• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERANGKAT KE JAKARTA DENGAN SATU TEKAD (SEPTEMBER 1956) 137

Dalam dokumen 116207204 Biografi Bustaman Rahim. pdf (Halaman 138-156)

dulu, di tempat yang biasa. Waktu membayar di kasir saya baru ingat bahwa uang untuk membayar sewa hotel selama dua malam sudah tidak cukup. Bahkan untuk makan di jalan juga sudah pas-pasan. Saya lupa minta uang pada Nawi Sutan Bandaro waktu pamit sore tadi. Sampai di hotel, saya kaget melihat isi koper kecil berisikan pakaian saya sudah acak-acakan. Saya periksa isinya, tidak ada yang hilang, karena memang tidak ada barang berharga di dalamnya. Hanya saja pena parker saya yang terselip di saku baju saya yang tergantung yang hilang. Saya melapor ke kantor hotel, tentang kejadian di kamar saya, selama beberapa jam saya tinggalkan keluar. Kejadian itu disesalkan oleh yang menerima laporan dan mencatatnya, setelah itu meninjau kekamar saya. Kejadian ini akan disampaikannya kepada pimpinan, untuk diselidiki dan ditindak lanjuti, katanya. Pada kesempatan itu saya sampaikan sekalian bahwa saya akan check out besok pagi, kembali ke Bukittinggi. Saya kehabisan uang dan mohon keringanan untuk membayar sewa kamar, setelah saya sampai di Bukittinggi, akan mengirimkannya dengan pos wesel ke alamat hotel ini di Medan. Permohonan ini mereka setujui, mungkin sebagai kompensasi atas kekecewaan saya kehilangan pena di hotelnya.

Besok jam 9.00 pagi bus berangkat dari Medan menuju Bukittinggi. Dalam perjalanan selama lebih kurang 34 jam, saya hanya makan nasi ramas saja dalam perjalanan, karena keuangan hanya cukup sampai di situ. Besok sore kami sudah sampai di Bukittinggi, saya turun di jalan karena bus akan melanjutkan perjalanannya ke Padang. Besok pagi saya pergi lagi ke tempat Kari Jiun berdagang daging di pasar Teleng Bukittinggi, menagih uang jasa saya sesuai dengan janji semula kepada saya. Kebetulan waktu itu dia belum datang, saya tunggu sebentar.

Setelah dia datang saya lihat dari raut mukanya, kelihatan tidak senang dengan kedatangan saya, seakan-akan saya mengemis kepadanya. Saya katakan, bahwa saya ini datang menagih hak saya sesuai dengan kewajiban saya yang sudah berhasil mendapatkan surat izin membawa ternak dari Padang ke Bukittinggi sebanyak 40 ekor setiap minggu. Keuntungannya sudah saudara nikmati dan hak saya belum saudara berikan. Apakah saudara mau bayar apa tidak, saya mengharapkan hak saya itu dibayar dengan ikhlas supaya ada berkahnya. Saya datang tidak untuk minta-minta atau mengemis. Dia minta maaf, karena dia menghadapi kesulitan keuangan di kampung, sehingga uang untuk saya terpakai kesana, katanya. Di waktu itu dia hanya memberikan satu jumlah yang masih jauh kurang dari perhitungan saya. Sisanya dia minta direlakan, karena dia tidak sanggup lagi membayarnya. Uang itu saya ambil dan permintaannya tidak saya jawab saya langsung pergi tanpa pamit sedikit pun.

Begitu dapat uang itu saya langsung ke kantor Pos untuk mengirim pos wesel ke hotel tempat saya menginap selama dua hari di Medan. Sisa nya saya hitung, lumayan cukup untuk tiket kapal laut seorang ke Jakarta dan uang belanja untuk jajan ala kadarnya Selesai mengirim pos wesel ke Medan, saya langsung pulang ke kampung menemui ibunda, karena sudah hampir lima belas hari saya tidak mengunjungi beliau. Saya katakan mungkin saya akan ke Jakarta lagi, karena setelah saya coba hidup dan berusaha di Bukittinggi selama

MengenaldanMengenangDrs.H.BustamanRahimAkt. 138

hampir dua tahun ternyata tidak banyak kemajuan yang bisa dicapai. Kalau saya di Jakarta mungkin sore atau malamnya saya bisa belajar apa saja untuk menambah ilmu pengetahuan yang akan didjadikan bekal hidup yang masih panjang ini. Beliau menyetujui bila itu dianggap terbaik untuk saya, namun demikian sebaiknya rundingkan juga dengan Ahmad Tadjuddin yang baru pulang dua hari lalu. Dari beliau saya ketahui bahwa kakanda A. Tadjuddin ada di kampung waktu itu. Selesai makan siang bersama nenek dan ibunda, saya pergi menemui kakanda A.Tadjuddin di rumah isteri beliau.

Lama kami ber bincang-bincang, karena sudah beberapa tahun tidak bertemu. Saya ceritakan masa-masa sukses yang saya lalui dan masa-masa gagal yang saya hadapi. Saya katakan, sekarang ini saya berada pada taraf yang sangat rendah dalam hidup saya, akibat kegagalan membawa daging sapi dari Padang ke Rengat baru-baru ini. Dari pen galaman selama ini saya berkesimpulan, bahwa saya harus meninggalkan Bukittinggi, dan berangkat ke Jakarta. Sebab kalau saya teruskan cara mencari uang seperti sekarang ini, maka uang yang dicari Insya Allah akan dapat, tetapi di waktu yang bersamaan dia akan hilang kembali. Umur saya akan habis dan mutar-mutar di situ saja. Oleh karena itu saya putuskan untuk berangkat ke Jakarta mencari sesuatu yang bila telah dapat tidak akan hilang bahkan akan bertambah yaitu ilmu

Mendengar tekad saya demikian maka beliau bertanya. Apakah rencana ini sudah dibicarakan dengan isteri kata beliau. Saya katakan sudah dan kami sudah sepakat untuk sama-sama pergi ke Jakarta. Selanjutnya beliau berkomentar, memang tidak ada orang yang kaya karena berspekulasi seperti yang kamu kerjakan selama ini. Dengan spekulasi bisa mendapatkan uang dengan mudah tetapi dapat juga menderita kerugian dengan mudah, tidak obahnya seperti orang berjudi. Ada pepatah Inggeris yang perlu diingat kata beliau “Rolling stone gather no moss”. Saya mendukung rencana kamu pergi ke Jakarta di situlah tempat berjuang hidup yang sesungguhnya. Tempat berkumpul orang-orang pintar dan orang-orang yang ulet-ulet penuh dengan tantangan. Anggaplah ke sana itu pergi hijrah. Nabi Besar Muhammad Saw, telah memberi contoh kepada kita, bahwa beliau baru sukses setelah hijrah dari Mekah ke Madinah. Kata-kata beliau ini saya pegang teguh-teguh. Sore baru kami berpisah, dan beliau pamit, karena besok akan kembali lagi ke Pekanbaru, belum tentu kapan bisa bertemu lagi.

Sampai di rumah isteri bertanya-tanya, karena saya pulang kampung tidak memberi tahu lebih dahulu, takut ada sesuatu kejadian yang menimpa saya. Saya ceritakan bahwa saya dikecewakan oleh Kari Jiun yang tidak membayar hak saya yang saya harap-harapkan untuk ongkos kita bertiga ke Jakarta, ternyata hanya diberi sedikit seperti kita menjadi pengemis saja. Saya takut kalau saya terus menerus meminta kepadanya akan terjadi hal-hal yang tidak diingini, yang merugikan kedua belah pihak. Selesai mengirim uang pembayar sewa hotel di Medan saya terus pulang kampung memberitahu ibunda dan nenek tentang rencana kepergian kita ke Jakarta. Kebetulan ada kakanda A. Tadjuddin, kami mengobrol lama, dan beliau akan kembali lagi ke Pekanbaru besok.

Malam itu kami berunding dengan istri, karena ada perobahan rencana. Semula bila uang tagihan dari Kari Jiun berhasil semuanya kami akan berangkat bertiga beranak. Tetapi buktinya, tagihan hanya berhasil sebagian kecil sekali sehingga mampu untuk membiayai

MengenaldanMengenangDrs.H.BustamanRahimAkt. 139

keberangkatan seorang saja. Saya katakan kepada istri, karena uang tidak cukup biarlah saya saja yang berangkat dulu ke Jakarta. Nanti kalau sudah dapat pekerjaan, saya jemput pulang atau saya kirimkan uang, biar ibunda yang mengantarkan ke Jakarta, bersama anak. Kalau sekarang kita paksakan berangkat bersama, dengan meminjam uang kanan kiri, sedangkan di sana pun belum tentu dapat pekerjaan, nanti sama-sama terlantar kita dengan anak. Alhamdulillah isteri cukup mengerti dari apa yang saya kemukakan dan dia setuju melepas saya berangkat sendiri.

Pagi besok saya sampaikan kepada pak Muli dan etek Ana tempat kami menyewa rumah di Jalan Atas Ngarai, bahwa kami akan ke Jakarta beberapa hari lagi. Besok kami akan pulang ke kampung dengan membawa barang-barang sekalian. Kami lunasi uang sewa untuk bulan itu dan menyampaikan terima kasih selama ini dan maaf bila selama ini ada kelakuan kami yang tidak berkenan di hati beliau berdua. Siang itu kami pulang kampung bertiga beranak, untuk memberitahukan kepada ibu mertua dan keluarga lainnya bahwa saya akan berangkat ke Jakarta sendirian. Sedangkan isteri dan anak menunggu di kampung dulu sampai mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Setelah mendapatkan pekerjaan akan segera di jemput untuk bersama-sama merantau ke Jakarta. Mendengar ini ibu mertua kelihatannya senang karena beliau tidak segera berpisah dengan cucu pertama beliau waktu itu.

Sorenya kami kembali ke Jalan Atas Ngarai, untuk berkemas-kemas karena besok pagi akan pindah lagi ke Kampung, setelah satu setengah tahun mengungsi dari Parit Putus ke Jalan Atas Ngarai. Setelah minum pagi, isteri, saya suruh pulang duluan pakai bendi sedangkan saya menunggu datang gerobak roda tiga, menjemput barang-barang kami yang terdiri dari satu tempat tidur besi dan kasur serta perlengkapannya. Tidak ada meja maupun kursi, atau lemari pakaian dan lain-lain, karena memang tidak punya perabot yang demikian. Malam itu saya merasa asing lagi bermalam di rumah itu, ingat kejadian satu setengah tahun lalu, sewaktu saya menendang pintu kamar itu dengan kata-kata kasar yang dihadapkan kearah bapak tiri isteri yang selalu beranti pati kepada saya. Alhamdulillah, malam itu kelihatannya bapak tiri isteri sudah banyak berobah dibanding dengan tahun-tahun lalu. Mungkin sadar atau mungkin taktik sementara, karena mengetahui, bahwa kami toch, tidak akan lama tinggal di kampung. Malam itu kami lalui dalam suasana gembira dengan banyak canda dan tawa dengan famili isteri yang berkunjung ke rumah waktu itu.

Malam berikutnya merupakan malam terakhir bagi saya tinggal di rumah itu, karena besok siangnya saya akan berangkat ke Padang terus ke Jakarta sendirian. Sesuai dengan kesepakatan semula, isteri dan anak tinggal dulu di kampung, menunggu sampai dijemput setelah mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Tanpa sebab, isteri berobah pikiran, dia menangis mengatakan, dia tidak mau ditinggal dan akan pergi bersama dengan saya, walaupun apa yang akan terjadi di sana nanti, kita hadapi bersama katanya. Tekadnya ini saya hargai, dan berarti dia mempunyai percaya diri dan percaya kepada saya selaku suaminya bahwa dia tidak akan disia-siakan.

Untuk menenangkan istri, saya setuju kita pergi bersama-sama. Jadwal kapal masih ada beberapa hari lagi. Untuk ongkos kapal saya pinjam dulu gelang emas yang dibeli waktu pulang pergi ke Rengat dulu untuk dijual dan nanti kalau sudah ada uang kita beli lagi. Dia setuju, dan malam itu juga dia mengambil gelang emas itu dan menyerahkannya kepada

MengenaldanMengenangDrs.H.BustamanRahimAkt. 140

saya. Saya katakan, sebaiknya kita berangkat ke Padang tidak bersamaan, karena kalau kita berangkat bersamaan, famili saya dan famili isteri akan beramai-ramai mengantarkan ke Padang dan melepas sampai ke Teluk Bayur. Semua biaya untuk itu, lazimnya kita yang menyiapkannya, sedangkan uang kita sangat terbatas sekali. Sebaiknya saya berangkat duluan setelah satu atau dua hari baru menyusul diantar ibu mertua, dan langsung ke rumah mamanda Jurid di Parak Laweh Padang. Mamanda Jurid adalah adik dari ibunda mertua satu ibu, beda ayah. Sementara itu saya bisa menjual gelang ini dan sekalian membeli ticket kapal. Jika demikian, saya hanya meninggalkan uang ongkos bus untuk tiga orang saja. Biasanya kalau ada anak kecil yang dibawa ibunya merantau, pihak bako memberikan uang jajan untuk beli air minum di jalan katanya.

Sebelum berangkat ke Padang besoknya, saya mampir dulu ke rumah ibunda dan nenek untuk pamit dan mohon doa semoga saya selamat dan ditunjuki Allah jalan yang diridhai Nya. Saya katakan si Lisma tidak jadi tinggal dia berangkat sekalian, tapi saya duluan ke Padang untuk membeli ticket. Beliau berpesan supaya kami suami isteri berdamai-damai saja dirantau orang, karena dalam rumah tangga yang damai, Insya Allah rezki akan datang kata beliau. Tidak lupa beliau mengatakan, nanti si Chairman kalau sudah lulus SMA saya suruh dia ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya. Doakan ibunda semoga Allah memberikan rezki kepada kami, untuk melanjutkan sekolah Chairman nanti, kata saya.

Sampai di Padang saya mulai menawar-nawarkan gelang mas yang saya bawa dari Bukittinggi. Umumnya toko emas itu menanyakan surat pembeliannya dulu. Kalau tidak dapat memperlihatkan surat pembelian mereka takut membelinya kalau-kalau gelang yang ditawarkan itu dapat curian. Ada yang berani membeli, tetapi dengan harga tawaran yang murah sekali. Saya tidak berani memutuskan untuk menjualnya, sebaiknya saya tunggu isteri datang, mudah-mudahan masih ada surat pembelian dulu. Dua hari setelah itu, isteri dan anak pun datang bersama ibunda mertua ke rumah mamanda Jurid. Saya katakan bahwa gelang emas itu hanya ditawar sekian oleh toko emas. Tetapi bila ada surat pembelian dulu dia berani menambah menjadi sekian. Istri mengatakan sudah lupa dimana surat pembelian dulu disimpan, kalau begitu terpaksa dijual saja berapa ditawar orang supaya kita bisa berangkat, katanya. Dengan keterangan itu berati isteri sudah ikhlas barang emasnya dijual untuk ongkos ke Jakarta.

Saya bawa gelang emas itu kembali ke toko emas di Padang yang pernah menawar dulu. Dalam perjalan ke toko emas itu, saya liwat Hotel Makudun. Saya pikir sekalian mampir untuk pamit dengan Datuk Makudun yang saya pernah kenal dulu di Bukittinggi dan pernah membawa Kari Jiun membeli ternak dari dia sebanyak 40 ekor tiap-tiap minggu. Begitu saya masuk ruangan kerjanya, dan melihat saya, dia langsung menyapa saya, “kemana saja Naro” katanya, “kenapa tidak pernah mampir-mampir lagi”. Saya katakan, “saya mampir kesini sekalian mau pamit dengan pak Datuk, saya mau ke Jakarta dengan keluarga, mungkin lama lagi kita bertemu”. “Rupanya mau pindah habis ini” katanya.

Sambil berbicara itu dia membuka laci mejanya, sambil menunduk-nunduk, tidak lama setelah itu ditangannya ada emplop dan mengatakan, “kalau begitu ini ada uang sedikit untuk beli air di jalan dengan anak-anak nanti, katanya”. Saya menolak sedikit berbasa-basi, walaupun dalam hati sangat butuh. Akhirnya saya terima emplop itu. Tidak lama kami berbincang-bincang, saya pamit sambil mengucapkan terima kasih dan maaf, kalau ada

MengenaldanMengenangDrs.H.BustamanRahimAkt. 141

kesalahan di masa lalu.Dia pun mengucapkan, mudah-mudahan selamat dan sukses di rantau orang, katanya.

Di tempat yang agak sepi dan jauh dari Hotel Makudun saya buka emplop itu dan hitung uang yang ada di dalamnya. Allaahu Akbar, ternyata isinya lebih besar dari nilai gelang emas yang ditawar toko emas beberapa hari yang lalu. Memang rezki, kalau sudah ditentukan Allah tidak kemana. Kalau bukan rezki sekalipun sudah dijanjikan oleh Kari Jiun untuk memberikan uang jasa buat saya, tenyata dia berbelit-belit untuk ingkar janji. Sedangkan dengan Datuk Makudun tidak pernah dia berjanji tetapi dia sisihkan juga rezki buat saya akibat transaksinya dengan Kari Jiun yang saya perkenalkan beberapa bulan yang lalu.

Setelah mengetahui isi emplop itu saya tidak jadi pergi ke toko emas untuk menjual gelang isteri, tapi langsung ke Teluk Bayur membeli tiga buah ticket ke Jakarta yang akan berangkat dua hari lagi. Setelah ticket dibeli, ternyata uang sisanya masih cukup untuk membeli susu anak dan keperluan dapur beberapa hari di Jakarta. Setelah sampai di rumah saya ceritakan kepada isteri, tentang Rachmat Allah yang diberikan Nya kepada kami sambil mengembalikan gelang emasnya, kelihatan berkaca-kaca matanya tanda bersyukur kepada Allah Swt, yang telah melepaskan kami dari satu kesulitan yang rumit itu.

Bekerja di PT Tritunggal (Distributor Ban Goodyear)

Dengan membaca Bismillaahirahmaanirrahiim, kami berangkat ke Jakarta tiga beranak. Beban yang kami bawa adalah sebuah kasur bujang ukuran kecil, sebuah koper besi kecil berisi pakaian kami bertiga, dan sebuah tentengan berisi pakaian anak yang masih berumur 9 bulan. Kasur dan koper besi kecil menjadi beban saya sedangkan beban isteri adalah menggendong anak beserta satu tentengan. Alhamdulillah, setelah berlayar selama tiga malam dan tiga hari, kami selamat sampai di Tanjung Priok. Kebetulan isteri tidak mabuk- mabuk dan sikecil pun tidak cengeng di atas kapal,. walupun itu baru pertama kali mereka berlayar.

Waktu turun kapal kami pilih belakangan menunggu orang sepi dulu, karena jika turun buru-buru orang berdesak-desakan sedangkan kami membawa bayi dan beban yang dipikul sendiri. Tidak terpikirkan untuk mengupahkan membawa barang-barang itu kepada kuli angkut yang banyak berdatangan ke atas kapal. Setelah sepi penumpang turun, kami mulai berjalan pelahan-lahan menuruni tangga kapal yang agak goyang itu.

Sampai di bawah tangga, kebetulan saya bertemu dengan seorang teman, orang kecamatan kita juga, dengan kunci mobil di tangannya sedang menunggu orang tuanya dari kampung. Rupanya orang tuanya tidak jadi datang, dan permisi duluan pulang ke Jakarta katanya. Saya tadinya berpikiran dan berharap dia menawarkan kepada kami, yang sedang repot membawa barang-barang beserta seorang bayi untuk ikut mobilnya dan mengantarkan ke alamat yang kami tuju. Ternyata tidak, dan sayapun tidak berkeinginan pula meminta bantuan kepada orang yang kurang berbudi demikian. Allah Swt memperlihatkan kebesarannya. Berpuluh tahun kemudian orang itu datang kepada saya minta tolong agar anaknya, seorang gadis diterima bekerja di Kantor Akuntan yang saya pimpin. Tanpa pikir panjang dengan senang hati dia saya terima bekerja sampai dia mengudurkan diri, karena

MengenaldanMengenangDrs.H.BustamanRahimAkt. 142

mau menikah. Saya ingat pepatah melayu berbunyi “Berbuat baiklah bila ada kesempatan, berbuat jahat sekali jangan”.

Di dalam pelabuhan tidak ada kendaraan umum, kecuali taksi dan bus-bus instansi yang sedang menunggu anggotanya, seperti bus Angkatan Laut, bus Angkatan Darat dan lain-lain. Terpaksa kami berjalan kaki menuju kendaraan umum yang jaraknya kira-kira 2 kilo meter dari pelabuhan tempat kami turun tadi. Alhamdulillah, setelah berjalan kira-kira 5 menit ada truk berhenti dekat kami. Sopirnya menawarkan kepada kami, agar isteri dan anak beserta kasur dan koper dititipkan saja di atas truknya, sedangkan saya sendiri berjalan kaki. Nanti saya turunkan isteri bapak dan barang-barang di hadapan stasiun Tanjung Priok katanya. Kasihan anak kecil, nanti sakit kalau diajak jalan kaki di panas panas begini katanya. Sampai sekarang, di umur senja begini saya masih ingat budi baik seorang sopir truk, yang tidak mempunyai pendidikan yang lumayan. Semoga Allah menerima amal baiknya dan membalasnya berlipat ganda khusus kepada kami beberapa puluh tahun lalu. Amin!

Ada kira-kira setengah jam saya berjalan kaki menuju stasiun Tanjungpriok, dari jauh sudah kelihatan isteri dan anak sedang menunggu. Di hadapan stasiun Tanjungpriok sudah banyak kendaraan umum, seperti beca, delman dan lain-lain. Kami naik delman menuju Jalan Geneng ke rumah mamanda Yubhar. Rumah mamanda Yubhar, selalu terbuka menerima tumpangan orang-orang dari kampung, tidak saja dari Parit Putus bahkan dari kampung lain sekalipun. Apalagi Lisma adalah anak dari kakak beliau Ginam yang tidak mungkin beliau tolak.

Sampai d irumah, mamanda Yubhar belum pulang dari kantor. Isteri beliau etek Jalisah menyediakan kamar untuk kami.Waktu kami sedang minum teh, etek Jalisah mengatakan, beberapa hari yang lalu ada tamu datang mencari saya kerumah ini namanya Syarif Johan. Dia berpesan kalau Bustaman sudah datang supaya menghubungi dia di PT Tritunggal Jalan Cikini Raya dekat pintu masuk Dewan Kesenian sekarang. Besok pagi saya pergi menemui pak Syarif Johan dengan menompang kereta api listrik, turun di perhentian Gondangdia. Berjalan kaki agak satu kilometer, kira-kira duapuluh menit sudah sampai di kantor pak Syarif Johan. Alhamdulilah beliau ada, dan gembira saya sudah datang. Berbasa basi sebentar, langsung beliau mengatakan bahwa di kantor itu ada lowongan untuk di bagian pembukuan dan lain-lain. Beliau tidak menyebut gaji, kalau mau besok boleh mulai bekerja kata beliau. Pucuk dicinta ulam tiba, kata orang. Saya katakan, memang saya ke Jakarta untuk mencari kerja, kalau bisa sore mau belajar lagi. Saya senang sekali kembali menjadi pembantu pak Syarif Johan, karena sudah berpengalaman selama lebih kurang satu tahun di

Dalam dokumen 116207204 Biografi Bustaman Rahim. pdf (Halaman 138-156)