• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1.1 Bentuk Mantra Mamman Tikang

Mantra mamman tikang adalah mantra mengumpan padi atau memberi makan roh padi dengan harapan para leluhur dapat memberikan hasil padi yang berlimpah. Berikut disajikan mantra secara utuh:

Mamman Tikang

(1) Ku kalong kin, piang ambung, piang andan “Kupanggil kalian, nek ambung,nek andan”

(2) Ndi’ kalame nin nan, ndi’ pulut nin nan, ate manuk nin nan

“Di sini kalame kalian, di sini pulut kalian, hati ayam kalian” (sambil mengelilingi meja sesajian dengan tarian)

(3) Lok ingkin indi’e, bua’ aseen.

“Turunkan kalian di sini buah padi (kata aseen atau padi dituturkan dengan nada panjang)

(4) Angkut ingkin tambulung aseen.

“Bawa kalian lumbung padi (kata aseen atau padi dituturkan dengan nada panjang)

(5) Irup ingkin pais aseen.

“Kipas kalian penyakit padi” (kata aseen atau padi dituturkan dengan nada panjang)

(6) Ingkin na maningin, ingkin na pamam in jo aseen ku’un

“Kalianlah yang memperbaiki, kalianlah penyempurna padiku” (7) sokna kaya barat tan aseen ku’un

“walau sejelek apapun padi ku” (8) ingkin na katin mantat tolang aseen

“kalian lah yang memberi buah padi” (kata aseen atau padi dituturkan dengan nada panjang)

(9) irup na ingkin nana tapan kunsale nin “kipas lah kalian dengan penampi padi ini” (10) sabeang ingkin pais aseen ku’un

(11) piang banang kuak, baik imen langke,

“nenek banang kuak, kakek imen langke (nama leluhur)” (12) tumbang ingkin isi’ karang keang nginan

“tuangkan kalian isi lumbung padi kalian” (13) iyana ku patuju’ un nain

“untuk itulah ku pertanda di sini” (sambil menancapkan kayu Leban ke dalam tanah)

(14) mato’ arienna ikita ingkin “supaya cepat dilihat kalian”

Berdasarkan teks utuh mantra di atas dapat ditemukan penggunaan bahasa yang menunjukkan teks mantra tersebut adalah bentuk atau wujud dari mantra. Pada bagian judul terdapat kata “mamman tikang” yang artinya mengumpan padi. kata “mamman tikang” memiliki makna memberi makan padi (roh leluhur) dengan harapan roh padi (roh leluhur) dapat memberikan hasil padi yang melimpah. Dari judul tersebut tercermin tujuan dari mantra diucapkan.

Kalimat ke 1 pada mantra yaitu “Ku kalong kin, piang ambung, piang

andan” pada kalimat tersebut terdapat kata “ku” bentuk ringkas dari kata “aku”

yang merupakan kata ganti orang pertama yang berbicara. Kata aku menunjuk pada manang (pawang/dukun) yang mengucapkan mantra dengan tujuan ingin mengungkapkan bahwa manang (pawang/dukun) itulah yang memanggil roh leluhur untuk datang. Kalimat tersebut terdpt jug kata “piang” ambung, piang

andan”. Kata piang pada mantra ini artinya nenek yang dalam KBBI merupakan

makna konotasi yaitu merupakan panggilan untuk roh leluhur perempuan yang tinggal pada buah padi yang dipercaya masyarakat dapat memberikan hasil padi yang berlimpah.

Pada baris ke 2 terdapat diksi pada kata “ Ndi’” sama artinya dengan “di sini” yang merupakan kata penunjuk yang menyatakan tempat yang dekat. Pada mantra ini ingin menunjukkan tempat atau letak sesajian yang disediakan untuk roh leluhur yang dipanggil agar datang dan makan makanan yang sudah disajikan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Pada baris ke 3 terdapat diksi pada kata “pulut” yang artinya dalam KBBI padi yang tekstur berasnya lengket dan kenyal jika dimasak. Kata “pulut” pada baris ke 3 dalam mantra merupakan sajian atau hidangan makanan yang diberikan kepada roh leluhur. Pada baris ke 3 terdapat diksi pada frasa “ate manuk” artinya hati ayam. Kata “manuk” berhubungan dengan kata sebelumnya yaitu “ate” yang artinya hati yang merupakan bagian dari organ dalam tubuh ayam. “hati ayam” merupakan sajian untuk memanggil roh leluhur.

Kata “bua’aseen” pada baris ke 4 dan kata “tolang aseen” pada baris ke 9. Kata tersebut memiliki makna yang sama yaitu “buah padi” yang dituliskan dengan kata yang berbeda. Buah padi adalah tumbuhan yang menghasilka beras atau butiran buah padi. Pada baris ke 4 terdapat diksi pada kata “lok” yang artinya “turunkan”. Dalam KBBI turunkan adalah bergerak ke arah bawah; bergerak ke tempat lebih rendah dari pada tempat semula. Dalam mantra ini, kata “lok” merupakan suatu perintah kepada leluhur untuk datang dan memberikan buah padi yang subur. Pada baris ke 5 terdapat diksi pada kata “Angkut” yang artinya

angkat; bawa; muat. Pada kata ini mengandung arti sebuah perintah yang ditujukan kepada roh leluhur untuk membawa buah padi yang berasal dari roh leluhur yang sehat dan subur .

Pada baris ke 13 terdapat makna konotasi pada kata “isi” pada mantra yang artinya suatu permintaan atau permohonan manang (pawang/dukun) kepada roh leluhur untuk memberikan seluruh padi yang ada pada lumbung para leluhur. Kata “isi” secara denotatif yaitu sesuatu yang ada, ruang, atau volume. Dalam hal ini isi yang dimaksudkan yaitu secara gaib tak terlihat, hanya akan terlihat setelah menuai hasil panen padi sehingga kata “isi” pada mantra ini mengandung makna konotasi.

Pada baris ke 2 pada mantra terdapat kata yang bermakna konotasi yaitu kata “kalame” kata ini tidak memiliki arti dalam bahasa daerah maupun dalam bahasa Indonesia. Kata ini mewakili sesaji yang disiapkan secara roh bukan dalam bentuk yang nyata hanya manang (pawang/dukun) yang mengetahuinya. Pada baris ke 6 terdapat diksi pada kata “irup” yang artinya “kipas”. Kata “irup” pada mantra ini adalah menepis segala hama dan penyakit yang menyebabkan padi tumbuh tidak sehat. Kata “irup” secara denotatif berarti menghirup. Sedangkan dalam mantra kata “irup”bermakna suatu perintah atau permohonan agar roh leluhur menepis segala penyakit dan hama yang dapat menyebabkan padi tumbuh tidak sempurna sehingga kata ini termasuk dalam makna konotasi.

Pada baris ke 12 pada mantra terdapat kata yang bermakna konotasi yaitu kata “baik” yang artinya “kakek”. Kata “baik” dalam mantra ini yaitu untuk memanggil roh leluhur laki-laki. Kata “baik” secara denotasi bermakna sifat

orang yang tidak jahat. Sedangkan dalam mantra kata “baik” adalah roh leluhur yang dipercaya sebagai roh leluhur yang bertugas memberikan kekayan hasil alam kepada masyarakat. Pada baris ke 13 pada mantra terdapat kata yang bermakna konotasi yaitu kata “tumbang” yang pada mantra ini berarti tuangkan keberlimpahan hasil padi yang nantinya akan dipanen. Kata “tumbang” secara denotatif adalah rebah, jatuh atau runtuh. Kata “ingkin” digunakan berulang hampir disetiap baris mantra kata ini menganduk daya sugesti yang menjadikan sebuah tuturan mantra terkabulkan. Kata “ingkin” yang artinya roh leluhur akan datang dan mendengarkan serta mewujudkan apa yang diminta dan didoakan dalam tuturan mantra untuk memperoleh padi yang subur dan sehat.

Berdasarkan konteksnya mantra akan dipaparkan ke dalam rumusan SPEAKING berikut penguraiannya di bawah ini:

S: Setting and scene, setting mengacu pada latar kebudayaan yang menunjuk waktu mantra dituturkan (S.w). Scene mengarah pada situasi dan tempat atau dapat dikatakan sebagai situasi psikologis pembicaraan (S.t).

S.t: mantra dituturkan di ladang tempat menanam padi pertama. Dapat dilihat pada baris {2} dan {14} pada mantra.

- Ndi’ kalame nin nan, ndi’ pulut nin nan, ate manuk nin nan “Di sini kalame kalian,” (sambil mengelilingi meja sesajian) - iyana ku patuju’ un nain

“untuk itulah ku pertanda di sini (sambil menancapkan kayu Leban ke tanah ladang)”

P: Participants (P) berhubungan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam membacakan mantra.

P1: Manang (pawang/dukun) yang bernama Anastasia Burat sebagai orang yang membacakan mantra.

- Ku kalong kin, piang ambung, piang andan (1) “Ku panggil kalian, nek ambung, nek andan”

Kata ku menunjuk pada (P1) pemantra yaitu manang (pawang/dukun) yang menuturkan mantra secara lisan.

P2: lawan tutur yaitu roh leluhur.

- Ku kalong kin, piang ambung, piang andan (1) “Ku panggil kalian, nek ambung, nek andan”

Kata “piang ambung, piang andan” menunjuk pada (P2) yaitu nama roh leluhur yang merupakan lawan tutur, komunikasi yang dilakukan secara khusus hanya manang yang dapat berkomunikasi langsung secara spiritual. E: Ends (E) mengacu pada maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam

membacakan mantra.

- Tujuan dapat terlihat pada Judul dari mantra yaitu Mamman Tikang (mengumpan padi) memberi makan padi dengan harapaan roh leluhur memberikan hasil padi yang subur dan berlimpah.

A: Act sequences “urutan tindak ujar”, jenis dan isi dalam mantra kedunaya berhubungan dengan ekstensi media, komunikasi, secara pemaparannya. Pada mantra ini mantra diucapkan langsung secara verbal oleh manang

(pawang/dukun). Setiap urutan dalam kalimat mantra tidak dapat diubah ataupun diacak.

K: Keys (K) berhubungan dengan nada tuturan yang terfokus terhadap cara bertutur seperti nada, cara, dan motivasi. Mantra diucapkan dengan nada yang keras dari awal hingga akhir mantra.

I: Instrumentalities (sarana tutur) mengacu pada jalur bahasa yang digunakan dalam bertutur, dan berhubungan jenis ujaran baik itu bahasa, dialek, ragam atau register. Dalam hal ini bahasa mantra bersifat beku yang jenis penggunaannya yaitu ragam atau register.

Verbal: Mantra diucapkan secara verbal atau secara lisan bukan tertulis dari awal penuturan mantra hingga akhir tuturan mantra dapat terlihat pada baris 1-14.

Non-verbal: diucapkan tidak dalam jenis ucapan secara lisan akan tetapi dalam jenis tindak bahasa (gerakan tubuh) dapat dilihat pada baris 2,3,4,5,dan 13 pada mantra. Nonverbal dapat dilihat dibawaah ini:

- Ndi’ kalame (sambil mengelilingi meja sesajian dengan tarian)

- tolang aseen (kata aseen atau padi dituturkan dengan nada panjang)

- iyana ku patuju’ un nain (sambil menancapkan kayu Leban ke dalam tanah)

N: Norms artinya “norma interaksi dan interpretasi” mengacu kepada norma yang berlaku dalam penggunaan bahasa mantra. Dalam hal ini mantra yang diucapkan berupa perintah dan permohonan kepada roh leluhur agar apa yang diminta terkabulkan.

G: Genres disebut juga jenis tutur yang terfokus kepada jenis bentuk penyampaian, seperti cerita dongeng, narasi, puisi, pepatah, doa, dan sebagainnya. Dalam hal ini, bentuk penyampaian mantra dilakukan secara langsung dituturkan oleh manang (pawang/dukun) yang ditujukan kepada roh lelulur yang menjadi kepercayaan masayarakat sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang ikut andil dalam memberikan hasil panen padi yang subur. Disetiap kata dan kalimat pada mantra mengandung daya sugesti, dan terdapat kalimat yang diulang agar menciptakan daya magi yang kuat untuk mendatangkan rohleluhur dan agar apa yang dimohonkan dapat tercapai.

Dokumen terkait