• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. PENGHAYATAN SEMANGAT PERENDAHAN DIRI DALAM

B. Spritualitas Kedinaan

2. Kedinaan dalam Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina

Salah satu yang membedakan Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina dengan kongregasi Fransiskan yang lain adalah penghayatan akan kedinaan. Kedinaan secara langsung sudah tercantum dalam nama Kongregasi. Dengan memilih nama ini, Kongregasi SFD menyatakan diri sebagai pengikut Fransiskus Asisi secara langsung tanpa perantaraan santo santa yang lain. Nama Dina akan mempertajam penghayatan Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina dalam hal kedinaan.

Kedinaan dalam Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina dipahami sebagai kegembiraan dalam mengikuti Yesus yang miskin dan hina dina, siap diutus menyebarluaskan warta-Nya kepada semua manusia dan mengabdi mereka dengan sikap rendah hati, sederhana dan penuh sukacita (Sta; 123-124). Kedinaan berarti menyadari bahwa segalanya adalah semata anugerah dari Allah, sebab Allahlah pemilik segala hidup dan kehidupan manusia. Karena itu, setiap suster SFD berusaha bersikap sederhana, tidak memegahkan diri, tidak puas diri dan tidak meninggikan diri dan memelihara kehidupan yang berasal dari Allah (PPPK SFD:35).

Sebagaimana Fransiskus menganggap dirinya sebagai mahluk Tuhan yang tak pantas, tidak terpelajar dan menjadi bawahan semua orang, demikian juga para

suster SFD dipanggil untuk tidak berhasrat memperoleh suatu tempat khusus dalam komunitas, melainkan dituntun untuk merendahkan diri. Hanya dalam hidup hina dina, suster SFD memperjuangkan perendahan diri sepenuhnya sehingga kekuatan Yesus tinggal dalam dirinya dan dengan leluasa berkembang tanpa halangan dan hambatan.

Kesombongan, kepongahan dan egoisme menjadi tanda bahwa seseorang terpesona dan melekat pada diri sendiri, sementara orang yang merendahkan diri tidak menahan sesuatupun dari dirinya dan yakin bahwa Allah akan menganugerahkan rahmat berkelimpahan. Keyakinan ini mendorong setiap suster SFD untuk mengikuti Yesus secara lebih dekat, untuk menjadikan Dia sebagai yang paling dicintai, serta untuk berusaha sekuat tenaga dan sepenuh hati mempersembahkan diri secara lebih utuh kepada-Nya (Kons Art 12). Para suster SFD dipanggil untuk tidak mencari kepentingan diri sendiri, bersedia dengan penuh kerelaan mengutamakan kehendak Tuhan dan kebutuhan bersama (bdk. Flp 2:4).

Perendahan diri Yesus terus-menerus menjadi sumber inspirasi bagi para suster SFD. Yesus yang mulia telah memeluk orang miskin, orang tertindas, orang yang direndahkan, yang dihina dan dibuang dari masyarakat manusia. Ia juga telah menunjukkan belas kasih kepada orang sakit dan menderita. Ia meninggalkan kemuliaan keallahan-Nya, direndahkan dan dihina sebagai bagian integral hidup manusiawi-Nya di dunia. Dengan alasan ini juga, Fransiskus dengan riang gembira menerima perlakuan dipermalukan, ditolak, diremehkan, dilupakan dan bahkan direndahkan ketika dia menjalani hidup sebagai seorang pengemis yang miskin.

Para suster SFD dalam kesiapsediaannya juga turut menanggung penghinaan dan perendahan dunia sekitar, siap dipermalukan dan ditolak dengan tetap menerimanya dengan rendah hati dan sabar, bukan untuk mencari belas kasihan dari orang lain atau mencari jalan untuk bersedih melainkan untuk mengalami kegembiraan sejati dan sukacita Ilahi (PPPK SFD; 23). Kedinaan mengajak para suster SFD untuk menyadari bahwa Allah adalah pemilik atas hidup dan kehidupan. Segala sesuatu adalah semata-mata anugerah dari Allah. Segala sesuatu yang baik yang bisa dikerjakan adalah pekerjaan Allah. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk merasa bangga atas diri sendiri, entah karena pekerjaan baik yang dilakukan, atau karena pujian yang diterima (PPPK SFD; 35).

Seorang suster SFD tidak mengejar hormat, ambisi, gengsi dan jabatan dunia. Seorang SFD menghayati perkataan Fransiskus, “Saya tidak akan menganggap diri saya sebagai saudara dina bila saya tidak hidup dan menghayati kedinaan”. Seorang suster SFD yang ingin sekali menduduki jabatan dalam Kongregasi maupun karya dan tidak mau melepaskan tugas jabatannya karena hasrat untuk berada di atas yang lain membuat dirinya tidak layak disebut saudari dina, dan bukan lagi saudari yang memiliki kedinaan, melainkan orang yang melupakan panggilan dan jatuh dari mulianya panggilan itu (PPPK SFD; 35).

Menjadi saudari dina atau SFD berarti berani menjadi hamba, menaruh dirinya di bawah kaki semua orang. Ia hidup sebagai hamba yang berbahagia hidup di antara bawahannya dalam kerendahan hati seperti kalau dia berbahagia berada di antara tuan-tuannya. Ia berbahagia menjadi hamba yang menerima dengan rela bila

ditegur, taat dengan penuh hormat, mengakui kesalahan dengan rendah hati dan mengadakan pemulihan. Hamba yang setia dan bijaksana adalah orang yang setiap kali melukai orang lain, tidak menunda-nunda menghukum dirinya dalam batin melalui penyesalan, dan secara lahiriah dengan pengakuan dan pemulihan nyata (PPPK SFD; 33).

a. Percaya pada Penyelenggaraan Ilahi

Para suster pendahulu SFD tetap percaya pada penyelenggaraan Ilahi meskipun mengalami kesulitan dan penderitaan. Ketika badai taufan menghadang mereka dalam perjalanan menuju Dongen, mereka merasakan penyertaan dan perlindungan Tuhan dalam hidup mereka. Dalam kereta dengan kuda yang jelek dan kusir yang miskin, mereka tetap melanjutkan perjalanan. Tiada hari tanpa kecelakaan, gedung yang porak-poranda berkeping-keping dan pohon-pohon tumbang di tepi jalan. Berkali-kali mereka harus loncat keluar kereta dan terhalang oleh genangan air atau pohon-pohon yang melintang di sepanjang jalan. Meski demikian, niat mereka tetap teguh dan yakin bahwa Tuhan akan bertindak dan berkarya membantu mereka mewujudkan niat mereka demi kelangsungan hidup membiara, dan akhirnya mereka sampai dengan selamat.

Sesampai di Dongen, mereka menyampaikan niatnya untuk memulai sebuah karya kepada pastor Adrianus Oomen. Ketika presiden seminari bertanya kepada para suster apakah mereka mempunyai dana untuk memulai karya itu, dengan penuh kejujuran mereka mengatakan bahwa mereka sangat miskin, tidak mempunyai

apa-apa. Meski demikian, mereka yakin bahwa Tuhan akan menyelenggarakan dan membantu mereka dalam mewujudkan misi mereka. Kemiskinan tidak membawa mereka kepada keputusasaan melainkan tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa Tuhan pasti bertindak membantu dan menolong mereka.

Karya pertama Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina bermodalkan Penyelenggaran Ilahi. Penyelengaran Ilahi ini mereka alami dan rasakan lewat bantuan dari Pastor paroki dan para donatur serta kebaikan orang-orang yang turut membantu mereka baik dari tenaga, pikiran maupun materi. Iman dan pengharapan mereka pada Tuhan memampukan mereka melewati semuanya rintangan dan tantangan hidup (SPPK SFD; 58-60).

Penyelenggaraan Ilahi pada masa sekarang ini dihayati oleh Suster-suster SFD dengan memiliki daya juang dan senantiasa meyakini bahwa Tuhan membantu dan menolong sebab Dia yang melakukan karya yang baik dalam diri mereka akan senantiasa menuntun dan menyempurnakannya. Daya juang yang gigih untuk tetap bersikap sederhana, rendah hati dan bisa mengendalikan diri serta bertahan dan tetap bijaksana tidak terbawa arus globalisasi dan zaman modern yang menyeret pada godaan yang mengenakkan, serba instan, mudah dan cepat.

Para suster SFD dalam hidup dan pelayanannya, ketika mengalami tantangan dan godaan, memiliki daya juang mengalahkan sikap putus asa, patah semangat, mudah mengeluh, murung, letih lesu dan tidak bergembira dalam tugas. yang senantiasa menolong dan membantu. Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina tidak akan menyimpang dari kharisma para pendiri kongregasi.

b. Cinta Kasih sebagai Dasar Penopang Bangunan

Para pendahulu SFD mengasihi Allah dengan segenap jiwa dan dengan segala kekuatan mereka. Mereka memegang prinsip bahwa semakin mereka tidak melekat pada diri sendiri dan pada segala sesuatu yang duniawi, makin bertambahlah cinta kasih mereka kepada Allah. Kasih itu memberikan kekuatan dan keberanian kepada mereka untuk bersama-sama mewujudkan misi melanjutkan hidup membiara di Dongen.

Cinta kasih dalam Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina bersumber dari cara hidup jemaat perdana yang sehati sejiwa, berbagi kasih dengan sesama dan semua mendapat pelayanan dengan penuh kasih. Belajar dari jemaat perdana, Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina yang beraneka ragam suku, budaya dan latar belakang, hidup dalam ikatan cinta kasih satu sama lain saling mengasihi dan saling melayani.

Cinta kasih dalam persaudaraan Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina dipahami sebagai kesediaan membagi rahmat yang diterima masing-masing saudari kepada siapapun yang dijumpai dan dilayani. Mengasihi saudari sekomunitas berarti mengutamakan dan meninggikannya serta rela berbagi rahmat dengannya, murah hati dalam memberi bantuan, baik berupa perhatian, tenaga dan bantuan yang lain yang dibutuhkan oleh saudari itu (Marie Yosef: 8).

Cinta kasih dalam persaudaraan Kongregasi ditandai dengan sabar menerima kelebihan dan kekurangan sesama saudari, memaafkan dan tidak memperhitungkan kesalahan sesama saudari, tidak cemburu atas keberhasilan sesama saudari serta rela

menanggung kesukaran dan tantangan yang dijumpai dalam hidup dengan penuh kegembiraan tanpa mempersalahkan situasi maupun orang lain.

Cinta kasih terbangun melalui doa bersama, makan bersama, kapitel komunitas, rekreasi komunitas serta kegiatan lain yang dilaksanakan bersama dan berdasarkan cinta kasih. Kebersamaan dalam persaudaraan di komunitas membangkitkan rasa saling cinta antara satu dengan yang lainnya, serta mengembangkan kegembiraan jiwa. Allah berdiam dan tinggal dalam persaudaraan (SHT; 22). Demi cinta kasih kepada Allah, Suster-suster SFD saling mengasihi seperti yang difirmankan-Nya, “Inilah perintah-Ku yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12). Kasih ditunjukkan lewat perbuatan, dimana seorang suster leluasa menyatakan kebutuhannya kepada saudari yang lain agar saudari itu mencarinya dan memberikannya (AD Ordo III psl 7)

c. Pertobatan terus-menerus (Peniten Rekolek)

Pada awal berdirinya kongregasi, Suster-suster pendahulu SFD sering disebut sebagai Putri-putri Peniten Rekolek. Sebagai kongregasi Peniten Rekolek, suster-suster SFD sering juga disebut sebagai kaum pentobat. Kata peniten berasal dari bahasa Latin yang berarti pertobatan. Dalam buku gerakan awal Peniten Rekolek, pertobatan berarti membuat perubahaan diri terus-menerus sesuai dengan semangat Injil yang diwarnai oleh cinta kasih dan kabar gembira, sedangkan rekolek atau hidup dalam keheningan Allah berarti mengumpulkan segenap daya dan memusatkannya bagi kepentingan Allah. Oleh karena itu, sebagai peniten rekolek, Suster-suster

Fransiskus Dina senantiasa memelihara kehidupan rohani yang akan menyuburkan persaudaraan dan karya pelayanan (PPPK SFD; 31-32).

Spritualitas ini menjadi warisan yang khas dari para Pendahulu Kongregasi SFD dan sampai sekarang terus dihidupi para Suster SFD (PPPK SFD; 31). Pola hidup peniten rekolek yang diwariskan oleh para pendahulu ditandai dengan sikap semangat doa dan refleksi atas kelemahan dalam keheningan batin. Doa dan tapa dikombinasikan dengan pelayanan atau dalam bahasa sehari-hari pola hidup Peniten Rekolek sama dengan pola hidup semi kontemplatif (SHT; 20). Pola hidup Peniten Rekolek tetap dipelihara dalam Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina. Kendati kongregasi sudah menjadi kongregasi yang aktif namun hidup doa tetap dianggap sebagai suatu keharusan (Kons Art 24).

Doa dan karya dalam Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina bukanlah sesuatu yang berlawanan melainkan suatu kesatuan. Doa dan karya disemangati oleh Roh Tuhan yang satu dan sama. Penghayatan doa dan karya pada zaman sekarang ini saling melengkapi, dimana karya untuk berdoa dan doa untuk mendukung karya. Demikian juga halnya dalam keheningan batin, perlu adanya keseimbangan yang sehat antara waktu menyendiri dan waktu untuk bersama (Kons Art 24).

Pola hidup Peniten Rekolek pada masa sekarang ini diwujudkan dengan membiasakan diri mengucapkan doa batin di dalam hati ketika melaksanakan tugas perutusan, membiasakan diri melakukan pemeriksaan batin selama lima belas menit setiap hari, membiasakan diri hening (silentium) untuk membantu menemukan

kehendak Tuhan serta setia mengisi buku harian, berani dan siap dikoreksi dan mengoreksi persaudaraan dalam rapat komunitas (PPPK SFD; 36-37).

d. Kemurnian Hati, Kemiskinan Roh, dan Mati Raga

Hidup dalam kemurnian dipahami sebagai hidup yang seluruhnya diintegrasikan, dibaktikan, kepada Kristus dalam doa terus-menerus sambil melayani sesama, sehingga dengan demikian ikut ambil bagian dalam misi Yesus mewartakan Kerajaan Allah (Gerald & Edward, 1996, Kamus Teologi: 138). Hidup dalam kemurnian merupakan suatu pilihan pribadi setiap Suster-suster Fransiskus Dina. Kenyataan bahwa hanya Tuhan yang sanggup memuaskan hati manusia seluruhnya mendorong Suster-suster Fransiskus Dina untuk membaktikan diri dan mempersembahkan hidup seutuhnya kepada Allah dengan hati yang murni dan dengan tiada henti mencari kehendak-Nya (Konst Art 75).

Kemurnian hati membuat setiap Suster SFD senantiasa merindukan kehadiran Allah yang memberikan kedamaian dan ketenangan bagi jiwa. Kemurnian hati menghantar Suster-suster SFD pada ketulusan, ramah terhadap semua orang tanpa mencari muka, dan dengan jiwa yang bersih mereka berusaha melaksanakan kehendak Allah bukan kehendaknya sendiri (SHT; 21).

Kemiskinan Roh menjadi perhiasan bagi para pendahulu kongreasi SFD, maka keutamaan ini terus-menerus dijaga dalam diri Suster-suster SFD. Para pendahulu Kongregasi menghayati bahwa apabila para suster mengakar pada cinta akan Allah, rasa cinta diri akan segera dilemaskan. Berbangga terhadap jasa diri

sendiri tidak sesuai dengan kemiskinan Roh karena dalam kerendahan hati Suster-suster Fransiskus Dina selalu memandang diri sebagai sesuatu yang kecil dengan demikian mereka akan mengandalkan Allah (SHT; 22).

Kemiskinan Roh atau miskin di hadapan Allah dipahami sebagai sikap menyadari kelemahan, ketidakmampuan, ketakberdayaan diri dan karena itu menyerahkan diri secara total pada kuat kuasa Allah. Orang yang miskin dalam Roh dipuji Yesus karena tidak terikat dengan harta duniawi, dan Yesus memuji orang yang mengikat diri pada harta surgawi, mengikat diri pada Allah, sebab mereka tahu hanya Allah sendiri yang sanggup menolong. Dia sumber harapan, dan sumber kekuatan yang sempurna.

Orang yang miskin dalam Roh menyadari kelemahan dan keberdosaannya, mengandalkan Tuhan dan tidak merasa tersinggung apabila dia diperlakukan tidak hormat. Dalam kenyataan hidup sehari-hari sering kali banyak orang yang rajin beribadah, berpantang dan bermatiraga tetapi menjadi kesal dan jengkel karena kesalahan sesamanya. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam diri orang ini tidak ada kemiskinan Roh sebab orang yang miskin dalam Roh mengasihi dan mengampuni orang lain dengan penuh kerahiman hati.

Para suster pendahulu menjadi cerminan keutamaan bagi Suster-suster SFD dalam hal menanggung penghinaan dan penyingkiran dalam ketenangan hati dan keriangan. Keutamaan ini memampukan Suster-suster SFD untuk bersikap tulus, melayani dengan gembira, penuh humor serta bijaksana dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada (PPPK SFD; 32).

Mati raga adalah tanda pembaharuan dalam kongregasi SFD. Mati raga dalam Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina dipahami sebagai sarana penyangkalan diri yang berfungsi sebagai persiapan persatuan dengan Allah seperti Santo Paulus yang mengatakan bukan lagi aku melainkan Allah yang hidup di dalam aku. Jadi mati raga bukan hanya sekedar berpuasa makan dan minum melainkan suatu sikap yang menempatkan kehendak Allah di atas kehendak sendiri, atau dengan kata lain mengutamakan atau menomorsatukan kehendak Allah.

Para pendahulu kongregasi sangat ulung dalam menghidupi mati raga sampai hari tua mereka dan keutamaan ini jugalah yang mereka perjuangkan menuju kesempurnaan hidup. Mati raga merupakan sarana yang baik untuk bersatu dengan Tuhan Yesus Kristus dan dengan demikian Suster-suster SFD dapat mengendalikan diri dari kecenderungan-kecenderungan yang tidak teratur. Suster-suster SFD yang hidup di zaman yang penuh dengan tawaran yang menggiurkan ini menghidupi sikap mati raga, sehingga dengan bersikap lepas bebas menanggalkan segala sesuatu yang mengikat diri, Suster-suster SFD mampu bergembira dalam menjalani panggilan menuju kesempurnaan.

Sikap mati raga diwujudkan dalam bentuk berani berkata cukup dalam arti bijak dalam menggunakan sarana dan prasarana, melatih diri untuk tetap setia dan bertahan dalam menghadapi pencobaan, berpuasa setiap hari Rabu dan Jumat untuk digunakan sebagai dana sosial komunitas dan Kongregasi (Kap.2015:134)

e. Semangat Doa dan Sikap Lepas Bebas

Semangat doa menjadi yang pertama dan terutama dalam hidup para suster pendahulu Kongregasi. Dalam situasi taufan dan badai, para suster pendahulu Kongregasi menyerahkan niat baik mereka kepada Tuhan untuk tetap melanjutkan mempertahankan hidup membiara. Mereka mengalami perlindungan Tuhan dan menimba kekuatan dalam doa-doa batin yang senantiasa mereka lantunkan setiap saat. Semua kegiatan bertumpu pada doa. Mereka setia melakukan ofisi, meditasi, menerima komuni kudus setiap hari serta melakukan adorasi di depan Sakramen Mahakudus (PPPK SFD; 33).

Anggota kongregasi SFD pada masa sekarang ini pun tetap menghidupi semangat doa sebagai yang pertama dan utama, supaya dapat berbuah limpah dalam hidupnya sebagai pengikut Kristus. Kehidupan berlimpah diterima dari Allah dan manusia memperoleh keselamatan berkat karya penebusan Yesus Putra-Nya (Yoh 10:10). Kehidupan yang berlimpah dijaga dan dibagikan pula kepada sesama, sebab Allah menghendaki agar masing-masing orang menjadi saluran rahmat bagi orang lain. Sebagaimana Yesus berkorban demi kebahagiaan manusia, demikian juga para suster SFD rela berkorban menjadi perpanjangan tangan Tuhan memberi kebahagiaan sesamanya. Setiap suster SFD dipanggil-Nya untuk bertanggungjawab mengalirkan rahmat kepada orang lain melalui pelayanan yang ditugaskan kepadanya.

Suster SFD dengan tekun dan setia membina relasi intim dengan Allah dengan cara mencari waktu untuk hening agar dapat bersatu dengan-Nya, sebab

dalam doa Allah menyatakan kehendak-Nya. Dengan doa, para suster SFD hidup dalam iman, harapan dan kasih, dimana iman menggerakkan para suster SFD untuk melakukan pelayanan dan iman itu juga yang menjadi dasar bagi harapan mereka sehingga mereka dimampukan untuk mewujudkan kasih dengan menghadirkan kerajaan Allah lewat karya perutusannya masing-masing (Iman Katolik; 160).

Semangat doa pada masa sekarang ini diwujudkan dengan melaksanakan ibadat adorasi seminggu sekali di setiap komunitas, setia dan disiplin dalam mengikuti doa bersama, membiasakan diri melantunkan doa-doa batin, mengambil waktu sendiri untuk meditasi selama satu jam setiap hari serta mempunyai devosi yang khusus kepada hati kudus Yesus atau Bunda Maria atau kerahiman ilahi atau devosi lain yang dirasa menyentuh jiwa.

Sikap lepas bebas mendapat tempat yang khusus dalam hidup para suster pendahulu Kongregasi SFD. Sikap lepas bebas berarti melepaskan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Sikap lepas bebas bukan berarti merasa kehilangan, tetapi dengan melepaskan hal-hal duniawi akan diperoleh kehidupan sejati yang berasal dari-Nya. Barangsiapa menyelamatkan nyawanya akan kehilangan, tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku ia akan menyelamatkannya (Luk 9:24). Sikap lepas bebas membuat kedinaan menjadi subur dan menjadi satu-satunya teman hidup, sebab lepas bebas berasal dari cinta kasih dan merupakan karunia Roh Kudus (PPPK SFD; 34). Sikap lepas bebas membantu mereka melepaskan banyak ikatan yang merintangi mereka mencari Tuhan. Sikap lepas bebas menjadi tanda

pembaharuan yang diharapkan oleh Tuhan dalam semangat hidup religius (Marie Yosefh, 1867; 28).

Sikap lepas bebas dalam Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina diwujudkan dengan tidak melekat pada suatu tugas, taat pada mutasi (perpindahan) yang sudah diputuskan para pemimpin, tidak dibenarkan adanya rekening pribadi dan titipan uang ataupun harta dari pihak luar, berani berkata cukup serta mempergunakan sarana dan prasarana dengan bijaksana (Kap. 2011:144).

Dokumen terkait