• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PEMBATASAN ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK OLEH

B. Syarat pembatalan perjanjian menurut UU Monopoli

Di atas telah diuraikan suatu perjanjian yang dapat dibatalkan dan dapat batal

dengan sendirinya hal ini berkaitan dengan tidak dipenuhinya syarat-syarat

sebagaimana yang ditentukan di dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Apabila syarat

subjektif dari suatu perjanjian tidak dipenuhi, maka perjanjian yang telah dibuat oleh

memenuhi syarat objektif maka perjanjian yang dibuat tersebut menjadi batal demi

hukum. Hal ini terlihat jelas dari ketentuan Pasal 1335 KUHPerdata dan Pasal 1337

KUHPerdata sebagaimana diuraikan di atas.

Pasal 1331 KUHPerdata dengan tegas menentukan bahwa perjanjian-perjanjian

yang dibuat oleh orang-orang yang tidak cakap dapat dibatalkan atas tuntutan si tidak

cakap atau oleh wakilnya.86

Dari ketentuan pasal ini tidak berlaku bagi pihak-pihak yang membuat perjanjian dalam hal ada ketidakwenangan. Karena yang disebut dengan tegas hanya mereka yang tidak cakap saja. Begitu pula pasal-pasal paksaan lebih lanjut dari pasal 1331 KUH Perdata, yaitu Pasal 1446 KUHPerdata menyebutkan tentang mereka yang tidak cakap saja.

Berbeda halnya suatu perjanjian yang dibuat didasarkan pada sebab yang tidak

halal sebagaimana yang ditentukan di dalam Pasal 1337 KUHPerdata yaitu

perjanjian yang dibuat bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan

ketertiban umum. Perjanjian yang demikian ini adalah batal demi hukum. Artinya

perjanjian yang dibuat bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan umum, dan

ketertiban umum tidak perlu dimintakan pembatalannya tetapi batal demi hukum.

Secara praktis pembatalan perjanjian yang bertentangan dengan undang-undang

juga harus dilakukan melalui prosedur atau hukum formal. Menurut Subekti, ”sistem

bahwa tidak dipenuhinya syarat subjektif hanya berakibat bahwa perjanjiannya dapat

dimintakan pembatalannya kepada Hakim, tetapi hal tidak dipenuhinya syarat

86

objektif diancam dengan kebatalan perjanjiannya demi hukum, merupakan suatu

sistem yang dianut dimana-mana”.87

Untuk melihat syarat batal suatu perjanjian yang terjadi dalam lapangan UU

Monopoli dapat dilihat dari Putusan KPPU No. 53/KPPU-L/2008 tentang Pembagian

Wilayah oleh Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Kontraktor Listrik Indonesia (DPP

AKLI) atas adanya dugaan pelanggaran yang berkaitan dengan perjanjian pembagian

wilayah sebagaimana yang ditentukan di dalam Pasal 9 UU Monopoli yang dilakukan

oleh DPP AKLI, DPD AKLI Sulawesi Selatan, DPC AKLI Palopo, DPC AKLI Luwu

Utara, DPC AKLI Luwu Timur, dan DPC AKLI Tana Toraja.

Perjanjian yang dibatalkan oleh KPPU dalam perkara Putusan No. 53/ KPPU-

L/2008 adalah keputusan rapat pleno Pengurus DPD AKLI Sulawesi Selatan dengan

DPC Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur, Tana Toraja tanggal 3 Ok-tober 2007 yang

isinya :88

a. Apabila salah satu anggota dari ke empat DPC tersebut lintas batas untuk melaksanakan pekerjaan pemasangan instalasi listrik, maka diwajibkan melaporkan kepada DPC setempat dan harus menggunakan SJI DPC tersebut.

b. Dalam melakukan pemasangan instalasi diharapkan menggunakan material listerik dan mengikuti harga standar yang ditentukan DPC setempat.

c. Menghimbau kepada Pejabat/Petugas PT.PLN (Pesero) agar tidak melayani siapapun untuk mengurus pekerjaan kelistrikan tanpa mengenakan tanda pengenal badan usaha keintalatiran yang sah.

d. Memberi sanksi kepada yang melanggar pelaksanaan kesepakatan ini.

Rapat pleno tersebut dilaksanakan karena ada salah satu anggota DPC mencoba

lintas batas ke wilayah DPC lainnya dan ini diperotes oleh DPC lainnya karena

87

Subekti,Op.cit.hlm., 16

88

khawatir tidak mendapat proyek. Pembagian wilayah kerja tersebut diperjelas dengan

adanya surat dari Terlapor V (DPC AKLI Luwu Timur) kepada Manajer PT.PLN

(Pesero) Ranting Malili dan Manajer PT.PLN (Pesero) Ranting Tomini yang intinya

menyatakan bahwa wilayah kerja Terlapor V adalah Kabupaten Lawu atau Wilayah

kerja PT.PKN (Pesero) Ranting Malili dan Manajer PT.PLN (Pesero) Ranting

Tomoni.

Rapat pleno yang dijadikan dasar bagi salah seorang anggota DPC AKLI untuk

membatasi anggota lainnya masuk dalam wilayah anggota AKLI lainnya oleh KPPU

dinilai sebagai perjanjian. Isi rapat pleno itulah yang dibatalkan oleh KPPU

sebagaimana terlihat di dalam salah amar putusannya yang berbunyi: 89

”Memerintahkan Terlapor I membatalkan perjanjian pembagian wilayah kerja

Penanggung Jawab Tehnik pada Surat Pengesahan Penanggung Jawab Tehnik ter-

hitung sejak dibacakannya putusan ini”.

Dari putusan KPPU tersebut dapat dilihat bahwa rapat pleno pengurus AKLI

dikualifikasi sebagai perjanjian merupakan pengertian perjanjian yang khusus dikenal

di dalam UU Monopoli. Padahal dalam logika umum, rapat bukanlah merupakan

perjanjian yang masuk dalam kualifikasi sebagaimana yang ditentukan dalam hukum

perjanjian. Karena rapat pleno sesungguhnya adalah menentukan kebijakan organisasi

untuk kebutuhan dan kepentingan organisasi. Namun dalam UU Monopoli rapat

pleno dikatagorikan sebagai perjanjian sesuai dengan kehendak Pasal 1 angka 7 UU

Monopoli mengatakan : ”Perjanjian adalah perbuatan satu atau lebih pelaku usaha untuk

89

mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama apapun, baik

tertulis maupun tidak tertulis”. Jadi rapat pleno dikategorikan sebagai perjanjian

didasarkan pada pengertian perjanjian pada Pasal 1 angka 7 UU Monopoli khususnya

ditafsirkan dari perkataan ”dengan nama apapun”.

Pertimbangan KPPU mengkualifikasikan rapat pleno sebagai bentuk perjanjian

dapat dimaklumi, karena pada intinya rapat bertujuan untuk melakukan konsensus

untuk mengambil keputusan tentang sesuatu hal. Kualifikasi rapat pleno sebagai

perjanjian dari sudut pandang UU Monopoli adalah perjanjian dalam nama apapun,

baik tertulis maupun tidak tertulis. Dari kata-kata dengan ”nama apapun” dapat

diartikan perjanjian itu baik yang ditemukan di dalam KUHPerdata maupun di luar

KUHPerdata atau apa yang terjadi dalam praktik kehidupan hukum sehari-hari. Jadi,

ruang lingkup pengertian perjanjian dalam UU Monopoli menganut penafsiran yang

luas bila dibanding dengan pengertian perjanjian pada umumnya yang dikenal

menurut KUHPerdata.

Apabila diperhatikan hasil rapat pleno yang dilakukan oleh para pihak dalam

pembagian wilayah kerja dari bentuk prestasinya adalah perjanjian bersegi satu, yaitu

hanya satu pihak yang dibebani kewajiban sedangkan pihak lawannya hanya

menerima prestasi dari pihak yang satu. Dan bentuk prestasinya adalah menyerahkan

sesuatu yaitu Terlapor I menyerahkan kepada Terlapor II, Terlapor II, Terlapor IV,

Terlapor V, dan Terlapor VI untuk dapat mengekspolitasi sumber daya ekonomi yaitu

Dari kasus yang diteliti ini dapat diketahui bahwa objek perjanjian dalam kasus

ini adalah pembagian wilayah kerja oleh Terlapor I kepada Terlapor II, Terlapor III,

Terlapor IV, Terlapor V, dan Terlapor VI. Dengan demikian bentuk prestasi yang ada

dalam perjanjian tersebut (rapat pleno) adalah pembagian wilayah kerja. Pertanyaan

yang timbul apakah pembagian wilayah dapat dijadikan dasar objek terjadinya

hubungan hukum antara para pihak? Kriteria objek perjanjian sebagaimana yang

ditentukan di dalam Pasal 1332 KUHPerdata yang menetapkan hanya barang yang

dapat diperdagangkan saja yang dapat dijadikan objek perjanjian. Demikian pula

Asser’s mengatakan ”perikatan itu adalah hubungan hukum yaitu suatu hubungan

yang diakui dan diatur oleh hukum. Perikatan dalam arti yang sebenarnya hanyalah

hubungan-hubungan hukum, yang murni bersifat hubungan hukum harta benda antara

dua orang atau lebih”.90

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dikemukakan pendapat Mariam

Darus yang mengatakan:91

Dahulu yang menjadi kriteria perikatan ialah apakah sesuatu hubungan hukum itu dapat dinilai dengan uang atau tidak. Apabila hubungan hukum itu dapat dinilai dengan uang maka hubungan hukum itu adalah merupakan perikatan. Kriteria itu semakin lama sukar untuk dipertahankan, karena di dalam masyarakat terdapat juga hubungan hukum yang tidak dapat dinilai dengan uang. Namun kalau terhadapnya tidak diberikan akibat hukum, rasa keadilan tidak akan dipenuhi. Dan ini bertentangan dengan salah satu tujuan dari pada hukum yaitu mencapai keadilan. Oleh karena itu, sekarang kriteria di atas tidak lagi dipertahankan sebagai kriteria, maka ditentukan bahwa sekalipun suatu hubungan hukum itu tidak dapat dinilai dengan uang, tetapi kalau masyarakat

90

C. Asser’s,Ibid,hlm 5.

91

Mariam Darus Badrulzaman,KUH.Perdata Buku III Hukum Perikatan dengan Penjelasan, (Bandung, Alumni, 1983), hlm. 2-3

atau rasa keadilan menghendaki agar suatu hubungan itu diberi akibat hukum, maka hukumpun akan melekat akibat hukum pada hubungan tadi.

Berpegang pendapat Mariam Darus, pertimbangan dari putusan KPPU sudah

tepat. Pertimbangan KPPU yang menetapkan pembagian wilayah kerja sebagai

objek perjanjian sebagai implementasi dari ketentuan Pasal 9 UU Monopoli. Apabila

dilihat dari sisi ekonomi penetapan pembagian wilayah kerja sebagai objek

perjanjian dapat diterima, karena pembagian wilayah kerja sesungguhnya berkaitan

dengan sumber daya ekonomi yang dapat dinilai dengan uang dan bermotif ekonomi.

Wilayah kerja yang dibagi tersebut merupakan pasar barang dan atau jasa yang dapat

dijadikan sumber untuk memproleh uang sebagai sumber pendapatan bagi pelaku

usaha. Untuk itulah UU Monopoli melarang eksploitasi sumber daya ekonomi secara

tidak adil.

Selain itu, pertimbangan KPPU tentang perbuatan pembagian wilayah

termasuk dalam kategori perjanjian dapat diterima bila dilihat dari kaca mata hukum

Perdata. Pembagian wilayah sesungguhnya adalah bentuk prestasi memberikan

sesuatu sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 1234 KUHPerdata. Dalam hal ini

yang diserahkan Terlapor I kepada Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V,

dan Terlapor VI adalah sumber daya ekonomi yang berbentuk wilayah kerja yang

memiliki nilai ekonomi. Dan penyerahan wilayah kerja yang berisi nilai ekonomi

tersebut dapat dilaksanakan oleh para pihak yang terlibat dalam perjanjian pembagian

Perjanjian yang membagi wilayah kerja dalam kasus tersebut sesungguhnya

adalah pembatasan wilayah yang ditentukan secara sepihak oleh Terlapor I agar

Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V dan Terlapor VI mengeksplorasi

sumber daya ekonomi yang ada di wilayah dibagi-bagi tersebut. Intinya pembagian

wilayah kerja sesungguhnya bersumber dari ada kewenangan yang dimiliki Terlapor

I. Sedangkan bagi Pihak Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, dan

Terlapor VI sebagai anggota Terlapor dengan dasar pembagian yang dilakukan oleh

Terlapor I dapat mengekpolitasi sumber daya ekonomi pada wilayah yang ditentukan

berdasarkan kewenangan Terlapor I.

Dari pertimbangan hukum KPPU tersebut dapat dipahami syarat batal dari

perjanjian atau rapat pleno pengurus AKLI adalah didasarkan pada menghambat

pelaku usaha lain untuk dapat melakukan usahanya dengan mengeksplorasi sumber

daya ekonomi yang bernilai ekonomi yaitu wilayah kerja pemasangan instalasi listrik.

Jadi pembatalan perjanjian yang dilakukan oleh KPPU dalam perkara dimaksud

sesungguhnya ditujukan untuk mengatur perilaku para pelaku usaha. Dalam buku ajar

Hukum Persaingan Usaha dapat ditemukan keterangan yang menyebutkan, “yang

dimaksud dengan hukum persaingan usaha adalah hukum yang mengatur tentang

interaksi perusahaan atau pelaku usaha di pasar, sementara tingkah laku perusahaan

ketika berinteraksi dilandasi oleh motif - motif ekonomi”.92

92

Retno Wiranti, “KPPU di Garda Edukasi Hukum Persaingan Usaha”, [email protected]. diakses tangal 13 Juni 2011, pukul 21:01

Dalam putusan KPPU tersebut terbukti bahwa Terlapor I, II, III, IV, V dan

Terlapor VI terbukti terjadinya persaingan tidak sehat sebagaimana terlihat dalam

pertimbangan KPPU yang mengatakan :93

i. Bahwa adanya pembagian wilayah kerja PJT yang dilakukan oleh Terlapor I di daerah Sulawesi Selatan melalui Terlapor II, III, IV, V dan Terlapor VI, dan DPC-DPC lainnya di Sulawesi Selatan, menimbulkan dampak badan usaha intalatir tidak dapat menggunakan jasa PJT seempat yang menjadi pegawai di badan usaha instalatir sebagaimana diuraikan dalam butir 16.3.1.3 bagian tentang duduk perkara Putusan ini.

ii. Mejelis Komisi sependapat dengan LHPL yang menyatakan pembagian wilayah kerja PJT yang menyatakan pembagian wilayah kerja PJT ini menghambat persaingan usaha di antara seluruh anggota Terlapor I.

iii. Dengan demikian, persaingan usaha tidak sehat terpenuhi.

Syarat batal yang demikian ini termasuk pada kriteria tentang larangan

membuat perjanjian yang menghambat pelaku usaha lainnya untuk masuk ke pasar,

sebagaimana disebutkan dalam Pasal 9 UU Monopoli yang menentukan bahwa

”pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang

bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap barang dan

jasa sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan

usaha tidak sehat”. Dengan demikian, syarat batal yang ditentukan dalam

membatalkan perjanjian tersebut oleh KPPU adalah isi perjanjian tersebut

bertentangan dengan undang-undang.

Syarat batal dari suatu perjanjian di mana isi perjanjian bertentangan dengan

undang-undang yang ditentukan oleh UU Monopoli juga dapat dilihat dari putusan

lainnya, yaitu Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.255K/Pdt.Sus/2009

93

yang dalam amar putusannya menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi I dan

Pemohon Kasasi II yang keberatan atas putusan KPPU No. 03/KPPU-L/2008 yang

salah satu amar putusannya mengatakan menetapkan pembatalan perjanjian antara

ESPN STAR Sport (Pemohon Kasasi I) dengan ALL ASIA MULTI-MEDIA

(Pemohon Kasasi II) tentang hak siar liga primer Inggeris.94

4.2.8.30.13Bahwa dalam masa Sidang Majelis Komisi, diperoleh fakta baru sebagai berikut:

a. Bahwa sejak tanggal 16 Agustus 2008, terjadi peralihan siaran BPL musim 2008-2009 dari PT DV ke AORA TV (PT Karyamegah Adijaya) atas dasar alasan dan pertimbangan komersial (videBukti B48);

b. Bahwa Majelis Komisi menilai peralihan siaran BPL berupa eksploitasi hak eksklusif BPL tersebut dilakukan melalui proses yang tidak kompetitif;

c. Bahwa Majelis Komisi menilai perjanjian antara ESS dengan AAMN mengenai pengalihan kewenangan menunjuk operator yang akan menyiarkan BPL musim 2007-2010 berpotensi menimbulkan abuse of dominant position dan mengakibatkan berkurangnya tingkat kompetisi (lessening competition);

d. Bahwa berdasarkan surat–surat yang ditandatangani oleh Grant Ferguson tertanggal 18 Agustus 2008 yang diperoleh Majelis Komisi, selain peralihan BPL, Group Astro yang dalam hal ini AAAN, AAMN dan MBNS telah memberi peringatan kepada Group Lippo yang dalam hal ini PT First Media, Tbk, PT Ayunda Prima Mitra dan PT Direct Vision mengenai rencana penghentian pemberian fasilitas antara lain (vide Bukti A194- A199):

i.Transponder capacitydari MBNS;

ii.Information Technology Servicesdari MBNS; iii.Broadcasting Servicesdari MBNS;

iv.Channel Supplydari AAMN;

v.Satellite Reception Equipment Leasedari AAMN; vi.Trademark Licence Agreement;

4.2.8.30.14 Bahwa berdasarkan fakta tersebut, Majelis Komisi menilai rencana penghentian pemberian fasilitas dimaksud merupakan bukti bahwa AAMN berniat untuk mening-galkan PTDV;

94

4.2.8.30.15Bahwa berdasarkan fakta tersebut, Majelis Komisi ber-pendapat, peralihan hak siar BPL dan rencana penghentian tersebut pada butir 4.2.8.30.13 di atas yang dilakukan oleh AAMN tersebut bertentangan dengan pernyataan AAMN dalam proses pemeriksaan yang bertujuan untuk memiliki sebagian saham dan membesarkan PTDV;

4.2.8.30.16Bahwa Majelis Komisi menilai terdapat itikad tidak baik yang mendasari perilaku-perilaku Group Astro hingga saat ini yang berpengaruh dalam perkembangan industri TV berlangganan di Indonesia;

4.2.8.30.17Bahwa Majelis Komisi menilai perilaku tersebut dapat merugikan pelanggan PTDV khususnya karena mengakibatkan ketidakjelasan kelangsungan siaran PTDV serta menimbulkansunk costakibat dari adanya peralatan yang tidak bisa digunakan kembali;

4.2.8.30.18Bahwa berdasarkan keseluruhan uraian tersebut, Majelis Komisi menilai terdapat dampak anti persaingan pada pasardownstream;

Dari pertimbangan putusan KPPU dapat diketahui bahwa untuk memutuskan

perjanjian yang dilakukan oleh pelaku usaha, KPPU terlebih dahulu membuktikan

bahwa perjanjian yang dibuat tersebut apakah telah memenuhi unsur yang dilanggar

sebagaimana yang ditentukan di dalam UU Monopoli yang mengatur tentang

perjanjian yang dilarang. Dengan demikian ketentuan perjanjian yang dilarang

sebagaimana yang ditentukan di dalam UU Monopoli tersebut merupakan ketentuan

yang mengatur tentang syarat batal dari suatu perjanjian di dunia bisnis.

Ketentuan yang termuat dalam UU Monopoli yang mengatur tentang perjanjian

yang dilarang sebagai suatu syarat batal dari perjanjian dapat ditarik kesimpulan pada

redaksi yang termuat pada setiap Pasal 4 sampai dengan Pasal 16 UU Monopoli yang

masing-masing pasal tersebut diawali dengan redaksi “pelaku usaha dilarang

membuat perjanjian…” redaksi ini diikuti dengan isi perjanjian sebagai causa

menimbulkan praktik monopoli dan persaiangan usaha tidak sehat batal demi hukum

apabila telah memenuhi syarat batal yang ditentukan oleh ketentuan tentang laranan

perjanjian yang diatur di dalam UU Monopoli tersebut.