Masa adaptasi diberlakukan selama enam hari untuk membiasakan mencit terhadap lingkungan dan pakan yang baru. Selain itu, masa adaptasi ini juga ditujukan untuk melihat kondisi kesehatan mencit yang akan mendapat perlakuan. Pergantian pakan dilakukan setiap hari agar mencit selalu mendapat makanan yang segar dan juga untuk mengetahui jumlah konsumsi pakan mencit setiap harinya. Mencit diukur berat badannya setiap dua kali dalam satu minggu. Setiap kelompok mencit mengalami kenaikan berat badan selama perlakuan sebelum transplantasi tumor. Penurunan berat badan di beberapa titik pada masa ini lebih disebabkan karena pengaruh adaptasi mencit terhadap lingkungan, stress akibat pemberian pakan, penimbangan berat badan, atau penggantian air minum. Kondisi stres akan mempengaruhi selera makan mencit yang kemudian berefek terhadap berat badan yang turun. Pada masa ini mencit kelompok perlakuan memiliki berat badan yang bervariasi terhadap kontrol. Berat badan mencit kelompok C (21.1±1.6 gram) dan D (20.8±1.4 gram) menunjukkan korelasi yang tidak berbeda nyata (p>0.05). Akan tetapi, berat badan mencit kelompok C dan D nyata lebih besar terhadap mencit kelompok kontrol A (19.6±1.7 gram) dan B (19.5±2.0 gram). Mencit kelompok E memiliki rerata berat badan sebesar 17.2±1.0 gram yang nyata lebih kecil terhadap kontrol dan kelompok C dan D. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa awal perlakuan, mencit yang mengonsumsi pakan mengandung bubuk daun cincau hijau dosis 0.88% (C) dan 1.76% (D) memiliki berat badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mencit kontrol. Sementara itu, mencit dengan dosis bubuk daun cincau hijau 2.64% (E) cenderung memiliki berat badan yang lebih rendah dari mencit kontrol.
Gambar 5. Grafik berat badan mencit pada awal perlakuan
Berat badan yang rendah mungkin disebabkan oleh adanya komponen serat bubuk daun cincau hijau yang tinggi. Menurut Muchtadi (2001), serat pangan dapat menghalangi penyerapan zat gizi seperti gula, protein, dan lemak. Jacobus (2003) menyatakan bahwa konsumsi bubuk gel daun cincau hijau Cyclea barbata L.Miers dan Premna oblongifolia Merr dapat mengurangi laju kenaikan berat badan tikus. Semakin tinggi konsentrasi bubuk gel daun cincau hijau yang
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 B er a t b a d a n ( g ) pengukuran ke- A B C D E
dikonsumsi, laju kenaikan berat badan tikus akan semakin berkurang. Oleh karena itu, pertambahan berat badan pada mencit kelompok E cenderung lebih rendah daripada mencit kontrol. Apabila dilihat dari konsumsi pakan mencit pada awal perlakuan, jumlah konsumsi pakan pada mencit B, C, D, dan E tidak berbeda nyata (p>0.05). Rerata jumlah pakan yang dikonsumsi mencit perlakuan secara berturut-turut adalah 1.77±0.21 gram, 1.80±0.31 gram, dan 1.83±0.13 gram. Jumlah konsumsi pakan yang tidak berbeda nyata dan dosis bubuk daun cincau hijau yang meningkat ternyata mempengaruhi berat badan mencit pada kelompok E. Mencit kelompok E memiliki rerata berat badan paling rendah. Sementara itu, rerata jumlah konsumsi mencit kelompok kontrol positif (A) adalah 2.24±0.28 gram dan kelompok kontrol negatif (B) adalah 1.78±0.19 gram.
Setelah transplantasi tumor, berat badan mencit secara umum mengalami kenaikan yang salah satunya disebabkan karena adanya pertumbuhan jaringan tumor. Pengukuran berat badan dilakukan secara langsung dengan menimbang mencit bertumor, sehingga berat badan total sebenarnya adalah berat badan mencit ditambah dengan berat jaringan tumor. Menurut Chalid (2003) diduga pertambahan berat badan tersebut akibat pertumbuhan tumor yang makin membesar. Mencit kelompok kontrol positif (A), C, dan D cenderung memiliki berat badan yang tidak berbeda nyata (p>0.05), Rerata berat badan masing-masing kelompok ini secara berturut- turut adalah 22.7±1.4 gram, 22.5±0.5 gram, dan 22.0±0.4 gram. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh konsumsi pakan dengan dosis bubuk daun cincau hijau 0.88% dan 1.76% terhadap rerata berat badan yang tidak berbeda nyata (p>0.05) antara mencit perlakuan C dan D dengan kelompok kontrol positif (A). Mencit kelompok kontrol negatif (B) memiliki rerata berat badan 21.2±0.5 gram, sedangkan mencit kelompok E memiliki rerata berat badan sebesar 18.4±1.3 gram. Apabila dilihat dari konsumsi pakan mencit pada akhir perlakuan, jumlah konsumsi pakan pada mencit kelompok C, D, dan E tidak berbeda nyata (p>0.05). Rerata jumlah pakan yang dikonsumsi mencit kelompok C, D, dan E secara berturut-turut adalah 1.91±0.05 gram, 1.83±0.23 gram, dan 1.91±0.21 gram. Jumlah konsumsi pakan yang tidak berbeda nyata dan dosis bubuk daun cincau hijau yang meningkat ternyata mempengaruhi berat badan mencit pada kelompok E atau dosis bubuk daun cincau hijau 2.64%. Mencit pada kelompok E tersebut memiliki rerata berat badan paling rendah. Sementara itu, rerata jumlah konsumsi pakan mencit kelompok kontrol positif (A) dan kontrol negatif (B) berturut-turut adalah 2.45±0.58 gram dan 1.66±0.25 gram. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata dari transplantasi tumor terhadap jumlah konsumsi pakan mencit.
Faktor-faktor lingkungan baik internal maupun eksternal dapat menginduksi perubahan fisiologis atau tingkah laku dari hewan percobaan. Faktor-faktor tersebut dinamakan stressor. Berbagai macam stressor tersebut yang mengakibatkan terjadinya kondisi stress. Stress yang dialami mencit juga bisa disebabkan oleh luka yang didapat pascatransplantasi sel tumor di daerah subkutan aksila kanan. Efek dari adanya luka yang dialami mencit adalah rasa sakit (NAS 1996). Luka tersebut mengakibatkan rasa sakit yang merupakan efek dari adanya stressor transplantasi. Efek ini diatasi dengan menggunakan etanol 70% di bagian tempat ditransplantasikan sel tumor sebagai tindakan pengurangan rasa sakit yang dialami mencit, sehingga diharapkan stress yang muncul selama masa pertumbuhan tumornya dapat diringankan. Secara umum hal tersebut terbukti dengan kondisi naiknya berat badan mencit pascatransplantasi tumor. Meskipun naiknya berat badan dikarenakan adanya pertumbuhan tumor juga, naiknya berat badan mencit juga menggambarkan bahwa mencit mengonsumsi ransum yang disediakan. Oleh sebab itu, mencit maupun tumor tetap tumbuh dan kondisi stress bisa diringankan.
Gambar 6. Grafik berat badan mencit pada akhir perlakuan
Apabila mencit tidak bisa beradaptasi dengan stressor yang ada, mencit akan mengalami respon fisiologis atau tingkah laku yang abnormal atau dalam kondisi distress. NAS (1996) menambahkan bahwa tanda-tanda secara klinis dan perubahan tingkah laku menjadi abnormal yang diakibatkan oleh adanya luka dan distress dapat mempengaruhi konsumsi pakan dan air minum, akumulasi eksudat berwarna coklat kemerahan di sekeliling mata dan lubang hidung, hilangnya berat badan, penurunan aktivitas, postur yang membungkuk, piloereksi, poor grooming habits, pernafasan yang sulit, vokalisasi, meningkat atau menurunnya keagresifan, dan self- mutilation. Selain itu, dilihat dari grafik profil berat badan mencit kontrol negatif dan perlakuan setelah transplantasi cenderung berada di bawah mencit kelompok kontrol positif. Hal ini membuktikan bahwa kondisi mencit bertumor mampu membuat berat badan mencit cenderung turun. Sindrom seperti ini yang sering terjadi pada penderita kanker dinamakan kakeksia. Kakeksia bisa dicirikan dari profil berat badan yang menurun dan lebih dari 80% pasien yang menderita kanker mengalami kakeksia sebelum kematiannya. Menurut Setiawati (2003) kakeksia pada mencit diduga akibat metabolit abnormal yang dihasilkan selama perkembangan tumor baik oleh sistem imun maupun oleh tumor itu sendiri. Interaksi tumor dengan inangnya juga dapat memengaruhi metabolisme di dalam tubuh. Sel-sel tumor juga membutuhkan asupan nutrisi untuk terus bertahan hidup. Asupan nutrisi tersebut diperoleh dari inangnya. Oleh karena itu, di dalam tubuh penderita kanker tentu terjadi gangguan metabolisme baik makronutrien maupun mikronutrien. Gangguan tersebut mungkin meliputi gangguan pada metabolisme karbohidrat, oksidasi lipid, peningkatan katabolisme protein otot, atau penurunan sintesis protein otot. Dengan demikian, hal ini sejalan dengan Setiawati (2003) bahwa meski kecukupan gizi mencit telah terpenuhi dengan baik ternyata banyak faktor lain yang dapat menyebabkan mencit mengalami kekurangan gizi dan terjadi kakeksia.