• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. PERENDAHAN DIRI DALAM KEDINAAN

A. Ketaatan kepada Allah

Perendahan diri Yesus dalam Filipi 2:1-11 dipahami sebagai kesiapsediaan dan kerelaan Yesus melepaskan atau meninggalkan status, kedudukan-Nya sebagai

Putera Allah, dan menjadi setara dengan manusia berdosa, demi keselamatan manusia itu sendiri. Paulus menasehati jemaat Filipi supaya meneladan Yesus yang tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri, mengambil rupa manusia dan menjadi hamba. Paulus meminta jemaat Filipi supaya meneladani Yesus yang memilih untuk melepaskan kedudukannya, menurunkan statusnya demi ketaatannya kepada Bapa.

Perendahan diri Yesus mengalir dari ketaatan-Nya kepada Allah. Paulus mengakhiri rangkaian perendahan diri Yesus dengan kata-kata “Ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8). Bagi Paulus, mengosongkan diri, mengambil rupa hamba, menjadi manusia dipilih oleh Yesus dalam ketaatan kepada Allah. Ketaatan Yesus tersebut berpuncak pada kematian di salib. Ketaatan Yesus kepada Allah ditunjukkan melalui tindakan perendahan diri-Nya di mana Ia rela mengesampingkan kemuliaan dan kehormatan-Nya sebagai Allah dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Ia tidak hanya menjadi manusia, tetapi juga mengambil rupa hamba. Artinya, Yesus menjadikan diri-Nya di bawah manusia-manusia yang lain. Sebagai Allah tentunya Ia Mahakuasa dan bisa melakukan apa saja, namun Ia memilih untuk merendahkan diri-Nya bahkan sampai mengalami kematian paling hina yakni kematian di kayu salib.

Yesus yang serupa dengan Allah merendahkan diri dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia telah menjadikan diri-Nya sebagai hamba dan taat sampai mati di salib. Ketaatan-Nya kepada Allah dihayati di sepanjang hidup-Nya, tidak dengan mengagungkan diri dan menuntut hormat dari

orang lain, tetapi dengan merendahkan diri sampai mati di salib. Yesus taat sampai mati, sampai mati di kayu salib padahal orang yang tergantung di kayu salib dipandang telah dikutuk oleh Allah (Ul 21:22-23) dan kematian di kayu salib dianggap sebagai kejijikan oleh orang Yahudi pada masa itu. Dengan mati di kayu salib, Yesus menunjukkan kerelaan-Nya untuk berada di titik paling rendah dalam hidup seorang manusia. Ketika Ia berhadapan dengan kematian di salib dan beresiko kehilangan segala kehormatan-Nya sebagai manusia yang bermartabat, Yesus tidak mundur tetapi tetap taat. Bukan prestise dan hormat yang dicari, tetapi ketaatan kepada Allah yang mengutus-Nya.

Ketaatan Kristus sampai mati di kayu salib adalah ketaatan yang dilakukan secara sempurna yang menunjukkan totalitas-Nya sebagai manusia sejati dan melalui kematian-Nya Ia menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa dan kasih-Nya kepada manusia. Ketaatan memampukan Dia untuk melepaskan statusnya sebagai Allah dan mau merendahkan diri mengambil rupa hamba dan bahkan sampai mati di kayu salib. Ketaatan juga membuat Yesus berfokus hanya pada kehendak Bapa. Ketaatan itu jugalah yang menghantar Yesus pada kesetiaan-Nya sampai akhir hayat. Maka perendahan diri dalam ketaatan Yesus mencapai tingkat yang serendah-rendahnya, namun demikian semua ini tidak sia-sia karena ketaatan Yesus ini membawa keselamatan bagi dunia.

Paulus menasehati jemaat Filipi untuk meneladan Yesus taat dan merendahkan diri sampai serendah-rendahnya karena mereka egois, memperhatikan kepentingannya saja dan hanya mengejar kemuliaan dan kehormatan pribadi. Paulus

menjelaskan kepada jemaat Filipi bahwa Yesus yang adalah Allah saja mau merendahkan diri menjadi manusia dan mengambil rupa hamba demi keselamatan manusia. Perendahan diri Yesus memberi teladan kerendahan hati, kenyataan ini dipakai Paulus untuk menasehati jemaat di Filipi bahwa kerendahan hati adalah kekuatan dalam persekutuan jemaat. Paulus mengatakan ini mengingat situasi jemaat yang pada saat itu di ambang perpecahan. Paulus menjelaskan bahwa kerendahan hati dapat diwujudkan dengan memperhitungkan kepentingan dan kebutuhan orang lain lebih dari kebutuhan pribadi dan apabila mereka sungguh melakukan itu maka perpecahan akan berakhir.

Ketaatan dalam Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina merupakan salah satu kaidah religius yang diucapkan setiap suster sebagai salah satu kaul religius. Ketaatan itu ditujukan kepada pemimpin Kongregasi, tetapi lebih dari itu ketaatan total setiap suster ditujukan kepada Allah melalui ketaatan kepada Kongregasi. Ketaatan dihayati dengan siap sedia mempunyai telinga yang terbuka untuk suara Tuhan yang didengar dengan berbagai cara yaitu dalam Injil, dalam suara hati sendiri, lewat peristiwa-peristiwa hidup dan lewat persekutuan para saudari, serta dalam keputusan dan arahan pimpinan.

Ketaatan yang dihidupi oleh Suster-suster Fransiskus Dina mewajibkan para suster untuk selalu mencari kehendak Tuhan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Yesus menjadi teladan dalam ketaatan bagi Suster-suster Fransiskus Dina, terutama dalam menyerahkan seluruh kehendak dan kebebasan-Nya kepada kehendak Bapa. Pembaktian diri Yesus kepada Allah Bapa dihayati-Nya

demi kebaikan banyak orang. Hal yang sama diperjuangkan dan dihayati oleh Suster-suster Fransiskus Dina. Ketaatan menghantar setiap anggota untuk membaktikan hidupnya sepenuhnya bagi Tuhan dengan melayani sesama, lewat tugas perutusan masing-masing.

Ketaatan diungkapkan dengan berani menjadi hamba yang dina. Dalam menjadikan diri sebagai hamba bagi Allah dan bagi sesama, setiap suster tetap berbahagia, menaruh diri di bawah kaki semua orang, menerima dengan rela bila ditegur, taat dengan penuh hormat, mengakui kesalahan dengan rendah hati dan mengadakan pertobatan, bersikap sabar ketika menanggung penghinaan dan penolakan dunia. Ketika ditolak, dipermalukan, direndahkan, dilupakan dan diremehkan demi ketaatan kepada Allah, setiap suster tetap bersikap riang gembira, tidak bersedih karena mengalami kegembiraan sejati dan sukacita Ilahi. Ketaatan mendorong setiap suster untuk merendahkan diri dan melayani sesama. Dengan ketaatan kepada Allah ini, mereka menjadi serupa dengan Yesus yang taat. Teladan yang diberikan Yesus memampukan para suster untuk berani melawan arus, menjadikan kehendak Allah sebagai satu-satunya yang diperjuangkan dalam keselarasan dengan pilihan pemimpin Kongregasi yang menjadi partner dalam mengenali kehendak Allah tersebut.

Dokumen terkait