• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdirinya Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) di Surakarta Sidang PPKI yang berlangsung pada tanggal 19 Agustus 1945, memutuskan

DINAMIKA BIROKRASI MODERN DI SURAKARTA

A. Gerakan Anti Swapraja dan Dampaknya Bagi Birokrasi Tradisional di Surakarta

1. Berdirinya Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) di Surakarta Sidang PPKI yang berlangsung pada tanggal 19 Agustus 1945, memutuskan

tentang pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Setelah itu pada tanggal 22 Agustus 1945 diadakan sidang KNIP yang membahas mengenai pembentukan Komite Nasional di daerah-daerah yang disahkan melalui UU No.1 tahun 1945, maka dari banyak bermunculan tuntutan pembentukan KNID di Surakarta sebagai bentuk dari Nasionalisme.

Pihak Kasunanan dan Mangkunegaran memang telah mengakui kemerdekaan RI dan menyatakan bahwa kedua kerajaan berada di belakang Pemerintahan Indonesia. Pakubuwana XII mengeluarkan maklumat tertanggal 1 September 1945 yang isinya menyatakan bahwa:

a) Beliau Pakubuwana XII dan Negeri Surakarta yang bersifat kerajaan adalah daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia yang berdiri di belakang pemerintah pusat R.I

b) Segala kekuasaan di Surakarta adalah di tangan Susuhunan Surakarta, maka kekuasaan yang tadinya diambil oleh penjajah kembali dengan sendirinya setelah proklamasi kemerdekaan.

c) Kami menyatakan bahwa hubungan antara Surakarta dan pemerintah pusat bersifat langsung.4

Maklumat Sri Sunan Paku Buwono XII tertanggal 1 September 1945

4

Maklumat Sri Susuhunan Pakubuwana XII, tanggal 1 September 1945. Arsip Reksapustaka Mangkunegaran. Katalog Mangkunegaran VIII ,volume 2, No. 376

commit to user

menyatakan bahwa Negeri Surakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah daerah istimewa dari negeri Republik Indonesia dan berdiri di belakang pemerintah pusat negara RI. Maklumat yang disampaikan oleh pihak Kasunanan tersebut ditanggapi oleh pemerintah pusat, pada tanggal 6 September 1945 pemerintah Republik Indonesia memberi piagam kedudukan kepada Sri Susuhunan Paku Buwono XII yang merupakan bagian dari wilayah RI. Piagam ini ditandatangani Soekarno tertanggal 19 Agustus 1945. Pada pokoknya menetapkan Sri Paduka Paku Buwono XII dan Sri Paduka Mangkunegoro VIII pada kedudukannya masing-masing dengan kepercayaan, bahwa beliau-beliau itu akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, dan jiwa dan raga untuk keselamatan daerahnya sebagai bagian dari pada Republik Indonesia.5

Adapun bunyi dari keputusan presiden adalah sebagai berikut:6 REPUBLIK INDONESIA

Kami, PRESIDEN REPUBLIK Indonesia, menetapkan:

Ingkang Sinohoen Kandjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono, Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sajidin Panotogomo, Ingkang Kaping XII ing Soerakarta Hadiningrat. Pada kedoedoekannja, dengan kepertjajaan, bahwa Seri Padoeka Kandjeng Soesoehoenan akan mentjurahkan segala pikiran, tenaga, djiwa dan raga oentoek keselamatan daerah Soerakarta sebagai bagian dari pada Repoeblik Indonesia.

Djakarta, 19 Agoestoes 1945 Presiden Repoeblik Indonesia

ttd Ir. Soekarno 5 Ibid. halaman 24. 6

Mawardi, Yuliani Sw. Dinamika Revolusi Sosial di Surakarta. (Sukoharjo: Universitas Veteran Bangun Nusantara, 1995) Hal 34

commit to user

REPUBLIK INDONESIA

Kami, PRESIDEN REPUBLIK Indonesia, menetapkan:

Kandjeng Goesti Pangeran Adipati Arjo Mangkoenagoro, Ingkang Kaping VIII. Pada kedoedoekannja, dengan kepertjajaan, bahwa Seri Padoeka Kandjeng Soesoehoenan akan mentjurahkan segala pikiran, tenaga, djiwa dan raga oentoek keselamatan daerah Soerakarta sebagai bagian dari pada Repoeblik Indonesia.

Djakarta, 19 Agoestoes 1945 Presiden Repoeblik Indonesia

ttd

Ir. Soekarno

Pengakuan kedaulatan Kasunanan untuk daerah Surakarta oleh Presiden tidak serta merta memberikan kepastian kedaulatan dan kekuatan politis kerajaan. Walaupun para raja dan elit politik tingkat nasional menyetujui dengan diberlakukannya daerah istimewa, elit politik lokal tetap merupakan batu sandungan bagi konsolidasi kekuasaan kerajaan. Penolakan para aktivis serta politisi di Surakarta terutama barisan perjuangan dan laskar rakyat menyebabkan melemahnya kontrol keamanan oleh pihak kerajaan terhadap daerahnya.

Meskipun begitu tidak ada upaya dari kedua kerajaan dalam membantu penyerahan kekuasaan dari Jepang. Tetapi kedua kerajaan dirasa lamban dalam membantu menegakkan kekuasaan Republik serta melucuti senjata dari tentara Jepang, sehingga pemerintah akhir nya membentuk Komite Nasional Daerah di Surakarta demi memperlancar hal tersebut. Adapun tujuan dari pembentukan Komite Nasional di daerah-daerah ialah:

commit to user

2) Memindahkan kekuasaan pemerintah Jepang ke tangan KNID.7

Berdasarkan hal tersebut pembentukan Komite Nasional diharapkan agar secepat mungkin melakukan tugasnya dalam rangka penegakan kedaulatan republik. Akan tetapi permasalahan utama dari pembentukan komite ini ialah keberadaan tentara Jepang yang memang diserahi urusan penjagaan keamanan dan status quo oleh Sekutu. Tentara Jepang tersebut merupakan kekuatan tempur yang sangat kuat mengingat lengkapnya persenjataan yang dimiliki oleh mereka.8

Kedatangan Mr. Maramis dan Mr. Sartono di Surakarta pada tanggal 9 September 1945 adalah suatu langkah intensif yang ditunjukkan oleh pemerintah. Selang dua hari dari kedatangan mereka tersebut, diadakanlah rapat yang dipimpin oleh Mr. Sartono di Pendopo Wuryaningrat. Hasil dari rapat ini adalah dengan disepakatinya pembentukan Komite Nasional Indonesia Daerah Surakarta (KNIDS) yang merupakan pengembangan dari PPK.9

Pada tanggal 11 September 1945 diadakan rapat di pendopo Wuryaningratan (sekarang Jl. Slamet Riyadi No. 227). Pada kesempatan ini disepakati untuk membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah Surakarta (KNIDS) yang menguasai seluruh wilayah Surakarta yaitu daerah kerajaan Surakarta dan Mangkunegaran dan merangkap sebagai pemerintahan umum di kota Surakarta.

7

Djawatan Penerangan Kota Besar Surakarta, Kenang-kenangan Kota Besar

Surakarta, 1945-1953. (Surakarta: t.p. , 1953), hlm. 2-3.

8

George McTurnan Kahin, Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik,

Nasionalisme dan revolusi di Indonesia, (Surakarta: UNS Press, 1995). hlm. 186

9

Dibentuknya KNIDS maka terlihat sikap mendua dari pemerintah. Karena pada saat yang bersamaan pemerintah mengesahkan pihak kerajaan sebagai lembaga kekuasaan resmi namun juga menunjuk KNIDS untuk mengambil alih kekuasaan Jepang.

commit to user

Sejak dibentuknya KNIDS, maka untuk sementara menggantikan kepemimpinan lokal di Karesidenan Surakarta.

Pada perkembangannya pembentukan KNIDS menuai kontroversi dari berbagai pihak, terutama dari kedua kerajaan baik Kasunanan maupun Mangkunegaran. Ketua KNID Surakarta yaitu Mr. Soemodiningrat (ipar Susuhunan) adalah seorang bangsawan yang pernah menjabat opsir dalam pasukan PETA merangkul beberapa orang untuk menjadi anggota KNID Surakarta dengan tujuan dapat merangkul semua pihak dari berbagai kalangan, orang – orang tersebut adalah Soeprapto, H. Moefti, GPH Suryohamijoyo, KRT. Mangundiningrat, Sutopo Hadi Saputro, I. J. Kasimo, Mulyadi Joyomartono dan Suyono.10 Program yang ditetapkan pada waktu itu adalah melucuti senjata tentara Jepang dan memindahkan kekuasaan pemerintah Jepang di Surakarta ke tangan KNI daerah Surakarta.11

Tanggal 1 Oktober 1945 KNID Surakarta yang dipimpin oleh Mr Soemadiningrat berhasil memaksa pembesar-pembesar Jepang di bawah pimpinan H. Watanabe untuk menyerahkan kekuasaan pemerintahannya kepada KNI. Peristiwa ini terjadi di Balai Kota dan disaksikan oleh beribu-ribu masyarakat Surakarta. Kantor yang dinamakan dengan nama Jepang diganti nama dengan

10

Pelaksana Pembangunan Monumen., op. cit. hlm. 25. Keanggotaan KNIDS terdiri dari dua latar belakang politik yaitu dari kalangan rakyat dan Kasunanan. Anggota Kasunanan ialah GPH Suryohamijoyo (putra Pakubuwono X), KRT. Mangundiningrat, I. J. Kasimo. Tidak ada satu pun kerabat Mangkunegaran yang menjadi anggota KNID Surakarta.

11

Tim Penyusun. Buku Kenang-kenangan Perjuangan Rakyat Surakarta

commit to user

KPPRI ( Kantor Pusat Pemerintahan Republik Indonesia). Nama ini dipandang kurang tepat, kemudian diganti dengan KDPRI (Kantor Daerah Pemerintahan Republik Indonesia.). Setelah pemindahan pemerintahan berhasil dilakukan, maka KNI Daerah berusaha untuk melaksanakan tugas keduanya yaitu melucuti senjata tentara Jepang. Hal ini ditindak lanjuti dengan melucuti senjata tentara Jepang.

Tanggal 19 Oktober 1945 Pemerintah Pusat mengangkat R.P Soeroso menjadi Komisaris Tinggi yang menjadi penghubung antara daerah-daerah Istimewa Surakarta dan Yogyakarta yang berkedudukan di Surakarta. R.P Soeroso dalam tugasnya adalah sebagai Koordinator dari kedua pemerintahan Swapraja Kasunanan dan Mangkunegaran yang memiliki kekuatan hukum seperti tertera dalam UUD 1945 Bab VI Pasal 18 hal pemerintahan Daerah.

Berkenaan dengan hal tersebut maka tidak mustahil jika kemudian timbul perselisihan tentang siapa yang berhak memerintah, apakah KNI daerah atau pemerintahan Swapraja yang membuat adanya dua pemerintahan di Surakarta.

Melihat adanya dualisme pemerintahan di daerah Surakarta tersebut, Pemerintah pusat segera mengambil beberapa tindakan. Pada tanggal 19 Oktober 1945 Pemerintah Pusat mengangkat R.P Soeroso menjadi Komisaris Tinggi Daerah Surakarta dan Yogyakarta, yang berkedudukan di Surakarta. Dalam pertemuan yang pertama tokoh-tokoh di Surakarta, R. P Soeroso selaku Komisaris Tinggi menjelaskan bahwa beliau hanyalah sebagai wakil Pemerintah Pusat yang akan menjadi sarana forum koordinasi antara Pemerintah Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran. Lalu agar hanya ada satu pemerintahan, Komisaris Tinggi

commit to user

itu menyetujui keputusan dari Badan Pekerja KNID Surakarta untuk membentuk suatu badan Pemerintah Direktorium.12

Dibentuknya Pemerintahan Direktorium membuat pergeseran kekuasaan dari kekuasaan Pemerintahan Kasunanan dan Mangkunegaran serta KNID Surakarta menjadi Pemerintahan Direktorium yang melaksanakan prinsip Collegaal

Bestuur. Kelompok Swapraja tidak mendukung terbentuknya Pemerintahan

Direktorium, hal ini karena menurut pihak Kasunana Surakarta, kekuasaan Direktorium hanyalah meliputi kekuasaan yang dulunya dipegang oleh Tyookan Jepang, seperti ketentaraan, kepolisian, dan sebagian urusan ekonomi. Sedangkan dalam pelaksanaan perekonomian tetap masih di jalankan oleh pemerintah Kasunanan dan Mangkunegaran. Selain itu, tiga orang anggota Diretorium yaitu Ronomarsono, Mohammad Dasoeki dan Djoewadi adalah orang-orang yang berasal dari golongan kiri dan bekas orang hukuman dari Digul.13 Dengan masuknya tiga orang anggota itu dikhawatirkan akan menyebabkan kerugian-kerugian dipihak daerah Surakarta yang bersifat istimewa karena tiga orang tersebut dikenal sebagai orang-orang yang tidak menyetujui adanya daerah istimewa.

Kondisi ini diperparah dengan adanya pertentangan antar golongan yang mendukung tetap berlangsungnya Pemerintahan daerah Istimewa, yang disebut

12

Sri Juari Santosa, Suara Nurani Keraton Surakarta: Peran Keraton Surakarta dalam Mendukung dan Mempertahankan Negara Kesatuan Republik

Indonesia, (Yogyakarta: Komunitas Studi Didaktika, 2002), hlm. 33

13

commit to user

golongan pro-swapraja, dan golongan yang menentang berlangsungnya Pemerintahan Daerah Istimewa, dinamakan golongan anti swapraja.