• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. USULAN PROGRAM UNTUK FESTIVAL KESENIAN

F. Bentuk Program

Bentuk program yang diusulkan oleh penulis adalah model pembuatancerita yang akan diambil berdasarkan kisah dalam Kitab Suci. Model cerita yang berdasarkan perikop Injil yang dipadukan dengan Festival Kesenian Tradisional, dapat menjadi warna tersendiri. Selain sebagai karya pewartaan katekese secara kontekstual dan juga dapat memperkembangkan iman peserta. Pengambilan cerita disesuaikan dengan tema yang telah ditentukan oleh pihak penyelenggara, maka penulis mengambil contoh tema “Gegujengan” yang merupakan tema Festival Kesenian Tradisional 2016 sebagai pedoman dalam pemilihan cerita yang akan dipakai sebagai cerita drama Festival Kesenian Tradisional oleh Orang Muda Katolik St. Theresia Brosot. Berikut cara menentukan cerita berdasarkan kisah dalam Kitab Suci;

Usulan program ingin mengangkat satu contoh lakon yaitu ‘Yusuf Kinasih’. Yusuf Kinasih merupakan satu pengembangan pentas yang diadaptasi dari kisah perjalanan hidup Nabi Yusuf dalam kitab Perjanjian Lama.

Alasan yang mendasar dipilihnya lakon ini sebagai contoh adalah karena lakon ini diangkat dari kisah Kitab Suci Perjanjian Lama, sehingga dalam pandangan

peneliti, lakon ini lebih fleksibel dan dengan mudah dapat diterima masyarakat umum karena kisahnya sudah banyak diketahui orang. Perbedaannya tentu saja terletak pada penyampaian dari pementasan itu sendiri.

Kisah Yusuf mengajarkan nilai kesabaran dan ketaatan yang dimiliki Yusuf, meski cobaan datang bertubi-tubi dalam kehidupannya. Dengan dasar kisah yang familiar dan kuat dari segi karakter, lakon yang mengangkat kisah ini semestinya mampu menjabarkan lebih detail tentang karakter dan nilai-nilai yang dibawakan.

Lakon Yusup Kinasih, bercerita tentang kehidupan Yusuf. Berdasar pada Alkitab kitab Kejadian 36-50, Yusuf adalah putra Yakub, ia tinggal bersama ayah, saudara kandungnya Benjamin dan saudara-saudara tirinya antara lain Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Zebulon, Dan, Naftali, Gad serta Asyer. Saudara-saudara tirinya menyimpan rasa iri pada Yusuf karena ia lebih disayang oleh sang ayah (Kitab kejadian, 46).

Berikut salah satu contoh cerita berdasarkan kisah dari Kitab Suci yang diambil dari Kitab Kejadian 36-50, sebagai berikut;

Yusup Kinasih

Suatu hari Yusuf bercerita pada ayahnya bahwa ia bermimpi keluarga mereka sedang mengikat karung-karung gandum. Karung miliknya berdiri tegak,

sementara karung-karung gandum milik yang lain tertunduk kearahnya. Di dalam mimpinya yang lain ia melihat matahari, bulan, dan sebelas bintang sujud menyembahnya. Ayahnya berkata itu berarti ayah ibu dan saudara-saudaranya akan berada dibawah Yusuf. Saudara Yusuf mendengar hal ini dan bertambah kebenciannya pada Yusuf. Akhirnya saudara-saudara Yusuf, kecuali Benyamin, berkonspirasi untuk menyingkirkan Yusuf.

Yusuf dibuang ke sumur dan ditemukan oleh saudagar-saudagar yang kemudian menjualnya sebagai budak di Mesir. Sementara ayahnya, Yakub jatuh dalam kedukaan selama bertahun-tahun karena kehilangan Yusuf. Di Mesir Yusuf menjadi budak dari pejabat kerajaan Potifar. Namun sebaik dan sejujur apapun Yusuf bekerja, paras tampannya justru menyebabkan musibah baginya. Istri dari Potifar menaruh hati padanya dan saat Yusuf menolak untuk melayani nafsu wanita itu, ia justru difitnah dan dijebloskan ke dalam penjara.

Penjara justru menjadi peluang menuju kemuliaan bagi Yusuf. Ia bertemu dengan juru minuman dan juru roti yang dihukum padahal salah satu diantaranya tak bersalah. Mereka memiliki mimpi dan Yusuf bisa menafsirkan mimpi itu. Juru minuman bermimpi memeras minuman dari pohon anggur yang bercabang 3 untuk Firaun. Sementara juru roti bermimpi membawa 3 keranjang makanan untuk Firaun di kepalanya, tetapi burung-burung memakan makanan itu. Yusuf menerangkan bahwa dalam waktu 3 hari yang akan datang, juru minuman akan mendapatkan kembali pangkat dan kemuliaannya. Sementara juru roti akan dihukum gantung atas

kesalahannya. Yusuf berpesan pada juru minuman jika nanti keluar dari penjara, agar membantunya bebas dengan meminta keadilan untuk dirinya kepada Firaun. Namun, juru minuman lupa akan pesan Yusuf.

Adegan ini dapat dikembangkan lagi dengan menitikberatkan pada Yusuf yang diuji kembali kesabarannya. Juru minuman yang semestinya menyampaikan pada Firaun tentang ketidakadilan yang menimpanya, justru melupakannya. Akibatnya Yusuf pun harus mendekam lebih lama dalam penjara. Meski demikian Yusuf tetap memegang teguh imannya. Ia menjadi penafsir mimpi bagi siapapun yang memintanya. Apabila ada yang memujinya, ia selalu merendah dengan mengatakan bahwa semua ilmu yang dimilikinya adalah atas berkah Tuhan.

Dua tahun setelahnya Firaun bermimpi dan tak seorang pun mampu menafsirkan mimpinya. Firaun bermimpi tentang 7 ekor lembu gemuk yang keluar dari sungai nil dan merumput di tepian sungai. Lalu muncul 7 lembu lain yang buruk dan kurus memakan 7 ekor lembu yang gemuk tadi. Saat itu juru minuman teringat pada Yusuf dan menceritakannya pada Firaun. Firaun memanggil Yusuf.

Adegan kesebelas menggambarkan perjumpaan awal Yusuf dan Firaun. Terjadi percakapan antara Firaun dan yusuf yang di dalamnya terkandung nilai falsafah kehidupan sekaligus pendidikan karakter (Naskah terlampir). Berikuturaiannya:

Pirngon : Yusup. Jeneng sira wis sun uwali saka pakunjaran! He, Yusup, ingsun ndangu marang sira. Pawarta kang ndak tampa

saka juru pangunjukan, kowe kuwi wong kang sugih micara, lantip lan sugih sanggit. Apa ta tegese brata sumpena yekti waskita? (Yusuf. Kau sudah ku keluarkan dari penjara. Wahai Yusuf, aku tanya padamu. Berita yang kuterima dari juru minuman, kau adalah orang yang yang pandai bicara, benar, jujur dan berilmu. Apa artinya brata sumpena yekti waskita ?)

Yusuf : Sinuwun, brata sumpena yekti waskita: Menawi boten klentu brata menika laku. Sumpena menika impi, yekti menika tenen, lan waskitha menika titis ing pamawas. (Yang mulia, brata sumpena yekti waskita, jika hamba tak keliru, brata berarti perilaku, sumpena berarti mimpi, yekti artinya sungguh-sungguh; sang waskitha adalah mampu peka atau waspada). Pirngon : Gancare piye? (Apamaksudnya?)

Yusup : Tiyang ingkang remen prihatin badhe antuk wangsiting Hyang Agung. Menawi saged mbabar wangsit, ingkang sinedya bakal tumeka, ingkang ginayuh badhe saged kinawasa kasembadan ing sedya. (Orang yang berlaku prihatin/hidup dalam kesederhanaan akan mendapat wangsit/wahyu dari Tuhan. Apabila dapat menafsirkan wangsit, yang diharapkan akan datang. Yang ingin dicapai akan mendapatkan kesempatan yang diharapkan).

Firaun kemudian menceritakan pada Yusuf perihal mimpinya. Yusuf menjelaskan perihal datangnya 7 tahun penuh kemakmuran dan 7 tahun kekeringan. Yusuf memberi saran kepada Firaun untuk menimbun bahan makanan yang melimpah selama 7 tahun untuk mencukupi kebutuhan 7 tahun selanjutnya. Firaun kemudian membebaskan Yusuf dari hukumannya dan mengangkatnya menjadi pejabat yang bertanggungjawab untuk memastikan kebutuhan pangan 14 tahun yang akan datang. Firaun mengangkat Yusuf sebagai penguasa di tanah Mesir. Setelah lewat 7 tahun kemakmuran datanglah 7 tahun penuh kekeringan. Namun Mesir tetap makmur karena telah menyimpan gandum selama masa 7 tahun yang berlimpah.

Hidup penuh kesederhanaan dan diselingi banyak penderitaan, menjadikan Yusuf lebih mawas diri. Ini merupakan pelajaran yang dapat diambil dari adegan dalam lakon Yusuf Kinasih. Kekuatan naskah memegang peranan penting dalam menyampaikan nilai-nilai kebajikan melalui Festival Kesenian Tradisional. Dalam adegan percakapan atara Firaun dan Yusuf tersebut pembuat naskah memasukkan falsafah Jawa tentang hidup yang sederhana. Yusuf memanfaatkan kesempatan yang diperoleh dalam masa kemakmuran dengan membuat aturan yang membuat penduduk Mesir hidup sederhana dan tidak berlebih-lebiha, sehingga saat kekeringan melanda, mereka masih dapat menikmati apa yang selama ini merekasimpan.

Kisah berlanjut dengan kekeringan yang melanda seluruh negeri hingga ke daerah Kanaan, tempat asal Yusuf dan keluarganya. Yakub menyuruh anak-anaknya, selain Benyamin, agar pergi ke Mesir untuk menebus gandum bagi keluarga mereka.

Sesampainya di Mesir mereka bertemu dengan Yusuf, bersujud hormat padanya,tetapi mereka sudah tidak mengenalinya. Sementara Yusuf masih mengenali mereka. Yusuf menuduh mereka adalah mata-mata. Saudara-saudaranya mengelak dan menceritakan asal-usulnya, juga tentang saudara Yusuf, Benyamin yang tinggal bersama ayahnya. Lalu sebagai jaminan atas kata- katanya Yusuf menahan salah satu diantara saudaranya dan meminta saudaranya yang lain untuk membawa Benyaminkehadapannya.

Para saudara tiri Yusuf pun pulang dengan rasa takut karena harus menghadap ayahnya dengan rasa bersalah akan apa yang terjadi di Mesir. Yakub begitu bersedih karena sejak kehilangan Yusuf ia tak pernah melepas Benyamin pergi bersama saudara-saudara tirinya. Sesampainya di Mesir mereka bertemu kembali dengan Yusuf, setelah membebaskan saudaranya mereka diijinkan untuk pulang. Namun saat hendak keluar dari gerbang, penjaga memeriksa bawaan mereka dan menemukan piala emas milik Yusuf dalam kantung gandum yang dibawaBenyamin.

Benyamin dituduh sebagai pencuri dan akan ditahan. Di hadapan Yusuf, saudara-saudara tirinya sujud dan memohon pengampunan pada Yusuf. Mereka menawarkan salah satu di antaranya untuk dijadikan tahanan menggantikan Benyamin. Mereka menceritakan perihal ayahnya yang telah lama terlarut dalam kedukaan karena ditinggal oleh anaknya, Yusuf. Jika Benyamin tak pulang bersamamereka, ayahnya akan mati karena tak mampu lagi menanggung kesedihan untuk kedua kalinya.

Berikut ini merupakan adegan klimaks yang mampu menguras emosi. Ketika Yehuda, saudara Yusuf yang dahulu paling bernafsu untuk menyingkirkannya, berlutut minta maaf dihadapan Yusuf. Ia belum tahu bahwa yang berdiri dihadapannya adalah Yusuf, adiknya. Ketakutan dan rasa bersalah yang begitu besar terhadap ayah dan adiknya membuat Yehuda mengakui perbuatannya dihadapan orang asing yang tak lain adalah adiknya sendiri, Yusuf.

Yusup : Aku wis dhawuh, wis wanti-wanti. Sing sapa katutan tuwungku emas... Kudu keri neng kene. Kudu ditinggal! Nyatane tuwung emasku neng gonine Benyamin. Mula Benyamin tak kersakke. Liyane mulih! (Sudah kuperintahkan. Barang siapa yang membawa piala emasku..harus tinggal disini. Harus ditinggal! Kenyataannya piala emasku ada dalam karung Benyamin. Karena itu benyamin yang kuinginkan. Yang lainpulanglah!).

Yehuda : Ooooo, Gusti! Aduh, menawi Benyamin dipun tilar! Tegesipun Bapak kula badhe nandhang gerah awrat! Mesakaken Bapa kula. Bapa Yakub punika sampun sepuh sanget! Kamangka Bapa Yakub taksih nggrantes amargi kecalan adhi kula Yusup. Adhi kula Yusup sampun dangu boten wonten! Kula rumaos bilih Yusup ical punika amargi kula! Lajeng menawi Benyamin paduka pundhut, kula kuatos Bapa

Yakub boten kiyat nandhang sisah, lajeng seda! (Ooo..gusti. Aduh. Jika benyamin ditinggal artinya ayah hamba akan menderita sakit yang amat sangat. Kasihanilah ayah hamba. Bapa Yakub itu sudah sangat renta. Terlebih Bapa Yakub masih sangat bersedih karena kehilangan adik hamba Yusuf. Adik hamba Yusuf sudah lama tiada. Hamba mengakui bahwa hilangnya Yusuf adalah karena ulah hamba. Lalu apabila Benyamin paduka ambil, hamba khawatir Bapa Yakub tak akan kuat menahan kesedihan lalu meninggal!). (Yusup mbalik paningal-sedih) (Yusuf berbalik—sedih) Adhuh Gusti! Kula nyuwun Benyamin supados wangsul amargi kula sampun janji kaliyan Bapa Yakub supados Benyamin saged mantuk! Pramila kula aturi ngluwari Benyamin! Kula mawon ingkang dipun pidana! Kapejahana kula ugi ndherek watonipun Bapa Yakub saged panjang yuswa! (Aduuh..Gustii! Hamba mohon agar Benyamin bisa pulang, karena hamba sudah berjanji pada Bapa Yakub untuk membawa Benyamin pulang. Karena itu hamba mohon bebaskan Benyamin. Hamba saja yang dipenjara! Kematian hamba juga bisa membuat Bapa Yakub panjang umur) Oh, amarga adhiku Yusup ora ana, Bapa Yakub dadi gampang gerah! (Oh, karena adik hamba Yusuf tak ada, Bapa Yakub jadisakit-sakitan!). Gusti, kula sagah nebus dosa kula

dhateng adhi kula Yusup ingkang sampun boten wonten! Oh Gusti, saumpami, saumpami Yusup tasih, kula sagah nyembah dlamakanipun lan sagah dados kesedipun! (Gusti..hamba bersedia menebus dosa hamba pada adik hamba Yusuf yang sudah tiada! Oh, Gusti, seandainya Yusuf masih ada hamba pun bersedia menyembah kakinya!)

Mendengar penderitaan ayahnya, Yusuf tak mampu bersandiwara dan menahan perasaan lagi. Ia pun meminta saudara-saudaranya mendekat dan membeitahu kebenarannya pada mereka. Bahwa ia adalah Yusuf, saudara yang dulu mereka buang ke sumur dan dijual ke Mesir (Alkitab ‘Kitab Kejadian’ 36-45).

Dokumen terkait