• Tidak ada hasil yang ditemukan

Soeginen Puas PAWONSARI

Dalam dokumen Buku_PELP (Halaman 112-116)

Anda termasuk pecinta seni seperti benda ukir-ukiran termasuk meubel antik dari kayu jati atau anda termasuk kolektor benda antik ? Jika jawaban anda, mengiyakan, tak salah kalau anda melirik meubel cantik dari Kabupaten Pacitan, sebuah kabupaten perbatasan Jatim dan Jateng. Jika anda langsung tertarik dan segera mengunjungi Pacitan yang masih perawan meubel kayu jatinya, tunggu dulu!!! Anda pasti juga disuguhi indahnya pemandangan alam daerah tingkat II tersebut. Di kanan-kiri jalanan Kabupaten Pacitan dipenuhi dengan pepohonan jati, sesekali melewati lereng-lereng bebatuan yang indah sementara diujung sana, hamparan bukit dan sungai mengalir jernih berkelok-kelok sepanjang jalan.

Masih perawannya meubel Pacitan ini, karena selama ini meubel-meubel ini nyaris tanpa sentuhan model dan gaya modern nan artistik. Pasalnya, meubel-meubel asal kabupaten tersebut dikerjakan dengan skill rendah dan nilai artistik sederhana, akibat kualitas SDM yang rendah. Sudah pasti harganya melorot, belum lagi masalah sulitnya mencari bahan baku kayu jati. Suatu keprihatinan tersendiri, sebab Pacitan yang dikenal cukup banyak tanaman Jati ternyata pengrajinnya kerepotan mendapatkan bahan bakunya. Permasalahan kian kompleks, tatkala pengusaha kayu jati lebih memilih menjual kayu jatinya ke Jepara dibandingkan ke pengrajin Pacitan yang memberi harga murah terhadap bahan baku meubel tersebut.

“Tak hanya itu masalah yang kami rasakan, kalaulah kami mendapatkan bahan baku kayu jati maka masalah lain muncul. Kami ini selalu kesulitan mengangkut kayu jati meskipun masih dalam lokasi Pacitan sendiri. Masalah ini muncul karena ada birokrasi pengangkutan kayu rumit ditambah Polisi di jalanan cenderung meminta bayar denda mahal,” tukas Winarto, 47, pengrajin meubel kayu jati ini.

Ayah tiga anak ini menuturkan betapa sulitnya mendapatkan bahan kayu jati, akibatnya kerap menolak order meubel dalam jumlah lebih. Omsetnya pun berkembangnya merangkak bahkan terkesan stagnan, dengan omset sebulannya berkisar Rp 5 hingga 10 juta saja, sejak tahun 1999 hingga saat ini. Proses penawaran meubel hanya dilakukan dari mulut ke mulut, sedangkan desain meubel cukup kreasi pengrajin sendiri selain permintaan konsumen sendiri. Hal senada juga dilontarkan Heri, laki-laki berusia 43

P e n g e m b a n g a n E k o n o m i L o k a l P a r t i s i p a t i f

115

tahun yang sudah malang melintang di dunia meubel ini pun mengaku berkali-kali jatuh bangun akibat penjualan meubel yang melorot ditambah kerapnya denda polisi jalan mencapai nilai cukup besar saat proses pengangkutan kayu jati. “Sama sekali tidak ada untung, kalau sudah kena denda. Jadi lebih baik dibakar sendiri kayu jati yang memang milik saya sendiri itu, sama-sama tidak makannya baik saya dan polisinya,” katanya dengan nada geram.

Susahnya meubel Pacitan menembus pasar hingga keluar daerah Pacitan ini juga diakui Kepala Seksi Bina Sarana Pacitan, Juwari, susahnya mendapatkan bahan kayu jati serta birokrasi pengangkutan yang rumit. “Mayoritas pengrajin di sini belum mempunyai surat ijin formal maupun non formal, akibatnya pengrajin kerap mendapatkan kesulitan pengakutan kayu jati selain memang susah mendapatkan kayu jatinya,” tegasnya. Tambahnya, satu-satunya koperasi meubel kayu jati yang ada pun ternyata kondisinya ibarat hidup segan mati tak mau. Hal ini terjadi karena konsistensi organisasi anggota koperasi sangat rendah. Sulitnya

MOU Pawonsari

Kondisi karakteristik daerah Pacitan dengan dua daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat kesamaan budaya maupun sosial ekonominya, yaitu Wonogiri dan Wonosari. Adanya kesamaan karakteristik daerah tersebut tiga daerah itu lebih dikenal dengan Pawonsari. Kerjasamapun ditingkatkan seiring dengan pemberlakuan UU No. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah. “Tiga Bupati Pawonsari sepakat bekerjasama dalam bentuk MOU tahun 2002, sebagai payung pelaksanaan kegiatan yang disepakati bersama,” jelas Kasubid Analisa Data Evaluasi dan Kerjasama Pembangunan Bappeda Pacitan, Djoko Rusmono. MOU yang telah disepakati tersebut kerjasama aspek sumberdaya manusia/alam, sarana dan prasarana serta aspek pelayanan masyarakat. “Sayangnya sampai saat ini MOU itu belum ada tindak lanjut, baru ditindaklanjuti adalah aspek sumberdaya manusia/alam. Namun itupun belum nampak hasilnya,” imbuhnya.

Bentuk kerjasama aspek sumberdaya manusia itu antara lain, kegiatan magang meubel ke pengrajin Wonogiri yaitu di CV Permata Wonogiri, oleh pengrajin Pacitan. Terobosan permasalahan meubel Pacitan dengan cara magang ini merupakan salah satu upaya tim PDPP untuk memecahkan industri meubel Pacitan. Tujuan dari kegiatan yang digagas 5 April 2003 lalu bersama tim PDPP antara lain adanya alih pengetahuan strategis ekspor

meubel, peningkatan ketrampilan pengrajin meubel untuk standart ekspor bagi pengrajin meubel Pacitan. Terobosan ini diharapkan sebagai pintu pembuka kerjasama Pacitan Wonogiri, sekaligus diharapkan akan membangkitkan semangat pengrajin meubel Pacitan yang makin hari kian tenggelam.

Soeginen adalah salah satu pihak yang merasakan keuntungan dari PELP PDPP dan adanya MOU PAWONSARI. Laki-laki ini menekuni dunia meubel ini sejak tahun 1988, manakala awalnya dari hobi yang terus ia kembangkan dan kini menjadi salah satu sumber mata pencahariannya. Jatuh bangun dalam usahanya ini tidak membuatnya surut untuk berkarya, sebaliknya kian melecut dirinya untuk terus mencari jalan keluar keadaan tersebut. “Selama ini saya mengembangkan meubel ini lebih menekankan permintaan orang lokal saja, belum ada yang sampai permintaan luar negeri. Kalau toh dikirim keluar daerah, itu semata-mata karena ada orang daerah lain yang mengetahui produk dari sini,” imbuh bapak tiga anak ini.

Namun setidaknya ada perubahan dalam pemasaran produk meubelnya ketika masuknya Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Pacitan. Seperti diketahui PDPP tidak hanya dikembangkan di Jawa Timur saja melainkan di sejumlah propinsi seperti Jawa Tengah. Adanya sejumlah kesamaan antara daerah perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur, akhirnya tiga Bupati dari tiga daerah yang lokasinya berdekatan sepekat untuk melakukan kerjasama kaitannya untuk meningkatkan ekonomi sejumlah produk yang kondisinya cenderung sama.

Bentuk kerjasama yang lebih dikenal dengan klaster ini, saat ini lebih menekankan aspek sumberdaya manusia itu tiga daerah tersebut, yaitu kegiatan magang meubel ke pengrajin Wonogiri yaitu di CV Permata Wonogiri, oleh pengrajin Pacitan, diantaranya Soeginen. Terobosan ini diharapkan sebagai pintu pembuka kerjasama Pacitan Wonogiri, sekaligus diharapkan mampu menggairahkan semangat pengrajin meubel Pacitan yang makin hari kian tenggelam.

Soeginen pun belajar dan menimbah ilmu melalui studi banding ke meubel CV. Permata 7 milik Bapak Mochtari di Wonogiri, sebagai usaha meubel yang telah berkembang pesat dan mampu memasarkan produknya hingga ekspor ke manca negara. Magang proses pembuatan meubel di CV Permata 7 untuk mengetahui proses produksi meubel standar ekspor selama kurang lebih seminggu.

P e n g e m b a n g a n E k o n o m i L o k a l P a r t i s i p a t i f

117

Selanjutnya berdasarkan hasil studi banding dan magang menunjukkan bahwa efisiensi yang dicapai oleh proses pembuatan meubel di Pacitan lebih rendah daripada di Wonogiri dikarenakan keterbatasan peralatan yang ada. Dengan demikian, maka para pengrajin meubel merasa membutuhkan bantuan permodalan untuk pengadaan peralatan dalam proses pembuatan meubel.

Melalui Program Dasar Pembangunan Partisipatif, kesulitan tersebut diselesaikan juga dengan menggelar lokakarya prosedur bantuan permodalan oleh Lembaga Keuangan/ Bank yang ada di Pacitan. Pasalnya selama ini permodalan menjadi salah satu kendala tersendiri terhadap pengembangan meubel Pacitan. “ Saat banyak permintaan kadang-kadang tidak terlayani karena dananya tidak ada, sebab membeli bahan kayu juga berbelit dan tidak jarang perlu dana besar,” jelas Soeginen.

Kinerja klaster meubel ini membaik seiring dengan mulai adanya pesanan meubel dari CV Permata 7, tetapi perkembangan dari klaster ini masih cukup sulit karena belum adanya peralatan yang memadai untuk mengerjakan meubel. Hal ini akan berakibat pada pengerjaan yang makin mahal, tidak saja dari segi bahan, tetapi lebih dari itu adalah ongkos sumberdaya manusia juga menjadi mahal, maka meubel hasil akhir yang ada secara langsung juga ikut tinggi harganya. Hal ini jelas akan memperlemah daya saing, baik dari segi kualitas barang maupun kuantitas yang tidak tercapai secara maksimal. Sedikit nafas lega itu cukup ia rasakan kendati sampai saat ini usai mengikuti magang klaster meubel di Wonogiri itu, pihaknya menjadi pengirim tetap ke CV Permata 7 milik Mochtari di Wonogiri. “Memang saat ini saya rutin setiap bulan mengirimkan produk meubel ke Wonogiri guna kebutuhan ekspor ke manca negara, “ imbuhnya. Sebagai pengirim rutin ke Wonogiri, secara otomatis harga yang ia dapatkan tidak dapat utuh manakala pihaknya langsung dapat ekspor ke manca negara tersebut.

Kendati begitu rutinitas pengiriman ke Wonogiri untuk kebutuhan ekspor tersebut, setidaknya telah meningkatkan kualitas hasil produknya yang mulai diakui manca negara. Hanya dengan berharap bahwa suatu saat dirinya akan mampu menembus pasar eropa secara sendiri tanpa melalui perantara. “Kalau saya menjual lokal keuntungannya lebih besar dibandingkan lewat pengiriman ke Wonogiri, namun rutinitas pengiriman itu yang cukup menarik daripada hanya mengandalkan orang lokal membeli di sini. Tapi saya tetap melayani orang lokal yang ingin membeli tersebut,” paparnya.

Untuk keperluan tersebut secara otomatis pihaknya melengkapi dengan sejumlah peralatan yang lebih modern menyerupai kepemilikan pengrajin meubel Wonogiri. “Seperti alat ini, namanya prupil maupun alat-alat penghalus lainnya seperti itu,” katanya sambil menunjuk sejumlah perkakas meubel yang dibelinya seperti yang digunakan di Wonogiri.

Perkakas Soeginen saat ini memang berbeda dengan peralatan meubel yang dimiliki pengrajin meubel Pacitan lainnya. Seperti yang dituturkan salah satu karyawannya, bahwa pihaknya belum menemukan perkakas seperti yang digunakan di meubel Soeginen dibandingkan di pengrajin Pacitan. Walhasil, hasilnya lebih halus dan sentuhan modelnya lebih berkualitas sebanding dengan Wonogiri. (Wahyu Tri S.)

Kegiatan 2

Cari “pionir” dari Pemda atau dunia usaha untuk ditunjuk sebagai

Dalam dokumen Buku_PELP (Halaman 112-116)