memerlukan kendaraan untuk pergi ke suatu tempat sebentar, kadang salah satu dari mereka dengan senang hati mau meminjamkan kendaraan maupun mau mengantarkan kita).”
Pemberian sosialisasi nilai-nilai dan norma-norma yang ditanamkan oleh masyarakat setempat kepada para calon TKI yaitu pada saat melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pada waktu pengajian di rumah-rumah warga. Hal ini dilakukan karena mengingat sebagian besar masyarakat yang ada di sekitar memeluk agama Islam, sehingga dengan persamaan kepercayaan tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk memberikan sosialisasi atau pengarahan kepada para calon TKI baik norma-norma maupun nilai-nilai moral yang ada di lingkungan setempat. Hal ini seperti yang di ungkapkan oleh Atik (calon TKI) sebagai berikut :
“Saya di kampung ini sebagai warga pendatang, jadi saya harus mengikuti tata cara dan aturan yang ada di kampung ini. Dengan demikian saya juga dapat di hormati oleh masyarakat setempat dan selain itu saya juga harus menjunjung tinggi sikap toleransi dari masyarakat setempat di kampung ini.” commit to user
68
Dengan adanya sarana dan prasarana yang ada di kampung ini ternyata banyak membantu untuk mengatasi kekakuan dalam berinteraksi diantara masyarakat sekitar dengan para calon TKI yang tinggal di PJTKI tersebut. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Ibu Lestari (pemilik counter HP) :
“Ya menurut saya sih para calon TKI yang tinggal sementara di lingkungan ini orangnya ga neko-neko, dan mereka itu orangnya lumayan alim. Walaupun tidak semua, tapi beberapa bagian dari mereka orangnya cukup sopan dan santun dalam berbicara, karena biasanya mereka berasal dari desa. Dan hal ini sangat berdampak positif untuk hubungan kami.”
Demikianlah proses interaksi atau hubungan yang terjalin diantara masyarakat sekitar dengan para calon TKI, yang mana dimulai dari tahap awal yaitu kondisi yang kurang adaptif sehingga dapat menimbulkan suatu konflik diantara mereka. Namun dengan berjalannya waktu (tahap akhir) kondisi yang kurang adaptif tersebut dapat berubah menjadi kondisi yang adaptif yaitu sikap yang saling memahami, saling pengertian dan saling hormat-menghormati satu sama lain serta saling bertoleransi. Maka dengan demikian mulai timbul dalam interaksi atau hubungan diantara kedua kelompok masyarakat tersebut.
Akan tetapi, proses Interaksi sosial tersebut tidak akan mungkin terjadi apabila tidak menjalankan dua syarat interaksi sosial, yaitu kontak sosial dan komunikasi. Untuk lebih jelasnya dapat diketahui dibawah ini :
1). Kontak Sosial
Salah satu syarat terjadinya interaksi sosial adalah adanya commit to user
69
kontak sosial antara masyarakat sekitar dengan para penghuni asrama putri PJTKI. Secara fisik kontak sosial baru akan terjadi apabila ada hubungan badaniah, tetapi sebagai gejala sosial hal tersebut tidak harus diartikan dengan suatu hubungan badaniah. Kontak sosial tidak tergantung dari tindakan yang dilakukan, akan tetapi juga mengenai tindakan apa yang telah dilakukan. Kontak sosial dapat bersifat primer dan sekunder. Kontak sosial yang bersifat primer ialah apabila seseorang bertemu secara langsung dan bertatap muka tanpa melalui suatu perantara. Sedangkan kontak sosial yang bersifat sekunder ialah apabila seseorang bertemu secara tidak langsung, tetapi melalui suatu perantara.
Kontak sosial yang bersifat primer dilakukan dalam sebuah kelompok atau komunitas yang mana dilakukan dengan cara perkenalan. Perkenalan merupakan tahapan yang terpenting dalam membentuk suatu interaksi sosial terutama bagi para calon TKI dalam berinteraksi dengan masyarakat setempat. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Atik (calon TKI) sebagai berikut :
“Pada awalnya ketika saya tinggal di asrama ini saya tidak mengenal siapapun, apalagi dengan masyarakat sekitar PJTKI. Tapi lama kelamaan berada disini dan sering bertemu, membuat saya bisa saling kenal dengan mereka, dan bahkan ada beberapa warga yang sudah akrab dengan saya.”
Hal senada juga diungkapkan oleh Siti (calon TKI) sebagai berikut :
70
“Pertama kita saling menyapa satu sama lain, kemudian perkenalan sehingga terjadi hubungan yang harmonis dan kitapun menjadi akrab”
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat dilihat bahwa dalam memulai suatu interaksi sosial itu perlu adanya kontak sosial yaitu saling mengenal antara orang yang satu dengan yang lain. Hal ini dilakukan untuk dapat menjalin suatu hubungan yang baik, erat diantara kedua kelompok masyarakat tersebut. Dengan saling mengenal satu sama lain bisa lebih memudahkan dalam menjalin hubungan yang baik dan erat, sehingga dapat dirasakan manfaatnya dari adanya sikap saling mengenal. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Susi (calon TKI) sebagai berikut :
“Manfaatnya banyak banget mas, seperti kita merasa mempunyai teman baru di lingkungan ini, dengan sapaan dari masyarakat sekitar kita merasa seperti diperhatikan, dan kita bisa lebih mengerti mengenai budaya mereka. Dan jika hubungan kita dengan masyarakat sekitarsudah terjalin dengan baik, maka kita tidak segan-segan jika memerlukan bantuan mereka bila membutuhkan.”
Dengan semakin banyaknya suatu pertemuan antara masyarakat sekitar dengan para calon TKI dapat terjalin suatu keakraban atau pertemanan yang terjadi diantara kedua kelompok masyarakat tersebut. Yang mana pada akhirnya akan menyebabkan kedua kelompok masyarakat tersebut menganggap sebagai bagian dari keluarganya. Hal ini seperti yang diungkapakn oleh Ema (calon TKI) sebagai berikut :
71
“Dengan saling mengenal kita bisa memperoleh saudara, teman dan atau keluarga yang baru. Jadi kalau ada apa- apa bisa saling membantu jika diperlukan.”
Dengan adanya hubungan diatas, maka memungkinkan terjadinya interaksi sosial antara masyarakat sekitar dengan para calon TKI dan tanpa didasari oleh rasa sungkan dalm hal bantu membantu atau meminta bantuan kepada mereka.
2). Komunikasi
Proses komunikasi merupakan awal terjadinya interaksi sosial, dimana terdapat suatu perasaan simpati untuk memahami pihak lain dan melakukan kerjasama dengan pihak tersebut. Dan selanjutnya dapat memudahkan untuk saling bertukar pikiran, pandangan bahkan bisa terjalin suatu kerjasama. Arti penting dari berkomunikasi adalah bahwa seseorang dapat memberikan tafsiran pada perilaku orang lain, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Dengan berkomunikasi menggunakan bahasa-bahasa yang mereka gunakan tersebut biasanya bahasa yang ringan, mudah diapahami satu sama lain dan yang harus dilakukan pertama kali adalah harus mengenal karakter orang yang diajak berbicara sehingga dalam berkomunikasi tidak menyinggung perasaan orang yang diajak bicara. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Siti (calon TKI) berikut ini :
“Saya disinikan sebagai warga pendatang di kampung ini, jadi saya harus paham betul bagaimana watak masyarakat setempat yang akan diajak berkomunikasi dan bagaimana commit to user
72
cara berperilaku yang baik sesuai dengan norma-norma yang ada. Sehingga tidak menimbulkan konflik antar warga kampung dan tidak menyinggung perasaan orang yang diajak berbicara tersebut.”
Dari wawancara tersebut dapat diketahui bahwa dalam melakukan suatu komunikasi dengan orang lain, maka harus membutuhkan suatu pemahaman karakter atau watak dari orang yang akan diajak bicara, sehingga dalam melakukan komunikasi tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar. Selain mengetahui karakter atau watak lawan bicaranya harus membutuhkan suatu pembawaan sikap, perilaku yang baik dalam melakukan suatu komunikasi tersebut. Dengan adanya pembawaan sikap dan perilaku yang baik, maka lawan bicara tersebut dapat merespon apa yang dibicarakannya dan dapat membalasnya dengan baik pula. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Paryadi (Security PJTKI) sebagai berikut :
“Pakai bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh para calon TKI yang berada disini, sehingga dapat mengerti dan merespon apa yang dibicarakan. Karena kan para calon TKI yang tinggal di kos ini tidak cuma dari satu daerah saja, tetapi berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah (misal : Kendal, Demak, Pati, Purwodadi, dll).”
Hal senada juga diungkapkan oleh Ibu Lestari (pemilik counter hp) berikut ini :
“Dengan menggunakan bahasa yang baik dan dapat dimengerti oleh para calon TKI yang bersangkutan.”
73
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa dalam melakukan komunikasi dengan sesama warga kampung harus mampu menjaga perasaan orang lain, baik itu anak muda maupun orang yang lebih tua, sehingga tidak menimbulkan salah paham diantara kedua belah pihak. Maka dalam menjalin suatu hubungan atau interaksi antar sesama warga kampung hatus bisa menunjukan komunikasi yang tepat dan memakai bahasa yang mudah dimengerti oleh orang lain sehingga dapat direspon oleh orang lain dan dapat digunakan sebagai sarana untuk menjalin hubungan yang erat diantara kedua kelompok masyarakat tersebut. Adapun manfaat yang diperoleh dari berkomunikasi tersebut, seperti yang diungkapkan Bapak Arifin (Masyarakat Sekitar) sebagai berikut :
“Dengan bahasa yang baik dan sopan. Dengan begitu kan