DI KOTA MEDAN DAN KOTA BATAM SELAMA PANDEMI COVID-19
SKRIPSI
Oleh :
HELENA KEICYA FEININA PASARIBU 170100182
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DAN PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP MENGENAI COVID-19 DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN
INFEKSI SAAT BEKERJA PADA TENAGA KESEHATAN DAN NON-KESEHATAN DI PUSKESMAS DI ZONA MERAH DI KOTA MEDAN DAN KOTA BATAM SELAMA PANDEMI
COVID-19
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh :
HELENA KEICYA FEININA PASARIBU 170100182
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DAN PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
i
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap mengenai COVID-19 dengan Perilaku Pencegahan Infeksi saat Bekerja pada Tenaga Kesehatan dan Non-Kesehatan di Puskesmas di Zona Merah di Kota Medan dan Kota Batam selama Pandemi COVID-19” untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan pendidikan di program studi Sarjana Kedokteran, Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan dan penyelesaian skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak, diantaranya:
1. Kepada Prof. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) selaku dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan.
2. Kepada dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, M.Ked(Ped), Sp.A, PhD selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberi waktu, bimbingan, dan ilmu kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
3. Kepada dr. Cut Meliza Zainumi, M.Ked(An), Sp.An selaku ketua penguji dan kepada dr. Ranti Permatasari, Sp.PK selaku anggota penguji yang telah banyak memberikan saran dan nasihat dalam penyempurnaan skripsi ini.
4. Kepada dr. Meivina Ramadhani Pane, Sp.PD selaku dosen pembimbing akademik yang senantiasa membimbing selama masa perkuliahan di program studi S1 Pendidikan Dokter.
5. Kepada seluruh staf pengajar dan civitas akademik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas bimbingan dan ilmu yang diberikan dari mulai awal perkuliahan hingga penulis menyelesaikan skripsi ini.
iii
6. Teristimewa kepada seluruh keluarga penulis, terutama kedua orang tua, Parlindungan dan Luana Theresia, serta saudara kandung penulis, Christofer Valentino Pasaribu, yang senantiasa memberikan dukungan serta doa hingga penulis tetap semangat dan pantang menyerah dalam pelaksanaan dan penyelesaian penelitian ini.
7. Kepada sahabat dan kerabat terbaik penulis, Verlando Manurung, Sanian Inama, Elsa Yosephine, Sandra Gabriel, dan segenap angkatan 2017 beserta senior yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang selalu senantiasa memberikan semangat dan dukungan kepada penulis dari awal perkuliahan sampai terselesaikannya skripsi ini.
8. Kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam proses pengumpulan data penelitian ini baik di Kota Medan dan Kota Batam.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi materi yang disampaikan maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, segala saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangatlah diharapkan guna menyempurnakan hasil skripsi ini. Akhir kata, besar harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan mampu memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara terutama dalam bidang pendidikan terkhususnya ilmu kedokteran.
Medan, 16 Desember 2020 Penulis,
Helena Keicya Feinina Pasaribu NIM. 170100182
iv DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Pengesahan ... i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iv
Daftar Gambar ... vii
Daftar Tabel ... viii
Daftar Singkatan ... xi
Daftar Lampiran ... xi
Abstrak ... xii
Abstract ... xii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 7
1.3. Hipotesis ... 7
1.4. Tujuan Penelitian ... 7
1.4.1. Tujuan Umum ... 7
1.4.2. Tujuan Khusus ... 7
1.5. Manfaat Penelitian ... 9
1.5.1. Bidang Penelitian ... 9
1.5.2. Bidang Pendidikan ... 9
1.5.3. Bidang Pelayanan Masyarakat ... 9
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 11
2.1. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) ... 11
2.1.1. Definisi ... 11
2.1.2. Epidemiologi ... 11
2.1.3. Etiologi ... 15
2.1.4. Virologi ... 15
2.1.5. Tranmisi ... 17
2.1.5. Faktor Risiko ... 19
2.1.6. Patogenesis ... 19
v
2.1.7. Manifestasi Klinis ... 23
2.1.8. Pemeriksaan Penunjang ... 24
2.1.9. Diagnosis ... 26
2.1.10. Tatalaksana ... 27
2.1.12. Komplikasi ... 29
2.1.13. Prognosis ... 29
2.2. Pengetahuan ... 29
2.2.1. Definisi ... 29
2.2.2 Tingkat Pengetahuan ... 31
2.2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ... 33
2.3. Sikap ... 34
2.3.1. Definisi ... 34
2.3.2. Tingkat Sikap ... 35
2.3.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap ... 36
2.4. Perilaku ... 37
2.4.1. Definisi ... 37
2.4.2. Faktor-faktor dibalik Perilaku Manusia ... 37
2.4.3. Bentuk Perilaku ... 38
2.5. Pencegahan Infeksi COVID-19 Di Puskesmas ... 38
2.5.1. Alat Pelindung Diri (APD) ... 41
2.5.2. Hand Hygiene ... 48
2.6. Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) ... 53
2.6.1. Definisi ... 53
2.6.2. Jenis SDMK ... 54
2.7. Kerangka Teori ... 57
2.8. Kerangka Konsep ... 58
BAB III. METODE PENELITIAN ... 59
3.1. Jenis Penelitian ... 59
3.2. Lokasi Dan Waktu Penelitian ... 59
3.2.1. Lokasi Penelitian ... 59
3.2.2. Waktu Penelitian ... 60
3.3. Populasi Dan Sampel Penelitian ... 60
vi
3.3.1. Populasi Penelitian ... 60
3.3.2. Sampel Penelitian ... 60
3.3.3. Kriteria Penelitian ... 62
3.4. Alat Penelitian ... 63
3.5. Metode Pengumpulan Data ... 64
3.5.1. Variabel Penelitian ... 64
3.5.2. Cara Pengumpulan Data ... 64
3.5.3. Uji Instrumen ... 65
3.6. Metode Pengolahan Data ... 66
3.7. Metode Analisis Data ... 67
3.7.1. Analisis Univariat ... 67
3.7.2. Analisis Bivariat ... 67
3.7.3. Analisis Multivariat ... 67
3.8. Definisi Operasional ... 68
3.9. Etika Penelitian ... 70
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 71
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 71
4.2. Hasil dan Pembahasan ... 74
4.2.1. Karakteristik Responden Penelitian ... 74
4.2.2. Hasil Analisis Univariat ... 678
4.2.3. Hasil Analisis Bivariat ... 102
4.2.4. Hasil Analisis Multivariat ... 122
4.3. Keterbatasan Penelitian ... 123
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 125
4.1. Kesimpulan ... 125
4.2. Saran ... 127
DAFTAR PUSTAKA ... 128
LAMPIRAN ... 138
vii
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Diagram penyebaran kasus COVID-19 di seluruh dunia,
per 15 Maret 2020 ... 12
2.2 Grafik kasus COVID-19 di Indonesia, per 16 Mei 2020 ... 13
2.3 Peta persebaran kasus COVID-19 di Kota Batam, per 16 Mei 2020 ... 14
2.4 Peta persebaran kasus COVID-19 di Kota Medan, per 14 Juni 2020 ... 14
2.5 Struktur genom virus ... 16
2.6 Partikel coronavirus ... 16
2.7 Skema replikasi dan patogenesis virus ... 21
2.8 Manifestasi klinis COVID-19 ... 23
2.9 Skema perjalanan penyakit COVID-19 ... 24
2.10 Gambaran foto toraks pada pasien COVID-19 ... 25
2.11 Gambaran CT-Scan pada pasien COVID-19 ... 26
2.12 Faktor dibalik perilaku manusia ... 38
2.13 Rekomendasi APD berdasarkan tingkat perlindungan ... 53
2.14 Kerangka teori penelitian ... 57
2.15 Kerangka konsep penelitian ... 58
viii
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Persistensi berbagai jenis coronavirus pada berbagai
permukaan benda mati ... 18
2.2 Definisi operasional PDP dan ODP ... 27
2.3 Pedoman penggunaan APD dan hand hygiene berdasarkan lokasi, petugas, dan jenis aktivitas ... 50
3.1 Perhitungan jumlah sampel penelitian ... 62
3.2 Definisi operasional ... 68
4.1 Distribusi karakteristik responden penelitian ... 74
4.2 Distribusi sumber informasi mengenai COVID-19 ... 77
4.3 Distribusi responden berdasarkan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19 ... 79
4.4 Distribusi Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas selama pandemi COVID-19 ... 81
4.5 Distribusi alasan tidak menggunakan APD pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas selama pandemi COVID-19 ... 82
4.6 Distribusi kebiasaan mencuci tangan yang dilakukan tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas selama pandemi COVID-19 ... 82
4.7 Distribusi alasan tidak melakukan momen cuci tangan pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas selama pandemi COVID-19 ... 83
4.8 Distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 ... 83
4.9 Distribusi tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 berdasarkan karakteristik responden ... 86
4.10 Distribusi responden berdasarkan sikap terhadap COVID-19 ... 90 4.11 Hubungan antara ketersediaan APD dengan sikap terhadap
ix
COVID-19 ... 93 4.12 Distribusi sikap terhadap COVID-19 dengan karakteristik
responden ... 93 4.13 Distribusi responden berdasarkan ketersediaan APD di
Puskesmas ... 95 4.14 Distribusi Alat Pelindung Diri (APD) yang tersedia di Puskesmas ... 96 4.15 Distribusi penyedia APD yang digunakan tenaga kesehatan dan
non-kesehatan di Puskesmas ... 97 4.16 Distribusi responden berdasarkan kualitas APD di Puskesmas ... 97 4.17 Distribusi responden berdasarkan ketersediaan fasilitas kebersihan di Puskesmas ... 98 4.18 Distribusi responden berdasarkan pelatihan pencegahan infeksi di Puskesmas ... 99 4.19 Distribusi responden berdasarkan pengawasan perilaku pencegahan infeksi di Puskesmas selama pandemi COVID-19 ... 100 4.20 Distribusi responden berdasarkan kepuasan terhadap fasilitas
pencegahan infeksi di Puskesmas selama pandemi COVID-19 ... 101 4.21 Analisis bivariat antara tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas
selama pandemi COVID-19 ... 102 4.22 Analisis bivariat antara sikap terhadap COVID-19 dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas selama pandemi
COVID-19 ... 105 4.23 Analisis bivariat antara faktor predisposisi lainnya dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas selama pandemi
COVID-19 ... 109 4.24 Analisis bivariat antara faktor pendukung dengan perilaku
pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas selama pandemi
COVID-19 ... 114
x
4.25 Analisis bivariat antara faktor penguat dengan perilaku
pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas selama pandemi
COVID-19 ... 120 4.26 Analisis multivariat antara variabel independen dengan perilaku
pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas di zona merah Kota Medan selama pandemi COVID-19 ... 122
xi
DAFTAR SINGKATAN
ACE-2 : Angiotensin-Converting Enzyme 2 APC : Antigen Presentation Cells
APD : Alat Pelindung Diri
ARDS : Acute Respiratory Distress Syndrome CD : Cluster of Differentiation
CDC : Centers for Disease Control and Prevention CFR : Case Fatality Rate
COVID-19 : Coronavirus Disease 2019
CSSD : Central Sterile Supply Departmen CT Scan : Computerized Tomography Scan
ECDC : European Centre for Disease Prevention and Control
HCOV : Human Coronavirus
IFN : Interferon
Ig : Immunoglobulin
MERS : Middle East Respiratory Syndrome MHC : Major Histocompatibility Complex
ODP : Orang Dalam Pemantauan
OTG : Orang Tanpa Gejala
PDP : Pasien Dalam Pengawasan
PPI : Pencegahan dan Pengendalian Infeksi PVC : Polyvinyl Chloride
RNA : Ribonucleic Acid
Rrt-PCR : Real-Time Reverse Transcription-Polymerase Chain Reaction
SARS-CoV : Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus SDMK : Sumber Daya Manusia Kesehatan
WHO : World Health Organization
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Daftar Riwayat Hidup ... 138
Lampiran 2. Lembar Penjelasan ... 140
Lampiran 3. Lembar Informed Consent ... 141
Lampiran 4. Kuesioner Penelitian ... 142
Lampiran 5. Lembar Persetujuan Komisi Etik ... 151
Lampiran 6. Surat Izin Penelitian ... 152
Lampiran 7. Data Induk ... 156
Lampiran 8. Output Hasil SPSS ... 161
Lampiran 9. Dokumentasi ... 172
Lampiran 10. Lembar Orisinalitas ... 173
xiii
ABSTRAK
Latar Belakang. Tenaga kesehatan dan non-kesehatan yang bekerja di Puskesmas memiliki risiko yang tinggi untuk terpapar dan terinfeksi COVID-19. Hal ini dikarenakan tenaga kesehatan dan non-kesehatan merupakan garda terdepan yang berhubungan langsung dengan pasien tersuspek ataupun terkonfirmasi positif COVID-19. Untuk mencegah infeksi yang didapatkan saat bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19, tenaga kesehatan dan non-kesehatan harus memiliki perilaku pencegahan infeksi yang baik untuk melindungi dirinya dari paparan virus Perilaku dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk diantaranya adalah pengetahuan dan sikap.
Tujuan. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap mengenai COVID-19 dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional komparatif dengan pendekatan cross sectional. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode proportionate stratified random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas Padang Bulan Selayang II, Puskesmas Glugur Darat, Puskesmas Botania, dan Puskesmas Baloi Permai yang berjumlah 211 orang. Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat penelitian. Hasil. Terdapat hubungan antara sikap, ketersediaan fasilitas kebersihan, dan pengawasan dengan perilaku responden di Puskesmas di zona merah Kota Medan. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan, usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, masa bekerja, ketersediaan APD, kualitas APD, dan pelatihan dengan perilaku responden di Puskesmas di zona merah Kota Medan. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap, usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, masa bekerja, ketersediaan APD, kualitas APD, ketersediaan fasilitas kebersihan, pelatihan, dan pengawasan dengan perilaku responden di Puskesmas di zona merah Kota Batam. Kesimpulan. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas di zona merah Kota Medan selama pandemi COVID-19 adalah ketersediaan fasilitas kebersihan. Faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor penguat tidak berhubungan dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas di zona merah Kota Batam selama pandemi COVID-19.
Kata kunci : tenaga kesehatan, COVID-19, pengetahuan, sikap, perilaku pencegahan infeksi
xiv
ABSTRACT
Background. Healthcare and non-healthcare workers working at Puskesmas have a high risk of being exposed and infected with COVID-19. This is because the healthcare and non-healthcare workers are at the frontline who are in direct contact with patients suspected or confirmed positive for COVID-19. To prevent infections that are required while working at the Puskesmas during the COVID-19 pandemic, healthcare and non-healthcare workers must have good infection prevention practices to protect themselves from exposure to the virus. Practice can be influenced by several factors, including knowledge and attitudes. Objective. To determine the relationship between the level of knowledge and attitudes regarding COVID-19 with the infection prevention practices while working at Puskesmas in the red zone area in Medan and Batam by healthcare and non-healthcare workers during COVID-19 pandemic. Methods. Design used in this study is comparative observational analytics with cross sectional approach. The sampling method used is proportionate stratified random sampling. The samples in this study were healthcare and non- healthcare workers at Puskesmas Padang Bulan Selayang II, Puskesmas Glugur Darat, Puskesmas Botania, and Puskesmas Baloi Permai with total 211 respondents. This study used questionnaires as a tool. Results. There is a relationship between attitudes, availability of hygiene facilities, and supervision with practices of respondents in the red zone area in Medan. There is no relationship between knowledge, age, gender, occupation, work experience, availability of PPE, quality of PPE, and training with practices of respondents in the red zone area in Medan. There is no relationship between knowledge, attitudes, age, gender, occupation, work experience, availability of PPE, quality of PPE, availability of hygiene facilities, training, and supervision with practices of respondents in the red zone area in Batam. Conclusion. The availability of hygiene facilities is the most dominant factor related to infection prevention practices while working at Puskesmas in the red zone area in Medan during COVID-19 pandemic. Predisposing factors, enabling factors, and reinforcing factors were not related to infection prevention practices while working at Puskesmas in the red zone area in Batam during COVID-19 pandemic.
Keywords : healthcare workers, COVID-19, knowledge, attitude, practice
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2). Penyakit infeksi virus ini terdeteksi pertama kali pada bulan Desember 2019 di Kota Wuhan, ibukota Hubei, Cina. COVID-19 memiliki gejala yang bervariasi mulai dari asimtomatik hingga pneumonia berat dengan gagal napas akut (European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), 2020). Virus ditransmisikan melalui percikan air liur yang keluar dari mulut atau hidung saat orang yang terinfeksi berbicara, batuk, atau bersin. Virus juga dapat menyebar saat orang menyentuh permukaan atau objek yang terkontaminasi virus, kemudian orang tersebut menyentuh mata, hidung, atau mulut (World Health Organization (WHO), 2020).
COVID-19 telah menyebar ke seluruh dunia. Pada tanggal 11 Maret 2020, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendeklarasikan bahwa COVID-19 adalah sebuah pandemi global (Sohrabi, et al., 2020). Hingga saat ini, ada sekitar 4 juta kasus positif COVID-19 di dunia dengan 300 ribu kematian yang dilaporkan ke WHO, dimana kasus-kasus ini tersebar di 215 negara termasuk Indonesia (World Health Organization (WHO), 2020).
Indonesia sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia membawa risiko untuk terinfeksi berskala besar dan dengan tingkat penyebaran virus yang tinggi (Hamid, 2020). Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia per 16 Mei 2020, Indonesia memiliki 17.025 kasus dengan rata-rata pertambahan kasus positif per hari mencapai 500 kasus baru. Kondisi pertambahan kasus terkonfirmasi COVID-19 semakin lama semakin banyak
ditunjukkan dengan kurva yang semakin meningkat (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Tidak hanya jumlah kasus yang banyak, tingkat kematian akibat COVID-19 di Indonesia juga tinggi. Berdasarkan data dari John Hopkins University, Indonesia sempat menduduki peringkat pertama Case Fatality Rate (CFR) tertinggi di Asia yakni sekitar 8%-9%.
Menurut Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia, dr. Pandu Riono, MPH, PhD, selain kondisi kesehatan masyarakat yang buruk, respons yang lambat dari pihak berwenang pada tahap awal wabah sehingga menyebabkan keterbatasan deteksi dini dan keterlambatan diagnosis turut berperan sebagai faktor penyebab tingginya angka kasus positif dan kematian di Indonesia (Riono, 2020).
Akibatnya, penyebaran virus SARS-CoV-2 bisa terjadi sangat cepat karena penderita baik yang bergejala maupun yang tidak dapat dengan mudah menyebarkan virus ke orang yang sehat. Hal ini dikarenakan virus SARS-CoV-2 dapat menyebar dengan sangat mudah dari orang ke orang (Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 2020). Oleh karena itu, hal yang perlu dilakukan untuk mencegah penularan adalah dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, membersihkan permukaan benda yang sering disentuh, menggunakan masker, dan mengisolasi pasien yang terkonfirmasi ataupun tersuspek COVID-19 (Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 2020).
Cara terbaik untuk mencegah penularan COVID-19 adalah menghindari kontak langsung dengan menerapkan physical distancing atau menjaga jarak fisik (Harris, et al., 2020). Namun, hal ini tidak mudah dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Tenaga kesehatan adalah garda terdepan yang berhubungan langsung dengan pasien untuk menangani kasus-kasus terkonfirmasi ataupun tersuspek COVID-19, sehingga mereka berisiko tinggi untuk terpapar dan terinfeksi (World Health Organization (WHO), 2020). Tenaga kesehatan berada diurutan pertama jumlah kasus COVID-19 terbanyak dari beberapa jenis pekerjaan lain yang berisiko tinggi di 6 negara di Asia (Lan, et al., 2020). Menurut International Council of Nurses (ICN), sampai tanggal 5 Mei 2020 lebih dari 90.000 tenaga kesehatan terinfeksi COVID-19 di dunia dengan kematian mencapai 989 orang. Menurut
Ketua Departemen Manajemen Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, Irwandy, diperkirakan hingga 6 Mei 2020 terdapat 721 hingga 2.488 tenaga kesehatan di Indonesia yang telah terinfeksi COVID-19 dengan kematian mencapai 55 orang.
Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia termasuk negara dengan tingkat kematian tenaga kesehatan yang tinggi yaitu sebesar 6,50% (Irwandy, 2020).
Tenaga kesehatan bisa ditularkan melalui beberapa cara transmisi, tergantung dari jenis patogennya (Verbeek, et al., 2020). Berdasarkan bukti yang tersedia, COVID-19 ditularkan melalui kontak dekat dan droplet, tetapi rute transmisi lain seperti melalui transmisi udara dan kontaminasi cairan tubuh pasien masih dapat ditemui (Chang, et al., 2020). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wang J, et al. (2020), disebutkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan tenaga kesehatan terinfeksi COVID-19 di Cina.
Pertama, paparan langsung terhadap sejumlah besar pasien yang terinfeksi dalam jangka waktu yang lama meningkatkan risiko tenaga kesehatan untuk terinfeksi (Wang J, et al., 2020). Di Indonesia, akibat keterlambatan diagnosis, kasus-kasus yang datang ke fasilitas kesehatan adalah kasus dengan tingkat yang parah. Tenaga kesehatan yang bekerja dituntut bekerja sekeras mungkin untuk mampu menanggulangi kasus yang datang sekaligus sehingga membuat tenaga kesehatan menjadi kewalahan (Riono, 2020).
Kedua, kurangnya pasokan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai standar meningkatkan risiko infeksi bagi tenaga kesehatan di seluruh dunia (Wang J, et al., 2020). Para ahli sangat menyarankan penggunaan APD yang tepat sebelum berkontak langsung dengan pasien untuk keselamatan tenaga kesehatan sebagai garda terdepan (Adams & Walls, 2020). Namun kenyataannya belum tersedia APD yang memadai untuk digunakan oleh semua tenaga kesehatan di Indonesia (Riono, 2020). Penggunaan APD yang tidak tepat dan tidak memenuhi standar WHO dan Kemenkes RI juga membuat banyak dokter dan tenaga kesehatan terinfeksi COVID-19 bahkan gugur saat menjalankan tugasnya (Anaya, 2020).
Ketiga, kurangnya pelatihan, bimbingan, dan pengawasan mengenai program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) memperbesar risiko infeksi COVID- 19 bagi tenaga kesehatan (Wang J, et al., 2020). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rismayanti & Hardisman, et al. (2019), program PPI di Indonesia belum berjalan optimal dan belum sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit di Indonesia.
Keempat, kurangnya perilaku pencegahan infeksi COVID-19 saat bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan merupakan masalah utama penyebab infeksi pada tenaga kesehatan (Wang J, et al., 2020). Hal ini menyebabkan tenaga kesehatan tidak memiliki perlindungan diri yang baik pada saat menangani pasien COVID- 19. Tindakan pencegahan dan mitigasi merupakan kunci penerapan di fasilitas layanan kesehatan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Perilaku pencegahan infeksi pada tenaga kesehatan dilakukan melalui pedoman pencegahan standar dalam prosedur PPI terhadap COVID-19 yang dikeluarkan oleh WHO dan Kemenkes RI.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap perawat di Ruang Bedah RSUD Dr. Moewardi Surakarta menunjukkan bahwa hanya 60% perawat memiliki perilaku baik dalam mencegah infeksi nosokomial (Sulistyowati, 2016).
Hasil penelitian yang dilakukan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Kendal juga menyebutkan bahwa hanya 52,70% perawat yang mempunyai perilaku baik dalam penerapan pencegahan infeksi nosokomial (Puspasari, 2015). Perilaku pencegahan infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan saat bekerja di fasilitas layanan kesehatan bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor predisposisi. Faktor predisposisi adalah faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang, contohnya adalah pengetahuan dan sikap (Notoatmodjo, 2010).
Pengetahuan dan sikap tenaga kesehatan terhadap COVID-19 akan mempengaruhi perilaku dari tenaga kesehatan dalam melakukan pencegahan infeksi di tempat kerja (McEachan, et al., 2016). Jika sikap dan perilaku buruk, maka secara langsung akan meningkatkan risiko terinfeksi (Zhou, et al., 2020).
Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Wang J, et al. (2020), tenaga kesehatan yang mempunyai pengetahuan yang tidak adekuat mengenai COVID-19 akan berpengaruh terhadap perilaku pencegahan infeksi pada saat memberikan pelayanan kepada pasien dan akhirnya berakibat terhadap prosedur perlindungan diri yang kurang baik. Penelitian serupa juga dilakukan di Saudi Arabia pada wabah sebelum COVID-19, yaitu MERS Coronavirus, menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan yang buruk tentang Coronavirus menimbulkan perilaku PPI yang buruk (Alsahafi & Cheng, 2016). Dikarenakan masih terbatasnya penelitian mengenai perilaku pencegahan infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan di Indonesia, peneliti melihat penelitian yang dilakukan oleh Puspasari (2015) di Rumah Sakit Islam Kendal dan Riswantoro, et al. (2013) di Rumah Sakit Umum Demang Sepulau Raya yang menyatakan bahwa juga terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku perawat dalam pencegahan infeksi yang diperoleh saat bekerja di rumah sakit.
COVID-19 merupakan penyakit infeksi yang baru ditemukan, sehingga tingkat pengetahuan dan sikap tenaga kesehatan terhadap COVID-19 masih sangat dipertanyakan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bhagavathula, et al. (2020) dengan responden tenaga kesehatan di seluruh dunia menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan terhadap transmisi COVID-19 masih buruk.
Sedangkan pada penelitian yang dilakukan di Chitwan, Nepal oleh Nepal, et al.
(2020) menyebutkan bahwa hanya 30,59% tenaga kesehatan memiliki pengetahuan yang baik dan hanya 15,01% tenaga kesehatan memiliki sikap yang baik terhadap COVID-19. Hal ini sungguh ironis jika melihat garda terdepan dari pandemi ini hanya memiliki pengetahuan dan sikap yang minim.
Selain tenaga kesehatan, tenaga non-kesehatan lain yang bekerja di fasilitas layanan kesehatan juga rentan terhadap infeksi COVID-19 seperti petugas kebersihan, petugas penerima pasien, dan supir (Lan, et al., 2020). Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan primer adalah garda terdepan dalam memutus mata rantai penularan COVID-19 karena berada di setiap kecamatan dan memiliki konsep wilayah (Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer, 2020). Tenaga
kesehatan dan non-kesehatan yang bekerja di Puskesmas harus memiliki konsep pencegahan infeksi yang baik karena akan mendeteksi dan menemukan kasus- kasus yang tersuspek COVID-19 sebelum keluar hasil pemeriksaan penunjang.
Penelitian tentang perilaku pencegahan infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan saat bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19 ini terhitung masih sangat sedikit. Bahkan di Indonesia sampai saat penyusunan penelitian ini masih belum ada penelitian yang serupa. Hal ini dikarenakan pandemi COVID-19 yang masih baru terjadi. Padahal seperti uraian yang penulis sampaikan di atas, tingginya tingkat infeksi dan kematian tenaga kesehatan akibat COVID-19 di Indonesia sungguh memprihatinkan.
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap mengenai COVID-19 dengan perilaku pencegahan infeksi COVID-19 saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah di kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19. Selain itu, penelitian ini juga ditujukan untuk melihat apakah terdapat faktor-faktor lain seperti faktor pendukung, faktor penguat, dan faktor predisposisi lainnya yang mempengaruhi perilaku pencegahan infeksi COVID-19 saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah di kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19.
Pemilihan lokasi penelitian dikarenakan Kota Medan dan Kota Batam memiliki persamaan karakteristik yaitu merupakan salah satu pintu masuk terbesar dari luar negeri ke dalam wilayah Indonesia. Sebagai pintu masuk terbesar, Kota Medan dan Kota Batam sama-sama rentan memiliki transmisi lokal yang tinggi dikarenakan mudahnya akses transportasi membuat WNI maupun WNA dari luar wilayah Indonesia keluar masuk dan membawa virus COVID-19 ini ke dalam kota. Menurut data dari Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 per 14 Juni 2020, Kota Medan sudah memiliki 587 kasus terkonfirmasi positif COVID-19 dengan kematian mencapai 37 orang. Sedangkan di Kota Batam, angka kasus terkonfirmasi positif COVID-19 mencapai 181 orang dengan 12 kematian.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian ini sebagai berikut:
“Apakah terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap mengenai COVID- 19 dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19?”
1.3. HIPOTESIS
Berdasarkan masalah dalam penelitian ini, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap mengenai COVID-19 dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non- kesehatan di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19.
1.4. TUJUAN PENELITIAN 1.4.1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap mengenai COVID-19 dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non- kesehatan di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19.
1.4.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran karakteristik tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam.
2. Mengetahui tingkat pengetahuan terhadap COVID-19 pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam.
3. Mengetahui sikap terhadap COVID-19 pada tenaga kesehatan dan non- kesehatan di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam.
4. Mengetahui perilaku pencegahan infeksi COVID-19 saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam.
5. Mengetahui gambaran sumber informasi mengenai Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam.
6. Mengetahui hubungan faktor predisposisi lainnya (usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, masa bekerja) dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19.
7. Mengetahui hubungan faktor pendukung (ketersediaan APD, kualitas APD, ketersediaan fasilitas kebersihan, pelatihan) dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19.
8. Mengetahui hubungan faktor penguat (pengawasan) dengan perilaku pencegahan infeksi saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19.
9. Mengetahui tingkat kepuasan tenaga kesehatan dan non-kesehatan terhadap fasilitas yang disediakan pemerintah terkait pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19.
10. Mengetahui perbandingan pengetahuan dan sikap mengenai COVID-19 serta perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas selama pandemi COVID-19 antara tenaga kesehatan dan non-kesehatan di zona
merah di Kota Medan dengan tenaga kesehatan dan non-kesehatan di zona merah di Kota Batam.
11. Mengetahui perbandingan pengetahuan dan sikap mengenai COVID-19 serta perilaku pencegahan infeksi saat bekerja di Puskesmas di zona merah di Kota Medan dan Kota Batam selama pandemi COVID-19 antara tenaga kesehatan dengan tenaga non-kesehatan.
1.5. MANFAAT PENELITIAN 1.5.1. Bidang Penelitian
1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dan pedoman untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait perilaku pencegahan infeksi COVID-19 saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
1.5.2. Bidang Pendidikan
1. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap mengenai COVID-19 yang baik serta protokol pencegahan infeksi COVID-19 saat bekerja yang sesuai untuk tenaga kesehatan dan non-kesehatan maupun untuk mahasiswa kedokteran yang nantinya akan menjadi tenaga kesehatan juga.
2. Penelitian ini diharapkan sebagai sarana untuk melatih berpikir secara logis dan sistematis, serta mampu menyelenggarakan suatu penelitian berdasarkan metode yang baik dan benar.
1.5.3. Bidang Pelayanan Masyarakat
1. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi institusi pelayanan kesehatan sebagai informasi dan sarana evaluasi mengenai kondisi pencegahan infeksi saat bekerja pada tenaga kesehatan dan non-kesehatan di Puskesmas selama pandemi COVID-19 sehingga tenaga kesehatan dan non-kesehatan dapat melakukan upaya pencegahan terhadap infeksi COVID-19 dengan lebih optimal.
2. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pemerintah dan institusi pelayanan kesehatan sebagai dasar untuk menyusun dan menentukan program dan kebijakan terkait dalam hal peningkatan kualitas pencegahan infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan dan non- kesehatan selama pandemi COVID-19 di Puskesmas.
11 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. CORONAVIRUS DISEASE 2019 (COVID-19) 2.1.1. Definisi
Coronavirus disease 2019 (disingkat “COVID-19”) adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang menyebabkan gangguan pernapasan serius seperti pneumonia dan gagal paru. Penyakit ini pertama kali terdeteksi pada Desember 2019 di Kota Wuhan, ibukota Hubei, Cina. COVID-19 disebabkan oleh virus corona jenis baru (novel coronavirus) yang dikenal sebagai Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), yang kemungkinan besar berasal dari virus corona yang ditularkan dari hewan ke manusia, seperti SARS- CoV yang muncul pada tahun 2002 (Ahn, et al., 2020).
COVID-19 adalah penyakit menular dengan gejala klinis utamanya adalah demam, batuk kering, kelelahan, mialgia, dan dispnea. Di Cina, 18,50% dari pasien yang menderita COVID-19 akan berkembang ke tahap yang parah, yaitu ditandai dengan terjadinya sindrom gangguan pernapasan akut, syok septik, asidosis metabolik yang sulit ditangani, serta gangguan perdarahan dan pembekuan darah (Zhong, et al., 2020)
2.1.2. Epidemiologi
Sejak kasus pertama di Wuhan pada bulan Desember 2019, terjadi peningkatan kasus COVID-19 yang dilaporkan kepada WHO di Cina setiap hari dan memuncak diantara akhir Januari hingga awal Februari 2020. Infeksi mulai menyebar dari pasar grosir seafood Huanan di Wuhan, Cina, sementara rute infeksi yang tepat dari kasus pertama masih belum jelas (Ahn, et al., 2020).
Pada 19 Maret 2020, kasus COVID-19 terus dilaporkan secara global dari lebih dari 170 negara. Pada 15 Maret 2020, 153.517 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi laboratorium dengan 5.735 kematian (sekitar 3,80% kematian) telah dilaporkan menurut WHO (Ahn, et al., 2020).
Gambar 2.1 Diagram penyebaran kasus COVID-19 di seluruh dunia, per 15 Maret 2020 (Ahn, et al., 2020).
Pada tahap awal penyebaran COVID-19 global, kasus-kasus yang diidentifikasi di luar Cina sebagian besar adalah pelancong yang terinfeksi di Cina dan kemudian melakukan perjalanan ke daerah di luar Cina. Negara-negara di luar Cina yang melaporkan kasus COVID-19 terkait perjalanan adalah Singapura, Jepang, Republik Korea, Malaysia, Vietnam, Australia, Amerika Serikat, Jerman, dll. Tingkat kematian SARS-CoV-2 (3,80%) lebih rendah daripada Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV) (10%) atau Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) (37,10%), tetapi jumlah kasus infeksi relatif lebih dari 10 kali lebih tinggi. Akumulasi laporan mengungkapkan bahwa SARS- CoV-2 dapat ditularkan dari orang yang tidak menunjukkan gejala atau memiliki infeksi ringan. Hal ini dapat menjelaskan penyebaran virus yang terjadi secara tiba-tiba (Ahn, et al., 2020).
Per 30 Maret 2020, terdapat 693.224 kasus dan 33.106 kematian di seluruh dunia. Sedangkan perkembangan kasus per 27 Mei 2020 mencapai 5.709.518 kasus dan 352.748 kematian di seluruh dunia. Eropa dan Amerika Utara telah
menjadi pusat pandemi COVID-19, dengan kasus dan kematian sudah melampaui Cina. Amerika Serikat menduduki peringkat pertama dengan kasus COVID-19 terbanyak dengan penambahan kasus baru sebanyak 19.332 kasus pada tanggal 30 Maret 2020 disusul oleh Spanyol dengan 6.549 kasus baru. Italia memiliki tingkat mortalitas paling tinggi di dunia, yaitu 11,30% (Ahn, et al., 2020).
Gambar 2.2 Grafik kasus COVID-19 di Indonesia, per 16 Mei 2020 (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).
COVID-19 pertama dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 sejumlah dua kasus. Data 31 Maret 2020 menunjukkan kasus yang terkonfirmasi berjumlah 1.528 kasus dan 136 kasus kematian. Tingkat mortalitas COVID-19 di Indonesia sebesar 8,90%, angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.
Per 16 Mei 2020, angka pasien positif di Indonesia sudah melonjak tinggi yaitu sebesar 17.025 kasus. Dilaporkan pertambahan pasien positif ada sebanyak 529 kasus dari tanggal 15 Mei 2020 dengan kematian mencapai 1.089 jiwa. Gambaran grafik pasien positif COVID-19 di Indonesia semakin meningkat setiap harinya (Susilo, et al., 2020).
Kasus COVID-19 di Indonesia sudah menyebar luas di 34 provinsi di Indonesia. Transmisi lokal terjadi baik di dalam daerah maupun antar daerah melalui orang-orang yang keluar masuk melalui berbagai moda transportasi.
Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Batam, per 16 Mei 2020, jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Kota Batam, Kepulauan Riau, mencapai 54 kasus dengan 7 kematian. Kasus COVID-19 sudah tersebar hampir di seluruh
kecamatan di Kota Batam dan kecamatan dengan kasus positif terbanyak berada di Kecamatan Batam Kota sehingga masuk dalam zona merah (Dinas Kesehatan Kota Batam, 2020).
Gambar 2.3 Peta persebaran kasus COVID-19 di Kota Batam, per 16 Mei 2020 (Dinas Kesehatan Kota Batam, 2020).
Per 14 Juni 2020, ada 587 kasus positif COVID-19 terdeteksi di Kota Medan.
Menurut data dari Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, penyebaran kasus COVID-19 sudah merata ditandai dengan ada 21 dari 21 kecamatan di Kota Medan masuk dalam kategori zona merah seperti ditunjukkan pada Gambar 2.4 (Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, 2020).
Gambar 2.4 Peta persebaran kasus COVID-19 di Kota Medan, per 14 Juni 2020 (Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19).
2.1.3. Etiologi
Berdasarkan manifestasi klinis, tes darah, dan radiografi dada, penyakit ini didiagnosis sebagai pneumonia yang diinduksi virus oleh dokter. Investigasi epidemiologis awal menunjukkan bahwa sebagian besar kasus yang diduga terkait dengan kunjungan pasien ke pasar seafood Huanan. Tidak hanya seafood, berbagai jenis hewan liar yang hidup dijual di pasar ini setiap hari sebelum dipaksa untuk ditutup pada 1 Januari 2020. Center for Disease Control and Prevention (CDC) di Cina menemukan SARS-CoV-2 terisolasi dalam sampel lingkungan dari Pasar seafood Huanan, inilah yang merupakan asal mula dari wabah COVID-19 (Jin, et al., 2020).
Namun, kesimpulan yang mutlak masih diperdebatkan karena kasus yang paling awal tidak memiliki hubungan ke pasar tersebut. Selain itu, ditemukan bahwa setidaknya ada dua strain berbeda dari SARS-CoV-2 beberapa bulan sebelum COVID-19 secara resmi dilaporkan. Sampai saat ini, asal usul SARS- CoV-2 masih belum konsisten. Oleh karena itu, penyelidikan epidemiologi dan etiologi masih sedang dilakukan oleh otoritas kesehatan Cina (Jin, et al., 2020).
2.1.4. Virologi
Komite Internasional tentang Taksonomi Virus/International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) menyebut virus penyebab COVID-19 sebagai SARS CoV-2 (Atmojo, et al., 2020). Struktur genom virus ini memiliki pola seperti coronavirus pada umumnya. Sekuens SARS-CoV-2 memiliki kemiripan dengan coronavirus yang diisolasi pada kelelawar, sehingga muncul hipotesis bahwa SARS-CoV-2 berasal dari kelelawar yang kemudian bermutasi dan menginfeksi manusia. Mamalia dan burung diduga sebagai reservoir perantara (Atmojo, et al., 2020).
Beta coronavirus (β - coronavirus) merupakan penyebab dari beberapa penyakit pernapasan yang telah terdeteksi sebelumnya yaitu MERS yang muncul tahun 2012 di Saudi Arabia, SARS- CoV pertama yang muncul 2002 di
Guangdong, Cina, dan SARS-CoV-2 yang muncul tahun 2019 di Wuhan, Cina (Sahu, et al., 2020).
Gambar 2.5 Struktur genom virus (Susilo, et al., 2020).
β-coronavirus adalah genom virus RNA rantai tunggal, berkapsul, tidak bersegmen, dan berukuran mulai dari 29,9 kb. Virion memiliki nukleokapsid yang terdiri dari RNA genomik dan protein nukleokapsid terfosforilasi (N), yang terdapat di dalam phospholipid bilayers dan ditutupi oleh spike glycoprotein trimmer (S). Membran (M) protein hemagglutinin-esterase (HE) dan protein kapsul (E) terletak di antara protein S di dalam kapsul (Jin, et al., 2020).SARS- CoV-2 memiliki transmisibilitas tinggi dan banyak inang host, diantaranya: host alami, host perantara dan host akhir. Hal ini menimbulkan tantangan besar untuk pencegahan dan pengobatan infeksi virus (Liu, et al., 2020).
Gambar 2.6 Partikel coronavirus (Jin, et al., 2020).
SARS-CoV-2 adalah anggota ketujuh dari keluarga coronavirus yang menginfeksi manusia. Partikel virus memiliki diameter 60-100 nm dan berbentuk bulat atau oval. Sebagian besar informasi mengenai sifat fisikokimia CoV berasal
dari SARS-CoV dan MERS-CoV. Hasil pemodelan melalui komputer menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 memiliki struktur tiga dimensi pada protein spike domain receptor-binding yang hampir identik dengan SARS-CoV. Pada SARS-CoV-2, data in vitro mendukung kemungkinan virus mampu masuk ke dalam sel menggunakan reseptor ACE-2 (Susilo, et al., 2020).
2.1.5. Tranmisi
Saat ini, penyebaran SARS-CoV-2 dari manusia ke manusia menjadi sumber transmisi utama sehingga penyebaran menjadi lebih agresif. Transmisi SARS-CoV-2 dari pasien simtomatik terjadi melalui droplet yang keluar saat batuk atau bersin (Susilo, et al., 2020). Kontak dekat dengan potensi menghirup droplet yang mengandung virus adalah cara transmisi paling umum untuk SARS- CoV (Atmojo, et al., 2020).
Selain itu, telah diteliti bahwa SARS-CoV-2 dapat viabel pada aerosol (dihasilkan melalui nebulizer) selama setidaknya 3 jam. WHO memperkirakan Reproductive Number (R0) COVID-19 sebesar 1,40 hingga 2,50. Namun, studi lain memperkirakan R sebesar 3,28 (Susilo, et al., 2020).
Beberapa laporan kasus menunjukkan dugaan penularan dari karier asimtomatik, namun mekanisme pastinya belum diketahui. Kasus-kasus terkait transmisi dari karier asimtomatik umumnya memiliki riwayat kontak erat dengan pasien COVID-19 (Susilo, et al., 2020).
Beberapa peneliti melaporan infeksi SARS-CoV-2 pada neonatus. Namun, transmisi vertikal secara intrauterin dari ibu hamil kepada janin belum terbukti pasti dapat terjadi. Bila memang dapat terjadi, data menunjukkan peluang transmisi vertikal tergolong kecil. Pemeriksaan virologi cairan amnion, darah tali pusat, dan air susu ibu pada ibu yang positif COVID-19 ditemukan negatif (Susilo, et al., 2020). Beberapa penelitian mendeteksi ada bayi baru lahir terinfeksi COVID-19, sedangkan beberapa penelitian lain melaporkan bayi dari
ibu yang terinfeksi lahir dalam keadaan sehat dan tidak terinfeksi (Chen, et al., 2020).
Peneliti juga mendeteksi SARS-CoV-2 dalam sampel tinja, saluran pencernaan, saliva dan urin. RNA dari virus SARS-CoV-2 juga dideteksi dalam air mata dan sekresi konjungtiva (Xia, et al., 2020) Berdasarkan pada bukti bioinformatika menunjukkan bahwa saluran pencernaan mungkin merupakan rute potensial infeksi (Wang J, et al., 2020). SARS-CoV-2 telah terbukti menginfeksi saluran cerna berdasarkan hasil biopsi pada sel epitel gaster, duodenum, dan rektum. Virus dapat terdeteksi di feses, bahkan ada 23% pasien yang dilaporkan virusnya tetap terdeteksi dalam feses walaupun sudah tak terdeteksi pada sampel saluran napas. Kedua fakta ini menguatkan dugaan kemungkinan transmisi secara fekal-oral (Susilo, et al., 2020).
Stabilitas SARS-CoV-2 pada benda mati tidak berbeda jauh dibandingkan SARS-CoV. Eksperimen yang dilakukan oleh Doremalen, et al. (2020) menunjukkan SARS-CoV-2 lebih stabil pada bahan plastik dan stainless steel (>72 jam) dibandingkan tembaga (4 jam) dan kardus (24 jam). Virus dapat dideteksi di gagang pintu, dudukan toilet, tombol lampu, jendela, lemari, hingga kipas ventilasi, namun tidak pada sampel udara (Susilo, et al., 2020).
Tabel 2.1 Persistensi berbagai jenis coronavirus pada berbagai permukaan benda mati (Susilo, et al., 2020).
Permukaan Virus Titer virus Temperatur Persistensi
Besi MERS-CoV 105 20˚C 48 jam
30˚C 8-24 jam
HCoV 103 21˚C 5 hari
Alumunium HCoV 5 x 103 21˚C 2-8 jam
Metal SARS-CoV 105 Suhu ruangan 5 hari
Kayu SARS-CoV 105 Suhu ruangan 4 hari
Kertas SARS-CoV
(Strain P9)
105 Suhu ruangan 4-5 hari
SARS-CoV (Strain GVU6109)
106 Suhu ruangan 24 jam
105 3 hari
104 < 5 menit
Kaca SARS-CoV 105 Suhu ruangan 4 hari
HCoV 103 21˚C 5 hari
Plastik SARS-CoV
(Strain HKU39849)
105 22-25˚C <5 hari
MERS-CoV 105 20˚C 48 jam
30˚C 8-24 jam
SARS-CoV (Strain P9)
105 Suhu ruangan
SARS-CoV (Strain FFM1)
107 Suhu ruangan
HCoV (Strain 229E)
107 Suhu ruangan
PVC HCoV 103 21˚C 5 hari
Karet silicon HCoV 103 21˚C 5 hari
Sarung tangan bedah (lateks)
HCoV 5 x 103 21˚C <8 jam
Gaun bedah SARS-CoV 106 Suhu ruangan 2 hari
105 24 jam
104 1 jam
Keramik HCoV 103 21˚C 5 hari
Teflon HCoV 103 21˚C 5 hari
2.1.5. Faktor Risiko
Berdasarkan data yang sudah ada, penyakit komorbid hipertensi dan diabetes melitus, jenis kelamin laki-laki, dan perokok aktif merupakan faktor risiko dari infeksi SARS-CoV-2. Distribusi jenis kelamin yang lebih banyak pada laki-laki diduga terkait dengan prevalensi perokok aktif yang lebih tinggi. Pada perokok, hipertensi, dan diabetes melitus, diduga ada peningkatan ekspresi reseptor ACE-2 (Susilo, et al., 2020).
Pasien kanker dan penyakit hati kronik lebih rentan terhadap infeksi SARS- CoV-2. Kanker diasosiasikan dengan reaksi imunosupresif, sitokin yang berlebihan, supresi induksi agen proinflamasi, dan gangguan maturasi sel dendritik. Pasien dengan sirosis atau penyakit hati kronik juga mengalami penurunan respons imun, sehingga lebih mudah terjangkit COVID-19, dan dapat mengalami luaran yang lebih buruk (Susilo, et al., 2020).
Beberapa faktor risiko lain yang ditetapkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) adalah kontak erat, termasuk tinggal satu rumah dengan pasien COVID-19 dan riwayat perjalanan ke area terjangkit. Berada dalam satu lingkungan namun tidak kontak dekat (dalam radius 2 meter) dianggap sebagai risiko rendah. Tenaga medis merupakan salah satu populasi yang berisiko tinggi tertular. Di Italia, sekitar 9% kasus COVID-19 adalah tenaga medis. Di Cina, lebih dari 3.300 tenaga medis juga terinfeksi, dengan mortalitas sebesar 0,60%
(Susilo, et al., 2020).
2.1.6. Patogenesis
Patogenesis SARS-CoV-2 masih belum banyak diketahui, tetapi diduga tidak jauh berbeda dengan SARS-CoV yang sudah lebih banyak diketahui (Susilo, et al., 2020). Kebanyakan coronavirus menginfeksi hewan dan bersirkulasi di hewan. Coronavirus menyebabkan sejumlah besar penyakit pada hewan dan kemampuannya menyebabkan penyakit berat pada hewan seperti babi, sapi, kuda, kucing dan ayam. Coronavirus disebut dengan virus zoonotik yaitu virus yang ditransmisikan dari hewan ke manusia. Banyak hewan liar yang dapat membawa patogen dan bertindak sebagai vektor untuk penyakit menular tertentu.
Kelelawar, tikus bambu, unta dan musang merupakan host yang biasa ditemukan untuk coronavirus. Coronavirus pada kelelawar merupakan sumber utama untuk kejadian SARS dan MERS (Yuliana, 2020).
Pada manusia, SARS-CoV-2 terutama menginfeksi sel-sel pada saluran napas yang melapisi alveoli. Coronavirus hanya bisa memperbanyak diri melalui sel hostnya. Virus tidak bisa hidup tanpa sel host. Berikut siklus dari coronavirus setelah menemukan sel host sesuai tropismenya. SARS-CoV-2 akan berikatan dengan reseptor-reseptor dan membuat jalan masuk ke dalam sel. Glikoprotein yang terdapat pada envelope spike virus akan berikatan dengan reseptor selular berupa ACE-2 pada SARS-CoV-2. Di dalam sel, SARS-CoV-2 melakukan duplikasi materi genetik dan mensintesis protein-protein yang dibutuhkan,
kemudian membentuk virion baru yang muncul di permukaan sel (Susilo, et al., 2020).
Sama dengan SARS-CoV, pada SARS-CoV-2 diduga setelah virus masuk ke dalam sel, genom RNA virus akan dikeluarkan ke sitoplasma sel dan ditranslasikan menjadi dua poliprotein dan protein struktural. Selanjutnya, genom virus akan mulai untuk bereplikasi. Glikoprotein pada selubung virus yang baru terbentuk masuk ke dalam membran retikulum endoplasma atau Golgi sel. Terjadi pembentukan nukleokapsid yang tersusun dari genom RNA dan protein nukleokapsid. Partikel virus akan tumbuh ke dalam retikulum endoplasma dan Golgi sel. Pada tahap akhir, vesikel yang mengandung partikel virus akan bergabung dengan membran plasma untuk melepaskan komponen virus yang baru (Susilo, et al., 2020).
Gambar 2.7 Skema replikasi dan patogenesis virus (Susilo, et al., 2020).
Pada SARS-CoV, Protein S dilaporkan sebagai determinan yang signifikan dalam masuknya virus ke dalam sel pejamu. Telah diketahui bahwa masuknya SARS-CoV ke dalam sel dimulai dengan fusi antara membran virus dengan plasma membran dari sel. Pada proses ini, protein S2’ berperan penting dalam proses pembelahan proteolitik yang memediasi terjadinya proses fusi membran.
Selain fusi membran, terdapat juga clathrin-dependent dan clathrin-independent
endositosis yang memediasi masuknya SARS-CoV ke dalam sel pejamu (Susilo, et al., 2020).
Faktor virus dan pejamu memiliki peran dalam infeksi SARS-CoV. Efek sitopatik virus dan kemampuannya mengalahkan respons imun menentukan keparahan infeksi. Disregulasi sistem imun kemudian berperan dalam kerusakan jaringan pada infeksi SARS-CoV-2. Respons imun yang tidak adekuat menyebabkan replikasi virus dan kerusakan jaringan. Di sisi lain, respons imun yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan jaringan (Susilo, et al., 2020).
Respons imun yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 juga belum sepenuhnya dapat dipahami, namun dapat dipelajari dari mekanisme yang ditemukan pada SARS-CoV dan MERS-CoV. Ketika virus masuk ke dalam sel, antigen virus akan dipresentasikan ke Antigen Presentation Cells (APC). Presentasi antigen virus terutama bergantung pada molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas I. Namun, MHC kelas II juga turut berkontribusi. Presentasi antigen selanjutnya menstimulasi respons imunitas humoral dan selular tubuh yang dimediasi oleh sel T dan sel B yang spesifik terhadap virus. Pada respons imun humoral terbentuk IgM dan IgG terhadap SARS-CoV. IgM terhadap SARS-CoV hilang pada akhir minggu ke-12 dan IgG dapat bertahan jangka panjang. Hasil penelitian terhadap pasien yang telah sembuh dari SARS menujukkan setelah 4 tahun dapat ditemukan sel T CD4+ dan CD8+ memori yang spesifik terhadap SARS-CoV, tetapi jumlahnya menurun secara bertahap tanpa adanya antigen (Susilo, et al., 2020).
Virus memiliki mekanisme untuk menghindari respons imun pejamu. SARS- CoV dapat menginduksi produksi vesikel membran ganda yang tidak memiliki Pattern Recognition Receptors (PRRs) dan bereplikasi dalam vesikel tersebut sehingga tidak dapat dikenali oleh pejamu. Jalur IFN-I juga diinhibisi oleh SARS- CoV dan MERS-CoV. Presentasi antigen juga terhambat pada infeksi akibat MERS-CoV (Susilo, et al., 2020).
2.1.7. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pasien COVID-19 memiliki spektrum yang luas, mulai dari tanpa gejala (asimptomatik), gejala ringan, pneumonia, pneumonia berat, ARDS, sepsis, hingga syok sepsis (Rothan & Byrareddy, 2020). Sekitar 80% kasus tergolong ringan atau sedang, 13,8% mengalami sakit berat, dan sebanyak 6,1%
pasien jatuh ke dalam keadaan kritis. Berapa besar proporsi infeksi asimtomatik belum diketahui. Viremia dan viral load yang tinggi dari swab nasofaring pada pasien yang asimtomatik telah dilaporkan (Susilo, et al., 2020).
Gambar 2.8 Manifestasi klinis COVID-19 (Rothan & Byrareddy, 2020).
Gejala ringan didefinisikan sebagai pasien dengan infeksi akut saluran napas atas tanpa komplikasi, bisa disertai dengan demam, fatigue, batuk (dengan atau tanpa sputum), anoreksia, malaise, nyeri tenggorokan, kongesti nasal, atau sakit kepala. Pasien tidak membutuhkan suplementasi oksigen. Pada beberapa kasus pasien juga mengeluhkan diare dan muntah. Pasien COVID-19 dengan pneumonia berat ditandai dengan demam, ditambah salah satu dari gejala: (1) frekuensi pernapasan >30x/menit (2) distres pernapasan berat, atau (3) saturasi oksigen 93%
tanpa bantuan oksigen. Pada pasien geriatri dapat muncul gejala-gejala yang atipikal (Susilo, et al., 2020).
Sebagian besar pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 menunjukkan gejala- gejala pada sistem pernapasan seperti demam, batuk, bersin, dan sesak napas.
Berdasarkan data 55.924 kasus, gejala tersering adalah demam, batuk kering, dan fatigue. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah batuk produktif, sesak napas, sakit tenggorokan, nyeri kepala, mialgia/artralgia, menggigil, mual/muntah, kongesti nasal, diare, nyeri abdomen, hemoptisis, dan kongesti konjungtiva. Lebih dari 40% demam pada pasien COVID-19 memiliki suhu puncak antara 38,1-39°C, sementara 34% mengalami demam suhu lebih dari 39°C (Susilo, et al., 2020).
Gambar 2.9 Skema perjalanan penyakit COVID-19 (Susilo, et al., 2020).
Perjalanan penyakit dimulai dengan masa inkubasi yang lamanya sekitar 3-14 hari (median 5 hari). Pada masa ini leukosit dan limfosit masih normal atau sedikit menurun dan pasien tidak bergejala. Pada fase berikutnya (gejala awal), virus menyebar melalui aliran darah, diduga terutama pada jaringan yang mengekspresi ACE-2 seperti paru-paru, saluran cerna dan jantung. Gejala pada fase ini umumnya ringan. Serangan kedua terjadi empat hingga tujuh hari setelah timbul gejala awal. Pada saat ini pasien masih demam dan mulai sesak, lesi di paru memburuk, limfosit menurun. Penanda inflamasi mulai meningkat dan mulai terjadi hiperkoagulasi. Jika tidak teratasi, fase selanjutnya inflamasi makin tak terkontrol, terjadi badai sitokin yang mengakibatkan ARDS, sepsis, dan komplikasi lainnya (Susilo, et al., 2020).
2.1.8. Pemeriksaan Penunjang 2.1.8.1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lain seperti hematologi rutin, hitung jenis, fungsi ginjal, elektrolit, analisis gas darah, hemostasis, laktat, dan prokalsitonin dapat dikerjakan sesuai dengan indikasi. Trombositopenia juga kadang dijumpai, sehingga kadang diduga sebagai pasien dengue. (Susilo, et al., 2020).
2.1.8.2. Pencitraan
Modalitas pencitraan utama yang menjadi pilihan adalah foto toraks dan Computed Tomography Scan (CT-Scan) toraks. Pada foto toraks dapat ditemukan gambaran seperti opasifikasi ground-glass, infiltrat, penebalan peribronkial, konsolidasi fokal, efusi pleura, dan atelektasis. Foto toraks kurang sensitif dibandingkan CT-Scan, karena sekitar 40% kasus tidak ditemukan kelainan pada foto toraks (Susilo, et al., 2020).
Gambar 2.10 Gambaran foto toraks pada pasien COVID-19 (Susilo, et al., 2020).
Studi dengan USG toraks menunjukkan pola B yang difus sebagai temuan utama. Konsolidasi subpleural posterior juga ditemukan walaupun jarang. (Susilo, et al., 2020).
2.1.8.3. Pemeriksaan Diagnostik SARS-CoV-2 Pemeriksaan Antigen-Antibodi
Salah satu kesulitan utama dalam melakukan uji diagnostik tes cepat yang sahih adalah memastikan negatif palsu, karena angka deteksi virus pada rRT-PCR sebagai baku emas tidak ideal. Selain itu, perlu mempertimbangkan onset paparan dan durasi gejala sebelum memutuskan pemeriksaan serologi. IgM dan IgA dilaporkan terdeteksi mulai hari 3-6 setelah onset gejala, sementara IgG mulai hari
10-18 setelah onset gejala. Pemeriksaan jenis ini tidak direkomendasikan WHO sebagai dasar diagnosis utama. Pasien negatif serologi masih perlu observasi dan diperiksa ulang bila dianggap ada faktor risiko tertular (Susilo, et al., 2020).
Gambar 2.11 Gambaran CT-Scan pada pasien COVID-19 (Susilo, et al., 2020).
Pemeriksaan Virologi
Metode yang dianjurkan untuk deteksi virus adalah amplifikasi asam nukleat dengan Real-Time reversetranscription Rolymerase Chain Reaction (rRT- PCR) dan dengan sequencing. Sampel dikatakan positif (konfirmasi SARS-CoV-2) bila rRT-PCR positif pada minimal dua target genom (N, E, S, atau RdRP) yang spesifik SARS-CoV-2; ATAU rRT-PCR positif betacoronavirus, ditunjang dengan hasil sequencing sebagian atau seluruh genom virus yang sesuai dengan SARS-CoV-2 (Susilo, et al., 2020).
2.1.9. Diagnosis
Definisi operasional pada kasus COVID-19 di Indonesia mengacu pada panduan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang mengadopsi dari WHO (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).
Kasus probabel didefinisikan sebagai PDP yang diperiksa untuk COVID-19 tetapi hasil inkonklusif atau seseorang dengan dengan hasil konfirmasi positif
pancoronavirus atau betacoronavirus. Kasus terkonfirmasi adalah bila hasil pemeriksaan laboratorium positif COVID-19, apapun temuan klinisnya. Selain itu, dikenal juga istilah orang tanpa gejala (OTG), yaitu orang yang tidak memiliki gejala tetapi memiliki risiko tertular atau ada kontak erat dengan pasien COVID- 19 (Susilo, et al., 2020).
Tabel 2.2 Definisi operasional PDP dan ODP (Susilo, et al., 2020)
Temuan Pasien dalam Pengawasan/PDP (suspek) Orang dalam Pemantauan (ODP)
Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Kriteria 4
1. Demam/riwayat demam Ya Ya Ya - Salah satu dari kedua
poin ini, tidak ada sebab lain yang jelas 2. Batuk/pilek/nyeri
tenggorokan/sesak (salah satu) Ya - Ya - Ya
3. Perjalanan ke area/negara
terjangkit (14 hari terakhir) Ya - - Ya Ya
4. Kontak dengan kasus konfirmasi
COVID-19 - Ya Ya - Ya
5. Pneumonia/ISPA berat tanpa
sebab lain - - - Ya
Kontak erat didefinisikan sebagai individu dengan kontak langsung secara fisik tanpa alat proteksi, berada dalam satu lingkungan (misalnya kantor, kelas, atau rumah), atau bercakap-cakap dalam radius 1 meter dengan pasien dalam pengawasan (kontak erat risiko rendah), probable atau konfirmasi (kontak erat risiko tinggi). Kontak yang dimaksud terjadi dalam 2 hari sebelum kasus timbul gejala hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala (Susilo, et al., 2020).
2.1.10. Tatalaksana
Saat ini belum tersedia rekomendasi tatalaksana khusus pasien COVID-19, termasuk antivirus atau vaksin. Tatalaksana yang dapat dilakukan adalah terapi simtomatik dan oksigen. Pada pasien gagal napas dapat dilakukan ventilasi mekanik. National Health Commission (NHC) Cina telah meneliti beberapa obat yang berpotensi mengatasi infeksi SARS-CoV-2, antara lain interferon alfa (IFN- α), lopinavir/ritonavir (LPV/r), ribavirin (RBV), klorokuin fosfat (CLQ/CQ),