BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1.2 Bentuk Mantra Iyombang
Mantra Iyombang adalah mantra pernikahan. Berdasarkan kepercayaan masyarakat suku Dayak Taman Kapuas di Provinsi Kalimantan Barat mantra
Iyombang merupakan doa untuk sepasang suami istri agar yang akan menikah
selalu dilindungi oleh Tuhan dan para roh leluhur, diberikan rezeki, diberikan keturunan, dan terjauhkan dari orang-orang jahat yang hendak menghancurkan rumah tangga. Berikut disajikan mantra Iyombang secara utuh:
Iyombang
(1) Tanta linganak ingkin kate ara anak ku’un Soso niin sulek. “Dengarlah kita semua anak-anak ku pada hari ini menikah” (2) inan na ika pulungan ginan Samua kaan injenan indi’e,
“maksud kita berkumpul semua yang ada di sini” (3) anak-anak, tamato, baba, bibinge
(4) munda munda’ana kate ara anakan ini’in, di tambuni kolea ransiki mura, “Semoga seperti mereka anak-anak ini, dikaruniai oleh rezeki murah,” (5) muna’ suli, dasertai kole’a Alatala.
“Mendapat keturunan, diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa” (6) aika da niatan, kolea ara dua, dakule kole’a Alatala,
“Apa yang dicita-citakan, oleh mereka berdua, tercapai oleh Tyme” (7) sarata gulungan sumangai tamaroan
“dan semua roh leluhur orang tua dulu”
(8) Marangmande’ kate tanangan aliet-lietan batak nyawaan,
“Semoga seperti tali tengang keras liat jiwa mereka” (sambil mengikatkan tali tengang ke baju laki-laki dan perempuan.
(9) sarata kate tolang manik Ini’in ananas-nanasan in juaan dakule’ data loang
tu
“dan seperti buah manik ini, kokoh tidak bisa dikalahkan orang” (sambil memasangkan gelang manik ketangan laki-laki dan perempuan)
(10) salangke-langkeana tioan dua laingeen “selama-lamanya hidup suami istri”
(11) injuan dakule dapasikatawaang kolea jalun, “tidak bisa dipisahkan oleh sesuatu”
(12) tarkacuali kolea alatala.
“Terkecuali Tuhan Yang Maha Esa”
Berdasarkan teks utuh mantra Iyombang di atas, terdapat pilihan kata dengan makna denotasi dan konotasi yang merupakan salah satu wujud atau
bentuk mantra. Baris ke 1 pada mantra terdapat kata “Tanta” artinya “dengarlah”. Kata“Tanta” pada mantra bermakna konotasi memanggil semengat atau roh yang ada pada suami dan istri untuk dipanggil dan mendengarkan nasihat atau doa yang akan dibacakan oleh pemanang. Memanggil semengat atau memanggil secara roh pada suami dan istri sebagai bentuk penghubung niat dan keinginan antara suami dan istri dengan Tuhan dan roh leluhur.
Mantra pada baris ke 1 terdapat kata “anak” yang dalam mantra berarti pengantin wanita dan pengantin pria. Kata “anak” secara denotasi berarti manusia yang masih kecil. Sedangkan dalam mantra kata “anak” menunjuk pada laki-laki dan perempuan yang akan melangsungkan pernikahan. Pada baris ke 3 terdapat kata “anak-anak” yang artinya orang tua perempuan dan orang tua laki-laki. Kata “anak-anak” secara denotasi berarti manusia yang masih kecil. Akan tetapi bila dilihat berdasarkan konteks tuturan mantra kata “anak-anak” merupakan orang tua laki-laki (ayah) dan orang tua perempuan (ibu).
Baris ke 5 dan 6 pada mantra terdapat kata “Alatala” yang artinya Tuhan Yang Maha Esa. Kata ini menunjukkan adanya hubungan kepercayaan masyarakat suku Dayak Taman Kapuas dengan Sang pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Baris ke 7 pada mantra terdapat kata “sumangai tamaroan” yang artinya roh leluhur orang tua dahulu. Selain mempercayai Tuhan, masyarakat suku Dayak Taman juga mempercayai akan adanya roh leluhur yang menjaga dan selalu melindungi anak dan cucunya. Sehingga dalam ritual apapun roh leluhur berperan penting, dengan selalu menghadirkan leluhur disetiap ritual menjadi
salah satu penghormatan dan bentuk menghargai masyarakat terhadap para leluhur yang selalu menjaga, melindungi tanah dan anak cucunya.
Baris ke 8 pada mantra terdapat kata “tanangan” yang artinya “tali tengang” tali yang terbuat dari akar pohon tengang. Pada mantra ini “tanangan” digunakan sebagai salah satu sayarat dalam ritual pernikahan yang digunakan dengan cara mengikatkan tali kebaju adat pengantin laki-laki dan perempuan. Berdasarkan kepercayaan masyarakat “tanangan” diumpamakan sebagai hubungan yang tidak mudah putus artinya hubungan yang kuat dan tidak bisa dipisahkan oleh apapun dan siapapun. Baris ke 8 pada mantra terdapat kata
“aliet-lietan” yang artinya keras liat. Kata “aliet-“aliet-lietan” pada mantra memiliki makna
konotasi suatu hubungan pernikahan yang mengikat suami dan istri agar tetap bersatu dan tidak terputuskan oleh jiwa yang keras (watak) baik perkataan, perbuatan dan ego yang ada pada diri suami dan istri, serta akan selalu disatukan dalam cinta dan kasih satu sama lainnya.
Pada baris ke 9 terdapat kata “manik” yang dalam KBBI berarti perhiasan yang berupa butiran-butiran kecil terbuat dari merjan, karang, dan sebagainya. Dalam mantra ini manik yang digunakan terbuat dari buah kayu yang dilubangi dan dijadikan gelang sebagai salah satu syarat ritual pernikahan. Manik yang sudah berbentuk gelang kemudian diikatkan kemasing-masing tangan pengantin laki-laki dan perempuan.
Baris ke 10 pada mantra terdapat kata “salangke-langkeana” yang artinya kokoh. Kata “salangke-langkeana” secara denotasi berarti kukuh. Sedangkan pada mantra kata “salangke-langkeana” bermakna konotasi yaitu suatu hubungan
rumah tangga yang tidak mudah dihancurkan oleh siapapun baik itu manusia maupun oleh kekuatan-kekuatan supranatural. Baris ke 12 pada mantra terdapat kata “tarkacuali” yang artinya“terkecuali”. Kata “tarkacuali” digunakan
manang (pawang/dukun) sebagai bentuk pengecualian bahwa hubungan
pernikahan tidak dapat dipisahkan oleh apapun dan siapapun terkecuali oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Berdasarkan konteksnya mantra akan dipaparkan ke dalam rumusan SPEAKING berikut penguraiannya di bawah ini:
S: Setting and scene, setting mengacu pada latar kebudayaan yang menunjuk waktu mantra dituturkan. Dalam upacara pernikahan waktu tidak terikat artinya tergantung pada kesepakan keluarga. Scene mengarah pada situasi dan tempat pelaksanaan dalam upacara adat pernikahan (iyombang) yang pelaksanaannya wajib dilakukan di rumah adat atau rumah betang.
P: Participants (P) berhubungan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam membacakan mantra.
P1: Manang (pawang/dukun) yang menuturkan mantra atau doa.
P2: Lawan tutur yaitu Alatala (Tuhan Yang Maha Esa) dan sumangai
tamaroan (roh leluhur).
P3: Orang-orang yang ikut terlibat dalam upacara adat pernikahan (iyombang) - ara anak (anak-anak) yang dimaksud yaitu pengantin perempuan dan
- anak-anak, tamato, baba, bibinge (anak-anak, orang tua, laki-laki, perempuan) yang dimaksud yaitu orang tua laki-laki dan orang tua perempuan.
E: Ends (E) mengacu pada maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam membacakan mantra terlihat pada judul dan keseluruhan dari tuturan mantra yaitu pada baris 1-12 pada mantra.
A: Act sequences “urutan tindak ujar”, jenis dan isi dalam mantra kedunaya berhubungan dengan ekstensi media, komunikasi, secara pemaparannya. Pada mantra ini mantra diucapkan langsung secara verbal oleh manang (pawang/dukun).
K: Keys (K) berhubungan dengan nada tuturan yang terfokus terhadap cara bertutur seperti nada, cara, dan motivasi. Mantra iyombang (pernikahan) diucapkan dengan nada yang sedang dari awal hingga akhir penuturan mantra.
I: Instrumentalities (sarana tutur) mengacu pada jalur bahasa yang digunakan dalam bertutur, dan berhubungan jenis ujaran baik itu bahasa, dialek, ragam atau register. Dalam hal ini bahasa mantra bersifat beku yang jenis penggunaannya yaitu ragam atau register.
Verbal: Mantra diucapkan secara verbal atau secara lisan bukan tertulis dari awal penuturan mantra hingga akhir tuturan mantra dapat terlihat pada baris 1-14.
Non-verbal: diucapkan tidak dalam jenis ucapan secara lisan akan tetapi dalam jenis tindak bahasa (gerakan tubuh) dapat dilihat pada baris 13 dan 14 pada mantra. Nonverbal dapat dilihat dibawaah ini:
- Marangmande’ kate tanangan aliet-lietan batak nyawaan, (13)
“Semoga seperti tali tengang keras liat jiwa mereka”(sambil mengikatkan tali tengang ke baju laki-laki dan perempuan.
- sarata kate tolang manik Ini’in ananas-nanasan in juaan dakule’ data
loang tu (14)
“dan seperti buah manik ini, kokoh tidak bisa dikalahkan orang” (sambil memasangkan gelang manik ketangan laki-laki dan perempuan) N: Norms artinya “norma interaksi dan interpretasi” mengacu kepada norma yang berlaku dalam penggunaan bahasa mantra. Dalam hal ini, mantra yang diucapkan berupa doa permohonan agar hubungan suami istri yang menikah selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa dan semua roh leluhur.
G: Genres disebut juga jenis tutur yang terfokus kepada jenis bentuk penyampaian, seperti cerita dongeng, narasi, puisi, pepatah, doa, dan sebagainnya. Dalam hal ini, bentuk penyampaian mantra dilakukan secara langsung dituturkan oleh manang (pawang/dukun) yang ditujukan kepada Tuhan dan roh lelulur agar memberikan perlindungan dan segala doa agar suami dan istri yang akan menikah selalu dalam perlindungannya.