• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bidang Pelayanan Masyarakat

BAB I. PENDAHULUAN

1.5. Manfaat Penelitian

1.5.3. Bidang Pelayanan Masyarakat

1. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi institusi pelayanan kesehatan sebagai informasi dan sarana evaluasi mengenai kondisi pencegahan infeksi saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas selama pandemi COVID-19 sehingga tenaga kesehatan dan non-kesehatan dapat melakukan upaya pencegahan terhadap infeksi COVID-19 dengan lebih optimal.

2. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pemerintah dan institusi pelayanan kesehatan sebagai dasar untuk menyusun dan menentukan program dan kebijakan terkait dalam hal peningkatan kualitas pencegahan infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan selama pandemi COVID-19 di Puskesmas.

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. CORONAVIRUS DISEASE 2019 (COVID-19) 2.1.1. Definisi

Coronavirus disease 2019 (disingkat “COVID-19”) adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang menyebabkan gangguan pernapasan serius seperti pneumonia dan gagal paru. Penyakit ini pertama kali terdeteksi pada Desember 2019 di Kota Wuhan, ibukota Hubei, Cina. COVID-19 disebabkan oleh virus corona jenis baru (novel coronavirus) yang dikenal sebagai Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), yang kemungkinan besar berasal dari virus corona yang ditularkan dari hewan ke manusia, seperti SARS-CoV yang muncul pada tahun 2002 (Ahn, et al., 2020).

COVID-19 adalah penyakit menular dengan gejala klinis utamanya adalah demam, batuk kering, kelelahan, mialgia, dan dispnea. Di Cina, 18,50% dari pasien yang menderita COVID-19 akan berkembang ke tahap yang parah, yaitu ditandai dengan terjadinya sindrom gangguan pernapasan akut, syok septik, asidosis metabolik yang sulit ditangani, serta gangguan perdarahan dan pembekuan darah (Zhong, et al., 2020)

2.1.2. Epidemiologi

Sejak kasus pertama di Wuhan pada bulan Desember 2019, terjadi peningkatan kasus COVID-19 yang dilaporkan kepada WHO di Cina setiap hari dan memuncak diantara akhir Januari hingga awal Februari 2020. Infeksi mulai menyebar dari pasar grosir seafood Huanan di Wuhan, Cina, sementara rute infeksi yang tepat dari kasus pertama masih belum jelas (Ahn, et al., 2020).

Pada 19 Maret 2020, kasus COVID-19 terus dilaporkan secara global dari lebih dari 170 negara. Pada 15 Maret 2020, 153.517 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi laboratorium dengan 5.735 kematian (sekitar 3,80% kematian) telah dilaporkan menurut WHO (Ahn, et al., 2020).

Gambar 2.1 Diagram penyebaran kasus COVID-19 di seluruh dunia, per 15 Maret 2020 (Ahn, et al., 2020).

Pada tahap awal penyebaran COVID-19 global, kasus-kasus yang diidentifikasi di luar Cina sebagian besar adalah pelancong yang terinfeksi di Cina dan kemudian melakukan perjalanan ke daerah di luar Cina. Negara-negara di luar Cina yang melaporkan kasus COVID-19 terkait perjalanan adalah Singapura, Jepang, Republik Korea, Malaysia, Vietnam, Australia, Amerika Serikat, Jerman, dll. Tingkat kematian SARS-CoV-2 (3,80%) lebih rendah daripada Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV) (10%) atau Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) (37,10%), tetapi jumlah kasus infeksi relatif lebih dari 10 kali lebih tinggi. Akumulasi laporan mengungkapkan bahwa SARS-CoV-2 dapat ditularkan dari orang yang tidak menunjukkan gejala atau memiliki infeksi ringan. Hal ini dapat menjelaskan penyebaran virus yang terjadi secara tiba-tiba (Ahn, et al., 2020).

Per 30 Maret 2020, terdapat 693.224 kasus dan 33.106 kematian di seluruh dunia. Sedangkan perkembangan kasus per 27 Mei 2020 mencapai 5.709.518 kasus dan 352.748 kematian di seluruh dunia. Eropa dan Amerika Utara telah

menjadi pusat pandemi COVID-19, dengan kasus dan kematian sudah melampaui Cina. Amerika Serikat menduduki peringkat pertama dengan kasus COVID-19 terbanyak dengan penambahan kasus baru sebanyak 19.332 kasus pada tanggal 30 Maret 2020 disusul oleh Spanyol dengan 6.549 kasus baru. Italia memiliki tingkat mortalitas paling tinggi di dunia, yaitu 11,30% (Ahn, et al., 2020).

Gambar 2.2 Grafik kasus COVID-19 di Indonesia, per 16 Mei 2020 (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).

COVID-19 pertama dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 sejumlah dua kasus. Data 31 Maret 2020 menunjukkan kasus yang terkonfirmasi berjumlah 1.528 kasus dan 136 kasus kematian. Tingkat mortalitas COVID-19 di Indonesia sebesar 8,90%, angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.

Per 16 Mei 2020, angka pasien positif di Indonesia sudah melonjak tinggi yaitu sebesar 17.025 kasus. Dilaporkan pertambahan pasien positif ada sebanyak 529 kasus dari tanggal 15 Mei 2020 dengan kematian mencapai 1.089 jiwa. Gambaran grafik pasien positif COVID-19 di Indonesia semakin meningkat setiap harinya (Susilo, et al., 2020).

Kasus COVID-19 di Indonesia sudah menyebar luas di 34 provinsi di Indonesia. Transmisi lokal terjadi baik di dalam daerah maupun antar daerah melalui orang-orang yang keluar masuk melalui berbagai moda transportasi.

Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Batam, per 16 Mei 2020, jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Kota Batam, Kepulauan Riau, mencapai 54 kasus dengan 7 kematian. Kasus COVID-19 sudah tersebar hampir di seluruh

kecamatan di Kota Batam dan kecamatan dengan kasus positif terbanyak berada di Kecamatan Batam Kota sehingga masuk dalam zona merah (Dinas Kesehatan Kota Batam, 2020).

Gambar 2.3 Peta persebaran kasus COVID-19 di Kota Batam, per 16 Mei 2020 (Dinas Kesehatan Kota Batam, 2020).

Per 14 Juni 2020, ada 587 kasus positif COVID-19 terdeteksi di Kota Medan.

Menurut data dari Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, penyebaran kasus COVID-19 sudah merata ditandai dengan ada 21 dari 21 kecamatan di Kota Medan masuk dalam kategori zona merah seperti ditunjukkan pada Gambar 2.4 (Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, 2020).

Gambar 2.4 Peta persebaran kasus COVID-19 di Kota Medan, per 14 Juni 2020 (Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19).

2.1.3. Etiologi

Berdasarkan manifestasi klinis, tes darah, dan radiografi dada, penyakit ini didiagnosis sebagai pneumonia yang diinduksi virus oleh dokter. Investigasi epidemiologis awal menunjukkan bahwa sebagian besar kasus yang diduga terkait dengan kunjungan pasien ke pasar seafood Huanan. Tidak hanya seafood, berbagai jenis hewan liar yang hidup dijual di pasar ini setiap hari sebelum dipaksa untuk ditutup pada 1 Januari 2020. Center for Disease Control and Prevention (CDC) di Cina menemukan SARS-CoV-2 terisolasi dalam sampel lingkungan dari Pasar seafood Huanan, inilah yang merupakan asal mula dari wabah COVID-19 (Jin, et al., 2020).

Namun, kesimpulan yang mutlak masih diperdebatkan karena kasus yang paling awal tidak memiliki hubungan ke pasar tersebut. Selain itu, ditemukan bahwa setidaknya ada dua strain berbeda dari SARS-CoV-2 beberapa bulan sebelum COVID-19 secara resmi dilaporkan. Sampai saat ini, asal usul SARS-CoV-2 masih belum konsisten. Oleh karena itu, penyelidikan epidemiologi dan etiologi masih sedang dilakukan oleh otoritas kesehatan Cina (Jin, et al., 2020).

2.1.4. Virologi

Komite Internasional tentang Taksonomi Virus/International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) menyebut virus penyebab COVID-19 sebagai SARS CoV-2 (Atmojo, et al., 2020). Struktur genom virus ini memiliki pola seperti coronavirus pada umumnya. Sekuens SARS-CoV-2 memiliki kemiripan dengan coronavirus yang diisolasi pada kelelawar, sehingga muncul hipotesis bahwa SARS-CoV-2 berasal dari kelelawar yang kemudian bermutasi dan menginfeksi manusia. Mamalia dan burung diduga sebagai reservoir perantara (Atmojo, et al., 2020).

Beta coronavirus (β - coronavirus) merupakan penyebab dari beberapa penyakit pernapasan yang telah terdeteksi sebelumnya yaitu MERS yang muncul tahun 2012 di Saudi Arabia, SARS- CoV pertama yang muncul 2002 di

Guangdong, Cina, dan SARS-CoV-2 yang muncul tahun 2019 di Wuhan, Cina (Sahu, et al., 2020).

Gambar 2.5 Struktur genom virus (Susilo, et al., 2020).

β-coronavirus adalah genom virus RNA rantai tunggal, berkapsul, tidak bersegmen, dan berukuran mulai dari 29,9 kb. Virion memiliki nukleokapsid yang terdiri dari RNA genomik dan protein nukleokapsid terfosforilasi (N), yang terdapat di dalam phospholipid bilayers dan ditutupi oleh spike glycoprotein trimmer (S). Membran (M) protein hemagglutinin-esterase (HE) dan protein kapsul (E) terletak di antara protein S di dalam kapsul (Jin, et al., 2020). SARS-CoV-2 memiliki transmisibilitas tinggi dan banyak inang host, diantaranya: host alami, host perantara dan host akhir. Hal ini menimbulkan tantangan besar untuk pencegahan dan pengobatan infeksi virus (Liu, et al., 2020).

Gambar 2.6 Partikel coronavirus (Jin, et al., 2020).

SARS-CoV-2 adalah anggota ketujuh dari keluarga coronavirus yang menginfeksi manusia. Partikel virus memiliki diameter 60-100 nm dan berbentuk bulat atau oval. Sebagian besar informasi mengenai sifat fisikokimia CoV berasal

dari SARS-CoV dan MERS-CoV. Hasil pemodelan melalui komputer menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 memiliki struktur tiga dimensi pada protein spike domain receptor-binding yang hampir identik dengan SARS-CoV. Pada SARS-CoV-2, data in vitro mendukung kemungkinan virus mampu masuk ke dalam sel menggunakan reseptor ACE-2 (Susilo, et al., 2020).

2.1.5. Tranmisi

Saat ini, penyebaran SARS-CoV-2 dari manusia ke manusia menjadi sumber transmisi utama sehingga penyebaran menjadi lebih agresif. Transmisi SARS-CoV-2 dari pasien simtomatik terjadi melalui droplet yang keluar saat batuk atau bersin (Susilo, et al., 2020). Kontak dekat dengan potensi menghirup droplet yang mengandung virus adalah cara transmisi paling umum untuk SARS-CoV (Atmojo, et al., 2020).

Selain itu, telah diteliti bahwa SARS-CoV-2 dapat viabel pada aerosol (dihasilkan melalui nebulizer) selama setidaknya 3 jam. WHO memperkirakan Reproductive Number (R0) COVID-19 sebesar 1,40 hingga 2,50. Namun, studi lain memperkirakan R sebesar 3,28 (Susilo, et al., 2020).

Beberapa laporan kasus menunjukkan dugaan penularan dari karier asimtomatik, namun mekanisme pastinya belum diketahui. Kasus-kasus terkait transmisi dari karier asimtomatik umumnya memiliki riwayat kontak erat dengan pasien COVID-19 (Susilo, et al., 2020).

Beberapa peneliti melaporan infeksi SARS-CoV-2 pada neonatus. Namun, transmisi vertikal secara intrauterin dari ibu hamil kepada janin belum terbukti pasti dapat terjadi. Bila memang dapat terjadi, data menunjukkan peluang transmisi vertikal tergolong kecil. Pemeriksaan virologi cairan amnion, darah tali pusat, dan air susu ibu pada ibu yang positif COVID-19 ditemukan negatif (Susilo, et al., 2020). Beberapa penelitian mendeteksi ada bayi baru lahir terinfeksi COVID-19, sedangkan beberapa penelitian lain melaporkan bayi dari

ibu yang terinfeksi lahir dalam keadaan sehat dan tidak terinfeksi (Chen, et al., 2020).

Peneliti juga mendeteksi SARS-CoV-2 dalam sampel tinja, saluran pencernaan, saliva dan urin. RNA dari virus SARS-CoV-2 juga dideteksi dalam air mata dan sekresi konjungtiva (Xia, et al., 2020) Berdasarkan pada bukti bioinformatika menunjukkan bahwa saluran pencernaan mungkin merupakan rute potensial infeksi (Wang J, et al., 2020). SARS-CoV-2 telah terbukti menginfeksi saluran cerna berdasarkan hasil biopsi pada sel epitel gaster, duodenum, dan rektum. Virus dapat terdeteksi di feses, bahkan ada 23% pasien yang dilaporkan virusnya tetap terdeteksi dalam feses walaupun sudah tak terdeteksi pada sampel saluran napas. Kedua fakta ini menguatkan dugaan kemungkinan transmisi secara fekal-oral (Susilo, et al., 2020).

Stabilitas SARS-CoV-2 pada benda mati tidak berbeda jauh dibandingkan SARS-CoV. Eksperimen yang dilakukan oleh Doremalen, et al. (2020) menunjukkan SARS-CoV-2 lebih stabil pada bahan plastik dan stainless steel (>72 jam) dibandingkan tembaga (4 jam) dan kardus (24 jam). Virus dapat dideteksi di gagang pintu, dudukan toilet, tombol lampu, jendela, lemari, hingga kipas ventilasi, namun tidak pada sampel udara (Susilo, et al., 2020).

Tabel 2.1 Persistensi berbagai jenis coronavirus pada berbagai permukaan benda mati (Susilo, et al., 2020).

Permukaan Virus Titer virus Temperatur Persistensi

Besi MERS-CoV 105 20˚C 48 jam

30˚C 8-24 jam

HCoV 103 21˚C 5 hari

Alumunium HCoV 5 x 103 21˚C 2-8 jam

Metal SARS-CoV 105 Suhu ruangan 5 hari

Kayu SARS-CoV 105 Suhu ruangan 4 hari

Kertas SARS-CoV

(Strain P9)

105 Suhu ruangan 4-5 hari

SARS-CoV (Strain GVU6109)

106 Suhu ruangan 24 jam

105 3 hari

104 < 5 menit

Kaca SARS-CoV 105 Suhu ruangan 4 hari

HCoV 103 21˚C 5 hari

Berdasarkan data yang sudah ada, penyakit komorbid hipertensi dan diabetes melitus, jenis kelamin laki-laki, dan perokok aktif merupakan faktor risiko dari infeksi SARS-CoV-2. Distribusi jenis kelamin yang lebih banyak pada laki-laki diduga terkait dengan prevalensi perokok aktif yang lebih tinggi. Pada perokok, hipertensi, dan diabetes melitus, diduga ada peningkatan ekspresi reseptor ACE-2 (Susilo, et al., 2020).

Pasien kanker dan penyakit hati kronik lebih rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2. Kanker diasosiasikan dengan reaksi imunosupresif, sitokin yang berlebihan, supresi induksi agen proinflamasi, dan gangguan maturasi sel dendritik. Pasien dengan sirosis atau penyakit hati kronik juga mengalami penurunan respons imun, sehingga lebih mudah terjangkit COVID-19, dan dapat mengalami luaran yang lebih buruk (Susilo, et al., 2020).

Beberapa faktor risiko lain yang ditetapkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) adalah kontak erat, termasuk tinggal satu rumah dengan pasien COVID-19 dan riwayat perjalanan ke area terjangkit. Berada dalam satu lingkungan namun tidak kontak dekat (dalam radius 2 meter) dianggap sebagai risiko rendah. Tenaga medis merupakan salah satu populasi yang berisiko tinggi tertular. Di Italia, sekitar 9% kasus COVID-19 adalah tenaga medis. Di Cina, lebih dari 3.300 tenaga medis juga terinfeksi, dengan mortalitas sebesar 0,60%

(Susilo, et al., 2020).

2.1.6. Patogenesis

Patogenesis SARS-CoV-2 masih belum banyak diketahui, tetapi diduga tidak jauh berbeda dengan SARS-CoV yang sudah lebih banyak diketahui (Susilo, et al., 2020). Kebanyakan coronavirus menginfeksi hewan dan bersirkulasi di hewan. Coronavirus menyebabkan sejumlah besar penyakit pada hewan dan kemampuannya menyebabkan penyakit berat pada hewan seperti babi, sapi, kuda, kucing dan ayam. Coronavirus disebut dengan virus zoonotik yaitu virus yang ditransmisikan dari hewan ke manusia. Banyak hewan liar yang dapat membawa patogen dan bertindak sebagai vektor untuk penyakit menular tertentu.

Kelelawar, tikus bambu, unta dan musang merupakan host yang biasa ditemukan untuk coronavirus. Coronavirus pada kelelawar merupakan sumber utama untuk kejadian SARS dan MERS (Yuliana, 2020).

Pada manusia, SARS-CoV-2 terutama menginfeksi sel-sel pada saluran napas yang melapisi alveoli. Coronavirus hanya bisa memperbanyak diri melalui sel hostnya. Virus tidak bisa hidup tanpa sel host. Berikut siklus dari coronavirus setelah menemukan sel host sesuai tropismenya. SARS-CoV-2 akan berikatan dengan reseptor-reseptor dan membuat jalan masuk ke dalam sel. Glikoprotein yang terdapat pada envelope spike virus akan berikatan dengan reseptor selular berupa ACE-2 pada SARS-CoV-2. Di dalam sel, SARS-CoV-2 melakukan duplikasi materi genetik dan mensintesis protein-protein yang dibutuhkan,

kemudian membentuk virion baru yang muncul di permukaan sel (Susilo, et al., 2020).

Sama dengan SARS-CoV, pada SARS-CoV-2 diduga setelah virus masuk ke dalam sel, genom RNA virus akan dikeluarkan ke sitoplasma sel dan ditranslasikan menjadi dua poliprotein dan protein struktural. Selanjutnya, genom virus akan mulai untuk bereplikasi. Glikoprotein pada selubung virus yang baru terbentuk masuk ke dalam membran retikulum endoplasma atau Golgi sel. Terjadi pembentukan nukleokapsid yang tersusun dari genom RNA dan protein nukleokapsid. Partikel virus akan tumbuh ke dalam retikulum endoplasma dan Golgi sel. Pada tahap akhir, vesikel yang mengandung partikel virus akan bergabung dengan membran plasma untuk melepaskan komponen virus yang baru (Susilo, et al., 2020).

Gambar 2.7 Skema replikasi dan patogenesis virus (Susilo, et al., 2020).

Pada SARS-CoV, Protein S dilaporkan sebagai determinan yang signifikan dalam masuknya virus ke dalam sel pejamu. Telah diketahui bahwa masuknya SARS-CoV ke dalam sel dimulai dengan fusi antara membran virus dengan plasma membran dari sel. Pada proses ini, protein S2’ berperan penting dalam proses pembelahan proteolitik yang memediasi terjadinya proses fusi membran.

Selain fusi membran, terdapat juga clathrin-dependent dan clathrin-independent

endositosis yang memediasi masuknya SARS-CoV ke dalam sel pejamu (Susilo, et al., 2020).

Faktor virus dan pejamu memiliki peran dalam infeksi SARS-CoV. Efek sitopatik virus dan kemampuannya mengalahkan respons imun menentukan keparahan infeksi. Disregulasi sistem imun kemudian berperan dalam kerusakan jaringan pada infeksi SARS-CoV-2. Respons imun yang tidak adekuat menyebabkan replikasi virus dan kerusakan jaringan. Di sisi lain, respons imun yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan jaringan (Susilo, et al., 2020).

Respons imun yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 juga belum sepenuhnya dapat dipahami, namun dapat dipelajari dari mekanisme yang ditemukan pada SARS-CoV dan MERS-CoV. Ketika virus masuk ke dalam sel, antigen virus akan dipresentasikan ke Antigen Presentation Cells (APC). Presentasi antigen virus terutama bergantung pada molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas I. Namun, MHC kelas II juga turut berkontribusi. Presentasi antigen selanjutnya menstimulasi respons imunitas humoral dan selular tubuh yang dimediasi oleh sel T dan sel B yang spesifik terhadap virus. Pada respons imun humoral terbentuk IgM dan IgG terhadap SARS-CoV. IgM terhadap SARS-CoV hilang pada akhir minggu ke-12 dan IgG dapat bertahan jangka panjang. Hasil penelitian terhadap pasien yang telah sembuh dari SARS menujukkan setelah 4 tahun dapat ditemukan sel T CD4+ dan CD8+ memori yang spesifik terhadap SARS-CoV, tetapi jumlahnya menurun secara bertahap tanpa adanya antigen (Susilo, et al., 2020).

Virus memiliki mekanisme untuk menghindari respons imun pejamu. SARS-CoV dapat menginduksi produksi vesikel membran ganda yang tidak memiliki Pattern Recognition Receptors (PRRs) dan bereplikasi dalam vesikel tersebut sehingga tidak dapat dikenali oleh pejamu. Jalur IFN-I juga diinhibisi oleh SARS-CoV dan MERS-SARS-CoV. Presentasi antigen juga terhambat pada infeksi akibat MERS-CoV (Susilo, et al., 2020).

2.1.7. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis pasien COVID-19 memiliki spektrum yang luas, mulai dari tanpa gejala (asimptomatik), gejala ringan, pneumonia, pneumonia berat, ARDS, sepsis, hingga syok sepsis (Rothan & Byrareddy, 2020). Sekitar 80% kasus tergolong ringan atau sedang, 13,8% mengalami sakit berat, dan sebanyak 6,1%

pasien jatuh ke dalam keadaan kritis. Berapa besar proporsi infeksi asimtomatik belum diketahui. Viremia dan viral load yang tinggi dari swab nasofaring pada pasien yang asimtomatik telah dilaporkan (Susilo, et al., 2020).

Gambar 2.8 Manifestasi klinis COVID-19 (Rothan & Byrareddy, 2020).

Gejala ringan didefinisikan sebagai pasien dengan infeksi akut saluran napas atas tanpa komplikasi, bisa disertai dengan demam, fatigue, batuk (dengan atau tanpa sputum), anoreksia, malaise, nyeri tenggorokan, kongesti nasal, atau sakit kepala. Pasien tidak membutuhkan suplementasi oksigen. Pada beberapa kasus pasien juga mengeluhkan diare dan muntah. Pasien COVID-19 dengan pneumonia berat ditandai dengan demam, ditambah salah satu dari gejala: (1) frekuensi pernapasan >30x/menit (2) distres pernapasan berat, atau (3) saturasi oksigen 93%

tanpa bantuan oksigen. Pada pasien geriatri dapat muncul gejala-gejala yang atipikal (Susilo, et al., 2020).

Sebagian besar pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 menunjukkan gejala-gejala pada sistem pernapasan seperti demam, batuk, bersin, dan sesak napas.

Berdasarkan data 55.924 kasus, gejala tersering adalah demam, batuk kering, dan fatigue. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah batuk produktif, sesak napas, sakit tenggorokan, nyeri kepala, mialgia/artralgia, menggigil, mual/muntah, kongesti nasal, diare, nyeri abdomen, hemoptisis, dan kongesti konjungtiva. Lebih dari 40% demam pada pasien COVID-19 memiliki suhu puncak antara 38,1-39°C, sementara 34% mengalami demam suhu lebih dari 39°C (Susilo, et al., 2020).

Gambar 2.9 Skema perjalanan penyakit COVID-19 (Susilo, et al., 2020).

Perjalanan penyakit dimulai dengan masa inkubasi yang lamanya sekitar 3-14 hari (median 5 hari). Pada masa ini leukosit dan limfosit masih normal atau sedikit menurun dan pasien tidak bergejala. Pada fase berikutnya (gejala awal), virus menyebar melalui aliran darah, diduga terutama pada jaringan yang mengekspresi ACE-2 seperti paru-paru, saluran cerna dan jantung. Gejala pada fase ini umumnya ringan. Serangan kedua terjadi empat hingga tujuh hari setelah timbul gejala awal. Pada saat ini pasien masih demam dan mulai sesak, lesi di paru memburuk, limfosit menurun. Penanda inflamasi mulai meningkat dan mulai terjadi hiperkoagulasi. Jika tidak teratasi, fase selanjutnya inflamasi makin tak terkontrol, terjadi badai sitokin yang mengakibatkan ARDS, sepsis, dan komplikasi lainnya (Susilo, et al., 2020).

2.1.8. Pemeriksaan Penunjang 2.1.8.1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium lain seperti hematologi rutin, hitung jenis, fungsi ginjal, elektrolit, analisis gas darah, hemostasis, laktat, dan prokalsitonin dapat dikerjakan sesuai dengan indikasi. Trombositopenia juga kadang dijumpai, sehingga kadang diduga sebagai pasien dengue. (Susilo, et al., 2020).

2.1.8.2. Pencitraan

Modalitas pencitraan utama yang menjadi pilihan adalah foto toraks dan Computed Tomography Scan (CT-Scan) toraks. Pada foto toraks dapat ditemukan gambaran seperti opasifikasi ground-glass, infiltrat, penebalan peribronkial, konsolidasi fokal, efusi pleura, dan atelektasis. Foto toraks kurang sensitif dibandingkan CT-Scan, karena sekitar 40% kasus tidak ditemukan kelainan pada foto toraks (Susilo, et al., 2020).

Gambar 2.10 Gambaran foto toraks pada pasien COVID-19 (Susilo, et al., 2020).

Studi dengan USG toraks menunjukkan pola B yang difus sebagai temuan utama. Konsolidasi subpleural posterior juga ditemukan walaupun jarang. (Susilo, et al., 2020).

2.1.8.3. Pemeriksaan Diagnostik SARS-CoV-2 Pemeriksaan Antigen-Antibodi

Salah satu kesulitan utama dalam melakukan uji diagnostik tes cepat yang sahih adalah memastikan negatif palsu, karena angka deteksi virus pada rRT-PCR sebagai baku emas tidak ideal. Selain itu, perlu mempertimbangkan onset paparan dan durasi gejala sebelum memutuskan pemeriksaan serologi. IgM dan IgA dilaporkan terdeteksi mulai hari 3-6 setelah onset gejala, sementara IgG mulai hari

10-18 setelah onset gejala. Pemeriksaan jenis ini tidak direkomendasikan WHO sebagai dasar diagnosis utama. Pasien negatif serologi masih perlu observasi dan diperiksa ulang bila dianggap ada faktor risiko tertular (Susilo, et al., 2020).

Gambar 2.11 Gambaran CT-Scan pada pasien COVID-19 (Susilo, et al., 2020).

Pemeriksaan Virologi

Metode yang dianjurkan untuk deteksi virus adalah amplifikasi asam nukleat dengan Real-Time reversetranscription Rolymerase Chain Reaction (rRT- PCR) dan dengan sequencing. Sampel dikatakan positif (konfirmasi SARS-CoV-2) bila rRT-PCR positif pada minimal dua target genom (N, E, S, atau RdRP) yang spesifik SARS-CoV-2; ATAU rRT-PCR positif betacoronavirus, ditunjang dengan hasil sequencing sebagian atau seluruh genom virus yang sesuai dengan SARS-CoV-2 (Susilo, et al., 2020).

2.1.9. Diagnosis

Definisi operasional pada kasus COVID-19 di Indonesia mengacu pada panduan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang mengadopsi dari WHO (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).

Kasus probabel didefinisikan sebagai PDP yang diperiksa untuk COVID-19 tetapi hasil inkonklusif atau seseorang dengan dengan hasil konfirmasi positif

pancoronavirus atau betacoronavirus. Kasus terkonfirmasi adalah bila hasil pemeriksaan laboratorium positif COVID-19, apapun temuan klinisnya. Selain itu, dikenal juga istilah orang tanpa gejala (OTG), yaitu orang yang tidak memiliki gejala tetapi memiliki risiko tertular atau ada kontak erat dengan pasien COVID-19 (Susilo, et al., 2020).

Tabel 2.2 Definisi operasional PDP dan ODP (Susilo, et al., 2020)

Temuan Pasien dalam Pengawasan/PDP (suspek) Orang dalam Pemantauan (ODP)

Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Kriteria 4

Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Kriteria 4