Tujuan : Memfasilitasi penetapan tujuan program stakeholders untuk membangkitkan
inisiatif dalam promosi klaster.
1. Undang stakeholders untuk rapat awal guna mendiskusikan pembentukan kemitraan stakeholders dari klaster.
Pada aktvitas ini, semua stakeholders pengembangan ekonomi lokal dipertemukan untuk membahas rencana pembentukan keompok kemitraan untuk pengembangan ekonomi lokal dengan pendekatan klaster.
“Untuk sementara, Wonogiri berperan membina perajin dan eksportir dari Pacitan dan Wonosari. Bahkan ada program magang bagi perajin dari Pacitan dan Wonosari. Kedua daerah itu mengirimkan perajin masing-masing lima orang untuk magang di sini,” kata Jumadiarto.
Sementara bagi Wonogiri, bahan baku kayu jati yang berlimpah di Pacitan dan Wonosari bisa digunakan di Wonogiri. Bahkan untuk ke depan, kata Jumadiarto, kerja sama itu diharapkan bisa menghasilkan semacam trading house atau showroom bersama untuk produk mebel dari ketiga wilayah. Di samping itu Wonogiri nantinya akan dikembangkan menjadi pusat pemasaran hasil mebel dari ketiga daerah tersebut. Selain berhasil menggandeng dua kabupaten di sekitarnya dalam usaha pengembang-an mebel, apa mpengembang-anfaat Forum UKM bagi pengrajin dpengembang-an eksportir di Wonogiri sendiri? Mochtari mengatakan, manfaat nyata sudah terlihat yakni dengan makin berkem-bangnya jumlah pengrajin dan eksportir. Kondisi itu meningkatkan pula kapasitas produksi yang dihasilkan. Menurutnya, kini setidaknya setiap bulan ada 15 kontainer mebel dari Wonogiri menuju pasar ekspor ke Denmark, Australia, Singapura, Spanyol dan Amerika. Nilainya mencapai US $ 80.000.
“Jumlah ini jauh lebih banyak ketika saya masih sendirian dan forum tersebut belum terbentuk,”katanya. (yud-Wonogiri)
Pertemuan Membentuk Pokja Kemitraan
2. Informasikan kepada mereka usulan untuk mempromosikan pengembangan ekonomi lokal dan jelaskan konsep pendekatan klaster.
Pada aktivitas ini, fasilitator PELP menjelaskan usulan kegitan dan berbagai cerita menarik tentang pengembangan ekonomi lokal yang berbasis klaster. Dengan demikian diharapkan stakeholders memahami kegiatan PELP dan memberikan dukungan dalam pengembangannya nanti.
3. Jelaskan konsep dan fungsi dari kemitraan stakeholders, peran dan tanggungjawabnya. Fasilitator PELP pada saat pembentukan kemitraan stakeholders juga menjelaskan konsep, peran dan fungsi dari kemitraan stakeholders. Dimana melalui kemitran ini diharapkan akan terjadi sinergi program dan kegiatan pengembangan ekonomi lokal antara pemerintah dengan dunia usaha.
4. Jelaskan tugas dari komite eksekutif, ketua dan sekretaris.
Selain itu, fasilitator PELP juga sebaiknya menjelaskan masing-masing tugas dari Komite Eksekutif, Ketua dan Sekretaris Pokja kemitraan, hal ini tidak lain untuk memperjelas deskripsi tugas dari masing-masing bagian Pokja.
5. Ajak partisipan membentuk kemitraan stakeholders untuk klaster dan komite eksekutif yang beranggotakan 10-12 orang.
Setelah memberikan penjelasan yang diperlukan, maka tahap selanjutnya adalah menawarkan kepada para peserta pertemuan yang hadir untuk membentuk kemitraan pelaku ekonomi lokal.
P e n g e m b a n g a n E k o n o m i L o k a l P a r t i s i p a t i f
125
6. Ajak mereka memilih ketua, sekretaris, dan pemegang peran lainnya yang dianggap perlu. Setelah disetujui untuk membentuk kelompok kemitraan, maka tahapan selanjutnya adalah menentukan bagian-bagian dari kemitraan stakeholders yang dibentuk. Dimana masing-masing bagian yang dibentuk akan sangat tergantung terhadap kondisi dan permasalahan yang ada pada masing-masing klaster.
Cerita Menarik
KOPI SINGGALANG TURUN GUNUNG
Forum Konsultasi Publik berkembang menjadi ajang kerja sama antara petani kopi dengan perusahaan pembeli biji kopi. Petani juga diuntungkan karena lahan yang selama ini tidur, kini ditanami kopi lagi.
NAGARI Singgalang, sesuai namanya, berada di kaki Gunung Singgalang, terletak pada ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Sebagai daerah berhawa dingin, tak mengherankan jika warga di lereng gunung itu dari yang tua, dewasa sampai ke yang kecil, suka mengonsumsi kopi.
Karena itu, lahan di kawasan yang termasuk Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar ini, ditanami pohon kopi. Beberapa hektare lahan ditanami kopi jenis arabika. Kopi ini termasuk yang “laris manis” di pasar perkopian nasional maupun inter-nasional.
Meski termasuk produsen kopi utama di Sumatera Barat, namun bukan berarti para petani kopi di wilayah itu makmur. Permasalahannya klasik, yaitu harga jual kopi dari petani ke tengkulak, sangat rendah. Saat ini para petani menjual kopi dengan harga Rp 3000/kg. Harga itu menjadi ironis, makakala kita tahu harga biji kopi di pasar sekunder mencapai Rp 10.000/kg.
Sulitnya mengakses pasar juga disebabkan karena tanaman tua yang tumbuh di kaki Gunung Singgalang ini belum “turun gunung” alias kurang terekspos keluar daerah. Akibatnya kopi “made in singgalang” ini hanya terbatas dikonsumsi penduduk lokal saja.
Adalah Kader Perencanaan Bersama Masyarakat (PBM) di Kecamatan X Koto, bersama Mitra Lokal PDPP Kabupaten Tanah Datar, mengajak stakeholders lain untuk hadir pada forum konsultasi publik, untuk isu pengembangan usaha pertanian. Sesuai dengan potensi Nagari Singgalang, stakeholders di tingkat masyarakat yang diundang di antaranya adalah petani kopi. Isu dimaksud dikonsultasikan kepada publik dalam rangka merampungkan Dokumen PDPP yang disusun oleh Tim Teknis Kabupaten Tanah Datar, terutama yang berkaitan dengan rencana jangka menengah dan investasi di Kabupaten Tanah Datar.
Para petani sebagai pelaku usaha di tingkat masyarakat, mengaku kesulitan mengakses pasar. Karena kurang mendapat respons pasar, akhirnya mereka tega membiarkan lahan “tidur” sekitar 200 hektare. “Kami sudah tidak mampu untuk menggarapnya, karena harga jual tidak bisa menutup biaya produksi,” ungkap seorang petani.
Secara kebetulan, di antara sejumlah pelaku bisnis yang diundang, hadir PT. PASCA perusahaan anak nagari yang bergerak di bidang pengelolaan perkebunan kopi. Perusahaan yang berdomisili Nagari Sikaladi, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, ini kebetulan berada di kaki Gunung Merapi Secara kebetulan, PT. PASCA memerlukan tambahan suplai kopi karena kewalahan memenuhi permintaan pasar Ini namanya “pucuk dicinta ulam tiba”. Kerja sama akhirnya disepakati. Dan eloknya, kerja sama itu tidak terbatas pada pemasaran kopi, tetapi perusahaan lokal ini juga mengajak petani bekerjasama memanfaatkan lahan tidur untuk ditanami bibit kopi. “Masyarakat tidak perlu repot-repot mencari bibit karena perusahaan kami punya bibitnya yang saat ini ada sekitar 300 ribu bibit kopi siap tanam, “tutur Ismet, wakil PT. PASCA yang hadir kala itu. Perusahaan ini juga bersedia memberikan pelatihan teknis untuk beberapa petani yang belum terbiasa bertanam kopi.
Yang diperlukan sekarang adalah fasilitasi yang lebih intensif kepada masyarakat, agar kesepakatan kerja sama tidak hanya di atas kertas, tetapi terealisasi dengan prinsip saling menguntungkan. (Wafdi Fernando, Tanah Datar)
P e n g e m b a n g a n E k o n o m i L o k a l P a r t i s i p a t i f