BIROKRASI TRADISIONAL DI SURAKARTA MENJELANG KEMERDEKAAN
Bagan 4 Skema Struktur Pemerintahan pada masa Pendudukan Jepang
Gunsereikan
Solo Koo Syu Tyoo
Kochi Sumotyokan
Ken Tyoo
Gun Tyoo
Son Tyoo
Ku Tyoo
Sumber: Osamu sirei (tanpa tahun), arsip Reksa Pustaka Mangkunegaran
Selang beberapa waktu terdapat penambahan dalam struktur pemerintahan ini, yaitu dengan adanya lembaga pelengkap yang bernama Tonarigumi. Lembaga ini berada di dalam Ku, sehingga merupakan lembaga terendah yang terdiri dari persekutuan ketetanggaan (RT).
commit to user
Surakarta dan Yogyakarta dijadikan pemerintah Jepang sebagai daerah istimewa dengan nama Surakarta Kochi dan Yogyakarta Kochi. Kochi merupakan kota dalam bahasa Jepang sedangkan dalam bahasa Indonesia disebut kooti. Di dalam terbitan berita pemerintah atau Kan Po yang terbit tahun 1942, istilah kooti lebih sering digunakan daripada kochi. Kata kochi berasal dari bahasa Jepang yang mempunyai arti otonom atau istimewa. Secara administratif kedudukan kochi (daerah istimewa) setingkat dengan syu (karesidenan).
Penguasa daerah kochi disebut koo yaitu Surakarta Koo (kepala Surakarta Kochi) dan Yogyakarta Koo (kepala Yogyakarta Kochi). Surakarta Koo itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu Solo Koo untuk penguasa Kasunanan dan Mangkunagara Koo untuk penguasa Mangkunegaran. Jabatan Koo ini setingkat dengan raja dalam istilah bahasa Indonesia. Kedudukan Surakarta dijadikan sebagai daerah istimewa agar masyarakat Surakarta mau bekerjasama dengan pemerintah baru dalam rangka membantu Jepang memenangkan perang Asia Timur Raya.43
Terbentuknya Surakarta Kochi juga mempengaruhi jabatan Somu Chokan (pepatih dalem/patih kerajaan). Jabatan tersebut pada saat pendudukan Jepang, diangkat dan diberhentikan oleh Kochi Zimu Kyoku Chokan (Pembesar Urusan Daerah Kerajaan).44 Dengan adanya hal tersebut maka pemerintah militer Jepang
43
Julianto Ibrahim, Makalah dalam Diskusi Wacana Pembentukan
Propinsi Daerah Istimewa Surakarta, (Semarang: Yayasan Putra Budaya Bangsa,
2010).
44
Ira Pramuda Wardani, 2000, ”Pembentukan Surakarta Kochi dalam
Birokrasi Tradisional Masa Pendudukan Jepang 1942-1945”, Skripsi Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, hlm. 56.
commit to user
di Surakarta Kochi di bawah pimpinan Kochi Zimu Kyoku Chokan dapat secara langsung memberi perintah melalui Somu Chokan.
Pada masa pendudukan Jepang ini kedudukan Solo Koo dan Mangkunegara
Koo bersifat hubungan militer sehingga Susuhunan dan Mangkunagara dapat diperintah melalui peraturan militer. Berbeda dengan pendudukan Belanda, kedua penguasa tersebut adalah kepala kerajaan yang otonom dengan diatur berdasarkan kontrak politik. Kontrak politik ini biasanya berisi tentang pengakuan terhadap pemerintahan Hindia Belanda dan kesetiaan pada Ratu Wilhelmina di Belanda. Corak pemerintahan dari pemerintah Hindia Belanda bersifat sipil sedang pada masa pendudukan Jepang adalah gabungan antara militer dan sipil.45
Di samping perbedaan dalam penguasaan Surakarta, kedudukan Belanda dan Jepang juga mempunyai persamaan dalam menduduki Surakarta. Dijadikannya Surakarta sebagai daerah istimewa dan adanya sumpah setia pada Ratu Belanda dan Kaisar Jepang merupakan persamaannya.
Dijadikannya Surakarta sebagai daerah istimewa tidak mempengaruhi dalam pembagian administrasi pemerintahan namun sebaliknya, pembagian administrasi pemerintahan Surakarta Kochi mengikuti pola pembagian daerah lain yang tidak diistimewakan. Daerah Solo Kochi dan Mangkunagara Kochi setingkat dengan
syu (karesidenan) dan bersifat otonom. Setiap kochi membawahi daerah-daerah
Ken, Gun, Son dan Ku. Jumlah Ken, Gun, Son dan Ku di Surakarta Kochi sama
dengan kabupaten, kawedanan dan kapanewon/onderdistrik sebelum masa pendudukan Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, wilayah Kasunanan
45
commit to user
mempunyai 4 ken atau kabupaten, 18 gun atau kawedanan dan 66 son atau onderdistrik. Sementara itu wilayah Mangkunegaran memiliki 2 ken, 9 gun dan 41
son.46 Mengenai pemberian izin terhadap segala hal yang menyangkut hak istimewa Susuhunan dan Mangkunagara masih diberikan meskipun pucuk pimpinan kedua kerajaan tersebut berada di tangan Jepang. Misalnya saja gelar-gelar tradisional atau gelar-gelar lainnya yang biasa dipakai di lingkungan kerajaan.
Beberapa saat setelah Jepang berkuasa PB XI wafat digantikan oleh puteranya yaitu PB XII, yang kurang beruntung karena keadaan di luar maupun di dalam keraton yang tidak stabil. Awal pemerintahan PB XII banyak terjadi perebutan kekuasaan dalam penataan birokrasi. Hal ini karena pemerintahan pendudukan Jepang tidak lagi melindungi perekonomian keraton. Selain itu Pemerintahan Jepang tidak berniat membentuk corps pejabat Jepang untuk menggantikan jajaran pejabat Belanda.47 Strustur birokrasi pemerintahan PB XII makin tidak berpola dengan baik dan tidak tertata sesuai dengan tradisi yang telah ada.
Aparat pemerintahan masih meneruskan pemerintahan PB XI. Untuk seluruh pegawai pada Abdi Dalem Jawi secara perlahan telah dibubarkan, walaupun sebenarnya banyak bangsawan birokrasi yang ingin menjabatnya. Hal ini berdampak besar banyak abdi dalem yang tidak lagi mendukung PB XII karena dianggap tidak tegas dalam menjalankan pemerintahannya. Selain itu, secara ekonomi Keraton Kasunanan mengalami krisis hal ini karena asset-aset
46
Suyatno Kartodirdjo, op.cit, hlm. 719. 47
commit to user
Kasunanan banyak yang dibakar oleh pemerintah Hindia-Belanda di akhir masa penjajahannya.
Jepang melaksanakan propaganda agar Daerah Kochi bersedia bekerja sama dalam memenangkan Perang Asia Timur Raya. Mengingat Jepang banyak mengalami kekalahan melawan Sekutu maka pemerintah Jepang mendorong pembentukan badan-badan yang merancang kemerdekaan Indonesia yaitu BPUPKI dan PPKI. Surakarta sebagai daerah Kochi diikutkan dalam keanggotaan BPUPKI dalam merancang UUD 1945. Anggota BPUPKI dari Surakarta adalah Wongsonegoro, Wuryaningrat, Sosrodiningrat, dan Radjiman Widiodiningrat. Pada rapat PPKI tanggal 18 Agustus 1945 Soepomo memberi penjelasan tentang Rancangan UUD 1945 yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Jaminan kedudukan kooti dalam UUD 1945
b. Penghormatan pada daerah istimewa atau kooti dalam susunannya yang asli.
c. Daerah zelfbesturende landscappen (kooti) dinyatakan sebagai daerah bukan negara.
d. Penguasa kosoti setingkat gubernur. 48
Akhir masa pendudukan pemerintah militer Jepang sebenarnya sudah mulai menggejala pada tahun 1944. Perang di Asia-Pasifik melawan Sekutu dirasakan semakin berat. Hingga pada tahun 1945 Jepang harus menyerah pada kekuatan sekutu dengan di bumi hanguskannya dua kota besar di Jepang.
48
commit to user
67