• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN…

3.12 BIAYA PENELITIAN

Biaya penelitian ditanggung oleh peneliti sendiri.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di RSUP. H. Adam Malik Medan pada bulan Januari 2014 sampai dengan bulan Mei 2014. Subjek penelitian pada penelitian ini adalah pasien Glaukoma sudut terbuka primer yang datang RSUP.H.Adam Malik Medan dengan jumlah total 34 subjek penelitian yang dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok I adalah kelompok subjek penelitian dengan pemberian obat acetazolamide 250mg danTimolol maleat sebanyak 17 pasien, dan kelompok II adalah kelompok subjek penelitian dengan pemberian obat acetazolamide dan Latanoprost sebanyak 17 pasien.

4.1 Data Umum Subjek Penelitian 4.1.1 Jenis Kelamin

Tabel 4.1.1.1 Distribusi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin Jenis

kelamin

N %

Pria Wanita

14 20

41,2 58,8

Total 34 100.0

Dari tabel 4.1.1.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin terbanyak dijumpai pada wanita dengan jumlah 20 subjek penelitian (58,8 %), dan pada pria dengan jumlah 14 subjek penelitian (41,2%).

4.1.2 Umur

Tabel 4.1.2.1 Distribusi subjek penelitian berdasarkan kelompok umur Umur

Dari tabel 4.1.2.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan kelompok umur terbanyak dijumpai pada kelompok usia antara 50-59 tahun dengan jumlah 13 subjek penelitian (38,2%)

4.1.3 Pekerjaan

Tabel 4.1.3.1 Distribusi subjek penelitian berdasarkan pekerjaan

Pekerjaan N %

Dari tabel 4.1.3.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan Pekerjaan, terbanyak dijumpai pada kelompok PNS dengan jumlah 15 subjek penelitian (44,1%)

4.1.4 Suku

Tabel 4.1.4.1 Distribusi subjek penelitian berdasarkan Suku

Suku N %

Batak Jawa Melayu

Aceh Nias Minang

17 3 5 5 1 3

50,1 8,8 14,7 14,7 2,9 8,8

Total 34 100.0

Dari tabel 4.1.4.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan suku, terbanyak dijumpai pada Kelompok suku Batak dengan jumlah 17 subjek penelitian (50,1%)

4.1.5 Ketajaman Penglihatan (Visus)

Tabel 4.1.5.1 Distribusi subjek penelitian berdasarkan ketajaman penglihatan (Visus)

Dari tabel 4.1.5.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan ketajaman Penglihatan (Visus), terbanyak dijumpai pada mata kiri dengan visus 5/5-5/16 dengan jumlah 14 mata (41,2%).

4.1.6 Cup Disc Ratio (CDR)

Tabel 4.1.6.1 Distribusi subjek penelitian berdasarkan CDR

C D R

Dari tabel 4.1.6.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan CDR, terbanyak dijumpai pada mata kanan dengan CDR 0,7-0,8 dengan jumlah 15 mata (44,1%), dan pada mata kiri dengan CDR 0,5-0,6 dengan jumlah 16 mata (47,0)

4.1.7 Lateralisasi

Tabel 4.1.7.1 Distribusi subjek penelitian berdasarkan lateralisasi

Lateralisasi N %

Dari tabel 4.1.7.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan lateralisasi, terbanyak dijumpai pada bilateral dengan jumlah 21 subjek penelitian (61,8%).

4.1.8 Tekanan Intra Okuli (TIO)

4.1.8.1 Tabel distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg danTimolol maleat) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada H-0

TIO

Dari tabel 4.1.8.1 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat) berdasarkan TIO pada H-0, unilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 2 (5,9%),yaitu TIO antara 22-25 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 2 (5,9%), yaitu TIO antara 22-25 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 7 (20,6%), yaitu TIO antara 22-25 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 8 (23,5%), yaitu TIO antara 22-25 mmHg.

Tabel 4.1.8.2. Tabel distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg danTimolol maleat) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Minggu II

Dari tabel 4.1.8.2 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Minggu II, unilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 2 (5,9%),yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 3 (8,8%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 8 (23,5%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 11 (32,4%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg.

Tabel 4.1.8.3. Tabel distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg danTimolol maleat) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Bulan I

Dari tabel 4.1.8.3 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Bulan I, unilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 3 (8,8%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 2 (5,9%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 10 (29,4%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 8 (23,5%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg.

Tabel 4.1.8.4. Tabel distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg danTimolol maleat) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Bulan II

Dari tabel 4.1.8.4 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Bulan II, unilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 2 (5,9%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 3 (8,8%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 11 (32,4%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, pada mata kiri dengan jumlah 12 (35,3%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg.

Tabel 4.1.8.5. Tabel distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg danTimolol maleat) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Bulan III

Dari tabel 4.1.8.5 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Bulan II, unilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 3 (8,8%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 3 (8,8%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 10 (29,4%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 12 (35,3%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg.

Tabel 4.1.8.6. Tabel distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada H-0

TIO

Dari tabel 4.1.8.6 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada H-0, unilateral terbanyak pada mata kiri dengan jumlah 5 (14,7%), yaitu TIO antara 22-25 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 6 (17,6%), yaitu TIO antara 26-29 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 11 (32,4%), yaitu TIO antara 22-25 mmHg.

Tabel 4.1.8.7. Tabel distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Minggu II

Dari tabel 4.1.8.7 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Minggu II, unilateral terbanyak pada mata kiri dengan jumlah 4 (11,8%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 7 (20,6%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg,dan pada mata kiri dengan jumlah 11 (32,4%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg.

Tabel 4.1.8.8. Tabel distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Bulan I

TIO

Dari tabel 4.1.8.8 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Bulan I, unilateral terbanyak pada mata kiri dengan jumlah 4 (11,8%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 7 (20,6%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg,dan pada mata kiri dengan jumlah 10 (29,4%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg.

Tabel 4.1.8.9. Tabel distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Bulan II

Dari tabel 4.1.8.9 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Bulan II, unilateral terbanyak pada mata kiri dengan jumlah 5 (14,7%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 9 (26,5%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg,dan pada mata kiri dengan jumlah 12 (35,3%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg.

Tabel 4.1.8.10. Tabel distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Bulan III

Dari tabel 4.1.8.10 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan Tekanan Intra Okuli (TIO) pada Bulan III, unilateral terbanyak pada mata kiri dengan jumlah 6 (17,6%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 10 (29,4%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg,dan pada mata kiri dengan jumlah 15 (44,1%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg.

4.2. Perbandingan pemberian obat antara obat kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat) dengan obat Kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost)

Tabel 4.2. 1. Mata Kanan (OD)

Obat Kelompok I Obat Kelompok II

Waktu N X ± SD N X ± SD

Pada tabel 4.2.1 berdasarkan uji Anova (p=0,009)*, pemberian obat pada obat kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat), hasilnya signifikan pada mata kanan. Dan pemberian obat pada Kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan uji Anova (p=0,0001)*, hasilnya signifikan pada mata kanan.

Tabel 4.2.2 Mata Kiri (OS)

Obat Kelompok I Obat Kelompok II

Waktu N X ± SD N X ± SD

Pada tabel 4.2.2 berdasarkan uji Anova (p=0,003)*, pemberian obat pada obat kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat), hasilnya signifikan pada mata kiri. Dan pemberian obat pada Kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan uji Anova (p=0,0001)*, hasilnya signifikan pada mata kiri.

4.3 Perbandingan penurunan TIO antara pemberian acetazolamide dan timolol maleat dengan pemberian acetazolamide dan latanoprost

Tabel 4.3.1

Pada tabel 4.3.1 berdasarkan uji Anova (p=0,011)* dan (p=0,003)*, perbandingan penurunan TIO antara pemberian acetazolamide dan timolol maleat dengan pemberian acetazolamide dan latanoprost, hasilnya signifikan terutama pada bulan III.

4.4. Persentase penurunan TIO pada pemberian acetazolamide dan timolol maleat serta penurunan TIO pada pemberian acetazolamide dan latanoprost.

Pada tabel 4.4.1 didapati persentase penurunan TIO pada pemberian acetazolamide dan timolol maleat antara 24.23% (H-0 – MII) sampai dengan 34.79% (H-0 – B III).

Pada tabel 4.4.2 didapati persentase penurunan TIO pada pemberian acetazolamide dan Latanoprost antara 35.68% (H-0 – MII) sampai dengan 48.54% (H-0 – B III).

BAB V DISKUSI

Dari tabel 4.1.1.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin terbanyak dijumpai pada wanita dengan jumlah 20 subjek penelitian (58,8 %), dan pada pria dengan jumlah 14 subjek penelitian (41,2%). Hal ini sesuai dengan literatur dari Canadian Glaucoma Study mendapatkan bahwa perempuan lebih beresiko mengalami memburuknya lapang pandang dengan hazard ratio sebesar 1,94. Peneliti studi ini menyatakan penyebab belum diketahui dengan pasti, mungkin terkait dengan genetik maupun lingkungan. Mungkin juga terkait dengan hormon estrogen, karena terdapat penelitian bahwa menopause dini berhubungan dengan kejadian glaukoma.(Canadian, et al., 2008 in Ismandari, F., 2010.)

Dari tabel 4.1.2.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan kelompok umur terbanyak dijumpai pada kelompok usia antara 50-59 tahun dengan jumlah 13 subjek penelitian (38,2%). Hal ini sesuai dengan Weingeist, TA., et al., 2001.) dimana angka kejadian meningkat sesuai umur.

Dari tabel 4.1.3.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan pekerjaan, terbanyak dijumpai pada kelompok PNS dengan jumlah 15 subjek penelitian (44,1%). Dari penelitian ini dijumpai variasi penderita glaukoma dari pekerjaan yang berobat ke poli mata Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, dan yang terbanyak adalah PNS.

Dari tabel 4.1.4.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan suku, terbanyak dijumpai pada Kelompok suku Batak dengan jumlah 17 subjek penelitian (50,1%). Dari penelitian ini dijumpai variasi penderita

glaukoma dari berbagai suku yang berobat ke poli mata Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, dan yang terbanyak adalah suku Batak.

Dari tabel 4.1.5.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan ketajaman Penglihatan (Visus), terbanyak dijumpai pada mata kiri dengan visus 5/5-5/16 dengan jumlah 14 mata (41,2%).

Dari tabel 4.1.6.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan cup disc ratio (CDR), terbanyak dijumpai pada mata kanan dengan CDR 0,7-0,8 dengan jumlah 15 mata (44,1%), dan pada mata kiri dengan CDR 0,5-0,6 dengan jumlah 16 mata (47,0%).

Dari tabel 4.1.7.1 didapatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan lateralisasi, terbanyak dijumpai pada bilateral dengan jumlah 21 subjek penelitian (61,8%)

Dari tabel 4.1.8.1 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat) berdasarkan TIO pada H-0, unilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 2 (5,9%), yaitu TIO antara 22-25 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 2 (5,9%), yaitu TIO antara 22-25 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 7 (20,6%), yaitu TIO antara 22-25 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 8 (23,5%), yaitu TIO antara 22-25 mmHg.

Dari tabel 4.1.8.2 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat) berdasarkan TIO pada Minggu II, unilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 2 (5,9%),yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 3 (8,8%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan

jumlah 8 (23,5%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 11 (32,4%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg.

Dari tabel 4.1.8.3 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat) berdasarkan TIO pada Bulan I, unilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 3 (8,8%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 2 (5,9%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 10 (29,4%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 8 (23,5%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg.

Dari tabel 4.1.8.4 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat) berdasarkan TIO pada Bulan II, unilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 2 (5,9%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 3 (8,8%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 11 (32,4%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, pada mata kiri dengan jumlah 12 (35,3%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg.

Dari tabel 4.1.8.5 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok I (acetazolamide 250mg dan Timolol Maleat) berdasarkan TIO pada Bulan II, unilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 3 (8,8%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 3 (8,8%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 10 (29,4%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 12 (35,3%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg.

Dari tabel 4.1.8.6 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan TIO pada H-0, unilateral terbanyak pada mata kiri dengan jumlah 5 (14,7%), yaitu TIO antara 22-25 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 6 (17,6%), yaitu TIO antara 26-29 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 11 (32,4%), yaitu TIO antara 22-25 mmHg.

Dari tabel 4.1.8.7 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan TIO pada Minggu II, unilateral terbanyak pada mata kiri dengan jumlah 4 (11,8%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 7 (20,6%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg,dan pada mata kiri dengan jumlah 11 (32,4%), yaitu TIO antara 16-21 mmHg.

Dari tabel 4.1.8.8 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan TIO pada Bulan I, unilateral terbanyak pada mata kiri dengan jumlah 4 (11,8%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 7 (20,6%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg,dan pada mata kiri dengan jumlah 10 (29,4%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg.

Dari tabel 4.1.8.9 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan TIO pada Bulan II, unilateral terbanyak pada mata kiri dengan jumlah 5 (14,7%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 9 (26,5%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg,dan pada mata kiri dengan jumlah 12 (35,3%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg.

Dari tabel 4.1.8.10 didapatkan distribusi subjek penelitian kelompok II (acetazolamide 250mg dan Latanoprost) berdasarkan TIO pada Bulan III, unilateral terbanyak pada mata kiri dengan jumlah 6 (17,6%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg, sedangkan bilateral terbanyak pada mata kanan dengan jumlah 10 (29,4%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg, dan pada mata kiri dengan jumlah 15 (44,1%), yaitu TIO antara 10-15 mmHg.

Pada tabel 4.2.1 bila diperhatikan penurunan TIO pada mata kanan (OD) dari hari ke hari pada kedua kelompok, ternyata terdapat perbedaan yang cukup besar baik setelah bulan ke-II dan bulan ke-III, dimana kelompok II p=0,0001menurunkan TIO lebih besar dari kelompok I p=0,009. Demikian juga pada tabel 4.2.2. dijumpai penurunan TIO pada mata kiri (OS) didapati perbedaan yang cukup besar baik setelah bulan ke-II dan bulan ke-III, dimana kelompok II p=0,0001 menurunkan TIO lebih besar dari kelompok I p=0,003.Hasil penelitian ini sesuai dengan yang ditemukan oleh beberapa peneliti dimana Kelompok II lebih efektif dalam menurunkan TIO dibandingkan dengan Kelompok I.

Dari tabel 4.4.1 didapati persentase penurunan TIO pada Kelompok I antara 24.23% (H-0 – MII) sampai dengan 34.79% (H-0 – B III), dan pada tabel 4.4.2 didapati persentase penurunan TIO pada Kelompok II antara 35.68% (H-0 – MII) sampai dengan 48.54% (H-0 – B III),Hasil penelitian ini sesuai dengan yang dilakukan oleh Mario,Va.(1999), Efektivitas peningkatan intra okuli pada penggunaan latanoprost dibandingkan dengan timolol pada penderita glaukoma dan hipertensi okuli, dimana setelah 12 minggu penggunaan didapatkan hasil penurunan TIO pada pasien dengan

pemberian timolol 9.1 ± 1.1 mmHg (32%, p<0.001), dan pada pasien dengan pemberian Latanoprost 11.1 ± 1.2 mmHg (39%,p<0.001).

Hal ini juga sesuai dengan Penelitian yang dilakukan oleh Shivaprasad,PP (2013),Perbandingan antara efisiensi dan keamanan timolol dikombinasikan dengan dorzolamide, brimonidine, atau latanoprost pada penderita galukoma sudut terbuka primer, setelah 6 bulan pemberian masing-masing obat didapati penurunan TIO pada group timolol-dorzolamide sebesar 29.4% (7.83 mmHg), dan pada group Latanoprost sebesar 36.2% (9.73 mmHg).

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 KESIMPULAN

1. Pada penelitian ini dijumpai perbedaan yang nyata dalam hal distribusi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin, dimana jenis kelamin perempuan lebih tinggi dibanding jenis kelamin laki-laki.

2. Pada penelitian ini didapatkan persentase penurunan TIO yang signifikan pada penderita glaukoma sudut terbuka primer pada pemberian acetazolamide dan latanoprost (kelompok II), dibandingkan dengan pemberian acetazolamide dan timolol maleat (kelompok I).

3. Obat kelompok II dinilai lebih efektif digunakan pada penderita glaukoma sudut terbuka primer termasuk juga dalam hal dosis, dan cara pemberian obat, dan dapat dipertimbangkan sebagai obat alternatif yang aman dalam pengobatan glaukoma sudut terbuka primer.

6.2 SARAN

1. Diharapkan pengobatan dengan Acetazolamide dan Latanoprost 0.05% dapat menjadi terapi pilihan pada penderita Glaukoma Sudut Terbuka Primer di RSUP.H.Adam Malik Medan.

2. Perlunya diberikan informasi kepada masyarakat pada umumnya dan khususnya pada pasien yang berobat ke poliklinik mata berupa penyuluhan kesehatan dan juga poster kesehatan, tentang perlunya deteksi dini bila didapati gangguan pada mata terutama yang mengarah kepada glaukoma serta bagaimana mengkonsumsi obat-obat glaukoma baik tata cara penggunaan, tujuan pemberian obat-obat, efek samping serta efektivitas obat yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

Bell, AJ. Primary Open Angle Glaucoma Treatment and Management.

Available from : http://medscape.com/article/

Dangvu. Glaucoma. Available from :

https://sites.google.com/site/drdangvu/ophtalmologie/glaucoma-glaucome Demirel , S. 2009. Predicting Progressive Glaucomatous Optic Neuropathy

Using Baseline Standard Automated Perimetry Data. Investigative and Visual science. Association for Research In Vision Ophthalmology. Vol 50:

674

Depkes RI. 2008. 1,5 persen Penduduk Indonesia mengalami kebutaan.

2008.

Depkes RI. 2003.Perdami. Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (PGPK) untuk mencapai Vision 2020: 1-20.

Fidalia. 2006. Perbandingan efektifitas Latanoprost 0,005% dan Timolol 0,5%

dalam menurunkan Tekanan Intra Okular pada Glaukoma Primer Sudut Terbuka. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan. Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya : 1234-1238

Gabi, S., et al., 2012. Intraocular pressure reduction of fixed combination timolol maleate 0,5% and dorzolamide 2%(cosopt) administered three times a day. Clinical ophthalmology, 6 (283 – 287)

Guspita, R. 2009. Prevalensi kebutaan Akibat Glaukoma di Kabupaten Langkat. Bagian Ilmu Penyakit Mata FK USU, Medan : 46.

Hatanaka, M., et al., 2010. Additive intraocular pressure reduction effect of fixed combination of maleate timolol 0,5%/ dorzolamide 2% (cosopt) on monotherapy with latanoprost (Xalatan) in patients with elevated intraocular pressure: a prospective, 4-week, open-label, randomized, controlled clinical trial. Jun-Jul: 19(5): 331-5

Hejkal WT. Camras BC.,2007. Prostaglandin analogs in Glaucoma medical therapy principes and management: 33-4

Ismandari,F., 2010. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kebutaan pada pasien baru dengan glaukoma primer di poliklinik penyakit mata RSUPN.

DR. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Tesis. Universitas Indonesia.

Jin,WC., et al., 2012. Intraocular pressure-Lowering Effects of Commonly Used Fixed-Combination Drugs With Timolol: A Systemic Review and Meta-Analysis. Vol 7, Issue 9.

Kansky, JJ. 2007. In: Clinical Ophthalmology. A Systemic Approach. 6th edition, Oxford: 193-269.

Khurana, AK. 2007. Glaucoma in Ophthalmology. 4th edition. chapter 20. New Delhi. New Age International Limited Publisher : 205-240 : 443-457.

Langston, DP. 2003. Glaucoma in Manual of Ocular Diagnosis and Therapy.

4th edition. Boston : 229-231.

Lang, G. 2007. Ophthalmology. A Pocket text Book Atlas. second edition.

Thieme. New York:258

Lisegang, TJ., Gregory, L.S., Louis, B., 2009. Glaucoma. American Academy of Ophthalmology. Section 10. San Fransisco.

Lubis, RR. 2013. Hubungan Polimorfisme T34T dari Optineurin (OPTN) dengan kejadian Glaukoma Sudut Terbuka Primer. Program Studi Doktor (S- 3) Ilmu Kedokteran. Universitas Sumatera Utara : 1: 13-14

Lwanga,SK.,danLemeshow,S. 1991. Sample size determination in Health Studies: a Practical manual. World Health Organization Geneva.

Makoto, I., Takeshi,Y., 2009. Effect Of brinzolamide vs timolol as an adjuctive medication to latanoprost on cicardian intraocular pressure control in primary open angle glaucoma Japanese patients. Clinical Ophthalmology.

Vol.3, 493-500

Mario, VA., et al., 1999. The effect of Latanoprost vs Timolol on Intraocular pressure in patients with Glaucoma and Ocular Hypertension. Asian Journal of Ophthalmology. Vol.3, 1-5

Ming, SLA. Color Atlas Of Ophthalmology. Third Edition. World Science

Nilawati, E. 2008. Prevalensi Kebutaan Akibat Glaukoma di RSUP.H.Adam Malik Medan. Bagian Ilmu Penyakit Mata FKUSU. Medan : 23.

Okeke, NC., Friedman, S.D. et al. 2007. Targetting Relatives of patient with Primary Open Angle Glaucoma: The help Family Glaucoma Project . Journal Glaucoma Volume 16: 6

Olver, J. 2005. Ophthalmology At a Glance. Black well Publishing Company:

78-79

Orme, M. et al. 2010. Mixed treatment comparison and meta-regression of the efficacy and safety of prostaglandin analogues and comparators for primary open-angle glaucoma and ocular hypertension : 26(3):511-28.

Available from:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20014995

Peeters, A. 2007. Primary open-angle glaucoma and ocular hypertension.

Cost – Effectiveness of early detection and treatment. Universitaire Pers Maastricht : 11 - 12

Ray, K., dan Mookherjee, S. 2009. Molecular complexity of Primary Open Angle Glaucoma: Current Concepts : J.of Genetics. 4;88.

Ritch, R. Primary Open Angle Glaucoma. The Glaucoma Foundation. 80 Maiden Lane, Suite 700 New York, NY 10038. Available from :

Sari, DM. 2010. Peran Ginko biloba pada penatalaksanaan Glaukoma sudut terbuka primer. Universitas Sumatera Utara :20 - 25

http://www.glaucomafoundation.org/Primary_Open Angle_Glaucoma.htm

Sari, DM. 2013. Hubungan Perubahan Petanda Stress Oksidatif Malonildialdehyde (MDA) dan Enzim Gluthathion Peroxidase (GPx) Dengan Progresifitas Syaraf Optik Paska Pemberian Ginkgo Biloba Pada Penderita Glaukoma / Gangguan Syaraf Mata Sudut Terbuka Primer.

Program Studi Doktor (S- 3) Ilmu Kedokteran. Universitas Sumatera Utara : 1 – 7 : 14 – 28

Sastroasmoro, S. Dan Ismael, S. 2006. Dasar – dasar Metodologi Penelitian Klinis. Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT). Sagung Seto. Jakarta: 283

Sehu, WK. 2005. Ophthalmic Pathology. An illustrated guide for clinicians.

Published by blaclwell Publishing Ltd. BMJ publishing group: 138

Shivaprasad,PP., et al., 2013. A Comparison of the efficacy and savety of timolol in combination with dorzolamide, brimonidine or Latanoprost in Patient of Primary Open Angle Glaucoma. Journal of Applied Pharmaceutical Science. Departemen Of Pharmacology, Shry B.M. Patil Medical College, Bijapur, Karnataka., Departemen of Pharmacology , BJ Medical College, Ahmedabad, India. 3(12): 120 - 123

Skuta,GL., Cantor,LB., Weiss.JS., 2010.American Academy of Ophthalmology. 2009-2010. Basic and Clinical Sciences Course section 10. Glaucoma: 17-22: 85: 123: 155: 167-187.

Skuta,GL., Cantor,LB., Weiss.JS., 2010.American Academy Of Ophthalmology, 2009-2010. Basic and Clinical Science Course. Section 2.

Fundamental and Principles of Ophthalmology

Susanna, RJ., et al., 2004. Comparison of latanoprost with fixed-combination

Susanna, RJ., et al., 2004. Comparison of latanoprost with fixed-combination

Dokumen terkait