• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Pertanggungjawaban Pidana Tindak Pidana Pasar Modal

UPAYA PENEGAKAN HUKUM DI BIDANG PASAR MODAL

D. Bentuk Pertanggungjawaban Pidana Tindak Pidana Pasar Modal

100

1. Tanggung jawab mutlak (strict liability);

Mengenai pertanggungjawaban maka menurut teori hukum dikenal beberapa jenis sistem pertanggungjawaban, antara lain :

2. Tanggung jawab berdasarkan kesalahan; 3. Tanggung jawab berdasarkan kelalaian.

Berkaitan dengan pertanggungjawaban pidana maka prinsip utama yang berlaku adalah harus adanya kesalahan (schuld) pada pelaku. Menurut Vos pengertian kesalahan (schuld) mempunyai 3 (tiga) tanda khusus yaitu :

2. Kemampuan bertanggung jawab dari orang yang melakukan perbuatan;

99

Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1995. 100

M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009

3. Hubungan batin tertentu dari orang yang melakukan perbuatannya itu dapat berupa kesengajaan atau kealpaan;

4. Tidak terdapat alasan yang menghapuskan pertanggungjawaban bagi si pembuat atas perbuatannya itu.101

Untuk menentukan kemampuan pertanggungjawaban terhadap tindak pidana Pasar Modal sebagai subjek tindak pidana, hal tersebut tidaklah mudah karena pelaku tindak pidana Pasar Modal sebagai subjek tindak pidana tidak mempunyai sifat kejiwaan.

Sebagaimana telah diketahui bahwa subjek Tindak Pidana Pasar Modal (TPPM) dapat berupa orang perseorangan (pribadi) maupun berbentuk badan hukum.102

1. Kapan atau dalam hal bagaimana suatu badan hukum itu dikatakan telah melakukan Tindak Pidana Pasar Modal (TPPM);

Pertanggungjawaban pidana secara perseorangan (pribadi/individual) tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah pertanggungjawaban pidana terhadap badan hukum, karena dalam Undang-Undang Pasar Modal No.8 Tahun 1995 tidak ada ketentuan mengenai :

2. Terhadap siapa pertanggungjawban pidana itu dapat dikenakan, apakah terhadap pengurus/pimpinan badan hukum, terhadap orang yang diperintah, terhadap badan hukum atau terhadap ketiganya.

101

Edi Yunara, Korupsi dan Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2005), hal. 33.

102

Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan

M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009

Jika dilihat dari jenis tindak pidana yang diancamkan secara kumulatif (penjara kurungan dan denda), maka jelas pidana itu lebih ditujukan kepada orang perseorangan. Tidak mungkin jika badan hukum dijatuhi pidana/kurungan.

Namun walaupun demikian, bukan berarti badan hukum tidak dapat dipertanggungjawabkan, namun sebaliknya bahwa badan hukum juga dapat dipertanggungjawabkan, seyogyanya juga ada jenis sanksi berupa tindakan antara lain pencabutan izin usaha, pemberian ganti rugi dan sebagainya. Adanya sanksi berupa tindakan, hal ini dimungkinkan menurut ketentuan Pasal 102 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dan Pasal 61 Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 yang menyebutnya dengan istilah sanksi administratif, yang berupa :

1. Peringatan tertulis;

2. Denda yaitu kewajiban untuk membayar sejumlah uang; 3. Pembatasan kegiatan usaha;

4. Pembekuan kegiatan usaha; 5. Pencabutan izin usaha; 6. Pembatalan persetujuan; 7. Pembatalan pendaftaran.

Namun penerapan sanksi administrasi tersebut menurut Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 tidak dapat diintegrasikan ke dalam sistem pertanggungjawaban pidana. Artinya, sanksi itu tidak dijadikan sebagai salah satu bentuk sanksi/pertanggungjawaban pidana, sehingga tidak dapat diterapkan oleh Hakim sekiranya sebagai pelanggaran sebagai Undang-Undang Nomor 8 Tahun

M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009

1995 tentang Pasar Modal untuk dapat diajukan sebagai perkara pidana. Namun menurut Pasal 102 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 sanksi administrasi itu hanya diberikan oleh Bapepam, tidak oleh badan Peradilan.

Sebagaimana telah diungkapkan di atas, bahwa sistem ancaman kumulatif ancaman pidana/pertanggungjawaban pidana secara kumulatif dapat menimbulkan masalah apabila diterapkan terhadap badan hukum. Ini merupakan salah satu kelemahan dari sistem kumulatif. Kelemahan lain dari sistem kumulatif ini bersifat sangat kaku dan bersifat imperatif. Dengan sistem ini, hakim diharus menjatuhkan kedua jenis pidana itu bersama-sama (penjara/kurungan dan denda). Jadi, dalam hal ini Hakim tidak diberi peluang untuk memilih alternatif jenis sanksi pidana mana yang dianggapnya paling tepat untuk terpidana.

Konsep pertanggungjawaban pidana berkenaan dengan mekanisme yang menentukan dapat dipidananya pembuat. Rancangan KUHP juga mengakui adanya prinsip Strict Liability sebagai pertanggungjawaban pidana berdasar kesalahan, sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 32 ayat (3) Rancangan KUHP, yaitu :

“Untuk tindak pidana tertentu, Undang-Undang dapat menentukan bahwa seseorang dapat dipidana tanpa semata-mata karena telah dipenuhinya unsur-unsur tindak pidana tanpa memperhatikan kesalahan.”

Anak kalimat yang menyatakan “tanpa memperhatikan kesalahan” bukan berarti dalam Strict Liability pertanggungjawaban pidana dilakukan dengan mengabaikan kesalahan pembuat. Sebab azas dalam pertanggungjawaban dalam

M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009

hukum pidana ialah tidak dipidana jika tidak ada kesalahan.103

Maka pertimbangan ini cukup mengantarkan bahwa perbuatan suatu badan hukum telah bersalah melakukan suatu tindak pidana. Tanpa perlu mempertimbangkan apakah ada unsur-unsur pertanggungjawaban pidananya, pembuat kesalahan telah dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu kesalahan dipandang ada, sekalipun tidak kelihatan secara nyata bentuknya. Hal ini juga membawa konsekuensi terhadap pelaksanaan tugas oleh hakim. Walaupun di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal secara eksplisit tidak ada diatur mengenai pertanggungjawaban pidana oleh badan hukum atau korporasi, hakim seharusnya dapat mempertimbangkan apakah kesuluruhan unsur-unsur untuk dapat dipidananya suatu perbuatan telah terpenuhi.

104

103

Moeljatno, Azas-Azas Hukum Pidana, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1993 ). hal. 153 104

Chairul Huda, Op. , Cit, hal. 84.

Teori kesalahan normatif menyebabkan kesalahan tidak mutlak harus dilihat sebagai kondisi kejiwaan manusia. Hal ini membuka kesalahan selain perihal yang ditandai dengan kesengajaan atau kealpaan. Dengan demikian memungkinkan kesalahan terdapat bukan hanya ada pada subjek hukum manusia, tetapi juga korporasi ataupun badan hukum. Hampir tidak mungkin menentukan adanya kesalahan pada korporasi atau badan hukum semata-mata hanya dilihat sebagai masalah psikologis. Mereka yang menganut teori psikologis, berpendapat bahwa kesalahan selalu ditujukan terhadap subjek hukum manusia, sehingga perlu dicari dasar lain untuk mempertanggungjawabkan korporasi atau badan hukum dalam hukum pidana.

M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009

Jika akhirnya mereka berpendapat bahwa korporasi atau badan hukum dapat dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana, itupun dilakukan dengan

“memanusiakannya”.105

“Dipidana sebagai pelaku tindak pidana mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan Baik dengan mengaitkan karakteristik atau sifat subjek hukum manusia yang merupakan bagian dari korporasi atau badan hukum pada korporasi itu sendiri maupun dengan memandang korporasi atau badan hukum tersebut dengan sifat yang manusiawi.

Sementara delik pidana dalam Undang-Undang Pasar Modal menyatakan ketentuan pidana Undang-Undang Pasar Modal yang diatur khususnya dalam Pasal 107 menyatakan :

“Setiap pihak yang dengan sengaja bertujuan menipu atau merugikan pihak lain atau menyesatkan Bapepam, menghilangkan, memusnahkan, menghapuskan, mengubah, mengaburkan, menyembunyikan, atau memalsukan catatan dari pihak yang memperoleh izin, persetujuan, atau pendaftaran termasuk Emiten Perusahaan publik diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,- (lima Miliar Rupiah)”.

Ketentuan Pasal 107 tersebut yang menyatakan “setiap pihak yang dengan

sengaja bertujuan menipu atau...” dikatakan menipu apabila seseorang atau pihak

lain yang mempercayai suatu kondisi atau keadaan, tetapi keadaan atau kondisi tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Sekalipun akuntan hanya bertindak sebagai pendukung suatu trasnsaksi atau tindakan korporasi, bukankah ketentuan umum yang ada didalam KUHP khususnya Pasal 55 ayat (1) butir 1 menyatakan :

105

M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009

memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan”.

Juga mengenai masalah perbantuan tindak pidana kejahatan, yang dijelaskan pada Pasal 56 KUHP yang menyatakan :

(1) Mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan; (2) Mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk

melakukan kejahatan.

Kejahatan Pasar Modal yang dirumuskan dalam Pasal 107 Undang-Undang Pasar Modal tidak hanya dapat menjerat pelaku utama kejahatan tetapi juga siapa yang ikut terlibat dalam tindak kejahatan sebagaimana diatur dalam Pasal 107 Undang-Undang Pasar Modal dengan mendasarinya pada Pasal 55 ayat (1) butir 2 dan Pasal 56 KUHP.106 Korporasi dikatakan sebagai pembuat tindak pidana, pertama dapat terjadi dalam hubungan penyertaan yang umum (Non

vicarious liability crime) dan yang kedua dalam hal Vicarious Liability Crime.107

106

Hukum Online

Hal yang pertama dapat terjadi ketika pembuat materiilnya adalah

pimpinan korporasi. Yang termasuk kedalam kategori ini adalah mereka yang mempunyai kedudukan untuk menentukan kebijakan dalam korporasi. Maka kedudukan korporasi sebagai pembuat tindak pidana dapat dilihat dari hubungan penyertaan yang umum, dalam hal ini korporasi berada dalam hubungan penyertaan dengan pembuat materiilnya, sebagaimana dimaksud pada Pasal 55 KUHP. Sebaliknya pada hal yang kedua dapat terjadi jika pembuat materiilnya

107

M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009

adalah bawahan atau tenaga-tenaga pelaksana, atau pegawai yang bertindak dalam kerangka kewenangannya dan atas nama korporasi.

Keadaan yang demikian itu selalu dalam hubungan vicarious liability

crime, untuk menghindari pelanggaran atas azas legalitas, maka vicarious liability crime harus ditegaskan terlebih dahulu dalam aturan umum KUHP. Sebagaimana

doktrin pertanggungjawaban pidana pengganti (vicarious liability crime) mengatakan bahwa pertanggungjawaban pidana pengganti (vicarious liability

crime) didasarkan pada “employment principle” bahwa majikan adalah

penanggungjawab utama dari perbuatan para buruh atau karyawan, bertolak dari employment principle dalam hubungannya dengan vicarious liability crime menurut Peter Gillies ada preposisi yang harus diketahui, yaitu :

1. Suatu perusahaan (sama sepertinya halnya dengan manusia sebagai pelaku/pengusaha) dapat bertanggungjawab secara mengganti untuk perbuatan yang dilakukan oleh karyawan. Pertanggungjawaban demikian hanya timbul untuk delik yang mampu dilakukan secara vicarious;

2. Dalam hubungannya dengan employment principle, delik-delik ini sebagian besar atau seluruhnya merupakan summary offences yang berkaitan dengan peraturan perdagangan;

3. Kedudukan majikan dalam ruang lingkup pekerjaannya, tidaklah relevan menurut doktrin ini. Tidaklah penting majikan baik secara korporasi maupun secara alami, tidak telah mengarahkan atau memberi petunjuk atau perintah kepada karyawan untuk melakukan pelanggaran terhadap hukum pidana. Oleh karena itu, apabila perusahaan terlibat, pertanggungjawaban muncul sekalipun

M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009

perbuatan itu dilakukan tanpa membujuk pada orang senior dalam perusahaan.108

Dengan demikian, perlu diketahui bahwa tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi harus bersifat melawan hukum. Sifat melawan hukum tindak pidana korporasi tidak hanya ditentukan apakah perbuatan tersebut taatseband dengan isi larangan Undang-Undang, tetapi juga apakah perilaku tersebut dapat dilihat sebagai kelanjutan dari kebijakan atau cara pengelolaan usaha badan hukum. Dengan kata lain, apakah kemudian masyarakat melihat apakah suatu korporasi patut atau tidak patut menimbulkan suatu keadaan yang terlarang. Oleh karena itu, ajaran sifat melawan hukum materiil juga berlaku terhadap korporasi.

Bukankah dengan berlakunya azas melawan hukum materiel telah menegatifkan berlakunya azas melawan hukum formil, artinya hukum dapat ditegakkan tidak hanya melanggar hukum tertulis, namun suatu perbuatan telah dapat dipidana apabila telah melanggar hukum yang tidak tertulis. Karena perbuatan melawan hukum materiel yaitu perbuatan yang bertentangan dengan azas-azas umum, norma-norma tidak tertulis.109

108

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2003). hal. 236 – 237.

109

Bambang Poernomo, Azas-Azas Hukum Pidana, (Yogyakarta : Ghalia Indonesia, 1978). hal. 112.

Dimana perbuatan melanggar hukum bukan saja perbuatan yang hanya bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan saja, akan tetapi juga suatu perbuatan yang dipandang dari pergaulan masyarakat luas tidak layak untuk dilakukan.

M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009

BAB IV

BENTUK-BENTUK SANKSI