Berbasis Sekolah (MPMBS)(MPMBS)
1. Latar belakang 1. Latar belakang
Salah satu masalah pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia aalah Salah satu masalah pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia aalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Berbagai rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, namun usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, namun demikian berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan demikian berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga faktor yang berarti. Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata (MPMBS, 2002 : 1).
(MPMBS, 2002 : 1).
Faktor pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional Faktor pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan
menggunakan pendekatan ““input-output analysisinput-output analysis”” yang tidak dilaksanakan secara yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai konsekuen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai pusat produksi yang
pusat produksi yang apabila dipenuhi apabila dipenuhi semua input semua input yang diperlukan dalm yang diperlukan dalm kegiatankegiatan produksi, maka
produksi, maka lembaga lembaga ini ini akan akan menghasilkan menghasilkan output output yang dikehendaki. yang dikehendaki. DalamDalam kenyataannya mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi, hal ini disebabkan kenyataannya mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi, hal ini disebabkan pendekatan terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pendekatan terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan, padahal proses pend
pada proses pendidikan, padahal proses pendidikan sangat menentukan output.idikan sangat menentukan output. Faktor kedua, penyelenggara pendidikan nasional dilakukan secara Faktor kedua, penyelenggara pendidikan nasional dilakukan secara ““ birokratik-sentralistik birokratik-sentralistik ”,”, sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggaraan sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggaraan pendidikan
pendidikan sangat sangat tergantung tergantung pada pada keputusan keputusan birokasi birokasi yang yang mempunyai mempunyai jalurjalur sangat penjang dan kadang-kadang kebijakan tidak sesuai dengan kondisi sekolah sangat penjang dan kadang-kadang kebijakan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat sehingga sekolah kehilangan kemandirian, keluwesan, motivasi, setempat sehingga sekolah kehilangan kemandirian, keluwesan, motivasi, kreatifitas/inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaga termasuk kreatifitas/inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaga termasuk meningkatkan mutu pendidikan.
meningkatkan mutu pendidikan.
Faktor ketiga, peran serta warga sekolah khususnya guru dan peran serta Faktor ketiga, peran serta warga sekolah khususnya guru dan peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat
Bahan Ajar Profesi Kependidikan |
Bahan Ajar Profesi Kependidikan | Konsep Dasar Manajemen PeningkatKonsep Dasar Manajemen Peningkatan Mutuan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Berbasis Sekolah (MPMBS)
118118
minim. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan padahal minim. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan padahal terjadi atau tidaknya perubahan sangat tergantung pada guru. Partisipasi terjadi atau tidaknya perubahan sangat tergantung pada guru. Partisipasi masyarakat / orang tua murid pada umumnya terbatas pada dukungan dana masyarakat / orang tua murid pada umumnya terbatas pada dukungan dana sedangkan dukungan lain seperti pemikiran, moral, barang / jasa kurang sedangkan dukungan lain seperti pemikiran, moral, barang / jasa kurang diperhatikan. Akuntabilitas sekolah terhadap masyarakat juga lemah, sekolah diperhatikan. Akuntabilitas sekolah terhadap masyarakat juga lemah, sekolah tidak mempunyai beban untuk mempertanggung jawabkan hasil pelaksanaan tidak mempunyai beban untuk mempertanggung jawabkan hasil pelaksanaan pendidian kepada masyarakat, khususny
pendidian kepada masyarakat, khususnya orang tua siswa.a orang tua siswa.
Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, tentu saja perlu dilakukan Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, tentu saja perlu dilakukan upaya-upaya perbaikan, salah satunya adalah melakukan orientasi penyelenggaraan upaya perbaikan, salah satunya adalah melakukan orientasi penyelenggaraan pendidikan
pendidikan yaitu yaitu manajemen manajemen peningkatan peningkatan mutu mutu berbasis berbasis pusat pusat menujumenuju manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah.
manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah.
2. Pengertian MPMBS 2. Pengertian MPMBS
Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dapat diartikan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas/keluwesan kepada sekolah, dan mendorong partisipasi memberikan fleksibilitas/keluwesan kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan) dan secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha dan sebagainya) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan sebagainya) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dengan kemandiriannya, sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan Dengan kemandiriannya, sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program-program
program-program yang yang lebih lebih sesuai sesuai dengan dengan kebutuhan kebutuhan dan dan potensi potensi yangyang dimilikinya. Dengan keluwesan / fleksibilitas, sekolah akan lebih lincah dalam dimilikinya. Dengan keluwesan / fleksibilitas, sekolah akan lebih lincah dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara maksimal. Dengan mengelola dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara maksimal. Dengan melibatkan warga sekolah dan masyarakat secara langsung dalam melibatkan warga sekolah dan masyarakat secara langsung dalam penyelenggaraan
penyelenggaraan sekolah, sekolah, maka maka rasa rasa memiliki memiliki mereka mereka terhadap terhadap sekolah sekolah dapatdapat ditingkatkan, yang kemudian akan diikuti peningkatan tanggung jawabnya ditingkatkan, yang kemudian akan diikuti peningkatan tanggung jawabnya terhadap sekolah
terhadap sekolah
MPMBS merupakan bagian dari Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MPMBS merupakan bagian dari Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS bertujuan untuk meningkatkan semua kinerja sekolah (efektivitas, kualitas, MBS bertujuan untuk meningkatkan semua kinerja sekolah (efektivitas, kualitas, efisiensi, inovasi, relevansi dan pemerataan serta akses pendidikan), maka efisiensi, inovasi, relevansi dan pemerataan serta akses pendidikan), maka MPMBS lebih difokuskan pada peningkatan mutu pendidikan.
Bahan Ajar Profesi Kependidikan |
Bahan Ajar Profesi Kependidikan | Konsep Dasar Manajemen PeningkatKonsep Dasar Manajemen Peningkatan Mutuan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Berbasis Sekolah (MPMBS)
119119
3.
3. Tujuan MPMBSTujuan MPMBS
Manjemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah bertujuan untuk Manjemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melaui pemberian kewenangan memandirikan atau memberdayakan sekolah melaui pemberian kewenangan kepada sekolah, pemberian fleksibilitas yang lebih besar kepada sekolah untuk kepada sekolah, pemberian fleksibilitas yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdaya sekolah dan mendorong partisipasi warga sekolah dan mengelola sumberdaya sekolah dan mendorong partisipasi warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan.
masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Secara rinci MPMBS bertujuan untuk :
Secara rinci MPMBS bertujuan untuk : a.
a. Meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kemandirian,Meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kemandirian, fleksibilitas,partisipasi, keterbukaan, kerjasama, akuntabilitas, fleksibilitas,partisipasi, keterbukaan, kerjasama, akuntabilitas, sustainabilitas, dan inisiatif sekolah dalam mengelola, memanfaatkan, dan sustainabilitas, dan inisiatif sekolah dalam mengelola, memanfaatkan, dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.
memberdayakan sumberdaya yang tersedia. b.
b. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalamMeningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan melalui peng
penyelenggaran pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.ambilan keputusan bersama. c.
c. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, danMeningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya
pemerintah tentang mutu sekolahnya d.
d. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikanMeningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.
yang akan dicapai. 4.
4. PengertPengertian Mutu ian Mutu PendidikanPendidikan
Mutu adalah gambaran dan kasrakteristik menyeluruh dari barang atau jasa Mutu adalah gambaran dan kasrakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan, Dalam kontek pendidikan pengertian mutu mencakup input, proses, diharapkan, Dalam kontek pendidikan pengertian mutu mencakup input, proses, dan output pendidikan. Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia dan output pendidikan. Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Input sumberdaya meliputi karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah, guru termasuk guru BK, karyawan, siswa), sumberdaya manusia (kepala sekolah, guru termasuk guru BK, karyawan, siswa), dan sumberdaya lainnya (peralatan, dana, bahan). Input perangkat lunak meliputi : dan sumberdaya lainnya (peralatan, dana, bahan). Input perangkat lunak meliputi : struktur organisasi sekolah, peraturan perundang-undang, diskripsi tugas, rencana struktur organisasi sekolah, peraturan perundang-undang, diskripsi tugas, rencana program
program dsb. dsb. Input Input harapan-harapan harapan-harapan berupa berupa : : visi, visi, misi, misi, tujuan tujuan dan dan sasaran- sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah. Kesiapan input sangat diperlukan agar sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses
Bahan Ajar Profesi Kependidikan |
Bahan Ajar Profesi Kependidikan | Konsep Dasar Manajemen PeningkatKonsep Dasar Manajemen Peningkatan Mutuan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Berbasis Sekolah (MPMBS)
120120
dari tingkat kesiapan. Makin tinggi tingkat kesiap
dari tingkat kesiapan. Makin tinggi tingkat kesiapan input, makin tinggi pula an input, makin tinggi pula mutumutu input tersebut.
input tersebut.
Proses pendidikan adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu, sesuatu yang Proses pendidikan adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu, sesuatu yang berpengaruh
berpengaruh terhadap terhadap berlangsungnya berlangsungnya proses proses disebut disebut input, input, sedang sedang sesuatu sesuatu daridari hasil proses disebut output. Dalam pendidikan bersekala mikro (tingkat sekolah), hasil proses disebut output. Dalam pendidikan bersekala mikro (tingkat sekolah), proses
proses yang dimaksud yang dimaksud adalah adalah proses proses pengambilan keputusan, pengambilan keputusan, proses proses pengelolaanpengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar-mengajar, proses kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar-mengajar, proses monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar-mengajar memiliki monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar-mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainnya.
tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainnya.
Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah (guru, siswa, kurikulum, dana, peralatan dan serta pemaduan input sekolah (guru, siswa, kurikulum, dana, peralatan dan sebagainya) dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi sebagainya) dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran
pembelajaran yang yang menyenangkan, menyenangkan, mampu mampu mendorong mendorong motivasi motivasi dan dan minatminat belajar, serta mampu memberdayakan peserta didik.
belajar, serta mampu memberdayakan peserta didik.
Output pendidikan adalah merupakan kinerja sekolah, yaitu prestasi sekolah Output pendidikan adalah merupakan kinerja sekolah, yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitas, efektivitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, dan moral kualitas, efektivitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, dan moral kerjanya. Output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi, jika prestasi kerjanya. Output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi, jika prestasi sekolah terutama prestasi belajar siswa, menunjukkkan pencapaian yang tinggi sekolah terutama prestasi belajar siswa, menunjukkkan pencapaian yang tinggi dalam prestasi akademik berupa nilai ulangan/ujian, karya ilmiah, lomba dalam prestasi akademik berupa nilai ulangan/ujian, karya ilmiah, lomba akademik ; dan prestasi non akademik seperti imtaq, kejujuran, kesopanan, akademik ; dan prestasi non akademik seperti imtaq, kejujuran, kesopanan, olahraga, kesenian, keterampilan kejuruan, dan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler olahraga, kesenian, keterampilan kejuruan, dan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak tahapan kegiatan yang saling lainnya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak tahapan kegiatan yang saling berhubungan seperti perencanaan, pelaksanaan, dan pen
berhubungan seperti perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan.gawasan.
5.
5. Pola Baru Manajemen PendidikanPola Baru Manajemen Pendidikan
Bukti empirik lemahnya pola lama manajemen pendidikan nasional dan Bukti empirik lemahnya pola lama manajemen pendidikan nasional dan dilaksanakannya otonomi daerah, telah mendorong dilakukannya penyesuaian dari dilaksanakannya otonomi daerah, telah mendorong dilakukannya penyesuaian dari pola lama menuju pola baru manajemen pendidikan y
pola lama menuju pola baru manajemen pendidikan yang lebih bernuansa otonomiang lebih bernuansa otonomi dan demokratis seperti yang digambarkan dalam tabel berikut ini.
Bahan Ajar Profesi Kependidikan |
Bahan Ajar Profesi Kependidikan | Konsep Dasar Manajemen PeningkatKonsep Dasar Manajemen Peningkatan Mutuan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Berbasis Sekolah (MPMBS)
121121
Dimensi-Dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Dimensi-Dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan
(MPMBS, 2002) (MPMBS, 2002) Pola
Pola Lama Lama Menuju Menuju Pola Pola BaruBaru Subordinasi
Subordinasi
Pengambilan keputusan terpusat Pengambilan keputusan terpusat Ruang gerak kaku
Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Pendekatan birokratik Sentralistik Sentralistik Diatur Diatur Overregulasi Overregulasi Mengontrol Mengontrol Mengarahkan Mengarahkan Menghindari resiko Menghindari resiko Gunakan uang semaunya Gunakan uang semaunya Individual yang cerdas Individual yang cerdas Informasi terpribadi Informasi terpribadi Pendelegasian Pendelegasian Organisasi herarkis Organisasi herarkis Otonomi Otonomi
Pengambilan keputusan partisipatif Pengambilan keputusan partisipatif Ruang gerak luwes
Ruang gerak luwes Pendekatan professional Pendekatan professional Desentralistik Desentralistik Motivasi diri Motivasi diri Deregulasi Deregulasi Mempengaruhi Mempengaruhi Memfasilitasi Memfasilitasi Mengelola resiko Mengelola resiko
Gunakan uang seefisien mungkin Gunakan uang seefisien mungkin Teamwork yang cerdas
Teamwork yang cerdas Informasi terbagi Informasi terbagi Pemberdayaan Pemberdayaan Organisasi datar Organisasi datar
Pada pola lama, tugas dan fungsi sekolah lebih pada melaksanakan Pada pola lama, tugas dan fungsi sekolah lebih pada melaksanakan program
program daripada daripada mengambil mengambil inisiatif, inisiatif, sedangkan sedangkan pola pola baru baru sekolah sekolah memilikimemiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaga, pengambilan keputusan wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaga, pengambilan keputusan dilakukan secara pertisipatif, dan partisipasi masyarakat makin besar, sekolah dilakukan secara pertisipatif, dan partisipasi masyarakat makin besar, sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya, pendekatan profesionalisme lebih lebih luwes dalam mengelola lembaganya, pendekatan profesionalisme lebih diutamakan daripada pendekatan birokrasi, pengelolaan sekolah lebih diutamakan daripada pendekatan birokrasi, pengelolaan sekolah lebih desentralistik, perubahan sekolah lebih didorong oleh motivasi diri sekolah desentralistik, perubahan sekolah lebih didorong oleh motivasi diri sekolah daripada diatur dari luar sekolah. Regulasi pendidikan lebih sederhana, peranan daripada diatur dari luar sekolah. Regulasi pendidikan lebih sederhana, peranan pusat bergeser
pusat bergeser dari mengontrol dari mengontrol menjadi mempengaruhi, dan menjadi mempengaruhi, dan dari mengarahkan dari mengarahkan keke memfasilitasi, dari menghindari resiko menjadi mengolah resiko, lebih memfasilitasi, dari menghindari resiko menjadi mengolah resiko, lebih mengutamakan teamwork, informasi terbagi ke semua warga sekolah, lebih mengutamakan teamwork, informasi terbagi ke semua warga sekolah, lebih mengutamakan pemberdayaan dan struktur organisasi lebih datar sehingga lebih mengutamakan pemberdayaan dan struktur organisasi lebih datar sehingga lebih efisien.
efisien.
6. Karakteristik MPMBS 6. Karakteristik MPMBS
Bahan Ajar Profesi Kependidikan |
Bahan Ajar Profesi Kependidikan | Konsep Dasar Manajemen PeningkatKonsep Dasar Manajemen Peningkatan Mutuan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Berbasis Sekolah (MPMBS)
122122
Jika sekolah ingin sukses dalam menerapkan MPMBS, maka sejumlah Jika sekolah ingin sukses dalam menerapkan MPMBS, maka sejumlah karakteristik berikut perlu dimiliki. Dalam menguraikan karakteristik MPMBS, karakteristik berikut perlu dimiliki. Dalam menguraikan karakteristik MPMBS, pendekatan
pendekatan sistem sistem yaitu yaitu input-proses-output input-proses-output digunakan digunakan untuk untuk memandunya, memandunya, halhal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sebuah sistem, sehingga ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sebuah sistem, sehingga penguraian karakteristik mendasarkan kepada input, proses, dan o
penguraian karakteristik mendasarkan kepada input, proses, dan output.utput. 6.1.
6.1. Output Output yang yang DiharapkanDiharapkan
Sekolah harus memiliki output yang diharapkan yaitu prestasi sekolah Sekolah harus memiliki output yang diharapkan yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. Pada yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. Pada umumnya output dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu output berupa prestasi umumnya output dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu output berupa prestasi akademik, dan output berupa prestasi non akademik. Output prestasi akademik akademik, dan output berupa prestasi non akademik. Output prestasi akademik berupa
berupa nilai nilai evaluasi, evaluasi, lomba lomba karya karya ilmiah, ilmiah, lomba lomba bidang bidang studi, studi, cara cara berfikir.berfikir. Output non akademik berupa keingintahuan yang tinggi, harga diri, kejujuran, Output non akademik berupa keingintahuan yang tinggi, harga diri, kejujuran, kerja sama yang baik, rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama, solidaritas kerja sama yang baik, rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama, solidaritas yang tinggi, toleransi, kedisiplinan, kerajinan, prestasi olahraga, kesenian, dan yang tinggi, toleransi, kedisiplinan, kerajinan, prestasi olahraga, kesenian, dan kepramukaan.
kepramukaan. 6.2. Proses 6.2. Proses
Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki karakteristik proses sebagai Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki karakteristik proses sebagai berikut :
berikut : a.
a. Proses belajar-mengajar yang efektivitasnya tinggi.Proses belajar-mengajar yang efektivitasnya tinggi.
Efektivitas proses belajar-mengajar yang tinggi, ditunjukkan oleh sifat PBM Efektivitas proses belajar-mengajar yang tinggi, ditunjukkan oleh sifat PBM yang menekankan kepada pemberdayaan peserta didik. PBM yang efektif juga yang menekankan kepada pemberdayaan peserta didik. PBM yang efektif juga lebih menekankan pada belajar lebih mengetahui (learning to know), belajar lebih menekankan pada belajar lebih mengetahui (learning to know), belajar bekerja (learning
bekerja (learning to do), belajar to do), belajar hidup bersama (lhidup bersama (learning to liearning to live together), danve together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
b.
b. Kepemimpinan sekolah yang kKepemimpinan sekolah yang kuat.uat.
Kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan, Kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan, menjelaskan, dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. menjelaskan, dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah mendorong sekolah mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah melalui program-program yang terencana. Kepala sekolah dituntut memiliki melalui program-program yang terencana. Kepala sekolah dituntut memiliki
Bahan Ajar Profesi Kependidikan |
Bahan Ajar Profesi Kependidikan | Konsep Dasar Manajemen PeningkatKonsep Dasar Manajemen Peningkatan Mutuan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Berbasis Sekolah (MPMBS)
123123
kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar dapat kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar dapat mengambil keputusan dan inisiatif
mengambil keputusan dan inisiatif untuk meningkatkan mutu sekolah.untuk meningkatkan mutu sekolah.
c.
c. Lingkungan Lingkungan sekolah sekolah yang yang aman aman dan dan tertib.tertib.
Sekolah memiliki lingkungan (belajar) yang aman, tertib dan nyaman Sekolah memiliki lingkungan (belajar) yang aman, tertib dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman.
sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman. d.
d. Pengelolaan Pengelolaan tenaga tenaga kependidikan kependidikan yang yang efektifefektif
Tenaga pendidikan, terutama guru, merupakan jiwa dari sekolah, sekolah Tenaga pendidikan, terutama guru, merupakan jiwa dari sekolah, sekolah hanyalah merupakan wadah. Oleh karena itu pengelolaan tenaga kependidikan hanyalah merupakan wadah. Oleh karena itu pengelolaan tenaga kependidikan mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja, mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja, hubungan kerja, hingga pada imbaloan jasa, merupakan garapan penting bagi hubungan kerja, hingga pada imbaloan jasa, merupakan garapan penting bagi kepala sekolah.
kepala sekolah. e.
e. Sekolah Sekolah memiliki memiliki budaya budaya mutu.mutu.
Budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah, sehingga setiap Budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah, sehingga setiap prilaku
prilaku selalu selalu didasari didasari oleh oleh profesionalisme. profesionalisme. Budaya Budaya mutu mutu memiliki memiliki elemen- elemen-elemen sebagai berikut : (1) informasi kualitas harus digunakan untuk elemen sebagai berikut : (1) informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan,
perbaikan, bukan bukan untuk untuk mengadili, mengadili, (2) (2) kewenangan kewenangan harus harus sebatas sebatas tanggungtanggung jawab,
jawab, (3) (3) hasil hasil harus harus diikiti diikiti penghargaan penghargaan atau atau sangsi, sangsi, (4) (4) kolaborasi kolaborasi dandan sinergi, bukan kompetisi, (5) warga sekolah merasa aman terhadap sinergi, bukan kompetisi, (5) warga sekolah merasa aman terhadap