• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Islam Mencari Berita

Dalam dokumen Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim (Halaman 142-146)

b) Norma etis

1. Konsep Islam Mencari Berita

Laporan atas peristiwa yang disampaikan media massa sehingga dapat diketahui oleh khalayak telah melalui berbagai proses yang cukup panjang. Dimulai ketika seorang jurnalis mendapat tugas untuk meliput berita suatu kejadian yang menarik untuk diberitakan. Jika disederhanakan, maka proses jurnalistik adalah dimulai pada saat mencari berita yang dilakukan oleh seorang jurnalis. Proses ini dapat dibagi ke dalam beberapa cara:

a) Penugasan dari Redaksi

Saat ini ketika perkembangan teknologi informasi sudah semakin modern, untuk menghubungi seseorang adalah sangat mudah. Demikian pula seorang redaktur media massa, dengan mudah memerintah seorang wartawan untuk meliput berita di suatu tempat, karena wartawan telah memiliki alat komunikasi, seperti telepon genggam, notebook, dan seterusnya. Apabila ada satu peristiwa, awak redaksi yang bertugas di kantornya, akan mendapat kabar tersebut dari berbagai pihak, seperti aparat negara maupun masyarakat setempat.

Setelah memperoleh informasi awal tersebut, maka dia akan menghubungi satu atau beberapa orang jurnalis untuk meliput berita tersebut. Maka seorang jurnalis saat ini adalah bekerja

Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim

selama 24 jam, karena peristiwa yang tiba-tiba tidak mengenal waktu terjadinya, sehingga harus siap sedia untuk meliputnya.

Penugasan dari pimpinan redaksi dapat pula atas kesepakatan bersama dalam rapat redaksi. Dalam satu perusahaan pers, selalu diadakan rapat bersama antara redaktur dengan para wartawan, untuk menentukan tema berita yang akan diangkat edisi berikutnya dan membahas masalah-masalah yang relevan. Dalam rapat tersebut pula ditentukan siapa yang akan meliput suatu peristiwa untuk mendukung tema pemberitaan yang telah disepakati.

b) Mendapat panggilan dari Narasumber

Tidak jarang seorang jurnalis memperoleh undangan langsung dari narasumber untuk meliput acara atau kegiatannya. Hal ini sebenarnya tidak dilarang dalam etika maupun peraturan yang berlaku dalam profesi jurnalistik. Hanya saja memang, oleh sebagian kalangan, nilai beritanya akan berkurang, karena peristiwa yang baik layak diketahui publik adalah yang alami atau yang terjadi dengan spontan.

Bahwa kegiatan rutinitas atau aktivitas satu kantor pemerintah boleh diberitakan, akan tetapi tingkat ketertarikan terhadap berita tersebut adalah terbatas kepada khalayak yang berkaitan langsung dengan mereka. Oleh karena itu, seorang jurnalis, mesti memahami bagaimana berita itu memiliki nilai yang tinggi. Bagaimana dengan undangan liputan kegiatan dakwah? Jika itu adalah peristiwa yang substansinya adalah untuk kepentingan khalayak yang luas, tidak terbatas kepada kalangan tertentu saja, maka kegiatan dakwah adalah relevan untuk diliput meskipun atas undangan panitia pelaksananya.

c) Atas inisiatif Jurnalis.

Mencari berita juga boleh karena adanya inisiatif seorang jurnalis untuk meliput suatu peristiwa ini. Liputan atas inisiatif seperti ini adalah berkat adanya intuisi atau kepekaannya terhadap kegiatan yang layak untuk diliput sehingga dapat disebarluaskan kepada khalayak. Manakala seorang jurnalis sempat mendengar atau melihat suatu peristiwa, dia tidak perlu menunggu penugasan dari redaksi atau mengharapkan adanya undangan meliput dari satu pihak. Dia dapat secara langsung meliputnya, bila memang peristiwa itu adalah layak untuk diberitakan, penting untuk diketahui publik, dan memberikan manfaat atau hikmah terhadap masyarakat. Inilah sebenarnya liputan yang memiliki nilai berita yang tinggi.

Dalam melakukan pencarian berita dimaksud, apakah atas penugasan, undangan atau inisiatif sendiri, maka seorang jurnalis Muslim mesti memperlihatkan sikap dan etika yang baik. Sebab sebagai seorang Muslim, salah satu ciri yang paling penting yang menonjol dalam pribadi umat Islam adalah sikap yang baik. Banyak orang sering mendengar istilah ini dengan, “sopan santun”, tetapi jika kalian bertanya apa yang mereka tahu tentang hal itu, definisi, elemen kunci, prinsip-prinsip dasarnya, banyak dari mereka yang tidak tahu apapun tentang itu.

Islam menganjurkan kita untuk memiliki perilaku yang baik, karena itu adalah bagian daripada tingkat keimanan kita kepada Allah Swt. “Bertakwa kepada Alloh dan berakhlak yang baik”. Takwa kepada Allah adalah hubungan anda dengan Allah, sedangkan berprilaku yang baik ialah suatu sikap antara anda dan orang lain. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya seseorang mencapai tingkat orang yang berpuasa dan shalat melalui akhlak yang baik.”

Manakala kita memiliki pahala puasa dan shalat, kemudian juga pahala sikap yang baik. Orang tersebut memiliki akhlak yang

Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim

baik sama tingkatannya dengan orang yang shalat dan puasa. Nabi SAW bersabda : “Amal pemberat saat hari perhitungan di hari kiamat adalah akhlak yang baik.”

Dalam mencari berita, konsep akhlak yang diajarkan dalam Islam harus dimanifestasikan oleh seorang jurnalis Muslim. Berkata Imam Hasan Al-Basri rahimahullah tentang pengertian akhlak yang baik. Beliau membaginya menjadi tiga perkara : “Menghindari bahaya, berbuat baik kepada sesama, dan wajah yang mudah tersenyum.” Menahan diri dari bahaya…yang artinya menahan diri dari menyakiti orang lain. Apa yang dimaksud dari menahan diri dari menyakiti orang lain ? ini berarti menahan diri dari melukai mereka dengan lisan kita dan perbuatan kita.

Jangan menyakiti orang lain dengan lisan yaitu, jauhi fitnah, menggunjing, mengutuk, mengejek dan mengolok orang lain. Dalam perkara ini, Nabi SAW bersabda sambil menggambarkan muslim sejati dan yang Allah cintai dan ridhoi dengan ‘’Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya,’’ orang-orang aman dari lisannya. Orang-orang yang dilukai oleh mereka yang tidak menahan lidah mereka, memaki orang, mengutuk orang, meremehkannya, serta mengecamnya.

Dalam akhlak seorang Muslim, juga tercermin sikap yang sopan santun. Makna sopan santun yang pertama, anda menahan diri dari merugikan orang lain dengan kata-kata atau perbuatan. Kedua, dari karakteristik perilaku yang baik adalah bahwa berbuat baik, yaitu bahwa melakukan hal-hal baik kepada orang lain, apakah itu dalam hal kekayaan materi, berbuat baik dengan tindakan, atau bahkan mengatakan hal-hal yang baik. Membantu orang, melakukan hal-hal baik kepada mereka, dan berusaha memenuhi kebutuhan mereka.

Misalnya, jika Anda melihat seseorang dijalan yang mobilnya telah rusak, dan berhenti lalu membantu dia, ini adalah dari perilaku yang baik. Seseorang yang tidak berbuat baik kepada orang lain memiliki kekurangan dalam perilaku yang baik. Karakteristik ketiga sopan santun yang disebutkan Imam Hasan Al Basri adalah berperilaku yang baik dan lemah lembut kepada setiap orang. Nabi SAW mengatakan bahwa memberikan sentum kepada orang merupakan bentuk sedekah ‘‘jangan memandang rendah setiap tindakan kebaikan, bahkan jika itu untuk bertemu orang-orang dengan wajah gembira“. (Arsalan, 2013).

Dalam dokumen Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim (Halaman 142-146)