• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk-Bentuk Sengketa Hak Cipta dan Desain Industri

BAB III BENTUK-BENTUK PERMASALAHAN HAK CIPTA DAN

A. Bentuk-Bentuk Sengketa Hak Cipta dan Desain Industri

Paradigma pemberian hak berbeda dengan paradigma penegakan hak. Unsur perbedaan akan dicari sebanyak-banyaknya di dalam pemberian hak sedangkan unsur persamaan akan dicari sebanyak-banyaknya di dalam penegakan hak. Paradigma pemberian hak tidak serta merta dapat meniadakan tidak adanya pelanggaran hak.

Tidak heran apabila penyidik Polri (Polisi Republik Indonesia) bingung saat menangani pemeriksaan seorang tersangka atas pelanggaran hak cipta dimana si tersangka ternyata memiliki sertipikat Desain Industri yang sama dengan ciptaan yang dipersangkakan terhadapnya. Hal demikian mengakibatkan mandeknya proses penyidikan terhadap pelanggaran hak cipta dengan dalih si tersangka juga memiliki alas hak yang notebenesama dengan hak cipta milik orang lain yang dipersangkakkan terhadap dirinya.

Perlindungan hak cipta diberikan untuk karya seni, sastra, ilmu pengetahuan dan hak-hak terkait. Sedangkan perlindungan desain industri diberikan untuk suatu bentuk (tiga dimensi), konfigurasi (tiga dimensi), komposisi (dua dimensi : garis, warna, garis dan warna), gabungan tiga dimensi dan dua dimensi (bentuk dan konfigurasi; konfigurasi dan komposisi; bentuk dan komposisi; bentuk, konfigurasi dan komposisi).

Perlindungan hak cipta bersifat otomatis saat ekspresi nyata terwujud dan tanpa pendaftaran (deklaratif). Sedangkan perlindungan desain industri diberikan berdasarkan pendaftaran terhadap desain yang baru (konstitutif). Karya cipta merupakan sebuah karya master piece dan tidak diproduksi secara massal sedangkan desain industri diproduksi massal. Syarat desain industri yang mendapatkan perlindungan :

1. Memenuhi persyaratan substansi :

a. Kreasi desain industri yang memberikan kesan estetis (Pasal 1 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000). Kreasi bentuk, konfigurasi, komposisi garis dan warna atau kombinasinya yang memberikan bentuk estetis. Kreasinya bukan semata-mata fungsi atau teknis (pasal 25 ayat 1 perjanjian TRIPs);

b. Kreasi desain industri yang dapat dilihat dengan kasat mata. Lazimnya suatu kreasi desain industri harus dapat dilihat jelas dengan kasat mata (tanpa menggunakan alat bantu), dimana pola dan bentuknya jelas. Jadi kesan indah/estisnya ditentukan melalui penglihatan bukan rasa, penciuman dan suara;

c. Kreasi desain industri yang dapat diterapkan pada produk industri dan kerajinan tangan (Pasal 1 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000. Dapat diproduksi secara massal melalui mesin maupun tangan. Jika diproduksi ulang memberikan hasil yang konsisten.

d. Kreasi desain industri yang baru (Pasal 2 ayat 1 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000) tidak sama dengan pengungkapan yang telah ada sebelum tanggal

penerimaan atau tanggal prioritas (bila dengan hak prioritas) dan telah diumumkan/digunakan dengan baik di Indonesia atau di luar Indonesia (Pasal 2 ayat 2 dan Pasal 2 ayat 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000). Baru dinilai dari sudut kreasi dan/atau produknya. Nilai kemiripan, nilai kreatifitas dan nilai karakter indvidu suatu desain industri tidak diatur dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000. Nilai baru/kebaruan maknanya nilai tidak identik atau berbeda atau tidak sama atau tidak identik dengan “pengungkapan” yang telah ada sebelumnya.

e. Kreasi industri yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum, agama atau kesusilaan (Pasal 4 Undang-undang Nomor 31/2000)

2. Memenuhi persyaratan administrasi/formalitas (Pasal 11, 13, 14, 15, 16, 17 dan 19 (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000).

3. Tidak ditarik kembali permohonannya karena memenuhi persyaratan permohonan (pasal 20 ayat 1) dan pemohon tidak menarik permohonannya. (Pasal 21 Undang-Undang No. 31 Tahun 2000)

Agar permohonan pendaftaran desain industri dapat diberikan (granted) pastikan persyaratan di atas terpenuhi. Untuk mendapatkan nilai baru atau kebaruan cari perbedaan sebanyak-banyaknya terhadap desain yang telah ada sebelumnya.

Pembatalan penegakan hak desain industri dapat dilakukan karena : 1. Permintaan pemegang hak desain industri

Pembatalan pendaftaran desain industri atas kehendak pemegang hak yang ditujukan ke Ditjen HKI harus melampirkan persetujuan tertulis dari penerimaan lisensi. Gugatan pendaftaran desain industri oleh pihak ketiga harus diajukan ke Pengadilan Niaga dalam wilayah hukum tempat tinggal atau domisili Tergugat atau apabila pemegang hak berdomisili di luar wilayah Indonesia gugatan diajukan ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Adapun yang menjadi objek pembatalan pendaftaran berdasarkan gugatan adalah karena:

1. Permohonan desain industri yang diberikan tidak baru (bertentangan dengan Pasal 2). Harus disimak apakkah barang atau produk, bentuk, konfigurasi, komposisi garis dan warna sama atau tidak sama dengan desain pembanding yang relavan;

2. Permohonan desain industri yang diberikan dianggap bertentangan dengan Undang-undang yang berlaku, ketertiban umum, agama dan kesusilaan (Pasal 4). Dalam hal terjadi pelanggaran hak, perlu dipikirkan dan disiapkan strategi yang matang sebelum melakukan upaya hukum (gugatan pembatalan, gugatan ganti rugi dan tuntutan pidana).

Gugatan pembatalan karena desain industri pihak lain terdaftar bukanlah satu-satunya pilihan terbaik bagi kita yang tidak memiliki sertipikat desain industri. Misalnya, perusahaan pulpen A dari Eropa yang sudah terkenal memperoleh perlindungan desain industriuntuk 52 negara sementara di Indonesia permohonan desain industrinya ditolak karena Perusahaan B (lokal) telah terlebih dahulu

memperoleh sertipikat pendaftaran desain industri untuk desain yang sama atau identik dengan desain milik perusahaan A. Apabila diajukan gugatan pembatalan ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dengan dasar desain industri tersebut tidak baru maka kesempatan (chance) untuk dibatalkannya desain tersebut sangat besar. Apabila perusahaan A berhasil membatalkan desain pulpen milik perusahaan B maka desain tersebut menjadi milik umum (pubic domain). Akibat hukumnya, setiap orang termasuk perusahaan A itu sendiri berhak menggunakan desain pulpen tersebut. Perusahaan A tidak akan bisa memperoleh sertipikat desain industri dari Ditjen HKI karena sudah ada pengungkapan sebelumnya (tidak baru) jika hendak mengajukan permohonan pendaftaran desain pulpen tersebut. Apabila sampai terjadi kondisi seperti ini maka perusahaan A akan rugi sendiri. Karena perusahaan A akan kalah bersaing dengan produk impor Cina yang harganya jauh lebih murah untuk desain yang sama di pasaran Indonesia. Solusinya, Alternative Dispute Resolution (negosiasi, mediasi dan konsiliasi) adalah pilihan lebih baik (Pasal 47). Dengan membeli desain milik perusahaan B, pasar (market) untuk Indonesia masih bisa dimonopoli oleh perusahaan A dengan hak mengizinkan (memberi lisensi) dan melarang pihak lain untuk menggunakan desain miliknya.

Apakah pilihan tersebut di atas merupakan solusi terbaik dalam kasus seseorang misalnya perusahaan A memiliki hak cipta atas suatu motif atau karya seni dimana motif atau karya seni tersebut ternyata didaftar oleh perusahaan B secara diam-diam sebagai desain industri miliknya. Secara kebetulan, permohonan desain industri perusahaan B yang sama dengan hak cipta atas motif perusahaan A, terdaftar

di Ditjen HKI. Dalam kasus seerti ini banyak pro dan kontra dikalangan praktisi HKI. Sebagian mengatakan “iya” dan sebagian “’tidak”. Bagi yang pro mereka menyatakan lebih baik mencari makan bersama ikan hiu daripada berebut makanan dengan ikan hiu. Alternative Dispute Resolution (ADR) adalah pilihan lebih baik. Perusahaan A tidak perlu pusing dengan proses litigasi dan lebih mengirit biaya dan waktu. Masing-masing pihak bisa berjalan sendiri karena telah memiliki alas hak. Sebaliknya bagi yang kontra mereka menyatakan keberatan dengan pemilihan ADR sebagai solusi. Menurut mereka, jelas telah terjadi pelanggaran hak cipta walaupun perusahaan B telah memiliki sertipikat desain industri. Hal ini berbeda antara desain industri dan desain industri. Yang jelas ini adalah kasus hak cipta dan desain industri, adanya alas hak tidak berarti tidak adanya pelanggaran.

Apabila hal ini dilaporkan ke polisi untuk diproses pidananya, jangan heran kalau penyidik polisi sendiri sering bingung, ’’dimana unsur pidananya?bukakah masing-masing telah memiliki alas hak?’’ demikian pernyataan seorang penyidik yang memeriksa kasus ini. Lebih jauh lagi, penyidik akan meminta perusahaan A untuk mengajukan gugatan pembatalan desain industri milik perusahaan B tersebut terlebih dahulu. Ada benarnya dan ada tidak benarnya anjuran penyidik tersebut. Apabila perusahaan A berhasil membatalkan desain industri milik perusahaan B karena tidak baru, maka hal ini akan memudahkan pemeriksaan pidana dan pekerjaan penyidik. Namun, upaya perusahaan A akan menjadi sia-sia apabila setelah pembatalan desain industri tersebut ternyata perusahaan B tidak lagi menggunakan desain tersebut. Penyidik akan dengan mudah menyimpulkan tidak ada pelaggaran.

Dalam kasus cross rezim seperti ini, terlalu dini bagi penyidik untuk menyimpulkan demikia. Ada atau tidak adanya pelanggaran baru akan terlihat pada acara pembuktian di pengadilan kelak. Proses pidana tetap harus dijalankan tanpa harus terlebih dahulu menunggu adanya putusan pembatalan desain industri. Biarkan para pihak membuktikan siapa terlebih dahulu memiliki hak di acara pembuktian nanti dan biarkan pengadilan yang memutuskan ada tidaknya pelanggaran hak cipta dalam kasus cross rezim seperti ini.

Hak cipta adalah terminologi hukum yang menggambarkan hak-hak yang diberikan kepada pencipta untuk karya-karya mereka dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Jenis karya yang dilindungi oleh hak cipta adalah buku, program komputer, pamflet, susunan perwajahan karya tulis yang diterbitkan dan semua hasil karya tulis lainnya; ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan lainnya diwujudkan dengan cara diucapkan; alat peradga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan; ciptaan lagu atau musik dengan atau tanpa teks, termasuk karawitan dan rekaman suara; drama, tari (koreografi), pewayangan, pantonim; karya pertunjukan; karya siaran; seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, seni terapan yang berupa seni kerajinan tangan; arsitektur; peta; seni batik; fotografi; sinematografi; terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai dan karya lainnya dari hasil pengalihwujudan.

Pencipta karya asli dan ahli warisnya dilindungi oleh hak cipta dan mereka memiliki hak-hak dasar tertentu. Hak tersebut adalah hak untuk mengumumkan atau

memperbanyak ciptaannya; memberi izin pihak lain untuk menggunakan haknya dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku.

Pencipta suatu karya dapat melarang atau tidak mengizinkan orang lain untuk melakukan, memperdengarkan/memperlihatkan kepada publik seperti cerita panggung atau karya musik;

a. Peniruan dalam berbagai bentuk, seperti publikasi cetak atau rekaman suara; b. Perekaman, misalnya dalam bentuk CD, kaset atau video;

c. Penyiaran melalui radio, kabel dan satelit;

d. Penerjemahan ke dalam bahasa lain atau mengadaptasi, misalnya novel dibuat menjadi film layar lebar.

Banyak karya yang dilindungi oleh hak cipta memerlukan distribusi, komunikasi dan investasi keuangan untuk penyebarluasannya (misalnya: publikasi rekaman suara atau film). Lebih jauh lagi, pencipta sering menjual hak atas karya mereka kepada individu atau perusahaan yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam pemasaran sehingga dapat memberikan pemasukan yang besar.Pembayaran biasanya tergantung pada penggunaan aktual atas karya tersebut, yang kemudian disebut sebagai royalty.

Hak-hak ekonomis ini memiliki batas waktu yaitu secara umum sampai dengan 50 tahun setelah pencipta meninggal dunia dengan beberapa pengecualian pada beberapa bentuk karya cipta.Batas waktu tersebut memberikan kesempatan kepada pencipta dan ahli waris untuk mengambil keuntungan finansial dalam jangka

waktu yang rasional.Hak cipta juga melindungi hak moral, yaitu hak untuk menuntut kepemilikan suatu karya dan hak untuk tidak menyetujui perubahan yang dapat membahayakan reputasi penciptanya.

Pencipta dapat menuntut hak-haknya secara administratif di pengadilan dengan pemeriksaan bukti-bukti untuk pembuktian proses pembuatan atau kepemilikan yang tidak sah (pembajakan) atas produk yang merupakan karya yang dilindungi. Pemilik juga dapat memohon pengadilan untuk menghentikan kegiatan-kegiatan yang dilihat dapat mengakibatkan kerugian secara finansial dan menghambat penyebarluasan karya tersebut.

Lingkup hak yang terkait dengan hak cipta berkembang sangat pesat dalam 50 tahun terakhir. Hak-hak ini tumbuh disekitar karya-karya yang memiliki hak cipta dan menyediakan meskipun seringkali lebih terbatas dan dengan jangka waktu yang lebih singkat, hak-hak untuk :

a. Artis pertunjukan (seperti aktor dan musisi) pada pertunjukan mereka; b. Produser rekaman (seperti kaset dan CD) pada rekaman mereka; c. Organisasi penyiaran pada program-program radio dan televisi;

Hak cipta dan hak-hak lain yang terkait penting untuk meningkatkan kreativitas manusia, yaitu dengan memberikan pencipta insentif dalam bentuk apresiasi dan keuntungan finansial yang sesuai.Di dalam sistem hak cipta, pencipta diberi jaminan bahwa karya mereka dapat disebarluaskan tanpa takut ditiru secara ilegal atau dibajak.Hal ini pada gilirannya dapat membantu meningkatkan akses serta pengenalan budaya, pengetahuan dan hiburan dari seluruh dunia.

Bidang hak cipta dan hak-hak lain yang terkait sudah berkembang secara luas pada beberapa dekade terakhir dengan kemajuan teknologi yang menghasilkan cara baru untuk penyebarluasan karya cipta yaitu dengan berbagai bentuk komunikasi di dunia seperti penyiaran dengan satelit dan CD. Penyebaran karya melalui internet merupakan perkembangan terakhir yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang hak cipta.World Intellectual Property Organization sudah terlibat secara intensif dalam diskusi internasional yang sedang berlangsung untuk pembentukan standar perlindungan hak cipta dalam dunia maya.

Hak cipta sendiri tidak terikat pada prosedur resmi, begitu suatu karya asli diciptakan maka karya tersebut sudah dilindungi oleh hak cipta.Dengan demikiam, pendirian collective management organizations menjadi sangat penting dan menjadi prioritas di berbagai Negara.Organisasi ini dapat memberikan keuntungan bagi para anggotanya dengan menyediakan tenaga ahli dalam bidang administrasi dan hukum yang bertugas mengumpulkan, mengatur dan menyebarkan royalty yang merupakan hak anggotanya yang didapat dari penggunaan karya anggotanya di dunia internasional.

Desain industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungannya, berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi dan memberikan nilai estetika serta dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi, dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang atau komoditi industri atau kerajinan tangan.

Desain industri diaplikasikan pada berbagai bentuk produk industri dan kerajinan; dari instrument teknikal dan medical sampai jam tangan, perhiasan dan barang mewah lainnya; dari perlengkapan rumah tangga dan peralatan elektrikal sampai kenderaan dan struktur arsitektural; dari desain tekstil sampai barang-barang

hobby (kesenangan).Untuk dapat dilindungi dengan undang-undang, suatu desain

industri harus baru dan dapat dilihat oleh mata.Hal ini berarti desain industri cenderung merupakan nilai estetis menyeluruh, sehingga setiap karakteristik teknikal yang menerapkan sistem tidak ikut terlindungi.

Desain industri adalah sesuatu yang menjadikan suatu produk menjadi tampak lebih bagus dan menarik, lebih jauh lagi dapat meningkatkan nilai komersial suatu produk untuk diterima pasar.Bila suatu desain industri dilindungi, maka pemiliknya seseorang atau entitas yang sudah mendaftarkan desain tersebut diberikan suatu hak eksklusif untuk menerapkan desain industrinya, melarang pihak lain membuat, memakai, menjual atau mengimpor desain tersebut tanpa persetujuannya.

Hal ini dapat membantu pencipta untuk mendapatkan keuntungan optimal, sesuai dengan investasinya.Sistem perlindungan yang efektif juga menguntungkan konsumen dan masyarakat, yaitu dapat meningkatkan persaingan yang adil dan praktek perdagangan yang jujur, meningkatkan kreativitas yang pada akhirnya dapat memperbanyak jumlah produk yang menarik secara estetis.

Melindungi desain industri akan dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, karena kreativitas di sektor industri dan manufaktur, juga sektor seni tradisional dan kerajinan tangan ikut terdorong dengan sistem perlindungan ini.

Sektor-sektor tersebut ikut berkontribusi dalam pengembangan kegiatan komersial dan ekspor produk nasional.

Desain industri relatif lebih mudah dan murah untuk dikembangkan dan dilindungi.Desain industri lebih mudah diakses oleh usaha kecil dan menengah, seniman dan pengrajin, baik di Negara industri maupun Negara berkembang. Hak desain industri dapat beralih atau dialihkan dengan cara pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis atau sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.

Prosedur pengajuan permohonan desain industri dapat dilakukan sebagai berikut; pertama, permohonan untuk perlindungan desain industri harus diterima oleh kantor Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Permohonan harus mencantumkan contoh fisik atau gambar atau foto atau uraian desain industri yang akan didaftarkan. Desain industri tidak boleh melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum dan kesusilaan.

Hampir disetiap negara, suatu desain industri harus didaftarkan agar dapat dilindungi oleh undang-undang desain industri.Peraturan umum agar dapat didaftarkan adalah desain harus baru dan asli.Biasanya kata baru diartikan sebagai tidak ada desain yang identik atau mirip yang pernah ada sebelumnya.

Begitu desain sudah didaftarkan, sertifikat pendaftaran akan dikeluarkan olek Kantor Direktoral Jenderal Hak Kekayaan Intelektual dengan jangka waktu perlindungan 10 (sepuluh) tahun. Suatu desain industri dapat juga dilindungi sebagai suatu pengerjaan seni yang dilindungi oleh undang-undang hak cipta. Di Indonesia

dan beberapa Negara, perlindungan desain industri dan hak cipta dapat muncul bersamaan. Di Negara-negara lain, ada yang menerapkan secara mutual eksklusif bila pemilik desain sudah memilih satu jenis perlindungan maka dia tidak dapat lagi menggunakan perlindungan yang lain.

Selain itu, permohonan desain industri juga harus mencantumkan surat pernyataan bahwa desain yang akan didaftarkan adalah miliknya, juga surat kuasa apabila permohonan perlindungan desain industri diajukan melalui kuasa serta membayar seluruh biaya.

Permohonan desain industri dapat juga dilakukan dengan hak prioritas, yaitu hak pemohon yang berasal dari negara-negara anggota konvensi paris tersebut. Persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia untuk mengajukan permohonan ke negara-negara yang tergabung dalam kedua persetujuan. Permohonan di negara yang dituju memiliki tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan yang diajukan di negara asal selama kurun waktu yang telah ditentukan berdasarkan konvensi paris. Permohonan dengan hak prioritas ini harus diajukan dalam waktu selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sejak tanggal penerimaan permohonan di negara asal.

Perlindungan hukum terhadap hak kekayaan pribadi telah menjadi faktor kunci dalam pertumbuhan kapitalisme dan ekonomi pasar bebas. Sejarah merekam dari masyarakat kuno menunjukkan bahwa orang-orang mengakui hak untuk menguasai tanah dan barang dan dihormati oleh pemerintah untuk melindungi kepentingan mereka dalam kekayaan.

Seiring dengan perubahan teknologi,konsepsi ini mengalami pergeseran. Sistem hukum meletakkan kekayaan dalam tiga kategori, yaitu pertama, sebagian besar masyarakat mengakui hak kepemilikan pribadi dalam kekayaan pribadi, yang dikenal dengan intangible things; kedua, kekayaan dalam pengertian riil, seperti tanah dan bangunan; ketiga, kekayaan yang diketahui sebagai kekayaan inttelektual. Konsep inilah yang dicoba sebagai dasar pemikiran dalam pemikiran hak kekayaan intelektual. Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa kekayaan intelektual membutuhkan olah pikir dan kreatifitas si pencipta, penemu atau sang kreator. Oleh karena itu pengambilan dengan tidak memberikan kompensasi bagi pemiliknya adalah suatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan karena melanggar ajaran moral yang baik. Landasan moral ini pula yang dikenal dalam teori filsafat sebagai teori hukum alam. Dalam ajaran moral dikenal doktrin jangan mencuri atau jangan mengambil apa yang bukan hakmu.

Pendekatan landasan moral atas tuntutan untuk melindungi hak kekayaan intelektual ini menekankan pada kejujuran dan keadilan. Dilihat sebagai perbuatan yang tidak jujur dan tidak adil jika mencuri usaha seseorang tanpa mendapatkan terlebih dahulu persetujuaannya.

Oleh karena kepemilikan atas hak kekayaan intelektual termasuk dalam hak asasi manusia sebagai individu yang berolah pikir, maka secara alamiah nilai komunalisme harus diabaikan untuk mengakui dan memberikan penghargaan kepada individu tersebut. Berdasarkan ketentuan Pasal 27 ayat 2 Universal Declaration of

moral and material intersts resulting from any scienttific, literary or artistic production of which he (sic) is the author.”

Doktrin moral diadopsi oleh rezim HKI untuk memberikan perlindungan terhadap individu pemilik HKI agar hak-haknya tidak dilanggar oleh orang lain. Namun sesungguhnya doktrin hukum alam di atas bersifat lebih luas daripada sekedar melindungi individu pemilik HKI, karena doktrin itu dapat pula diterapkan untuk melindungi pihak-pihak lain, termasuk masyarakat lokal atau tradisional atas pegetahuan tradisionalnya.

Lebih jauh dasar filosofis rezim HKI adalah alasan ekonomi, bahwa individu telah mengorbankan tenaga, waktu, pikirannya bahkan biaya demi sebuah karya atau penemuan yang berguna bagi kehidupan. Rasionalitas untuk melindungi modal investasi tersebut mesti dibarengi dengan pemberian hak eksklusif terhadap individu yang bersangkutan agar dapat secara eksklusif menikmati hasil olah pikirnya itu.

Ajaran Aristoteles juga telah menggambarkan argumentasi di atas dalam upaya menciptakan keadilan. Salah satu keadilan yang dikenal dalam teorinya adalah keadilan distributif. Keadilan distributif adalah keadilan yang memberikan kepada tiap-tiap orang bagian yang sesuai dengan jasanya. Artinya bukan keadilan yang didasari kesamaan jumlah tetapi kesebandingan.

Rezim HKI mengadopsi dan mengembangkan pula TeoriUtilitarian Jeremy Bentham. Teori ini menjelaskan bahwa hukum dibentuk agar memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi sebagian besar warga masyarakat.Pembentukan perundang-undangan dibidang HKI merupakan bentuk perlindungan agar masyarakat

memperoleh kemanfaatan itu. Inilah yang dalam konteks pembangunan ekonomi terutama di bidang HKI menjadi reward theory, yang mendalilkan bahwa apabila individu-individu yang kreatif diberi insentif berupa hak eksklusif, maka hal ini akan merangsang individu-individu lain untuk berkreasi. Dengan kata lain, rezim HKI merupakan sebuah bentuk kompensasi dan dorongan bagi orang untuk mencipta. Hal

Dokumen terkait