BAB II. MAKNA PERENDAHAN DIRI YESUS DALAM FILIPI 2:1-11
B. Struktur Penulisan Filipi 2:1-11
2. Himne Kenosis (Ayat 5-11)
Dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus menasihatkan anggota-anggota jemaat Filipi supaya tidak angkuh dan hanya mencari kepentingan mereka saja, tetapi sebaliknya supaya mereka bersatu, merendahkan diri dan melayani satu sama lain
dalam kasih. Hal ini dilanjutkan di ayat 5 dengan penekanan untuk meneladani Kristus. Itulah tugas mereka. Kristus telah memilih dan mengumpulkan mereka di dalam jemaat-Nya dan Ia mau supaya mereka saling melayani. Pelayanan itu sendiri merupakan pola hidup Kristus sendiri. Untuk menjelaskan hal ini, Paulus memakai suatu himne yang sangat dalam maknanya tentang Kristus (Flp 2:6-11). Kristus menjadi model utama bagi setiap orang Kristen dalam hidup bersama dan berelasi dengan orang lain (Nelson, 2004: 102).
Paulus menggunakan potret Yesus yang berkenosis (merendahkan diri) sekaligus untuk melawan nilai-nilai budaya yang dominan dalam masyarakat Roma (khususnya Filipi) yang menekankan kehormatan dan kemuliaan seseorang berdasarkan kedudukan yang semakin meningkat lewat status sosial dan jabatan yang dimiliki (cursus honorum) (Hellerman, 2005: 1-2). Gambaran Yesus yang melepaskan status-Nya dengan turun dari kesetaraan dengan Allah kepada status seorang budak yang mati di kayu salib dipakai oleh Paulus untuk mendorong jemaat Filipi yang memiliki kedudukan yang terhormat dalam masyarakat untuk melayani yang lain. Gagasan ini sekaligus menjadi ajakan untuk menolak godaan untuk mengakomodasi nilai-nilai budaya Romawi tersebut. Gambaran Yesus yang menjalani cursus pudorum dipakai untuk menguatkan jemaat Filipi untuk mengejar hormat dan kemuliaan bukan berdasarkan status atau jabatan yang melekat pada diri mereka, melainkan melalui pelayanan kepada sesama. Penjelasan itu ia dahului dengan perkataan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (ayat 5).
Ayat ini merupakan penghubung antara bagian ayat 1-4 dan 6-11, ayat transisi dari nasihat moral kepada ilustrasi (Ralph & Gerald, 2004: 107). Tampaknya ayat ini lebih tepat bila dikaitkan dengan bagian ayat 1-4 karena ayat 6-11 tentang himne Kristus merupakan contoh untuk diteladani. Melalui ayat ini, Paulus menunjuk pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus (yakni rendah hati dan memperhatikan kepentingan orang lain), yang juga sebelumnya sudah dia paparkan. Jemaat Filipi diminta untuk memiliki pikiran seperti yang dimiliki oleh Yesus ketika menjalani hidup di dunia bersama yang lain.
Di bagian selanjutnya (ayat 6), Paulus memaparkan contoh atau teladan Kristus yang tidak hanya memperhatikan kepentingan diri, tetapi merendahkan diri untuk kepentingan sesama. Di ayat 5, Paulus hanya meminta kepada mereka supaya pikiran dan perasaan seperti itu harus mereka miliki. Hal ini harus menjadi norma hidup mereka, bukan saja hidup mereka sebagai pribadi, tetapi terutama hidup mereka sebagai persekutuan. Paulus menghendaki supaya mereka tidak hidup untuk diri sendiri, melainkan untuk Tuhan dan karena itu juga untuk sesama mereka, sesuai dengan pola hidup Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan (ayat 6). Rupa yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah “apa yang dapat ditangkap oleh indra” (Ralph & Gerald, 2004: 110). Dengan ini, Paulus tidak segera menyamakan Kristus dengan Allah melainkan seakan rupa Allah menjadi sebuah tempat di mana Kristus berada. Nasihat ini tepat bagi jemaat yang berada di ambang perpecahan karena sikap egosentrisme dari sebagian anggotanya, yang lebih mempertahankan milik mereka
sendiri dan menikmatinya sendiri tanpa mau membaginya dengan yang lain. Keberadaan dalam rupa Allah itu tidak dipertahankan demi keuntungan dri sendiri. Demikianlah Kristus telah memanggil dan mengumpulkan mereka dalam jemaat-Nya dan mereka terima sebagai Tuhan mereka. Ia dari kekal sampai kekal sehakikat dengan Allah dan karena itu juga sekemuliaan dengan Dia (Abineno, 1989: 53).
Ada dalam rupa Allah berarti berada dalam pernyataan diri (kemuliaan) Allah, berada dalam pengetahuan Allah. Hal ini berarti bahwa Kristus bukan saja sama dengan Allah, tetapi Ia adalah Allah, sehakikat dengan Dia. Meski demikian, Kristus “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan”. Dengan ini, Paulus hendak mengatakan bahwa sekalipun Kristus sehakikat dengan Allah dan karena itu berada dalam kebesaran dan kemuliaan-Nya, Ia tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu (milik) yang harus dipertahankan. Demi kepentingan yang lain, apa yang menjadi milik-Nya tidak dipertahankan-Nya, melainkan dilepaskan. Hal ini bisa terjadi karena dalam perjumpaan dengan orang lain, jemaat dipanggil untuk menganggap yang lain lebih penting dan utama dibandingkan diri sendiri. Dengan kata lain, Kristus tidak memakai kebesaran dan kemuliaan-Nya itu untuk kepentingan-Nya sendiri. Ia tidak sama dengan anggota-anggota jemaat yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan mencari puji-pujian yang sia-sia. Memang Ia dapat dan lebih banyak mempunyai alasan untuk berbuat demikian. Ia sama dengan Allah, berkuasa, dan mulia. Ia berhak untuk mempertahankan semuanya itu. Kristus malah berbuat sebaliknya, “telah
mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (ayat 7).
Kristus mengosongkan diri-Nya sendiri. Istilah mengosongkan yang dimaksud ialah “memindahkan dari suatu tempat ke tempat lain atau mencurahkannya ke tempat lain sehingga tidak tersisa” (Ralph & Gerald, 2004: 117). Apa yang dikosongkan Yesus ialah kemuliaan, kekuasaan, hak istimewa keilahian-Nya, atribut keilahian-Nya seperti mahatahu, mahakuasa, dll. Makna Perendahan diri ini juga dapat tampak sebagai cursus pudorum, Yesus turun dari kesetaraan dengan Allah (status level pertama) dengan menjadi manusia dan berstatus budak (status level kedua) dan untuk sampai pada status yang paling hina dan rendah, Ia mengalami kematian di kayu salib (status level ketiga) (Hellerman, 2005: 130). Perbuatan itu bukanlah sesuatu yang tidak dapat Ia elakkan, bukan nasib yang datang menimpa-Nya dari luar, bukan juga kehendak Bapa-Nya yang dipaksakan kepada-Nya. Ia sendiri merendahkankan diri-kepada-Nya. Dalam kebebasan penuh, Ia meninggalkan rupa ilahi-Nya (bdk. Yoh. 17:5). Hal ini tidak berarti bahwa Ia dengan jalan itu bukan Allah lagi, bahwa Ia dengan jalan itu kehilangan kebesaran dan kemuliaan-Nya sebagai Allah. Ia tetap Allah, tetapi tidak menyatakannya keluar. Ia menahan-Nya, sehingga manusia tidak dapat melihatnya. Ia adalah Allah, tetapi Allah
incognito (Abineno, 1989: 55).
‘Mengambil rupa hamba’ merupakan ungkapan lain dari “perendahan diri”. Baik perendahan diri dan pengambilan rupa hamba serempak terjadi. Dalam merendahkan diri, Yesus tidak dipaksa, melainkan karena kemauan-Nya sendiri. Dia
yang adalah Raja merendahkan diri-Nya menjadi hamba. Ia menjadi sama dengan manusia (Abineno, 1989: 55). Artinya, dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa, Ia sama dengan manusia-manusia lain (bdk. Ibr. 2:17; 4:15). Ia tidak berbeda dengan mereka. Ia begitu dalam merendahkan diri-Nya, sehingga orang tidak mengenal-Nya.
Pada ayat 8, Paulus melanjutkan uraian nasihatnya dengan mengatakan, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”. Dalam hal ini, Paulus menunjukkan jalan Yesus yang ‘makin menurun’. Di ayat 7 Yesus dinyatakan merendahkan diri dan menjadi sama dengan manusia, lahir sebagai seorang bayi manusia (Mat. 1:25; Luk. 2:7) dari seorang wanita (Gal. 4:4), takluk di bawah hukum Allah (Luk. 2:21), papa (2 Kor. 8:9), tidak mempunyai apa-apa (Mat. 8:20; Luk. 9:58), bekerja dan menderita sama seperti orang-orang lain. Ayat 8 menggambarkan bahwa Ia berbuat lebih daripada ayat 7. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia melangkah lebih jauh dan lebih dalam lagi. Yesus hidup dan bekerja di dunia dan menganggap yang lain sebagai sesama.
Yesus tidak meninggikan diri di atas manusia lain sebagaimana yang diingini oleh anggota jemaat Filipi, yakni menggapai tingkat kehormatan, hak, dan kepentingan sendiri. Sebaliknya, Yesus bergerak turun merendahkan diri-Nya, bukan direndahkan. Ia tidak diminta sama seperti anggota jemaat (Flp 2:3), apalagi dipaksa berbuat demikian. Ia merendahkan diri oleh kemauan-Nya sendiri (bdk. Yoh. 10:17-18; 18:4-8). Dalam rupa sebagai manusia itu, Ia merendahkan diri dan menjadi taat dan ketaatan-Nya itu membawa konsekuensi kematian.
Paulus tidak menyatakan kepada siapa Kristus taat, bukan karena hal itu tidak penting baginya, tetapi yang ia inginkan ialah supaya anggota-anggota jemaat Filipi mengetahui bahwa Kristus taat dan bahwa Ia taat sampai mati. Yang dimaksudkan di sini bukan hanya ketaatan pada waktu kematian-Nya saja, tetapi ketaatan-Nya selama hidup-Nya di dunia. Inilah yang menunjukkan tingkat perendahan diri dan ketaatan Yesus. Berhadapan dengan kematian, Ia tidak mundur tetapi tetap taat. Di balik istilah ‘taat sampai mati’ ditampakkan segala sesuatu yang telah terjadi di taman Getsemani dan di bukit Golgota, tetapi hal itu belum semuanya, belum pada tingkat yang paling rendah. Tingkat yang paling rendah ialah Ia taat sampai mati di kayu salib (Abineno, 1989: 57). Kematian Yesus menurut keterangan Perjanjian Baru dialami demi orang lain dan sebagai silih bagi orang lain (Ralph & Gerald, 2004: 122). Dalam hal ini, Paulus yakin bahwa jemaat di Filipi ketika membaca suratnya segera mengerti bahwa karya atau tindakan Yesus dilakukan demi kepentingan mereka (Ralph & Gerald, 2004: 122). Sementara itu, dalam budaya Romawi, salib merupakan bentuk kehinaan yang paling rendah yang dikenakan untuk menghukum dan mematahkan semangat pemberontakan dari kelas yang paling rendah (Hellerman, 2005: 147). Dengan mati di salib, Yesus menunjukkan kerelaan-Nya untuk berada di titik paling rendah dalam hidup seorang manusia, merendahkan diri-Nya untuk menggantikan orang lain yang semestinya menerima hukuman itu. Kematian di kayu salib dianggap sebagai kejijikan oleh orang Yahudi, bukan hanya karena sakit dan malunya, tetapi juga karena siapa pun yang tergantung di kayu salib dipandang telah dikutuk oleh Allah (Hellerman, 2005: 123).
Sesudah perendahan diri dalam ketaatan Yesus yang mencapai tingkat yang serendah-rendahnya, menyusullah tanggapan Allah ke jurusan yang bertentangan: Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama (ayat 9). Paulus menggunakan ayat ini sebenarnya untuk menghibur dan menguatkan jemaat Filipi. Meskipun telah menyebutnya dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus hendak menggarisbawahi lagi apa yang telah ia sampaikan dalam ayat-ayat sebelumnya. Karena Yesus telah mengerjakan semuanya itu, maka Allah sangat meninggikan Dia.
Dengan kata lain, dalam ayat ini terjadi perubahan yang drastis. Jika sebelumnya Yesus yang secara aktif melakukan berbagai hal, maka mulai ayat 9, Allahlah yang bertindak. Untuk kerendahan hati dan ketaatan yang telah Yesus lakukan, Allah meninggikan Dia dan memberikan kepada-Nya nama yang mengatasi segala nama. Dengan kata lain, peninggian dan kemuliaan Yesus terjadi bukan karena usaha-Nya sendiri, melainkan karena Allah yang menganugerahkannya. Tokoh Allah yang saat Yesus bertindak menjadi tokoh yang diam dan tersembunyi kini muncul untuk bertindak. Allah berkenan kepada apa yang telah diperbuat oleh Yesus. Peninggian-Nya itu nyata dan dimulai dengan kebangkitan-Nya dari antara orang-orang mati. Pemuliaan itu tidak terbatas pada kejadian itu saja, melainkan melingkupi juga kekuasaan dan kemuliaan yang Tuhan Allah berikan kepada-Nya, yaitu kekuasaan dan kemuliaan di atas segala pemerintah dan penguasa dan malaikat (Ef 1:21). Ia menjadi kepala dari segala sesuatu, baik yang ada di surga, maupun yang ada di bumi (Ef 1:10).
Tuhan Allah bukan saja meninggikan Yesus. Ia juga mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. Kedua kata ini sebenarnya bermakna sama (hanya berbeda dalam cara pengungkapkan). Yang satu merupakan penjelasan dari yang lain. Mengaruniakan berarti memberikan karena kasih, sebagai tanda atau bukti dari kerelaan hati Allah, yang mengaruniakan nama di atas segala nama. Yang dimaksudkan ialah bahwa satu-satunya nama, yang menurut ayat 11 ialah nama Kyrios yang berarti Tuhan, yang paling tinggi, paling mulia, dan paling agung. Suatu nama yang lebih tinggi daripada segala makhluk (ayat 10) (Abineno, 1989:58). Dalam hal ini, sistem nilai yang Allah miliki berbeda dengan yang berkembang di tengah masyarakat Romawi. Justru karena perendahan diri Yesus, Allah menganugerahi-Nya kehormatan dan kemuliaan, yaitu nama yang mengatasi segala nama.
Nama dalam dunia Alkitab bukan sekadar sebuah emblem yang membedakan seseorang dari orang lain, tetapi juga berarti pengungkapan batiniah seseorang. Oleh karena itu, ketika Allah memberikan kepada Yesus “nama di atas segala nama”. Allah tidak sekadar memberi Yesus identitas yang membedakan-Nya dari makhluk-makhluk lainnya, tetapi juga Ia melimpahkan kepada Yesus sebuah ‘karakter’ yang serupa dengan nama itu (Ralph & Gerald, 2004: 126) dan ayat 11 menyebutkan bahwa nama yang diberikan adalah Kyrios (Tuhan). Itu berarti nama Yesus Kristus diberi karakter Tuhan. Peninggian diri Yesus tidak serta merta menjadikan Yesus sama dengan Allah. Yesus memang ditinggikan untuk menjadi Tuhan atas seluruh ciptaan.
“Allah meninggikan Yesus dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” (ayat 10). Inilah yang menjadi maksud Allah, yakni meninggikan Dia yang telah merendahkan diri-Nya dan telah taat sampai mati di kayu salib, supaya dalam nama-Nya semua makhluk bertekuk lutut. Peninggian dan pemberian nama di atas segala nama itu pada gilirannya akan membuat seluruh makhluk yang ada di alam semesta (di langit, di bumi, dan di bawah bumi) bertekuk lutut di hadapan Yesus.
Bertekuk lutut merupakan suatu ungkapan penghormatan tertinggi dan luhur, khususnya kepada Allah (bdk. Rom 11:4; Ef 3:14). Bertekut lutut dalam nama Yesus berarti menaklukkan diri dan taat kepada-Nya, sujud menyembah-Nya, mengakui dan menghormati-Nya sebagai Tuhan yang empunya kuasa dan kemuliaan. Hal itu dilakukan “segala bangsa yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi”, sebagai ungkapan yang berarti alam semesta, semua yang diciptakan Allah, langit dan bumi dan segala isinya. Orang menggambarkan dunia pada waktu itu (bdk. Kel. 20:4) sebagai tiga bagian: semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, dan semua yang ada di bawah bumi. Karenanya, ketika Allah memberikan kepada Yesus nama di atas segala nama, di hadapan nama itulah seluruh makhluk menyembah dan menunjukkan penghormatan mereka.
Penggambaran Yesus yang diberi oleh Allah kehormatan lewat peninggian status dan nama di atas segala nama itu mempunyai implikasi yang kuat bagi jemaat di Filipi, yaitu Allah sendiri yang akan menganugerahi kehormatan bagi mereka yang
meneladani Kristus, memakai status atau kedudukan-Nya untuk kepentingan yang lain (Hellerman, 2005: 154). Sementara itu, dalam ayat 11, penghormatan (pengagungan) Yesus dijelaskan demikian: “dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa”!
Sekali lagi Paulus hendak memberi penjelasan bahwa segala makhluk bukan saja bertekuk lutut di hadapan-Nya. Mereka, segala lidah dari segala makhluk, juga mengakui-Nya sebagai Tuhan. Mereka bukan saja mengakui dengan keras secara terang-terangan sehingga didengar orang, tetapi juga mengakui dengan gembira, dengan puji-pujian dan ucapan syukur. Tuhan (Kyrios) adalah “nama di atas segala nama” yang dikaruniakan kepada Yesus. Dia Raja dan Pemerintah yang diangkat oleh Allah untuk memegang kekuasaan atas segala sesuatu (bdk. Kis. 2:36; Yes. 55:4). Nama ini diberikan kepada Yesus. Pada-Nya digenapi apa yang Allah janjikan dengan bersumpah. Peninggian Yesus bukanlah peninggian seorang pahlawan. Dalam peninggian-Nya nyata bahwa Ia adalah Allah. Pemerintahan-Nya tidak lain daripada pemerintahan Allah. Dalam Dia genaplah nama yang dipakai Allah untuk menamakan diri-Nya (bdk. Kel. 3:14 dalam hubungannya dengan Kej. 32:29). Oleh karena itu, segala makhluk harus bertekuk lutut dan menyembah Dia “bagi kemuliaan Allah, yaitu Bapa”. Oleh sikap bertekuk lutut dan penyembahan ini, Bapa menerima kemuliaan dan peninggian Yesus. Kata-kata “bagi kemuliaan Allah, yaitu Bapa” dipahami bahwa lewat penghormatan dan pengagungan Yesus, “terpancarlah” kemuliaan bagi Allah Bapa, yang telah mengutus, menyerahkan dan meninggikan Anak-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. (Abineno, 1989: 60). Pengakuan Yesus
Kristus adalah Tuhan ternyata bukan untuk mendatangkan kemuliaan bagi Yesus sendiri, tetapi untuk memuliakan Allah Bapa. Jadi, sekalipun Yesus memakai nama “Tuhan”, nama Allah sendiri, Yesus tetap tidak menggantikan tempat Allah atau menjadi rival Allah (Ralph & Gerald, 2004: 130). Allahlah yang meninggikan Yesus, Allahlah yang mangaruniai Yesus nama di atas segala nema, Allahlah yang menghendaki supaya segala makhluk menyembah Yesus, karenanya hanya Allah Bapa yang memiliki kekuasaan dan kedaulatan mutlak (Ralph & Gerald, 2004,130). Karenanya, bagi Allahlah segala kemuliaan dan pujian patut diberikan.