F. Kerangka Teori Dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Dalam suatu tulisan ilmiah atau penelitian teori mempunyai peranan yang
sangat penting. Teori memberikan dukungan kepada penelitian dan di lain pihak
penelitian juga memberikan kontribusi kepada teori.
Teori dapat memandu penelitian sehingga penelitian yang dilakukan
memberikan hasil yang diharapkan. Menurut Melly G. Tan, “teori pada pokoknya
merupakan pernyataan mengenai sebab akibat atau mengenai adanya suatu hubungan
masyarakat.“12 Dengan kata lain teori adalah sebuah rangkaian generalisasi yang
saling berhubungan yang masih perlu diamati dengan diuji secara empiris. Oleh
karena itu fungsi teori menurut Kenneth R.Hoover, adalah untuk memberikan arti dan
motivasi pada metode dengan memungkinkan untuk menafsirkan apa yang di amati
(diteliti)13, sedangkan Tan Kamelo dalam disertasinya menyebutkan fungsi teori
adalah untuk memberikan arahan/petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala
yang diamati.14 Dengan kata lain fungsi teori untuk membuat generalisasi (gambaran
abstrak) tentang sifat suatu kenyataan. Jadi, penggunaan teori dalam pemikiran ilmiah
adalah :15
a. Menyediakan pola-pola bagi interpretasi data. b. Mengkaitkan satu studi dengan lainnya.
c. Memberikan kerangka dalam mana konsep-konsep dan variabel memperoleh keberartian khusus.
d. Menafsirkan makna yang lebih besar dari temuan-temuan bagi peneliti dan bagi orang-orang lain.
Berdasarkan pengertian teori dan fungsi serta daya kerja teori tersebut di atas
dihubungkan dengan judul penelitian ini tentang pembatasan asas kebebasan
berkontrak melalui campur tangan pemerintah dalam persaingan usaha tidak sehat,
maka dipergunakan beberapa teori, yaitu :
12
Koentjaraningrat,Metode-Metode Penelitian Masyarakat,Cetakan IX (Jakarta, Gramedia 1989) hlm. 19
13
Kenneth R.Hoover, Unsur-unsur Pemikiran Ilmiah dalam Ilmu-Ilmu Sosial, terjemahan, Cetakan II (Yogyakarta, Tiara Wacana, 1990), hlm. 13
14
Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia, Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, (Bandung, Alumni, 2006), hlm 17
15
a. Teori kedaulatan negara.
Teori kedaulatan negara merupakan grand teory, dipergunakan untuk
menganalisis atau menjelaskan tentang dasar dan wewenang untuk melakukan
pembatasan asas kebebasan berkontrak sebagai asas dari suatu perjanjian. Teori
kekuasaan negara (sourvereniteit) yang mengatakan:16
Negaralah yang berdaulat terhadap masyakarat yang berdiam dalam wilayah Negara tersebut. Itu berarti negaralah yang memiliki kekuasaan tertinggi untuk mengambil keputusan terhadap masyarakat yang berdiam dalam wilayah Negara itu. Pengertian mengambil keputusan termasuk membuat peraturan- peraturan, mengatur tata tertib dan menjalankan peraturan itu sendiri.
Tentang teori kedaulatan negara ini, Solly Lubis mengatakan: “Negaralah
sumber kedaulatan dalam negara. Dari itu negara (dalam arti guvernment) dianggap
mempunyai hak yang tidak terbatas terhadaplife, libertyand propertydari warganya.
Warga negara bersama-sama hak milik tersebut, bila perlu dapat dikerahkan untuk
kepentingan kebesaran negara“.17 Teori kedaulatan negara ini dianut oleh George
Jellinek dan Paul Laband.
Selain itu, untuk alat analisis tentang kewenangan pemerintah atau negara
membatasi asas kebebasan berkontrak dipandang dari sudut ekonomi yaitu
dipergunakan middle teory yaitu teori welfare state. Teori ini mengatakan: Negara
kesejahteraan mengacu pada peranan yang dimainkan Negara dalam menyediakan
berbagai layanan dan manfaat bagi para warga Negara nya terutama dalam
pemeliharaan pendapatan dan kesehatan bahkan juga perumahan, pendidikan dan
16
Muchtar Pakpahan, Ilmu Negara dan Politik, (Jakarta, Bumi Intitama Sejahtera,2006), hlm,73
17
kegiatan sosial.18Edi Suharto mengutip pendapat Spicker menyatakan bahwa negara
kesejahteraan “…stands for a developed ideal in which welfare is provided
comprehensively by the state to the best possible standards.”19
Menurut Goran Adamson dosen di Lund University, Sweden, konsep Negara
kesejahteraan adalah:20
Konsep modernitas bagi Negara kesejahteraan, Konsep modernitas dimaknai sebagai kemampuan Negara dalam memberdayakan masyarakatnya. Peran dan tangung jawab Negara menjadi begitu besar terhadap warga negaranya karena negara akan bersikap dan memposisikan dirinya sebagai “teman” bagi warga negaranya. Makna kata teman merujuk pada kesiapan dalam memberikan bantuan jika warga negaranya mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan. Birokrat merupakan alat dan garda depan negara yang secara langsung melayani warga Negara. Birokrat “diharuskan” bersikap netral dengan cara tidak menjadikan latar belakang politik dan sosial warga Negara sebagai dasar pertimbangan pemberian pelayanan.
Dari pernyataan ini dapat dipahami bahwa Negara Kesejahteraan (welfare state)
adalah sistem yang memberi peran lebih besar kepada Negara (pemerintah) dalam
menjamin kesejahteraan sosial secara terencana, melembaga, dan berkesinambungan.
Jadi pada hakekatnya negara kesejahteraan menunjuk pada sebuah model ideal
pembangunan yang difokuskan pada peningkatan kesejahteraan melalui pemberian
peran yang lebih penting kepada negara dalam memberikan pelayanan sosial secara
universal dan komprehensif kepada warganya.
18
Fiona Williams, “Welfare State”, Open University dalam Adam Kuper, Jessica Kuper. Ensiklofedia Ilmu-Ilmu Sosial, Edisi Kedua, (Jakarta, Rajagrafindo Persada, 2000), hlm. 1143.
19
Edi Suharto, makalah dalam seminar yang bertajuk Mengkaji Ulang Relevansi Welfare State dan Terobosan melalui Desentralisasi- Otonomi di Indonesiadilaksanakan di Wisma MMUGM, Yogyakarta pada tanggal 25 Juli 2006, hlm 2.
20
http://www.makalah.net, makalah teori negara kesejahteraan menurut diakses tgl 29/6/2011, pukul 20.26 wib.
Gagasan ini muncul pada akhir abad 19 dan mencapai puncaknya pada era
"golden age" pasca Perang Dunia II.21 Faktor utama pendorong berkembangnya
negara kesejahteraan menurut Pierson adalah :22
Industrialisasi yang membawa perubahan dramatis dalam tatanan tradisional penyediaan kesejahteraan dan ikatan keluarga, seperti akselerasi pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan populasi penduduk, munculnya pembagian kerja (divison of labour), perubahan pola kehidupan keluarga dan komunitas, maraknya pengangguran siklikal, serta terciptanya kelas pekerja nirlahan (landless working class) beserta potensi mobilisasi politis mereka. Perkembangan negara kesejahteraan ini mengalami penyesuaian dengan kondisi di masing-masing negara.
Suatu negara dikatakan sejahtera apabila memiliki empat pilar utama yaitu :23
(1) Social citizenship, (2) Full democracy, (3) Modern industrial relation systems,
dan (4)Rights to education and the expansion of modern mass education systems.
Dalam konsep negara kesejahteraaan, negara dituntut untuk memperluas
tanggungjawabnya kepada masalah-masalah sosial ekonomi yang dihadapi rakyat
banyak. Perkembangan inilah yang memberikan legalisasi bagi negara intervensionis
abad ke-20. Negara justru perlu dan bahkan harus melakukan intervensi dalam
berbagai masalah sosial dan ekonomi untuk menjamin terciptanya kesejahteraan
bersama dalam masyarakat.24
21
C Pierson, “Late Industrializers an the Development of The Welfare State” (UNSRID, 2004) dalam Darmawan Triwibowo dan Sugeng Bahagijo, Mimpi Negara Kesejahteraan, (Jakarta, LP3ES, 2006), hlm 24.
22
Ibid.
23
http://www.nasyiah.or.id Powered by Joomla! @copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd : 29 Juli, 2011, 20:00
24
Jimly Asshidiqqie,Gagasan Keadulatan Rakyat Dalam Konstitusi Dan Pelaksanaannya di Indonesia, (Jakarta, PT Ichtiar Baru van Hoeve, 1994), hlm. 223
Dari uraian di atas dapat diambil esensinya bahwa konsep negara kesejahteraan
tidak hanya mencakup deskripsi mengenai sebuah cara pengorganisasian
kesejahteraan (welfare) atau pelayanan sosial (social services). Melainkan juga
sebuah konsep normatif atau sistem pendekatan ideal yang menekankan bahwa setiap
orang harus memperoleh pelayanan sosial sebagai haknya.
Selain dipergunakannya teori kedaulatan negara dan teori negara kesejahteraan,
dalam penelitian ini juga dipergunakan teori hukum pembangunan yang dikemukakan
oleh Mochtar Kusumaatmaja yang mengatakan “Apabila kita teliti maka semua
masyarakat yang sedang membangun dicirikan oleh perubahan, bagaimanapun kita
mendefinisikan pembangunan itu dan apapun ukuran yang kita pergunakan bagi
masyarakat dalam pembangunan. Peranan hukum dalam pembangunan adalah untuk
menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara teratur”.25 Dari pernyataan ini
sesungguhnya Mochtar Kusumaatmaja ingin menegaskan bahwa perlunya keteraturan
dan ketertiban dalam pembangunan dimana hukum dijadikan sarananya (instrumen).
Lilik Mulyadi melakukan kajian deskriptif analisis tentang teori hukum
pembangunan dari Mochtar Kusumaatmaja mengatakan:26
Mochtar Kusumaatmaja secara cemerlang mengubah pengertian hukum sebagai alat (tool) menjadi hukum sebagai sarana (instrument) untuk membangunan masyarakat. Pokok-pokok pikiran yang melandasi konsep tersebut adalah bahwa ketertiban dan keteraturan dalam usaha pembangunan dan pembaharuan memang diinginkan, bahkan mutlak perlu, dan bahwa hukum dalam arti norma
25
Muchtar Kusumaatmaja,Pembinaan Hukum dalam Rangka Pembangunan Nasional, Cet.II (Bandung, Lembaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, 1986), hlm. 3
26
http://www.pn.pandegelang.go.id Lilik Mulyadi, Teori Hukum Pembangunan, Prof, Dr. Mochtar Kusumaatmaja, SH, LLM, diakses tanggal 10Juli 2011, pukul 20.30 wib.
diharapkan dapat mengarahkan kegiatan manusia kearah yang dikehendaki oleh pembangunan dan pembaharuan itu. Oleh karena itu, maka diperlukan sarana berupa peraturan hukum yang berbentuk tidak tertulis itu harus sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat.
Dasar Lilik Mulyadi menganalisis tentang teori hukum pembangunan yang
dilontarkan oleh Mochtar Kusumaatmadja yang secara lengkap dikutip sebagai
berikut:27
Bahwa pengertian hukum sebagai sarana lebih luas dari hukum sebagai alat karena:
1. Di Indonesia peranan perundang-undangan dalam proses pembaharuan hukum lebih menonjol, misalnya jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang menempatkan yurisprudensi (khususnya putusan the Supreme Court)
pada tempat lebih penting.
2. Konsep hukum sebagai “alat” akan mengakibatkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan penerapan “legisme” sebagaimana pernah diadakan pada zaman Hindia Belanda, dan di Indonesia ada sikap yang menunjukkan kepekaan masyarakat untuk menolak penerapan konsep seperti itu.
3. Apabila “hukum” di sini termasuk juga hukum internasional, maka konsep hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat sudah diterapkan jauh sebelum konsep ini diterima secara resmi sebagai landasan kebijakan hukum nasional. Lebih detail Mochtar Kusumaatmadja mengatakan, bahwa: Hukum merupakan suatu alat untuk memelihara ketertiban dalam masyarakat. Mengingat fungsinya sifat hukum, pada dasarnya adalah konservatif artinya, hukum bersifat memelihara dan mempertahankan yang telah tercapai. Fungsi demikian diperlukan dalam setiap masyarakat, termasuk masyarakat yang sedang membangun, karena di sini pun ada hasil-hasil yang harus dipelihara, dilindungi dan diamankan. Akan tetapi, masyarakat yang sedang membangun, yang dalam definisi kita berarti masyarakat yang sedang berubah cepat, hukum tidak cukup memiliki memiliki fungsi demikian saja. Ia juga harus dapat membantu proses perubahan masyarakat itu. Pandangan yang kolot tentang hukum yang menitikberatkan fungsi pemeliharaan ketertiban dalam arti statis, dan menekankan sifat konservatif dari hukum, menganggap bahwa hukum tidak dapat memainkan suatu peranan yang berarti dalam proses pembaharuan.
27
b. Teoribargaining position
Teori bargaining position yaitu teori yang mengatakan bahwa posisi
keseimbangan para pihak yang membuat perjanjian. Di atas telah diuraikan secara
singkat bahwa perjanjian sebagai sarana hukum bagi seseorang untuk mencapai
kesejahteraan, dan dalam hukum perjanjian dikenal asas kebebasan berkontrak. Asas
kebebasan berkontrak ini lahir berkaitan dengan paham ekonomi yaitu persaingan
bebas. Dari paham ini dapat diketahui bahwa perjanjian sangat erat kaitannya dengan
upaya seseorang untuk mencapai kesejahteraannya. Sjahdeni mengatakan kebebasan
berkontrak berkaitan dengan pasar bebas.28
Asas kebebasan berkontrak ini muncul secara bersamaan dengan lahirnya
paham ekonomi klasik yang mengagungkan laissez faire atau persaingan bebas.
Keduanya saling mendukung dan berakar pada paham hukum alam. Kedua paham ini
berpendapat bahwa individu pada umumnya mengetahui kepentingan mereka yang
paling baik dan cara pencapaiannya. Oleh karenanya menurut hukum alam individu-
individu harus diberi kebebasan untuk menetapkan langkahnya, dengan sekuat akal
dan tenaganya, untuk mencapai kesejahteraan yang seoptimal mungkin. Jika individu
mencapai kesejahteraan maka masyarakat yang merupakan kumpulan dari individu-
individu tersebut akan sejahtera pula. Lebih lanjut Remy Sjahdeni mengatakan:29
Dalam perkembangannya, kebebasan berkontrak hanya bisa mencapai tujuannya bila para pihak mempunyaibargaining position yang seimbang. Jika salah satu pihak lemah maka pihak yang memiliki bargaining position lebih
28
Sutan Remy Sjahdeni,Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, (Jakarta, Institut Bankir Indonesia, 1993), hlm. 8
29
kuat dapat memaksakan kehendaknya untuk menekan pihak lain, demi keuntungan dirinya sendiri. Syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan dalam kontrak semacam itu akhirnya akan melanggar aturan-aturan yang adil dan layak.
Konsekuensi dari asas kebebasan berkontrak dalam perjanjian maka lahirlah
asas mengikatnya suatu perjanjian (pacta sund servanda). Sebagaimana dikemukakan
oleh Hugo Grotius, yang berpendapat :30
Bahwa hak untuk mengadakan perjanjian adalah salah satu dari hak-hak asasi manusia. Grotiuslah yang mengemukakan bahwa ada suatu supreme body of law yang dilandasi oleh nalar manusia (human reason) yang disebut sebagai hukum alam (natural law). sebagai wujud dari asas kebebasan berkontrak. Ia beranggapan bahwa suatu kontrak adalah suatu tindakan sukarela dari seseorang di mana ia berjanji sesuatu kepada orang lain dengan maksud bahwa orang lain itu akan menerimanya. Kontrak tersebut adalah lebih dari sekedar suatu janji, karena suatu janji tidak memberikan kepada pihak yang lain atas pelaksanaan janji itu.
Pendapat ini dipergunakan untuk menjelaskan dan menganalisis tentang dasar
mengikatnya suatu perjanjian sebagai implementasi dari asas kebebasan berkontrak
sebagai asas umum dalam hukum perjanjian. Janji itu mengikat diakui sebagai aturan
bahwa semua persetujuan yang dibuat oleh manusia-manusia secara timbal balik pada
hakikatnya bermaksud untuk dipenuhi dan jika perlu dapat dipaksakan, secara hukum
mengikat. Soedjono Dirdjosisworo mengatakan:31
Semula istilah pacta ini mempunyai suatu pengertian yang sangat terbatas tentang persetujuan-persetujuan di mana pada penghapusan suatu hutang atau penangguhan pembayaran diberikan, dan persetujuan-persetujuan itu sendiri tidak dapat dipaksakan dengan suatu tagihan. Jadi, mereka ini hanya mengakibatkan pemberian suatu alat penangkis (eksepsi) terhadap suatu tagihan, yang dengannya hutang ditagih.
30
Ibid,hlm, 19-20
31
Soedjono Dirdjosisworo,Misteri di balik Kontrak Bermasalah, (Bandung, Mandar Madju, 2002), hlm., 22.
Menurut teori ini suatu perjanjian menciptakan sebuah kewajiban hukum dan
bahwa ia terikat pada janji-janji kontraktualnya dan harus memenuhi janji-janji itu,
dipandang sebagai sesuatu yang dengan sendirinya dan bahkan orang tidak lagi
mempertanyakan mengapa hal itu demikian. Suatu pergaulan hidup hanya
dimungkinkan antara lain bagaimana seseorang dapat mempercayai kata-kata orang
lain. Tentang janji itu mengikat Soedjono Dirdjosisworo mengatakan :32
Nampaknya untuk hak ini, ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan lebih lanjut selain mengatakan bahwa kontrak tersebut mengikat oleh karena hal itu adalah sebuah janji atau kesanggupan sama halnya dengan undang-undang, yang pada hakikatnya merupakan perintah pembuat undang-undang. Apabila kepastian pemenuhan kesanggupan-kesanggupan yang dikandung oleh kontrak- kontrak ini habis, maka tidak dapat tiada seluruh sistem tukar-menukar di dalam masyarakat akan ambruk. Inilah yang menyebabkan bahwa “kesetiaan terhadap kata yang diucapkan oleh karena itu tak lain adalah tuntutan akan sehat alami“.
Prinsip bahwa orang terikat pada perjanjian-perjanjian tujuan memperkirakan
adanya suatu kebebasan tertentu di dalam masyarakat untuk dapat turut serta di dalam
lalu lintas yuridis dan hal ini mengimplikasikan pula prinsip kebebasan berkontrak.
Bilamana antara para pihak telah diadakan suatu perjanjian maka diakui bahwa ada
kebebasan kehendak pada para pihak tersebut. Bahkan di dalam kebebasan kehendak
ini dipersangkakan adanya suatu kesetaraan minimal. Pada intinya suatu kesetaraan
ekonomis antara para pihak seringkali tidak ada. Dan jika kesetaraan antara para
pihak tidak ada, maka nampaknya tidak ada kebebasan untuk mengadakan kontrak.
Kebebasan berkontrak adalah begitu esensial, baik itu untuk kepentingan
individu untuk mengembangkan diri dalam kehidupan pribadi dan di dalam lalu lintas
32
kemasyarakatan maupun untuk mengindahkan kepentingan-kepentingan harta
kekayaannya, maupun bagi persekutuan-persekutuan hidup sebagai satu kesatuan,
sehingga hal-hal tersebut oleh para pakar maupun undang-undang sebagai suatu hak
dasar bagi setiap manusia (individu).
Negara mempunyai kewajiban untuk turut campur tangan dalam membatasi
berlakunya asas kebebasan berkontrak dalam kegiatan ekonomi atau bisnis karena
dalam kegiatan ekonomi di pasar penindasan pelaku ekonomi yang kuat terhadap
pelaku ekonomi yang lemah acap kali terjadi yang menyebabkan terjadinya
pelanggaran HAM secara horizontal melalui perjanjian. Ifdal Kasim mengutip
pendapat Asbjorn Eide mengatakan :33
Salah satu kewajiban negara, dalam rangka melindungi HAM atas hak ekonomi, adalah memberi perlindungan terhadap kebebasan bertindak dan penggunaan sumber daya dari subjek-subjek yang lebih agresif, atau terhadap kepentingan-kepentingan ekonomi yang lebih berkuasa, dan menuntut perlindungan terhadap penipuan, atau terhadap perilaku perdagangan dan hubungan kontraktual yang tidak etis atas produk-produk berbahaya dan risiko kecurangan pasar dandumping.
Hal senada juga dikemukakan oleh Bambang Sugiharto yang mengatakan
“campur tangan pemerintah diperlukan sejauh itu menunjang kebebasan dan
keadilan”.34 Turut campur tangan nya Pemerintah dalam mengatur hak-hak individu
dalam bidang ekonomi bagi Negara Indonesia merupakan suatu amanah yang harus
dilaksanakaan.
33
Ifdal Kasim,Op.cit, hlm 37.
34
Elly Erawaty, Membenahi Perilaku Bisnis Melalui Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, (Bandung, Citra Aditya Bakti, 1999). hlm 18.
Dari beberapa teori yang dipergunakan di atas akan dijadikan pisau analisis
dalam memecahkan masalah pembatasan asas kebebasan berkontrak oleh Negara
sebagaimana isu inti dalam penelitian ini.