• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERBENTUKNYA BIROKRASI MODERN DI SURAKARTA TAHUN 1945-1950

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TERBENTUKNYA BIROKRASI MODERN DI SURAKARTA TAHUN 1945-1950"

Copied!
166
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

TERBENTUKNYA BIROKRASI MODERN DI

SURAKARTA TAHUN 1945-1950

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan guna Melengkapi Gelar Sarjana Jurusan Ilmu Sejarah

Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret

Disusun oleh: Belda Ranika Rosiana

C.0507010

JURUSAN ILMU SEJARAH

FAKULTAS SATRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

(3)

commit to user

(4)

commit to user

(5)

commit to user

v

MOTTO

“Saat Kamu mampu memaafkan dan tersenyum kepada orang yang telah menyakitimu, kamu memastikan bahwa dirimu lebih baik darinya”

(Amanda Adrian)

(6)

commit to user

vi

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk :

 Papa dan Mama tercinta.

 My beloved Sister.

(7)

commit to user

vii

KATA PENGANTAR

Syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang

selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Selesainya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik

dorongan, bimbingan, maupun pengarahan yang diberikan. Untuk itu sudah

sepantasnya penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Drs. Riyadi Santosa, M.Ed, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni

Rupa beserta jajarannya yang telah memperlancar dan mempermudah studi

penulis sampai selesainya skripsi ini.

2. Dra. Sawitri Pri Prabawati, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas

Sastra dan Seni Rupa yang telah mencurahkan segenap pengetahuan yang

dimilikinya kepada penulis.

3. Dra.Sri Wahyuningsih, M.Hum, selaku Sekretaris Jurusan Ilmu Sejarah

Fakultas Sastra dan Seni Rupa yang telah memberikan pengetahuan yang

dimilikinya kepada penulis.

4. Drs. Warto M.Hum, selaku pembimbing Skripsi yang telah membimbing

penulis dengan penuh perhatian, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

5. Tiwuk Kusuma H, SS, M.Hum, selaku pembimbing akademik yang senantiasa

(8)

commit to user

viii

6. Segenap Dosen pengajar di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra dan Seni

Rupa Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan bekal ilmu

pengetahuan kepada penulis.

7. Kepala beserta staf Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta,

Perpustakaan Monumen Pers Surakarta, Sasana Pustaka Kasunanan dan Rekso

Pustoko Mangkunegaran.

8. Bapak, Ibu, kakak dan keluarga yang selalu memberikan kasih sayang dan

semangat dengan tulus ikhlas serta doa yang tak pernah putus kepada penulis

9. Yanuar Ridho, terimakasih untuk semua hal yang telah dicurahkan buat

penulis.

10.Buat Yeni Dwi Ayu, teman seperjuangan dan teman berbagi suka duka,

terimakasih atas semangat dan waktunya.

11.Teman-teman Historia 2007, Dian, Lita, Dewi, Siti, Lilik, Ike, Efendi, Eko,

Herfi, Nico, Hasan, Anggawan, Dalhar, Fuad, Joyo, Seno, Akbar, Wisnu,

Langgeng, Agung, Drajat, Bendi, dan teman-teman lainnya yang tidak dapat

penulis sebut satu persatu, terimakasih atas do’a dan semangatnya.

12.Buat mas Doni, mbak Sinta, mas Taufik, Vivi dan kakak-kakak tingkat Ilmu

Sejarah yang tidak dapat penulis sebutkan satu demi satu terimakasih untuk

dukungan dan do’a-nya.

13.Untuk teman-teman kost Gedung Putih, Rosika, mbk Icha, Loly, Ratna,

(9)

commit to user

ix

14.Semua pihak yang telah membantu, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari, bahwa penulisan skripsi ini tidak lepas dari

kekurangan dan kekeliruan. Oleh karena itu, penulis sangat menghargai adanya

saran maupun kritik yang membangun, guna menyempurnakan

penulisan-penulisan serupa di masa yang akan datang.

Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi pembaca semua.

Surakarta, September 2012

(10)

commit to user

BAB II BIROKRASI TRADISIONAL DI SURAKARTA MENJELANG KEMERDEKAAN A. Struktur Birokrasi Kolonial. ... 23

B. Birokrasi Tradisional di Surakarta ... 25

(11)

commit to user

xi

2.Birokrasi Praja Mangkunegaran ... 47

B. Kondisi Birokrasi Di Surakarta Pada Awal Pendudukan Penjajahan Jepang ... 56

BAB III DINAMIKA BIROKRASI MODERN DI SURAKARTA A.Gerakan Anti Swapraja dan Dampaknya Bagi Birokrasi Tradisional di Surakarta ... 68

1. Berdirinya Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) di Surakarta ... 69

2.Gerakan Swapraja di Surakarta ... 76

B. Terbentuknya Birokrasi Modern di Surakarta ... 82

1.Pemerintahan Karesidenan Surakarta 1946-1947... .. 82

2. Terbentuknya Haminte Kota Surakart 1947-1948 ... 94

3. Periode Pemerintahan Darurat Militer 1948-1949 ... 100

4. Periode Pemerintah Kota Besar Surakarta 1949-1950 ... 108

BAB IV DAMPAK DARI TERBENTUKNYA BIROKRASI MODERN DI SURAKARTA A.Terbentuknya Lembaga Peradilan ... 110

B.Terbentuknya Jawatan Penerangan ... 127

C.Jawatan-Jawatan Lain Yang Terbentuk Pada Masa Birokrasi Modern ... 133

BAB V KESIMPULAN ... 140

DAFTAR PUSTAKA ... 142

(12)

commit to user

xii

DAFTAR BAGAN

No. Nama Halaman

1. Bagan Struktur Pemerintahan di Kasunanan ... 36

2. Bagan Struktur Pemerintahan di Mangkunegaran ... 51

3. Bagan Struktur Pemerintahan di Mangkunegaran berdasarkan Lembaga ... 55

4. Bagan Struktur Pemerintahan pada masa Pendudukan Jepang di Surakarta ... 61

5. Bagan Struktur Pemerintahan Karesidenan ... 91

6. Bagan Struktur Pemerintahan Haminte Kota Surakarta ... 97

7. Bagan Struktur Pemerintahan Darurat Militer ... 105

(13)

commit to user

xiii

DAFTAR ISTILAH

Abdi dalem : punggawa kerajaan

Bupati :punggawa kerajaan tingkat tinggi, dibawah pangkat

patih kerajaan

Corps Vernielling : kelompok penghancur

double bestuur : pemerintahan ganda

double bestuur : pemerintahan ganda

Jajar : jenjang terendah dalam kepunggawaan kerajaan.

kawula-gusti : pola hubungan raja-rakyat atau juga

manusia-Tuhan

Pangreh Praja : elit birokrasi

patron-client : pola hubungan bapak-anak buah

Patuh : tuan

Politiek Contract : kontrak politik

Volksraad : Dewan Rakyat

Vorstenlanden : wilayah raja-raja

Wetboek van Strafecht Voor : KUHP Untuk warga negara-Belanda

Nederlandch-Orderdaan

(14)

commit to user

xiv

Daftar Singkatan

BKR : Badan Keamanan Rakyat

BTI : Barisan Tani Indonesia

DIS : Daerah Istimewa Surakarta

KDPRI : Kantor Daerah Pemerintah Republik Indonesia

KNID : Komite Nasional Indonesia Daerah

KNIP : Komite Nasional Indonesia Pusat

KPPRI : Kantor Pusat Pemerintah Republik Indonesia

MBKD : Markas Besar Komando Djawa

PPKI : Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia

PUT : Perwira Urusan Teritorial

(15)

commit to user

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Maklumat Sri Paduka Ingkang Sinuhun Kanjeng

Susuhunan Paku Buwono XII ... 146

Lampiran 2 : Penetapan Pemerintah No. 16/SD Tahun 1946 Tentang Pemerintah Di Daerah Istimewa Surakarta Dan Jogjakarta ... 147

Lampiran 3 : Arsip Piagam Kedudukan bagi Sunan Paku Buwono XII dan Sri Mangkunegoro VIII ... 149

Lampiran 4 : Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1949 “KEMENTRIAN PENERANGAN. Susunan dan lapangan pekerjaan Kementrian Penerangan... 150

Lampiran 5 : Oendang-oendang No. 14 ... 154

Lampiran 6 : Kan Po Boelan 5 Tahoen 2604 ... 155

Lampiran 7 : Berkas Perkara Pengadilan Tahun 1946, 1949, 1954 ... 156

Lampiran 8 : Osamu Seirei No. 25 ……….. 160

Lampiran 9 : Oendang-oendang N0. 23 tahoen Tentang Penghapoesan Pengadilan Radja ... 163

Lampiran 10 : Oendang-Oendang Tentang Peratoeran Hoekoem Pidana Tahoen 1946 ... 165

Lampiran 11 : Surat kabar-Surat Kabar ... 171

Lampiran 12 : Anggaran Dasar Ikatan Pengikut Swapradja ………. 174

(16)

commit to user

xvi

ABSTRAK

Belda Ranika Rosiana. C0507010. 2012. Terbentuknya Birokrasi Modern Di

Surakarta Tahun 1945-1950. Skripsi : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra dan

Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penelitian mengenai Terbentuknya Birokrasi Modern Di Surakarta Tahun

1945-1950. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu (1)

Bagaimana proses terbentuknya birokrasi modern di Surakarta pada awal kemerdekaan? (2) Bagaimana struktur birokrasi modern di Surakarta pada awal kemerdekaan? (3) Bagaimana dampak pada masyarakat dari terbentuknya birokrasi modern di Surakarta ?

Penelitian ini merupakan penelitian historis, sehingga langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi heuristik, kritik sumber baik intern maupun ekstern, interpretasi, dan historiografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen dan studi pustaka. Dari pengumpulan data, kemudian data dianalisa dan diinterpretasikan berdasarkan kronologisnya. Untuk menganalisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis, yaitu analisa yang memaparkan ataupun menggambarkan suatu peristiwa didasarkan pada hubungan sebab akibat dari suatu fenomena historis dalam situasi tertentu. Analisa data ini diperoleh dari dokumen, surat kabar maupun studi pustaka digunakan pendekatan ilmu sosial yang lain sebagai ilmu bantu ilmu sejarah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosial, dan politik.

Pemberian otonomi oleh pemerintahan RI kepada Kasunanan dan Mangkunegaran pada tanggal 19 Agustus 1945 dalam mengatur daerahnya ternyata mendapat perlawanan yang keras. Daerah Surakarta terdapat dualisme pemerintahan, antara KNI daerah Surakarta dengan pemerintahan swapraja. Pemerintahan RI berpikir ulang tentang apa yang harus dilakukan untuk daerah Surakarta, pada tanggal 15 Juli 1946 pemerintahan mengeluarkan undang-undang no 16/ SD/ 1946 yang menyatakan : 1) jabatan komisaris tinggi ditiadakan, 2) daerah Surakarta untuk sementara dijadikan daerah karesidenan, 3) dibentuk daerah baru dengan nama daerah kota Surakarta. Dalam sejarah perkembangannya di awal kemerdekaan yang dimulai dari periode Badan Perwakilan Rakyat, Haminte Kota Surakarta hingga menjadi Pemerintah Kota Surakarta hingga saat ini memang banyak terjadi perubahan struktur di dalam pemerintahannya.

(17)

THE ESTABLISHMENT OF MODERN BUREAUCRACY IN and Fine Arts of Surakarta Sebelas Maret University.

The research concerns The Establishment of Modern Bureaucracy

in Surakarta during 1945-1950. The problems to be studied in this

research are: (1) how is the process of modern bureaucracy establishment in Surakarta in early independence time? (2) how is the modern bureaucracy structure in Surakarta in early independence time? and (3) how is the effect of modern bureaucracy establishment on the society in Surakarta?

This study was a historical research; thus the procedure taken in this research encompassed: heuristic, source critique either internally or externally, interpretation, and historiography. Techniques of collecting data used were document study and library study. The data collected was the analyzed, and interpreted based on its chronology. Technique of analyzing data used in this research was a descriptive analysis, the one describing or explaining an event based on the causal relationship of a historical phenomenon in a certain situation. This data analysis was obtained from document, newspaper, and library study; other social science approaches were also used as secondary to history science. The approaches used in this study were social and political ones. Autonomy bestowal by Republic of Indonesia government to Kasunanan and Mangkunegaran on August 19, 1945 in organizing its area in fact got stringent resistance. In Surakarta area there was a government dualism between KNI of Surakarta area and

1

Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Dengan NIM C0507010 2

Dosen Pembimbing

swapraja government. RI’s government rethought about what

should be done for Surakarta area; on July 15, 1946 the government issued act no. 16/SD/1946 stating that: 1) the high commissary post was nullified, 2) Surakarta area was made residency area temporarily, 3) a new district was established named Surakarta city area. In its development history, in early independence time started with Badan Perwakilan Rakyat (People Representative Agency) period, Haminte of Surakarta City to Surakarta City Government up to now, mant structural changes had occurred in its government.

(18)

TERBENTUKNYA BIROKRASI MODERN DI

2013. Skripsi : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penelitian mengenai Terbentuknya Birokrasi Modern Di Surakarta

Tahun 1945-1950. Permasalahan yang akan dibahas dalam

penelitian ini yaitu (1) Bagaimana proses terbentuknya birokrasi modern di Surakarta pada awal kemerdekaan? (2) Bagaimana struktur birokrasi modern di Surakarta pada awal kemerdekaan? (3) Bagaimana dampak pada masyarakat dari terbentuknya birokrasi modern di Surakarta ?

Penelitian ini merupakan penelitian historis, sehingga

langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi heuristik,

kritik sumber baik intern maupun ekstern, interpretasi, dan

historiografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah

studi dokumen dan studi pustaka. Dari pengumpulan data, kemudian data dianalisa dan diinterpretasikan berdasarkan kronologisnya. Untuk menganalisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis, yaitu analisa yang memaparkan ataupun menggambarkan suatu peristiwa didasarkan pada hubungan sebab akibat dari suatu fenomena historis dalam situasi tertentu. Analisa data ini diperoleh dari dokumen, surat kabar maupun studi pustaka digunakan pendekatan ilmu sosial yang lain sebagai ilmu bantu ilmu sejarah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosial, dan politik.

1

Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Dengan NIM C0507010 2

Dosen Pembimbing

Pemberian otonomi oleh pemerintahan RI kepada Kasunanan dan Mangkunegaran pada tanggal 19 Agustus 1945 dalam mengatur daerahnya ternyata mendapat perlawanan yang keras. Daerah Surakarta terdapat dualisme pemerintahan, antara KNI daerah Surakarta dengan pemerintahan swapraja. Pemerintahan RI berpikir ulang tentang apa yang harus dilakukan untuk daerah Surakarta, pada tanggal 15 Juli 1946 pemerintahan mengeluarkan undang-undang no 16/ SD/ 1946 yang menyatakan : 1) jabatan komisaris tinggi ditiadakan, 2) daerah Surakarta untuk sementara dijadikan daerah karesidenan, 3) dibentuk daerah baru dengan nama daerah kota Surakarta. Dalam sejarah perkembangannya di awal kemerdekaan yang dimulai dari periode Badan Perwakilan Rakyat, Haminte Kota Surakarta hingga menjadi Pemerintah Kota Surakarta hingga saat ini memang banyak terjadi perubahan struktur di dalam pemerintahannya.

(19)

commit to user

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Kasunanan Surakarta disebut juga vorstenlanden atau dapat dikatakan daerah

swapraja yaitu daerah yang berhak memerintah daerahnya sendiri (zelfbesturende

landscappen).1 Dengan kata lain penguasa Kasunanan Surakarta yaitu Raja adalah

seorang yang mengatur segala kehidupan rakyatnya. Seorang Raja wajib memiliki

warisan nilai keteladanan, kebijaksanaan, keutamaan, kemuliaan, keagungan dan

keluhuran, hal ini karena raja menjadi panutan rakyat atau kawulanya. Sama

halnya dengan Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran yang merupakan salah satu

kadipaten di wilayah Surakarta juga memiliki daerah yang dinamakan dengan

swapraja.

Birokrasi merupakan lembaga yang sangat berkuasa, yang mempunyai

kemampuan sangat besar untuk berbuat kebaikan atau keburukan, karena birokrasi

adalah sarana administrasi rasional yang netral dalam skala yang besar.2 Menurut

Max Weber yang dimaksud birokrasi adalah suatu badan administratif tentang

pejabat yang diangkat, birokrasi sebagai hubungan kolektif bagi golongan pejabat,

suatu kelompok tertentu yang berbeda, yang pekerjaan dan pengaruhnya dapat

dilihat di semua jenis organisasi.3 Pembentukan struktur organisasi atau birokrasi

Modern, (Jakarta: UI-Press, 1998) hlm. 5.

3

(20)

commit to user

dalam pemerintahan merupakan sistem untuk melaksanakan keputusan dan

kebijakan.

Pemerintah mengangkat para pejabat yang telah diatur dalam undang-undang.

Praja Mangkunegaran memiliki struktur birokrasi terdiri atas dua golongan, yakni

birokrasi berdasarkan pangkat (kekuasaan) dan birokrasi berdasarkan jabatan

(lembaga). Sistem birokrasi yang ada di Praja Mangkunegaran masih terdapat

unsur-unsur tradisional. Sistem yang dimiliki oleh Mangkunegaraan tidak berbeda

dengan kebijakaan birokrasi yang dimiliki oleh Kasunanan Surakarta karena

menurut kebijakan birokrasi yang dipergunakan pada masa tersebut terdapat

hubungan antara atasan dan bawahan yang bersifat paternalistik saling

ketergantungan. Para pejabat dianggap sebagai patron yang dipandang mampu

melindungi dan rakyat sebagai klien yang harus patuh terhadap patronnya.4 Dalam

tubuh Kaunanan Surakarta terjadi konflik yang dapat mempengaruhi perubahan

birokrasi yang sudah ada didalamnya dan dilaksanakan oleh masyarakat Surakarta

pada umumnya.

Proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus

1945 memberikan pengaruh yang besar pada bangsa ini. Salah satunya yang

terjadi di Surakarta, terutama berkenaan dengan birokrasi pemerintahan. Dampak

yang di rasakan Surakarta pada awal kemerdekaan adalah runtuhnya kekuasaan

tradisional Keraton Surakarta. Meskipun sebelumnya citra dari Keraton

Kasunanan telah menurun karena konflik yang terjadi di dalamnya terutama

4

(21)

commit to user

masalah pengangkatan Raja, dengan diterimanya gelar “Raja Kamardikan” dari

presiden Soekarno kepada Pakubuwana XII.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia merupakan perwujudan formal daripada

salah satu gerakan Revolusi Bangsa Indonesia untuk menyatakan baik kepada diri

sendiri maupun kepada dunia luar, bahwa Bangsa Indonesia mulai mengambil

sikap untuk menentukan bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan bangsa

sendiri, yakni dengan mendirikan negara sendiri termasuk antara lain tata hukum

dan tata negaranya.5 Meskipun Surakarta pernah mendapat status sebagai Daerah

Istimewa Surakarta, tetapi hal ini tidak bertahan lama. Masyarakat di Surakarta

tidak semua yang mendukung adanya Swapraja di Surakarta, hal ini dapat

diperhatikan dengan sikap para pemuda dan tokoh terpelajar yang memiliki

semangat nasionalis menganggap bahwa swapraja tidak mencerminkan bentuk

Negara kesatuan, swapraja dianggap sebagai bentuk otoriter suatu penguasa yang

mengekang kebebasan rakyat dalam hal ini adalah penguasa tradisional.

Terjadi beberapa protes mengenai status Daerah Istimewa seperti: penculikan,

kerusuhan di beberapa daerah dan pengerusakan fasilitas umum. Hal ini

memberikan dampak dibekukannya status Daerah Istimewa Surakarta dan

dibentuklah KNID untuk menangani kerusuhan yang terjadi di Surakarta. Tetapi

akhirnya status Daerah Istimewa itu tidak diberikan kembali kepada Surakarta dan

dibentuklah Pemerintah Daerah Surakarta dengan kepala pemerintahannya Wali

Kota.

5

(22)

commit to user

Dibentuknya pemerintah Daerah Surakarta menjadi titik awal terbentuknya

birokrasi modern di Surakarta menggantikan birokrasi tradisional yang tentu saja

menghilangkan kekuasaan dari Keraton Kasunanan Surakarta sebagai penguasa di

Surakarta. Untuk memerintah Negara dibentuklah birokrasi dengan

bermacam-macam jabatan. Birokrasi yang dihubungkan dengan demokrasi dan rasional maka

birokrasi itu bersifat modern, hal ini karena ada unsur rasional dan unsur

demokratis atau kekuasaan di tangan rakyat, bukan berdasarkan keturunan.

Menurut Weber terdapat konsep ideal dalam strutur birokrasi modern yaitu yang

pertama suatu susunan fungsi pejabat yang tetap dan terikat oleh peraturan,

susunan jabatan berdasarkan prinsip hirarki, dan tindakan, keputusan dan

peraturan administratif harus dirumuskan dan dicatat secara tertulis.6 Selain itu

sarana pelaksana sudah ditentukan secara jelas dan penggunanya tunduk pada

kondisi tertentu. Organisasi yang rasional memerlukan pembagian kerja dan

kekuasaan yang sistematis. Setiap partisipan tidak hanya harus memahami tugas

yang dibebankan tetapi juga mempunyai sarana untuk melaksanakannya terutama

kemampuan untuk memerintah orang lain tetapi juga harus mengetahui

batas-batas tugas, hak dan kekuasaan agar tidak melampaui garis yang memisahkan

perananya dan peranan orang lain, sehingga akibatnya tidak mengabaikan seluruh

struktur organisasi

Konsep ideal birokrasi modern di atas dianggap sebagai ciri birokrasi yang

paling rasional. Weber mengaitkan teori organisasi dengan teory demokrasi

sebagai dasar dari konsep birokrasi modern. Secara umum konsep ini menjadi

6

(23)

commit to user

dasar bagi birokrasi modern di Indonesia yang terjadi pada awal kemerdekaannya.

Birokrasi yang penggunaannya dihubungkan dengan aristokrasi cenderung

mengarah pada birokrasi tradisional, hal ini karena kaum aristokrat dalam

memegang kekuasaan besifat turun temurun. Birokrasi tradisional yang

berkembang sejak masa kolonial dapat ditelusuri sampai tingkat

perkembangannya yang paling awal selama kerajaan Hindu-Mataram.

Surakarta sebagai kerajaan yang cukup tua pasti telah menjalankan sistem

birokrasi tradisional ini cukup lama. Dengan segala penghormatan dan

penguasaan di masyarakat, hingga membentuk stratifikasi sosial antara penguasa

yaitu bangsawan dan rakyat yang harus mematuhi dan mengabdi sebagai bentuk

ketaatan kepada Raja yang dianggap titisan Dewa. Konsep kekuasaan tradisional

yang berkembang dimasyarakat ini lebih dikenal dengan sebutan Gung-binatara

atau Keagungbinataraan. Konsep kekuasaan ini intinya adalah pengakuan bahwa

kekuasaan raja itu agung binathara, bahu dhendha nyakrawati, ber budi bawa

leksana, ambeg adil paramarta.7

Jadi menurut konsep kekuasaan Jawa, raja berkuasa secara absolut. Tetapi

kekuasaan itu diimbangi dengan kewajiban moral yang besar juga untuk

kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu, dalam konsep kekuasaan Jawa dikenal

juga sebagai tugas raja: njaga tata tentreming praja (menjaga supaya masyarakat

teratur dan dengan demikian ketentraman-kesejahteraan terpelihara).

7

(24)

commit to user

Hingga pada awal kemerdekaan konsep kekuasaan tradisional ini hilang dan

digantikan sistem birokrasi modern yang tidak mengenal adanya stratifikasi sosial,

dimana semua orang berhak untuk ikut dalam menata kehidupan dan ikut serta

dalam pemerintahan. Tentu saja hal ini sangat tidak diterima oleh dua Kerajaan

yang berkuasa di Surakarta saat itu yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran.

Baik Kasunanan maupun Mangkunegaran berusaha untuk mempertahankan

kedudukan mereka sebagai penguasa di Surakarta. Hal ini berbeda dengan apa

yang terjadi di Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman, dimana kekuasaan

mereka tidak terancam hilang. Dengan hilangnya sistem birokrasi tradisional dan

digantikan dengan sistem birokrasi modern, jelas sekali terlihat memberikan

dampak yang bermacam-macam. Ada sebagian kelompok yang mendukung

adanya birokrasi modern ini tetapi tidak sedikit pula yang menentang hal ini

karena mereka ingin tetap mempertahankan Swapraja di Surakarta yang pada saat

itu berstatus sebagai Daerah Istimewa.

Selain masalah diatas, juga karena Surakarta tidak seberuntung Yogyakarta

yang mampu mempertahankan kekuasaannya secara de facto dan de jure, selain

karena beragam masyarakat yang tinggal dan hidup di Surakarta tetapi juga

beragamnya kepentingan yang mewarnai atmosfire politik di Surakarta. Tidak

hanya itu saja, konflik yang terjadi di dalam Keraton Kasunanan serta tidak ikut

berperan aktifnya Keraton dalam membantu mempertahankan kemerdekaan

Indonesia menjadi sebuah masalah yang menarik untuk diperbincangkan. Segala

(25)

commit to user

peta perpolitikan Surakarta, yang ditandai dengan terbentuknya Pemerintah

Daerah Surakarta.

Tidak hanya itu saja, ditilik dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia,

dinamika perubahan sistem pemerintahan pada masa awal kemerdekaan telah

menjadi masalah tersendiri bagi bangsa. Mulai dari sistem pemerintahan

presidensiil hingga parlementer dengan kabinet-kabinet yang tidak bertahan lama

dalam menjalankan roda pemerintahan. Bangsa Indonesia masih belajar dan

mencari sistem birokrasi yang baik dan tepat untuk menjalankan roda

pemerintahan. Bahkan hingga saat ini, masih belum dapat dikatakan akan sistem

Pemerintahan yang berlaku.

Melihat peristiwa yang terjadi dengan sistem pemerintahan Negara saat ini,

membuat ketertarikan yang mendalam untuk mengupas birokrasi modern

khususnya yang terjadi di Surakarta. Karena dari sejarahnya Surakarta pernah

mendapatkan status Daerah Istimewa tetapi status tersebut hilang dengan beberapa

peristiwa yang terjadi pada masa itu, serta beberapa peraturan dan ketetapan yang

akhirnya secara otomatis menghapus status keistimewaan Surakarta.

Maka dari itu penting untuk diketahui proses terbentuknya birokrasi modern

di awal kemerdekaan Indonesia khususnya di Surakarta dalam kajian ini yang

berjudul “ Terbentuknya Birokrasi Modern di Surakarta Pada Tahun 1945-1950”. Judul ini di ambil karena pada rentan waktu tersebut banyak terjadi hal-hal

(26)

commit to user

B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang tersebut, ditemukan beberapa masalah yang perlu

dikaji lebih lanjut. Adapun rumusan masalah itu adalah:

1. Bagaimana proses terbentuknya birokrasi modern di Surakarta pada awal

kemerdekaan ?

2. Bagaimana struktur birokrasi modern di Surakarta pada awal

kemerdekaan?

3. Bagaimana dampak pada masyarakat dari terbentuknya birokrasi modern

di Surakarta?

C.

Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui proses perubahan sistem birokrasi tradisional menjadi

birokrasi modern di Surakarta.

2. Untuk mengetahui struktur birokrasi modern di Surakarta pada awal

kemerdekaan.

3. Untuk mengetahui dampak pada masyarakat dari terbentuknya birokrasi

modern di Surakarta.

D.

Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat mamberikan

gambaran mengenai perubahan birokrasi yang terjadi di Surakarta mulai dari

sebelum hingga pasca gerakan anti Swapraja terjadi pada tahun 1945. Penelitian

ini juga diharapkan dapat menjadi referensi dan informasi bagi masyarakat luas

(27)

commit to user

sebagai tambahan bahan kajian dalam bidang sejarah, khususnya kajian sejarah

sosial politik.

E.

Kajian Pustaka

Dalam mengkaji permasalahan pada penelitian menggunakan beberapa

sumber yang berkaitan dengan sejarah Surakarta menjelang dan pasca Proklamasi

seperti karya George D. Larson dalam bukunya Masa Menjelang Revolusi, Kraton

dan Kehidupan politik di Surakarta 1912-1942 (1990), yang mengungkapkan

kehidupan di dalam Keraton pada tahun 1912-1942. Menurut Larson masyarakat

Jawa secara tradisional terbagi dalam tiga kelompok sosial yaitu keluarga Raja,

Pegawai/Pejabat kerajaan dan rakyat biasa. Buku ini memberikan informasi

mengenai kehidupan rumah tangga dalam Keraton menjelang kemerdekaan, baik

secara politik, ekonomi maupun sosial. Hal ini sangat penting diketahui karena

sebelum membicarakan sistem birokrasi di Surakarta, sebaiknya diawali dari

kondisi wilayah Surakarta dan Keraton Kasunanan menjelang kemerdekaan. Di

lain pihak karya ini merupakan studi sejarah politik Surakarta pada masa

menjelang berakhirnya pemerintahan kolonial Belanda. Serta peranan golongan

elite di Surakarta dalam pergerakan kebangsaan di Indonesia. Meskipun buku ini

lebih menekankan pada bagaimana sikap Keraton Surakarta dalam menghadapi

kemerdekaan dan mulai goyahnya kedaulatan mereka atas Surakarta. Selain itu

dilihat dari rentan waktunya, buku ini hanya menjelaskan mengenai Surakarta

sebelum kemerdekaan sehingga kurang detail mengenai kondisi Surakarta pasca

(28)

commit to user

Buku kedua karangan milik Imam Samroni beserta tim yang berjudul Daerah

Istimewa Surakarta (2010). Buku yang menjelaskan mengenai keberadaan Dearah

Istimewa Surakarta dalam kajian history. Menjelaskan mengenai

permasalahan-permasalahan seputar status Daerah Istimewa Surakarta dan gerakan anti

Swapraja yang terjadi pada saat itu. Buku ini lebih menjelaskan mengenai

hilangnya status Keistimewaan Surakarta dan sikap Keraton Kasunanan dalam

menanggapi serta usaha mereka untuk mengembalikan keistimewaan tersebut.

Dengan adanya penetapan mengenai pemberian status Daerah Istimewa di

Surakarta membuat banyak tanggapan dari berbagai kalangan, baik yang setuju

dan tidak setuju dengan pemberian status tersebut. Hal ini memunculkan konflik

dan kecaman di Surakarta sehingga membuat pemerintah Pusat harus turun tangan

untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan membentuk KNID di Surakarta

untuk meredam kekacauan di Surakarta.

Karya Imam Samroni ini hanya menjelaskan seputar permasalahan

keisimewaan Surakarta yang menyebabkan runtuhnya kekuasaan Swapraja yang

ada di Surakarta. Masalah-masalah yang mempengaruhi atau menjadi dampak

akan keistimewaan Surakarta kurang dijelaskan dalam buku ini.

Selain beberapa buku di atas, juga digunakan buku yang di terbitkan oleh

Paguyuban Para Pelaku Pemerintah RI Balaikota Surakarta dalam Pendudukan

Belanda Tahun 1948 – 1950 yang berjudul Perjuangan Gerilya Membela

Kemerdekaan Negara dan Bangsa, 1995. Dalam buku ini mengisahkan tentang

situasi dan kondisi riil Surakarta pada masa revolusi. Hal ini di peroleh langsung

(29)

commit to user

pemerintahan di Surakarta. Keadaan yang serba labil antara Kekuasaan RI dan

kekuasaan Swapraja kerajaan yang didukung oleh pihak Belanda. Buku tersebut

memberikan gambaran tentang situasi dan kondisi pemerintahan pada masa

pendudukan Belanda tahun 1948-1950. Di dalam buku tersebut dikisahkan pula

tentang pemerintahan gerilya di Kota Surakarta yang dapat disebut juga sebagai

pemerintahan militer, karena pada saat itu keadaan Republik Indonesia pada

umumnya dan kota Surakarta pada khususnya sedang dalam keadaan darurat

perang. Pelaku pemerintahan gerilya kota Surakarta diceritakan dalam buku ini,

mulai dari pembentukan sampai dengan pelaksanaan pemerintah gerilya tersebut.

Referensi dari skripsi-skripsi yang sudah ada sebelumnya yang berkaitan

dengan proses terbentuknya birokrasi modern, salah satunya skripsi dari Cahya

Putri Musaparsih tahun 2005 yang berjudul Strategi Komite Nasional Indonesia

Daerah Surakarta (KNIDS) Dalam Mengambil Alih Swapraja, 1945-1946,

dimana pasca kemerdekaan pemerintah pusat membuat suatu Komite Nasional

Pusat yang memiliki cabang di setiap daerah di Indonesia begitu juga di Surakarta.

Komite ini bertugas sebagai pemerintahan sementara sebelum dibentuknya

pemerintahan daerah secara resmi di Surakarta. Meskipun dalam pembentukannya

banyak menuai konflik dan juga perlu perjuangan yang cukup keras tetapi dengan

terbentuknya KNIDS ini dapat mempertegas eksistensi bahwa telah terbentuknya

suatu pemerintahan yang berada langsung di bawah Pemerintahan Pusat. Lingkup

penelitian ini hanya mencakup peristiwa yang terjadi pasca Kemerdekaan hingga

aksi anti Swapraja yang menjadi penyebab terbentuknya KNIDS di Surakarta

(30)

commit to user

menjelaskan lebih detail lagi kondisi Surakarta setelah masalah Swapraja dan juga

perkembangan birokrasi modern yang terbentuk setelah adanya KNIDS.

Skripsi dari Pheres Sunu Wijayengrono tahun 2006 yang berjudul Sikap

Politik Mangkunegaran Dalam Mempertahankan Swapraja 1945-1946,

memberikan penjelasan mengenai kondisi birokrasi Mangkunegaran dalam

menghadapi gerakan anti swapraja. Kajian ini mencoba untuk membuka kembali

keberadaan Mangkunegaran sebagai lembaga politik pada tahun 1945-1946.

Keberadaan Mangkunegaran sebagai lembaga tradisional tidak dianggap sebagai

antithesis dari anti Swapraja. Hal ini dikarenakan upaya yang dilakukan oleh

Mangkunegaran dalam menentang gerakan anti Swapraja sangat intensif dan lebih

terbuka dibandingkan Kasunanan yang lebih menunjukkan sikap feodalisme di

Surakarta. Bagi Mangkunegaran sendiri keterlibatan gerakan anti Swapraja dalam

perpolitikan di Surakarta pada akhirnya menjadi ancaman utama setelah pihak

Kasunanan pada akhirnya meredakan tekanan kepada Mangkunegaran untuk

secara bersama-sama menghadapi revolusi sosial yang terdapat pada gerakan anti

Swapraja.

Pada masa ini terlihat bahwa lemahnya kepemimpinan Kasunanan dalam

menghadapi gerakan anti Swapraja yang berbeda dengan Mangkunegaran yang

sejak awal berani menentang gerakan anti swapraja dalam bentuk konfrontasi

apapun karena kokohnya kekuasaan Mangkunegaran terhadap sistem birokrasi

baik di dalam istana maupun di masyarakat. Meskipun begitu Mangkunegaran

(31)

commit to user

gerakan anti swapraja ini telah mencapai puncaknya yang berujung pada

keruntuhan kekuasaan Mangkunegaran.

Penelitian ini hanya mengkaji mengenai bagaimana Mangkunegaran

mempertahankan kekuasaannya pada masa Kemerdekaan. Kajian ini menjelaskan

sikap politik Mangkunegaran dalam mempertahankan Swapraja. Tetapi belum

menjelaskan bagaimana perubahan birokrasi yang terjadi pada saat itu.

Begitu juga denga skripsi karangan R. Djojo Puswito tahun 1999 yang

berjudul Sistem Pelaksanaan Pengawasan Pemerintah Kolonial Belanda

Terhadap Kasunanan Surakarta Pada Masa Paku Buwana X, yang menjelaskan

pemerintah kolonial mengatur hampir segala macam aspek kehidupan di dalam

Keraton maupun luar keraton Surakarta. Tentu saja cara yang digunakan tidak

secara frontal tetapi dengan masuk kedalam system kebijakan pemerintahan dalam

birokrasi Keraton. Bahkan dalam masalah pengangkatan patih pun harus sesuai

ijin dari pemerintah kolonial. Maka dari itu, meskipun penjajahan kolonial tidak

langsung mengaraha ke pribumi tetapi melalu penguasa local. Hal ini karena

dalam birokrasi tradisional hubungan antara Raja dengan Kawula masih sangat

kental sekali, dimana raja diibaratkan sebagai titisan dewa yang segala

perintahnya adalah titah yang akan dilaksanakan oleh rakyat. Tetapi kajian ini

lebih memusatkan pada pengawasan dari Pemerintah Kolonial pada Keraton

Kasunanan masa Paku Buwana X.

Karya dari Martin Albrow yang berjudu BIROKRASI (2004), dimana buku ini

menjelaskan tentang konsep-konsep birokrasi mulai dari awal abad ke-19 hingga

(32)

commit to user

Weber, Karl Marx dan para tokoh Ideolog Demokrasi. Albrow berusaha untuk

menggali hakikat birokrasi, latar belakang dan kelahiran dari birokrasi, selain itu

juga mengungkapkan pemikiran Max Weber tentang tujuh konsep birokrasi

modern. Maka dari itu penting dalam kajian ini untuk menggunakan karya dari

Martin Albrow ini sebagai sumber yang memberikan penjelasan mengenai dasar

dari birokrasi modern dan bagaimana konsep dari birokrasi tersebut.

Dalam mengerti masalah birokrasi baik secara umum maupun yang

berhubungan dengan sistem birokrasi modern, penelitian ini menggunakan

sumber dari buku yang berjudul Birokrasi dalam Masyarakat Modern, karya Peter

M. Blau dan Marshall W. Meyer (1987). Dalam buku ini dijelaskan mengenai

pengertian Birokrasi, konsep birokrasi yang berkembang di masyarakat sejak

jaman pertengahan hingga birokrasi modern dan organisasi birokrasi. Oleh karena

buku ini digunakan sebagai bahan kajian yang memberikan gambaran perihal

birokrasi, khususnya birokrasi modern.

F.

Metode Penelitian

Sesuai permasalahan yang akan diteliti maka penelitian ini menggunakan

metode sejarah. Menurut Nugroho Notosusanto, metode sejarah merupakan

kumpulan prinsip-prinsip atau aturan yang sistematis yang dimaksudkan untuk

bantuan secara efektif didalam usaha mengumpulkan bahan-bahan bagi sejarah,

menilai secara kritis dan kemudian menyajikan suatu sintesa daripada hasilnya

dalam bentuk tertulis.8 Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang

mencakup empat tahap yaitu menghimpun sumber-sumber sejarah yang sesuai

8

(33)

commit to user

dengan permasalahan (heuristik), kritik sumber, interpretasi dengan penjelasan

sebagai berikut:9

1. Heuristik

Tahap pertama heuristik, menghimpun sumber-sumber sejarah berkaitan

dengan segala hal mengenai Keraton Kasunanan, terutama mengenai birokrasi

pemerintahan Keraton Kasunanan Surakarta sebelum dan sesudah adanya gerakan

anti Swapraja.

Karena penelitian ini menggunakan metode historis, maka jenis sumber

data yang digunakan berupa arsip seperti : Penetapan Pemerintah No. 16/S.D.

tahun 1946, Maklumat yang dikeluarkan oleh Paku Buwana XII tertanggal 1

September 1945, piagam kedudukan tanggal 19 Agustus 1945, Laporan Riwayat

Perjuangan Para Pelaku Pemerintahan Republik Indonesia Balai Kota Suarakarta

pada masa pendudukan Belanda, Peraturan Pengganti Undang-undang No.8 tahun

1946, UU No.16 tahun 1947 tentang pengesahan pemerintahan Kota dan berbagai

arsip yang berkenaan dengan perubahan ketatanegaraan Keraton Kasunanan

Surakarta. Verslag mengenai Komando Militer Kota pada tahun 1949. Maklumat

No. 2/MBKD mengenai berlakunya pemerintah militer di seluruh Pulau Jawa.

Serta beberapa surat kabar yang menyiarkan berita seputar kondisi Surakarta pada

saat itu.

Selain itu juga arsip mengenai Maklumat Dewan Pertahanan Daerah

Surakarta No. 17 tahun 1947. Siaran Kilat No. 5 yang berisi mengenai tentang

urusan Daerah Istimewa Surakarta yang dikeluarkan Pemerintah Militer Daerah

9

(34)

commit to user

Kota Surakarta, undangan untuk menghadiri acara Penghapusan Pemerintah

Militer Surakarta. Turunan mengenai pengumuman menolak segala macam jenis

negara boneka bentukan Belanda. Terdapat juga Konsep Rinci tentang Status

Kekuasaan Daerah serta Struktur dan Tata Pelaksanaan Pemerintah Swapraja.

Semua arsip tersebut di atas didapatkan dari perpustakaan Mangkunegaran

(Reksapustaka), Monumen Pers, dan juga Sasana Pustaka Kasunanan Surakarta.

2. Kritik Sumber

Terdiri dari kritik intern dan ekstern. Kritik intern merupakan kritk yang

meliputi tulisan, kata-kata, bahasa dan analisa verbal serta tentang kalimat yang

berguna sebagai validitas sumber atau untuk membuktikan bahwa sumber tersebut

dapat dipercaya. Sedangkan kritik ekstern, meliputi material yang digunakan guna

mencapai kredibilitas sumber atau keaslian sumber tersebut. Dari hasil

sumber yang berhasil dikumpulkan adalah dokumen asli bahwasanya

sumber-sumber itu sebagian berbahasa Belanda yang kuno dan bahasa Jawa lengkap

dengan tulisan Jawa pula. Kondisi dari data yang mudah rusak karena bahan

kertasnya sudah berusia sangat tua dan mudah repuh dan sobek. Terkadang tulisan

yang berupa tulisan tangan sebagian ada tinta yang luntur sehingga susah untuk

dibaca. Memilih dan memilah sumber-sumber yang akan dijadikan data, karena

tidak semua arsip yang ditemukan dapat dijadikan sebagai data.

3. Interpretasi

Tahap ketiga adalah interpretasi, yang diartikan sebagai memahami makna

yang sebenarnya dari sumber-sumber atau bukti-bukti sejarah. Fakta sebagai hasil

(35)

commit to user

bermakna tanpa dirangkaikan dengan fakta lain. Proses perangkaian itu disebut

eksplanasi. Hasil eksplanasi tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tertulis

yang disebut rekonstruksi, yaitu dengan menyusun fakta-fakta kemudian menjadi

sebuah kisah sejarah. Tujuan kegiatan ini adalah merangkaikan fakta-fakta

menjadi kisah sejarah dari bahan sumber-sumber yang belum merupakan suatu

kisah sejarah.

4. Historiografi

Tahap keempat adalah historiografi yang merupakan penyajian hasil

penelitian dalam bentuk tulisan baru berdasarkan bukti-bukti yang telah diuji.

Sumber-sumber bahan dokumen dan studi kepustakaan, selanjutnya dianalisis,

diinterpretasikan dan ditafsirkan isinya. Data-data yang telah dikaji kebenarannya

itu merupakan fakta–fakta yang dirangkai menjadi kisah sejarah yang dapat

dipertanggungjawabkan kebenarannya. Historiografi atau penulisan sejarah, yaitu

menyampaikan sumber yang diperoleh dalam bentuk kisah sejarah atau penulisan

sejarah. Kemudian menceritakan apa yang telah ditafsirkan dalam penyusunan

kisah sehingga menarik untuk dibaca. Penulisan dan penyusunan kisah dengan

kata-kata dan gaya bahasa yang baik bertujuan supaya pembaca mudah

memahami maksudnya dan tidak membosankan.

G.

Sistematika Penulisan

Sistematika dimaksudkan membantu pembaca untuk mempermudah dalam

memahami penulisan skripsi ini. Serta membantu memberikan gambaran

(36)

commit to user

Bab I merupakan Pendahuluan meliputi latar belakang, rumusan masalah,

tujuan penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian dan sistematika

penulisan.

Bab II, pada bab ini membahas tentang kondisi birokrasi di Surakarta

sebelum kemerdekaan. Diterangkan pula mengenai gambaran umum kondisi

birokrasi tradisional (Kasunan Surakarta dan Mangkunegaran) sebelum

kemerdekaan dan struktur pemerintahan dan kewenangan yang dimiliki Keraton

Kasunanan dan Mangkunegaran pada saat terjadinya proses terbentuknya

birokrasi modern pada tahun 1945-1950.

Bab III menjelaskan proses terbentuknya birokrasi modern dan struktur

birokrasi modern di Surakarta. Di dalam bab ini juga dijelaskan kondisi di

Surakarta pada awal kemerdekaan bangsa Indonesia, hingga terbentuknya sistem

birokrasi modern di Suarakrta beserta peristiwa-peristiwa yang

melatarbelakanginya dan mengenai jalannya birokrasi modern yang baru

terbentuk.

Bab IV menjelaskan dampak dari terbentuknya birokrasi modern di

Surakarta. Khususnya bab ini menjelaskan dampak pada masyarakat dengan

adanya sistem birokrasi yang baru tersebut.

Bab V penutup yang berisi kesimpulan dari keseluruhan pembicaraan yang

(37)

commit to user

19

BAB II

BIROKRASI TRADISIONAL DI SURAKARTA

MENJELANG KEMERDEKAAN

Nama Surakarta merupakan nama varian dari Jakarta yang pada masa lalu juga

disebut Jayakarta. Surakarta berasal dari gabungan kata Sura berarti berani, dan

Karta berarti sejahtera.1 Keraton Surakarta mulai dibangun pada masa

pemerintahan Sunan Paku Buwana II (1726-1749), sebagai pengganti Keraton

Kartasura yang telah rusak akibat pemberontakan orang-orang Cina dibawah

pimpinan Sunan Kuning, juga oleh pasukan Madura yang dipimpin Cakraningrat

IV.2

Kerajaan tradisional Jawa, baik pada zaman Hindu-Budha maupun Islam

selalu menempatkan kekuasaan tertingginya pada raja. Dalam konsep Jawa

tentang organisasi Negara, raja atau ratulah yang menjadi eksponen mikrokosmos.

Raja merupakan penguasa tunggal yang memiliki kekuasaan yang begitu besar

tetapi juga menuntut tanggung jawab yang begitu berat. Konsep seperti ini disebut

dengan Konsep Kekuasaan Jawa.

Menurut pemikiran dari Max Weber budaya politik di Indonesia lebih

mengarah pada nilai-nilai patrimonial. Oleh karenanya, jenis sistem politik dan

demokrasi yang berkembang adalah sistem politik dan demokrasi patrimonial.3

(38)

commit to user

Max Weber menjelaskan patrimonialisme sebagai salah satu bentuk dominasi

dari otoritas tradisional. Pijakan dasarnya adalah pemahaman patrimonial dapat

ditelusuri pada penjabarannya mengenai Otoritas Tradisional. Tipe otoritas

tradisional, didasarkan pada kepercayaan yang mapan terhadap kesucian tradisi

zaman dahulu yang kemudian dipertahankan dan diturunkan dari generasi ke

generasi. Kepercayaan yang telah mapan ini yang dipakai sebagai dasar memberi

legitimasi kepada status pemegang otoritas. Alasan orang patuh serta taat pada

pemegang otoritas berdasarkan prilaku yang diambil begitu saja (taken for

granted).4 Alasannya, karena sejak dahulu juga seperti itu, atau karena mereka

yang memegang otoritas tersebut telah dipilih berdasarkan peraturan yang harus

dihormati sepanjang waktu.

Hubungan antara pemimpin yang memegang otoritas dengan bawahannya

merupakan hubungan pribadi. Ada kesetiaan pribadi untuk patuh dan taat pada

pemimpin tersebut dan sebaliknya pemimpin berkewajiban secara moral untuk

memperhatikan kebutuhan dari mereka yang dipimpin. Bagi Weber, sebuah

otoritas akan disebut tradisional jika ada legitimasi yang bersumber dari

kekuasaan dan peraturan yang sudah sangat tua dan suci. Para pemimpin dipilih

menurut peraturan tradisional dan dipatuhi berdasarkan status tradisional mereka

(Eigenwurde). Tipe pengaturan ini, berdasarkan loyalitas personal yang dihasilkan

dari pelajaran-pelajaran yang di tanamkan semenjak kecil (commons upbringing).

Penggunaan otoritas dilekatkan pada pemimpin secara individual, dimana para

pembantu pemimpin tersebut bukanlah seseorang yang digaji, sebagaimana

4

(39)

commit to user

pegawai dalam konteks birokrasi modern. Ia hanya sebagai seorang asisten pribadi

(personal retainer) yang loyal dengan tuannya. Kemampuan dan hak untuk

memerintah diwariskan melalui keturunan dan itu tidak berubah, juga tidak

memfasilitasi perubahan sosial. Kecenderungan tidak rasional dan tidak konsisten,

serta melanggengkan status quo. Penciptaan hukum baru yang berlawanan dengan

norma-norma tradisional dianggap tidak memungkinkan. Otoritas tradisional

biasanya diwujudkan dalam feodalisme. Dalam struktur murni patriarkal, "hamba

secara pribadi tergantung pada tuan" (Tuan-Hamba), sedangkan pada sistem

feodalisme, para pelayan bukan budak penguasa tetapi laki-laki independen,

namun dalam Patriakal dan feodalisme tersebut, sistem kekuasaan tidak berubah

atau berevolusi.

Menurut konsep kekuasaan Jawa, raja adalah seorang yang berkuasa secara

mutlak / absolute, tetapi kekuasaan itu diimbangi dengan kewajiban moral yang

besar untuk kesejahteraan rakyatnya oleh karena itu dalam konsep kekuasaan jawa

dikenal sebagai tugas raja adalah njaga tata tentremin praja yang artinya menjaga

supaya masyarakat teratur, dengan demikian ketentraman dan kesejahteraan

rakyat terjaga.5

Kedudukan dan kekuasaan raja yang begitu besar dikenal dengan doktrin

Keagungbinataraan. Maksud dari konsep ini adalah bahwa Raja memiliki

segalanya baik harta maupun manusia. Oleh karena itu dikalangan rakyat berlaku

prinsip nderek kersa dalem. Namun hal ini tidak berarti raja sebagai penguasa

5

(40)

commit to user

tunggal berhak untuk berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Sebab dalam

konsep Keagungbinataraan itu juga dirangkai dengan sikap berbudi laksana,

ambeg adil para marta6, dan hal tersebut masih ditambah lagi dengan kalimat

wenang wisesa sangari7. Ini menunjukkan adanya keseimbangan antara

kewenangan yang luar biasa dengan kewajiban dan tanggung jawab yang luhur,

yakni melindungi, mengasihi dan mensejahterakan rakyatnya.8

Sebaliknya, supaya raja dapat melaksanakan tugasnya, rakyat mempunyai

kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakannya (ngemban dhawuh dalem).

Dengan demikian antara raja dan rakyat berlaku prinsip jumbuhing atau pamoring

kawula-gusti (bertemunya rakyat dan raja).

Sebelum tahun 1900 atau lebih tepatnya sebelum sistem politik Etis, sistem

pemerintahan untuk daerah jajahan (Hindia Belanda) masih bersifat sentralistis.

Dimana tidak ada partisipasi dari perangkat lokal, segala sesuatu diatur oleh

pemerintah pusat. Tidak ada sama sekali otonomi untuk mengatur sendiri rumah

tangga daerah sesuai dengan kepentingan daerah. Hal ini karena

sentralisasi dipandang sebagai cara terbaik oleh pemerintah Belanda untuk

memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Oleh karena itu, dengan sentralisasi

Belanda dapat mempertahankan tanah jajahannya.

6

berbudi laksana, ambeg adil para marta dalam bahasa Indonesia artinya

budi luhur yang begitu luas/ meluap serta sifat adil dan penuh kasih saying.

7

wenang wisesa sangari artinya memiliki wewenang diseluruh negeri

8

G. Moedjanto, Konsep Kekuasaan Jawa dan Penerapannya oleh Raja-raja

(41)

commit to user

A. Struktur Birokrasi Kolonial

Mulai tahun 1903 diberlakukan Undang-undang Desentralisasi dimana dengan

Undang-undang tersebut dibentuklah Dewan Lokal yang memiliki otonomi.

Dengan adanya dewan lokal maka pemerintah lokal perlu dibentuk dan

disesuaikan. Maka terbentuklah: Provinsi, kabupaten, kotamadya, dan kecamatan

serta desa.

Desentralisasi adalah pembagian wewenang atau urusan penyelenggaraan

pemerintahan. Dengan adanya keinginan desentralisasi maka Belanda

membutuhkan orang-orang pribumi bukan hanya sebagai penguasaan daerah

tetapi juga untuk mengerjakan keperluan administrasi pemerintah. Belanda juga

membutuhkan tenaga terlatih (tenaga kesehatan, kehutanan, kemiliteran,

kepolisian). Orang-orang pribumi tersebut akan dijadikan pelaksana, pelayan

pemerintah, serta perantara antara Belanda dan penguasa daerah. Tetapi untuk

dapat bekerja di pemerintah maka mereka harus sekolah.

Keinginan desentralisasi menyebabkan adanya desentralisasi antara negara

induk (Belanda) dengan Hindia-Belanda, antara pemerintah Batavia dengan

daerah, dan antara Belanda dengan pribumi. Dengan adanya keinginan

desentralisasi tersebut maka memerlukan adanya daerah otonom.

Meskipun ada upaya untuk modernisasi struktur birokrasi tetapi tetap saja

masih mempertahankan beberapa bagian struktur politik sebelumnya. Hal ini

dilakukan demi kepentingan praktis dan untuk mempertahankan loyalitas,

khususnya loyalitas elit bumi putra. Untuk jabatan teritorial diatas tingkat

(42)

commit to user

Pada perkembangannya, karena semakin luas Hindia Belanda maka

dibutuhkan tenaga kerja untuk mengelola administrasi negara semakin meningkat.

Sehingga ada pendamping pejabat teritorial yang disebut pejabat non teritorial

yang setingkat kabupaten (asisten residen), kawedanan (asisten wedono).

Berdasarkan Undang-undang Perubahan tahun 1922 Hindia Belanda dibagi

dalam provinsi dan wilayah (gewest) sebagai berikut:

1.Provinsi

Provinsi memiliki otonomi. Tiap provinsi dikepalai oleh seorang gubernur.

Ada 3 provinsi yaitu Jawa Barat (1926), Jawa Timur (1929), dan Jawa Tengah

(1930).

2. Gewest (wilayah)

Gewest tidak memiliki otonomi. Sampai tahun 1938 Hindia Belanda terbagi

menjadi 8 gewest yang terdiri dari: 3 Provinsi : Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa

Tengah, dan 5 Gewesten : Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Gewest

Sumatera, Gewest Kalimantan (Borneo), Gewest Timur Besar (Grote Oost) yang

terdiri dari Sulawesi, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan Irian Barat. Untuk

Surakarta dan Yogyakarta termasuk Gubernemen yaitu wilayah yang langsung

diperintah oleh pejabat-pejabat gubernemen.

Akibat adanya desentralisasi menyebabkan munculnya kebebasan yang

semakin besar dari penguasa kolonial. Memunculkan proses Indonesianisasi

(sistem kepengurusan Indonesia, sejauh mungkin dilaksanakan oleh orang

(43)

commit to user

Pemerintahan tertinggi dilaksanakan oleh Menteri Jajahan sedangkan sebagai

penyelenggara pemerintahan umum adalah Gubernur Jenderal. Gubernur Jenderal

didampingi oleh Raad van Indie yang beranggotakan 4 orang yang disebut sebagai

Pemerintah Agung di Hindia Belanda.Selain itu dibantu oleh 2 Sekretariat yaitu:

1) Sekretaris Umum (Generale Secretarie) untuk membantu Commisaris

General

2) Sekretaris Pemerintah (Gouvernement Secretarie) untuk membantu

Gubernur Jenderal.

Pada perkembangannya keduanya diganti menjadi Algemene Secretarie yang

bertugas membantu Gubernur Jenderal terutama memberikan pertimbangan

keputusan. Peraturan yang mengatur kewenangan gubernur jenderal yang tertuang

dalam Regeering Reglement (RR). Gubernur Jenderal bertanggung jawab

langsung pada Raja melalui Mentri Jajahan, Laporan pertanggung jawaban

tersebut diberikan kepada Palemen Belanda (Staten Generaal).

Menurut Undang-undang Hindia Belanda sebagai bagian kerajaan Belanda,

maka:

1. Pemerintahan tertinggi berada di tangan Raja yang dilaksanakan oleh

menteri jajahan atas nama raja. Bertanggung jawab pada Parlemen

Belanda (Staten General).

2. Pemerintahan Umum diselenggarakan oleh Gubernur Jenderal atas nama

(44)

commit to user

Raja bertugas :

1. Mengawasi pelaksanaan/ penyelenggaraan pemerintahan Gubernur

Jenderal.

2. Pengangkatan pejabat penting, memberikan petunjuk kepada Gubernur

Jenderal dalam mengambil keputusan apabila terjadi perselisihan antara

Gubernur jenderal dengan Dewan Hindia Belanda.

Sedangkan di bawahnya Gubernur Jenderal ada Dewan Rakyat (Volksraad)

sebagai Badan Perwakilan Hindia-Belanda dalam pemerintahan. Untuk tingat

Provinsi dikepalai oleh Gubernur, Karisidenan (afdeling) dipimpin oleh Residen

dibantu asisten residen dan controleur (pengawas). Kabupaten (regent) dipimpin

oleh bupati jabatan tertinggi, dibantu oleh seorang patih. Kawedanan dipimpin

oleh wedana, Distrik dipimpin oleh asisten wedana, dan Kecamatan dipimpin oleh

camat.

Desa (kepala desa) jabatan ini tidak termasuk dalam struktur birokrasi

pemerintah kolonial/ bukan anggota korp pegawai dalam negeri Hindia Belanda

(Departemen Dalam Negeri). Kepala desa dibantu pejabat desa (pamong desa).

Pejabat pribumi (inland bestuur) yang termasuk dalam binenland bestuur

(departemen dalam negeri) disebut Pangreh Praja (pemangku Kerajaan) yang

dikenal dengan sebutan Priyayi.

Kepala desa tidak diangkat maupun digaji oleh pemerintah. Mereka dipilih

langsung oleh rakyat dan digaji oleh rakyat pula melalui tanah desa (tanah

(45)

commit to user

B. Birokrasi Tradisional di Surakarta

Luas ibukota Kerajaan Surakarta (kota Sala) adalah 24 kilometer persegi

dengan ukuran 6 kilometer, membentang dari arah barat ke arah timur, dan 4

kilometer dari arah utara ke selatan. Kota ini berada di tanah dataran rendah di

tepi sebelah barat Sungai Bengawan Sala. Luas wilayah kerajaan Surakarta

(sekarang Karesidenan Surakarta) seluruhnya adalah 6.215 kilometer persegi.

Separuh dari daerah itu adalah milik kasunanan, sedang separuh lainnya masuk

daerah Mangkunegaran.

Di pusat ibukota terdapat bangunan inti kerajaan berupa keraton yang terdiri

dari kompleks bangunan yang dikelilingi tembok, tempat kediaman raja,

isteri-isterinya, dan berbagai wanita terkemuka. Daerah inti di kelilingi oleh sepasang

bangunan tembok yang tinggi, tempat masuk hanya bisa lewat gerbang dengan

pintu yang tebal dan kuat. Sebagai pusat kerajaan, keraton adalah pusat birokrasi

pemerintahan atau dapat dikatakan pusat penyelenggara pemerintahan dalam

suatu kerajaan. Raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dibantu oleh para

pengikutnya yang setia berdasarkan hubungan kekeluargaan.

Agar kekuasaan itu diselenggarakan secara berdaya dan berhasil guna, maka

dalam konsep kekuasaan Jawa dikenal adanya konsep kewilayahan, birokrasi serta

dibuat pedoman perilaku bagi para penguasa dan rakyat.

Konsep kewilayahan negara tercermin dalam gambaran sebagai berikut:

1) Pada tingkat pusat terdapat karaton, negara atau kuthagara, yaitu wilayah

(46)

commit to user

dari wilayah kerajaan. Daerah ini juga disebut daerah Narawito9 yang merupakan

tanah milik raja. Di daerah Kutagara inilah terletak keraton. Dimana raja dengan

keluarganya dan beberapa pejabat tinggi lainnya tinggal.

2) Negara agung, yaitu daerah yang ada di sekitar Kutagara. Daerah ini masih

termasuk daerah inti kerajaan karena di daerah inilah terutama terdapat tanah

lungguh (apanage) dari para bangsawan keluarga Mataram;

3) Mancanagara, yaitu daerah darat di luar negara agung, di daerah ini dapat

dikatakan tidak ada tanah-tanah lungguh dari bangsawan-bangsawan kraton tetapi

tiap waktu-waktu tertentu harus menyerahkan pajak ke keraton.

4) Daerah pesisir wetan, kira Demak ke Timur, dan pesisir kilen,

kira-kira Demak ke Barat.

Birokrasi Mataram menyangkut urusan pusat dan daerah. Di pusat, birokrasi

dipimpin oleh Patih (pepatih dalem). Ia membawahkan sejumlah pejabat atau

nayaka, semacam kepala departemen, yang disebut wedana. Patih juga

membawahkan militer dan para bupati. Birokrasi di kabupaten merupakan bentuk

tiruan dalam ukuran yang lebih kecil dari birokrasi kerajaan. Bupati atau adipati

pada hakikatnya adalah raja kecil atau taklukan dari raja besar.

Doktrin keagungbinataraan mengajarkan bahwa raja harus selalu membangun

kerajaannya, sehingga kerajaannya menjadi pusat politik yang tertinggi dan paling

kuasa. Secara singkat kekuasaan raja besar menurut konsep kekuasaan Jawa

ditandai oleh: 1) Wilayah kerajaannya yang sangat luas; 2) Luas wilayah daerah

9

(47)

commit to user

atau kerajaan taklukan dan berbagai barang persembahan yang disampaikan oleh

raja taklukan; 3) Kesetiaan para bupati dan punggawa lainnya dalam menunaikan

tugas kerajaan dan kehadiran mereka dalam paseban yang diselenggarakan pada

hari-hari tertentu; 4) Kebesaran dan kemeriahan upacara kerajaan dan banyaknya

pusaka dan perlengkapan yang tampak dalam upacara; 5) Kekayaan yang dimiliki

oleh raja, gelar-gelar yang disandang dan kemasyhurannya; 6) Seluruh kekuasaan

menjadi satu ditangannya, tanpa ada yang menandingi.

Kasunanan adalah daerah Swapraja yaitu daerah yang dapat memerintah

sendiri atau dapat disebut juga Zelfbesturendelandscapen,10 meskipun begitu

keraton tidak lepas dari pengawasan pemerintah Kolonial Belanda. Hubungan

dengan pemerintah Kolonial tersebut diatur dalam perjanjian-perjanjian politik

yang disebut politiek contract. Terdapat dua macam perjanjian politik yaitu Lang

Contract atau kontrak panjang dan Korte Verklaring atau pernyataan pendek.

Perbedaan dari perjanjian politik tersebut adalah :

(1) Swapraja dengan kontrak panjang (Lang Contract), yaitu perjanjian yang

mengikat dan membatasi kekuasaan swapraja dan memberi kelonggaran

pada pemerintah pusat.

(2) Swapraja dengan kontrak pendek (Korte Verklaring), yaitu berisi

keterangan bahwa swapraja mengakui kedaulatan Negara dan tunduk akan

perintah.11

10

Zelfbesturende landschappen artinya adalah berhak memerintah daerahnya sendiri. Imam Samroni, dkk., Daerah Istimewa Surakarta,(Yogyakarta: Pura Pustaka Yogyakarta, 2010), hlm. V

11

(48)

commit to user

Dilihat dari segi hukum tersebut di atas maka daerah swapraja Surakarta

tergolong swapraja dengan kontrak panjang, karena perjanjian yang dibuat secara

turun temurun berlaku terus. Kontrak panjang ini menetapkan satu demi satu

kekuasaan Belanda dalam hubungannya dengan pemerintahan swapraja yang

bersangkutan, sebaliknya pemerintah kolonial mengakui keberadaan pemerintah

swapraja beserta haknya untuk mengatur dan menjalankan pemerintahannya.

Perjanjian politik tersebut selalu diperbarui tiap kali seorang putra mahkota

akan menduduki tahta kerajaan. Meskipun dengan adanya perjanjian politik

tersebut kekuasaan raja benar-benar telah mengalami pergeseran, akan tetapi

dalam kenyataannya Kasunanan Surakarta merupakan kerajaan yang otonom,

mempunyai system pemerintahan sendiri, walaupun tidak bisa dilepaskan sama

sekali dari pengaruh sistem kolonial.12

1. Birokrasi Keraton Kasunanan

Kekuasaan seorang raja, sebagai diatur dalam struktur birokrasi tradisional

memiliki kekuasan sentral dalam wilayah kerajaan. Kedudukan dan kekuasaan

raja diperoleh berdasarkan warisan menurut tradisi pengangkatan raja baru atas

dasar keturunan Raja yang memerintah. Raja-Raja Surakarta memakai gelar dan

sebutan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana

Senapati Ing Alaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Atas

dasar gelar ini, maka Raja mengepalai urusan politik pemerintahan, keagamaan

dan sebagai primus interpares di wilayah kekuasaannya.

12

(49)

commit to user

Pola demikian merupakan pola Caesar-papisme, yaitu raja sebagai orang

pertama dan terhormat di negaranya (Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng

Susuhunan),13 dia juga sebagai pusat kehidupan masyarakat dan dunia (Paku

Buwana). Selain itu raja adalah kepala pemerintahan dan juga sebagai panglima

tertinggi angkatan perang (Senapati Ingalaga), serta sebagai kepala bidang

keagamaan (Ngabdurahman Sayidin Panatagama). Sebagai penguasa tertinggi

Raja harus adil dalam memerintah dengan hukum yang seadil-adilnya, hal ini

karena Raja dianggap sebagai wakil Allah di dunia yang tampak pada gelar

Khalifatulah.14 Oleh karena itu raja duduk sebagai wali hakim bagi kawula dalem

wanita yang akan menikah.

Menurut tradisi istana yang berlaku bahwa hanya putera laki-laki tertua dari

permaisuri atau yang ditunjuk oleh raja sajalah yang berhak menggantikan

kedudukan sebagai Raja. Hal ini berdasarkan pada tradisi bahwa yang berhak

menjadi Wali adalah orang laki-laki atau ayah, atau saudara laki-laki dari satu

ayah. Maka menurut adat kerajaan yang berhak menjadi Raja haruslah keturunan

atau putera laki-laki.

Raja secara tradisional dianggap sebagai pusat dunia, pusat kehidupan

masyarakat, maka tanggung jawab baik buruknya kerajaan terletak di tangan raja.

Oleh karena itu dalam struktur birokrasi pemerintahan, raja menempati kedudukan

tertinggi. Raja berhak mengangkat dan memberhentikan pejabat-pejabat dalam

pemerintahan yang dipegangnya. Kedudukan raja yang sangat tinggi maka dalam

13

Ibid.

14

(50)

commit to user

menjalankan tugas pemerintahan, raja dibantu melalui birokrasinya yang

merupakan alat dari kekuasaan raja yaitu para abdi dalem (pegawai kerajaan).

Dalam hal ini pepatih dalem (patih) merupakan orang nomor dua setelah raja,

baru kemudian diteruskan kepada kawula dalem (rakyat).15

Para abdi dalem juga bisa dimasukkan dalam golongan priyayi, mereka

mempunyai keyakinan dan nilai-nilai khusus dan berada di antara raja serta para

bendara di satu pihak dan tiyang alit di lain pihak. Mereka juga merupakan salah

satu unsur elit yang memerintah, karena elit ini terdiri atas dua kelompok, yaitu

aristrokrasi darah dan aristokrasi jabatan. Kawula atau rakyat kecil yang ingin

masuk dalam kelompok elit ini harus menjadi abdi dalem yang di-kawulawisuda

(diwisuda).16 Dalam perkembangan berikutnya secara berangsur-angsur para

priyayi murni berasal dari keluarga dan keturunannya.

Rakyat kecil yang ingin masuk menjadi priyayi harus melewati jalur suwita

dan magang. Suwita dimulai ketika anak masih berusia sekitar dua belas tahun,

dan dilaksanakan di rumah kerabat yang telah menjadi priyayi tingkat tinggi. Di

tempat yang baru itu anak yang suwita harus mau melakukan pekerjaan baik yang

kasar maupun yang memakai pikiran. Selain itu ia harus membiasakan diri dengan

keadaan setempat, belajar sopan santun yang berlaku dalam keluarga tempat ia

mengabdi. Ia juga harus banyak menimba macam-macam pengetahuan dalam

bidang artistik, terutama kesusastraan, tari dan gamelan.17

15

Ibid, hlm. 111

16

Darsiti Suratman, Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1939, (Yogyakarta: Yayasan untuk Indonesia, 2000), hlm.247

17

Referensi

Dokumen terkait

Heuristik merupakan langkah awal dalam penelitian sejarah guna mencari, menemukan dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah baik itu sumber primer maupun sumber

terutama untuk menentukan apakah sumber itu dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya atau tidak. Kritik intern ini dilakukan setelah penulis selesai membuat kritik

Metode yang digunakan adalah metode sejarah yakni Heuristik (pengumpulan sumber), Kritik Sumber (intern dan ekstern), Interpretasi sejarah, dan tahap akhir dalam

Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode historis yang terdiri atas empat langkah penelitian, yaitu heuristik sebagai upaya pencarian sumber , kritik

Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi 4 tahapan, yaitu (1) Heuristik atau pencarian sumber, (2) Kritik Sumber atau Verifikasi, kritik sumber

Penulisan Skripsi ini disusun menggunakan metode penelitian sejarah dengan menempuh langkah- langkah Heuristik (Pengumpulan Sumber), Verifikasi (Kritik Sumber),

Setelah terkumpul sumber-sumber yang berhubungan dengan penelitian ini, maka tahapan selanjutnya adalah kritik sumber, baik kritik intern maupun ekstern.Kritik

Langkah penelitian meliputi Heuristik, Heuristik merupakan langkah mencari dan mengumpulkan sumber yang terkait dengan Perkembangan Kesenian Glipang di Desa