• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1.4 Bentuk Mantra Silam Ae’

Mantra silam ae’ adalah mantra sumpah. Mantra ini digunakan oleh masyarakat suku Dayak Taman Kapuas di Provinsi Kalimantan Barat untuk menyelesaikan suatu perkara yang permasalahannya tidak dapat ditemukan titik penyelesaiannya. Misalnya saja permasalahan sengketa tanah, mencuri, berbohong, dan pemfitnahan. Apabila permasalahan dari kedua belah pihak tidak dapat diselesaikan baik-baik, maka dilakukanlah ritual silam ae’ yang artinya pemasalahan terkait siapa yang benar dan siapa yang salah ditentukan oleh roh leluhur. Dalam hal ini, yang menjadi taruhannya adalah nyawa dan tentunya keputusan untuk melakukan ritual telah disepakati oleh kedua belah pihak. Siapapun yang berbohong atau yang salah maka rohnya akan akan diambil oleh roh penguasa sungai. Berikut disajikan mantra silam ae’secara utuh:

Silam Ae’

(1) eeee…

“eeee…. (diucapkan dengan nada panjang dan mengalun)” (2) ingkin anak tindanuman, poaka’a ae’en ini’in.

“kalian semua penguasa air, pawang air ini” (3) ku kalongkin, mondokin indie

“ku panggil kalian, datanglah di sini”

(4) ing kam anak muntuarin, injukam mangule’ mintarai “kami anak manusia, tidak dapat memutuskan” (5) inam na, ingkalongan naim

“Maka dari itu, aku memanggil” (6) totongan namo lalama manalo,

“Benar dalam perkataan menang,” (7) injunamo atalo

(8) nah! indie baras kuningan

“Nah! inilah beras kuning” (sambil menggenggam beras kuning ditangan) (9) unsa’, dua, talu, empat, lima, anam,tuujuh

“satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuuuuuh” (sambil melemparkan beras kuning hingga 7 kali ke sungai)

Berdasarkan teks utuh mantra bemanang di atas, terdapat pilihan kata dengan makna denotasi dan konotasi yang merupakan salah satu wujud atau bentuk mantra. Baris ke 1 pada mantra terdapat kata “eeee…” yang tidak memiliki arti. Akan tetapi di dalam mantra ini kata “eeee…” memiliki makna konotasi yaitu seruan dengan disertai alunan nada yang panjang yang membangun frekuensi supranatural sebagai penghubung antara manusia dan roh penguasa sungai (puaka).

Baris ke 2 pada mantra terdapat kata “anak tindanuman dan poaka’a” yang artinya “penguasa air”. Kata tindanuman memiliki esensi yang sama dengan kata

poaka’a namun bentuknya berbeda. Artinya “puaka” secara denotasi yaitu demit

(hantu penunggu) air, tanah, dan hutan. Baris ke 4 pada mantra terdapat kata

”anak muntuarin” yang artinya “anak manusia”. Kata ”anak muntuarin” dalam

mantra ini memiliki makna konotasi yaitu manusia yang tidak dapat menentukan atau tidak melihat dan mengetahui apa yang salah dan yang benar .

Baris ke 7 pada mantra terdapat kata”baras kuningan” artinya adalah “beras kuning”. Kata”baras kuningan” secara denotasi merupakan beras yang dilumuri kunyit sehingga warna beras berubah menjadi warna kuning. Sedangkan di dalam mantra ini”baras kuningan” memiliki makna konotasi sebagai bentuk

persyaratan yang digunakan sebagai penghubung antara manusia dan alam roh, sehingga dapt menghadirkan dan mendatangkan roh leluhur yang dipanggil.

Baris ke 8 pada mantra terdapat kata”unsa’, dua, talu, empat, lima, anam,

tuujuh”. Kata ini secara denotasi merupakan deretan bilangan yang diucapkan

pada akhir mantra. Dalam mantra ini kata ”unsa’, dua, talu, empat, lima, anam,

tuujuh” memiliki makna konotsi sebagai bilangan yang diucapkan manang

(pawang/dukun) untuk menghitung sesuai kepercayaan orang Dayak pengucapan angka hingga pada angka ketujuh adalah sebuah tanda akhir terwujudnya apa yang menjadi tujuan dari mantra sumpah.

Baris ke 6 pada mantra terdapat kata “manalo” yang artinya “menang”. Kata “manalo” dalam mantra ini memilliki makna konotasi yaitu pembebasan roh atau jiwa manusia dari sumpah yang dilakukan bagi yang tidak berbuat kejahatan. Baris ke 7 pada mantra terdapat kata “atalo” yang artinya “kalah”. Kata “atalo” dalam mantra ini bermakna konotasi yaitu roh atau jiwa manusia yang diambil oleh penguasa air karena melakukan kejahatan atau yang bersalah.

Berdasarkan konteksnya mantra Silam ae’ akan dipaparkan ke dalam rumusan SPEAKING berikut penguraiannya di bawah ini:

S: Setting and scene, setting mengacu pada latar kebudayaan yang menunjuk waktu mantra dituturkan (S.w). Scene mengarah pada situasi dan tempat atau dapat dikatakan sebagai situasi psikologis pembicaraan (S.t).

S.t: Mantra dituturkan di sungai

P: Participants (P) berhubungan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam membacakan mantra.

P1: Manang (pawang/dukun) yang menuturkan mantra Silam ae’ (sumpah) P2: Lawan tutur anak tindanuman atau poaka’a ae’en yaitu puaka yang

dikenal sebagai roh penguasa air.

E: Ends (E) mengacu pada maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam membacakan mantra terlihat pada judul dan keseluruhan dari tuturan mantra yaitu pada baris 2,3,4,5,6, dan 7 pada mantra bemanang (mengobati orang sakit).

E1 ingkin anak tindanuman, poaka’a ae’en ini’in. (2) “kalian semua penguasa air, pawang air ini”

ku kalongkin, mondokin indie (3)

“ku panggil kalian, datanglah di sini”

E2: ing kam anak muntuarin, injukam mangule’ mintarai (4) “kami anak manusia, tidak dapat memutuskan”

inam na, ingkalongan naim

“Maka dari itu, aku memanggil” (5)

totongan namo lalama manalo, (6)

“Benar dalam perkataan menang,”

injunamo atalo (7)

“tidak benar dalam perkataannya kalah”

A: Act sequences “urutan tindak ujar”, jenis dan isi dalam mantra kedunaya berhubungan dengan ekstensi media, komunikasi, secara pemaparannya. Pada mantra ini mantra diucapkan langsung secara verbal oleh manang (pawang/dukun).

K: Keys (K) berhubungan dengan nada tuturan yang terfokus terhadap cara bertutur seperti nada, cara, dan motivasi. Mantra Silam ae’ (sumpah) diucapkan dengan nada yang keras dari awal hingga akhir penuturan mantra.

I: Instrumentalities (sarana tutur) mengacu pada jalur bahasa yang digunakan dalam bertutur, dan berhubungan jenis ujaran baik itu bahasa, dialek, ragam atau register. Dalam hal ini bahasa mantra bersifat beku yang jenis penggunaannya yaitu ragam atau register.

Verbal: Mantra diucapkan secara verbal atau secara lisan bukan tertulis dari awal penuturan mantra hingga akhir tuturan mantra dapat terlihat pada baris 1-9 pada mantra.

Non-verbal: diucapkan tidak secara lisan akan tetapi dalam jenis tindak bahasa (gerakan tubuh) dapat dilihat pada baris 8 dan 9 pada mantra. Nonverbal dapat dilihat dibawaah ini:

- nah! indie baras kuningan

“Nah! inilah beras kuning” (sambil menggenggam beras kuning ditangan) - unsa’, dua, talu, empat, lima, anam,tuujuh

“satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuuuuuh” (sambil melemparkan beras kuning hingga 7 kali ke sungai)

N: Norms artinya “norma interaksi dan interpretasi” mengacu kepada norma yang berlaku dalam penggunaan bahasa mantra.

N1: ku kalongkin, mondokin indie

“ku panggil kalian, datanglah di sini”

G: Genres disebut juga jenis tutur yang terfokus kepada jenis bentuk penyampaian, seperti cerita dongeng, narasi, puisi, pepatah, doa, dan sebagainnya. Dalam hal ini, bentuk penyampaian mantra dilakukan secara langsung dituturkan oleh manang (pawang/dukun) untuk mendatangkan roh penguasa air (puaka) untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah dan menghukum dengan mengambil jiwa manusia yang bersalah.

4.2.2 Makna Simbolis Mantra

Berdasarkan hasil penelitian data makna simbolik terdapat 19 buah. Waluyo, (1987: 106) kode simbolik lebih mengarah pada kode bahasa sastra yang mengungkapkan/melambangkan suatu hal dengan hal lain. Hasil analisis makna simbolis dari kelima mantra akan dipaparkan di bawah ini. Berikut makna simbolis hasil penelitian yang terdapat pada mantra suku Dayak Taman Kapuas akan dipaparkan satu persatu berdasarkan masing-masing mantra sebagai berikut:

4.2.2.1 Makna simbolik mantra Mamman Tikang (mengumpan padi)

Dokumen terkait