• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

3. Berpikir

a. Pengertian Berpikir

Menurut John W. Santrok (2007: 294)

melibatkan memanipulasi dan transformasi informasi dalam memori yang ta dapat berpikir secara konkret atau secara abstrak. Kita juga dapat berpikir tentang masa lampau (apa yang terjadi pada kita 1 bulan yang lalu) dan tentang masa depan (seperti apa hidup kita pada tahun 2020). Kita dapat berpikir agar dapat membuat pertimbangan, berintrospeksi, mengevaluasi ide ide, menyelesaikan persoalan, dan mengambil keputusan.

Othman (Sabar Thinking is any

mental activity that helps formulate or solve a problem, make a decision, or fulfill

Cotton (dalam jurnal Sabar Nurohman, 2008) m Thinking Skills The

processes. These skills consist of knowledge, and cognitive and metacognitive

Berpikir adalah gejala jiwa yang dapat menetapkan hubungan-hubungan antara pengetahuan-pengetahuan kita. Hubungan-hubungan itu adalah :

1) Hubungan sebab akibat 2) Hubungan tempat 3) Hubungan perbandingan

4) Hubungan waktu

Proses-proses yang dilalui dalam berpikir antara lain :

1) Pembentukan pengertian, artinya dari satu masalah, pikiran kita membuang ciri-ciri tambahan, sehingga tinggal ciri-ciri yang tipis pada masalah itu. Yang harus diingat dalam pembentukan pengertian adalah pengertian itu mempunyai isi yang tepat, kalau perlu pembentukan pengertian itu harus dibantu dengan hal-hal yang nyata. Pengertian itu sendiri adalah suatu alat pembantu berpikir untuk mendapatkan pandangan yang konkret dari kenyataan-kenyataan.

Pembentukan pendapat: artinya pikiran kita menggabungkan atau menceraikan beberapa pengertian, yang menjadi tanda khas dari masalah itu. Ada dua macam pendapat:

a) Pendapat yang positif ialah pendapat yang menggabungkan. Misalnya anak laki-laki, anak pak Mamat yang pincang yang sekarang kelas V SD, yang nakal sekali adalah Nino.

b) Pendapat yang negatif ialah pendapat yang menceraikan. Misalnya Nino yang anak pak Mamat yang pincang sekarang duduk di kelas V SD adalah anak nakal sekali.

2) Pembentukan keputusan: artinya pikiran kita menggabungkan pendapat-pendapat tersebut. Menurut terjadinya, ada 3 macam keputusan, yaitu :

a) Keputusan dari pengalaman-pengalaman b) Keputusan dari tanggapan-tanggapan c) Keputusan dari pengertian-pengertian

3) Pembentukan kesimpulan: artinya pikiran kita menarik keputusan dari keputusan-keputusan yang lain. Menurut terjadinya ada 3 macam kesimpulan, yaitu :

a) Kesimpulan Induksi adalah kesimpulan yang ditarik dari keputusan-keputusan yang khusus untuk mendapatkan yang umum. Misalnya besi kalau dipanaskan memuai, loyang kalau dipanaskan memuai, tembaga kalau dipanaskan memuai. Kesimpulannya: Semua logam kalau dipanaskan memuai.

commit to user

b) Kesimpulan Deduksi ialah kesimpulan yang ditarik dari keputusan yang umum untuk mendapatkan keputusan yang khusus. Misalnya semua manusia pasti mati, Karrta manusia, Kartta mesti mati.

c) Kesimpulan Analogi ialah kesimpulan yang sama. Sebab analogi dari kata an (=tidak) dan a (=tidak) dan logi (=benar). Jadi analogi berarti benar, atau sama. Artinya kesimpulan analogi adalah kesimpulan yang ditarik dengan jalan membandingkan situasi yang satu dengan situasi yang lain, yang telah kita kenal. Tetapi karena biasanya pengenalan kita kepada situasi pembanding ini kurang teliti, maka kesimpulan analogi ini biasanya juga kurang benar.

(Agus Sujanto, 2001: 56) b. Pengertian Berpikir Kreatif

Seorang yang kreatif selalu mempunyai rasa ingin tahu, ingin mencoba-coba, berpetualang, suka bermain-main serta intuitif. Dalam masyarakat kita, kita cenderung memandang orang-orang tertentu seperti seniman, ilmuwan, atau penemu, sebagai orang-orang misterius hanya karena mereka itu kreatif. Walaupun demikian, kita semua mempunyai kemampuan untuk menjadi pemikir-pemikir yang kreatif dan pemecah masalah. Yang diperlukan adalah pikiran yang penuh rasa ingin tahu, kesanggupan untuk mengambil risiko dan dorongan untuk membuat segalanya berhasil.

(Edmund Bachman, 2005) Pehkonen (Tatag Yuli Eko Siswono, 2006) mengemukakan bahwa suatu kombinasi dari berpikir logis dan

Menurut Amb

untuk menyelesaikan permasalahan, membuat penyelesaian, mengungkapkan ide baru dan penyelesaian yang komunikatif.

Maite Garaigordobil dan Laura Berrueco (2011) melakukan suatu penelitian untuk mengetahui apakah ada pengaruh program bermain terhadap kekreatifan anak. Program tersebut mencakup 75 menit waktu bermain anak dalam seminggu waktu sekolah anak. Dalam penelitiannya Maite Garaigordobi dan Laura Berrueco menggunakan dua instrumen yaitu The Torrance Test Of

Creatifity (TTTC) dan Behaviours and Traits of Creative Personality Scale. Hasil

penelitian menunjukan bahwa program tersebut secara signifikan meningkatkan kreatifitas anak.

erpikir kreatif adalah merupakan suatu proses mental yang digunakan seseorang untuk

dalam pe

Silver (dalam Tatag Yuli Eko Siswono, 2006) menjelaskan bahwa Untuk menilai berpikir kreatif anak-anak dan orang dewasa sering digunakan tiga komponen kunci yang dinilai dalam kreativitas adalah kefasihan (fluency), fleksibilitas dan kebaruan (novelty).

Kefasihan mengacu pada banyaknya ide-ide yang dibuat dalam merespon sebuah perintah. Fleksibilitas tampak pada perubahan-perubahan pendekatan ketika merespon perintah. Kebaruan merupakan keaslian ide yang dibuat dalam merespon perintah. Dalam masing-masing komponen, apabila respon perintah disyaratkan harus sesuai, tepat atau berguna dengan perintah yang diinginkan, maka indikator kelayakan, kegunaan atau bernilai berpikir kreatif sudah dipenuhi. Sedangkan keaslian dapat ditunjukkan atau merupakan bagian dari kebaruan. Jadi indikator atau komponen berpikir itu dapat meliputi kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan.

Balka (dalam Tatag Yuli Eko Siswono, 2006) mengungkapkan gagasan

lain mengenai aspek berpikir kreatif efasihan mengacu pada banyaknya

masalah yang diajukan, fleksibilitas mengacu pada banyaknya kategori-kategori berbeda dari masalah yang dibuat dan keaslian melihat bagaimana keluarbiasaan (berbeda dari kebiasaan) sebuah respon da

Dengan demikian kegiatan pengajuan dan pemecahan masalah yang meninjau kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan dapat digunakan sebagai sarana untuk menilai kreativitas sebagai produk berpikir kreatif individu .

Dalam kajian ini ketiga komponen itu diartikan sebagai:

1) Kefasihan dalam pemecahan masalah mengacu pada keberagaman

commit to user

dalam pengajuan masalah mengacu pada banyaknya atau keberagaman masalah yang diajukan siswa sekaligus penyelesaiannya dengan benar. Dua jawaban yang beragam belum tentu berbeda. Beberapa jawaban masalah dikatakan beragam tetapi tidak berbeda bila jawaban-jawaban itu tidak sama satu dengan yang lain, tetapi tampak didasarkan pada suatu pola atau urutan tertentu. Misalkan jawaban suatu masalah didasarkan pada bentuk aljabar 2y. Bila siswa semula menjawab 2 (karena y = 1), kemudian 4 (karena y = 2), berikutnya 6 (karena y = 3), maka jawaban siswa ini beragam tetapi tidak berbeda. Bila siswa semula menjawab 2 (karena y = 1), kemudian 5 (karena y = 2,5), berikutnya 1 (karena y = ½ ), maka jawaban siswa ini beragam sekaligus berbeda. Jawaban tersebut beragam karena jawaban satu dengan yang lain tidak sama, sedang jawaban itu berbeda karena pilihan nilai-nilai y tidak didasarkan pada urutan atau pola tertentu. Dalam pengajuan masalah, suatu masalah merupakan ragam dari masalah sebelumnya bila masalah itu hanya mengubah nama subjek tetapi isi atau konsep atau konteks yang digunakan sama. Dua masalah yang diajukan berbeda bila konsep matematika atau konteks yang digunakan berbeda.

2) Fleksibilitas dalam pemecahan masalah mengacu pada kemampuan siswa

memecahkan masalah dengan berbagai cara yang berbeda. Sedang fleksibilitas dalam pengajuan masalah mengacu pada kemampuan siswa mengajukan masalah yang mempunyai cara penyelesaian berbeda-beda.

3) Kebaruan dalam pemecahan masalah mengacu pada kemampuan siswa

menjawab masalah dengan beberapa jawaban yang berbeda-beda tetapi bernilai benar atau satu jawaban yang tidak biasa dilakukan oleh individu (siswa) pada tahap perkembangan mereka atau tingkat pengetahuannya. Kebaruan dalam pengajuan masalah mengacu pada kemampuan siswa mengajukan suatu masalah yang berbeda dari masalah yang diajukan sebelumnya.

Peneliti menyimpulkan proses berpikir kreatif adalah proses berpikir yang meliputi tahap persiapan (menemukan masalah), inkubasi (melepaskan diri dari masalah, taking a break), iluminasi (menemukan ide), dan verifikasi

(pembuktian ide) untuk menghasilkan sesuatu (produk) yang baru(novelty) secara fasih (fluency) dan fleksibel.

c. Tahap Proses Berpikir Kreatif Wallas

Proses berpikir kreatif merupakan suatu proses yang mengkombinasikan berpikir logis dan berpikir divergen. Berpikir divergen digunakan untuk mencari ide-ide untuk menyelesaikan masalah sedangkan berpikir logis digunakan untuk memverifikasi ide-ide tersebut menjadi sebuah penyelesaian yang kreatif. Untuk mengetahui proses berpikir kreatif siswa, pedoman yang digunakan adalah proses kreatif yang dikembangkan oleh Wallas (Munandar,2002:59) karena merupakan salah satu teori yang paling umum dipakai untuk mengetahui proses berpikir kreatif dari para penemu maupun pekerja seni yang menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap seperti pada Tabel 2.1

Tabel 2.1

Indikator Tahapan Proses Berpikir Kreatif Oleh Wallas

Tahapan Proses Berpikir Kreatif Indikator

1. Tahap Persiapan Pengumpulan informasi / data untuk

memecahkan masalah.

Bekal pengetahuan pengalaman, menja-jagi kemungkinan penyelesaian masalah.

Belum ada arah tertentu / tetap tetapi alam pikiran mengeksplorasi bermacam alternatif.

2. Tahap Inkubasi Melepaskan diri sementara dari masalah.

Tidak memikirkan secara sadar tetapi -sadar. Penting untuk mencari inspirasi.

commit to user

4. Tahap Verifikasi Ide atau kreasi baru diuji.

Diuji terhadap realitas, muncul pemikiran kritis.

Pemikiran dan sikap spontan harus diikuti oleh pemikiran selektif atau sengaja.

Akseptasi total harus diikuti oleh kritik. Firasat harus diikuti oleh pemikiran logis. Keberanian harus diikuti oleh sikap hati

hati.

(Munandar,1983 )

d. Aktivitas Mental yang Membantu Kreativitas.

Berpikir kreatif membutuhkan ketekunan, disiplin diri, dan perhatian penuh, meliputi aktivitas mental seperti :

1) Mengajukan pertanyaan

2) Mempertimbangkan informasi baru dan ide yang tidak lazim dengan pikiran terbuka.

3) Membangun keterkaitan, khususnya diantara hal hal yang berbeda. 4) Menghubungkan hubungkan berbagai hal dengan bebas.

5) Menerapkan imajinasi pada setiap situasi untuk menghasilkan hal baru dan berbeda.

6) Mendengarkan intuisi.

(Edmund Bachman, 2005)

Dokumen terkait