BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
per 15 Maret 2020
4.10 Distribusi responden berdasarkan sikap terhadap COVID-19
Pertanyaan 1. Anda mungkin akan terinfeksi COVID-19. 54
(43,9%)
59 (67,1%)
69
(56,1%) 29 (32,9%) 2. Anda cemas salah satu anggota keluarga
anda akan terinfeksi COVID-19. 3. Anda masih akan berkunjung ke tempat yang
ramai. 6 (4,9%) 15
(17,1%)
117
(95,1%) 73 (82,9%)
4. Jika besok anda demam, bersin, dan batuk berarti anda terinfeksi COVID-19.
5. Bila terinfeksi COVID-19, anda akan diisolasi/dipisahkan di ruangan khusus di fasilitas kesehatan. 6. Penularan COVID-19 bisa dicegah dengan
sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
122 (99,2%)
82
(93,2%) 1 (0,8%) 6 (6,8%) 7. Anda akan terinfeksi COVID-19 jika
menerima kiriman barang dari Cina.
11
(8,9%) 22 (25%) 112
(91,1%) 66 (75%) 8. Anda yakin akan sembuh jika terinfeksi
COVID-19.
114 (92,7%)
80
(90,9%) 9 (7,3%) 8 (9,1%) 9. Anda takut melakukan pelayanan kepada
pasien selama pandemi COVID-19.
10. Jumlah penderita COVID-19 bisa menurun dengan partisipasi aktif dari seluruh tenaga kesehatan dan non kesehatan melalui program pencegahan infeksi di fasilitas kesehatan.
11. Jika vaksin COVID-19 telah tersedia, anda akan mendapatkannya.
114 (92,7%)
79
(89,8%) 9 (7,3%) 9 (10,2%) 12. Tenaga kesehatan dan non kesehatan siap
untuk berpartisipasi aktif melawan pandemi COVID-19 di masyarakat.
122 (99,2%)
86
(97,7%) 1 (0,8%) 2 (2,3%) 13. Anda setuju pandemi COVID-19 akan
berhasil dikendalikan. 14. Anda yakin bahwa Indonesia bisa menang
melawan COVID-19.
Menurut Anda, kapan pandemi COVID-19 berakhir di Indonesia?
Kota Medan Kota Batam
84 (68,3%) Sikap terhadap COVID-19 (mean ± SD)
Positif keseluruhan untuk kedua lokasi penelitian adalah kurang dari 80%. Hasil penelitian tentang sikap responden terhadap COVID-19 baik di Kota Medan dan Kota Batam sama-sama menunjukkan jumlah yang hampir seimbang antara responden dengan sikap positif dan negatif terhadap COVID-19. Responden di Kota Medan sedikit lebih banyak yang memiliki sikap negatif (50,4%). Hal ini mirip dengan penelitian di Uganda yang menyatakan sebagian besar tenaga kesehatan memiliki sikap yang negatif terhadap COVID-19 (Olum, et al., 2020).
Sebaliknya, responden di Kota Batam lebih banyak yang memiliki sikap positif (53,4%). Hal ini mirip dengan penelitian mengenai sikap terhadap COVID-19 pada tenaga kesehatan di Nepal (Nepal, et al., 2020), Pakistan (Saqlain, et al., 2020), dan Egypt (Abdel Wahed, et al., 2020). Menurut Notoatmodjo (2010), hal ini berarti belum semua responden mampu menerima, menanggapi, menghargai, dan bertanggung jawab terhadap stimulus yang dalam hal ini adalah mengenai COVID-19.
Dari 14 pertanyaan mengenai sikap terhadap COVID-19, pertanyaan sikap yang paling baik jawabannya adalah sebanyak 99,2% responden di Kota Medan dan 97,73% responden di Kota Batam setuju bahwa mereka siap untuk berpartisipasi aktif melawan pandemi COVID-19 di masyarakat. Pertanyaan sikap yang paling buruk jawabannya adalah hanya 43,9% responden di Kota Medan dan 67,1% responden di Kota Batam setuju bahwa mereka mungkin terinfeksi COVID-19. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Giao, et al. (2020) pada tenaga kesehatan di Vietnam yaitu sudah ditemui 82,3% tenaga kesehatan setuju bahwa mereka mungkin terinfeksi COVID-19.
Pada pertanyaan mengenai apakah tenaga kesehatan takut memberikan pelayanan kepada pasien selama pandemi COVID-19, ditemui 71,54% responden di Kota Medan menjawab tidak setuju sedangkan responden di Kota Batam hanya 54,6% yang menjawab tidak setuju. Seperti yang tertera dalam tabel 4.11 di bawah, diperoleh nilai p-value < 0,05 (p = 0,037) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara ketersediaan APD dengan sikap terhadap COVID-19 pada responden di Kota Medan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kumar, et al.
(2020), ketakutan tenaga kesehatan dapat diakibatkan karena kurangnya APD yang tersedia dan kurangnya dukungan dari otoritas kesehatan jika tenaga kesehatan ataupun keluarga mereka terinfeksi atau meninggal dunia akibat COVID-19. Hal ini juga didukung oleh pendapat Putra (2012) dalam penelitiannya yang menjelaskan bahwa rasa takut dan cemas terhadap pasien yang dapat menularkan penyakit mempengaruhi tenaga kesehatan untuk bersikap negatif.
4.11. Hubungan antara ketersediaan APD dengan sikap terhadap COVID-19.
Kota Medan Kota Batam Kota Medan Kota Batam Ketersediaan APD
Baik 23 (39,7%) 27 (58,7%) 35 (60,3%) 19 (41,3%)
Kurang Baik 38 (58,5%) 20 (47,6%) 27 (41,5%) 22 (52,4%)
P-value Kota Medan Kota Batam
0,037 0,298
4.12. Distribusi sikap terhadap COVID-19 dengan karakteristik responden.
Variabel
P-value Kota Medan Kota Batam
0,605 0,252
P-value Kota Medan Kota Batam
0,358 0,892 Petugas Farmasi 79,46 ±
4,48 79,29 ±
9,16 5 (62,5%) 2 (40%) 3
(37,5%) 3 (60%)
Petugas Kesehatan Teknisi Biomedika 79,47 ±
13,89 83,33 ±
9,93 2 (100%) 2 (66,7%) 0 (0%) 1 (33,3%) Keteknisian Medis 76,79 85,71 ±
6,84 1 (100%) 4 (100%) 0 (0%) 0 (0%) Dukungan Manajemen 76,19 ±
7,11
74,11 ±
6,48 2 (66,7%) 4 (40%) 1
(33,3%) 6 (60%) Petugas Kebersihan 68,45 ±
2,06 71,43 ±
P-value Kota Medan Kota Batam
0,450 0,162
P-value Kota Medan Kota Batam
0,528 0,680
Sikap responden terhadap COVID-19 dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi sikap responden dalam penelitian ini maka dilakukan analisis bivariat dengan uji chi-square antara sikap terhadap COVID-19 dengan karakteristik responden. Pada responden di Kota Medan, nilai rata-rata sikap tertinggi adalah pada usia 20 – 29 tahun, jenis kelamin perempuan, profesi tenaga kesehatan, dan masa bekerja < 5 tahun.
Sebaliknya, pada responden di Kota Batam dijumpai nilai rata-rata tertinggi berada pada usia ≥ 50 tahun, jenis kelamin perempuan, profesi tenaga kesehatan,
dan masa bekerja > 15 tahun. Berdasarkan tabel 4.12 di atas tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat sikap responden dengan karakteristik responden pada penelitian ini (p-value > 0,05). Olum, et al. (2020) dalam penelitiannya terhadap tenaga kesehatan di Uganda juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifkan antara sikap terhadap COVID-19 dengan karakteristik responden. Hal ini sesuai dengan pendapat Azwar (2011) yang tidak mencantumkan karakteristik sebagai faktor yang mempengaruhi sikap seseorang. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap adalah pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama, dan faktor emosional.
4.2.2.2.3. Gambaran Ketersediaan APD di Puskesmas
4.13. Distribusi responden berdasarkan ketersediaan APD di Puskesmas.
Variabel
Frekuensi Jawaban
Baik (%) Kurang Baik (%) Kota Medan Kota Batam Kota Medan Kota Batam Ketersediaan APD 58 (47,2%) 46 (52,3%) 65 (52,8%) 42 (47,7%)
Berdasarkan tabel 4.13 di atas, ketersediaan APD baik di Kota Medan dan Kota Batam sama-sama menunjukkan jumlah yang hampir seimbang. Responden di Kota Batam sedikit lebih banyak yang menjawab ketersediaan APD baik (52,3%). Sebaliknya, responden di Kota Medan lebih banyak yang menjawab ketersediaan APD buruk (52,8%). Hal ini berarti ketersediaan APD di Kota Medan dan Kota Batam sama-sama belum terpenuhi secara maksimal untuk seluruh tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas. Menurut Wang J, et al. (2020), beberapa negara juga mendapati adanya ketersediaan APD yang kurang selama pandemi COVID-19. Hal ini terjadi karena permintaan APD yang meningkat pesat akibat tingginya pasien yang terinfeksi COVID-19 sehingga seluruh fasilitas kesehatan harus melindungi tenaga kerjanya agar dapat bekerja optimal selama pandemi COVID-19 ini.
Jenis APD yang minim jumlahnya di Kota Medan seperti yang digambarkan pada tabel 4.14 di bawah adalah masker N95 (14,6%), gaun sekali pakai/coverall medis/celemek medis (65%), sepatu boots/penutup sepatu (65%), dan pelindung mata/kacamata pelindung/googles (65,9%). Sedangkan di Kota Batam dijumpai sepatu boots/penutup sepatu (65,9%) dan penutup kepala (69,3%) yang ketersediaannya sedikit. Puskesmas sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (Faskes I) hanya memberikan pelayanan kesehatan dasar sehingga jarang melakukan tindakan yang menimbulkan aerosol dan tidak merawat pasien COVID-19 secara intensif. APD yang diperlukan tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas sebagian besar berada pada level 1 sehingga penyediaan masker N95, gaun sekali pakai/coverall medis/celemek medis, sepatu boots/penutup sepatu, pelindung mata/kacamata pelindung/googles, dan penutup kepala kurang diperhatikan oleh otoritas kesehatan.
Berdasarkan tabel 4.15 di bawah, diperoleh jawaban yang sama mengenai pihak yang menyediakan APD yaitu 45,5% responden di Kota Medan dan 84,1%
responden di Kota Batam menjawab bantuan sosial sebagai pihak penyedia yang paling banyak menyediakan APD yang responden gunakan saat bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19 dibandingkan oleh pihak Puskesmas sendiri dan Dinas Kesehatan setempat.
4.14. Distribusi Alat Pelindung Diri (APD) yang tersedia di Puskesmas.
APD yang Tersedia Jumlah (%)
Kota Medan Kota Batam
Masker medis 123 (100%) 84 (95,5%)
Masker N95 18 (14,6%) 76 (86,4%)
Pelindung mata/kacamata pelindung/googles 81 (65,9%) 75 (85,2%)
Pelindung wajah/face shield 112 (91,1%) 72 (81,8%)
Sarung tangan sekali pakai 115 (93,5%) 81 (92,1%)
Gaun sekali pakai/coverall medis/celemek medis 80 (65%) 64 (72,7%)
Penutup kepala 110 (89,4%) 61 (69,3%)
Sepatu boots/penutup sepatu 80 (65%) 58 (65,9%)
4.15. Distribusi penyedia APD yang digunakan tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas.
Penyedia APD Jumlah (%)
Kota Medan Kota Batam
Diri sendiri 27 (22%) 40 (45,5%)
Puskesmas 44 (35,8%) 39 (44,3%)
Dinas Kesehatan 50 (40,7%) 58 (65,9%)
Bantuan sosial 56 (45,5%) 74 (84,1%)
4.2.2.2.4. Gambaran Kualitas APD di Puskesmas
4.16. Distribusi responden berdasarkan kualitas APD di Puskesmas.
Pertanyaan
Frekuensi Jawaban
Baik (%) Kurang Baik (%) Kota Medan Kota Batam Kota Medan Kota Batam Kenyamanan saat digunakan 45 (36,6%) 17 (19,3%) 78 (63,4%) 71 (80,7%) Kesesuaian dengan ukuran tubuh 53 (43,1%) 43 (48,9%) 70 (56,9%) 45 (51,1%)
Kualitas APD (mean ± SD) Baik
Kurang Baik
Kota Medan Kota Batam
49,70 ± 22,89 33 (26,8%) 90 (73,2%)
45,17 ± 19,83 9 (10,2%) 79 (89,8%)
Berdasarkan tabel 4.16 di atas, nilai rata-rata jawaban responden terhadap kualitas APD secara keseluruhan untuk kedua lokasi penelitian adalah kurang dari 50%. Sebanyak 73,2% responden di Kota Medan dan 89,8% responden di Kota Batam merasa kualitas APD di tempat mereka bekerja adalah kurang baik.
Diperoleh 63,4% responden di Kota Medan dan 80,7% responden di Kota Batam merasa tidak nyaman selama menggunakan APD. Ketidaknyaman ini terjadi akibat penggunaan beberapa jenis APD sekaligus sehingga menimbulkan kelelahan, berkeringat, sakit kepala, dehidrasi, iritasi, dan pandangan berkabut.
Diperoleh juga 56,9% responden di Kota Medan dan 51,1% responden di Kota Batam merasa APD yang mereka gunakan tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya.
Hasil ini mirip dengan studi systematic review yang dilakukan oleh Houghton, et al. (2020) dimana ditemukan banyak tenaga kesehatan yang merasa APD yang
mereka gunakan tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Rendahnya kualitas APD yang teridentifikasi dikarenakan penggunaan bahan yang tidak tepat dan tidak sesuai standar yang telah ditetapkan sehingga menimbulkan ketidaknyaman saat digunakan (Houghton, et al., 2020).
4.2.2.2.5. Gambaran Ketersediaan Fasilitas Kebersihan di Puskesmas
4.17. Distribusi responden berdasarkan ketersediaan fasilitas kebersihan di Puskesmas.
Pertanyaan
Frekuensi Jawaban
Baik (%) Kurang Baik (%) Kota Medan Kota Batam Kota Medan Kota Batam Ketersediaan sabun cuci tangan 95 (77,2%) 48 (54,6%) 28 (22,8%) 40 (45,5%) Ketersediaan air mengalir 90 (73,2%) 67 (76,1%) 33 (26,8%) 21 (23,9%) Ketersediaan hand
sanitizer/hand gel/alcohol gel 80 (65%) 60 (68,2%) 43 (35%) 28 (31,8%) Penyemprotan desinfektan oleh
petugas kebersihan 81 (65,9%) 52 (59,1%) 42 (34,1%) 36 (40,9%)
Ketersediaan Fasilitas Kebersihan (mean ± SD) Baik
Kurang Baik
Kota Medan Kota Batam
72,92 ± 21,68 70 (56,9%) 53 (43,1%)
71,31 ± 17,15 40 (45,5%) 48 (54,5%)
Berdasarkan tabel 4.17 di atas, didapatkan hasil penelitian tentang ketersediaan fasilitas kebersihan baik di Kota Medan dan Kota Batam sama-sama menunjukkan jumlah yang hampir seimbang antara ketersediaannya baik dan kurang baik. Responden di Kota Medan sedikit lebih banyak yang menjawab ketersediannya baik (56,9%), sedangkan di Kota Batam lebih banyak yang menjawab ketersediaannya kurang baik (54,5%). Hal ini berarti ketersediaan fasilitas kebersihan di Puskesmas baik di Kota Medan dan Kota Batam belum tersedia dengan baik dan merata. Dari tabel di atas ditemukan masing-masing sebanyak 35% dan 34,1% responden menjawab ketersediaan hand sanitizer/hand gel/alcohol gel dan penyemprotan desinfektan oleh petugas kebersihan di
Puskesmas di Kota Medan masih kurang baik. Sedangkan di Kota Batam, sebanyak 45,5% dan 40,9% responden masih menjawab ketersediaan sabun cuci tangan dan penyemprotan desinfektan oleh petugas kebersihan di Puskesmas kurang baik. Hasil penelitian ini mirip dengan hasil dari studi systematic review yang dilakukan oleh Houghton, et al. (2020) dimana pada beberapa studi ditemukan ketersediaan sabun cuci tangan dan air mengalir di fasilitas kesehatan juga terbatas.
4.2.2.2.6. Gambaran Pelatihan Pencegahan Infeksi di Puskesmas
4.18. Distribusi responden berdasarkan pelatihan pencegahan infeksi di Puskesmas.
Variabel
Frekuensi Jawaban
Pernah (%) Tidak Pernah (%) Kota Medan Kota Batam Kota Medan Kota Batam Pelatihan 52 (42,3%) 45 (51,1%) 71 (57,7%) 43 (48,9%)
Berdasarkan tabel 4.18 di atas, didapatkan hasil bahwa hanya 42,3%
responden di Kota Medan dan 51,1% responden di Kota Batam yang pernah mendapatkan pelatihan mengenai praktik pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas. Hal ini berarti pelatihan mengenai pencegahan infeksi di fasilitas kesehatan belum didapat oleh semua tenaga kesehatan dan non-kesehatan baik di Puskesmas di Kota Medan dan di Kota Batam. Pada studi systematic review terkait, ditemui mayoritas tenaga kesehatan dalam beberapa penelitian mengeluhkan bahwa pelatihan mengenai praktik pencegahan infeksi tidak diberikan secara merata kepada semua pegawai di fasilitas kesehatan. Pelatihan kebanyakan hanya diberikan kepada pemimpin bukan kepada tenaga kesehatan yang menangani pasien secara langsung (Houghton, et al., 2020). Menurut Notoatmodjo (2010), pelatihan adalah upaya yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan atau keterampilan karyawan yang sudah menduduki suatu pekerjaan atau tugas tertentu. Pelatihan mengenai Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan di fasilitas
pelayanan kesehatan, sehingga melindungi sumber daya manusia kesehatan, pasien, dan masyarakat dari penyakit infeksi yang terkait pelayanan kesehatan (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2017).
4.2.2.2.7. Gambaran Pengawasan Perilaku Pencegahan Infeksi di Puskesmas
4.19. Distribusi responden berdasarkan pengawasan perilaku pencegahan infeksi di Puskesmas selama pandemi COVID-19.
Variabel
Frekuensi Jawaban
Ada (%) Tidak Ada (%)
Kota Medan Kota Batam Kota Medan Kota Batam Pengawasan 97 (78,9%) 61 (69,3%) 26 (21,1%) 27 (30,7%)
Berdasarkan tabel 4.19 di atas, diperoleh 78,9% responden di Kota Medan dan 69,3% responden di Kota Batam menjawab bahwa sudah ada mendapatkan pengawasan terhadap perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19. Hal ini berarti pengawasan terhadap para petugas di Puskesmas sudah dilakukan namun belum optimal. Pengawasan adalah hal yang penting dilakukan karena menurut Siagian (2003), pengawasan ialah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa berbagai kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
4.2.2.2.8. Gambaran Kepuasan terhadap Fasilitas Pencegahan Infeksi di Puskesmas
4.20. Distribusi responden berdasarkan kepuasan terhadap fasilitas pencegahan infeksi di Puskesmas selama pandemi COVID-19.
Variabel
Frekuensi Jawaban
Puas (%) Kurang Puas (%) Kota Medan Kota Batam Kota Medan Kota Batam Kepuasan terhadap fasilitas
pencegahan infeksi 47 (38,2%) 33 (37,5%) 76 (61,8%) 55 (62,5%)
Berdasarkan tabel 4.20 di atas, diperoleh 61,8% responden di Kota Medan dan 62,5% responden di Kota Batam merasa kurang puas terhadap fasilitas yang tersedia di Puskesmas terkait upaya pencegahan infeksi selama pandemi COVID-19. Kepuasan adalah perasaan senang seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (atau hasil) yang diharapkan (Kotler & Keller, 2009). Kurangnya kepuasan responden yang teridentifikasi dalam penelitian ini terjadi karena hasil yang dalam ini adalah mengenai fasilitas yang dapat membuat responden merasa aman dan terlindungi dari paparan virus COVID-19 seperti yang responden harapkan tidak tercapai.
Tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas merasa kualitas dan kuantitas sarana prasarana yang tersedia di Puskesmas belum dapat membuat responden merasa aman dan terlindungi dari paparan virus COVID-19. Hal ini terlihat dari ditemukannya jawaban sebagian besar responden mengenai ketersediaan APD, kualitas APD, dan ketersediaan fasilitas kebersihan yang tersedia di Puskesmas baik di Kota Medan dan di Kota Batam masih kurang baik.
4.2.3. Hasil Analisis Bivariat
4.2.3.1. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan mengenai COVID-19 dengan Perilaku Pencegahan Infeksi Saat Bekerja di Puskesmas selama Pandemi COVID-19
Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah Kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19, maka dilakukan analisis bivariat dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Korelasi kedua variabel diperoleh sebagai tabel berikut:
4.21. Analisis bivariat antara tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19.
Variabel
P-value Kota Medan Kota Batam
0,139 0,225
Berdasarkan hasil tabulasi silang pada tabel 4.21, responden yang berpengetahuan baik dan berperilaku baik di Kota Medan sebanyak 75,2%
sedangkan di Kota Batam sebanyak 77,3%. Responden yang berpengetahuan kurang baik dan memiliki perilaku yang kurang baik di Kota Medan sebanyak 7,1% sedangkan di Kota Batam sebanyak 38,5%. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kecenderungan untuk responden yang memiliki pengetahuan baik mengenai COVID-19 akan memiliki perilaku pencegahan infeksi yang baik ataupun responden dengan pengetahuan kurang baik mengenai COVID-19 akan memiliki perilaku pencegahan infeksi yang kurang baik pula. Di Kota Medan, responden yang memiliki perilaku baik lebih banyak yang memiliki pengetahuan
kurang baik (75,2%), sedangkan responden yang memilki perilaku kurang baik lebih banyak yang memiliki pengetahuan baik (92,9%). Di Kota Batam, responden yang memiliki perilaku baik lebih banyak yang memiliki pengetahuan baik (77,3%), sedangkan responden yang memilki perilaku kurang baik lebih banyak yang memiliki pengetahuan kurang baik (38,5%). Tenaga kesehatan dan non-kesehatan yang berpengetahuan baik maupun kurang baik memiliki persentase yang hampir sama besar untuk berperilaku baik.
Pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2012). Teori ini menjelaskan bahwa pengetahuan adalah domain yang sangat penting untuk membentuk tindakan atau perilaku seseorang (Azwar, 2011). Perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng dibanding dengan perilaku yang tidak didasari pengetahuan.
Berdasarkan hasil analisis pada tabel 4.21 dengan menggunakan uji chi square di kedua lokasi penelitian diperoleh nilai p-value > 0,05 sehingga Ha ditolak dan Ho diterima. Ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya mengenai COVID-19 pada tenaga kesehatan di Nepal oleh Nepal, et al. (2020) dan di Pakistan oleh Saqlain, et al. (2020) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku. Namun, penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putra (2012) pada mahasiswa profesi keperawatan di Universitas Indonesia yang menyatakan bahwa juga tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan infeksi dalam hal penggunaan APD. Dalam penelitiannya juga dijelaskan bahwa terdapat faktor lain selain pengetahuan yang dapat mempengaruhi perilaku pencegahan infeksi. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat faktor lain selain pengetahuan yang dapat mempengaruhi perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas selama
pandemi COVID-19 yang akan dibahas pada sub-bab selanjutnya. Berdasarkan hasil di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, akan tetapi dapat dipengaruhi oleh faktor predisposisi lainnya, faktor pendukung, dan faktor pendorong (Notoatmodjo, 2012).
Putri (2017) dalam penelitiannya mengenai analisis faktor yang berhubungan dengan kepatuhan menggunakan APD juga menyatakan bahwa pengetahuan tidak berhubungan dengan kepatuhan menggunakan APD dikarenakan pengetahuan yang dimiliki responden hanya sampai pada pengetahuan tingkat pertama. Dari hasil tersebut peneliti berasumsi bahwa sebagian besar tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Kota Medan dan Kota Batam memang telah memiliki pengetahuan yang baik namun pada kenyataannya pengetahuan yang baik tidak menjamin bahwa tenaga kesehatan dan non-kesehatan akan memiliki perilaku pencegahan infeksi yang baik juga saat mereka bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19. Waktu pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan ke-2 dan bulan ke-3 setelah pertama kali kasus COVID-19 teridentifikasi di Indonesia pada awal Maret 2020. Hal ini membuat pengetahuan mengenai COVID-19 yang dimiliki oleh tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Kota Medan dan Kota Batam baru sampai pada pengetahuan tingkat pertama, sehingga tidak ada jaminan bahwa tenaga kesehatan dan non-kesehatan yang memiliki pengetahuan baik akan berperilaku baik pula. Hal ini sesuai dengan teori yang disampaikan Notoatmodjo (2012) yang menyatakan bahwa pengetahuan tingkat pertama merupakan pengetahuan yang sekedar mengetahui informasi yang diterima. Tingginya pengetahuan yang teridentifikasi dalam penelitian ini berarti tenaga kesehatan dan non-kesehatan yang bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19 baik di zona merah di Kota Medan maupun di Kota Batam baru memasuki tahap mengetahui informasi namun belum mampu memahami dan mengaplikasikannya.
4.2.3.2. Hubungan antara Sikap terhadap COVID-19 dengan Perilaku Pencegahan Infeksi Saat Bekerja di Puskesmas selama Pandemi COVID-19
Untuk mengetahui hubungan antara sikap terhadap COVID-19 dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah Kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19, maka dilakukan analisis bivariat dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Korelasi kedua variabel diperoleh sebagai tabel berikut:
4.22. Analisis bivariat antara sikap terhadap COVID-19 dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas pandemi COVID-19.
P-value Kota Medan Kota Batam
0,036 0,175
Berdasarkan hasil tabulasi silang pada tabel 4.22, responden yang memiliki sikap positif dan berperilaku baik di Kota Medan sebanyak 85,2% sedangkan di Kota Batam sebanyak 80,9%. Responden yang memiliki sikap negatif dan memiliki perilaku yang kurang baik di Kota Medan sebanyak 30,6% sedangkan di Kota Batam sebanyak 31,7%. Di Kota Medan, responden yang memiliki perilaku baik lebih banyak yang memiliki sikap positif (85,2%), sedangkan responden yang memilki perilaku kurang baik lebih banyak yang memiliki sikap negatif (30,6%). Di Kota Batam, responden yang memiliki perilaku baik lebih banyak yang memiliki sikap positif (80,9%), sedangkan responden yang memilki perilaku kurang baik lebih banyak yang memiliki sikap negatif (38,5%). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kecenderungan untuk responden yang memiliki
sikap positif terhadap COVID-19 akan memiliki perilaku pencegahan infeksi yang baik ataupun responden yang memiliki sikap negatif terhadap COVID-19 akan memiliki perilaku pencegahan infeksi yang kurang baik pula.
Sikap merupakan faktor yang terdapat dalam diri individu yang mampu memberikan dampak terhadap perilaku yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2012). Penerimaan perilaku atau adopsi perilaku yang didasari oleh sikap yang positif maka perilaku tersebut dapat bersifat langgeng (long lasting). Berdasarkan hasil analisis pada tabel 4.22 dengan menggunakan uji chi square di kedua lokasi penelitian diperoleh nilai p-value yang berbeda. Hasil analisis data di Kota Medan diperoleh nilai p-value < 0,05 (p = 0,036) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima
Sikap merupakan faktor yang terdapat dalam diri individu yang mampu memberikan dampak terhadap perilaku yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2012). Penerimaan perilaku atau adopsi perilaku yang didasari oleh sikap yang positif maka perilaku tersebut dapat bersifat langgeng (long lasting). Berdasarkan hasil analisis pada tabel 4.22 dengan menggunakan uji chi square di kedua lokasi penelitian diperoleh nilai p-value yang berbeda. Hasil analisis data di Kota Medan diperoleh nilai p-value < 0,05 (p = 0,036) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima