• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sektor Informal Perkotaan: Marjinalitas atau Kebutuhan ?

Dalam dokumen Buku_PELP (Halaman 48-53)

di Era Otonomi di Era Otonomidi Era Otonomi

3.2. Sektor Informal Perkotaan: Marjinalitas atau Kebutuhan ?

Dilaksanakannya berbagai program pemerintah dalam upaya memajukan daerah pedesaan dengan menggalakkan penggunaan teknologi baru, baik sistem produksi maupun organisasi, lambat laun cenderung menggeser kedudukan teknologi dan pranata sosial tradisional yang selama ini menjadi tonggak kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan. Ada anggapan bahwa program BIMAS (bibit unggul, penyediaan pupuk, kredit pedesaan, perluasan irigasi) terutama menguntungkan petani besar dan petani kaya serta cenderung tidak mengikutsertakan petani kecil dan buruh tani tidak bertanah.

Fenomena pertambahan rumah tangga yang cepat dan perluasan lahan yang lambat mengakibatkan dua bentuk keadaan yang kurang menguntungkan bagi penduduk yang hidup di sektor pertanian, yaitu areal tanah yang diusahakan tiap rumah tangga menjadi makin sempit, dan penghasilan rata-rata rumah tangga disektor pertanian tetap rendah. Simanjuntak (1982) menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 1973-1980, keluarga yang mengolah lahan pertanian bertambah dengan 3,1 juta rumah tangga atau sekitar 21,53%, sedangkan luas tanah yang diusahakan bertambah dengan sangat kecil. Areal panen untuk produksi padi misalnya hanya bertambah dengan 7,32% selama tujuh tahun. Areal panen palawija justru berkurang dari 6,4 juta ha dalam tahun 1973 menjadi hanya 5,7 juta ha pada 1980. Hasil Sensus Pertanian 1983 antara lain menunjukkan bahwa rata-rata luas tanah yang dikuasai petani Jawa menurun dari 0,64 ha tahun 1973 menjadi 0,63 ha tahun 1983 (turun 0,01 ha selama 10 tahun). Persentase petani di Jawa yang mengusahakan lahan sempit dibawah 0,5 ha adalah sebesar 61,44%. Persentase ini jauh dibawah persentase secara nasional, yaitu 46,56%. Lahan produktif menjadi sedikit sekali. Sempitnya lahan pertanian menjadi sebab timbulnya setengah pengangguran. Hal ini dikarenakan anggota rumah tangga petani terpaksa segera bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja seadanya dan jam kerja rendah.

Setengah pengangguran adalah mereka yang bekerja kurang dari 35 jam per Minggu dan penghasilannya rendah. Tabel 1 memuat informasi tentang angkatan kerja yang bekerja me-nurut jam kerja, jenis kelamin diperkotaan dan pedesaan.

Data diatas menunjukkan kepada kita bahwa angkatan kerja yang berkerja kurang dari 35 jam tidak mengalami perubahan yang berarti dipedesaan dalam kurun sepuluh tahun 1980-1990, sedangkan di perkotaan mengalami penurunan yang berarti. Ini menunjukkan bahwa jam kerja pendek sangat lazim di pedesaan, agaknya jenis aktivitas dapat mempengaruhi perbedaan itu. Tidak tertutup kemungkinan mereka yang membantu usaha tani keluarga, terutama perempuan, dicatat sebagai bekerja walaupun jam kerja sangat pendek.

P e n g e m b a n g a n E k o n o m i L o k a l P a r t i s i p a t i f

51

Dilema Informalitas dan Keterpaduan Pengembangan Ekonomi Perkotaan di Era Otonomi

Tabel 1

Angkatan Kerja Yang Bekerja Seminggu Yang Lalu Menurut Jam Kerja, Jenis Kelamin di Perkotaan dan Pedesaan

Tahun 1980 dan 1990

membuka kesempatan kerja seperti padat karya, pengembangan industri kecil, namun usaha itu belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Bersamaan dengan itu, penduduk desa ada yang berusaha menciptakan kesempatan kerja sendiri dengan jalan menjual jasa ataupun mereka pergi ke kota untuk bekerja sebagai buruh, atau melibatkan diri dalam kegiatan sektor informal dan pekerjaan-pekerjaan yang tidak membutuhkan modal serta ketrampilan di kota. Gejala ini tampak dengan semakin besarnya arus penduduk desa sebagai imigran musiman ke kota-kota besar. Pekerjaan yang mereka lakukan umumnya produktivitasnya rendah dengan jam kerja panjang tetapi upah yang diterima rendah (Effendi, 1993).

Proses perkembangan ekonomi negara maju ditandai oleh suatu transformasi dalam struktur sektoral angkatan kerja1; proporsi angkatan kerja yang bekerja disektor primer dalam masa pembangunan akan mengalami penurunan diikuti dengan kenaikan pada sektor sekunder dan kemudian diikuti menaiknya proporsi tenaga kerja di sektor tersier. Tampak Sumber : BPS, Penduduk Indonesia, 1980 dan 1990.

1980 Pedesaan Perkotaan 33,1 59,1 66,9 40,9 33.358 19.376 16,5 29,0 83,5 71,0 12.83 36.408 Jam Kerja/Jenis Kelamin Kurang 35 jam L P Lebih 36 Jam L P TOTAL N L (000) P (000) 1980 Pedesaan Perkotaan 34,1 57,3 65,9 42,7 27.283 3.661 30,2 32,3 69,8 47,7 34.124 16.399

Nasution (1995) menjelaskan perbedaan antara transformasi struktur perekonomian kita dengan negara-negara kapitalis modern. Transformasi perekonomian nasional Indonesia tidak dibarengi oleh transformasi struktur ketenagakerjaan nasional. Hal ini terjadi karena sektor pertanian dari waktu ke waktu menanggung beban yang cukup berat karena alokasi dan pergeseran tenaga kerja pertanian ke sektor-sektor perekonomian lainnya belum semulus pergeseran struktur perekonomiannya sendiri. Dimana data Sakernas 1994, menunjukkan bahwa pangsa relatif sektor pertanian pada perekonomian nasional sudah menurun sampai dengan 17,4% tetapi tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini masih 46,1%, padahal, pada saat yang sama pangsa pasar relatif industri dalam perekonomian nasional telah meningkat menjadi 23,9%. (Muslimin Nasution, 1995, Koperasi dan Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah, Bahan Kuliah PPS Studi Pembangunan ITB)

Dilema Informalitas dan Keterpaduan

Pengembangan Ekonomi Perkotaan di Era Otonomi

pergeseran proporsi pekerja dari sektor primer ke sektor tersier lebih disebabkan adanya tekanan-tekanan di sektor primer keadaan ini tampaknya mulai dirasakan sekitar tahun 1970-an deng1970-an meluasnya pengguna1970-an teknologi baru d1970-an mek1970-anisasi di bid1970-ang pert1970-ani1970-an. 2

Dilain pihak, sektor sekunder terutama manufaktur walaupun menunjukkan kemajuan tetapi masih belum dapat diandalkan untuk menyerap aliran pekerja yang keluar dari sektor primer. Menurut Manning (1984) industri yang akhir-akhir ini dikembangkan, terutama didaerah perkotaan, kebanyakan bersifat padat modal. Hal ini membawa akibat yang kurang menguntungkan bagi kebanyakan migran desa-kota, yang tingkat pendidikannya (pekerja di pedesaan) rendah. Sedangkan industri padat modal umumnya menggunakan teknologi maju yang menuntut ketrampilan khusus. Sehingga faktor pendidikan dan pelatihan sangat menunjang terhadap penyerapan tenaga kerja pedesaan oleh sektor sekunder dan tersier.

Kebanyakan masyarakat desa saat ini cenderung lebih senang bekerja di sektor formal daripada sektor pertanian. Hal ini antara lain disebabkan karena semakin tingginya tingkat pendidikan formal masyarakat desa, dimana tinggi rendahnya tingkat pendidikan berpengaruh negatif terhadap kegiatan bertani. Artinya, secara umum masyarakat desa dengan tingkat pendidikan formal yang tinggi lebih memilih untuk bekerja di sektor formal perkotaan daripada mengerjakan sawah, dengan harapan, upah yang diterima dari sektor ekonomi mod-ern perkotaan tersebut lebih menjanjikan daripada bertani. Indikasi yang cukup kuat dalam

Soelaiman (1998) menjelaskan introduksi teknologi ke pedesaan menimbulkan perubahan sosial dalam dimensi struktural. Masuknya traktor atau mesin penggiling padi, menyebabkan berkurangnya peranan buruh tani dalam pengelolaan tanah dan peranan wanita dalam ekonomi keluarga di pedesaan. Teknologi yang masuk ke desa tersebut banyak dikuasai oleh golongan ekonomi kelas atas dan menengah di desa. Golongan tersebut dengan sendirinya akan menentukan pasaran kerja di desa. Keadaan yang demikian akan menggeser pemilik kerbau dan sapi yang selama ini digunakan sebagai tenaga pengolah sawah. Perubahan yang terjadi akibat masuknya teknologi, serta meningkatnya jumlah petani bermodal besar dan disertai dengan gulung tikarnya pemilik usaha tani yang ukuran kecil. Masuknya teknologi ini juga diboncengi oleh masuknya birokrasi yang menggeser fungsi lembaga dan pranata sosial yang telah berdiri di pedesaan. Hal ini menjadikan tidak sedikit lembaga yang ada di pedesaan bergeser fungsi dan perannya, seperti LMD dan pesantren (M.Munandar Soelaiman, 1998, Dinamika Masyarakat Transisi, Mencari Alternatif Teori Sosiologi dan Arah Perubahan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta).

PASAR EKSPOR TAMBANG, PERKEBUNAN, KEHUTANAN Tani-gurem, buruh PEDESAAN PERKOTAAN Usaha Kecil Mikro

(TRADISIONAL) Pengrajin Kecil/Micro PKL, dst MANUFAKTUR, DAGANG, JASA Usaha Menengah Besar (MODERN) Sumber: Lo, 1981

P e n g e m b a n g a n E k o n o m i L o k a l P a r t i s i p a t i f

53

Dilema Informalitas dan Keterpaduan Pengembangan Ekonomi Perkotaan di Era Otonomi

hal ini adalah banyaknya migrasi dari desa ke kota, hal tersebut digambarkan dalam tabel 2. Banyak masyarakat desa setelah meraih tingkat pendidikan tertentu berusaha untuk keluar dari desanya dan mengadu nasib di kota-kota besar. Faktor-faktor ini antara lain juga pen-dorong tumbuhnya sektor informal di perkotaan.

Makin majunya perkembangan perekonomian juga berakibat menguatnya sarana trans-portasi, akibat pembangunan sarana dan prasarana yang makin baik, seperti jalan. Berkat adanya pembangunan sarana transportasi (jalan), isolasi antar daerah mulai dipatahkan. Alat angkutan umum roda empat masuk ke pelosok-pelosok desa, melalui lereng-lereng dan bukit-bukit di daerah pertanian. Kemudian, dengan munculnya lembaga transportasi (ojek) isolasi antar desa hampir semua telah tertembus. Melalui jalan sempit, terkadang lewat pematang sawah, suatu desa telah dapat dihubungkan dengan desa lainnya secara lebih cepat. Sejalan dengan perubahan struktural transportasi ini, terjadi pula peningkatan kualitas pendidikan formal di pedesaan. Rata-rata tingkat pendidikan anggota rumah tangga petani meningkat karena adanya pembangunan pendidikan yang tersebar ke setiap pedesaan. Keadaan ini mendorong terjadinya mobilitas tenaga kerja yang semakin baik, dan pasar tenaga kerja pedesaan dan perkotaan semakin terintegrasi dan saling mempengaruhi. Meningkatnya perubahan struktural transportasi ini juga diikuti dengan meningkatnya kualitas pendidikan formal pedesaan (Kasryno dan Suryana, 1988).

Tabel 2

Komponen Pertumbuhan Kota-kota Besar di Indonesia

Sumber : Hugo dkk., The Demographic Dimension in Indonesia Development, Melbourne, dalam Effendi,1993.

1961-1971 3,5 1,8 Juta 4,59 2,17 -6,76 (%) 68 32 -100 1971-1980 4,1 1,7 Juta 4,63 5,0 1,6 2,9 0,42 9,63 (%) 48 52 17 30 5 100 Tingkat Pertumbuhan Penduduk (%) Kota Desa

Pertumbuhan Penduduk Kota Alami Pertumbuhan Penduduk karena migrasi

Dari Prop. Lain Dari Prop. Yang. Sama Pertumb. alami dr. mig. Pertumbuhan Penduduk Kota

Dilema Informalitas dan Keterpaduan

Pengembangan Ekonomi Perkotaan di Era Otonomi

Kedua perubahan struktural ini membawa dampak yang cukup besar terhadap struktur ekonomi pedesaan, yaitu: (a) Assesibilitas (keterbukaan) pedesaan makin meningkat, yang tentunya akan meningkatkan arus dua arah yang bersifat baik fisik dan arus informasi antara satu daerah dengan daerah lainnya, dan (b) Struktur angkatan kerja pedesaan dicirikan dengan kualitas pendidikan yang semakin tinggi.

Implikasi logis dari kedua perubahan struktural tersebut adalah semakin kritisnya petani dalam menjalankan usaha taninya. Usaha tani bukan lagi usaha tani keluarga yang dicirikan oleh penggunaan dominan dari sumber daya tenaga keluarga dan sedikit dalam penggunaan input yang harus dibeli, tetapi sudah mengarah pada usaha tani subsisten atau komersial. Selain untuk memenuhi konsumsi keluarganya, mereka juga akan berorientasi ke pasar. Disamping itu, kedua perubahan struktural tersebut juga berpengaruh terhadap pola penyerapan tenaga kerja pedesaan akibat semakin tingginya tingkat pendidikan formal mereka.

Kemungkinan lain yang menyebabkan menurunnya proporsi pekerja disektor primer diduga berkaitan dengan perubahan aspirasi generasi muda pedesaan, terutama yang berpendidikan. Ada kecenderungan mereka enggan bekerja disektor pertanian, karena pekerjaan itu dianggap mempunyai status rendah. Tampaknya, mereka banyak yang mema-lingkan perhatiannya kesektor tersier di daerah perkotaan.

Dalam konteks semacam ini banyak yang memberikan usulan tentang pengembangan industri pedesaan. Hal ini dikarenakan dalam negara berkembang dengan produk pertanian yang masih substansial dipandang perlu untuk mendinamiskan kedua sektor ini secara berkesinambungan. Penguatan sumbangan sektor industri dalam struktur Produk Domestik Bruto merupakan suatu indikasi dan titik awal bagi pengembangan industri dengan basis pertanian.

Industri pedesaan seringkali dinyatakan berupa industri kerajinan dan industri rumah tangga, dan keberadannya merupakan bentuk transisi dari industri yang bercorak tradisional menuju kepada industri modern. Di Indonesia sendiri, industri pedesaan hanya dipandang sebagai alat pembangunan pedesaan dengan bentuk industri kecil dan bukan bagian dari industri modern yang kebanyakan industri besar dan menengah.

Kesenjangan yang terjadi antara sektor modern di perkotaan dengan sektor tradisional di pedesaan ini menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi tenaga kerja pedesaan. Dengan demikian, teori yang menyebutkan bahwa supply tenaga kerja di negara miskin dan negara berkembang adalah tidak terbatas sebenarnya tidak dapat dibenarkan pada saat terjadi pembatas adanya kualifikasi yang harus terpenuhi untuk dapat bekerja di sektor mod-ern di perkotaan. Adalah benar bahwa jumlah angkatan kerja sangat tinggi, namun, dengan adanya pembatas kualifikasi dan kemampuan tertentu, maka akan besar pula jumlah tenaga kerja yang tidak dapat terserap ke pekerjaan sektor modern.

Besarnya arus urbanisasi, menambah pula beban permasalahan ketenagakerjaan tersebut. Alih-alih meyelesaikan masalah ketenagakerjaan di perkotaan, besarnya arus tenaga kerja ini justru menambah beban berat kota dengan segala kompleksitas permasalahannya. Salah satu implikasi

P e n g e m b a n g a n E k o n o m i L o k a l P a r t i s i p a t i f

55

Dilema Informalitas dan Keterpaduan Pengembangan Ekonomi Perkotaan di Era Otonomi

dari hal ini pada akhirnya adalah munculnya peran pekerjaan sektor informal sebagai katup pengaman untuk menampung luberan arus tenaga kerja yang tak tertampung oleh sektor modern. Tak jarang bahwa pada akhirnya, keberadaan sektor informal ini menimbulkan banyak masalah akan tata ruang di perkotaan. Namun, tidak bisa dipungkiri memang bahwa daya tarik ekonomi kota sedemikian kuat, sehingga permintaan akan produk yang dihasilkan sektor informal juga sedemikian kuat. Menjadi masalah, manakala atas nama keindahan dan ke-bersihan kota, sektor informal ini terpaksa harus mau menjadi obyek tendang kanan-tendang kiri, pindah kanan-pindah kiri sesuai dengan kemauan pemerintah yang sedang berkuasa. Pada akhirnya seringkali lokasi tepat dimana sektor informal berada beralih fungsi menjadi kan-tong-kantong kemiskinan baru di perkotaan.

Dalam dokumen Buku_PELP (Halaman 48-53)