c) Bangun III;
4. Perlunya Media Massa Islam
Hingga saat ini di negara sudah cukup banyak media massa, baik dalam skala nasional maupun dalam skala regional yang terbit di daerah. Sebenarnya semua media massa yang terbit adalah untuk kepentingan khalayak pembaca dan masyarakat umumnya, termasuk umat Islam. Beberapa media massa Islam yang ada sekarang ini terasa belum mampu bersaing dengan media massa lain dalam hal memberikan opini publik terhadap keseluruhan bangsa Indonesia. Media massa-media massa Islam saat ini lebih berorientasi kepada kepentingan ataupun merupakan suara dari organisasi yang menaunginya.
Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim
Padahal sebenarnya kita juga memerlukan satu media massa Islam yang dapat menjadi pemersatu opini publik khususnya bagi umat Islam, terlepas apakah namanya diberi kata Islam atau tidak. Justeru berbagai persoalan yang terjadi di antara umat Islam, kita ketahui dari media massa umum yang senantiasa mencari keuntungan secara politik dan materi. Akibatnya pemberitaan tentang satu perkara yang melibatkan umat Islam tidak dibicarakan secara jujur, tuntas hingga menemui titik temu yang disepakati semua pihak, malahan terkesan ada kepentingan politis di dalamnya. Misalnya, persoalan penentuan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal, sudah cukup sering terjadi di negeri ini, yang hingga sekarang belum kelihatan tanda-tanda yang menggembirakan.
Pemberitaan tentang masalah ini pun, justeru kita ketahui dari media massa umum, yang menyampaikan informasi secara tidak tuntas. Bahkan yang diberitakan adalah persoalan yang dapat memperuncing perbedaan. Akibatnya, umat Islam tidak dapat mengetahui faktor-faktor penyebab perbedaan yang sesungguhnya.
Terutama karena persoalan ini sudah sering dikaitkan dengan masalah politis, antara dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, walaupun hal ini masih perlu kajian lebih mendalam. Justeru media massa Islam dalam konteks ini adalah untuk memberikan pemahaman yang satu kepada umat Islam agar terjadi titik temu kedua metode yang berbeda. Paling tidak beritanya adalah berita yang dapat memberikan jalan keluar yang disepakati bersama, bukan sebaliknya.
Mendirikan media massa Islam di negeri ini adalah tidak mudah. Misalnya, Harian Umum Republik yang didirikan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) pada
awal tahun 1990-an, hingga sekarang belum mampu memberikan harapan yang mencerahkan. Justeru di Kota Makassar saja, surat kabar ini sudah sulit ditemukan. Tentu banyak faktor yang mempengaruhinya.
Walau bagaimanapun, mendirikan media massa Islam bukanlah sesuatu yang tabu atau impuan semata. Manakala ada kesamaan dan komitmen para pemimpin Islam di negeri ini, maka hal ini dapat direalisasikan. Beberapa perkara yang penting diperhatikan oleh media massa Islam nantinya dan para jurnalis Muslim antara lain adalah :
a) Jurnalis Muslim mesti mampu menunjukkan akhlak sebagai pribadi muslim yang memahami dan mengamalkan ajaran agama dan nilai-nilai Islam.
b) Jurnalis Muslim mesti peka dan kritis terhadap pengaruh informasi yang dapat menggoyahkan martabat agama Islam.
c) Jurnalis Muslim harus menunjukkan sikap yang Islami dan profesional.
d) Jurnalis Muslim mampu mengakomodir dan mengembangkan khazanah intelektual Islam dalam setiap pemberitaannya.
e) Jurnalis Muslim diharapkan memiliki tekad dan komitmen serta berusaha semaksimal mungkin mempersatukan berbagai kelompok yang ada pada umat Islam.
Dengan memperhatikan beberapa perkara di atas, maka sesungguhnya target penting lainya yang mesti menjadi pertimbangan bagi seorang jurnalis Muslim antara lain adalah : a) Mencapai tujuan jurnalistik, yakni memberikan informasi yang memiliki faedah bagi masyarakat pembacanya. Diharapkan pembaca media cetak dan pemirsa media
Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim
elektronikk, memperoleh informasi dari para jurnalis Muslim yang kredibel dan bermutu.
b) Merubah dan meneguhkan sikap pembaca. Melalui isi pemberitaan yang akurat dan terpercaya, masyarakat pembaca dapat mengikuti ajakan atau arahan yang diinginkan serta semakin meneguhkan keyakinannya terhadap kebenaran yang hakiki.
c) Meningkatkan intelektualitas khalayak. Dengan memperoleh informasi yang baik melalui media massa, bagi khalayak pembaca, semakin meningkatkan wawasan dan pengetahuannya. Dalam mempertimbangkan dengan cermat segala persoalan yang terjadi. Tidak dengan mudah diprovokasi dan melakukan tindakan-tindakan yang terpuji.
Bab X Penutup
Sebagai seorang yang beriman, kita mesti menyadari bahwa kehidupan ini adalah perjuangan untuk beribadah kepada Allah Swt. Segala bentuk aktivitas keseharian kita mestilah selalu memiliki nilai-nilai Islam yang dapat mempertinggi kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt. Hanya dengan jalan ini, maka kita dapat mencapai kehidupan yang damai, aman, tentram atau negara yang baldatun toyyibatun warabbun ghafur, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Demikian pula halnya dengan seorang jurnalis Muslim, mestilah secara ikhlas dan sadar bahwa seseungguhnya, pekerjaan sebagai seorang jurnalis tidak hanya semata-mata untuk memperoleh penghasilan dunia, bukan sekedar mempertahankan idealisme, menjungjung tinggi kebebasan dan berekspresi. Lebih dari itu, jurnalis Muslim adalah seorang pribadi yang memiliki tanggung jawab moral untuk memperbaiki kualitas hidup umat, bangsa dan negara. Pekerjaan jurnalis yang selama ini diperankannya, justeru adalah modal baginya untuk lebih banyak memberikan yang terbaik demi kemaslahatan bersama.
Sebagai kesimpulan yang perlu menjadi catatan pokok bagi seorang jurnalis Muslim, antara lain adalah sebagai berikut:
a) Hendaknya seorang jurnalis Muslim menyadari bahwa sebagai seorang pribadi Muslim, dia adalah seorang dai atau mubaglligh. Pribadi Muslim yang bekerja sebagai seorang jurnalis harusnya berusaha semaksimal mungkin menjalankan dakwah Islam melalui media massa tempat dia bekerja. Dakwah Islam dimaksudkan di sini adalah dalam konteks yang positif untuk kebaikan khalayak pembaca dan umat Islam yang sesuai dengan ajaran Islam.
Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim
b) Jurnalis Muslim perlu merasa turut bertanggung jawab dalam menyebarluaskan nilai-nilai Islam dalam pemberitaannya. Yang dimaksukan dengan nilai-nilai Islam adalah pemberitaan yang bermanfaat bagi masyarakat, menyeru kepada kebajikan, pemberitaan yang mendukung ketertiban, kesejahteraan, juga keamanan masyarakat dan negara. Lagi pula pemberitaannya adalah berusaha mencegah daripada keburukan atau perbuatan yang negatif.
c) Hendaknya dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya, jurnalis Muslim perlu mengedepankan etika dan norma-norma yang telah disepakati bersama, khususnya Kode Etik Jurnalistik (KEJI) Indonesia. Secara keseluruhan peraturan dalam KEJI adalah sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian seoang jurnalis Muslim dalam menjalankan KEJI, disamping dia telah mematuhi aturan yang dibuat manusia, sesungguhnya perbuatannya itu adalah bagian daripada pengamalan ajaran-ajaran Islam. d) Sebagai seorang jurnalis Muslim, mestilah memiliki
komitmen keagamaan yang tinggi. Hanya dengan komitmen keagamaan yang tinggilah ia dapat mendakwahkan Islam sesuai dengan nilai-nilai Islam. Jurnalis Muslim pula perlu lebih berpihak dan lebih mengedepankan kepentingan Islam dalam pemberitaannya, bukan sebaliknya, ikut-ikutan menyebarluaskan berita yang berpotensi memojokkan umat Islam.
e) Dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang pribadi Muslim, mestilah mengamalkan ajaran-ajaran Islam keseharian. Disamping menjaga hubungan khusuk dengan Allah Swt. dengan tertib melaksanakan ibadah, juga memperhatikan sesama umat manusia di sekitarnya secara baik dan penuh tanggung jawab.
RINGKASAN
Pengetahuan tentang peran dan fungsi yang diemban seorang jurnalis Muslim dalam melaksanakan tugas-tugas jurnalistiknya adalah sangat penting. Buku ini diharapkan dapat membantu memberikan pemahaman dan menambah wawasan khususnya untuk mengejewantahkan nilai-nilai Islam serta memasukkan syiar Islam, baik dalam meliput, mengolah dan menyebarluaskan informasi.
Berikut ini disampaikan ringkasan buku sehingga dapat memudahkan dalam memahami isinya:
Bab I Jurnalistik dalam Kehidupan
Pada bab satu ini akan membahas tentang sejarah tentang jurnalistik sebagai proses penyebarluasan informasi. Bab ini terdiri dari beberapa sub bab yakni; Bermula dari Membaca, Informasi sebagai Hak dan Kebutuhan Dasar, Jurnalis sebagai Agen Informasi, dan Informasi yang Layak Publikasi.
Bab II Jurnalistik dalam Perspektif Islam
Dalam bab dua ini membahas tentang jurnalistik dalam perspektif Islam. Mengemukan tentang hubungan antara kegiatan jurnalistik dengan disiplin ilmu jurnalistik. Bab ini terdiri dari beberapa sub bab, yakni: Perkembangan Jurnalistik, Jurnalistik dalam Peradaban Islam, Konsep Islam terhadap Jurnalistik dan Jurnalistik sebagai Media Dakwah.
Bab III Peran Jurnalis Muslim terhadap Dakwah
Bab tiga ini membahas tentang peranan yang dapat dilakukan oleh seorang jurnalis dalam mengemban fungsi dakwahnya. Bab ini memiliki beberapa sub bab, yakni: Jurnalis sebagai Pribadi Muslim, Prinsip Hidup seorang Jurnalis Muslim, Karakteristik Dakwah Jurnalistik dan Kewajiban Melaksanakan Dakwah.
Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim Bab IV Efektivitas Dakwah melalui Media Massa
Dalam bab empat ini, mengemukakan tentang efektivitas dakwah melalui media massa yang dikemas dalam beberapa sub bab, yakni: Dakwah lewat Tulisan, Dakwah oleh Jurnalis, Dakwah dalam Media Massa dan Pengaruh Dakwah dalam Media Massa.
Bab V Etika Jurnalis Muslim
Pada bab lima ini, membahas tentang etika yang mesti dijalankan oleh seorang jurnalis Muslim. Dalam bab ini berisi sub bab yang terdiri dari: Membicarakan tentang Etika, Konsep Islam tentang Etika, Posisi Etika bagi Jurnalis, Etika Jurnalis Muslim sebagai Pembeda.
Bab VI Nilai Dakwah dalam Berita
Dalam bab enam akan membahas pentingnya nilai dakwah dalam membuat berita. Berita yang disampaikan kepada khalayak khususnya umat Islam mestinya bernilai dakwah. Oleh itu, dalam bab ini memiliki sub bab terdiri dari: Kejujuran: Meliput dan Melaporkan Berita, Kebenaran : Antara Fakta dan Opini, Urgensi Pemberitaan Dakwah, Hikmah dan Bijaksana: Pembaca adalah Manusia.
Bab VII Pendekatan Dakwah dalam Berita
Pada bab yang ketujuh ini, diterangkan tentang pendekatan dakwah dalam berita. Terdiri dari beberapa sub bab, yakni: Konsep Islam Mencari Berita, Berita Bernuansa Dakwah, Berita Positif, Bukan Negatif, dan Memahami Posisi Khalayak.
Bab VIII Tantangan dan Peluang Jurnalis Muslim
Setiap profesi memiliki tantangan tersendiri, demikian pula profesi jurnalistik. Inilah yang dikemukakan dalam bab ini dan terdiri dari: Ketika Jurnalis Muslim menghadapi Tantangan, Memanfaatkan Peluang Dakwah, Regenerasi Jurnalis Muslim dan Perlunya Media Massa Islam.
Bab IX Penutup
Disamping itu, dalam buku ini juga dilampirkan beberapa contoh berita yang bernilai dakwah, peraturan tentang etika jurnalistik, dan kode etik jurnalistik.
Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, Elvinaro., Komala, Lukiati., dan Karlinah, Siti., 2007. Komunikasi Massa, Suatu Pengantar. Simbiosa Rekatama Media : Bandung
Adinegoro, 1961. Publisistik dan Djurnalistik. Gunung Agung: Jakarta
Akbar, Folliy. 2012. Kriteria Pers Menurut Islam. Dlm : http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/25/mau-tau-kriteria-pers-menurut-islam-496506.html
Arifin, Anwar, 2008. Opini Publik. Penerbit Pusata Indonesia : Jakarta
Abidin, 2010. Etika Menurut Imam al-Ghazali. Dlm:
http://munirulabidin. wordpress.com/2010/05/07/etika-menurut-imam-al-ghazali/
Arsalan, Alib. 2013. Ciri Penting Akhlak dalam Islam. Dlm :
http://al-mustaqbal.net/salah-satu-ciri-penting-dalam-islam-adalah-akhlak-yang-baik/
Assegaff, Dja’far H, 1982. Jurnalistik Masa Kini. Ghalia Indonesia : Jakarta
Cangara, Hafied. 2006. Dasar-dasar Jurnalistik. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Depag Agama RI & Depag Kerajaan Arab Saudi. 1415 H(1995 M).
Al Qur’an dan Terjemahnya. Madinah al-Munawwarah:
Ecip, S. Sinansari, 2000. Dasar-dasar Jurnalistik Media Cetak. (Diktat).
Fadlan Bin Mohd. Othman. 2013. Dakwah Melalui Media:
Keperluan, Peluang dan Cabaran. Dlm:
http://fadlan-mohd-othman.blogspot.com/2013/ 06/dakwah-melalui-media.html
Gerungan, W. A. 2004. Psikologi Sosial, Bandung: PT Refika Aditama
Harahap, Arifin S. 2006. Jurnalistik Televisi, Teknik Memburu dan
Menulis Barita TV. PT Indeks Kelompok Gramedia :
Jakarta
Ibrahim, Faridah., dan Samani, Mus Chairil. 2000. Etika Kewartawanan. F.A.R Publisher: Subang Jaya Kuala Lumpur
Kasman, Suf. 2004. Jurnalisme Universal, Menelusuri
Prinsip-prinsip Da’wah Bi Al-Qalam dalam Al-Quran. Penerbit
Teraju : Jakarta
Kusumaningkat, Hikmat. 2006. Jurnalistik Teori dan Praktek. PT Remaja Rosdakarya : Bandung
Madjid, Nurcholis. 2000. Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah
Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan. Jakarta: Penerbit
Paramadina
Masri, Subekti. 2011. Etika Jurnalistik dalam Pandangan Islam. Dlm: http://datastudi.wordpress.com/2011/09/18/etika-jurnalistik-dalam-pandangan-islam/
Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim
McQuail, Denis. 1991. Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar. Penerbit Erlangga: Jakarta
Misno, Abdurrahman. 2012. Kebenaran Menurut Islam. Dlm: http://majelispenulis.blogspot.com/2012/04/kebenaran-menurut-islam.html
Muis, A. 1999. Jurnalistik Hukum Komunikasi Massa. PT Dharu Anutama : Jakarta
Mumtaz, Lely. 2009. Pengaruh Media Massa terhadap Dakwah. Dlm: http://lelybroadcaster.blogspot.com/2009/05/ pengaruh-media-massa-terhadap-dakwah.html
Norman, Suratman.2012. http://www.ukm.my/news/index.php /ms/berita-kampus/1295-malaysian-mainstream-media-gets-more-freedom-than-those-in-singapore.html
Nurudin. 2009. Jurnalisme Masa Kini. RajaGrafindo Persada: Jakarta
Samantho, Ahmad Y. 2002. Jurnalistik Islami. Mizan Media Utama : Bandung.
Siagian, Haidir Fitra. 2012. Komunikasi Politik, Posisi Ulama
sebagai Komunikator Politik. Alauddin University
Press: Makassar
Siagian, Haidir Fitra dan Ahmad, Fauziah. 2012. Kemelut Politik
Timur Tengah: Kebergantungan Khalayak terhadap Media. Makassar: Jurnal Hipotesis Universitas Sawerigading
Siregar, Ashadi. 1998. “Bagaimana Meliput dan Menulis Berita
untuk Media Massa”. Kanisius : Yogyakarta
Syahputra, Iswandi. 2007. Komunikasi Profetik, Konsep dan Pendekatan. Simbiosa Rekatama Media: Bandung Syamsul M. Romli, Asep, 2003. Jurnalistik Dakwah Visi dan Misi
Dakwah Bil Qalam. PT Remaja Rosdayakarya :
Bandung
Umar, Mustofa. 2013. Andil Pers dalam Dakwah. Dlm:
http://www.bimakini.com/index.php/opini/item/39
46-andil-pers-dalam-dakwah
Vera, Nawiroh. 2007. Kekerasan dalam Media Massa, Persfektif Kultivasi. (jurnal.budiluhur.ac.id
/wp.../01/blcom-v2-n1-artikel5-januari2007.pdf). Halaman Wesbsite: http://www.annaba-center.com/main/kajian/detail.php?detail=20090312204 051 http://awpii-pers.blogspot.com/2013/05/kebebasan-pers-dan-etika.html http://datastudi.wordpress.com/2011/09/18/etika-jurnalistik-dalam-pandangan-islam/ http://forum.viva.co.id/umum/1471005-pentingnya-mematuhi-kode-etik-jurnalistik-bagi-media-massa-wartawan.html http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/12/jtptiain-gdl-s1-2006-darmanto11-581-Bab2_110-8.pdf http://massofa.wordpress.com/2008/11/17/pengertian-etika-moral-dan-etiket/ http://majelispenulis.blogspot.com/2012/04/kebenaran-menurut-islam.html
Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim http://mediaislamraya.blogspot.com/2013/07/cara-mendapatkan-berita-yang-benar.html http://www.muhammadiyah.or.id/7-content-190-det-tafsir-alquran.html http://munirulabidin.wordpress.com/2010/05/07/etika-menurut-imam-al-ghazali/ http://muntalaq.com/kewajipan-dakwah-ke-jalan-allah/ http://najiblee.blogspot.com/2012/12/efek-psikologis-dakwah-melalui-media.html http://neysya-jatidiri.blogspot.com/2012/07/jurnalistik-dalam-peradaban-islam.html http://qudcy.blogspot.com/2012/06/efek-psikologi-dakwah-melalui-media.html http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16222/4/Chapter% 20I.pdf http://shelakusumaningtyas.wordpress.com/2014/01/28/tanggungja wab-sosial-bagi-media-massa/ http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-ankabut-ayat-14-27.html http://tunas63.wordpress.com/2008/10/14/eyd-cara-menulis-singkatan-dan-akronim/ http://wulannuansari.blogspot.com/2013/09/pengertian-dan-hakikat-jujur-menurut.html
Lampiran 1: Kode Etik Jurnalistik
Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB.
Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.
Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.
Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik:
Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
Penafsiran
a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers. b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.
c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara. d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.
Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.
Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim Cara-cara yang profesional adalah:
a. menunjukkan identitas diri kepada narasumber; b. menghormati hak privasi;
c. tidak menyuap;
d. menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya; e. rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang;
f. menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;
g. tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;
h. penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.
Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
Penafsiran
a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.
b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.
c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.
d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.
Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.
Penafsiran
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk.
c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.
e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.
Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
Penafsiran
a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak. b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah.
Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.
Penafsiran
a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.
b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.
Peran dan Tanggung Jawab Jurnalis Muslim Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.
Penafsiran
a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.
b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.
c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.
d. Off the record adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.
Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.
Penafsiran
a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas.
b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan. Pasal 9
Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.
Penafsiran
a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati.
b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.
Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.
Penafsiran
a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.
b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.
Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.
Penafsiran
a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.
b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.
c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.
Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan Dewan Pers. Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.