• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berita Positif, bukan Negatif

Dalam dokumen Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim (Halaman 165-170)

c) Bangun III;

3. Berita Positif, bukan Negatif

Terhadap pemberitaan media massa, merupakan hak masyarakat pembacanya yang memberikan penilaian, apakah informasi yang disajikan tersebut memberikan manfaat atau menimbulkan mudharat bagi masyarakat ataupun pemerintahan dalam satu negara. Di beberapa negara, seperti Malaysia dan Singapura, seluruh pemberitaan media massa diarahkan untuk

membantu pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan.

Hal ini berlaku karena bagi mereka, kepentingan negara adalah merupakan sesuatu yang tidak bisa dikompromikan dengan apapun. Konsep yang berbeda, justeru berlaku di negara kita. Dimana pemberitaan media massa pada umumnya, khususnya media nasional, adalah ada keberanian untuk semacam bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Sebab di Indonesia, kebebasan pers sudah dijamin oleh Undang-Undang, dimana kewenangan pemerintah terhadap keberadaan media massa adalah terbatas, tidak boleh mengekang atau mengarahkan isi beritanya.

Sebagai akibat dari kebebasan pers di Indonesia, maka kecenderungan para jurnalis dalam menjalankan tugas jurnalistiknya juga memakai konsep kebebasan, baik dalam meliput, memproses, maupun dalam menyajikannya hingga ke tangan pembaca. Sering kita mendengar adanya komplain atau pernyataan keberatan dari berbagai pihak atas pemberitaan media massa yang dianggap merugikan pihaknya, berbau fitnah, maupun yang dianggap sebagai pencemaran nama baik dan pembunuhan karakter seseorang. Keberatan masyarakat terhadap pemberitaan media massa, dapat disebabkan beberapa faktor:

a) Kesalahan dalam penulisan berita

Mengingat pekerjaan para jurnalis yang cukup menyita waktu, disamping adanya berbagai kendala yang dihadapi, maka kesalahan dalam penulisan data dalam satu berita, sering sekali tidak dapat dihindari. Terjadinya kesalahan penulisan ini, jika tidak diantisipasi dengan baik, maka boleh jadi menimbulkan persoalan secara hukum. Misalnya dalam penulisan nama seorang tersangka koruptor, tertulis misalnya ada si C, padahal sesungguhnya adalah si B.

Manakala terdapat kesalahan seperti ini, maka jurnalis harus segera memperbaikinya. Dalam berbagai kasus, kesalahan

Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim

dalam penulisan nama seseorang, jumlah yang seharusnya, letak atau lokasi sengketa, penyebab suatu masalah, sering disanggah pihak yang merasa dirugikan. Kesalahan dalam penulisan berita, selain dapat merugikan orang lain, justeru dapat menjadi penilaian khalayak terhadap kualitas media dan profesionalisma para jurnalis yang menulisnya.

b) Penafsiran yang berbeda terhadap satu persoalan

Latar belakang para jurnalis dalam meliput dan menulis berita, menjadi salah satu penyebab terjadinya perbedaan penafsiran terhadap sesuatu perkara. Lebih dari itu, jika dalam satu perkara sudah dimasuki berbagai kepentingan, maka cara pandang terhadap perkara itu akan bermacam-macam pula. Kepentingan bisa datang dari pemilik media, para pemasang iklan, hubungan dengan pemerintah, dan persoalan pribadi sang jurnalis.

Kepentingan bisa terjadi dalam pemberitaan media massa didasarkan keuntungan dari segi bisnis, permainan politik, juga dalam melindungi maupun untuk menjatuhkan martabat seseorang. Berita-berita yang sering merugikan pihak lain, pada umumnya akan mendapat sanggahan dari mereka. Contohnya adalah tentang kasus korupsi dalam satu universitas. Menurut laporan dalam berita pada satu media massa, kasus yang disangkakakn, sudah termasuk dalam kategori korupsi. Sedangkan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, masalah ini bukan korupsi, melainkan kesalahan administrasi.

c) Ketika narasumber tidak bersedia dipublikasikan

Dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, seorang jurnalis senantiasa berusaha untuk memperoleh informasi dari narasumber. Informasi tersebut diperlukan untuk menambah

data dan memperkuat penjelasan yang penting untuk diketahui masyarakat pembaca. Narasumber informasi dalam media massa, antara laian adalah ; pelaku kegiatan atau pihak penyelenggara, panitia pelaksana, tersangka kasus kriminal, pejabat yang berwewenang, aparat keamanan dan penegak hukum, pengamat sosial atau pengamat politik, saksi dan masyarakat umumnya lainnya.

Diantara narasumber tersebut, pada saat-saat tertentu ada yang menolak memberikan komentar terhadap satu perkara yang melibatkannya. Ketidakmauan narasumber untuk diwawancarai antara lain disebabkan; merasa tidak pantas menjadi narasumber, tidak mahu terlibat jauh atas satu masalah, menganggap hal itu bukan kewenangan atau kapasitasnya, dan boleh jadi untuk menyembunyikan sesuatu dari persoalan yang tengah terjadi.

Manakala ada narasumber yang tidak mau diwawancarai, maka seorang jurnalis Muslim tidak dibenarkan memaksa yang bersangkutan untuk memberikan jawaban atau komentar atas perkara dimaksud. Sebab menjadi hak seseorang untuk memberikan jawaban atau tidak memberikan jawaban. Tidak ada undang-undang atau peraturan yang dapat membolehkan seseorang itu dipaksakan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan orang lain, termasuk oleh kalangan jurnalis.

Jika seseorang itu tidak mau menjawabnya, maka sang jurnalis harus menghargai dan menghormatinya. Seorang jurnalis Muslim tidak dibolehkan membuat wawancara fiktif, mewawancarai pihak yang tidak sepatutnya, mengubah hasil wawancara atau menafsirkan hasil wawancara berdasarkan keinginan atau pemahamannya semata. Sebab perkara-perkara demikian sering menjadi sumber keberatan dari khalayak maupun daripada narasumber itu sendiri.

Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim

Justeru itu, seorang jurnalis Muslim dalam memproses informasi menjadi berita, semestinya adalah dengan menampilkan berita-berita positif dan menghindari berita-berita yang negatif. Ini sejalan dengan konsep jurnalis Muslim, bahwa dalam menjalankan tugasnya, bukan untuk kepentingan pribadi maupun perusahaannya semata, melainkan menjadi bagian daripada menyebarkan dakwah melalui pemberitaan media massanya. Dimana dalam hal ini, sebagai seorang jurnalis Muslim, untuk menghindari berita negatif, dapat memperhatikan beberapa kriteria berikut ini (Akbar, 2012) :

a) Jurnalis Muslim mesti mengemban misi amar ma’ruf nahi mungkar sebagai bentuk dari dakwah bil qalam. Sebagaimana yang allah perintahkan dalam surat Ali-Imran ayat 104: ”Dan hendaklah ada di antara kamu

segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.

b) Dalam pemberitaannya, berusaha mengarahkan pembaca atau pemirsa untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Allah Swt, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, berpihak kepada norma dan budaya masyarakat yang positif.

c) Mengutamakan penyebaran informasi yang mendukung khalayak untuk mencintai dan berbuat kebaikan, ketentraman, dan menjauhkan diri dari perbuatan yang dilarang agama, termasuk yang dapat membahayakan masyarakat, bangsa dan negara.

d) Memahami dan mentaati pedoman jurnalistik dan etika jurnalistik. Dimana kalau diperhatikan dengan seksama, bahwa tujuan profesi jurnalistik, peraturan etika dan

pedoman pelaksanaan jurnalistik adalah sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Dengan melaksanakan konsep-konsep tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa bagi seorang jurnalis Muslim, apakah dia bekerja di perusahaan media Islam ataupun dia bekerja di media massa umum, telah melaksanakan dakwah melalui kegiatan jurnalistik. Dalam berbagai diskusi, penulis sering mengatakan bahwa, secara ekstrimnya, seorang jurnalis yang melasanakan tugas jurnalistiknya dengan berpedoman kepada etika jurnalistik yang dilaksanakan secara profesional, maka sesungguhnya itulah yang dikatakan sebagai jurnalis yang Islami, meskipun dia sendiri tidak banyak menghapal ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist.

Dalam dokumen Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim (Halaman 165-170)