• Tidak ada hasil yang ditemukan

PINDAH KE BANDUNG (AWAL l953 –PERTENGAHAN 1954) 88

Dalam dokumen 116207204 Biografi Bustaman Rahim. pdf (Halaman 89-123)

Sejak beberapa bulan terakhir suasana kerja di kantor sudah tidak nyaman lagi. Hubungan dengan teman se kerja tidak harmonis, suka sindir menyindir yang menyakitkan hati. Suasana ini rupanya tercium oleh Kepala Bagian Pembukuan, dan dia menasehati saya supaya bersabar. Nanti lama kelamaan mereka akan sadar sendri katanya. Dalam hati saya sudah bertekad untuk mencari pekerjaan ditempat lain. Mudah-mudahan dengan modal ijazah tata-buku Bond A akan lebih memudahkan mencari pekerjaan, karena sudah ada keterampilan yang sifatnya khusus. Saya tidak berani berhenti dulu baru mencari pekerjaan, karena saya hidup sekarang tidak sendiri lagi, tetapi sudah berdua dengan adik.

Untuk mengurangi stress di kantor, saya ambil cuti. Waktu cuti saya, saya gunakan untuk membawa jalan-jalan ibunda dan adik ke beberapa tempat di Jakarta, khusus ke tempat–tempat keluarga ke rumah kakanda Nurbeiti yang waktu itu tinggal di kawasan Jatinegara. Tidak lama ibunda di Jakarta, kira-kira seminggu beliau sudah ingin pulang, kasihan nenek tinggal kata beliau. Kabetulan waktu itu pendaftaran murid baru di SMA sudah mulai dibuka. Untuk menyenangkan hati beliau saya daftarkan dulu adik di SMA Budi Utomo yang pagi, karena kalau sore dipakai SMA Demobilisan dan Alhamdulilah dia diterima sekolah di situ. Setelah itu baru saya urus ticket kapal untuk ibunda pulang ke Padang.

Tunjangan dari Kantor Demobilisan Pelajar masih berjalan terus. Di sana sudah banyak juga teman-teman se daerah berkenalan, ada yang bekas Tentara Pelajar ada juga yang bekas geriliawan seperti saya. Pada saat pengambilan tunjangan bulan Desember 1952, itu saya berkenalan dengan Lukman orang kampung Salo, kenagarian Kamang Mudik, bersebelahan dengan kampung baso arah ke Bukit Barisan. Dia bekas geriliawan Sektor III/A Kamang, tempat keluarga kami mengungsi dulu. Dari dia saya mendapat informasi bahwa ada Peraturan Pemerintah No. 6 tahun l950. yang memberikan uang tunggu (onderstand) kepada bekas-bekas pejuang, sesuai dengan lama masanya berjuang. Untuk mendapatkan tunjangan itu diurus di Ajudan Jenderal Angkatan Darat di Bandung. Dia sendiri bermaksud akan ke Bandung mengurus tunjangan itu. Karena masa cuti saya masih ada seminggu lagi, maka saya ajak dia bersama-sama mengurusnya di Ajudan Jenderal di Bandung. Lukman sejak berhenti dari geriliawan dia berdagang, dan tidak terikat dengan waktu. Begitu mendapat ajakan dari saya dia langsung setuju, karena dia sendiri sudah lama ingin mengurus tetapi tidak ada teman untuk sama-sama ke sana sehingga belum jadi.

Karena hari masih pagi, kira-kira jam 10.00 saya sarankan berangkat sekarang saja. Kita pulang dulu ke rumah saya mengambil surat-surat dan pakaian seperlunya dan sudah itu ke rumah dia mengambil hal yang sama. Setelah itu kita langsung berangkat dengan bus ke Bandung. Nanti disana kita menginap di losmen yang ada disekitar perhentian bus. Besok paginya langsung kita ke Ajudan Jenderal. Kalau selesai hari itu sorenya kita bisa pulang lagi ke Jakarta. Kalau tidak selesai kita menginap semalam lagi, setelah itu baru kita pulang ke Jakarta. Usul ini pun dia setujui, rupanya dia mendengar dari teman-temannya yang sudah mendapat tunjangan ini jumlahnya cukup besar, dan bisa untuk tambah-tambah modal dagangnya. Usul itu saya kemukakan mengingat masa cuti saya tinggal beberapa hari lagi,

MengenaldanMengenangDrs.H.BustamanRahimAkt. 89

kalau tidak sekarang, saya harus menunggu kesempatan lain, yang belum tentu kapan waktunya. Saya ingat lagi proverb Inggeris mengatakan “Strike the iron while it is hot”. Dengan membaca Bismillaahirrahmaanirrahiim, dari Kantor Demobilisan Pelajar kami berangkat sesuai dengan jadwal yang disepakati untuk langsung ke Bandung. Dalam perjalanan kami banyak bercerita dan bertanya. Sebagai teman baru rasanya saya ingin mengenal lebih dekat, barangkali ada di antara teman-teman saya yang dia juga kenal dan sebaliknya. Rupanya dia kenal juga dengan Ali Amran teman saya di sipil Angkatan Laut yang mengajak saya tinggal di mess Manggarai. Lukman lebih tua dari saya kira-kira 2 tahun, dan sebagai orang Minangkabau saya panggil dia tuan atau kakak. Akhirnya kami intim bahkan seperti saudara, dan dia menganggap Chairman juga sebagai adiknya. Kalau dia pulang kampung selalu mampir ke ibunda di Parit Putus.

Kami sampai di Bandung sudah malam. Dalam perjalanan saya sudah mulai bertanya- tanya kepada penumpang yang duduk dekat dengan saya, losmen yang dekat dengan pemberhentian bus. Dia mengatakan ada banyak dan dia menyebut salah satu nama losmen yang dekat ke terminal bus. Jadi kami tidak perlu kawatir. Losmen adalah hotel murahan tempat orang-orang pedagang keliling menginap untuk satu atau dua malam menunggu dagangannya laku habis. Turun dari bus kami langsung mencari losmen terdekat, dan kami pilih satu kamar untuk dua orang.

Besok pagi-pagi kami sudah bangun, mandi dan sebagainya. Rupanya di losmen itu pagi-pagi sebagai service diberi segelas kopi atau teh sesuai dengan permintaan. Kepada room boy yang mengantarkan kopi pagi itu kami bertanya dimana kantor Ajudan Jenderal Angkatan Darat. Dia juga tidak tahu, tetapi dia akan menanyakan dulu kepada yang penerima tamu didepan. Tidak lama kemudian dia kembali dan mengatakan dekat lapangan Siliwangi. Jam 6.00 pagi kami sudah mulai keluar kamar, siap-siap pergi ke kantor Ajudan Jenderal. Waktu itu di Bandung masih bebas beca, boleh kemana saja, belum ada larangan seperti sekarang. Supaya tidak kemahalan menawarnya, kami tanyakan dulu kepada penerima tamu didepan, kalau ke lapangan Siliwangi, berapa sewa beca kesana?. Dia menjawab kira-kira sekian. Dengan jawaban itu kami sudah punya ancar-ancar untuk menawar nanti yang pantas dan tidak kemahalan.

Jam kantor waktu itu, hari Senin s/d Kamis dari jam 7.00 pagi sampai jam 2.00 siang, hari Jumat dari jam 7.00 pagi sampai sampai jam 11.00 siang dan hari Sabtu dari jam 7.00 pagi sampai jam 1.00 siang. Tepat jam 7.00 kami sudah sampai di depan piket Ajudan Jenderal Angkatan Darat. Kepada piket kami menanyakan bagian yang mengurus onderstand bekas pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Dia menunjuk ke lantai atas, salah satu kamar yang ada loketnya. Kami naik menuju arah yang di tunjuk dan kami melihat ada papan pengumuman, kami baca satu persatu. Ternyata di salah satu pengumuman ada petunjuk cara-cara dan syarat-syarat mengurus onderstand. Syarat-syaratnya hampir sama dengan mengurus Demobilisan Pelajar dulu. Kebetulan saya masih punya satu set arsipnya. Sedangkan Lukman tidak punya salinan Surat Keputusan Berhenti yang di syahkan oleh Camat atau instansi pemerintah tempat yang bersangkutan bekerja. Waktu itu belum ada foto copy. Surat Keputusan Berhenti itu disalin dulu dengan mesin tik, setelah itu di bawa ke

MengenaldanMengenangDrs.H.BustamanRahimAkt. 90

kantor Kecamatan dinyatakan “Sesuai dengan aslinya” dan dibubuhi tanda tangan Camat atau pejabat yang berwenang dan distempel.

Karena saya merasa syarat-syaratnya sudah lengkap, maka saya ajak Lukman pergi ke loket minta formulir untuk diisi. Kami minta dua set formulir untuk saya dan Lukman. Formulir saya, langsung saya isi disitu, dilengkapi dengan syarat-syaratnya ditanda tangani dan diserahkan ke petugas loket. Oleh petugas loket, diperiksa dan dicocokkan dengan aslinya, langsung dibuat resu penerimaan. Saya diminta kembali seminggu ke depan, sesuai dengan tanggal kembali yang tercantum dalam resu penerimaan. Formulir Lukman di bawa dulu ke Jakarta untuk dilengkapi dengan Salinan Surat Pemberhentian yang di ketahui oleh Camat, dan pas foto. Selesai dari Ajudan Jenderal kami langsung ke losmen untuk kembali ke Jakarta.

Dalam perjalanan pulang kami tidak banyak berbicara, karena masing-masing sudah capek, dan saya mulai berangan-angan. Bila ini berhasil maka banyak bekas anak-anak buah saya di Sektor III/B yang akan saya bantu mendapatkan onderstand ini. Tanpa disadari kami sudah sampai di Jakarta. Kami berjanji dengan Lukman untuk bersama-sama lagi ke Bandung minggu depan dengan kereta api. Berangkat pagi-pagi dari Jakarta langsung ke Bandung, dan dari stasiun Bandung langsung ke Ajudan Jenderal.

Mengurus Pensiun Bekas-Bekas Pejuang Sesuai Dengan Peratuan Pemerintah

Beberapa hari lagi saya sudah mesti masuk kantor lagi, yaitu awal Januari 1953, karena masa cuti sudah habis. Saya berdoa, mudah-mudahan urusan dengan Ajudan Jenderal ini berhasil. Kalau berhasil saya sudah bertekad bulat untuk meninggalkan Persdi Ltd, Mungkin bulan ini adalah bulan terakhir saya bertemu dengan teman-teman di Persdi Ltd, Sementara waktu saya akan konsentarsi dalam pengurusan onderstand bekas-bekas pejuang khusus bekas Sektor III/B. Mungkin ini adalah jalan keluar yang terbaik dari problem yang saya hadapi.

Setelah masa cuti saya habis, saya masuk kantor lagi seperti biasa. Saya berusaha memperlihatkan sikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa antara saya dengan teman sekerja lainnya, dengan harapan suasana akan berobah setelah saya cuti. Ternyata keadaan lebih buruk dari apa yang saya duga. Sekarang tidak saja sikap teman-teman sekerja yang kurang baik dengan saya tetapi Direktur Utama sendiri sudah tidak senang dengan saya. Caranya adalah dengan mencopot sebagian tugas dan wewenang saya sebelumnya dilimpahkan ke bagian lain . Tenaga di bagian Personalia itu semasa pak Aga Kartanagara masih hidup hanya kami berdua saja. Setelah pak Aga Kartanagara meninggal tinggal saya sendiri. Sewaktu saya cuti, untuk pekerjaan yang mesti dikerjakan rutin mingguan saya limpahkan sementara ke bagian Umum, sedangkan tugas yang harus dikerjakan bulanan tidak saya limpahkan ke bagian lain.

Melihat suasana demikian, tidak ada jalan lain kecuali hari itu saya siapkan surat permohonan berhenti mulai tanggal satu bulan berikutnya. Dalam surat tersebut saya ajukan sekalian permohonan cuti yang masih menjadi hak saya tersisa beberapa hari. Sebelum pulang kantor, saya sampaikan surat permohonan berhenti itu langsung kepada Direktur utama, dengan alasan akan pindah ke Bandung. Besoknya saya dipanggil ke kamar Direktur

MengenaldanMengenangDrs.H.BustamanRahimAkt. 91

Utama. Di dalam kamar sudah ada kepala Bagian Pembukuan dan Kepala Bagian Umum. Beliau mengatakan, karena saya akan berhenti akhir bulan supaya tugas dan wewenang saya selama ini di timbang terimakan sebagian ke Bagian Umum dan sebagian ke Bagian Pembukuan. Dari pembicaraan Direktur Utama tersebut sudah tersirat bahwa permohonan berhenti saya sudah disetujui.

Saya katakan bahwa akan saya selesaikan seluruh tugas yang menjadi beban saya sampai akhir bulan ini, dan setelah itu baru akan saya serahkan sesuai dengan perintah Direktur Utama. Saya mohon diizinkan mengambil cuti beberapa hari yang tersisa secara tidak berurut, sesuai dengan keperluan saya.

Beberapa hari ke depan, tiba jadwal kami mendatangai Ajudan Jenderal Angkatan Darat di Bandung. Sesuai dengan kesepakatan dengan Lukman, bahwa pada hari itu kami akan bertemu di Stasion Jatinegara jam 6.00 pagi untuk bersama-sama berangkat ke Bandung. Waktu itu hubungan telpon masih langka, tidak ada istilah konfirmasi lebih dahulu untuk tiap-tiap janji yang dibuat. Saya berusaha untuk menepati tiap-tiap janji yang saya buat. Karena itu saya datang pada hari dan jam yang telah ditentukan dan berharap juga Lukman demikian. Lima menit setelah saya menunggu, Lukman pun datang tergesa-gesa. Kami langsung membeli karcis kereta api dan naik. Tidak lama kemudian kereta api pun berangkat menuju Stasion Bandung.

Kira-kira jam 10,30 pagi kami sampai di stasion Bandung. Dengan menaiki beca kami diantarkan ke kantor Ajudan Jenderal dekat lapangan Siliwangi Bandung. Di situ sudah ada beberapa orang yang antre menunggu giliran. Kami baru kebagian kira-kira jam 1.00 siang. Di hadapan saya antre adalah Lukman yang hanya menyerahkan formulir berikut syarat- syaratnya. Setelah menerima resu penerimaan dia keluar dan sekarang giliran saya yang diladeni. Saya menyerahkan resu penerimaan yang mereka berikan minggu lalu. Setelah menerima resu tersebut dia berdiri sebentar mencari-cari emplop yang tersusun di dalam lemari di belakang petugas yang bersangkutan. Tidak lama dia mengambil sebuah emplop dan menyerahkan kepada saya, supaya membawa emplop itu pergi ke Bagian Keuangan Ajudan Jenderal yang berlokasi di Jalan Aceh Bandung. Saya melihat jam sudah menunjukkan 1,15 Masih ada waktu 45 menit lagi sebelum kantor tutup. Kami segera ke Jalan Aceh dengan beca dan Alhamdulillah loket bagian Keuangan masih bersedia menerima amplop yang saya bawa dari Ajudan Jenderal. Mereka buka dan periksa kelengkapannya dan membuat tanda terima, menyuruh saya kembali minggu depan untuk mengambil mandat ke Kas Negara di Jalan Asia Afrika.

Sungguh padat tugas kami hari itu, tapi kami puas segala sesuatu berjalan sebagaimana diharapkan. Sore itu kami akan pulang ke Jakarta, dan akan kembali seminggu ke depan. Sampai di Jakarta kami berpisah kembali dan berjanji untuk bertemu lagi di Stasion Jatinegara seperti tadi pagi. Sesampai saya dirumah saya mendapat kabar bahwa hari itu merupakan hari pertama bagi Chairman mulai sekolah di SMA Budi Utomo. Saya tanyakan apa-apa kebutuhan sekolahnya. Dia menyodorkan satu daftar kebutuhan yang perlu dipersiapkan. Mumpung masih ada waktu dan mungkin masih ada beberapa toko yang buka malam itu, kami segera pergi ke pasar Jatinegara untuk mencari perlengkapan sekolah yang diperlukan.

MengenaldanMengenangDrs.H.BustamanRahimAkt. 92

Besoknya, sebagaimana biasa saya pergi ke kantor Persdi Ltd, untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang akan diserah terimakan akhir bulan ke bagian-bagian yang ditunjuk Direktur Utama. Saya ingin meniggalkan perusahaan tempat saya bekerja dalam keadaan tidak punya utang pekerjaan maupun utang lainnya. Suasana kantor agak berbeda dengan sebelumnya. Ada teman-teman yang tadinya ikut-ikutan sinis melihat saya, sekarang mendekat dan bertanya nanti kalau sudah berhenti dari sini mau bekerja dimana ? katanya. Sedangkan Kepala Bagian Pembkuan minta alamat saya, yang nanti akan menghubungi bila ada teman yang mencari tenaga yang mempunyai ijazah Bond A.dia akan beri tahukan kepada saya.

Tepat pada hari dan jam yang kami sepakati, saya dan Lukman bertemu lagi di staion Kereta Api Jatinegara, untuk berangkat ke Bandung. Sesampai di Bandung, sebagai tanda setia kawan kami pergi dulu ke Kantor Ajudan Jenderal untuk urusan Lukman, setelah itu baru kami pergi ke Bagian Keuangan Ajudan Jenderal di Jalan Kalimantan untuk urusan saya dan urusan Lukman. Lukman menyerahkan surat pengantar dari Ajudan Jenderal, sedangkan saya menunggu keluarnya mandat untuk dibawa ke Kas Negara. Mandat adalah Surat Perintah Bayar ke Kas Negara. Kas Negaralah yang berhak mengeluarkan uang negara berdasarkan mandat yang dikeluarkan oleh instansi-instasni yang berwenang. Setelah saya serahkan resu yang saya terima minggu yang lalu, saya disuruh tunggu sebentar. Tidak lama setelah itu saya di panggil dan menerima dua buah emplop, yang satu emplop dengan alamat Kepala Kantor Kas Negara di Bandung, yang satu lagi emplop alamat ke saya sebagai tembusan. .

Setelah saya buka emplop yang dialamatkan kepada saya, alangkah surprisenya saya melihat angka rupiah tunjangan yang akan saya terima. Menurut ukuran saya adalah suatu jumlah yang besar waktu itu, mungkin karena sifat tunjangan ini adalah sekaligus. Seterima surat itu kami langsung pergi ke Kantor Kas Negara dengan menggunakan beca untuk mencairkan mandat yang baru saja saya terima. Sekarang sudah bulat keputusan saya untuk pindah ke Bandung sesuai dengan angan-angan saya waktu pertama kali mengurus onderstand ini untuk membantu teman-teman bekas pejuang di Sektor III/B.

Setelah uang saya terima saya ajak Lukman pergi makan dulu ketempat kami makan selama di Bandung, yaitu di rumah makan Padang mak Itam di Banceuy. Tempat toko-toko bursa elektronika sekarang. Kebetulan disitu bertemu dengan Hasan Basri, orang Bukit Batabuh, bekas teman di Sektor III/B dulu Seksi I. Dia masih berpakaian tentara dengan pangkat Sersan Mayor. Saya tanyakan dimana dia tinggal, dia mengatakan dia kos di Jalan Ciateul, dirumah orang KotoTuo bernama Saemar. Saya tanyakan, apakah masih ada tempat disana, dia mengatakan masih ada, kalau mau tinggal disana dia mengajak saya melihat dan bertemu dengan pak Saemar. Saya pikir, karena tekad sudah bulat untuk pindah ke Bandung, dari pada menyewa di losmen terus menerus lebih baik kos saja disana sambil mendapat tempat yang lebih sesui untuk berdua dengan adik.

Kami naik beca bertiga ke Jalan Ciateul melihat tempat kos dan berkenalan dengan pak Saemar pemilik rumah. Setelah melihat kamar yang akan saya tempati, dan berkenalan dengan pak Saemar, saya langsung setujui dan membayar uang kos untuk 1 bulan kedepan. Saya katakan bahwa saya nanti masuk minggu depan, sesuai dengan hari Lukman akan

MengenaldanMengenangDrs.H.BustamanRahimAkt. 93

mengambil mandatnya dari Bagian Keuangan Ajudan Jenderal dan mecairkannya di Kantor Kas Negara. Selesai basa-basi dengan pak Saemar dan Hasan Basri, kami pamit untuk kembali ke Jakarta.

Pada saat pertama kali saya datang ke Kantor Ajudan Jenderal Angkatan Darat di Bandung, saya sudah mulai yakin bahwa memang ada tunjangan Pemerintah bagi pejuang kemerdekaan RI. Seperti yang diinformasikan oleh Lukman kepada saya pada waktu bertemu pertama kali di Kantor Demobilisan dua minggu yang lalu. Sejak itu saya sudah mulai menulis surat kepada teman-teman dekat menginformasikan mengenai Peraturan Pemerintah tersebut berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi. Bila ada yang berminat untuk mengurusnya sendiri, saya akan membantu menemaninya. Kepada yang berhalangan mengurusnya sendiri dapat memberi kuasa kepada saya untuk mengurusnya sampai selesai, dengan memberikan Surat Kuasa yang ditanda tangani diatas kertas meterai. Nanti datang ke Bandung kalau sudah akan mencairkan mandatnya di Kantor Kas Negara, yang harus dilakukan sendiri oleh orang yang namanya tercantum dalam mandat tersebut, tidak dapat dikuasakan.

Kami sampai di Jakarta sudah agak malam. Dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta saya sangat hati-hati sekali menjaga uang yang baru saya terima dari Kas Negara Bandung. Kami berjanji dengan Lukman bahwa minggu depan bersama-sama lagi ke Bandung, dengan tujuan yang berbeda. Lukman ke Bandung untuk mencairkan mandat yang akan diterimanya di Kas Negara, setelah itu dia pulang lagi ke Jakarta, sedangkan saya pergi ke Bandung dengan pakaian dan perlengkapan lainnya untuk mempersiapkan diri pindah dan domisili di Bandung untuk waktu yang tidak ditentukan.

Malam itu dari Anwar Jamil yang serumah dengan kami, memberitahukan bahwa sore tadi ada seorang tamu ingin bertemu dengan saya. Katanya dia bermaksud minta bantuan saya untuk mengurus onderstand di Ajudan Jenderal Angkatan Darat di Bandung. Dia berjanji besok sore akan datang lagi, dan harap ditunggu. Besok kira-kira jam 5.00 sore datang seseorang yang mengaku dia adalah teman dari teman saya yang saya kirimi surat tentang pencairan tunjangan onderstand dari Ajudan Jenederal Angkatan Darat di Bandung. Dia perlihatkan Surat Keputusan Berhenti dengan pangkat Pembantu Letnan dari Komandan Kompi yang bemarkas di Payakumbuh. Saya panggil dia Datuk, gelar umum untuk orang Payakumbuh Dia mengatakan Insya Allah nanti kalau berhasil dia akan memberikan jasa kebaikan saya sebesar 10% dari jumlah yang akan dia terima. Setelah saya teliti ternyata masih ada syarat yang belum lengkap, yaitu salinan Surat Keputusan Berhenti yang diketahui oleh Camat dan pas-foto ukuran 4 x 6 sebanyak 3 lembar. Saya minta dia meyiapkan kekurangannya dalam beberapa hari dan minggu depan hari yang ditentukan, saya ajak dia bersama-sama kami ke Bandung dan bertemu di Stasion Kereta Api Jatinegara jam 6.00 pagi. Malam itu kepada Anwar Jamil saya katakan bahwa saya akan berhenti dari Persdi Ltd, akhir bulan, dan bermaksud akan pindah ke Bandung. Chairman sementara biar tetap disini dulu sampai ada kepastian lapangan hidup di Bandung. Saya ceritakan penderitaan batin saya di kantor Persdi Ltd, bulan-bulan terakhir, dan keberhasilan saya mendapatkan onderstand dari Ajudan Jenderal Angkatan Darat di Bandung. Sambil menunggu pekerjaan tetap maka saya akan membantu teman-teman bekas pejuang menguruskan onderstand nya di Bandung.

Dalam dokumen 116207204 Biografi Bustaman Rahim. pdf (Halaman 89-123)