• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profesionalisme dalam Pemberitaan

Dalam dokumen Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim (Halaman 135-142)

b) Norma etis

5. Profesionalisme dalam Pemberitaan

Profesionalisme dalam pemberitaan ditunjukkan dengan kaidah-kaidah atau adab-adab yang harus diikuti wartawan dalam pemberitaan mereka di bidang hukum. Kaidah-kaidah ini dapat dilihat dalam Kode Etik Jurnalistik. Masyarakat awam yang tidak memahami adab-adab dalam praktik jurnalistik, tentu akan bingung jika membaca berbagai pemberitaan media yang tidak sama dalam menyebut nama dan identitas pelaku pelanggaran dalam berita-berita kriminal, kepolisian dan pengadilan. Beberapa suratkabar dan majalah hanya menulis singkatan atau inisial nama dan identitas si pelaku. Sedangkan suratkabar atau majalah lainnya dengan terang-terangan menulisnya secara lengkap dan dilakukan berulang-ulang dalam setiap pemberitaannya.

Padahal dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ) telah memperingatkan agar dalam penulisan nama berkaitan dengan masalah dimaksud, seharusnya berhati-hati.

“Wartawan Indonesia dalam memberitakan peristiwa yang diduga menyangkut pelanggaran hukum dan atau proses peradilan, harus menghormati asas praduga tak bersalah, prinsip adil, jujur, dan penyajian yang berimbang”. (Pasal

7 KEJ).

“Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan/atau dihadapkan ke depan Pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan Pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap”. (Pasal 8 UU No.

Menghormati asas praduga tak bersalah berarti bahwa wartawan wajib melindungi tersangka/tertuduh/terdakwa pelaku suatu tindak pidana dengan tidak menyebutkan nama dan identitasnya dengan jelas. Ini harus dilakukan sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahan si pelaku dan keputusan itu sudah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Yang lazim dilakukan media adalah menyebutkan nama pelaku hanya dengan inisialnya atau memuat foto dengan ditutup matanya atau hanya memperlihatkan foto bagian belakang pelaku saja.

Dalam kenyataannya dewasa ini, seseorang yang menjadi tersangka dalam kasus korupsi sudah disebutkan namanya dengan terang-benderang oleh media massa, termasuk media cetak. Sedangkan pihak kepolisian atau penyidik kejaksaan, mereka tidak menyebut namanya secara langsung, melainkan inisial saja. Mengapa pers menyebut nama pelaku atau tersangka secara lengkap? Apakah ini tidak termasuk pelanggaran Kode Etik Jurnalistik? Terkait dengan hal ini, sebagian kalangan pers memang mengakui hal itu adalah suatu kesalahan.

Akan tetapi kesalahan pers tersebut sebenarnya tidak terlalu fatal. Sebab dengan menyebut inisial nama saja dalam media cetak, khalayak sudah tahu. Oleh karena itu, bagi pers, nama pelaku tersebut tidak perlu lagi disembunyikan. Lagi pula, kalangan pers berdalih, kesalahan pers dalam menulis nama pelaku secara terang, tidak sebanding dengan tingkat kesalahan pelaku korupsi yang sangat besar, yakni merusak sendi-sendi kehidupan bangsa, bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa pelaku korupsi lebih jahat daripada seorang teroris. Mengapa? Jika teroris hanya membunuh manusia tertentu saja dan dalam waktu tertentu saja, maka seorang koruptor dapat membunuh manusia lainnya yang tidak terkait dengan korupsi, lebih banyak korbannya, dan waktunya akan terjadi pada masa depan serta dapat membawa negara ini ke jurang kehancuran dari sisi perekonomian.

Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim

a) Menyebut Nama dalam Kejahatan Susila

Dalam hal pemberitaan mengenai kejahatan susila atau kejahatan seks, wartawan harus tetap dalam sikap profesionalnya. Sikap profesional ini tercermin dalam tindakan wartawan dalam memberitakan peristiwa tersebut yang tetap harus mengacu pada KEJ khususnya pasal 8 yang berbunyi:

“Wartawan dalam memberitakan kejahatan susila tidak merugikan pihak korban”.

Dalam penjelasan pasal ini dikatakan bahwa, tidak menyebutkan nama atau identitas korban, artinya pemberitaan tidak memberikan petunjuk tentang siapa korban perbuatan susila tersebut, baik wajah, tempat kerja, anggota keluarga dan atau tempat tinggal. Namun boleh hanya menyebut jenis kelamin dan umur korban. Kaidah-kaidah ini juga berlaku dalam kasus pelaku kejahatan di bawah umur (di bawah 16 tahun). Wartawan mempunyai alasan kuat untuk menyembunyikan nama-nama wanita yang menjadi korban pemerkosaan atau anak-anak yang dianiaya secara seksual. Tujuannya untuk melindungi korban dari pencemaran namanya atau tercoreng aib. Tetapi, dalam hal larangan menyebut nama dan identitas pelaku kejahatan yang masih di bawah umur, dasarnya semata-mata pertimbangan kemanusiaan berdasarkan nasib serta hari esok korban beserta keluarganya.

Terkait dengan korban kejahatan seksual yang dialami oleh anak-anak di bawa umur, ini memang menjadi dilema. Sebab di satu sisi bahwa perilaku yang diperbuat tersebut adalah kejahatan kemanusiaan. Mereka yang menjadi kejahatan seks harus dilindungi. Dalam situasi sosial budaya kita saat ini, masih menganut bahwa kegiatan seks adalah sesuatu yang sangat tabu. Ini juga akan menjadi perhatian orang lain pada masa yang akan datang terutama jika anak korban tersebut sudah menginjak usia dewasa.

Misalnya dalam hal pernikahan. Tentu seorang wanita atau pria tidak ingin menikah dengan orang yang sudah korban kejahatan seksual, apalagi sudah tercemar namanya. Padahal kejadian tersebut bukanlah sesuatu yang diinginkan. Kejadian yang tidak diinginkan, sama sekali bukan aib. Namun masyarakat hingga saat ini masih menganggapnya sebagai suatu aib yang mana mereka tidak mau berteman atau menikah dengan orang tersebut.

b) Menghormati Hak atas Privasi

Hak atas privasi, hak untuk menikmati keadaan menyendiri, meskipun belum begitu dianggap penting oleh masyarakat Indonesia, namun sudah ada kaidah yang mencoba mengaturnya dalam profesi kewartawanan.

Kode Etik Jurnalistik pasal 6 menjelaskan:

“Wartawan menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan pribadi dengan tidak menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, gambar, suara, serta suara dan gambar) yang merugikan nama baik atau perasaan susila seseorang, kecuali menyangkut kepentingan umum”.

Maksud dari perlindungan hak-hak privasi, lebih jelas lagi adalah :

“Pemberitaan hendaknya tidak merendahkan atau merugikan harkat-martabat, nama baik serta perasaan susila seseorang, kecuali perbuatan itu bisa berdampak negatif bagi masyarakat”.

Bagi sebagian kalangan di Indonesia, sampai dengan satu hingga dua dekade ke belakang, prinsip hidup kesendirian ini belum begitu populer. Namun seiring dengan berkembangnya masyarakat yang semakin modern, kebutuhan akan hak-hak atas privasi semakin nyata, terutama bagi mereka yang sering menjadi objek pemberitaan. Seiring dengan munculnya tayangan acara yang bersifat infotainment, untuk mendapatkan rating yang tinggi, menyebabkan aspek privasi ini cenderung tidak diindahkan lagi.

Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim

Bagaimana Islam memandang hak pribadi seseorang? Firman Allah SWT dalam surat At Taubah ayat 6 ini dapat dijadikan pedoman:

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui” (Q.S. At Taubah : 6)

Melalui ayat ini, dapat dipahami bahwa orang-orang yang ingin mendapat perlindungan pribadi, mestilah diberikan kesempatan. Dalam arti yang luas bahwa, manakala ada seseorang yang dalam aspek kehidupan ini tidak ingin diganggu dalam bentuk apapun, termasuk misalnya dari “gangguan” liputan media cetak, hal itu harus dihormati.

c) Sudut Berita yang Menyesatkan

Perlindungan terhadap hak pribadi untuk mendapatkan informasi yang benar juga harus diperhatikan dalam upaya wartawan mencari sudut atau angle berita – yaitu fokus yang akan dijadikan tema berita. Setiap berita harus memiliki angle yang kuat agar menarik perhatian pembaca, seperti halnya foto berita harus memiliki eyecathing yang kuat – yaitu menarik mata pembaca untuk melihatnya.

Upaya menemukan angle tidak mudah, dan pencariannya sering tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Dalam beberapa situasi, wartawan sering terseret ke dalam penyimpangan profesional, yaitu dengan mengembangkan tema-tema yang menyesatkan. Misalnya menyampaikan ulasan yang bukan substansi persoalan dan membawanya keluar dari topik yang dibicarakan.

Di beberapa media, sering kita membaca judul berita yang tidak relevan dengan isi berita itu. Demikian pula dalam beritanya, dalam satu paragraph dengan paragraf berikutnya tidak terdapat kesinambungan. Pada wawancara dalam media elektronik, terdapat kecenderungan pewawancara mengalihkan topik pembicaraan ke masalah lain. Jika dicermati dengan teliti, hal ini bisa merusak konsentrasi pembaca dalam mengikuti berita itu.

Berita yang menyesatkan sering pula ditemukan pada saat-saat peristiwa politik sedang berlangsung, misalnya pemilihan kepala daerah. Beberapa waktu lalu misalnya, sejumlah media massa memberitakan bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melaporkan sejumlah oknum pengusaha kepada pihak kepolisian dengan tuduhan menyerobot sejumlah perairan/pantai di kawasan Tanjung Bunga. Salah seorang yang dilaporkan adalah calon walikota Makassar. Akan tetapi beberapa saat kemudian, pihak Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan membantah berita tersebut. Dalam hal ini, media telah membuat berita yang menyesatkan. Karena memuat berita yang tidak jelas sumbernya dan tidak melakukan pengecekan kepada pihak-pihak terkait.

d) Hindari Trial by the Press

Pemberitaan pers terhadap tertuduh biasa kita lihat dewasa ini dengan tidak memperhatikan asas praduga tak bersalah dan prinsip penyajian yang adil, jujur dan berimbang. Bahkan nyaris tidak mengindahkan etika pers yang beradab.

Trial by the press, dapat diartikkan sebagai pengadilan

oleh pers. Hal ini adalah praktik jurnalistik yang tidak benar. Dalam hal ini ada dua ketentuan yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk menghindari penyalahgunaan media sebagai trial by

the press, yakni:

1. “Wartawan Indonesia dalam memberitakan peristiwa yang diduga menyangkut pelanggaran hukum dan atau proses peradilan, harus menghormati asas praduga tak bersalah, prinsip adil, jujur, dan penyajian yang berimbang”. (Pasal 7 KEJ).

Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim

2. “Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan/atau dihadapkan ke depan Pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan Pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap”. (Pasal 8 UU

No. 14 Tahun 1970).

Perlunya ditegakkan kaidah ini dimaksudkan agar proses persidangan yang dijalani seseorang di pengadilan harus berjalan secara wajar. Tertuduh jangan sampai dirugikan posisinya berhadapan dengan penuntut umum. Juga perlu diperhatikan supaya tertuduh kelak bisa kembali dengan wajar ke dalam masyarakat.

Banyak sekali kasus yang terjadi di mana seseorang telah dinyatakan sebagai tersangka dan diajukan ke Pengadilan. Namun setelah menjalani masa persidangan, ternyata Pengadilan justru memvonis bebas terdakwa dimaksud. Oleh karena itu, seseorang itu dalam pemberitaan media, jangan sampai memposisikan sebagai sesuatu yang melakukan kesalahan berat, sebelum ada kekuatan hukum tetap dari Pengadilan.

Bab VII

Pendekatan Dakwah dalam Berita

Dalam dokumen Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim (Halaman 135-142)