• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERITA DAN MASYARAKATNYA Berita dan Kebebasan Pers

Dalam dokumen Pers Dan Jurnalistik (Halaman 26-45)

Ketika buku ini ditulis, rakyat Indonesia untuk pertama kalinya melakukan pemilihan presiden dan wakil presiden, secara langsung setelah sebelumnya memilih wakil-wakil mereka di lembaga-lembaga perwakilan. Peristiwa ini berlangsung pada 5 April 2004 yang merupakan Pemilihan Umum yang ke-9 dalam sejarah Republik Indonesia. Berbeda dengan pemilihan presiden dan wakil presiden sebelumnya, yang dilakukan melalui wakil-wakil rakyat di Majelis Permusyawaratan Rakyat, pemilihan kali ini untuk pertama kalinya dilakukan secara langsung oleh rakyat pada 5 Juli 2004. Ada lima calon yang ikut memperebutkan kursi kepresidenan periode 2004-2009, yakni Megawati Soekarnoputri berpasangan dengan Hasyim Muzadi sebagai wakilnya, Amien Rais berpasangan dengan Siswono Yudohusodo sebagai wakilnya, Susilo Bambang Yudhoyono berpasangan dengan Jusuf Kalla sebagai wakilnya, Wiranto berpasangan dengan Solahuddin Wahid, dan Hamzah Haz berpasangan dengan Agum Gumelar. 1 5.“Berita adalah laporan aktual tentang fakta-fakta dan opini yang menarik atau penting, atau

Pemilihan umum (pemilu) 2004 diikuti 24 partai politik, lebih sedikit dari pemilu sebelumnya, tahun 1999, sebanyak 48 partai. Pada pemilihan umum pertama kali tahun 1955, ketika sistem politik Indonesia didasarkan pada UUD Sementara yang bersifat liberal itu, pemilu diikuti 55 partai.16

Sebagai warganegara yang baik, anda tentu ingin memilih secara bijaksana, bukan? Dalam hati anda tentu bertanya-tanya:

Tepatkah saya jika saya memilih partai A? Apakah dengan memilih calon ini atau memilih partai A ekonomi Indonesia akan menjadi lebih baik? Apakah dengan memilih calon ini atau memilih partai B pekerjaan lebih mudah didapat?

Bagaimana anda mendapat informasi yang anda perlukan agar anda dapat mengambil keputusan yang tepat?

Banyak sumber informasi yang bisa anda peroleh. Salah satunya adalah informasi dari mulut ke mulut. Ini bisa anda dapatkan di tempat pekerjaan anda, di terminal-terminal, dalam obrolan santai di warung-warung kopi, dalam obrolan santai dengan teman, dengan tetangga, dan lain-lain.

Tetapi, sebagai warga masyarakat modern, anda tentunya mencari informasi ini pertama-tama dari media massa seperti surat kabar, radio, atau televisi. Dari media massa ini mengalir 1001 macam informasi yang diperlukan warga tentang berbagai masalah, mulai dari masalah politik, ekonomi, keamanan sampai masalah tetek-bengek. Dari surat kabar atau radio anda bisa mengetahui jadwal keberangkatan dan jadwal tiba pesawat terbang maupun kereta api. Inilah yang dicita-citakan pers di seluruh dunia, yakni memberikan informasi selengkap-lengkapnya kepada khalayak ramai, membantu khalayak mendapatkan haknya untuk mendapatkan informasi yang benar dan lengkap atau disebut juga "people's right to know."

Dengan mendapatkan informasi yang benar, khalayak akan mampu mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya maupun masyarakatnya dan bangsanya demi kemajuan masyarakat dan bangsa itu sendiri. Dan hal ini tidak akan tercapai jika pers tidak bebas dalam memberitakan apa-apa yang 1 6.Lihat Vincent Wangge, SH, “Direktori Partai Politik Indonesia”, Permata Media Komunika,

benar atau apa-apa yang dianggap tidak benar yang dijalankan oleh suatu institusi, baik institusi pemerintah maupun swasta.

Itulah sebabnya, di negara-negara demokratis, hak-hak demokrasi rakyat seperti hak kebebasan berfikir, menyatakan pendapat dan berusaha dilindungi oleh undang-undang. Perlindungan terhadap kebebasan pers pun dicantumkan secara tegas dalam konstitusi. Selama hampir setengah abad sejak Dekrit Presiden Soekarno untuk kembali ke UUD '45 dicanangkan pada 5 Juli 1959, pers Indonesia sudah berjuang keras, meskipun dengan berbagai cobaan yang berat, untuk mendapatkan kebebasannya dengan segala macam manuver politiknya. Tetapi, baru di penghujung abad ke-20 dan di awal abad ke-21 ini pers kita mendapatkan jaminan undang-undang dalam melaksanakan kebebasan persnya dengan disahkannya Undang-Undang No. 40 tahun. 1999 dan diterimanya Amandemen ke-2 UUD 1945 oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Seperti dikemukakan Mitchel V. Charnley17 Kebebasan pers itu bukan berarti, "Government, keep your hands-off!"18 Tetapi artinya, "Keep your hands off so that the media may help the people to preserve the democratic system.”19 Menurut Charnley, kebebasan pers adalah sarana, bukan tujuan; pelindungnya adalah publik, bukan penerbit. Publik atau rakyat dalam hal ini diwakili oleh undang-undang dan aparat penegaknya.

Kebebasan Pers Belun Terjamin

Ketika buku ini ditulis, pers Indonesia tengah diramaikan oleh kasus pemimpin redaksi Harian Rakyat Merdeka, Karim Paputungan, yang dijatuhi hukuman lima bulan penjara oleh hakim pengadilan negeri Jakarta Selatan pada tanggal 9 September 2003. Kasus delik pers20 ini diajukan ke pengadilan gara-gara pemuatan foto parodi Akbar Tanjung di Harian Rakyat Merdeka 17. Mitchel V. Charnley, Reporting, Holt, Rinehart and Winston, third edition, 1975

18. "Hey Pemerintah, jangan ikut campur!"

19. "Jangan ikut campur sehingga media dapat membantu'rakyat memelihara sistem demokrasi."

edisi 8 Januari 2002 yang memperlihatkan bagian tubuh bertelanjang dada dan penuh keringat.21 Foto tersebut merupakan ilustrasi dari berita berjudul "Akbar Sengaja Dihabisi. Golkar Nangis Darah."

Karim oleh Pengadilan dianggap bersalah melanggar Pasal 310 ayat (2) KUHP, yang antara lain berbunyi: dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan tulisan atau gambar yang disiarkan, dipertunjukkan pada umum atau ditempelkan.

Selain kasus di atas, pers Indonesia juga meratap ketika hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memerintahkan dilakukannya sita jamin atas rumah tinggal Gunawan Muhamad, pemimpin umum Majalah Berita Tempo, dan atas kantor Majalah Tempo. Rumah Gunawan disita jamin merespon pengaduan bos Grup Artha Graha, Tomy Winata, sehubungan pernyataan Gunawan yang menyatakan, " ...Jangan sampai Republik ini jatuh ke tangan preman." Pernyataan ini dianggap Tomy sebagai pencemaran nama baiknya.

Sedangkan sita jamin atas kantor Tempo dilakukan untuk menindaklanjuti vonis terhadap Pemimpin Redaksi Tempo, Bambang Harimurti dan dua wartawan Tempo, Ahmad Taufik dan Tengku Iskandar Ali, yang diadukan Tommy atas tuduhan pemuatan berita bohong Majalah Tempo berjudul "Ada Tommy di Tenabang" (3-9 Maret 2003).

Gunawan sama dengan Karim dianggap bersalah telah melanggar Pasal 310 ayat (2) KUHP, yakni dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan tulisan atau gambar yang disiarkan, dipertunjukkan pada umum atau ditempelkan. Dan, gugatan perdata Tommy pun kepada Gunawan di pengadilan perdata dikabulkan hakim dengan munculnya perintah sita jamin tersebut.

20. Delik Pers = pelanggaran hukum oleh pers. Lihat lebih lanjut Bab IV tentang Delik Pers

2 1. Kemerdekaan Pers Indonesia Setengah Hati, oleh Leo Batubara, Ketua Pelaksana Harian SPS dan Ketua Komisi I Dewan Pers Urusan Pengaduan Masyarakat, dimuat dalam Rakyat Merdeka secara serial dalam edisinya tanggal 18, 19, 20 September 2003.

Nasib kedua wartawan Tempo tadi lebih mengenaskan lagi, mereka didakwa telah melanggar Pasal XIV ayat (1) dan (2) UU No. 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana Pasal 55 ayat (1) ke-1 e KUHP. Ancaman hukuman untuk palanggaran tersebut maksimal 10 tahun. Kedua wartawan itu juga didakwa melanggar Pasal 310 dan 311 KUHP tentang penghinaan.

Selain kedua kasus tersebut, pers Indonesia juga mengalami cobaan dengan diadukannya penanggungjawab Harian Rakyat Merdeka ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan tuduhan telah menyerang kehormatan Presiden Megawati. Jaksa penuntut menggunakan Pasal 134 jo Pasal 65 ayat (1) KUHP, subsider melanggar pasal 137 ayat (1) KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Dari ketiga kasus tersebut kita pun mengetahui bahwa meskipun kebebasan pers Indonesia dijamin oleh konstitusi maupun undang-undang, namun pada pelaksanaannya masih saja mengalami hambatan. Hambatan itu tidak lain datang dari produk-produk hukum kolonial yang tercantum dalam pasal-pasal KUHP yang sampai sekarang masih tetap dipertahankan dan dari sikap pemimpin-pemimpin bangsa sendiri yang tidak mau memberikan contoh untuk menciptakan preseden yang baik.22 Demikian pula, sebagian besar para hakim kita tidak memiliki semangat inovatif yang diperlukan untuk membangun hukum yang lebih maju melalui keputusan-keputusannya.

Kita bisa menyimak misalnya UU Pers No. 40/1999 itu mengamanatkan bahwa (1) pers nasional antara lain mempunyai fungsi kontrol; (2) berperan melakukan pengawasan melalui kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. Undang-undang pers itu juga menugaskan Dewan Pers untuk melindungi kemerdekaan pers, dan memberikan pertimbangan serta mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers.

Dengan dikeluarkannya UU Pers No. 40/1999 tersebut, apalagi diperkuat oleh Amandemen ke-2 UUD'45, seharusnya pelanggaran-2 pelanggaran-2.Krisna Harahap, S.H., M.H., Rambu-Rambu di Sekitar Profesi Wartawan, PT Grafiti Budi Utami, 1996.

pelanggaran yang menyangkut kinerja pers hendaknya tidak lagi dikenakan pasal-pasal KUHP yang berjiwa kolonial itu. Hakim dapat saja memelopori gerakan ke arah itu dengan menjatuhkan sanksi-sanksi yang didasarkan pada UU Pers itu saja. Dan, keputusan hakim semacam ini bisa dijadikan sebagai preseden hukum yang ideal yang mengarah kepada yurisprudensi.23 Kemajuan hukum semacam inilah sebenarnya yang didambakan oleh bangsa ini, sehingga hukum yang bercita-cita menegakkan keadilan bisa tercapai.

Tetapi, demikianlah, tokoh-tokoh politik kita maupun para hakim kita tampaknya kurang memahami apa artinya memberikan kepeloporan dalam fungsinya masing-masing, yang dapat membawa bangsa ini ke tahap yang lebih maju. Seperti Presiden Megawati dan Ketua DPR Akbar Tanjung, misalnya, seharusnya kedua pemimpin bangsa itu memberikan contoh kepada rakyatnya untuk memberdayakan Dewan Pers dengan mengupayakan penyelesaian kasusnya sesuai dengan amanat UU Pers. Tetapi, Presiden Megawati maupun Akbar Tanjung langsung mengadukannya ke pengadilan dan hakim pengadilan yang tidak mau memahami perkembangan zaman dan mau gampangnya saja langsung menerapkan pasal-pasal KUHP. Padahal, pemerintah kolonial Belanda merancang pasal-pasal KUHP tentang delik pers itu bukan untuk melindungi kemerdekaan pers, melainkan untuk memenjarakan siapa saja yang berani mengritik pemerintah. Sebab itu, masyarakat pers Indonesia mendesak agar UU Pers No.40/1999 dijadikan sebagai lex specialis, sehingga sesuai dengan asas hukum lex specialis derogate lex generalis, maka UU Pers ini dapat menyampingkan undang-undang lainnya sepanjang menyangkut delik pers. Sesungguhnya kalau menyimak kembali kepada putusan kasasi pada 12 April 1993 atas kasus PT Anugerah Langkat Makmur yang memperkarakan Harian Garuda Medan, hakim di Indonesia pernah memberlakukan UU Pokok Pers (UU Pokok Pers tahun 1960) sebagai lex-specialis. Kala itu, majelis hakim kasasi yang diketuai M.Yahya Harahap menolak gugatan pencemaran nama baik PT 2 3. Keputusan hakim yang sudah mendapatkan kekuatan hokum yang tetap yang dapat

dipakai oleh hakim-hakim lain untuk dasar mengambil putusan dalam suatu perkara. Jadi, yurisprudensi tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan sebuah pasal undang-undang.

Anugerah Langkat Makmur dengan alasan penggugat belum melakukan hak jawab.24

Namun dibalik harapan tersebut, dunia pers Indonesia pada 13 Mei 2004 dikejutkan dengan sebuah putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang cukup kontroversial atas vonisnya yang menghukum majalah Trust untuk membayar ganti rugi Rp 1 miliar kepada Direktur PT Petindo Perkasa John Hamenda. Majalah bisnis dan hukum yang menurunkan beritanya yang berjudul "Komplotan Pembobol BNI" dianggap melawan hukum dengan mencemarkan nama baik. Dalam pertimbangan putusan yang dibacakan hakim ketua Tjitjut Sutiarso, majalah Trust dinilai menyiarkan informasi yang tidak sah dianggap benar. Hal lain, Trust dinilai telah melanggar hak subjektif penggugat karena dalam pemberitaannya tidak menggunakan inisial, melainkan menyebut nama lengkap penggugat.

Reportase investigatif majalah Trust berawal dari fotokopi hasil audit internal Bank BNI yang diperoleh wartawannya, kemudian dilakukan penyelidikan lebih jauh dan hasilnya dimuat pada edisi 52, 1-7 Oktober 2003.

Majalah Trust bertahan untuk tidak membuka sumber yang memberikan fotokopi hasil audit internal, karena sesuai dengan kode etik jurnalistik, wartawan wajib melindungi sumbernya, kecuali demi kepentingan umum, sumber tersebut dapat dibuka. Demi kepentingan umum itupun harus ditetapkan oleh suatu putusan pengadilan.25

Tentang kasus Rakyat Merdeka, seseorang Dewan Anggota Pers Leo Batubara bercerita mengenai kasus serupa di Jerman.26 “…ketika delegasi Indonesia berdiskusi tentang The Task and Works of the Association of German Journalistists di Bonn tanggal 19 September 2003, salah seorang dari pengurus Persatuan Wartawan Jerman, Michael Klehm, mengemukakan bahwa bila media Jerman memuat foto Perdana Menteri Jerman bersama seluruh anggota kabinetnya dengan caption yang berbunyi The Traitors (Pengkhianat), ini dinilai tidak melanggar kode etik pers. Alasannya, caption 24. Lihat Koran Tempo, “MA Jangan Ragu Keluarkan Perma Lex Specialis”, 7 Mei 2004

25. Lihat Kotan Tempo, “Majalah Trust

tersebut dianggap sebagai penilaian atas kinerja Pemerintah.

“Sorenya delegasi Indonesia bertemu dengan wakil Dewan Pers Jerman (Deutscher Presserat), Mr. Ella Wassink. Dia menyerahkan kopi foto montase gambar sampul depan Majalah Stern edisi 16 Mei 2002 yang memuat gambar utuh Perdana Menteri Gerhard Schroeder dalam posisi telanjang bulat. Hanya saja bagian alat kelaminnya ditutupi dengan selembar daun. Caption-nya: ‘Kebenaran yang telanjang. Dapatkah Schroeder menang?’

“Bagaimana Schroeder menanggapi gambar ini dan bagaimana peranan dewan pers? Perdana Menteri Schroeder sama sekali tidak mengadukan majalah tersebut ke pengadilan,” tulis Batubara. “Tetapi, sejumlah warga negara mengadukan majalah tersebut ke Dewan Pers Jerman. Dalam sidangnya tertanggal 18 Juni 2002, Dewan Pers memutuskan: ‘Dewan Pers menolak pengaduan itu sebagai tidak berdasar.’ Menurut pendapat Dewan Pers, foto montase tersebut, Schroeder. Juga tidak merendahkan institusi pemerintah federal. Lagipula, Dewan Pers berpendapat pemuatan foto itu sekedar satire yang diperbolehkan dan terkait dengan berita dalam edisi yang sama. Foto itu mengacu kisah dongeng tentang The Emperor New Clothes dan Gerhard Schroeder berperan sebagai ‘penguasa tidak terpuji’ yang berpakaian hanya sehelai daun ara. Dari segi kode etik, pemuatan gambar itu dinilai tidak melanggar kode etik pers Jerman.”

Bandingkan cerita diatas dengan ketiga kasus dakwaan delik pers yang dialami para wartawan Majalah Tempo dan Harian Rakyat Merdeka itu. Bandingkan pula sikap para petinggi kita dengan sikap petinggi di Jerman tersebut. Dari sini saja kita sudah dapat menilai betapa terbelakang kita dalam sikap dan betapa miskin kita dalam idealisme untuk meningkatkan diri menjadi bangsa yang demokratis. Dan, di sinilah peran pers diperlukan untuk menjalankan fungsinya yang mendidik.

Unsur Layak Berita

untuk dimuat, penulis ingin mengajak pembaca menyimak isi pasal 5 Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia:27

"Wartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dan ketepatan, serta tidak mencampurkan fakta dan opini sendiri. Tulisan berisi interpretasi dan opini wartawan agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya."

Dari ketentuan yang ditetapkan oleh Kode Etik Jurnalistik itu menjadi jelas pada kita bahwa berita pertama-tama harus cermat dan tepat atau dalam bahasa Jurnalistik harus akurat. Selain cermat dan tepat, berita juga harus lengkap (complete), adil (fair) clan berimbang (balanced). Kemudian berita pun harus tidak mencampurkan fakta dan opini sendiri atau dalam bahasa akademis disebut objektif. Dan, yang merupakan syarat praktis tentang penulisan berita, tentu saja berita itu harus ringkas (concise), jelas (clear), dan hangat (current).

Sifat-sifat istimewa berita ini sudah terbentuk sedemikian kuatnya sehingga sifat-sifat ini bukan saja menentukan bentuk-bentuk khas praktik pemberitaan tetapi juga berlaku sebagai pedoman dalam menyajikan dan menilai layak tidaknya suatu berita untuk dimuat. Ini semua membangun prinsip-prinsip kerja yang mengkondisikan pendekatan profesional terhadap berita dan membimbing wartawan dalam pekerjaannya sehari-hari.

Baiklah, kita sudah mendapatkan tujuh sifat istimewa berita yang akan kita sebut juga sebagai unsur-unsur layak berita, yaitu akurat, lengkap, adil

2 7. Kode Etik Jurnalistik (KEJ) pertama kali dibuat pada tahun 1947 di Yogyakarta, kemudian disusun kembali dan ditetapkan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tahun 1955 di Prapat, Sumatera Utara, dan mengalami penyempurnaan pada Kongres Kerja Nasional PWI tahun 1994 di Batam, Riau. Kemudian dalam Kongres XXI PWI di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 2-5 Oktober 2003 , Kode Etik Jurnalistik ini lebih disempurnakan lagi.

dan berimbang, objektif, ringkas, jelas dan hangat. Sekarang marilah kita bahas hal tersebut masing-masing satu demi satu:

Berita Harus Akurat

Wartawan harus memiliki kehati-hatian yang sangat tinggi dalam melakukan pekerjaannya mengingat dampak yang luas yang ditimbulkan oleh berita yang dibuatnya. Kehatian-hatian dimulai dari kecermatannya terhadap ejaan nama, angka, tanggal dan usia serta disiplin diri untuk senantiasa melakukan periksa ulang atas keterangan dan fakta yang ditemuinya. Tidak hanya itu, akurasi juga berarti benar dalam memberikan kesan umum, benar dalam sudut pandang pemberitaan yang dicapai oleh penyajian detail-detail fakta dan oleh tekanan yang diberikan pada fakta-faktanya.

Pembaca biasanya sangat memperhatikan soal akurasi ini. Bahkan, kredibilitas sebuah media, apakah cetak maupun elektronik, sangat ditentukan oleh akurasi beritanya sebagai konsekuensi dari kehati-hatian para wartawannya dalam membuat berita. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Public Agenda Foundation terhadap khalayak pembaca/pemirsa surat kabar/majalah maupun televisi/radio menyimpulkan : "52% meragukan keakurasian."

Seorang wartawan yang memiliki kemampuan tinggi dalam mencari berita, tapi mengabaikan soal akurasi, dia hanya menyiapkan diri untuk kemudian dipecat dari pekerjaannya, karena ia akan mengantarkan perusahaan penerbitan pada gugatan pembaca. Bisa jadi perusahaan akan kehilangan ratusan juta rupiah untuk membayar ganti rugi pencemaran nama baik.

Mengenai akurasi ini, ada sebuah ilustrasi menarik dari seorang dosen di depan mahasiswa jurusan jurnalistik. Sang dosen memperlihatkan sebuah kaleng yang berlabel suatu jenis buah. Kemudian ia meminta mahasiswanya untuk menyebut tiga hal mengenai kaleng yang dipegangnya. Seorang mahasiswa mengatakan, "benda itu dibuat dari metal. Isinya dapat dimakan." Kemudian menyusul jawaban lainnya: "Isinya berwarna hijau, karena labelnya bertuliskan buncis." Lalu mahasiswa lainnya berkata lain, "kaleng beratnya 16

ons, kalau dilihat dari besarnya." Masih ada yang menjawab dengan rasa pasti. Katanya, kaleng itu berisi buncis karena demikian tulisan pada labelnya.

Dari enam jawaban tadi, ternyata hanya dua saja yang akurat. Selebihnya menjawab atas dasar asumsi yang salah karena kaleng setelah dibalikkan oleh sang dosen tidak berisi apa-apa. Bahkan, dasar kalengnya pun sudah tidak ada. Jawaban yang akurat adalah bahwa kaleng terbuat dari metal dan label bertuliskan buncis.

Dengan contoh di atas sang dosen ingin memperlihatkan bahwa acapkali banyak wartawan yang terjebak oleh suatu fakta tidak akurat yang sengaja diciptakan oleh para politisi yang hanya mengatakan setengah kebenaran, atau politisi yang ingin menyembunyikan fakta. Atau diciptakan oleh sumber berita yang ingin membesar-besarkan sesuatu karena memang dia seorang yang gemar dipublikasikan.

Mudahnya wartawan menggiring pembaca untuk membuat suatu asumsi atas fakta yang dilihafcnya misalnya terdapat dalam sebuah berita berjudul "Jelang Konvensi Golkar, Semua Pihak Siapkan Peluru" dimuat di harian Kompas, 8 April 2004. Surat kabar ini menulis berita mengenai kesibukan para calon presiden (capres) dari Golkar dalam menghadapi konvensi partainya, di antaranya Akbar Tanjung yang mengadakan rapat dengan tim sukses di ruang kerjanya di gedung DPR/MPR Senayan. Selesai rapat, tak satu pun peserta pertemuan itu mau memberikan keterangan kepada pers. Rupanya wartawan Kompas melihat salah seorang peserta yang keluar ruangan, Ade Komaruddin, membawa dokumen setebal 20 halaman yang berjudul "Ringkasan Dakwaan terhadap Jenderal TNI (purn) Wiranto atas Kejahatan Pelanggaran HAM di Timor-Timur".

Penyelipan fakta adanya seorang peserta rapat membawa dokumen tersebut, tentu diharapkan oleh sang wartawan agar pembaca bisa sedikit mereka-reka apa antara lain isi pembicaraan dalam rapat tersebut atau pembaca didorong membuat asumsi sendiri. Fakta peserta rapat membawa apa yang disebut dokumen itu memang benar. Apakah ihwal yang menjadi isi dokumen itu menjadi pokok pembahasan, tentu perlu pengecekan lebih jauh.

Sepekan kemudian, 14 April 2004 dalam rubrik surat pembaca harian tersebut, Ade Komaruddin membantah bahwa dokumen setebal 10 halaman [bukan 20 halaman seperti diberitakan] tidak ada relevansinya dengan rapat tersebut. Menurut Ade Komaruddin dalam bantahannya, foto “dokumen” yang dipegangnya diterima dari seseorang saat berjalan menuju Gedung Nusantara 3 DPR Lantai 3.

Tentang betapa pentingnya akurasi ini dalam berita, Joseph Pulitzer, tidak lama setelah ia pensiun sebagai pemimpin redaksi New York Work, mengatakan antara lain28; it is not enough to refrain from publishing fake news: it is not enough to avoid the mistakes hich arise many man who handle the news…you have got to…make everyone connected ith the paper – you editors, your reporters, your correspondents, your rewrite men, your proofreaders – belive that accuracy is to a newspaper what virtue is to a woman.29

Apakah usaha perlindumgam yamg dilakukan wartawan? Bagaimana ia dapat melindungi dirinya suratkabarnya dan pembacanya dari ketidak cermatan, dari ketidakakuratan? Perlindungan yang baik adalah kewaspadaan yang disertai kesabaran. Buatlah catatan-catatan yang dapat dibaca tentang setiap fakta (jangan mengandalkan ingatan yang jarang akurat), terutama tentang detil-detil spesifik seperti nama, usia, tanggal, waktu, dan alamat.

Dalam dokumen Pers Dan Jurnalistik (Halaman 26-45)