BAB II PEMBATASAN ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK OLEH
C. Bentuk pembatalan perjanjian oleh pemerintah dan
2. Bentuk Pembatalan Perjanjian Oleh Pengadilan
Selain putusan tersebut di atas, untuk melihat bentuk pembatalan perjanjian
dalam UU Monopoli yang telah diputuskan Pengadilan akan dianalisis putusan dalam
perkara hak siar Liga Premier Inggris yang diputuskan Mahkamah Agung dalam
Putusan No. 255K/Pdt.Sus/2009 tanggal 28 Mei 2009.
Sebelum lebih jauh di analisis tentang Putusan Mahkamah Agung RI No.
No. 255K/Pdt.Sus/2009 tanggal 28 Mei 2009. Perlu dijelaskan lebih dahulu tentang
substansi formalitas perkaranya.
Berdasarkan ketentuan Pasal 44 ayat (2) UU Monopoli dinyatakan bahwa
Pelaku usaha dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri selambat-
Apabila pelaku usaha melakukan keberatan atas putusan KPPU, maka
kedudukan KPPU dalam perkara di Pengadilan Negeri adalah sebagai pihak yang
berperkara, jadi dari sini dapat dipahami bahwa pelaku usaha berhadapan dengan
pemerintah. Berdasarkan permohonan pengajukan keberatan atas putusan KPPU
oleh pelaku usaha tersebut Pengadilan Negeri baru dapat memeriksa perkaranya,
termasuk perkara tentang pembatalan perjanjian yang dilakukan oleh KPPU.
Pada prinsipnya, Pengadilan dalam memeriksa permohonan keberatan atas
keputusan KPPU hanya menilai apakah putusan KPPU tersebut sudah sesuai dengan
undang-undang atau tidak. Jadi Pengadilan tidak tentang peristiwa hukumnya. Hal ini
dapat dilihat dari Putusan Mahkamah Agung RI No. 255K/Pdt.Sus/2009 tanggal 28
Mei 2009 yang amar putusannya mengatakan :97
1. Menyatakan bahwa Terlapor III : ESPN STAR Sport dan Terlapor IV : All Multimedia Networks, FZ-LL terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 16 UU No. 5 Tahun 1999;
2. Menyatakan Terlapor I : PT Direct Vision dan Terlapor II: Astra All Asia Networks Plc, tidak terbukti melanggar Pasal 16 UU No. 5 Tahun 1999; 3. Menyatakan bahwa Terlapor I : PT Direct Vision, Terlapor II : Astra All
Asia Networks, Plc, dan Terlapor IV: All Asia Multimedia Networkss, FZ-LLC tidak terbukti melanggar Pasal 19 huruf a dan c UU No. 5 Tahun 1999;
4. Menetapkan pembatalan perjanjian antara Terlapor III: ESPN STAR Sport dan Terlapor IV : All Multimedia Networks, FZ-LL terkait dengan pengendalian dan penempatan hak siar Barclays Premiere League musim 2007-2010 atau Terlapor IV : All Multimedia Networks, FZ-LL memperbaiki perjanjian dengan Terlapor III : ESPN STAR Sport terkait dengan pengendalian dan penempatan hak siar Barclays Premiere League musim 2007-2010 agar dilakukan melalui proses yang kompetetif diantara operator TV Indonesia.
97
Putusan Mahkamah Agung RI No. 255K/Pdt.Sus/2009 tanggal 28 Mei 2009, hlm.2.
Putusan Mahkamah Agung RI No. 255K/Pdt.Sus/2009 tanggal 28 Mei 2009
pada dasarnya hanya menguatkan Putusan KPPU perkara No. 03/KPPU-L/2009
tentang hak siar Liga Primer Inggris.
Dalam pertimbangan hukumnya Mahkamah Agung menilai bahwa putusan
KPPU telah sesuai dengan undang-undang, oleh karenya putusan tersebut harus
dikuatkan dan memutuskan bahwa putusan KPPU tersebut berkekuatan hukum dan
mengikat yang harus dilaksanakan oleh pemohon keberatan.
Dari Putusan Mahkamah Agung No. 255K/ Pdt.Sus/2009 tanggal 28 Mei
2009 juga terlihat bahwa bentuk pembatalan perjanjian yang diputus oleh KPPU
terdapat dua aspek, yaitu secara materil perjanjian yang dibatalkan adalah batal
absolut. Aspek lainnya yakni aspek formil, perjanjian yang dibatalkan oleh KPPU
batal relatif. Tegasnya bentuk pembatalan perjanjian oleh KPPU adalah batal absolut
yang mengandung aspek batal relatif.
Apabila dibandingkan putusan KPPU membatalkan perjanjian dengan pu-
tusan Pengadilan Umum yang membatalkan perjanjian terdapat perbedaan kedua-nya.
Inti perbedaan tersebut terletak pada kehendak untuk membatalkan perjanjian. Dalam
Peradilan Umum pembatalan perjanjian didasarkan pada gugatan para pihak yang
terlibat dalam perjanjian tersebut, dan pada petitum gugatan agar perjanjian yang
dibuat agar dibatalkan, sedangkan perkara perjanjian yang diperiksa oleh KPPU
berkaitan terjadinya perbuatan yang dilarang oleh undang-undang dan pihak yang
dirugikan atau keberatan tidak mengajukan gugatan untuk membatalkan perjanjian
dalam perkara di KPPU adalah tentang perilaku atau perbuatan di dunia bisnis yang
mengganggu hak pelaku bisnis lainnya atau kepentingan masyarakat umum. Disinilah
karakter publik dari perjanjian terlihat sedangkan dalam perjanjian yang diatur di
dalam KUH Perdata murni merupakan hak pribadi atau hak perseorangan.
Dengan demikian bila dicermati menggunakan logika hukum perdata dan
sengketa yang berlaku dalam perkara perdata, suatu perjanjian yang isinya ber-
tentangan dengan undang-undang adalah batal demi hukum. Hakim karena ja-
batannya wajib membatalkan perjanjian walaupun tanpa ada permintaan dari para
pihak. Sedangkan dalam laporan perkara yang diajukan oleh pelapor tidak me-
mintakan pembatalan melainkan melaporkan adanya praktik monopoli atau per-
saingan tidak sehat akibat dari suatu perjanjian.
Dari dua amar putusan yang dianalisis di atas dapatlah ditarik inti pema-
haman tentang bentuk pembatalan perjanjian yang terjadi dalam sengketa UU No. 5
Tahun 1999 adalah batal absolut yang memiliki karakter batal relatif.
Apabila dicermati kedua putusan KPPU yang dianalisis dalam tulisan ini
dihubungkan dengan keberadaan asas kebebasan berkontrak dalam UU Monopoli,
terbukti bahwa KPPU telah melakukan pembatasan atas asas kebebasan berkontrak
bukan menghilangkan asas kebebasan berkontrak. Pembatasan asas kebebasan
membuat kontrak dalam pelanggaran perjanjian menurut UU No. 5 Tahun 1999 oleh
KPPU sesuai dengan kewenangan KPPU untuk menciptakan kegiatan usaha yang adil
dan menjaga keseimbangan antara pelaku usaha yang melakukan kegiatan usahanya.
mengawasi atau mengontrol perilaku pelaku usaha dalam me-lakukan kegiatan
usahanya. Di sini KPPU melihat perilaku dari pelaku usaha yang berkaitan dengan
perilaku bisnis atau dengan kata lain lebih menekankan aspek ekonomi bukan dari
perbuatan hukum dari pelaku usaha sebagaimana yang dikehendaki dalam perjanjian
pada umumnya. Itulah sebabnya UU Monopoli lebih mengatur tentang perilaku
(behavior) dari pelaku usaha di bidang ekonomi bukan dari perbuatan hukum pelaku
usaha sebagaimana telah diuraikan pada bab terdahulu.
Putusan KPPU dalam membatasi kebebasan berkontrak sebagai upaya
mengawasi atau mengontrol perilaku para pelaku usaha di dasarkan pada ketentuan
Pasal 47 ayat (2) huruf a UU No. 5 Tahun 1999 yang mengatakan KPPU dengan
inisiatif sendiri dapat melakukan penelitian dan penyidikan atas terjadinya praktik
monopoli akibat adanya perjanjian antara pelaku usaha.
Kedudukan KPPU dalam menjalan tugasnya ini adalah sebagai perangkat
pemerintah. Hal ini tegas disebutkan di dalam Pasal 30 ayat (1) UU Monopoli yang
mengatakan : ”Untuk mengawasi pelaksanaan undang-undang ini dibentuk Komisi
Pengawas Persaingan Usaha”. Ayat (3) mengatakan : ”Komisi bertanggungjawab
kepada Presiden”. Itulah sebabnya, putusan KPPU lebih mengarah pada tugas
eksekutif dari pada tugas yudikatif. Karena tugas eksekutif untuk menjalankan
undang-undang, berbeda dengan tugas yudikatif untuk menyelesaikan sengketa yang
terjadi. Hal ini tegas ditentukan secara eksplisit dalam Pasal 36 UU Monopoli yang
menentukan kewenangan KPPU sesungguhnya adalah pelaksanaan tugas pemerintah.
melakukan perjanjian dalam rangka mencegah untuk tidak terjadi praktik monopoli
dan atau persaingan usaha tidak sehat dengan tujuan agar sumber daya ekonomi yang
bersifat public utility tidak dikuasai atau dimiliki oleh individu-individu tertentu
dengan mengenyampingkan hak orang lain untuk dapat me-manfaatkan atau