• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Analisis Univariat

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Hasil dan Pembahasan

4.2.2. Hasil Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian, baik variabel dependen maupun variabel independen.

4.2.2.1. Variabel Dependen

4.2.2.1.1. Gambaran Perilaku Pencegahan Infeksi

4.3. Distribusi responden berdasarkan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19. Menggunakan kembali APD yang telah

digunakan 56 (45,5%) 58 (65,9%) 67 (54,5%) 30 (34,1%)

Mencuci tangan 118 (95,9%) 81 (92,1%) 5 (4,1%) 7 (7,9%)

Mendesinfeksi peralatan di lingkungan

kerja 110 (89,4%) 78 (88,6%) 13 (10,6%) 10 (11,4%)

Perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas selama Pandemi COVID-19 (mean ± SD)

Baik Kurang Baik

Kota Medan Kota Batam

80,74 ± 13,19

Berdasarkan tabel 4.3, dapat diketahui bahwa lebih dari 70% tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Kota Medan dan Kota Batam sudah memiliki perilaku pencegahan infeksi yang baik sama seperti beberapa penelitian serupa yang sebelumnya telah dilakukan pada tenaga kesehatan di Nepal (Nepal, et al., 2020), Pakistan (Saqlain, et al., 2020), dan Uganda (Olum, et al., 2020) selama pandemi COVID-19. Menurut Wawan & M (2010), perilaku merupakan suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi, dan tujuan baik disadari maupun tidak. Perilaku yang baik terjadi ketika interaksi dari stimulus dapat mencapai tujuan yang akan dicapai yaitu mencegah infeksi yang didapat saat bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19. Perilaku pencegahan infeksi dalam penelitian ini terdiri dari 4 aspek yaitu menggunakan APD,

menggunakan kembali APD yang telah digunakan, mencuci tangan, dan mendesinfeksi peralatan di lingkungan kerja.

Meskipun dalam tabel 4.3 sudah diperoleh lebih dari 70% responden memiliki perilaku yang baik, namun dari tabel 4.4 di bawah diketahui bahwa belum semua responden di Kota Medan dan Kota Batam memakai APD secara lengkap berdasarkan tingkat perlindungan untuk setiap jenis pekerjaan saat bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19. Dokter gigi, petugas farmasi, tenaga struktural, teknisi biomedika, dan petugas kebersihan merupakan jenis pekerjaan yang paling banyak belum memakai APD dengan lengkap. Hal ini juga diikuti oleh rendahnya kesadaran responden tersebut mengenai jenis APD yang sebenarnya mereka perlukan. Alasan terbanyak yang didapatkan dari keseluruhan responden di Kota Medan dan Kota Batam adalah karena ketersediaan APD yang langka membuat mereka tidak memakai APD dengan lengkap. Menggunakan APD dengan lengkap adalah hal yang penting dan harus diprioritaskan untuk dilakukan oleh tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dari pandemi COVID-19 (World Health Organization (WHO), 2020). Pemakaian APD merupakan upaya mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja oleh bahaya potensial yang tidak dapat dihilangkan atau dikendalikan (Suma'mur P.K., 2009).

Aspek kedua dalam perilaku pencegahan infeksi juga belum sepenuhnya dilakukan dengan baik oleh seluruh responden. Ditemui 65,9% responden di Kota Batam dan 45,5% responden di Kota Medan masih menggunakan kembali APD yang telah digunakan saat bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19.

Proses desinfeksi dan penggunaan kembali APD yang telah digunakan dapat membahayakan keutuhan APD dan menurunkan keefektifannya saat digunakan (Ontario Agency for Health Protection and Promotion, 2020).

Aspek lainnya yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah dalam hal mencuci tangan. Di Kota Medan, ditemui 4 dari 13 profesi yaitu dokter gigi, petugas kesehatan lingkungan, dukungan manajemen, dan petugas kebersihan belum melakukan seluruh momen cuci tangan yang harus mereka lakukan saat bekerja. Di Kota Batam, ditemui 10 dari 15 profesi yaitu dokter umum, dokter

gigi, perawat, bidan, petugas kesehatan masyarakat, petugas kesehatan lingkungan, tenaga struktural, teknisi biomedis, keteknisian medis, dan dukungan manajemen belum melakukan seluruh momen cuci tangan yang harus dilakukan.

Alasan terbanyak dari keseluruhan responden adalah tidak tersedia akses sabun dan air mengalir atau hand sanitizer/hand gel/alcohol gel yang memadai.

Kebersihan tangan adalah hal yang sangat penting untuk mencegah penyebaran virus COVID-19 dengan 5 momen cuci tangan beserta 2 momen tambahan yaitu sebelum dan sesudah menggunakan APD (World Health Organization (WHO), 2020). Jika perilaku pencegahan infeksi yang didapat saat bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19 tidak dilakukan secara menyeluruh pada semua aspek, maka dapat membahayakan dan meningkatkan risiko kejadian infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan akibat perilaku pencegahan infeksi yang kurang baik.

4.4. Distribusi Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas selama pandemi COVID-19.

Jenis Pekerjaan APD yang Digunakan Persepsi APD yang Diperlukan Kota Medan Kota Batam Kota Medan Kota Batam

Dokter umum 2 dari 2 APD Petugas Kesehatan Masyarakat 1 dari 1 APD

digunakan 1 dari 1 APD

digunakan 1 dari 1 APD

diperlukan 1 dari 1 APD diperlukan Petugas Kesehatan Lingkungan 1 dari 1 APD

digunakan Teknisi Biomedika 3 dari 4 APD

digunakan Keteknisian Medis 1 dari 1 APD

digunakan 1 dari 1 APD

digunakan 1 dari 1 APD

diperlukan 1 dari 1 APD diperlukan Dukungan Manajemen 1 dari 1 APD

digunakan 1 dari 1 APD

digunakan 1 dari 1 APD

diperlukan 1 dari 1 APD diperlukan Petugas Kebersihan 1 dari 5 APD

digunakan 2 dari 5 APD

digunakan 0 dari 5 APD

diperlukan 2 dari 5 APD diperlukan

Petugas Keamanan 1 dari 1 APD

digunakan 1 dari 1 APD

digunakan 1 dari 1 APD

diperlukan 1 dari 1 APD diperlukan

Petugas Pendaftaran - 1 dari 2 APD

digunakan - 2 dari 2 APD

diperlukan

4.5. Distribusi alasan tidak menggunakan APD pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas selama pandemi COVID-19.

Alasan Tidak Menggunakan APD Jumlah (%)

Kota Medan Kota Batam

Tidak diperlukan 2 (1,6%) 21 (23,9%)

Tidak tersedia di Puskesmas 51 (41,5%) 20 (22,7%)

Ketersediaan langka 54 (43,9%) 44 (50%)

Tidak nyaman digunakan 35 (28,5%) 6 (6,8%)

4.6. Distribusi kebiasaan mencuci tangan yang dilakukan tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas selama pandemi COVID-19.

Jenis Pekerjaan Momen Cuci Tangan yang Dilakukan

Kota Medan Kota Batam

Dokter umum 7 dari 7 momen dilakukan 5 dari 7 momen dilakukan Dokter gigi 3 dari 7 momen dilakukan 3 dari 7 momen dilakukan Perawat 7 dari 7 momen dilakukan 4 dari 7 momen dilakukan

Bidan 7 dari 7 momen dilakukan 6 dari 7 momen dilakukan

Petugas Farmasi 5 dari 7 momen dilakukan 3 dari 7 momen dilakukan Petugas Kesehatan Masyarakat 4 dari 7 momen dilakukan 2 dari 7 momen dilakukan Petugas Kesehatan Lingkungan 4 dari 7 momen dilakukan 1 dari 7 momen dilakukan Petugas Gizi 7 dari 7 momen dilakukan 7 dari 7 momen dilakukan

Struktural - 0 dari 7 momen dilakukan

Teknisi Biomedika 6 dari 7 momen dilakukan 0 dari 7 momen dilakukan Keteknisian Medis 7 dari 7 momen dilakukan 6 dari 7 momen dilakukan Dukungan Manajemen 2 dari 7 momen dilakukan 0 dari 7 momen dilakukan Petugas Kebersihan 1 dari 7 momen dilakukan 0 dari 7 momen dilakukan Petugas Keamanan 3 dari 7 momen dilakukan 2 dari 7 momen dilakukan

Petugas Pendaftaran - 4 dari 7 momen dilakukan

4.7. Distribusi alasan tidak melakukan momen cuci tangan pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas selama pandemi COVID-19.

Alasan Tidak Mencuci Tangan Jumlah (%)

Kota Medan Kota Batam

Tidak diperlukan 8 (6,5%) 1 (1,1%)

Tidak sempat dilakukan 16 (13%) 7 (7,9%)

Tidak tersedia akses sabun dan air mengalir atau hand sanitizer/hand gel/alcohol gel yang memadai

17 (13,8%) 8 (9,1%)

4.2.2.2. Variabel Independen

4.2.2.2.1. Gambaran Tingkat Pengetahuan mengenai COVID-19

4.8. Distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan mengenai COVID-19.

Pertanyaan

Frekuensi Jawaban Benar (%)

Kota Medan Kota Batam 1. COVID-19 adalah penyakit infeksi virus. 123 (100%) 88 (100%) 2. COVID-19 ditularkan melalui kontak dekat dengan orang yang

terinfeksi. 119 (96,7%) 84 (95,5%)

3. Demam, batuk, sakit tenggorokan, dan sesak napas adalah gejala

yang mungkin terjadi pada orang yang terinfeksi COVID-19. 120 (97,6%) 86 (97,7%) 4. Waktu yang dibutuhkan virus COVID-19 dari waktu terpapar

hingga menimbulkan gejala adalah 2 minggu. 118 (95,9%) 83 (94,3%)

5. Vaksin COVID-19 telah tersedia. 120 (97,6%) 83 (94,3%)

6. Antibiotik adalah pilihan obat yang pertama diberikan kepada

pasien COVID-19. 69 (56,1%) 56 (63,6%)

7. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menggunakan masker untuk menutupi mulut dan hidung bisa membantu untuk mencegah penularan COVID-19.

122 (99,2%) 88 (100%)

8. Semua orang yang terinfeksi COVID-19 akan berkembang

menjadi kasus yang parah. 77 (62,6%) 47 (53,4%)

9. Tenaga kesehatan tidak memiliki risiko yang tinggi untuk

terinfeksi COVID-19. 110 (89,4%) 81 (92%)

10. COVID-19 bisa menyebabkan kematian. 119 (96,7%) 75 (85,2%)

11. Berbeda dengan flu biasa, hidung tersumbat, hidung berair, dan bersin lebih sering ditemukan pada orang yang terinfeksi COVID-19.

49 (39,8%) 47 (53,4%)

12. Klorokuin telah terbukti efektif untuk menyembuhkan infeksi

COVID-19. 67 (54,5%) 59 (67%)

13. Memakan atau berhubungan dengan binatang bisa menyebabkan

infeksi COVID-19. 80 (65%) 65 (73,9%)

14. Orang yang terinfeksi COVID-19 tidak bisa menyebarkan virus

ke orang lain jika tidak menunjukkan gejala. 115 (93,5%) 76 (86,4%) 15. COVID-19 menyebar melalui percikan air liur orang yang

terinfeksi saat batuk, bersin, dan berbicara. 123 (100%) 87 (98,9%) 16. Mengisolasi/memisahkan pasien di ruangan khusus dan

merawat pasien yang terinfeksi COVID-19 kurang efektif untuk mengurangi penyebaran virus.

104 (84,6%) 70 (79,5%)

17. Orang yang memiliki kontak dengan seseorang yang terinfeksi COVID-19 sebaiknya segera diisolasi/dipisahkan di tempat yang memadai dan diobservasi selama 14 hari.

122 (99,2%) 84 (95,5%)

18. COVID-19 ditularkan melalui udara, kontak, dan rute fekal-oral (memakan benda/makanan/minuman yang terkontaminasi tinja penderita).

85 (69,1%) 59 (67%)

19. Vaksin influenza cukup untuk mencegah COVID-19. 98 (79,9%) 80 (90,9%) 20. COVID-19 bisa menyebar dalam bentuk partikel atau percikan

yang tergantung di udara dan bisa ditularkan melalui udara. 93 (75,6%) 70 (79,5%)

Pengetahuan mengenai COVID-19 (mean ± SD) Baik

Kurang Baik

Kota Medan Kota Batam 82,64 ± 9,48 pengetahuan responden secara keseluruhan untuk kedua lokasi penelitian mencapai lebih dari 80%. Hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa sebagian besar tenaga kesehatan dan non-kesehatan baik di Kota Medan (88,6%) maupun Kota Batam (85,2%) memiliki pengetahuan yang baik mengenai COVID-19. Hal ini mirip dengan penelitian yang dilakukan pada tenaga kesehatan di Vietnam

(Giao, et al., 2020), China (Zhou, et al., 2020), Nepal (Nepal, et al., 2020), Pakistan (Saqlain, et al., 2020), Uganda (Olum, et al., 2020), dan Egypt (Abdel Wahed, et al., 2020) terhadap pengetahuan mengenai COVID-19. Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan yang baik adalah ketika individu telah mampu mengetahui, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi stimulus yang dalam penelitian ini mengenai COVID-19.

Seperti yang tertera dalam tabel 4.8 di atas, pertanyaan tentang pengertian COVID-19 sudah dijawab benar oleh 100% responden di Kota Medan dan Kota Batam. Pertanyaan mengenai pencegahan umum COVID-19 sudah dijawab benar oleh 100% responden di Kota Batam dan pertanyaan mengenai cara penularan COVID-19 melalui air liur juga sudah dijawab benar oleh 100% responden di Kota Medan. Sebagian besar pertanyaan sudah dijawab benar oleh seluruh responden terutama perihal pengertian, faktor risiko, cara penularan, gejala klinis, waktu inkubasi virus COVID-19, ketersediaan vaksin, pencegahan, tingkat fatalitas, dan proses isolasi pada pasien COVID-19. Walaupun demikian, masih ada beberapa pertanyaan yang sebagian besar dijawab salah oleh responden. Hal ini berarti responden masih belum memiliki pengetahuan yang mendalam pada semua aspek COVID-19.

Diketahui bahwa pertanyaan yang paling banyak salah di kedua lokasi penelitian adalah sama, yaitu hanya 39,8% responden di Kota Medan dan 53,4%

responden di Kota Batam yang dapat membedakan perbedaan gejala klinis antara COVID-19 dengan flu biasa. Hasil dari penelitian ini berkebalikan dengan hasil penelitian yang dilakukan Zhong, et al. (2020) pada masyarakat di China yang menunjukan hasil bahwa 70,2% respoden sudah dapat membedakan gejala klinis COVID-19 dengan flu biasa. Hal ini mungkin disebabkan karena perbedaan waktu pengambilan data. Penelitian tersebut dilakukan pada masa awal kasus COVID-19 di dunia ditemukan, sedangkan penelitian ini dilakukan 6 bulan setelahnya dimana perkembangan gejala klinis pasien COVID-19 sudah semakin beraneka ragam dan sulit dibedakan dengan flu biasa.

Pertanyaan lain yang paling banyak salah di Kota Batam adalah mengenai apakah semua orang yang terinfeksi COVID-19 akan berkembang menjadi kasus yang parah dengan persentase yang menjawab benar hanya sebesar 53,4%.

Pertanyaan lain dengan skor terendah di Kota Medan adalah mengenai pengobatan pada kasus COVID-19. Ditemui 54,5% responden menjawab klorokuin telah terbukti efektif untuk menyembuhkan COVID-19 dan 56,1%

responden menjawab salah mengenai antibiotik sebagai terapi first-line untuk pasien COVID-19. Sampai saat ini, belum ada pengobatan khusus yang tersedia dan terbukti efektif untuk COVID-19 sehingga sering menimbulkan miskonsepsi pada tenaga kesehatan di dunia. Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Abdel Wahed, et al. (2020) dan Giao, et al. (2020) yang menyatakan bahwa hanya 38,3% tenaga kesehatan di Egypt dan 58,4% tenaga kesehatan di Vietnam yang menjawab benar mengenai penggunaan antibiotik sebagai terapi first-line untuk pasien COVID-19.

4.9. Distribusi tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 berdasarkan karakteristik responden.

Variabel

P-value Kota Medan Kota Batam

0,580 0,027

P-value Kota Medan Kota Batam

0,082 0,098

Dokter gigi 85,00 ± Petugas Farmasi 78,13 ±

7,99 93,00 ±

Teknisi Biomedika 82,50 ±

3,54 85,00 ±

5,00 2 (100%) 3 (100%) 0 (%) 0 (%) Keteknisian Medis 70,00 80,00 ±

7,07 0 (0%) 3 (75%) 1 (100%) 1 (25%) Dukungan Manajemen 82,50 ±

5,24 77,50 ±

16,37 6 (100%) 7 (70%) 0 (0%) 3 (30%) Petugas Kebersihan 60,00 ±

13,23

P-value Kota Medan Kota Batam

0,002 0,050

P-value Kota Medan Kota Batam

0,693 0,005

Tingkat pengetahuan yang tinggi pada responden mengenai COVID-19 dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan responden dalam penelitian ini maka

dilakukan analisis bivariat dengan uji chi-square antara tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 dengan karakteristik responden. Berdasarkan tabel 4.9 di atas, nilai rata-rata pengetahuan responden di Kota Medan tertinggi berada pada usia 40 – 49 tahun (84,00) dan terendah pada usia ≥ 50 tahun (81,43). Hal ini mirip dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Abdel Wahed, et al. (2020) yang menyatakan semakin tinggi usia maka pengetahuannya mengenai COVID-19 semakin rendah.

Sedangkan di Kota Batam nilai rata-rata pengetahuan responden tertinggi pada usia 30 – 39 tahun yang termasuk dalam kategori dewasa awal (86,11) dan terendah pada usia 20 – 29 tahun (76,25). Hal ini terjadi karena pada tahap dewasa awal kemampuan kognitif individu berada pada tahap yang prima dimana individu mudah mempelajari, melakukan penalaran logis, berpikir kreatif, dan belum terjadi penurunan ingatan (Potter & Perry, 2005). Selain itu, diperoleh nilai p-value < 0,05 (p = 0,027) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 pada responden di Kota Batam. Hal ini mirip dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nepal, et al.

(2020) yang menyatakan bahwa semakin tinggi usia maka pengetahuannya mengenai COVID-19 semakin tinggi. Menurut Mubarak (2011), usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Dengan bertambahnya usia individu, daya tangkap dan pola pikir seseorang akan lebih berkembang, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Hasil penelitian di Medan tidak sesuai dengan teori ini dikarenakan individu pada masa dewasa menengah sering mengalami kemunduran dalam daya ingat terutama terhadap informasi yang baru diperoleh yang dalam hal ini adalah mengenai COVID-19 (Azizah, 2014).

Nilai rata-rata pengetahuan responden berdasarkan jenis kelamin diperoleh hasil yang sama baik di Kota Medan dan Kota Batam yaitu perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Hasil ini serupa dengan penelitian terhadap pengetahuan mengenai COVID-19 yang dilakukan oleh Abdel Wahed, et al. (2020) pada tenaga kesehatan di Egypt. Berdasarkan jenis pekerjaan pada responden di Kota

Medan, dijumpai bahwa dokter umum memiliki nilai rata-rata pengetahuan tertinggi (87,59) dan petugas kebersihan memiliki nilai rata-rata terendah (60,00).

Diperoleh juga nilai p-value < 0,05 (p = 0,002) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara jenis pekerjaan dengan tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 pada responden di Kota Medan. Hal ini mirip dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nepal, et al. (2020) yang menyatakan dokter memiliki nilai rata-rata pengetahuan mengenai COVID-19 tertinggi dan terdapat hubungan yang signifikan.

Pada responden di Kota Batam dijumpai petugas farmasi memiliki nilai rata-rata pengetahuan tertinggi (93,00) dan petugas keamanan memiliki nilai rata-rata-rata-rata pengetahuan terendah (60,00). Hal ini mirip dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Giao, et al. (2020) yang menyatakan petugas farmasi memiliki nilai rata-rata pengetahuan mengenai COVID-19 tertinggi. Dokter maupun petugas farmasi harus aktif dalam mencari informasi karena peran aktif mereka dalam meningkatkan hasil pengobatan pasien COVID-19 (Saqlain, et al., 2020).

Menurut Mubarak (2011), lingkungan pekerjaan dapat membuat seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Teori ini cukup menjelaskan alasan terjadinya perbedaan skor pengetahuan yang cukup signifikan antara tenaga kesehatan dengan tenaga non-kesehatan dalam penelitian ini.

Berdasarkan masa bekerja, rata-rata pengetahuan responden di Kota Medan tertinggi berada pada masa bekerja 11 – 15 tahun (83,80) dan terendah pada 5 – 10 tahun (79,40). Sedangkan di Kota Batam tertinggi berada pada masa bekerja > 15 tahun (89,55) dan terendah pada < 5 tahun (76,82) serta diperoleh nilai p-value < 0,05 (p = 0,005) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara masa bekerja dengan tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 pada responden di Kota Batam. Hal ini sedikit mirip dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nepal, et al. (2020) yang menyatakan semakin lama masa bekerja responden maka rata-rata skor pengetahuannya mengenai COVID-19 akan semakin tinggi. Hasil dari penelitian ini sesuai dengan teori Mubarak (2011) yang

menyatakan bahwa pada umumnya semakin banyak pengalaman seseorang, semakin bertambah pengetahuan yang didapatkan.

4.2.2.2.2. Gambaran Sikap terhadap COVID-19

4.10. Distribusi responden berdasarkan sikap terhadap COVID-19.

Pertanyaan 1. Anda mungkin akan terinfeksi COVID-19. 54

(43,9%)

59 (67,1%)

69

(56,1%) 29 (32,9%) 2. Anda cemas salah satu anggota keluarga

anda akan terinfeksi COVID-19. 3. Anda masih akan berkunjung ke tempat yang

ramai. 6 (4,9%) 15

(17,1%)

117

(95,1%) 73 (82,9%)

4. Jika besok anda demam, bersin, dan batuk berarti anda terinfeksi COVID-19.

5. Bila terinfeksi COVID-19, anda akan diisolasi/dipisahkan di ruangan khusus di fasilitas kesehatan. 6. Penularan COVID-19 bisa dicegah dengan

sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

122 (99,2%)

82

(93,2%) 1 (0,8%) 6 (6,8%) 7. Anda akan terinfeksi COVID-19 jika

menerima kiriman barang dari Cina.

11

(8,9%) 22 (25%) 112

(91,1%) 66 (75%) 8. Anda yakin akan sembuh jika terinfeksi

COVID-19.

114 (92,7%)

80

(90,9%) 9 (7,3%) 8 (9,1%) 9. Anda takut melakukan pelayanan kepada

pasien selama pandemi COVID-19.

10. Jumlah penderita COVID-19 bisa menurun dengan partisipasi aktif dari seluruh tenaga kesehatan dan non kesehatan melalui program pencegahan infeksi di fasilitas kesehatan.

11. Jika vaksin COVID-19 telah tersedia, anda akan mendapatkannya.

114 (92,7%)

79

(89,8%) 9 (7,3%) 9 (10,2%) 12. Tenaga kesehatan dan non kesehatan siap

untuk berpartisipasi aktif melawan pandemi COVID-19 di masyarakat.

122 (99,2%)

86

(97,7%) 1 (0,8%) 2 (2,3%) 13. Anda setuju pandemi COVID-19 akan

berhasil dikendalikan. 14. Anda yakin bahwa Indonesia bisa menang

melawan COVID-19.

Menurut Anda, kapan pandemi COVID-19 berakhir di Indonesia?

Kota Medan Kota Batam

84 (68,3%) Sikap terhadap COVID-19 (mean ± SD)

Positif keseluruhan untuk kedua lokasi penelitian adalah kurang dari 80%. Hasil penelitian tentang sikap responden terhadap COVID-19 baik di Kota Medan dan Kota Batam sama-sama menunjukkan jumlah yang hampir seimbang antara responden dengan sikap positif dan negatif terhadap COVID-19. Responden di Kota Medan sedikit lebih banyak yang memiliki sikap negatif (50,4%). Hal ini mirip dengan penelitian di Uganda yang menyatakan sebagian besar tenaga kesehatan memiliki sikap yang negatif terhadap COVID-19 (Olum, et al., 2020).

Sebaliknya, responden di Kota Batam lebih banyak yang memiliki sikap positif (53,4%). Hal ini mirip dengan penelitian mengenai sikap terhadap COVID-19 pada tenaga kesehatan di Nepal (Nepal, et al., 2020), Pakistan (Saqlain, et al., 2020), dan Egypt (Abdel Wahed, et al., 2020). Menurut Notoatmodjo (2010), hal ini berarti belum semua responden mampu menerima, menanggapi, menghargai, dan bertanggung jawab terhadap stimulus yang dalam hal ini adalah mengenai COVID-19.

Dari 14 pertanyaan mengenai sikap terhadap COVID-19, pertanyaan sikap yang paling baik jawabannya adalah sebanyak 99,2% responden di Kota Medan dan 97,73% responden di Kota Batam setuju bahwa mereka siap untuk berpartisipasi aktif melawan pandemi COVID-19 di masyarakat. Pertanyaan sikap yang paling buruk jawabannya adalah hanya 43,9% responden di Kota Medan dan 67,1% responden di Kota Batam setuju bahwa mereka mungkin terinfeksi COVID-19. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Giao, et al. (2020) pada tenaga kesehatan di Vietnam yaitu sudah ditemui 82,3% tenaga kesehatan setuju bahwa mereka mungkin terinfeksi COVID-19.

Pada pertanyaan mengenai apakah tenaga kesehatan takut memberikan pelayanan kepada pasien selama pandemi COVID-19, ditemui 71,54% responden di Kota Medan menjawab tidak setuju sedangkan responden di Kota Batam hanya 54,6% yang menjawab tidak setuju. Seperti yang tertera dalam tabel 4.11 di bawah, diperoleh nilai p-value < 0,05 (p = 0,037) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara ketersediaan APD dengan sikap terhadap COVID-19 pada responden di Kota Medan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kumar, et al.

(2020), ketakutan tenaga kesehatan dapat diakibatkan karena kurangnya APD yang tersedia dan kurangnya dukungan dari otoritas kesehatan jika tenaga kesehatan ataupun keluarga mereka terinfeksi atau meninggal dunia akibat COVID-19. Hal ini juga didukung oleh pendapat Putra (2012) dalam penelitiannya yang menjelaskan bahwa rasa takut dan cemas terhadap pasien yang dapat menularkan penyakit mempengaruhi tenaga kesehatan untuk bersikap negatif.

4.11. Hubungan antara ketersediaan APD dengan sikap terhadap COVID-19.

Kota Medan Kota Batam Kota Medan Kota Batam Ketersediaan APD

Baik 23 (39,7%) 27 (58,7%) 35 (60,3%) 19 (41,3%)

Kurang Baik 38 (58,5%) 20 (47,6%) 27 (41,5%) 22 (52,4%)

P-value Kota Medan Kota Batam

0,037 0,298

4.12. Distribusi sikap terhadap COVID-19 dengan karakteristik responden.

Variabel

P-value Kota Medan Kota Batam

0,605 0,252

P-value Kota Medan Kota Batam

0,358 0,892 Petugas Farmasi 79,46 ±

4,48 79,29 ±

9,16 5 (62,5%) 2 (40%) 3

(37,5%) 3 (60%)

Petugas Kesehatan Teknisi Biomedika 79,47 ±

13,89 83,33 ±

9,93 2 (100%) 2 (66,7%) 0 (0%) 1 (33,3%) Keteknisian Medis 76,79 85,71 ±

6,84 1 (100%) 4 (100%) 0 (0%) 0 (0%) Dukungan Manajemen 76,19 ±

7,11

74,11 ±

6,48 2 (66,7%) 4 (40%) 1

(33,3%) 6 (60%) Petugas Kebersihan 68,45 ±

2,06 71,43 ±

P-value Kota Medan Kota Batam

0,450 0,162

P-value Kota Medan Kota Batam

0,528 0,680

Sikap responden terhadap COVID-19 dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi sikap responden dalam penelitian ini maka dilakukan analisis bivariat dengan uji chi-square antara sikap terhadap COVID-19 dengan karakteristik responden. Pada responden di Kota Medan, nilai rata-rata sikap tertinggi adalah pada usia 20 – 29 tahun, jenis kelamin perempuan, profesi tenaga kesehatan, dan masa bekerja < 5 tahun.

Sebaliknya, pada responden di Kota Batam dijumpai nilai rata-rata tertinggi berada pada usia ≥ 50 tahun, jenis kelamin perempuan, profesi tenaga kesehatan,

dan masa bekerja > 15 tahun. Berdasarkan tabel 4.12 di atas tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat sikap responden dengan karakteristik responden pada penelitian ini (p-value > 0,05). Olum, et al. (2020) dalam penelitiannya terhadap tenaga kesehatan di Uganda juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifkan antara sikap terhadap COVID-19 dengan karakteristik responden. Hal ini sesuai dengan pendapat Azwar (2011) yang tidak mencantumkan karakteristik sebagai faktor yang mempengaruhi sikap seseorang. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap adalah pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama, dan faktor emosional.

4.2.2.2.3. Gambaran Ketersediaan APD di Puskesmas

4.13. Distribusi responden berdasarkan ketersediaan APD di Puskesmas.

Variabel

Frekuensi Jawaban

Baik (%) Kurang Baik (%) Kota Medan Kota Batam Kota Medan Kota Batam

Baik (%) Kurang Baik (%) Kota Medan Kota Batam Kota Medan Kota Batam