BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1.3 Bentuk Mantra Bemanang
Mantra Bemanang adalah mantrapengobatan orang sakit. Mantra ini digunakan hanya untuk mengobati penyakit manusia yang disebabkan oleh
makhluk gaib artinya penyakit diluar dari penyakit medis. Misalnya sakit yang diakibatkan oleh santet atau guna-guna, sakit yang disebabkan oleh racun secara gaib, sakit yang disebabkan oleh jayau atau yang dikenal sebagai bentuk penunduk agar orang jatuh cinta dan tergila-gila kepada lawan jenis yang dituju, dan semua bentuk penyakit spiritual lainnya. Berikut disajikan mantra Bemanang secara utuh:
Bemanang
(1) Ku kalong kin ambata balian jalo
“Aku panggil kalian semua manang dahulu kala (roh leluhur)” (2) Baba, babingen, katin muna sangkaan kin,
“Laki-laki, dan perempuan, yang ada sakang” (3) Awa ingkin sangkaan ninan
“Bawa kalian sakangnya di sini”
(4) katin baba awa ingkin sangkaan saribu ninan, “Yang laki-laki bawalah kalian sakang seribu di sini” (5) katin babinge awa ingkin batu balian ninan,
“Yang perempuan bawalah kalian batu manang di sini”
(6) nan nah ku kalongan nain, mamole’i katin kapaisanan dakasau jalu “untuk itulah aku panggil kalian, mengobati yang sakit diganggu setan” (7) innen nah kalongangan joninan
“Untuk itulah ku panggil kalian” (8) in ju kam matoang mamole’I,
“Tidak kami dapat mengobati” (9) Nan na kalonginan baba babinge,
“Untuk itulah ku panggil kalian laki-laki perempuan”
(10) katin mangasau, antikin sai nunuk, sai longtanaa’, antikin jojo ponan,
“yang mengganggu, kalau memang setan kayu ara, setan tanah, kalau
memang setan penghuni rimba, kalau memang setan dalam air, datanglah kalian”
(11) Nan nah ipa dengan padung jotak soon
“Untuk itulah kami membuat pandung di teras rumah” (sambil menari
mengelilingi pandung)
(12) Mondokin, tampirkin, ndok kin bawa
“Datanglah, datanglah beramai-ramai, janganlah kalian segan” (sambil menari menggeliling pandung)
Berdasarkan teks utuh mantra bemanang di atas, terdapat pilihan kata dengan makna denotasi dan konotasi yang merupakan salah satu wujud atau bentuk mantra. Baris ke 1 pada mantra terdapat kata “ku” yang merupakan bentuk ringkas dari kata “aku” yang artinya kata ganti orang pertama yang berbicara atau yang menulis. Kata “aku” penunjuk pada manang (pawang/dukun) yang mengucapkan mantra untuk memanggil atau memerintahkan roh leluhur untuk datang. Kalimat pada baris 1 terdapat kata “balian jalo” yang artinya “manang dahulu kala (roh leluhur)”. Dalam mantra ini “balian jalo”memiliki makna konotasi yaitu roh leluhur paling tertua yang memiliki kekuatan untuk mengobati orang sakit dan yang berkuasa atas kekuatan baik dan jahat.
Baris ke 2 dan 3 pada mantra terdapat kata “sangkaan” yang sama artinya dengan “sakang”. Berdasarkan KBBI sakang berarti roh jahat dalam kepercayaan suku Dayak di Kalimantan Barat. Di dalam mantra ini “sangkaan” dapat berupa roh jahat dapat pula berupa roh baik. Semua itu berdasarkan konteks penggunaannya. Pada mantra ini, sakang yang dipanggil adalah roh leluhur yang
memiliki kemampuan untuk menangkap dan melemahkan semua bentuk roh jahat yang menjadi penebab manusia sakit.
Baris ke 2 pada mantra terdapat kata “Baba, babingen” yang artinya “laki-laki dan perempuan”. Dalam mantra, kata “Baba, babingen” adalah nama panggilan untuk roh leluhur yang berjenis kelamin laki-laki dan roh leluhur yang berjenis kelamin perempuan. Menurut kepercayaan masyarakat suku Dayak Taman Kapuas di Provinsi Kalimantan Barat roh leluhur yang laki-laki (Baba) memiliki kemampuan untuk mengurung atau menangkap roh jahat. Sedangkan yang perempuan (babingen) memiiki kemampuan untuk melemahkan roh jahat baik itu setan maupun jin dan semua jenis roh jahat.
Baris ke 4 pada mantra terdapat kata “sangkaan saribu”. Kata sangkaan saribu” artinya “sakang seribu”. Dalam mantra ini “sakang seribu” memiliki makna konotasi yaitu minyak roh untuk melemahkan roh jahat sehingga roh jahat ang menjadi penyebab sakitnya manusia dapat ditanggap dengan. Berdasarkan kepercayaan masyarakat suku Dayak Taman Kapuas di Provinsi Kalimantan Barat, “sangkaan saribu” hanya dimiliki manang (roh leluhur yang mengobati orang sakit) dan manang yang berjenis kelamin perempuanlah pemilik dari “sangkaan seribu”. Baris ke 5 pada mantra terdapat kata “batu balian” yang artinya “batu manang”. Kata “batu balian” secara denotasi memiliki makna yaitu “batu berlian”. Akan tetapi dalam mantra ini “batu balian” bermakna sebagai batu roh yang merupakan wadah atau tempat mengurung dan menagkap roh jahat. Berdasarkan kepercayaan masyarakat suku Dayak Taman Kapuas “batu balian” adalah batu roh yang hanya dimiliki oleh roh leluhur yang berjenis kelamin
laki-laki. Roh jahat ditangkap oleh roh leluhur yang kemudian berwujud nyata berupa batu yang bentuknya menyerupai roh jahat tersebut.
Baris ke 6, 7, dan 9 pada mantra terdapat kata-kata yaitu “nan nah ku
kalongan nain”, “innen nah kalongangan joninan”, dan “nan na kalonginan”.
Ketiga kata-kata pada kalimat mantra tersebut memiliki esensi makna yang sama namun berbeda dalam bentuk penulisannya. Arti kata-kata tersebut yaitu (untuk itulah aku panggil kalian) pengulangan kalimat tersebut untuk memunculkan daya sugesti pada kata dan memiliki makna menghadirkan roh leluhur untuk membantu menyebuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh manusia.
Baris ke 10 pada mantra terdapat kata “sai, jojo, jaulan” artinya “setan” ketiga kata pada mantra ini memuat esensi yang sama namun disampaikan dalam bentuk yang berbeda. Makna kata “sai, jojo, jaulan” dalam mantra ini yaitu semua jenis roh baik itu setan atau jin yang bersemayam disuatu tempat seperti pohon, air, tanah, hutan.
Berdasarkan konteksnya mantra akan dipaparkan ke dalam rumusan SPEAKING berikut penguraiannya di bawah ini:
S: Setting and scene, setting mengacu pada latar kebudayaan yang menunjuk waktu mantra dituturkan (S.w). Scene mengarah pada situasi dan tempat atau dapat dikatakan sebagai situasi psikologis pembicaraan (S.t).
S.t: Mantra dituturkan di teras rumah. Dapat dilihat pada bari (11) mantra.
- Nan nah ipa dengan padung jotak soon (11)
P: Participants (P) berhubungan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam membacakan mantra.
P1: Manang (pawang/dukun) yang menuturkan mantra bemanang (mengobati orang sakit).
P2: Lawan tutur dapat dilihat pada baris 1 dan 10 yaitu balian jalo (roh leluhur)”, sai nunuk (setan kayu ara), sai longtanaa’( setan tanah), jojo
ponan (penghuni rimba), dan jaulan aek (setan dalam air).
E: Ends (E) mengacu pada maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam membacakan mantra terlihat pada judul dan keseluruhan dari tuturan mantra yaitu pada baris 1-12 pada mantra bemanang (mengobati orang sakit).
A: Act sequences “urutan tindak ujar”, jenis dan isi dalam mantra kedunaya berhubungan dengan ekstensi media, komunikasi, secara pemaparannya. Pada mantra ini mantra diucapkan langsung secara verbal oleh manang (pawang/dukun).
K: Keys (K) berhubungan dengan nada tuturan yang terfokus terhadap cara bertutur seperti nada, cara, dan motivasi. Mantra iyombang (pernikahan) diucapkan dengan nada yang keras dari awal hingga akhir penuturan mantra. I: Instrumentalities (sarana tutur) mengacu pada jalur bahasa yang digunakan
dalam bertutur, dan berhubungan jenis ujaran baik itu bahasa, dialek, ragam atau register. Dalam hal ini bahasa mantra bersifat beku yang jenis penggunaannya yaitu ragam atau register.
Verbal: Mantra diucapkan secara verbal atau secara lisan bukan tertulis dari awal penuturan mantra hingga akhir tuturan mantra dapat terlihat pada baris 1-12.
Non-verbal: diucapkan tidak dalam jenis ucapan secara lisan akan tetapi dalam jenis tindak bahasa (gerakan tubuh) dapat dilihat pada baris 11-12 pada mantra. Nonverbal dapat dilihat dibawaah ini:
- Nan nah ipa dengan padung jotak soon (11)
“Untuk itulah kami membuat pandung di teras rumah” (sambil menari
mengelilingi pandung)
- Mondokin, tampirkin, ndok kin bawa (12)
“Datanglah, datanglah beramai-ramai, janganlah kalian segan” (sambil menari menggeliling pandung)
N: Norms artinya “norma interaksi dan interpretasi” mengacu kepada norma yang berlaku dalam penggunaan bahasa mantra.
N1: Ku kalong “memanggil” N2: Awa ingkin “memerintah”
G: Genres disebut juga jenis tutur yang terfokus kepada jenis bentuk penyampaian, seperti cerita dongeng, narasi, puisi, pepatah, doa, dan sebagainnya. Dalam hal ini, bentuk penyampaian mantra dilakukan secara langsung dituturkan oleh manang (pawang/dukun) yang ditujukan kepada roh leluhur untuk mengobati dan mencabut segala bentuk roh jahat yang ada pada tubuh manusia yang menjadi penyebab dari adanya penykit.