BAB III METODOLOGI PENELITIAN
F. Instrumen Penelitian
Dalam suatu penelitian sangat diperlukan data yang objektif yang berisi berbagai keterangan dan bahan yang sesuai dengan masalah yang akan diselidiki. Dalam penelitian ini instrumen penelitiannya adalah peneliti sendiri. Dalam hal ini peneliti merupakan perencana, pelaksana pengumpul data, analisis, penafsir data, dan akhirnya menjadi pelapor hasil penelitiannya. Lebih lanjut Lexy J.Moleong ( 2001 : 121 ) mengungkapkan beberapa hal yang perlu diperhatikan peneliti sebagai instrumen yakni :
1. Responsif
Manusia sebagai instrument responsive terhadap lingkungan dan terhadap pribadi pribadi yang menciptakan lingkungan.
2. Dapat menyesuaikan diri
Manusia sebagai instrumen hampir tidak terbatas dapat menyesuaikan diri pada keadaan dan situasi pengumpulan data.
commit to user
3. Menekankan keutuhanManusia sebagai instrument memanfaatkan imajinasi dan kreativitasnya dan memandang dunia ini sebagai suatu keutuhan, jadi sebagai konteks yang berkesinambungan di mana mereka memandang dirinya sendiri dan kehidupannya sebagai sesuatu yang riil, benar,dan mempunyai arti.
4. Mendasarkan diri atas perluasan pengetahuan. 5. Memproses data secepatnya.
6. Memanfaatkan kesempatan untuk mengklarifikasikan dan mengikhtisarkan. Manusia sebagai instrument memiliki kemampuan lainnya, yaitu kemampuan untuk menjelaskan sesuatu yang kurang dipahami oleh subjek dan responden.
Selain peneliti sendiri, instrumen bantu dalam penelitian ini antara lain instrumen tes, instrumen wawancara dan angket Adversity Quotient (AQ).
1. Instrumen Bantu Penelitian (Instrumen Tes)
Dalam penelitian ini digunakan tes uraian untuk mengetahui sampai sejauh mana proses berpikir kreatif siswa dalam dalam memecahkan masalah bangun ruang. Tes uraian dalam penelitian ini berkaitan dengan volume bangun ruang. Lembar tes pemecahan masalah tersebut terdapat sebuah permasalahan.
Peneliti menyusun dua buah tes pemecahan masalah yakni Tes Pemecahan Masalah 1 dan Tes Pemecahan Masalah 2 untuk keperluan triangulasi. Data hasil wawancara berbasis Tes Pemecahan Masalah 1 akan ditriangulasi dengan data hasil wawancara berbasis Tes Pemecahan Masalah 2.
Sebelum digunakan kedua tes pemecahan masalah tersebut dianalisis oleh dosen pendidikan matematika yang berpengalaman untuk menguji apakah instrumen ini benar-benar dapat mengungkap bagaimana siswa berpikir kreatif. Analisis dilakukan dengan menentukan apakah kecocokan materi, konstruksi dan bahasa yang digunakan dalam instrumen memenuhi kriteria validitas. Kriteria validitas yang digunakan adalah jika sekurang-kurangnya 2 dari 3 validator menyetujui bahwa dari segi isi, konstruksi kalimat, bahasa yang digunakan dalam tiap-tiap butir soal dapat mengungkap bagaimana siswa berpikir kreatif.
commit to user
Tes Pemecahan Masalah I divalidasi terlebih dahulu oleh Dr. Imam Sujadi, M.Si (dosen Pendidikan matematika UNS), Drs. Ponco Sujatmiko, M.Si (dosen Pendidikan Matematika UNS) dan Dwi Maryana,S.Si (dosen Pendidikan Matematika UNS). Dari Bapak Imam Sujadi dan Bapak Ponco Sujatmiko peneliti mendapatkan masukan dari segi bahasa dan konstruksi soal, peneliti awalnya menginginkan terdapat 3 soal untuk tiap permasalahan namun peneliti
bangun ruang apa saja yang mungkin kamu buat berdasarkan apa yang sudah
kemudian soal terse
yang kedua peneliti mendapatkan masukan dari segi konstruksi soal dan bahasa. Untuk perintah menentukan banyak wadah jelly, awalnya peneliti meletakkan perintah tersebut sebagai soal, tetapi peneliti merevisinya sebagai petunjuk khusus pengerjaan soal, agar tes pemecahan masalah yang kedua setara dengan tes pemecahan masalah pertama.
Dari ketiga validator, ketiganya menyatakan bahwa instrumen tes yang digunakan valid untuk mengungkap proses berpikir kreatif siswa. Serta untuk Tes Pemecahan Masalah II telah dinyatakan setara dengan Tes Pemecahan masalah I.
3. Instrumen Bantu Penelitian (Instrumen Wawancara)
Teknik wawancara yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik wawancara tak terstruktur. Pertanyaan disesuaikan dengan keadaan responden dengan terlebih dahulu peneliti membuat pedoman wawancara yang berisi butir-butir pertanyaan yang akan ditanyakan ketika wawancara. Pedoman wawancara divalidasikan kepada validator.
Analisis hasil wawancara dilakukan dengan memperhatikan kata kunci yang mengindikasikan aspek-aspek berpikir kreatif kemudian dilakukan pengodean sesuai indikator proses berpikir kreatif yang ditetapkan dan disimpulkan karakteristik yang muncul.
commit to user
Validator untuk instrumen pedoman wawancara ini adalah oleh Dr. Imam Sujadi, M.Si (dosen Pendidikan matematika UNS), Drs. Ponco Sujatmiko, M.Si (dosen Pendidikan Matematika UNS) dan Dwi Maryana,S.Si (dosen Pendidikan Matematika UNS). Dari ketiga validator tersebut, ketiganya menyatakan instrumen pedoman wawancara valid.
4. Angket Adversity Quotient
Instrumen ini digunakan untuk mengategorikan siswa berdasarkan AQ. Angket adalah cara pengumpulan data melalui pengajuan pertanyaan pertanyaan tertulis kepada subjek penelitian, responden, atau sumber data dan jawabannya diberikan pula secara tertulis(Budiyono, 2003:47). Menurut Stoltz (2000:119) untuk mengetahui kategori AQ seseorang digunakan Adversity Response Profile (ARP)yang terdiri dari 30 butir peristiwa dengan disertai dua pertanyaan untuk setiap peristiwa dengan skala Likert lima poin. ARP cenderung ditujukan untuk responden para pegawai(orang yang telah bekerja), sedangkan subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA sehingga peneliti mengembangkan angket AQ dengan tetap berpedoman pada ARP. Angket AQ disusun sesuai dengan konteks keseharian siswa SMA dalam skala Likert lima poin dengan modifikasi menjadi 4 poin.
ARP memiliki rentang skor antara 40 sampai dengan 200 dengan masing masing dimensi AQ(control, origin & ownership, reach, dan endurance) memiliki skor maksimal 50. Dengan memperhatikan rentang skor ARP tersebut, setelah dilakukan uji coba dan analisis konsistensi internal, angket AQ pada mulanya disusun dalam 56 butir kemudian digugurkan menjadi 30 butir, dengan rincian sepuluh butir untuk dimensi control, lima butir untuk dimensi origin, empat butir untuk dimensi ownership, empat butir untuk dimensi reach, tujuh butir untuk dimensi endurance.
Secara garis besar, langkah langkah dalam menyusun angket AQ sebagai berikut:
a. Menyusun kisi kisi angket AQ dengan mengacu pada deskripsi masing masing dimensi AQ yang dikemukakan Stoltz.
commit to user
b. Menyusun butir butir angket berdasarkan indikator pada kisi kisi angket. c. Melakukan validasi terhadap butir butir angket.
d. Melakukan revisi jika memang ada yang perlu direvisi. e. Melakukan uji coba angket AQ.
Berdasarkan langkah langkah di atas, penyusunan angket AQ dimulai dengan merumuskan kisi kisi angket AQ. Kisi kisi dirumuskan dengan berpedoman pada deskripsi aspek AQ yang dikemukakan Stoltz.
Selanjutnya, suatu angket dikatakan valid dari segi isi apabila isi angket merupakan sampel yang representatif dari keseluruhan isi yang akan diukur. Untuk menilai apakah angket memiliki validitas isi yang tinggi dilakukan melalui
experts judgement (penilaian yang dilakukan oleh para pakar). Dalam penelitian
ini, untuk memenuhi validitas isi angket AQ divalidasi oleh validator.
Dalam penelitian ini validasi isi dilakukan oleh 3 orang, yakni Dr. Imam Sujadi, M.Si (dosen Pendidikan Matematika UNS); Ira Kurniawati, S.Si., M.Pd.(dosen Pendidikan Matematika UNS); Dra. Sri Wiyanti, M.Si(dosen Psikologi UNS). Angket Adversity Quotient ini mengalami beberapa kali revisi. Pertama peneliti menyusun indikator-indikator berdasarkan aspek yang telah dikemukakan oleh Stoltz. Peneliti menyusun sebanyak 56 butir pernyataan yang terdiri atas 18 butir untuk aspek Control (kendali), 8 butir untuk aspek Origin (asal-usul), 8 butir untuk aspek Ownership (pengakuan), 10 butir untuk aspek
Reach (jangkauan), dan 12 butir untuk aspek Endurance (daya tahan). Kemudian
peneliti memvalidasikan angket tersebut kepada Dra. Sri Wiyanti, M.Si. Dari hasil validasi oleh Dra. Sri Wiyanti, M.Si peneliti mendapat masukan untuk tiap butir angket kemudian peneliti merevisi butir-butir yang perlu direvisi. Setelah itu, peneliti juga melakukan konsultasi dengan Ibu Ira Kurniawati, S.Si, M.Pd. Dari konsultasi tersebut, peneliti merevisi beberapa butir pernyataan, terakhir peneliti berkonsultasi dengan Dr. Imam Sujadi, M.Si. Dari konsultasi tersebut, peneliti juga merevisi beberapa butir angket serta menambahkan kata pengantar pada angket tersebut. Setelah melakukan revisi, peneliti memvalidasikan angket tersebut.
commit to user
Setelah angket dikatakan valid dari segi isi, selanjutnya dilakukan uji coba pada angket untuk melihat konsistensi internal setiap butir angket dan reliabilitas angket tersebut. Sebuah angket yang terdiri dari beberapa butir haruslah kesemua butir itu mengukur hal yang sama dan menunjukkan kecenderungan yang sama pula. Hal inilah yang disebut konsistensi internal setiap butir angket. Untuk mengetahui konsistensi internal pada setiap butir angket
dilakukan dengan menghitung indeks konsistensi internal (rxy) pada masing
masing butir menggunakan rumus korelasi momen produk Karl Pearson, dengan cara perhitungan sebagai berikut:
=
(
2 2
)(2 2
)Dimana rxy = indeksi konsistensi internal butir ke i
n = banyaknya subjek yang dikenai uji coba angket
X = skor untuk butir ke i (dari subjek uji coba)
Y = total skor (dari subjek uji coba).
Apabila diperoleh butir angket dengan rxy<0.3 maka butir tersebut harus dibuang.
Suatu angket disebut reliabel apabila hasil pengukuran dengan angket tersebut memberikan hasil yang sama jika sekiranya pengukuran tersebut dilakukan kepada orang yang sama pada waktu yang berlainan atau pada orang lain (tetapi memiliki kondisi yang sama) pada waktu yang sama atau pada waktu yang berlainan. Dalam penelitian ini, teknik yang digunakan untuk menghitung reliabilitas angket AQ adalah teknik Cronbach Alpha, dengan cara perhitungan sebagai berikut:
11
=11
22
Dimana r11 = indeks reliabilitas angket
n = banyak butir angket
si2 = variansi butir
commit to user
Suatu angket dikatakan reliabel jika memiliki indeks reliabilitas r11
0,7.(Budiyono,2003:65-70).
Peneliti mengujicobakan angket AQ yang telah divalidasi kepada kepada 76 siswa kelas X.2 dan X.3 SMA AL ISLAM 1 Surakarta. Awalnya peneliti memberikan angket untuk dibawa pulang agar siswa dapat mengisi angket tersebut di waktu luangnya. Namun, sistem ini mendapatkan kendala, tidak semua angket kembali pada peneliti, dan beberapa angket tidak diisi lengkap sehingga peneliti tidak dapat menggunakannya. Dari ujicoba tersebut peneliti memperoleh 41 angket yang bisa digunakan. Hasil ujicoba angket tersebut adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan perhitungan konsistensi internal, dari 56 butir angket diperoleh 30 butir konsisten, dengan rentang indeks konsistensi internal antara 0,302 0,698.
2. Berdasarkan ujicoba reliabilitas angket, diperoleh indeks reliabilitas 0,77 sehingga angket tersebut dinyatakan reliabel.
Butir angket AQ harus mewakili indikator-indikator keempat aspek AQ, yakni control, origin dan ownership, reach serta endurance. Hasil analisis konsistensi internal angket Adversity Quotient (AQ) dapat dilihat pada Tabel 3.1
Tabel 3.1
Hasil Analisis Butir Angket Adversity Quotient (AQ).
Aspek Tidak konsisten Konsisten
Jumlah
Butir Nomor Butir
Jumlah Butir
Nomor Butir yang Dipakai Control 8 4,34,10,38,9,29, 55,51 10 7,16,31,1,22,27,13,3 7,43,10 Origin & Ownership 7 12,24,3,2,18,33, 54 9 47,15,20,35,40, 19,36,45,5 Reach 6 21,14,32,56,49,30 4 41,6,23,44 Endurance 5 28,46,39,42,53 7 8,11,26,48,50,52,25 Total 26 30
commit to user
Selanjutnya, angket AQ disusun kembali untuk digunakan dalam pengelompokan siswa. Angket AQ yang digunakan untuk pengelompokan siswa selanjutnya diberikan pada 38 siswa kelas X.5 SMA Batik 1 Surakarta.
Untuk mengetahui kategori AQ siswa, skor diubah ke dalam skala nominal, yaitu kategori AQ tinggi, kategori AQ sedang, atau kategori AQ rendah.
Apabila skor siswa berada diatas rerata plus setengah simpangan baku ( > +
12
) maka termasuk kategori AQ tinggi, apabila skor siswa berada dibawah reratadikurangi setengah simpangan baku ( <
12
) maka termasuk kategori AQrendah, dan sissanya berada pada kategori AQ sedang (Budiyono, 2003:28). dengan = skor siswa,
= rerata skor satu kelas = simpangan baku.
Selanjutnya, siswa dengan AQ tinggi disebut climber , siswa dengan AQ sedang disebut camper, dan siswa dengan AQ rendah disebut quitter. Dari hasil analisis pengisian angket AQ di kelas X.5 SMA Batik 1 Surakarta diperoleh 9 siswa kategori climber, 17 siswa kategori camper dan 12 siswa kategori quitter.