1 dari 4 pemuda Indonesia merokok
5.4 Berobat Jalan
Seseorang yang mengalami keluhan kesehatan akan melakukan upaya pengobatan untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Upaya pengobatan dapat dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan modern/tradisional atau mengobati sendiri keluhan kesehatannya. Pengobatan melalui fasilitas kesehatan dapat
berupa berobat jalan atau rawat inap, sedangkan yang dimaksud dengan mengobati sendiri antara lain dengan kerokan, minum jamu, atau membeli obat tanpa menggunakan resep dokter.
Berobat jalan adalah upaya seseorang yang mempunyai keluhan kesehatan untuk memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan dengan mendatangi tempat- tempat pelayanan kesehatan modern atau tradisional tanpa menginap, termasuk mendatangkan petugas kesehatan ke rumah. Berobat jalan dapat di rumah sakit pemerintah/swasta, tempat praktik dokter/bidan, klinik, puskesmas, atau balai pengobatan.
Berdasarkan Susenas 2015, sebesar 46,80 persen pemuda yang mengalami keluhan kesehatan, pernah berobat jalan. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran pemuda terhadap kesehatan cukup tinggi, dimana keluhan kesehatan yang dialami ditindak- lanjuti dengan berobat jalan.
Statistik Pemuda Indonesia 2015 55
Gambar 5.5 Persentase Pemuda dengan Keluhan Kesehatan yang Pernah Berobat Jalan Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2015
Sumber: BPS, Susenas Kor 2015
Selanjutnya, apabila dilihat dari tipe daerah, persentase pemuda yang berobat jalan relatif tidak jauh berbeda. Persentase pemuda yang berobat jalan di perkotaan sebesar 46,63 persen, sedangkan di perdesaan sedikit lebih besar dengan 47,01 persen. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sikap atau respon pemuda terhadap keluhan kesehatan yang dialami cenderung sama baik di perkotaan maupun di perdesaan.
Berbeda halnya dengan tipe daerah, persentase pemuda yang berobat jalan menurut jenis kelamin tampak adanya perbedaan. Persentase pemuda perempuan yang berobat jalan lebih besar dibandingkan dengan pemuda laki-laki (49,35 persen dibandingkan dengan 43,86 persen). Hal ini terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan. Data tersebut menunjukkan bahwa pemuda perempuan cenderung lebih reaktif terhadap keluhan kesehatan yang dialami.
Tabel 5.3 menyajikan data pemuda yang berobat jalan menurut tempat berobat. Secara umum, pemuda lebih memilih pengobatan modern dibandingkan dengan pengobatan tradisional. Sebagian besar pemuda berobat jalan ke praktek dokter/bidan (41,30 persen) dan Puskesmas/ Pustu (27,91 persen).
Apabila dilihat menurut jenis kelamin, terdapat pola yang sama antara pemuda perempuan maupun laki-laki dalam berobat jalan di pengobatan modern. Akan tetapi, persentase pemuda laki-laki yang berobat jalan ke pengobatan tradisional/alternatif sedikit lebih besar dibandingkan pemuda perempuan (2,64 persen dibandingkan 1,58 persen). Bahkan, pemuda laki-laki yang memilih pengobatan alternatif dan lainnya lebih banyak dibandingkan dengan pemuda laki-laki yang berobat jalan di UKBM (seperti posyandu, balai pengobatan, atau posdeskes). 43,55 44,23 43,86 49,29 49,42 49,35 46,63 47,01 46,80 40,00 45,00 50,00
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
56 Statistik Pemuda Indonesia 2015
Tabel 5.3 Persentase Pemuda Pernah Berobat Jalan Menurut Tempat Berobat Jalan dan Jenis Kelamin, 2015
Tempat
Berobat Jalan Laki-laki (L) Perempuan (P) L+P
(1) (2) (3) (4)
Rumah sakit pemerintah 6,68 6,62 6,64
Rumah sakit swasta 5,19 5,76 5,51
Praktek dokter/bidan 41,14 41,43 41,30
Klinik/Praktek dokter bersama 16,84 14,82 15,70
Puskesmas/Pustu 26,99 28,63 27,91
UKBM 2,35 3,07 2,75
Pengobatan tradisional/ alternatif 2,64 1,58 2,04
Lainnya 2,40 1,91 2,12 Sumber: BPS, Susenas Kor 2015
Sementara itu, kecenderungan memilih pengobatan modern juga dilakukan oleh pemuda yang tinggal baik di perkotaan maupun di perdesaan (lihat Gambar 5.6). Namun demikian, terdapat selisih persentase yang cukup jauh pada beberapa jenis tempat pengobatan modern. Pemuda yang berobat jalan ke klinik/praktek dokter
bersama lebih besar di perkotaan dibandingkan perdesaan. Selain itu, persentase pemuda yang berobat ke rumah sakit swasta lebih besar di perkotaan dibandingkan perdesaan. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap di perkotaan dibandingkan perdesaan.
Gambar 5.6 Persentase Pemuda Pernah Berobat Jalan Menurut Tempat Berobat Jalan dan Tipe Daerah, 2015
Sumber: BPS, Susenas Kor 2015
7,30 7,99 5,88 2,67 36,83 46,44 21,60 8,93 25,66 30,50 1,14 4,61 1,54 2,61 1,64 2,68 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 Perkotaan Perdesaan
Rumah sakit pemerintah Rumah sakit swasta Praktek dokter/bidan Klinik/Praktek dokter bersama Puskesmas/Pustu UKBM
Pengobatan tradisional/alternatif Lainnya
Statistik Pemuda Indonesia 2015 57 Di antara pemuda yang mengalami
keluhan kesehatan, terdapat pemuda yang tidak pernah berobat jalan. Sebagaimana disajikan pada Gambar 5.5, pemuda yang
berobat jalan sebesar 46,80 persen. Artinya, masih terdapat lebih dari separuh pemuda yang mengalami keluhan kesehatan tetapi tidak berobat jalan.
Tabel 5.4 Persentase Pemuda dengan Keluhan Kesehatan yang Tidak Berobat Jalan Menurut Alasan Utama Tidak Berobat dan Tipe Daerah, 2015
Alasan Tidak Berobat Jalan Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D
(1) (2) (3) (4)
Tidak punya biaya berobat 2,55 6,13 4,34 Tidak ada biaya transport 0,20 0,67 0,43 Tidak ada sarana transportasi 0,03 0,18 0,10 Waktu tunggu pelayanan lama 0,18 0,13 0,16 Mengobati sendiri 63,76 58,95 61,35 Tidak ada yang mendampingi 0,17 0,24 0,21 Merasa tidak perlu 29,71 30,36 30,04 Lainnya 3,40 3,35 3,37
Sumber: BPS, Susenas Kor 2015
Tabel 5.4 menunjukkan sebagian besar pemuda tidak berobat jalan karena mengobati sendiri keluhan yang dialami (61,35 persen). Salah satu contoh upaya mengobati sendiri adalah membeli obat tanpa resep dokter/tenaga kesehatan lain. Selain karena alasan mengobati sendiri, sebesar 30,04 persen pemuda tidak berobat jalan dengan alasan merasa tidak perlu. Hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa keluhan kesehatan yang dialami pemuda umumnya merupakan penyakit ringan yang kerap kali diabaikan (dibiarkan).
Mengobati sendiri dan merasa tidak perlu juga menjadi alasan dengan persentase terbesar baik di perkotaan maupun perdesaan. Persentase pemuda yang mengobati sendiri sebesar 63,76
persen untuk daerah perkotaan, sedangkan di perdesaan sedikit lebih kecil yaitu 58,95 persen. Persentase pemuda yang tidak berobat jalan dengan alasan tidak ada biaya untuk berobat adalah sebesar 6,13 persen untuk pemuda yang tinggal di perdesaan. Angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan di perkotaan, yaitu sebesar 2,55 persen.
Hampir separuh pemuda telah memiliki jaminan kesehatan (lihat Gambar 5.7). Bahkan, di perkotaan lebih dari separuh pemuda memiliki jaminan kesehatan (51,12 persen). Sementara itu, untuk daerah perdesaan, persentase pemuda yang memiliki jaminan kesehatan adalah sebesar 46,71 persen.
58 Statistik Pemuda Indonesia 2015
Gambar 5.7 Persentase Pemuda yang Memiliki Jaminan Kesehatan Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2015
Sumber: BPS, Susenas Kor 2015
Selanjutnya, dilihat dari jenis kelamin, persentase pemuda yang memiliki jaminan kesehatan tampak tidak berbeda jauh antara pemuda laki-laki dan perempuan (49,12
persen berbanding 48,97 persen). Hal ini terjadi baik di perkotaan maupun di perdesaan.
Gambar 5.8. Persentase Pemuda yang Memiliki Jaminan Kesehatan Menurut Provinsi, 2015
Sumber: BPS, Susenas Kor 2015
Gambar 5.8 membagi provinsi di Indonesia ke dalam 3 kelompok yang ditandai dengan warna merah, biru, dan hijau. Area yang diberi warna merah adalah provinsi yang persentase pemuda yang memiliki jaminan kesehatan lebih rendah
dari angka nasional. Termasuk dalam kelompok ini adalah provinsi Kalimantan Barat dengan persentase terkecil (28,71 persen), Jambi (32,37 persen), Jawa Timur (37,74 persen), dan Kalimantan Tengah (37,83 persen). Sebagian besar provinsi di 51,38 46,60 49,12 50,86 46,82 48,97 51,12 46,71 49,04 44,00 45,00 46,00 47,00 48,00 49,00 50,00 51,00 52,00
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
Statistik Pemuda Indonesia 2015 59 Pulau Jawa dan Sumatera juga termasuk
dalam kelompok ini.
Area yang diberi warna biru merupakan provinsi yang memiliki persentase lebih besar dari angka nasional namun masih di bawah 70 persen. Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Yogyakarta, Papua, dan Papua Barat termasuk ke dalam kelompok ini. Wilayah paling timur Indonesia, tepatnya di Provinsi Papua dan Papua Barat, lebih dari separuh pemuda sudah memiliki jaminan kesehatan (masing-masing sebesar 60,51 persen dan 64,11 persen).
Area yang diberi warna hijau adalah provinsi yang lebih dari 70 persen pemudanya sudah memiliki jaminan kesehatan. Pada gambar terlihat area yang berwarna hijau relatif sedikit. Provinsi yang
termasuk dalam kelompok ini antara lain Aceh dengan persentase terbesar (84,16 persen), Bali (82,67 persen), Sumatera Selatan (77,54 persen), Sulawesi Selatan (72,64 persen), dan Kalimantan Timur (70,56 persen).
Jenis jaminan kesehatan yang paling banyak dimiliki oleh pemuda adalah jamkesmas/Penerima Bantuan Iuran (PBI). Sebagaimana terlihat pada Tabel 5.5, persentase pemuda yang memiliki jamkesmas/PBI adalah sebesar 39,45 persen. Jamkesmas dan PBI merupakan program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu
Tabel 5.5 Persentase Pemuda yang Memiliki Jaminan Kesehatan Menurut Jenis Jaminan dan Tipe Daerah, 2015
Jenis Jaminan Kesehatan Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D
(1) (2) (3) (4) BPJS Kesehatan 32,02 13,07 23,53 BPJS Ketenagakerjaan 9,91 2,43 6,56 Askes/Asabri/Jamsostek 13,37 7,08 10,55 Jamkesmas/PBI 27,77 53,83 39,45 Jamkesda 13,37 25,34 18,73 Asuransi Swasta 3,67 0,44 2,23 Perusahaan/kantor 3,66 0,98 2,46 Sumber: BPS, Susenas Kor 2015
Dilihat menurut tipe daerah, pemuda yang memiliki jamkesmas/PBI di perdesaan mencapai 53,83 persen. Artinya, sebagian besar pemuda di perdesaan memiliki jamkesmas/PBI. Angka tersebut hampir mencapai dua kali angka perkotaan, yaitu sebesar 27,77 persen.
Selain jamkesmas, jaminan kesehatan yang memiliki persentase lebih besar dibandingkan jaminan kesehatan lain adalah BPJS Kesehatan dan jamkesda. Jamkesmas merupakan jaminan kesehatan yang dikelola oleh pemerintah pusat, sedangkan jamkesda
http://www.bps.go.id
60 Statistik Pemuda Indonesia 2015 dikelola oleh pemerintah daerah. Di
perdesaan, persentase pemuda yang memiliki jamkesda lebih besar dibandingkan perkotaan (25,34 persen berbanding 13,37 persen). Sebaliknya, persentase pemuda yang memiliki BPJS Kesehatan di perdesaan jauh lebih kecil dibandingkan dengan perkotaan (13,07 persen berbanding 32,02 persen). Di perkotaan, BPJS Kesehatan merupakan jaminan kesehatan yang paling banyak dimiliki oleh pemuda.
Selanjutnya, Tabel 5.5 juga menunjukkan persentase pemuda yang memiliki asuransi
kesehatan swasta jauh lebih besar di perkotaan dibandingkan di perdesaan (3,67 persen berbanding 0,44 persen). Kehidupan yang lebih modern dan maju di perkotaan dapat mendorong pertumbuhan asuransi yang dikelola oleh lembaga keuangan swasta. Sama halnya dengan asuransi swasta, persentase pemuda perkotaan yang memiliki asuransi dari perusahaan/kantor adalah sebesar 3,66 persen, jauh lebih besar dibandingkan dengan di perdesaan sebesar 0,98 persen.
Gambar 5.9 Persentase Pemuda yang Menggunakan Jaminan Kesehatan untuk Berobat Jalan Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2015
Sumber:BPS, Susenas Kor 2015
Gambar 5.9 menunjukkan pemuda yang menggunakan jaminan kesehatan untuk berobat jalan relatif sedikit, yaitu sebesar 5,59 persen. Persentase pemuda yang memanfaatkan jaminan kesehatan untuk berobat jalan di perkotaan lebih besar dibandingkan di perdesaan. Dilihat dari jenis kelamin, pemuda perempuan lebih banyak yang menggunakan jaminan kesehatan
untuk berobat jalan dibandingkan dengan pemuda laki-laki.