• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

K. Rangkuman Hasil Penelitian

Rangkuman hasil penelitian dari hidup menggereja yang diambil dari item nomor 1 - 9 menunjukkan bahwa peserta Festival Kesenian Tadisional ikut terlibat ambil bagian dalam hidup menggereja. Dapat dilihat dari sebagian besar responden juga menyatakan setuju dan sangat setuju jika hidup menggereja itu adalah hidup dalam persekutuan iman, hidup dalam iman yang utuh, satu dan bersekutu. Dimana diutus kita harus menjalankan tugas sebagai Nabi, yakni mewartakan kerajaan Allah lewat karya dan pelayanan kita serta dapat menjadi pelayan bagi semua orang. Sebagian besar responden juga menyadari bahwa sebagai orang beriman, tugas penting kita adalah membangun persaudaraan dalam paguyuban baik di dalam Gereja maupun di masyarakat. Dengan demikian responden sepakat bahwa sebagai Orang Muda Katolik, hendaknya dapat menjalankan hidup untuk saling mengambil peran penting dalam liturgi atau perayaan-perayaan Gereja. Kunci dari kegiatan Festival Kesenian Tradisional yang harus dimiliki oleh orang yang terlibat dalam Festival Kesenian Tradisional ini adalah memiliki sikap kerendahan hati, berpusat pada Kristus, beriman dewasa, terbuka kepada semua orang termasuk yang belum dibaptis dan belum Katolik, dapat berkomunikasi dan bekerjasama dengan orang tua dan umat, saling melengkapi satu sama lain demi tercapainya Festival Kesenian

Tradisional yang maksimal, mencintai Kitab Suci, mempunyai semangat pelayanan, cinta kepada sesama, dan rela berkorban bagi sesama.

Penelitian pada item 10 - 30 mendeskripsikan peranan Festival Kesenian Tradisional Rayon Kulon Progo sebagai sarana hidup menggereja di Wilayah St. Theresia Brosot. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pengertian dari Festival Kesenian Tradisional di mana orang dapat mempertumbuhkembangkan imannya, di mana iman Orang Muda Katolik dipupuk dan disiram agar dapat bertumbuh dan berkembang secara utuh dan berbuah sesuai dengan potensi, konteks, dan zamannya sehingga Orang Muda Katolik dapat mengelola kehidupannya serta dapat menghadirkan perubahan yang baik untuk sekitarnya. Festival Kesenian Tradisional membantu orang muda untuk memperoleh pendampingan yang utuh sebagai upaya menuju pribadi yang meneladan Yesus, yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan konteks, situasi, dan zaman hidupnya. Dalam Festival Kesenian Tradisional seperti tari-tarian tradisional, musik gamelan, reog, dan berbagai kesenian seperti drama musikal, drama, dan lagu-lagu pujian dalam perayaan Ekaristi dapat menjadi media pendampingan iman yang kontekstual yaitu sesuai dengan kebutuhan orang muda dan lingkungan hidupnya. Kegiatan Festival Kesenian Tradisional juga memberikan kebebasan kepada orang yang belum mengenal Yesus untuk terlibat di dalamnya. Bisa dikatakan bahwa kegiatan Festival Kesenian Tradisional mampu menumbuhkembangkan Gereja dalam rangka evangelisasi.

Pernyataan dari seluruh responden menyatakan bahwa dengan Festival Kesenian Tradisional pula Orang Muda Katolik mendapat pendampingan dalam

berkumpul menjadi satu komunitas yang beriman Kristiani, sebagai langkah melatih Orang Muda Katolik untuk terbiasa berkomunio, membentuk paguyuban yang beriman pada Kristus. Dilihat dari sisi liturgi, anak-anak terdampingi sejak dini untuk terlibat dalam perayaan Ekaristi dan kegiatan liturgis lainnya. Dalam kegiatan Festival Kesenian Tradisional pula orang muda dapat terlatih untuk hidup bersama dengan umat yang beda agama, terlatih untuk saling menghormati perbedaan sebagai wujud dari ajaran Gereja. Dalam Festival Kesenian Tradisional orang muda dilatih untuk menghayati tentang tugas Gereja yakni diakonia, terbukti dengan saling melayani yang ditunjukkan dengan pelayanannya ke umat dan saling berkunjung antar sesama.

Responden juga menyatakan sangat setuju dan setuju jika dalam Festival Kesenian Tradisional yang ada di Rayon Kulon Progo khususnya di Wilayah St. Theresia Brosot, orang muda mampu belajar untuk mencintai alam ciptaan dan memeliharanya dibuktikan dengan adanya Misa Alam, Jalan Salib Alam, Festival Kesenian Tradisional, bercocok tanam dengan pupuk organik, dan berbagai kegiatan alam lainnya. Festival Kesenian Tradisional juga membawa orang muda pada kebanggaan akan budaya yang mereka miliki dan mau menjaga serta melestarikannya.

Semua responden menyatakan bahwa Festival Kesenian Tradisional dapat menjadi sarana hidup menggereja yang baik dilakukan di Paroki-paroki yang lain.

Hasil penelitian pertanyaan item 1, 2, dan 3 responden menyatakan jika Festival Kesenian Tradisional mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti: dewan

paroki, romo paroki, dan umat. Ada sebagian kecil responden yang menyatakan tidak setuju dengan hal tersebut, tetapi secara keseluruhan Festival Kesenian Tradisional mendapat dukungan dari seluruh umat. Faktor pendukung yang kedua adalah Festival Kesenian Tradisional mampu menggerakkan Orang Muda Katolik untuk berani bersaksi akan Tuhan Yesus dengan lagu pujian, tari-tarian tradisional, musik gamelan, reog, Festival Kesenian Tradisional, festival visualisasi Kitab Suci, dan berbagai kegiatan lain. Faktor pendukung yang ketiga yaitu kegiatan Festival Kesenian Tradisional mampu memberikan motivasi yang baik bagi orang muda untuk selalu terlibat dalam kegiatan Festival Kesenian Tradisional. Faktor pendukung keempat adalah dukungan dan apresiasi dari masyarakat sekitar tentang Festival Kesenian Tradisional memberikan kekuatan bagi orang muda karena Festival Kesenian Tradisional berdiri di tengah-tengah masyarakat. Faktor pendukung kelima adalah dukungan dari orang tua. Sebagian besar responden menyatakan setuju dan sangat setuju jika orang tua mendukung anak-anaknya untuk terlibat dalam Festival Kesenian Tradisional. Hanya 3 responden yang menyatakan tidak setuju dengan pernyataan ini. Hal itu bisa dikatakan bahwa ada peserta Festival Kesenian Tradisional yang kurang mendapat dukungan dari orang tua, tetapi secara keseluruhan dukungan orang tua sangat baik.

Faktor yang menghambat dari kegiatan Festival Kesenian Tradisional adalah pemilihan materi cerita yang sesuai pada tema besar yang diusung oleh penggelar Festival Kesenian Tradisional. Sebagian besar peserta menyatakan jika mereka merasa kesulitan dalam menentukan cerita yang sesuai dengan tema. Tetapi tidak

semua peserta menyatakan kesulitan, ada 6 responden yang menyatakan tidak merasa kesulitan tentang hal ini. Faktor yang menghambat kedua adalah kesulitan dalam mencari dana karena dana penampilan yang dibutuhkan setiap penampilan relatif besar.

Harapan untuk Festival Kesenian Tradisional selanjutnya adalah sebanyak 17 (85%) responden dari prosentase jawaban responden berharap Festival Kesenian Tradisional agar dapat terus dilaksanakan secara rutin karena Festival Kesenian Tradisional merupakan salah satu sarana atau wadah untuk mempersatukan orang muda dari berbagai kalangan, profesi, agama yang selalu menjunjung tinggi kebersamaan dan toleransi antar umat beragama, serta dapat menjadi pewarta iman dan juga menjadi sarana hidup menggereja. Sedangkan sisanya 3 (15%) responden berharap bahwa semakin dapat meningkatkan persatuan umat dalam iman ataupun persaudraan dalam kemanusiaan, sebagai wujud 100% Katolik, 100% Indonesia, untuk dapat menjadi salah satu sarana peradaban kasih. Dapat dilihat dari prosentase jawaban responden bahwa Festival Kesenian Tradisional merupakan suatu jembatan untuk menjadi pewartaan iman yang konseptual sesuai dengan konteks, situasi, dan zaman.

Dokumen terkait