• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. PERENDAHAN DIRI DALAM KEDINAAN

B. Berpusat pada Kristus

Kedinaan Suster-suster Fransiskus Dina dan Perendahan Diri Yesus dalam Filipi 2:1-11 memiliki tujuan Kristosentris yakni berpusat pada Kristus. Kristus yang menjadi figur atau teladan yang menjiwai seluruh hidup anggota Kongregasi. Dalam Filipi 2:1-11, Paulus menasehati Jemaat di Filipi supaya memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Yesus yaitu kerendahan hati dan kepentingan orang lain (Flp 2:5). Dengan kata lain, Paulus menasehati jemaat Filipi supaya rendah hati dan memperhatikan kepentingan orang lain (tidak egois), supaya mempunyai hati dan pikiran yang serupa dengan Yesus. Selain itu juga supaya tidak terjadi perpecahan di antara jemaat yang pada saat itu menghadapi banyak masalah.

Pembahasan mengenai berpusat pada Kristus dalam surat Filipi muncul terutama karena situasi aktual yang dialami oleh jemaat. Pada masa itu, di tengah-tengah masyarakat Filipi berkembang budaya cursus honorum, yaitu mengukur kehormatan seseorang melalui status sosial dan kedudukan seseorang di tengah masyarakat karena prestasi yang diperolehnya serta pengakuan dari pemerintah. Situasi ini membuat jemaat Filipi berlomba-lomba untuk menjadi lebih unggul dan menjadi orang yang lebih terhormat. Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan menganggap diri lebih hebat dibandingkan yang lain sehingga mereka menjadi egois dan hanya memperhatikan kepentingannya saja tidak mau tahu dengan sesamanya.

Berhadapan dengan situasi ini, Paulus menasihati jemaat Filipi agar tidak larut dalam kebiasaan masyarakat pada umumnya. Paulus meminta jemaat untuk

menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus. Pada intinya, Paulus mengajak jemaat untuk tidak mengutamakan prestise dan hormat pada diri sendiri, tetapi berpegang pada perendahan diri sebagaimana ditempuh oleh Yesus. Paulus mengajak jemaat untuk terus-menerus memandang Kristus, sehingga cara berpikir dan cara bertindak Kristus yang merendahkan diri-Nya menjadi teladan bagi mereka. Kristus menjadi model utama bagi jemaat dalam hidup bersama dan berelasi dengan orang lain. Upaya untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus inilah yang dimengerti sebagai upaya untuk berpusat pada Kristus dengan menjadikan Yesus sendiri sebagai teladan dan sebagai sumber inspirasi rohani.

Nasihat yang diberikan Paulus kepada jemaat di Filipi dia katakan sebagai “nasihat dalam Kristus”. Hal ini mau mengatakan bahwa sosok ataupun pribadi Kristus perlu dikenal dan diteladani oleh jemaat, sebab nasihat yang diberikan Paulus berpangkal pada Kristus dan tampil nyata di dalam persekutuan dengan-Nya. Setiap orang ditantang oleh Yesus untuk menempuh cara hidup sebagaimana Ia pilih, yakni cara hidup dalam perendahan diri. Ia yang dalam rupa Allah tidak menganggap diri-Nya setara dengan Allah, melainkan telah mengosongkan diri dan merendahkan diri. Maka nasihat untuk berpusat pada Yesus yang disampaikan oleh Paulus ini dijiwai oleh Kristus sendiri karena Dia jugalah yang telah menjadi teladan yang selalu menginspirasi Paulus.

Paulus selalu menjadikan Yesus sebagai pusat hidupnya. Keberpusatan pada Yesus itu kini dinasihatkannya bagi jemaat. Ketika Paulus memberi nasihat tentang penghiburan kasih, yang dimaksudkannya adalah penghiburan yang didorong dan

yang dikuasai oleh kasih Kristus. Demikian juga ketika dia berbicara tentang persekutuan Roh, yang ia maksud adalah persekutuan yang diciptakan oleh Roh Kudus, persekutuan di mana anggota-anggotanya hidup dari dan dipimpin oleh Roh Kristus sendiri. Belas kasih dan kasih mesra dia maknai sebagai kasih mesra dan belas kasihan yang juga berakar dalam Kristus. Begitupula halnya ketika Paulus memberi nasihat untuk merendahkan diri. Singkatnya Paulus selalu menempatkan Kristus sebagai pusat dalam nasehat-nasehatnya kepada jemaat Filipi.

Hal ini paling jelas dapat dilihat dalam ayat 5, di mana Paulus menasihatkan supaya jemaat Filipi menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Pikiran dan perasaan yang ada dalam Kristus Yesus tidak lain adalah perendaham diri dalam ketaatan kepada Bapa-Nya. Dengan maksud ini, Paulus menasihati jemaat Filipi supaya merendahkan diri dan memperhatikan kepentingan orang lain sebagimana telah diteladankan oleh Kristus Yesus. Nasihat ini persis melawan kecenderungan masyarakat yang mengejar prestise dan menyombongkan diri dengan segala status sosial dan prestasi yang diraih.

Lebih dalam lagi Paulus menghendaki supaya pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus ini menjadi norma hidup jemaat, bukan hanya untuk pribadi tetapi juga untuk hidup bersama sebagai persekutuan sehingga mereka tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Tuhan dan dengan demikian mereka juga memperhatikan sesamanya.

Di tengah situasi jemaat yang penuh dengan keegoisan dan hasrat ingin menonjolkan diri, Paulus memberikan pola hidup Yesus yang paling relevan. “Dia

yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” (Flp 2:6). Paulus sengaja menggunakan ayat ini karena pada masa itu banyak jemaat Filipi yang tergoda untuk lebih mempertahankan milik mereka sendiri dan menikmatinya sendiri tanpa mau membaginya dengan yang lain dengan harapan mereka mau berbuat yang sama seperti yang dilakukan Yesus.

Paulus menjelaskan kepada jemaat Filipi bahwa Yesus yang adalah Allah mau merendahkan diri menjadi manusia dan mengambil rupa hamba demi keselamatan manusia. Gambaran ini dijelaskan Paulus dengan maksud supaya jemaat Filipi yang memiliki status dan kedudukan terhormat di tengah masyarakat pada masa itu tidak congkak dan egois serta menggunakan status dan kedudukannya hanya untuk mencari kemuliaan pribadi tetapi mau dan rela merendahkan diri untuk melayani orang lain.

Paulus menghendaki supaya jemaat Filipi belajar dari Yesus. Sebagaimana Yesus memikirkan umat manusia yang dibuktikan dengan kerelaan-Nya melepaskan kemapanan-Nya sebagai Anak Allah yang kaya dan rela menjadi manusia mengambil rupa hamba dan menderita sampai wafat di salib demi menyelamatkan manusia, demikian juga hendaknya jemaat Filipi berpikir juga untuk kebahagiaan dan kesejahteraan sesamanya, tidak hanya memikirkan diri sendiri dan tidak mau tahu dengan sesama. Hendaknya kemapanan dan segala sesuatu yang dimiliki digunakan untuk kebahagiaan bersama. Dengan kesediaan mereka melakukan semua itu, mereka melayani sesama dengan apa yang mereka miliki.

Keberpusatan pada Yesus juga menjadi semangat dasar dalam kedinaan yang dihayati oleh para Suster Fransiskus Dina. Dalam Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina, berpusat pada Kristus dipraktekkan dengan menjadikan Yesus sebagai yang paling dicintai, serta dengan berusaha sekuat tenaga dan sepenuh hati mempersembahkan diri secara lebih utuh kepada-Nya dan mengikuti Yesus secara lebih dekat. Hal ini mau mengatakan bahwa Kristus berada pada tempat pertama dan utama dalam hidup seorang suster SFD dan tidak boleh ada sesuatu atau seseorangpun yang menggantikan Dia. Segala sesuatu harus diupayakan supaya kedekatan atau relasi ini tetap terjaga.

Kedinaan juga dihayati oleh para Suster Fransiskus Dina sebagai wujud keberpusatan pada Yesus. Dalam kedinaan, para suster pendahulu menemukan dan membuka hati terhadap Kristus yang miskin. Kemiskinan dan perendahan diri Yesus mengagumkan dan mempesona hati mereka sehingga mereka memeluk dan menghidupinya sebagai jalan persatuan dengan Kristus yang mereka cintai. Sampai masa sekarang ini, persatuan dengan Kristus dihayati pula dengan melakukan pertobatan terus-menerus sebagaimana pola hidup peniten rekolek yang menjadi warisan para pendiri.

Pola hidup peniten rekolek yang sampai sekarang masih dihayati dalam Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina mendorong para suster untuk selalu melakukan pembaharuan diri, melakukan pertobatan terus-menerus dengan semangat cinta kasih. Pola hidup peniten rekolek yang dihayati dalam Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina membantu mereka untuk hidup dalam keheningan Tuhan,

mengumpulkan segenap daya dan memusatkannya bagi kepentingan-Nya, sehingga dengan demikian Dia selalu menjadi penggerak utama dalam persaudaraan maupun pelayanan.

Sikap doa dan refleksi atas kelemahan sesering mungkin dilakukan dalam keheningan batin. Maka meskipun Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina sudah menjadi kongregasi yang aktif, namun hidup doa tetap dianggap sebagai suatu keharusan, sebab dalam doa dan keheningan mereka menemukan kehendak-Nya dan memusatkan diri kepada-Nya. Doa, pertobatan, dan keberpusatan pada Yesus membuahkan hidup religius dan pelayanan yang didasari oleh hasrat untuk merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama. Maka doa dan karya merupakan dua dimensi yang saling melengkapi dalam hidup Suster Fransiskus Dina, di mana karya untuk berdoa dan doa untuk mendukung karya.

Bentuk lain berpusat pada Yesus yang dihayati oleh Suster SFD adalah membiasakan diri mengucapkan doa batin dengan tujuan supaya hidup selalu terhubung dengan Tuhan Yesus Kristus. Doa batin yang dimaksud misalnya dengan terus mengulang-ulang nama Yesus di dalam hati seiring dengan irama nafas, atau jenis doa lain yang dirasa lebih menyentuh hati. Semua ini dimaksudkan supaya mereka senantiasa berpusat pada Kristus dan dijiwai oleh-Nya.

Sejarah kongregasi mengisahkan bahwa para suster pendahulu sungguh-sungguh berpusat pada Kristus. Hal ini dapat secara jelas dilihat dalam perjalanan menuju Dongen badai taufan menghadang, tetapi mereka tetap yakin dan berdoa bahwa Tuhan pasti menyertai dan melindungi mereka. Penyelenggaraan Ilahi nyata

dalam diri mereka pada saat itu. Hal lain dapat juga dilihat ketika memulai karya perlayanan. Mereka sama sekali tidak memiliki apa-apa sebagai modal, mereka semata-mata menggantungkan hidupnya pada Tuhan yang akan membantu mereka dan akan menyelenggarakan semuanya dan memang Tuhan bertindak, semua berjalan dengan baik. Tuhan mengutus banyak orang untuk membantu dan menolong mereka.

Dari kenyataan ini, penulis berefleksi bahwa orang yang berpusat pada Kristus adalah orang yang merendahkan diri; menempatkan diri lebih rendah daripada orang lain. Model atau teladan semangat hidup ini adalah Yesus sendiri yang selalu memusatkan diri pada Bapa-Nya, taat kepada Allah sampai mati di salib. Hidup-Nya berpusat pada Allah yang mengutus-Nya. Penghayatan kedinaan, perendahan diri dalam hidup para Suster Fransiskus Dina bersumber pada semangat hidup Yesus sendiri yang memusatkan diri-Nya pada Allah, merendahkan diri dan taat sampai mati di salib. Sumber spiritualitas kedinaan Suster Fransiskus Dina ditemukan dalam diri Yesus sendiri.

Dokumen terkait