• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES MENGHIMPUN BERITA

Dalam dokumen Pers Dan Jurnalistik (Halaman 59-82)

Penentu Berita

sesungguhnya merupakan tahap awal dari proses kerja redaksional. Biasanya seorang redaktur menentukan apa yang harus diliputi sementara seorang reporter menentukan bagaimana cara meliputnya, karena ia berurusan dengan tahap pencarian/penghimpunan dan penggarapan berita. Setelah seluruh materi terhimpun, maka dilakukanlah penulisan dan penyuntingan (editing). Dalam tahap yang akhir, sambil dilakukan penyuntingan, dilakukan pula pemerkayaan terhadap berita.

Jadi prosesnya: redakrur menugaskan reporter untuk meliput; kemudian reporter tersebut mencari dan mengumpulkan hal-hal yang diperlukan. Sebaiknya dalam tahap ini dibiasakan menyusun suatu perencanaan dulu dengan membuat semacam check-list (daftar periksa) tentang apa-apa yang harus dikerjakan. Check-list semacam ini biasanya disebut 'planningsheet' yang isinya menyusun daftar sumber-sumber yang akan dihubungi, setelah lebih dulu membuat semacam abstraksi (ringkasan) dari peristiwa atau objek liputan.

Kalau diperlukan, reporter melakukan riset dokumentasi dan merancang bahan lain untuk penulisan, misalnya foto dan grafik.

Ketika tulisan reporter sampai di meja redaktur, dilakukan penilaian layak atau kurang layaknya suatu berita untuk dimuat. Kalau pun layak, apa saja yang perlu ditonjolkan untuk menarik khalayak pembaca. Salah satu instrumen untuk menyeleksi kelayakan itu adalah seberapa kuat unsur-unsur nilai berita yang terdapat dalam beritanya (lihat mengenai nilai berita di Bab 3). Semakin banyak unsur nilai berita di dalamnya, semakin tinggilah nilai kelayakan beritanya.

Dengan dasar pemahaman terhadap unsur nilai berita ini, seorang reporter dapat menentukan apa saja dari materi berita yang didapatkannya yang harus dimuat atau dibuang sama sekali. Misalnya seorang reporter ditugaskan untuk meliput pemilihan ketua senat mahasiswa sebuah perguruan tinggi di kotanya. Apakah cukup penting bagi pembacanya untuk dimuat juga susunan pengurusnya atau lebih bernilai membuat berita tentang program

senat mahasiswa yang cukup bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Dapur Redaksi

Dalam organisasi surat kabar dimanapun, sebelum seorang reporter turun atau diturunkan ke lapangan, ia harus lebih dulu mendengarkan dari redakturnya apa-apa yang dihasilkan dalam rapat redaksi di pagi hari seputar berita-berita yang perlu diliput, jika si wartawan bekerja di harian pagi. Setiap surat kabar harian pagi memang selalu mengadakan rapat pagi yang dihadiri oleh para redaktur dan dipimpin oleh Pemimpin Redaksi atau Redaktur Pelaksana untuk menentukan berita-berita apa saja yang akan mengisi halaman-halaman surat kabar mereka esok hari.

Redaktur Pelaksana adalah eksekutif yang bertugas mengawasi pelaksanaan peliputan berita atau boleh disebut juga kapten regu pemberitaan. Ia bertanggung jawab atas disajikannya berita-berita yang berimbang dan lengkap tentang berita-berita utama, baik lokal maupun nonlokal, yang penting dan ditunggu-tunggu pembaca korannya. Pekerjaan detilnya bukan dia yang mengerjakan melainkan para redaktur dibawahnya beserta stafnya, kalau ada. Misalnya, untuk masalah-masalah kota, pekerjaan detil seperti penugasan peliputan dan penyuntingan berita dilakukan oleh redaktur kota, untuk berita-berita olahraga oleh redaktur olahraga, untuk berita-berita-berita-berita politik oleh redaktur politik, untuk berita-berita ekonomi oleh redaktur ekonomi dan seterusnya.

Dalam sebuah surat kabar paling sedikit biasanya ada empat redaktur, yang biasanya terdiri dari redaktur kota, redaktur olahraga, redaktur hiburan/kebudayaan, dan redaktur ekonomi. Surat kabar nasional besar seperti Kompas, Republika, Media Indonesia, Sinar Harapan, atau Rakyat Merdeka, tentu memiliki lebih banyak redaktur karena berita yang diliput surat kabar-surat kabar itu masing-masing sangat beragam.

Harian Kompas, misalnya, memiliki satu redaktur kota, satu redaktur foto, satu redaktur Minggu, satu redaktur daerah dan tujuh redaktur bidang, yaitu bidang-bidang olahraga, ilmu pengetahuan & teknologi (Iptek), sosial,

ekonomi & bisnis, politik, kebudayaan, pertahanan dan keamanan, dan luar negeri. Redaktur tersebut masing-masing memimpin desk, yaitu setara dengan bagian dalam organisasi biasa. Dengan demikian terdapat desk ekonomi, desk kota, desk luar negeri dan sebagainya yang masing-masing dipimpin oleh seorang redaktur.

Redaktur Pelaksana merupakan eselon ketiga dalam hirarki organisasi surat kabar. Di puncak organisasi duduk Pemimpin Umum surat kabar, biasanya pemilik surat kabar atau orang yang ditunjuk mewakili pemilik. Di tangga hirarki di bawahnya terdapat Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Perusahaan. Pemimpin Redaksi bertanggungjawab atas operasi redaksional secara keseluruhan, yakni operasi yang bukan berkaitan dengan iklan, sirkulasi, dan administrasi. Redaktur Pelaksana lazimnya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Pemimpin Redaksi. Sementara, Pemimpin Perusahaan yang bertanggung jawab kepada Pemimpin Umum diserahi tugas mengelola operasi-operasi yang bersangkutan dengan administrasi, keuangan perusahaan dan pemasaran. Di bawah Pemimpin Perusahaan terdapat kepala-kepala bagian atau manajer sirkulasi, iklan, promosi, produksi dan bagian-bagian lain yang berkaitan dengan masalah bisnis, teknik, dan operasi-operasi distribusi. Sudah tentu, pola organisasi seperti ini tidak persis sama di setiap surat kabar, tetapi pada dasarnya seperti itulah. Seperti dikemukakan di atas, Pemimpin Redaksi bertanggungjawab atas operasi keredaksian secara keseluruhan. Tempat dimana kegiatan keredaksian ini berlangsung disebut Dapur Redaksi. Dapur Redaksi dipimpin dan dikelola langsung oleh Redaktur Pelaksana, sedangkan Pemimpin Redaksi hanya mengawasi dan mengarahkan atau melakukan supervisi atas operasionalisasi keredaksian.

Beat atau Wilayah Peliputan

Hampir di semua surat kabar, desk kota merupakan desk yang paling banyak memiliki wartawan. Maklum kota banyak masalahnya dan banyak tempat-tempatnya yang harus diliput. Redaktur Desk Kota bertariggungjawab untuk peliputan seluruh kota dan kota-kota satelitnya, atau kota-kota kecil di

sekitarnya dan beberapa komunitas-komunitas yang terpencil. Misi Redaktur Kota adalah memastikan bahwa reporter-reporter atau wartawan-wartawannya memasukkan berita setiap harinya dan menjaga agar tak satu pun peristiwa penting dan menarik lolos. Dan tergantung dari berita-berita yang dimasukkan para reporternya itulah yang membedakan kepribadian satu koran dengan koran-koran lainnya.

Redaktur Kota membuat rencana peliputannya berdasarkan anggapan bahwa pusat-pusat informasi berada di sekitar tempat-tcmpat tertentu. Berita tentang kegiatan-kegiatan pemerintah kota terdapat di Balaikota dan kantor-kantor dinas pemerintah kota lainnya. Berita-berita kriminal bisa diperoleh dari kantor-kantor wilayah kepolisian atau resort-resort kepolisian. Berita-berita pengadilan diperoleh dari pengadilan-pengadilan negeri dan kejaksaan negeri. Berita-berita bisnis dan keuangan dari bank-bank, dari kantor-kantor kadin (kamar dagang Indonesia), asosiasi-asosiasi niaga, serikat buruh, dan para pengusaha. Berita-berita kegiatan sosial bisa didapatkan dari lembaga-lembaga layanan sosial dan dinas-dinas sosial. Demikian pula berita-berita lainnya, seperti berita tentang transportasi, berita pendidikan, agama, kesehatan, ilmu pengetahuan dan Iain-lain didapat dari instansi-instansi yang berkaitan dengan bidang-bidang kegiatan tersebut.

Untuk pusat-pusat berita itu Redaktur Kota menugaskan reporter-reporter atau wartawan-wartawan beat. Beat artinya tempat tetap yang dikunjungi wartawan untuk mencari berita. Misalnya, seorang wartawan bisa secara tetap ditugnskan untuk meliput berita-berita pengadilan. Maka dikatakan beat wartawan tersebut adalah pengadilan.

Selain reporter beat, yang jadwal kerjanya tetap sama dari hari ke hari, Redaktur Kota juga memiliki sejumlah reporter yang ditugaskan meliput masalah-masalah yang tidak dikhususkan dalam satu bidang saja. Reporter semacam ini disebut reporter "pelaksana penugasan umum". Banyak dari penugasan-penugasan semacam itu muncul dari sumber-sumber nonbeat.

Kadang-kadang reporter beat memberitahu redakturnya tentang adanya bahan berita yang belum sempat ia liput sehingga reporter lain dapat mengambilnya.

Wartawan dalam Aksinya

Pemberitaan yang tumbuh dari organisasi dan perencanaan yang cermat, diilhami oleh imaginasi, ditopang oleh fakta-fakta, dan digerakkan oleh keringat dan tujuan. Wartawan tidak sia-sia disebut wartawan: menghimpun berita adalah pekerjaan berat.

Anda boleh bandingkan pekerjaan wartawan dengan pekerjaan profesi lain. Begitu bangun di pagi hari, hal pertama yang dikerjakan seorang wartawan adalah membuka surat kabar yang diantarkan agen koran kerumahnya. Ia pun membaca berita penting hari itu, terutama berita-berita yang bertalian dengan beat-nya yang mungkin dapat ia kembangkan.

Selesai mandi, ia dengan bergegas berdandan dan sambil bersisir atau mencukur kumis dan jenggotnya ia mereka-reka pengembangan berita dari berita yang ia baca hari itu. Sambil sarapan setelah selesai berdandan, ia masih juga mereka-reka kemungkinan berita yang dapat ia tulis.

Sang wartawan kini sudah tiba di kantornya sekitar pukul 8 pagi. Sambil menunggu redakturnya datang, ia membuka lagi surat kabar hari itu yang diterbitkan surat kabar saingan. Ia menemukan dua buah berita kota disana yang tidak ada dalam terbitan surat kabarnya hari itu yang mungkin dapat ia kembangkan. Ketika redakturnya datang, ia membicarakan hal itu dengan redakturnya sebelum redakturnya itu menghadiri rapat pagi redaksi. Ia beruntung karena usulannya untuk mengembangkan dua berita dari surat kabar pagi itu mendapat lampu hijau dari redakturnya.

Tanpa membuang waktu sang wartawan mengeluarkan bloknot-nya dan segera menuliskan beberapa catatan sebagai persiapan wawancara-wawancara yang akan ia lakukan nanti. Ia kini dapat pergi ke beat-nya. dengan perasaan lega karena ia pagi itu dapat pergi dengan rencana garis besar wawancara di kantongnya.

Sekitar pukul 12.00 tengah hari sang wartawan sudah berhasil menghimpun berita-berita hasil wawancara dan hasil mencatat dari dokumen-dokumen yang ia baca di tempat beat-nya. Sekitar pukul 13.00 ia sudah kembali ke kantornya dan langsung menuliskan hasil wawancaranya menjadi berita. Ia berhasil membuat dua berita hari itu dan mampu menyelesaikannya pada pukul 16.00 petang.

Setelah mendaftarkan kedua judul beritanya dalam "listing"1 berita kota hari itu dalam komputer yang disediakan oleh surat kabarnya khusus untuk itu, sang wartawan masih juga belum pulang karena ia masih harus menunggu dulu kalau-kalau redakturnya yang sedang menghadiri rapat petang redaksi memerlukan keterangan tambahan dari dia. Rapat petang redaksi disebut juga rapat "budgeting", yaitu rapat untuk mengalokasikan berita-berita yang masuk dari para wartawan dan dari kantor berita serta dari para koresponden diluar kota ke dalam penerbitan koran yang akan diterbitkan keesokan hari (untuk koran pagi).

Dalam rapat "budgeting" itulah ditentukan mana berita-berita yang masuk di halaman depan mana yang masuk di halaman dalam (halaman kota, halaman ekonomi dan sebagainya). Dan dalam rapat itu juga para redaktur masing-masing desk mengusulkan berita-berita yang dijadikan headline atau berita utama di halaman depan dan di halamannya masing-masing.

Selesai rapat petang, redaktur desk sang wartawan tadi langsung kembali ke mejanya dan duduk menghadapi komputernya. Ia kini memeriksa berita-berita yang masuk ke desk-nya. Berita-berita ini tertampung dalam basket di directory komputernya.2 Hari sudah pukul enam seperempat petang

1 . Istilah "listing" digunakan oleh suratkabar untuk mendaftarkan berita-berita dari wartawan untuk dimuat hari itu.

2 . Istilah basket dan directory akan anda temukan di redaksi suratkabar yang sudah menggunakan sistem komput'erisasi. Basket dan directory sama pengertiannya yaitu tempat penampungan sekelompok file-file dalam hardisk komputer.

dan sang wartawan yang baru selesai sembahyang maghrib masih belum pulang juga. Ya, ia belum merasa tenang untuk pulang sebelum semua berita yang ia sampaikan belum selesai disunting oleh redaktur dan dikirimkan ke bagian komposing.3

Berita yang dibuat oleh wartawan ternyata baru selesai disunting oleh redakturnya dan dikirimkan ke bagian komposing pada pukul 20.00. Nah, pada saat itulah sang wartawan merasa sudah cukup tenang untuk pulang ke rumah. Dengan demikian, kalau kita cermati, jam kerja sang wartawan sebenarnya tidak lazim jika dibandingkan dengan jam kerja profesi lain. Ia berangkat kerja dari rumahnya pada pukul 8 dan baru pulang dari tempat kerjanya pada pukul 20.00. Ditambah waktu yang dihabiskan dalam perjalanan pulangnya selama kurang lebih satu jam, maka ia baru tiba di rumahnya pada pukul 21.00. Jadi, ia bekerja selama lebih dari 13 jam sehari dan bagi seorang wartawan hampir tidak ada waktu libur dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari karena hari Minggu pun terkadang ia harus mencari berita. Itulah yang dimaksudkan oleh Charnley tadi bahwa menghimpun berita itu adalah pekerjaan berat.

Syarat-Syarat Menjadi Wartawan yang Baik

Pada suatu hari seorang Pemimpin Redaksi menugaskan seorang wartawan yang baru untuk mengunjungi kantor sekretariat SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) kalau-kalau ada hal penting yang dapat diberitakan.

3 . Kata komposing berasal dari kata Inggris, composing. To compose artinya menyusun. Dulu bagian komposing adalah bagian yang tugasnya mengetik naskah berita yang ditulis wartawan dalam mesin setter. Sekarang naskah berita ini oleh bagian komposing langsung dapat dilihat di layer monitor computer dan kemudian di- layout ke dalam halaman-halaman opmak atau makeup yang dikerjakan dengan komputer. Atau dewasa ini masiha ada surat kabar yang mengerjakan layout secara manual, maka opmaknya dikerjakan dengan menempelkan naskah yang sudah diketik dan kemudian diprint itu ke atas lembar kertas layout seukuran Koran untuk kemudian difoto oleh bagian reproduksi sehingga berbentuk film. Film ini kemudian digunakan untuk mencetak opmak koran ke atas plat logam seperti tukang foto mencetak foto dari film negatif ke atas kertas foto. Selanjutnya plat logam ini dipasang apda rol mesin cetak dan proses pencetakan koran pun dapat mulai dilakukan oleh mesin cetak.

Ketika sang wartawan kembali ke kantor, ia mengatakan bahwa dirinya tidak menemukan informasi penting untuk diberitakan. "Tidak ada informasi penting, tidak seorang pun pengurusnya ada di sana," katanya. Sudah tentu Pemimpin Redaksi hanya ternganga mendengar laporan wartawannya.

Mengambil contoh kisah di atas, seorang wartawan sebenarnya tidak boleh mengatakan tidak ada berita, apalagi tidak ada berita penting, karena semua berita itu penting. Semua yang dijumpai oleh wartawan jika dikembangkan menjadi berita maka berita itu akan menjadi penting, paling tidak bagi orang yang membacanya. Apalagi, para pegawai kantor sekretariat sebuah organisasi buruh biasanya mempunyai kisah-kisah atau informasi yang bisa dikembangkan menjadi berita menarik.

Kisah di atas menunjukkan bahwa berita tidak selalu bisa ditemukan "terima jadi." Berita harus dirasakan ketika anda menemukannya. Inilah yang dikatakan bahwa anda mempunyai "hidung wartawan." Sebuah informasi atau fakta belum menjadi berita sampai informasi atau fakta tersebut ditulis dalam bentuk berita. Jika daya penciuman anda terhadap berita kurang tajam, maka proses tersebut tidak akan pernah terjadi.

Apa sebenarnya kualitas yang diperlukan pada diri seorang wartawan untuk menghasilkan kemampuan mencium keadaan yang berpotensi menjadi berita? Sudah tentu pertanyaan ini sulit untuk dijawab. Tetapi ada empat kualitas yang mungkin perlu dimiliki seorang wartawan, yang harus diketahui oleh para calon wartawan, yaitupengalaman, rasa ingin tahu, daya khayal, dan. pengetahuan.4

Pengalaman. Pengalaman adalah hal-hal atau kejadian-kejadian yang

dialami seseorang. Seorang pcnyanyi akan banyak belajar tentang menyanyi bukan dengan membaca buku tentang menyanyi tetapi dengan mengalami sendiri bagaimana caranya menyanyi. Wartawan akan banyak belajar menulis berita yang baik dengan mengalami sendiri bagaimana caranya membuat berita.

Wartawan-wartawan masa kini, dimulai sejak awal tahun 1970-an sampai sekarang, mendasarkan pengalamannya untuk pengetahuan kerja mereka dari pendidikan, biasanya pada pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Pemuda dan pemudi lulusan perguruan tinggi dari berbagai disiplin ilmu yang memasuki profesi jurnalistik selama dua dekade terakhir ini jumlahnya ribuan. Tetapi, yang berasal dari lulusan jurusan jurnalistik atau fakultas ilmu komunikasi massa sendiri tidak sampai separuhnya. Mereka yang berasal dari disiplin-disiplin ilmu di luar jurnalistik itu kebanyakan mendapatkan keterampilan mereka dari pengalaman. Dan, pengalaman inilah yang telah mencetak wartawan-wartawan ternama di surat kabar-surat kabar besar seperti Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Republika, Media Indonesia, dan lain-lain.

Oleh karena itu, ada baiknya jika ingin mengasah keterampilan menulis berita melalui pengalaman, jadilah dulu wartawan di surat kabar-surat kabar kecil. Di surat kabar-suratkabar kecil biasanya menulis berita lebih banyak dalam sehari atau setahun ketimbang di surat kabar nasional besar.5

Perasaan Ingin Tahu. Wakil Presiden Indonesia pertama, Moh. Hatta,

pernah mengatakan dalam salah satu tulisannya bahwa ilmu pengetahuan dimulai dengan adanya perasaan ingin tahu. Ditemukannya pengetahuan bahwa bumi ini bergerak mengelilingi matahari adalah karena dorongan perasaan ingin tahu orang yang bertanya, "Mengapa matahari selalu terbit dari Timur dan terbenam di Barat?" Perasaan ingin tahu seorang wartawan pun memicu timbulnya pertanyaan "Mengapa? Bagaimana? Kata siapa? Benar atau Tidak benar?" dalam diri si wartawan ketika ia. menghadapi suatu peristiwa atau keadaan. Perasaan ingin tahu seorang wartawan menyebabkan wartawan Amerika, William Nelson, masuk ke sarang GAM di Aceh pada tahun 2003, sehingga membuat kalang kabut Kedutaan Besar AS di Jakarta yang ingin mengamankan warga negaranya itu dari kesalahpahaman pihak" 5 . Hikmat Kusumaningrat sebelum bergabung dengan Kompas pernah bekerja di majalah kecil berbahasa Inggris Window on The World, Prisma, dan majalah basa Sunda Mangle. Lihat biodata di halaman terakhir buku ini.

keamanan di daerah itu. Ketika seorang wartawan meliput sebuah peristiwa musibah, rasa ingin tahu wartawannya segera saja memberondongkan pertanyaan-pertanyaan "Mengapa musibah itu terjadi? Bagaimana terjadinya? Kata siapa korban yang jatuh itu sepuluh orang? Benarkah jumlah korban itu hanya terdiri dari pria dan anak-anak warga masyarakat biasa? Mengapa wanita tidak menjadi korban?" Dengan pertanyaan-pertanyaan yang dipicu oleh perasaan ingin tahunya itu, ia pun akan banyak mendapat lebih banyak informasi tentang peristiwa musibah tersebut daripada yang diperlukan pembacanya. Ia selalu dapat membuang hal-hal yang tidak penting dari berita yang ia tulis, tetapi ia tidak akan menemukan substansi yang gagal ia dapatkan jika ia kurang memiliki perasaan ingin tahu.

Daya khayal. Daya khayal sering juga disebut imajinasi. Ada yang

mengatakan bahwa kehidupan tidak akan maju tanpa adanya imajinasi. Kalau kita menyimak iklan-iklan di televisi, maka kita akan terkagum-kagum oleh daya khayal atau imajinasi yang begitu kaya yang dimiliki para pembuat iklan, sehingga mereka tampaknya tidak pernah kehabisan gagasan dalam membuat iklan-iklan barang untuk menarik pembeli. Demikian pula dengan film-film atau sinetron-sinetron yang ditayangkan televisi. Penulis film atau sinetron sepertinya tidak pernah kehabisan ilham untuk menulis skenario-skenario cerita film yang menghibur pemirsa televisi.

Memang mereka ini semua menjadi begitu subur dalam mencipta karena mereka menggunakan daya khayalnya atau imajinasinya. Seorang Anton Chekhov, misalnya, menggunakan daya khayal atau imajinasinya untuk membangun fantasi seputar sais kereta dalam cerpennya "The Lament" ("Ratapan").6 Pembuat iklan, novelis, cerpenis, maupun pelukis, semuanya menggunakan daya khayalnya dalam menciptakan karya-karyanya. Menurut Charnley, wartawan pun menggunakan daya khayalnya tetapi dengan caranya sendiri. Ia mengumpulkan fakta-fakta yang tampaknya tidak saling berkaitan 6 . Chapter VII tentang "Short Stories" dalam Irving Rosenthal, M.S. & Morton Yarmon, B.S., Writing Made Simple, Professional Writing for Publication in Magazines, Newspapers, Movies, Stage, Radio, and TV, Made Simple Books, Inc., New York, 1958.

lalu mempertautkannya dalam sebuah konteks sehingga tercipta sebuah realitas. Daya khayal dan perasaan ingin tahunya ia tunjukkan dalam bentuk pertanyaan, "Seberapa besar peristiwa ini akan mempengaruhi keluarga pembaca saya, mempengaruhi pekerjaannya, mempengaruhi lingkungan masyarakatnya? Siapakah yang dapat memberitahu mengapa peristiwa tersebut terjadi? Seberapa banyak hal itu dipahami oleh pembaca saya? Jika jawabannya 'tidak banyak,' bagaimana saya dapat memberitakannya agar bisa lebih dipahami?"

Daya khayal atau imajinasi dalam pemberitaan tergantung dari tinjauan ke depan maupun ke belakang. Salah satu keluhan yang sifatnya prinsipil yang dilontarkan terhadap media massa adalah bahwa media massa membiarkan peristiwa-peristiwa besar meledak tanpa pemberitahuan. Mengapa peristiwa Ambon, misalnya, meledak dengan tiba-tiba tanpa dapat diantisipasi oleh masyarakat maupun Pemerintah sehingga menimbulkan korban yang cukup besar? Mengapa peristiwa 13-15 Mei 19987 meledak dengan tiba-tiba tanpa diduga-duga sehingga memakan korban secara mengenaskan? Mengapa peristiwa kerusuhan etnik di Kalimantan Tengah meletus secara begitu mendadak dan mengejutkan sehingga masyarakat tidak siap untuk menghadapi akibatnya yang tiba-tiba menimpa mereka.

Baik peristiwa Ambon mapun peristiwa SARA lainnya terjadi sebagai akibat dari sistem politik negara kita di masa lalu yang tidak memberikan

Dalam dokumen Pers Dan Jurnalistik (Halaman 59-82)